Posted in Hartoyo Andangjaya, Narasi, Puisi

Kasidah Cinta Review

***

Blurb:

Keharuan yang mendalam karena pengalaman bergaul dengan si darwis pengembara Syam al Din mengubah Rumi dari awalnya seorang alim yang tenang menjadi penuh haru gembira, yang sama sekali tak dapat menahan arus puisi yang berlimpahan mengalir darinya. Untuk melambangkan pencarian Kekasih yang hilang, yang kini diidentifikasikan dengan Syams al Din yang telah pergi itu, konon Rumi menciptakan suatu tarian suci dengan berpusar-pusar melingkar, yang dilakukan oleh para darwis, diiringi bunyi seruling yang meratap dan tingkahan genderang yang berderam. Maka malam pun berganti pagi dalam orgia mistik yang berlangsung lama, sementara Rumi, di bawah pengaruh suasana yang penuh gairah dari saat ke saat, tak henti-hentinya mengucapkan sajak-sajaknya secara spontan, sedang murid-muridnya mencatat sajak-sajak itu untuk kemudian dihafalkan.

My Review:

Hmm…sejak jaman sekolah dulu, saya lebih senang mengerjakan soal matematika daripada menguraikan makna sebuah puisi. Saya tidak bisa memahami makna yang tersirat dibalik kata-kata indah yang menyusun puisi tersebut. Paling jauh saya hanya bisa suka dengan kata-kata indahnya, itupun cuma yang maknanya bisa saya mengerti (atau yang saya kira… bisa saya mengerti), *nangis*.

Sama seperti buku kumpulan puisi ini, saya tidak dapat “feel-nya”. Untungnya ada beberapa baris puisi yang saya kasih post it karena saya suka bunyinya.

Dan diantara baris-baris itu, saya paling suka yang ini:

Diam! Karena ucapanmu buah kurma yang matang, hanya, tidak setiap burung angkasa cocok dengan buah kurma

—Kasidah Cinta, hlm. 140

Baris puisi ini mengingatkan saya untuk berhati-hati dalam bicara. Benar seperti itu kan ya maknanya?, *sigh*.

Oke, itu saja. Tidak bisa “ngomong” banyak-banyak karena saya benar-benar tidak paham. Daripada ntar dibilang sotoy ,*hahhah*.

At last, saya beri 3 dari 5 bintang untuk buku ini, untuk baris-baris puisinya yang saya kasih post it. Yaaa, I liked it.

 

Judul: Kasidah Cinta Jalalu’ddin Rumi | Penerjemah: Hartoyo Andangjaya | Penerbit: Narasi | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan I, 2017, 218 halaman | Status: Owned book | Rating saya: 3 dari 5 bintang

Posted in Books, Cynthia Febrina, Indonesian Literature, PlotPoint, Romance

Stasiun Review

***

Blurb

Dinda putus dengan pacarnya. Kini tak ada lagi Rangga yang biasa mengantar jemput. Tiap pagi Adinda harus naik kereta dari Bogor ke kantornya di Jakarta. Harinya berawal dengan teriakan pedagang asongan, sampah yang bertebaran di peron, para penumpang yang berkeringat dan tergesa, bahkan aksi copet. Masa lalu pun kerap memberatkan langkah.

Ryan “anak kereta” sejati, bersahabat dengan para pedagang kios di sepanjang peron. Bertahun-tahun dia pulang-pergi Bogor-Jakarta naik kereta. Di balik beban kerja yang menyibukkan, ada kesepian yang sulit terobati, apalagi ketika seorang sahabat meninggal.

Tiap pagi mereka menunggu kereta di peron yang kadang berbeda. Tapi jalur yang sama memungkinkan langkah dan hati mereka bertautan. Stasiun jadi saksinya.

My Review

“Bersedia berangkat bersama, Adinda?”

(Stasiun, hlm. 151)

Oke, itu kalimat pamungkas dari buku ini yang berhasil membuat saya klepek-klepek sendiri. Ga tahu ya, kok berasa romantis aja gitu, haha.

Akhir-akhir ini saya jarang baca buku. Sampai hampir lupa rasanya kalau kegiatan itu bisa semenyenangkan ini, *lebay mode on*.

Melihat sampul buku ini menimbulkan rasa “gatal pengen segera baca” kepada saya.

Sampulnya cakep. Dan unik juga. Semacam dua kover dengan gambar yang berbeda, tapi bila disatukan jadi nyambung.

Ceritanya juga begitu. Seperti caption yang tertulis di sampul buku, “dua kisah satu jalur”. Ada cerita Adinda, dan juga cerita Ryan.

Adinda yang baru saja ditinggal putus pacarnya. Yang artinya juga dia kehilangan “tukang antar jemput” hariannya. Membuatnya terpaksa menggunakan kereta api untuk pulang pergi ke tempat kerjanya.

Ryan yang dari dulu memang sudah sering menjadi pelanggan setia kereta api. Yang masih jomblo setelah sekian lama. Karena memang belum ada yang bisa membuatnya jatuh cinta melebihi rasa cintanya kepada kegiatan melukisnya.

Tidak menyangka, ternyata menarik juga mengikuti bagaimana akhirnya kisah dua orang ini disatukan. Mengetahui bagaimana seseorang bisa jatuh cinta dengan orang lain. Dengan suasana stasiun kereta api yang menjadi latar belakangnya.

Kisahnya bitter sweet lah. Soalnya Ada beberapa bagian yang cukup membuat saya pengen nangis juga.

Selain kutipan di atas, sebenarnya ada banyak sekali kutipan lain yang saya dari buku ini. Tapi yang cukup berkesan adalah yang satu ini:

“Ya Tuhan, apakah hidup memang seberat ini bagi sebagian orang?”

(Stasiun, hlm. 102)

Membaca kutipan di atas, dan juga sebagian besar penggalan-penggalan kisah dari buku ini, membuat saya menjadi lebih bisa mensyukuri apa-apa yang sudah saya miliki saat ini.

Buku yang bagus, kisah yang manis, banyak mengandung pelajaran tentang kehidupan, dan 4 dari 5 bintang untuk Stasiun. Ya, saya suka sekali.  (‘▽’ʃƪ) ♥

***

Judul: Stasiun | Pengarang: Cynthia Febrina | Penerbit: plotpoint| Edisi: Bahasa IndonesiaCetakan pertama, Jakarta, Mei 2013, 167 halaman| Status: Owned Book | Rating saya: 4 dari 5 bintang

Posted in Books, Children, Fifa Dila, Indonesian Literature, Islamic, Noura Books

Mahkota Cahaya untuk Ayah Bunda Review

***

Blurb

“Kamu tidak usah sekolah, toh mengaji sama saja dengan belajar. Semua pelajaran dunia dan akhirat sudah ada dalam Al-Quran.”

Hafiz tak bisa terima Kakek melarangnya sekolah. Kakeknya, Guru Alimuddin, yang mengasuh Hafiz setelah orangtua anak itu meninggal, ingin cucunya fokus menghafal Al-Quran. Padahal Hafiz ingin bersekolah seperti Jidan, Nur, Mahmud, dan Riski, yang bahkan bisa jalan-jalan ke kota bersama sekolah mereka. Ia juga ingin menjadi dokter seperti Pak Dokter yang di Puskesmas.

Nekad, diam-diam Hafiz ikut teman-temannya bersekolah. Namun tak lama kegembiraan “anak sekolahan” itu dirasakan Hafiz, Guru Alimuddin meninggal. Hafoz kecil pun harus bergulat dengan berbagai pertanyaan dan penyesalan. Seandainya aku hafal Al-Quran, benarkah Allah takkan membiarkanku sebatang kara? Benarkah itu berarti Kakek takkan meninggal dunia? Benarkah dengan menghafal Al-Quran, aku mempersembahkan mahkota cahaya untuk ayah dan bunda di surga?

My Review

“Anak-anak memang belum bisa bersyukur. Yang belajar banyak dari sekolah, mau libur. Sebelumnya, dia yang tidak pernah sekolah, malah nantang ingin sekolah sambil hafalan.”

(Mahkota Cahaya untuk Ayah Bunda, hlm. 226)

Sepertinya bukan cuma anak-anak yang belum bisa bersyukur, kebanyakan orang tua juga ^^

Buku yang cukup lama nangkring di rak currently reading. Ternyata tidak butuh waktu lama untuk menyelesaikannya. Sepertinya saya-nya saja yang akhir-akhir ini lagi malas membaca, hahhah.

Ceritanya tentang Hafiz, anak kecil yatim piatu yang dibesarkan oleh kakeknya untuk menjadi penghapal Al Quran. Tidak tanggung-tanggung, keseharian Hafiz diisi dengan program menghapal Al Quran. Sampai-sampai Hafiz tidak punya waktu untuk bersekolah.

Tapi Hafiz bukannya tidak dibolehkan bersekolah sih. Kata Kakek, Hafiz diijinkan bersekolah asalkan dia sudah khatam menghapal Al Quran. Nah bisakah Hafiz menjadi penghapal Al Quran untuk memenuhi impian kakeknya?

Kisahnya lumayan mengharukan dan cukup menginspirasi saya untuk ikutan menjadi hafizah juga, *ehm*.

Meskipun saya kurang sreg dengan pengalaman Hafiz dengan Pino di kota besar. Tapi itu bukan masalah besar kok, saya-nya saja yang merasa kurang pas gimana gitu, heheh.

Terus sepertinya ada beberapa kata yang hilang diantara halaman 131 dan 132. Jadi kalimatnya rada tidak nyambung.

Kemudian saya juga serius nanya tentang Al-Naba yang disebut-sebut dalam buku ini. Itu surat An-Naba kan ya? Saya jadi keseleo membacanya kalau tidak ingat itu adalah salah satu hukum tajwid. Kok tidak ditulis An-Naba saja ya?

Dan ngomong-ngomong tentang keseleo, kutipan-kutipan surah Al-Quran yang diselipkan di beberapa halaman di buku ini dicetak dengan font yang hurug “Q”-nya mirip huruf “Z”.

Okeh itu saja, at last, 3 dari 5 bintang untuk buku ini. Yaaa, saya suka (‘▽’ʃƪ) ♥

***

Judul: Mahkota Cahaya untuk Ayah Bunda | Pengarang: Fifa Dila | Penerbit: Noura Books | Edisi: Bahasa IndonesiaCetakan pertama, Jakarta, Juni 2015, 256 halaman| Status: Owned Book | Rating saya: 3 dari 5 bintang

Posted in Akiyoshi Rikako, Books, Haru, Thriller

Holy Mother Review

 

***

*spoiler alert*

***

Blurb:

Terjadi pembunuhan mengerikan terhadap seorang anak laki-laki di kota tempat Honami tinggal. Korban bahkan diperkosa setelah dibunuh.

Berita itu membuat Honami mengkhawatirkan keselamatan putri satu-satunya yang dia miliki. Pihak kepolisian bahkan tidak bisa dia percayai.

Apa yang akan dia lakukan untuk melindungi putri tunggalnya itu?

Keren…bikin penasaran…menegangkan…dan membuat hati miris, #tsaaah.

Dari blurb di atas, saya rasa kita sudah bisa menebak bagaimana garis besar ceritanya. Kisah tentang pembunuhan anak-anak di sebuah kota dan kekhawatiran seorang ibu terhadap keselamatan anaknya.

Kejutan pertama yang saya rasakan adalah saat membaca awal-awal cerita di bagian dimana identitas si pembunuh diungkapkan. Saya kira kejutannya cukup sampai disitu, paling bagian selanjutnya tinggal menceritakan bagaimana caranya nanti polisi bisa menangkap si pembunuh. Etapi ternyata tidak. Masih banyak kejutan-kejutan yang tersimpan. Menegangkan sekali.

 

Membaca buku ini membuat saya jadi berpikir tentang perlindungan hak asasi bagi orang yang lebih dulu melanggar hak asasi orang lain.

Terus kutipan favorit saya adalah ini:

Di sini juga ada….

… seorang ibu yang rela menjadi iblis untuk melindungi putrinya.

—Holy Mother (hlm. 275)

Oke, sudah segini aja. Sepertinya karena lama tidak menulis review, saya jadi kehilangan kemampuan cuap-cuap panjang lebar tentang kesan buku yang baru saja saya baca. Semoga nanti bisa bikin review panjang lagi.

At last, 4 dari 5 bintang untuk Holy Mother. I really liked it.

***

Judul: Holy Mother | Pengarang: Akiyoshi Rikako | Penerbit: Haru | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan Ke-2, Januari 2017, 284 halaman | Penerjemah: Andry Setiawan | Rating saya: 4 dari 5 bintang | Bisa dibeli di: bukabuku.com

Posted in Akiyoshi Rikako, Books, Haru, Thriller

The Dead Returns Review

***

Dari judulnya saya sudah menduga kalau cerita di buku ini bakalan memuat unsur hantu-hantu gimana gitu. Jadi saya yang penakut ini sudah menyiapkan mental duluan. Etapi karena saking asiknya membaca, saya jadi lengah, dan saat bagian seramnya muncul, saya jadi merasa takut sendiri, *penakutakut*.

Jadi ceritanya tentang Koyama Nobuo, anak SMA yang tertukar tubuh dengan anak SMA lain setelah keduanya terjatuh dari tebing. Yang satu jatuh karena dibunuh, yang satunya jatuh karena ingin menyelamatkan.

Namun, betapa kagetnya Koyama ketika mengetahui dirinya masih hidup. Dan semakin bertambah kaget lagi ketika mengetahui bahwa dia berada di tubuh Takahashi Shinji, pemuda blasteran tampan yang berusaha menyelamatkannya kemarin.

Dengan tubuh barunya, Koyama bertekad mencari tahu siapa yang ingin membunuh dirinya. Tersangkanya adalah teman-teman sekelasnya. Karena Koyama datang ke tebing akibat pesan misterius yang diselipkan di bawah laci meja kelasnya.

Dengan memakai tubuh Takahashi Shinji yang termasuk dalam kategori anak SMA keren, Koyama yang sebelumnya adalah tipe anak yang terabaikan mulai bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi anak populer. Dengan begitu, dia jadi lebih mudah mencari informasi.

Berhasilkah Koyama Nobuo menemukan siapa pembunuhnya? Lalu bagaimana dengan nasib tubuhnya yang tertukar? Yah silakan dibaca sendiri ceritanya, hohoho.

Yang pasti, saya yang biasanya tidak suka dengan novel thriller jadi keasyikan ketika membaca novel ini. Penasaran sekali, siapa sebenarnya yang membunuh Koyama Nobuo. Secara diantara para tersangka anak SMA yang imut-imut, tampaknya tidak ada yang punya motif untuk membunuh Koyama yang keberadaannya sering terabaikan itu.

At last, 4 dari 5 bintang untuk The Dead Returns. I really liked it.

***

Judul: The Dead Returns | Pengarang: Akiyoshi Rikako | Penerbit: Haru | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan Ke-6, Februari 2017, 252 halaman | Penerjemah: Andry Setiawan | Rating saya: 4 dari 5 bintang | Bisa dibeli di: bukabuku.com