Posted in Non Review

New Author Reading Challenge 2015 – Wrap Up Post

narc2015

Saatnya memuat rekap untuk New Authors Reading Challenge 2015. Kemarin saya ambil level maniac, dan bisa dipastikan gagal total. Saya juga mengambil semua kategori tambahan yang jelas gagal juga ;(

So, mari langsung saja kita lihat buku apa saja yang saya baca untuk RC ini:

♥ Buku-buku yang saya baca untuk LEVEL MANIAC:

♥ Buku-buku yang saya baca untuk KATEGORI TAMBAHAN:

Oke selesai. Ternyata saya cuma membaca 29 buku, dan hanya bisa menyelesaikan 3 kategori tambahan. Meskipun kemungkinannya kecil, saya tetap berharap agar bisa beruntung memenangkan salah satu hadiahnya, ahaha, wish me luck yaaa ヾ(@^▽^@)ノ

Advertisements
Posted in Children, Classic, Johanna Spyri, Review 2015

Heidi Review

***

Kisah yang indah. Banyak pesan moral yang menghangatkan hati. Deskripsi pegunungan tempat tinggal Heidi sangat luar biasa. Saya jadi pengen kesana juga. Kata Uncle Alm, udara gunung mempunyai efek yang bagus buat siapa saja.

Heidi ini, anak kecil yang polos sekali. Berapa ya umurnya? Delapan tahun kalau saya tidak salah ingat. Kehadirannya bisa membuat senang banyak orang. Sebut saja Uncle Alm yang biasanya dingin terhadap orang-orang. Grandma yang selalu sedih karena kesepian dan Clara yang selalu sedih karena sendirian.

Sebenarnya buku ini sudah selesai saya baca beberapa minggu yang lalu. Tapi karena sok sibuk, saya baru sempat menuliskan kesannya hari ini. Saya lupa mau menulis apa lagi.

Yang pasti yang paling saya suka dari kisah Heidi adalah deskripsi rumah dan lingkungan tempat tinggal Heidi dan kakeknya di pegunungan. Saya juga suka membaca bagaimana Heidi dengan mudahnya bisa berinteraksi dengan alam. Saya harap suatu hari nanti saya bisa mengunjungi pegunungan di Swiss yang menjadi latar cerita Heidi 😉

***

Title: Heidi | Author: Johanna Spyri | Format: Ebook + Audio Book | My rating: 5 of 5 stars | Submitted for: Children’s Literature RP 2014-2017New Author RC 2015 Category Ebook Lover and Lucky No. 15 RC Category Dream Destination

Posted in Gramedia Pustaka Utama, J. K. Rowling, Mystery, Review 2015, Robert Galbraith

The Cuckoo’s Calling Review

***

Waktu buku ini sedang booming, saya setengah mati ingin membelinya. Tapi ketika melihat harganya di toko buku online, saya sudah bisa menebak berapa harga buku tersebut saat tiba di Banjarmasin.

Harganya itu … membuat saya ingin menangis 😥

Jadi, saat saya ke Gramedia Veteran di Banjarmasin dengan niat untuk membeli TimeRiders-nya Alex Scarrow, seperti yang juga sudah saya duga sebelumnya, buku ini berjajar dengan begitu menggoda di rak buku baru. Saya sampai harus menguatkan hati agar bisa melengos saja melewati mereka, sambil komat-kamit di dalam hati. Bilang ke diri sendiri “nanti saja beli The Cucckoo’s Calling. Nanti nunggu diskon aj. Tadi kan niatnya kesini cuma mau beli TimeRiders.”

Sayangnya, ada sedikit drama saat saya mencari TimeRiders di rak. Mesin pencarian sudah dengan jelas menunjukkan nomor raknya, tapi saya tidak bisa menemukan buku tersebut. Perlu waktu yang cukup lama plus bantuan tiga orang mas dan mbak Gramedia sebelum kami akhirnya bisa menemukan si buku.

Setelah membayar di kasir, saya langsung berjalan menuju pintu keluar. Tapi entah karena mas dan mbak Gramedia tadi illfil karena saya sudah membuat mereka ikut riweuh mencari TimeRiders, atau entah karena mereka menganggap saya sebagai pembeli potensial untuk novel terjemahan tebal, atau mereka memang cuma mau berniat baik, salah satu dari mbak tadi tergopoh-gopoh mendatangi saya. Memberitahu saya kalau si Dekut Burung Kukuk sedang ada diskon 20%.

Dan runtuhlah sudah pertahanan saya. Saya nyaris ingin memeluk si mbak saking senangnya. Dan akhirnya saya membeli The Cuckoo’s Calling, meskipun setelah sampai di kost, bahu saya nyeri. Soalnya setelah ke toko buku, saya harus ke kampus dengan membawa-bawa 2 novel terjemahan tebal di tas.

Setelah mendekam lama di timbunan, akhirnya saya selesai membaca The Cuckoo’s Calling sekali duduk. Kalau tahu bukunya seseru ini, dari dulu deh saya baca.

Karena saya termasuk telat membaca novel ini, jadi saya rasa saya tidak perlu panjang lebar lagi menuliskan sinopsisnya atau serba-serbi dibalik nama pengarangnya, kan? (padahal cuma malas saja sih, ahahaha)

Yah intinya ada seorang detektif swasta bernama Cormoran Strike yang diminta untuk menyelidiki kasus bunuh diri seorang supermodel bernama Lula Landry. Meskipun polisi sudah menyatakan kalau si korban bunuh diri, tapi kakak Lula yakin kalau adiknya sebenarnya dibunuh.

Kalau dibandingkan, saya tetap lebih menyukai gaya pemecahan misteri ala Sherlock Holmes daripada Cormoran Strike. Saya rasa gaya Cormoran lebih mirip dengan Poirot. Tidak meyakinkan pada awalnya, tapi luar biasa pada akhirnya. Beda dengan Sherlock yang menurut saya sudah luar biasa dari awal. *kena tabok penggemar Poirot*

Tapi menurut saya buku ini asik sekali. Saya tidak bisa berhenti mengikuti perkembangan kasusnya. Saya sama sekali tidak punya bayangan tentang siapa pembunuhnya, ataupun tentang akhir kasusnya. Apakah Lula Landry memang bunuh diri atau dibunuh.

Belum lagi kehidupan ala supermodel yang menjadi latar belakang kisah ini. Menarik sekali mengetahui perbedaan gaya hidup dan perbedaan kelas sosial yang terasa sangat jauh dan tidak terjangkau.

Ngomong-ngomong, tokoh favorit saya adalah Robin, sekretarisnya Cormoran. Ehm, asik juga ya, nama mereka berdua diambil dari nama burung :D. Nah, somehow, Robin ini memotivasi saya untuk lebih merapikan meja kerja saya sendiri. Robin juga memotivasi saya untuk terus menyimpan harapan kalau suatu saat nanti impian yang kita cita-citakan bisa terkabul meskipun orang-orang terdekat kita tidak mendukung 😉

So, 4 dari 5 bintang untuk Cormoran. Minus satu bintang karena Cormoran belum bisa menggeser posisi Sherlock dari hati saya. *eaaaa, alasan apa itu*.

***

Judul: The Cuckoo’s Calling – Dekut Burung Kukuk | Pengarang: Robert Galbraith | Penerbit: Gramedia Pustaka Utama | Edisi: Bahasa Indonesia, 2014, 517 halaman | Rating saya: 4 dari 5 bintang

***

Submitted for #PostBar Misteri,  New Authors RC 2015Lucky No. 15 RC

Banner_BacaBareng2015-300x187

narc2015

lucky-no15

Posted in Arie Fajar Rofian, Horror, Moka Media, Review 2015

Berikutnya Kau yang Mati Review

***

Sebelum membaca novel ini, saya lagi kesel pakai banget sama seseorang. Seperti biasa, untuk meredakan rasa kesal, saya memutuskan untuk membaca buku saja.

Untunglah buku ini yang saya pilih, karena ketika saya baru membuka halaman awalnya saja, buku ini sudah membuat saya tersenyum. Hal yang tidak biasa ya untuk sebuah buku horor. Tapi bukan ceritanya kok yang membuat saya tersenyum, melainkan pesan yang ditulis oleh si penulis. Bunyi pesannya kayak gini nih:

Ira, You’ll Be The Next!
Jangan Tidur Malam Ini

Nah lo, sepertinya nyawa saya terancam. Tapi baiklaaah, saya akan jadi anak yang patuh, saya tidak akan tidur malam ini 😛

Ngomong-ngomong, sebetulnya saya bingung bagaimana cara menuliskan kesan saya setelah membaca buku ini. Somehow, sepertinya apa yang ingin saya sampaikan bakalan mengandung spoiler.

Tapi saya coba deh. Bagi yang belum baca novelnya, mungkin sebaiknya jangan baca review ini dulu yak, nanti kejutannya berkurang 😉

Okeeee…buku ini diawali dengan sebuah cerita tentang jembatan gantung. Jembatan gantung ini rencananya mau dijadikan salah satu rute untuk game outbond dalam acara Malam Keakraban kampus, dimana Agus dan sahabatnya yang bernama Johan, menjadi dua orang yang bisa dikatakan paling bertanggung jawab terhadap acara tersebut.

Tapi hari-hari Agus dan Johan sebelum hari H diganggu oleh kehadiran anak kecil berambut gondrong yang memiliki wajah seram berbelatung. Entah apa maunya, anak kecil ini selalu hadir dalam mimpi-mimpi Agus dan Johan. Menggambarkan kepada mereka berdua adegan-adegan yang dengan jelas mengatakan kalau para mahasiswa ini berani melewati jembatan gantung tersebut, maka mereka akan mati.

Btw, cerita ini mengingatkan saya dengan Malam Keakraban (Makrab) yang saya ikuti waktu kuliah. Baik sebagai peserta maupun panitia. Untungnya waktu itu tidak ada anak kecil seram berambut gondrong dengan jembatan gantungnya. Tapi saya jadi teringat dulu bagaimana saya dan teman-teman tidak bisa tidur karena takut. Saya juga teringat bagaimana kami para cewek selalu bergerombol kalau mau kemana-mana malam-malam. Butuh tekad yang kuat bagi kami agar tidak membayangkan penampakan yang tidak-tidak. Untung waktu itu saya belum membaca buku ini. Kalau sudah entah bagaimana jadinya.

Jujur saya bingung membaca cerita Agus dan Johan. Saya bingung membedakan yang mana yang mimpi dan yang mana kenyataan. Tapi cuma pada awalnya aja sih. Meskipun sebetulnya saya masih bingung, tapi nanti benang merahnya akan terlihat kalau sudah membaca bukunya sampai selesai.

Selain cerita jembatan gantung di atas, ada beberapa hal lagi yang membuat saya bingung setelah membaca buku ini. Pertama cover bukunya, entah kenapa saya pikir gambar makhluk hitam yang ada di sampul tersebut mirip gambar King Kong, padahal tidak ada King Kong sama sekali di cerita ini, ahaha, *kena keplak*.

Kemudian, saya bingung dengan apa yang terjadi pada tokoh Roni di chapter “Sahabat Selamanya”. Apakah dia masih hidup sehat walafiat, hidup tapi luka-luka atau tewas tapi sehat, *eh*.

Terus di chapter “Perjanjian Terkutuk”, saya rasa nama tokoh Budi dan Andi ketuker-tuker. Ini siapa yang jadi kakaknya Bagas, siapa yang jadi kakaknya Agus. Tapi mungkin cuma typo aj kali ya.

Lalu setelah selesai membaca bukunya, saya baru ngeh kalau konsep cerita ini mirip sama salah satu film. Kebetulan filmnya juga ada disebutkan di buku ini.

Bukan masalah besar bagi saya sih sebenarnya, tapi sedikit banyak hal ini akan mempengaruhi saya dalam memberikan jawaban kalau ada yang nanya seperti apa cerita di buku ini? Saya bakalan jawab ceritanya kayak film yang itu tuh, tapi bla bla bla dst.

Tapi secara keseluruhan buku ini asik kok. Seru sekali saat saya berhasil mengetahui apa hubungan cerita ini dengan cerita sebelumnya dan apa hubungan tokoh ini dengan tokoh sebelumnya.

Endingnya juga keren. Cara yang bagus sekali untuk menjelaskan hal-hal membingungkan yang terjadi di cerita-cerita sebelumnya.

Dan yang paling saya suka adalah buku ini berhasil mengecoh saya. Awalnya saya mengira buku ini berisi komplit satu cerita. Tapi setelah saya selesai membaca chapter pertama, baiklah, saya berubah pikiran, saya lalu mengira buku ini adalah kumpulan cerita pendek. Kemudian setelah membaca separo chapter kedua, saya berubah pikiran lagi, oh ternyata ini bukan kumpulan cerpen, tapi satu cerita utuh yang mempunyai kaitan yang sangat tipis antara satu chapter dengan chapter lainnya (haduhai kata-katanya XD)

Oke baiklah, sebelum saya semakin melantur, saya akan menutup review yang tidak bisa disebut review ini dengan memberikan 3 dari 5 bintang untuk Berikutnya Kau yang Mati. Yap, I liked it.

***

Title: Berikutnya Kau yang Mati | Author: Arie Fajar Rofian | Edition: Indonesian language, 2015, 177 pages | Publisher: Moka Media | Status: Owned Book  |  My rating: 3 of 5 stars

Posted in Fantasy, Lumatere Chrocnicles, Melina Marchetta, Review 2015, Ufuk, Young Adult

Winterlicht Review

***

Saya kasih tiga dari lima bintang untuk buku ini. Tiga yang bukan berarti saya suka dengan bukunya. Tapi tiga yang artinya saya tidak terlalu suka sebenarnya, hanya saja saya tidak tega ngasih dua XD

Ngintip di Goodreads, buku ini mendapat penghargaan yang lumayan banyak. Secara teori buku ini kemungkinan seru ya? Tapi saya sama sekali tidak merasa begitu.

Jalan ceritanya tidak membangkitan rasa penasaran. Saya tidak merasakan sifat kepahlawanan dari tokoh utamanya. Endingnya membuat saya ingin memutar bola mata.

Mungkin ini cuma karena saya tidak terlalu suka dengan genre YA, tapi setidaksukanya saya dengan genre tersebut, saya masih bisa menikmati buku Twilight, Divergent dan Delirum. Berbeda dengan Winterlicht ini. Mungkin ada sedikit … err … kekurangan dalam penerjemahannya. Tapi cuma mungkin juga sih, soalnya saya tidak pernah membaca versi aslinya XD

Untungnya, masih ada yang seru dari buku ini, yaitu saat siapa sebenarnya Evanjalin terkuak. Sempat membuat saya tidak bisa berhenti membaca bukunya. Untuk sesaat saja sih, sebelum sifat ngambek Finnikin merusak suasana XD

Oh ya saya belum memperkenalkan siapa Finnikin dan siapa Evanjalin ya. Dalam Winterlicht, dikisahkan ada sebuah negeri bernama Lumatere. Sebuah peristiwa yang mengenaskan membuat Lumatere menjadi negeri yang dikutuk. Seakan ada kabut yang menyelubungi Lumatere, sehingga mereka yang melarikan diri saat bencana terjadi tidak bisa kembali. Sebaliknya mereka yang tidak sempat melarikan diri tidak bisa keluar.

Finnikin adalah putra dari Kepala Keamanan Kerajaan sekaligus sahabat putra mahkota. Bersama sang Pangeran dan sepupunya, Finnikin sudah bersumpah untuk melindungi Lumatere yang sangat mereka sayangi. Namun Putra Mahkota dikabarkan hilang, sepupu sang Pangeran juga tidak terdengar kabarnya. Sementara Finnikin termasuk orang-orang yang sempat keluar dari Lumatere. Bersama Tangan Kanan Raja, Finnikin berencana mencari tanah baru dan mengumpulkan orang Lumatere yang berhasil selamat untuk mendirikan Lumatere kedua. Namun, seorang gadis bernama Evanjalin, yang mengaku juga berasal dari Lumatere, mengarahkan mereka agar merebut kembali tanah mereka yang telah dikutuk.

Ngomong-ngomong, saya masih penasaran dengan banyaknya penghargaan yang diraih oleh buku ini. Mungkin saya harus membaca ulang buku ini. Siapa tahu nanti penilaian saya berubah. Atau mungkin nanti saya akan reread yang versi aslinya saja, bukan yang terjemahan.

***

Judul: Winterlicht | Pengarang: Melina Marchetta | Series: Lumatere Chronicles #1 | Penerbit: Ufuk | Edisi: Bahasa Indonesia, November 2012 | Tebal: 578 halaman | Status: Koleksi pribadi (Dapat gratis dari Nana @ Reading in The Morning| Rating saya: 3 dari 5 bintang