Posted in Gagas Media, Review 2016, Romance, Windry Ramadhina

Interlude Review

 photo interlude_zpszgwhgbza.png

***

Hanna,

listen.

Don’t cry, don’t cry.

The world is envy.

You’re to perfect 

and she hates it.

(Interlude, hlm. 367)

Bagus banget kisahnya.

Dari ucapan terima kasih penulis, saya baru tahu kalau novel ini bergenre New Adult, walaupun saya masih belum sepenuhnya paham apa itu genre New Adult (#^.^#). Biasanya novel-novel seperti ini saya pukul rata ke dalam genre romance.

Tadi, saya sudah bilang ya kalau novel ini bagus banget. Oke, saya katakan sekali lagi kalau novel ini memang bagus banget. Setidaknya bagi saya sih. Ceritanya mengalir begitu saja, membuat saya terhanyut.

Mmm, tapi sesekali tersenyum juga sih, cuma bukan karena ada adegan lucu, tapi karena nama Kai. Soalnya, Kai dalam bahasa Banjar-nya Kalimantan Selatan, artinya kakek. *sungkem*.

Tapi Kai disini bukan kakek kok. Kai adalah seorang pemuda super bandel. Bandel tapi menarik. Kepiawaiannya bermain gitar dan arti dibalik namanya mampu menyelamatkan seorang gadis bernama Hanna—yang saking terlukanya dia—ingin berubah menjadi buih di laut, seperti Little Mermaid (entah kenapa saya suka sekali dengan koneksi antara Hanna dan Little Mermaid ini).

Namun gadis itu ternyata juga menyelamatkan Kai. Kai mungkin terlihat bandel di luar, tapi sebenarnya dia juga terluka. Kai adalah anak bungsu dari keluarga kaya, Kai kuliah di Universitas bergengsi di ibukota, tapi keluarganya jauh dari deskripsi keluarga bahagia. Ayahnya begitu dingin, ibunya terlalu memaksakan kehendak, dan kakak-kakaknya terkesan tidak peduli. Sebagai pelarian, Kai jadi pemuda bandel dan b*r*ngs*k kalau menurut gadis-gadis.

Tapi Kai sama sekali tidak b*r*ngs*k kalau berada di hadapan Hanna. Kai jadi berubah menjadi pria romantis dan ingin menjadi penolong Hanna.

“Kalau begitu, biar aku jadi lautmu.” Tangan Kai terulur untuk Hanna. “Aku akan membantumu meluruhkan semua cela itu.”

(Interlude, hlm. 195)

Ngomong-ngomong, kata-kata “The world is envy. You’re too perfect and she hates you.” yang saya kutip pertama kali di atas, memberikan saya pandangan baru terhadap ketidakadilan-ketidakadian yang saya rasa sudah saya alami dalam hidup.  Somehow, kalimat itu terasa menenangkan. Dunia hanya iri karena kita terlalu sempurna, dan dia benci itu.

So, tidak ada dari kita yang sempurna. Kai dan Hanna mengerti itu. Kedua-duanya sama-sama menyimpan luka. Tapi mereka menerima kekurangan masing-masing, saling percaya, dan saling memberi kesempatan untuk bisa berubah menjadi lebih baik. *sotoy*.

At last, sekali lagi saya bilang, bukunya bagus banget (menurut saya loh ya). 4 dari 5 bintang untuk Interlude. I really liked it.

***

Judul: Interlude | Pengarang: Windry Ramadhina | Penerbit: Gagas Media | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan I, 2014, 372 halaman | Status: Pinjam di Perpustakaan Daerah Kab. Hulu Sungai Utara | Rating saya: 4 dari 5 bintang

***

Submitted for

Advertisements
Posted in Books, Bukune, Classic, Mystery, Review 2016

The Moonstone Review

 photo themoonstone_by_wilkiecollins_uploadedby_irabooklover_zpsykujhfws.jpg

***

Sebuah cerita misteri tentang hilangnya sebuah berlian bernama Batu Bulan. Konon berlian ini pernah disentuh oleh Dewa Wisnu. Sang Dewa memerintahkan para brahmana untuk menjaganya. Siapa pun yang berani mengambilnya dari dahi patung Dewa Bulan, akan mendatangkan kesengsaraan bagi si pencuri dan keluarganya.

Namun, siapa yang peduli dengan kutukan kalau kilauan berliau tersebut begitu memukau. Bersinar seperti bulan dan mengundang siapa pun untuk mencurinya. Dan itulah yang terjadi. Berlian tersebut diambil dari tempatnya. Berkelana jauh ke Inggris dan menebarkan kutukannya.

Dulu sekali, saya pernah membaca terjemahan buku ini dengan judul Intan Batu Bulan. Sebuah buku tua warisan nenek yang saking tuanya, bahkan sampulnya pun tidak ada lagi. Halaman identitas bukunya juga tidak ada, jadi waktu itu saya tidak tahu apa penerbitnya. Setelah mengubek-ngubek Goodreads, sepertinya sekarang saya tahu penerbit mana yang dulu menerbitkan buku ini 😉

Sayangnya, buku itu hilang. Padahal saya suka sekali dengan cerita misterinya. Sepertinya sia-sia saja berusaha membeli buku dengan edisi yang sama karena buku yang dulu terbitnya sudah lama sekali dan kemungkinan tidak dicetak ulang.

Dan betapa senangnya saya saat mengetahui Intan Batu Bulan diterbitkan lagi oleh penerbit yang berbeda dengan judul The Moonstone. Covernya cantik sekali. Tentu saja buku ini langsung masuk wishlist.

Yah walaupun sudah masuk wishlist, saya akui saya juga gembira sekali saat menemukan buku ini bertengger manis di rak buku perpustakaan. Langsung saya pinjam, tentu saja, hitung-hitung satu lagi buku keren yang saya baca untuk Proyek Baca Buku Perpustakaan XD.

Well, ternyata, seperti yang sudah pernah saya bilang sebelumnya di post Majalah Pecinta Buku baru-baru ini, buku ini membuat saya patah hati. Saya memang tidak mempunyai kompetensi untuk menilai apakah sebuah buku asing diterjemahkan dengan baik atau tidak. Tapi sebagai pembaca awam, saya mempunyai dugaan kuat, kalau terjemahan buku ini sedikit bermasalah.

Kalimat-kalimatnya terkesan janggal. Ada beberapa yang tidak bisa saya tangkap apa maksudnya. Ujung-ujungnya, ceritanya jadi tidak menarik lagi. Begitu berbeda dengan apa yang saya baca dulu di buku tua saya. Waktu itu ceritanya bagus sekali, kalimatnya mudah dimengerti dan mengalir lancar sampai-sampai saya bisa menamatkan bukunya sekali baca.

Sampai ketika saya tiba di bagian dimana Rachel Verinder ditulis sebagai “Mbak Verinder” alih-alih “Miss Verinder”, saya rasanya mau menangis saja.

At last, saya bingung mau memberikan berapa bintang untuk buku ini. Dan seperti biasa, kalau saya bingung, saya beri 3 bintang saja deh biar aman, *kenatabok*. Untuk ceritanya, kalau diambil dari buku terjemahan yang pertama kali saya baca, saya akan memberi 5 bintang. Saya suka sekali dengan misteri yang menyelubungi hilangnya intan batu bulan. Saya juga akur-akur saja dengan pemecahan misterinya. Saya waktu itu sampai gregetan karena sama sekali tidak bisa menerka, siapa sebenarnya yang mencuri si intan, dan bagaimana cara pencuriannya. Dan ketika semua misterinya terkuak, saya langsung memutuskan kalau buku tersebut bagus sekali.

Tapi kalau untuk terjemahan yang ini, well, silakan baca sendiri deh, dan saya rekomendasikan untuk membaca versi aslinya juga, atau versi terjemahan yang satunya, sebagai perbandingan 😉

***

 Judul: The Moonstone | Pengarang: Wilkie Collins | Penerbit: Bukune | Edisi: Cetakan I, Mei 2012 | Jumlah halaman: 671  halaman | Status: Pinjam di Perpustakan Daaerah Kab. HSU | Rating saya: 3 dari 5 bintang

***

Submitter for Proyek Baca Buku Perpustakaan

 photo proyek_baca_buku_perpustakaan_zpsbae5o9ei.png

Posted in Family, Historical Fiction, Khaled Hosseini, Qanita, Review 2016

And The Mountains Echoed Review

 photo and_the_mountains_echoed_uploadedbyirabooklover_zpshlkgrm6t.jpg

***

…bagaimana pilihan yang kita ambil akan bergaung hingga ke generasi selanjutnya. Bagaimana cinta yang tulus akan bergema ke seluruh semesta, memanggil jiwa-jiwa yang kehilangan belahannya.

Demi apa coba, saya menemukan satu buku bagus lagi di perpustakaan daerah. *peluk gedung perpustakaan*

Meskipun kurang menguras air mata dibandingkan The Kite Runner dan A Thousand Splendid Suns, tapi The Mountains Echoed juga sanggup mengaduk-ngaduk emosi. Saya lagi-lagi speechless pasca membaca buku ini.

Ini kisah tentang kehidupan keras di Afganistan. Kisah yang menyadarkan saya untuk mensyukuri apa yang sudah Tuhan titipkan kepada saya.

Cerita diawali dengan kisah perpisahan antara Abdullah dan adik kesayangannya, Pari. Kesulitan hidup memaksa ayah mereka untuk menjual Pari kepada pasangan keluarga kaya. Kesedihan Abdullah karena kehilangan Pari seakan bergaung ke seluruh semesta. Tapi Abdullah masih punya harapan, dan terus berjalan.

Awalnya saya sedikit bingung karena setelah kisah Abdullah dan Pari, cerita beralih ke kisah ibu tiri mereka. Kemudian cerita beralih lagi ke Paman Tiri mereka, dan begitu seterusnya. Tapi kisah mereka semua berhubungan. Cerita bahkan melintasi generasi dan juga benua. Merambat ke orang-orang asing bagaikan gema.

At last, bukunya bagus banget kalau menurut saya. Judul dan filosofinya juga keren. 4 dari 5 bintang untuk The Mountain Echoed. I really liked it.

***

Judul: And The Mountains Echoed – Dan Gunung-Gunung Pun Bergema | Pengarang: Khaled Hosseini | Penerbit: Qanita | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan III, Februari 2014, 516 halaman | Status: Pinjam di Perpustakaan Daerah Kab. Hulu Sungai Utara | Rating saya: 4 dari 5 bintang

***

Submitted for

Posted in Adventure, Books, Children, Fable, Fantasy, Guardians of Ga'Hoole, Kathryn Lasky, Kubika, Review 2016

The Capture Review

 photo DSC_0017_zps8e6tgp6w.jpg

***

Blurb:

Soren dilahirkan di Hutan Tyto, tempat tinggal Burung Hantu Barn yang selama ribuan tahun hidup dalam damai.

Saat masih belum bisa terbang, Soren diculik dan dibawa ke tempat yang bernama Sekolah untuk Burung Hantu Yatim Piatu. Di tempat itu terdapat ribuan anak Burung Hantu yang menjadi korban penculikan.

Kedamaian dunia Burung Hantu terancam.

Bersama sahabat barunya yang cerdas – Gylfie – dia berusaha meloloskan diri demi mencari keluarganya dan melindungi dunia burung hantu dari bahaya yang mengancam.

Inilah awal petualangan yang menegangkan dan juga menakjubkan…

 

Wahh, ada buku keren ini di perpustakaan daerah. Sepertinya filmnya sering ditayangkan di TV nasional ya, tapi belum sempat saya tonton 😀

Sejak dulu saya suka burung hantu. Sepertinya burung hantu identik dengan hal-hal seperti kutu buku, kecerdasan, kebijaksanaan, dan sebagainya.

Meskipun saya suka burung hantu, dan buku ini sudah difilmkan—biasanya buku yang difilmkan itu seru kan ya?—tapi saya rasa cerita petualangan Soren biasa-biasa saja, *kenakeplak*.

Tapi asik sih, ada banyak pengetahuan mengenai burung hantu. Lumayan penasaran juga, apakah Soren dan kawan-kawan berhasil mengalahkan musuh-musuhnya.

Mungkin nanti kalau saya sudah baca seri lengkapnya, baru terasa serunya. Tapi karena ini buku perpustakaan, saya rasa saya bakalan kesulitan menemukan serinya secara lengkap. Jadi sabar saja deh, ahaha.

Ada satu nasihat yang cukup berkesan bagi saya dari buku ini, tapi saya lupa letaknya dimana. Pokoknya tentang melihat sesuatu dari sisi baiknya.

At last, 3 dari 5 bintang lah untuk petualangan si burung hantu. I liked it.

***

Judul: The Capture | Pengarang: Kathryn Lasky | Series: Guardians of Ga’Hoole |  Penerbit: Kubika | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan I, Juli 2010 | Status: Pinjam di Perpustakaan Daerah Kab. Hulu Sungai Utara | Jumlah halaman: 338 halaman | Rating saya: 3 dari 5 bintang

***

Submitted for #pbbp dan CLRP

childlit_01