Posted in Non Review

2014 TBRR Pile Recap Post

2014 TTBRR Reading Challenge

Recap post untuk 2014 TBRR Pile reading challenge. Langsung saja ya, berikut list buku yang saya baca untuk RC ini:

TANTANGAN UTAMA 

TANTANGAN TAMBAHAN

MASTER POST

Jauh sekali hasilnya dari reading list yang saya buat di Master Post. Padahal dulu rencananya saya ingin membaca ulang timbunan saya yang belum saya buat review-nya di blog buku karena saya membaca buku-buku tersebut sebelum saya punya blog buku. Tapi apa daya, timbunan baru memang lebih menggoda 😀

Tapi tak apa, setidaknya saya berhasil membaca 59 buah buku untuk tantangan utama dan berhasil menyelesaikan semua tantangan tambahan. Dan saya telat pakai banget membuat recap postnya. Linknya bahkan sudah ditutup. Gegara akhir tahun saya ketiban tugas dadakan dari kantor yang harus selesai sebelum tahun baru. Berantakanlah semua rencana yang sudah saya susun jauh-jauh hari.

Tapi it’s OK lah, saya senang-senang saja mengerjakan tugas tersebut. Dan ini juga bisa jadi pelajaran agar saya bisa mengatur jadwal dan rencana saya dengan lebih baik, termasuk mengakali bagaimana seandainya ada tugas dadakan lagi dari kantor sehingga tidak merusak rencana-rencana saya yang lain. *jadi OOT*

At last, terima kasih untuk Mbak Hobby Buku @ Lemari Hobby Buku yang sudah jadi host RC ini.

See yaaaa 🙂

Posted in Books, BukuKatta, Classic, F. Scott Fitzgerald, Review 2014, Short Stories

The Curious Case of Benjamin Button Review

 the curious case of benjamin button by fitzgerald uploaded by irabooklover

Ini cerita memang aneh. Sebelum kita cek apa anehnya, silakan dibaca dulu contekan sinopsis dari cover belakang buku berikut 😀

Sinopsis:

Hildegarde melambai-lambaikan bendera sutra besar, menyapanya di teras. Saat Benjamin menciumnya, ia merasa dengan kedalaman hati bahwa tiga tahun sudah diambil dari mereka. Dia adalah seorang wanita yang empat puluh tahun sekarang. Dengan samar, tampak pertempuran garis uban di kepalanya. Pemandangan itu membuat Benjamin tertekan.

Sampai di kamarnya, ia melihat bayangan yang dikenalnya di cermin. Ia pergi mendekat dan memeriksa wajahnya sendiri dengan kecemasan. Membandingkannya dengan foto dirinya berseragam yang diambil sebelum perang.

“Ya, Tuhan!” katanya keras. Proses ini terus, tidak bisa diragukan lagi. Sekarang ia tampak seperti orang berusia tiga puluh tahun. Bukannya senang, ia malah merasa gelisah. Ia tumbuh muda. Hingga kini ia berharap tubuhnya bisa terlihat setara dengan umurnya. Ini fenomena mengerikan yang ditandai kelahirannya sedang akan berhenti berfungsi. Dia bergidik. Takdirnya sangat luar biasa mengerikan.

Untuk menambah ketidakberdayaannya, ia menyadari bahwa abad baru semakin dekat, kehausan akan kesenangan semakin kuat. Tak pernah sebuah acara apa pun di kota Baltimore dilewatkannya. Berdansa dengan wanita muda tercantik yang sudah menikah, mengobrol dengan debutan terpopuler, dan menjalankan perusahaan dengan penuh pesona. Sementara, istrinya tampak seperti seorang janda culas. Duduk diantara pengantarnya, menjadi angkuh karena penolakan. Sekarang mengikutinya dengan serius, bingung, dan mata mencela.

“Lihat!” orang akan berkomentar. “Sayang sekali, seorang pemuda seusia itu terikat pada seorang perempuan empat puluh lima tahun. Ia harus dua puluh tahun lebih muda dari istrinya.”

Mereka sudah lupa, sebagian orang-orang pasti lupa, yang mestinya ingat kembali pada kejadian tahun 1880. Semua orang juga berkomentar sama tentang hal ini, pasangan sakit yang cocok.

Hmmm…Benjamin Button, alih-alih tumbuh menjadi tua, malah tumbuh menjadi semakin muda. Wow, kedengarannya menyenangkan ya? Well, ternyata menurut kisah ini, tidak menyenangkan sama sekali, mengerikan malah.

Bayangkan saja ketika kita ingin melihat anak pertama kita yang baru dilahirkan (dalam bayangan kita sih pastinya bayi yang imut-imut) tapi yang ada di box bayi malah kakek-kakek usia 70 tahun. Terus kakek-kakek itu memanggil kita ayah lagi. Huaahhh,,, setidaknya itulah yang terjadi dengan ayah Benjamin Button.

Lalu bagaimana dengan istri dan anaknya? Mereka sama-sama mengabaikan keanehan Benjamin karena memang tidak ada yang bisa dilakukan. Kita memang tidak bisa menghentikan proses pertumbuhan, bahkan kalau pertumbuhan itu terbalik sekalipun. Akhirnya pun tetap sama saja. Kalau kita kembali “tidak berdaya” seperti anak-anak saat sudah berusia lanjut, maka Benjamin Button juga “tidak berdaya” saat semakin muda ketika dia akhirnya berakhir sebagai bayi.

Cerita yang unik. Saya jadi merasa merinding bagaimana gitu kalau mengingat bagaimana waktu terus berjalan tidak peduli apakah kita semakin tua atau semakin muda seperti Benjamin Button.  Bagaimana kita mau tidak mau meninggalkan masa kejayaan kita jauh di belakang dan mempersiapkan diri untuk akhir yang tidak terelakkan di masa depan.

Karena mood saya sedang baik saat membaca buku ini, jadi saya tidak terlalu bermasalah dengan terjemahannya yang sepertinya — menurut teman-teman reviewer lain — sedikit bermasalah. Dan jujur saya tidak tahu menahu tentang bagus atau tidaknya sebuah terjemahan kalau belum membaca karya aslinya. Kalau sudah begitu untuk sementara saya anggap otak saya saja yang tidak sanggup mencerna isi sebuah karya sastra dengan bahasa yang kompleks 😀

Ngomong-ngomong kisah Benjamin Button ini sudah ada filmnya ya ternyata. Penasaran sih pengen nonton tapi saya sering galau sendiri kalau menonton kisah tentang kemunduran karena usia seperti ini.

Ngomong-ngomong lagi di buku ini juga ada tiga bonus kisah. Jemina, Tuan Icky, dan Porselin dan Merah Muda. Ketika membaca Jemina, oke, saya masih bisa mengerti kisahnya. Lanjut membaca Tuan Icky, oke, sudah mulai lost, tapi sedikit banyak, saya masih cukup mengerti kisah yang diceritakan dengan gaya drama ini.  Lanjut Kisah Porselin dan Merah Muda, oke, bahkan mood membaca saya yang sedang baik-baiknya pun tidak sanggup membuat saya mengerti apa sebenarnya yang diceritakan oleh kisah ini. Mungkin saya seharusnya rehat sejenak sebelum membaca ketiga kisah tersebut.

At last, 3 dari 5 bintang untuk The Curious Case of Benjamin Button. Untuk ceritanya yang unik dan cukup membuat saya galau. So, I liked it.

***

Judul: The Curious Case of Benjamin Button – Kisah Aneh Benjamin Button | Pengarang:  F. Scott Fitzgerald | Edisi bahasa: Indonesia | Penerbit: BukuKatta (Cetakan pertama, Solo, 2010) | 1st Published: 1922| Jumlah halaman: 96 halaman | Status: Owned book (Menang GA SoT 1st Anniversary| Rating saya: 3 of 5 stars

 

Posted in Alice Munro, Books, BukuKatta, Review 2014

The Bear Came Over The Mountain Review

Baca Bareng Desember Tema Paket Sastra Terjemahan dari Penerbit BukuKatta

Ya Tuhaaaaan ceritanya 😥

Oke, sebelum saya mewek, mari kita cek dulu sinopsis di cover belakang buku:

Sinopsis:

“Kukira itu tak perlu dikhawatirkan,” kata Fiona. “Mungkin aku hanya kehilangan ingatanku.”

Grant bertanya apakah dia telah meminum pil tidur.

“Aku tak ingat,” katanya. Lalu dia minta maaf karena terdengar begitu ceroboh. “Aku yakin tak meminum pil apapun. Mungkin aku seharusnya meminum sesuatu. Mungkin vitamin.”

Vitamin tak membantu. Dia sering berdiri di ambang pintu, bingung ke mana dia akan pergi. Dia lupa menyalakan api ketika memasak sayur atau lupa menaruh air di mesin pembuat kopi. Dia menanyakan kapan mereka pindah ke rumah ini.

“Apakah tahun lalu atau tahun sebelumnya?”

“Dua belas tahun yang lalu,” kata Grant.

Pasti sedih sekali rasanya melihat orang yang kita cintai mulai mengalami kemunduran untuk mengingat sesuatu. Lebih sedih lagi kalau saking parahnya penyakitnya, mereka bahkan tidak bisa mengingat kita lagi. Tapi yang namanya orang yang kita cintai, tidak peduli apakah mereka ingat kita atau tidak, kita akan tetap mencintai dan tidak ingin jauh dari mereka.

Jujur cuma itu sih yang bisa saya tangkap setelah membaca novelet ini. Ternyata setelah membaca bagian “Tentang Penulis” di bagian akhir buku ini, saya baru paham kalau ceritanya ternyata tidak sekedar cerita cinta seorang suami kepada isterinya sampai mereka lanjut usia, bahkan saat isterinya lupa siapa dia.

Dan ini ada hubungannya dengan lagu anak-anak yang menjadi judul cerita ini, The Bear Came Over The Mountain. Saya jadi penasaran bagaimana lagunya, dan setelah bertanya kepada “Om Google”, ternyata judul yang lebih umum untuk lagu tersebut adalah The Bear Went Over The Mountain. Nah, silakan disimak dulu bagaimana lagunya 😀

Kata terakhir di buku ini yang diucapkan oleh Grant untuk Fiona membuat saya tidak bisa melihat apa hubungan lagu dengan cerita. Yang saya tangkap dari cerita ini hanyalah meskipun Grant bukan lelaki setia, tapi dia tidak pernah ingin meninggalkan Fiona meskipun mereka berdua sudah lanjut usia dan Fiona mulai mengalami kemunduran untuk mengingat sesuatu.

Kalau dilihat dari ulasan-ulasan mengenai cerita ini, sepertinya banyak sekali pesan yang bisa diungkapkan dari kisah Fiona dan Grant. Tapi karena kemampuan sastra saya tidak terlalu bagus, saya masih tidak paham, hehehehe. Mungkin saya harus menonton filmnya juga supaya lebih mengerti.

At last, 3 dari 5 bintang untuk The Bear Came Over The Mountain. Untuk ceritanya yang bisa membuat saya merasa sedih dan untuk kata terakhir yang sangat manis dari buku ini yang diucapkan oleh Grant untuk Fiona. So, I really liked it.

***

Judul: The Bear Came Over The Mountain | Pengarang:  Alice Munro | Edisi bahasa: Indonesia | Penerbit: BukuKatta (Cetakan pertama, Solo, 2014) | 1st Published: 1999| Jumlah halaman: 64 halaman | Status: Owned book (Menang GA SoT 1st Anniversary| Rating saya: 3 of 5 stars

 

Posted in Books, Buku Jalan-jalan, Children, Family, Fantasy, Gramedia Pustaka Utama, Kate DiCamillo, Review 2014

Buku Jalan-jalan #7 – The Magician’s Elephant Review

 photo bukujalanjalan_zpsf2569632.jpg

Buku Jalan-jalan Bulan Desember: The Magician’s Elephant by Kate DiCamillo

the_magician's_elephant_uploaded_by_irabooklover

***

Sinopsis:

Bagaimana kalau?

Kenapa tidak?

Mungkinkah?

Sejak orang tuanya meninggal dunia, Peter Augustus Duchene tinggal bersama seorang mantan tentara tua dan terpisah dari adik perempuannya yang masih bayi. Ketika beberapa tahun kemudian di alun-alun pasar kota Baltese ada tenda peramal. Peter langsung tahu pertanyaan-pertanyaan apa yang harus ia ajukan: apakah adik perempuannya masih hidup? Dan kalau ya, bagaimana ia bisa menemukannya?

Jawaban misterius si peramal  (Gajah! Gajah itu akan membawamu ke sana!) memicu serangkaian peristiwa yang begitu menakjubkan, begitu mustahil, sehigga Peter hampir tidak berani memercayainya.

Buku ketujuh untuk proyek Buku Jalan-Jalan bersama Zelie @ Book-admirer \^_^/

Baru membaca 2 buku Kate DiCamillo, dua-duanya tentang “cahaya”, dan saya sangat sukaaa ❤

Sekarang kisahnya tentang seorang anak laki-laki bernama Peter yang bertanya kepada peramal bagaimana cara menemukan adik perempuannya yang terpisah dengannya. Dan sang peramal bilang kalau dia harus mengikuti gajahnya. Peter bingung, bagaimana caranya menemukan gajah. Namun si peramal bilang, kebenaran selalu berubah, tunggulah sebentar dan kau akan lihat.

Tanpa Peter ketahui, ada sebuah sebuah pertunjukan sihir dimana si penyihir pada awalnya ingin memunculkan sebuket bunga lili, tapi alih-alih bunga, dia malah memunculkan gajah. Iya, gajah. Bayangkan ada gajah yang tiba-tiba muncul saat kita menonton pertunjukan sulap. Oh ya ngomong-ngomong saya bingung, kenapa di buku ini istilah penyihir yang dipakai, kenapa bukan pesulap? Whatever-lah, yang pasti si gajah muncul dan mematahkan kaki seorang wanita bangsawan bernama Madam LaVaughn. Atas perintah Madam LaVaughn, si penyihir dan gajahnya dipenjarakan.

Peter yang mendengar hal ini langsung berpikir bagaimana caranya bisa bertemu dengan sang gajah. Untunglah ada seorang polisi berjiwa penyair yang bernama Leo Matienne yang mau menolongnya. Berhasilkan Peter menemukan adiknya? Dan bagaimana dengan nasib si penyihir dan gajahnya? Dan bagaimana pula dengan Madam LaVaughn yang kakinya dipatahkan oleh si gajah (atau si penyihir)?

Cerita tentang mimpi, harapan, kemauan untuk menolong, dan kemauan untuk meminta maaf dan memaafkan. Indah sekali. Setiap orang dituntun oleh cahayanya masing-masing. Entah oleh bintang di langit maupun binar harapan di wajah seorang anak. Dan semuanya pasti berakhir dengan baik kalau kita bisa tetap memelihara cahaya itu.

Oh ya,, kata polisi Leo Matienne, kita juga harus selalu mempertanyakan tiga pertanyaan di atas agar kita bisa merubah dunia. Bagaimana kalau? Kenapa tidak? Mungkinkah?

Speechless deh. Saya cuma bisa bilang, ini sebuah cerita yang indah dan keren. I really liked it ❤ ❤ ❤

***

Title: The Magician’s Elephant – Gajah Sang Penyiihir |  Author: Kate DiCamillo | Edition language: Indonesian | Publisher: Gramedia Pustaka Utama | Edition: 1st Edition, Jakarta, September 2009 |  Page: 152 pages | Status: Pinjem dari Zelie @ Book-admirer |  My rating: 4 of 5 stars

Posted in Books, Fantasy, Gramedia Pustaka Utama, Neil Gaiman, Review 2014

Neverwhere Review

neverwhere_uploaded_bt_irabooklover

Hampir saja tidak suka dengan buku ini. Untung ending-nya — walaupun sudah bisa ditebak — berhasil meninggalkan kesan yang mendalam *eaaaa*. Okeh sebelum saya cuap-cuap panjang lebar, mari kita lihat dulu sinopsis buku ini yang saya contek dari cover belakang buku ^_^

Sinopsis:

Hidup Richard Mayhew di London biasa-biasa saja. Dia punya pekerjaan bagus dan tunangan cantik. Suatu hari, dia menemukan gadis gelandangan yang terkapar berdarah di jalan. Richard menolong gadis itu —  dan hidupnya yang biasa menghilang begitu saja.

Tiba-tiba Richard tak punya pekerjaan, rumah, tunangan, bahkan identitas. Ia terlempar masuk London Bawah yang sangat berbeda. London yang terdiri atas bayangan, kegelapan, monster, pembunuh, malaikan, dan segala hal ajaib lainnya. London yang berada dalam labirin, kanal-kanal saluran pembuangan dan stasiun kereta bawah tanah.

Inilah dunia Door, gadis gelandangan yang ditolongnya. Tanpa tujuan dan pilihan, Richard terpaksa bergabung dengan Door, pengawalnya Hunter, dan Marquis de cCarabas. Mereka berusaha mencari pembunuh keluarga Door sambil menghindar dari berbagai bahaya yang menghadang. Dan mungkin di akhir perjalanan ini Richard bisa kembali ke hidupnya di London Atas….

***

Saya cenderung kurang suka dengan buku yang tokoh utamanya — kalau dalam istilah saya sih — tidak berguna. Yaah, Richard Mayhew bukannya tidak berguna sama sekali sih, tapi tetap saja, Richard tampaknya sangat payah. Sifat pahlawannya yang paling menonjol di sini hanyalah kebaikan hati. Soal bertarung dan sebagainya, jangan diharap deh. Walaupun dengan sedikit keberuntungan Richard ternyata bisa mengalahkan “musuh” juga.

Tapi itu cuma pendapat saya yang sedikit ilfil sama Richard sih, hehehe. Ceritanya sendiri menurut saya cukup bagus. Tentang kehidupan lain di kota London yang penuh dengan keajaiban yang sayangnya suram. Tempat ini disebut London Bawah. Tempat dimana ada malaikat, pembunuh bayaran yang doyan menyiksa dan memakan makanan aneh, pengisap jiwa, suku berbau busuk, keluarga pembuka pintu, monster, dan hal aneh lainnya.

Richard awalnya adalah pemuda biasa dengan kehidupan biasa yang sempurna. Tapi karena kebaikan hatinya, dia menolong gadis yang terluka di jalan. Tanpa disangka gadis itu adalah penghuni London Bawah. Akibatnya, Richard pun ikut terjebak bersamanya di dunia itu. Mau tidak mau, Richard harus mengikuti gadis itu karena dia tidak punya tempat lagi di London Atas. Selain itu dia berharap gadis itu bisa menolongnya agar bisa kembali ke hidupnya yang dulu.

Bisakah? Karena kata gadis itu, seseorang yang sudah terjatuh ke London Bawah tidak akan bisa kembali ke London Atas. Belum lagi misi gadis itu ternyata sangat berbahaya, yaitu mencari pembunuh keluarganya. Berhasilkah Richard bertahan menghadapi “keanehan” dunia bawah?

Well, silakan dibaca sendiri kisahnya. Yang pasti bersiaplah menghadapi dunia bawah London yang penuh hal ajaib dan … errr … kejam, gelap, bau, dan basah.

Awalnya ceritanya datar-datar saja, bagian tengahnya juga, tapi ending-nya berhasil memukau saya. Suasana suramnya juga kena. Saya jadi merasa suram sepanjang membaca buku ini. Mungkin gara-gara aura suram ini (selain Richard tentunya) yang membuat saya sempat merasa tidak suka tapi tanpa sadar terus membaca buku ini sampai selesai sekali duduk.

So, 3 dari 5 bintang untuk Neverwhere, I liked it ^_^

***

Judul: Neverwhere — Kota Antah Berantah | Pengarang:  Neil Gaiman | Edisi bahasa: Indonesia | Alih Bahasa: Donna Widjajanto | Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (Cetakan Pertama, Jakarta, Maret 2007) | 1st Published: 1996 | Jumlah halaman: 440 halaman | Status: Pinjam di Perpustakaan Daerah Banjarbaru | My rating: 3 of 5 stars