Posted in Ariadi Ginting, Books, Review 2014, Romance

SEPASANG KAOS KAKI HITAM REVIEW

Sepasang Kaos Kaki Hitam by Ariadi Ginting

Title: Sepasang Kaos Kaki Hitam | Author: Ariadi Ginting | Genre: Romance | Edition language: Indonesian | Jumlah halaman: 691 halaman |  Format: Ebook  | My rating: 4 of 5 stars

Pernahkah di suatu pagi yang cerah kalian duduk berselimutkan cahaya mentari, ditemani secangkir teh hangat tawar, lalu mendadak saja teh yang kalian minum terasa manis?

Gw pernah.

Dan kalian tahu? Kadang kenangan itu seperti asap tipis yang menguap dari cangkir teh. Dia nyaris tak terlihat, sangat sulit untuk ditangkap, tapi kita tetap bisa merasakan kehangatannya. Bahkan saat dia terurai bersama angin musim gugur yang meniupkan helai demi helai daun momiji dari pucuk merahnya.

Mendekatlah, dan dengarkan setiap kata yg keluar dari mulut ini. Mendekatlah, karena gw akan mendongengkan kepada kalian sebuah kenangan tentang secangkir teh hangat di pagi hari. Mungkin juga akan gw selipkan bait terakhir Endless Love yg sudah ribuan kali gw nyanyikan.

….

Paragraf-paragraf pembuka cerita yang membuat saya langsung tertarik dengan ebook ini. Ebook ini direkomendasikan  kepada saya oleh kakak dari “ruangan sebelah”. Thank ya kakak, ceritanya bagus sekali ^^

Jujur sebelumnya saya malas sekali membaca ebook. Pekerjaan mengharuskan saya untuk menatap layar komputer selama berjam-jam. Nah, masa kalau mau baca buku saya harus menatap layar lagi, please deh, dan genrenya romance pula *ditimpukpenggemarromance*

Tapi, kalimat-kalimat pembuka di atas *abaikantyponya* membuat saya terus ingin membaca cerita ini sampai habis. Ceritanya ringan dan enak dibaca. Plus sebagai tambahan banyak adegan lucunya pula.

Oh ya saking penasarannya sama ebook ini, ditengah cerita saya googling sebentar. Dan setelah diusut ternyata Sepasang Kaos Kaki Hitam berasal dari sebuah thread di Kaskus. Katanya sih populer banget. Wah saya jadi makin penasaran membaca lanjutan ceritanya.

Kisahnya sendiri tentang seorang pemuda perantau asal Kalimantan yang terdampar di Karawang. Si pemuda, yang bernama Ari, tinggal di sebuah kost. Nah, di depan kamarnya si Ari adalah kamar milik seorang cewek misterius. Ari tidak sengaja melihat si cewek di kamarnya. Duduk menunduk sambil memeluk lutut dan memakai stoking hitam. Ketika disapa, si cewek ini tetap diam dan tidak menjawab.

Ari pun menanyakan perihal gadis ini dengan penghuni kamar disebelahnya. Namanya Indra, cowok berambut cepak yang nyaris gundul hingga ujung-ujungnya ntar Ari manggil Indra dengan sebutan si gundul. Si gundul mengaku belum pernah melihat ada penghuni di kamar gadis itu. Ari jadi merinding, padahal malam sebelumnya dia mendengar suara tangisan wanita saat tengah malam. Ari pun mulai menduga yang tidak-tidak dan merasa sedikit menyesal mengapa tidak menyelidiki dahulu latar belakang kost tersebut.

Tapi dugaan Ari tidak terbukti. Kamar di depannya memang dihuni oleh seorang gadis berstoking hitam. Dan dia manusia. Suatu hari Ari dan Indra melihat darah mengalir keluar dari kamar tersebut. Sontak keduanya langsung mebuka paksa kamar dan menemukan si gadis menyayat-nyayat kakinya sendiri.

Ari dan Indra pun menyelamatkan si gadis. Setelah banyak adegan perlawanan akhirnya si gadis bisa ditenangkan dan diobati. Si gadis ternyata bernama Mevally. Dan dari sinilah persahabatan mereka berawal.

Ari dan Indra yang orangnya easy going saja tidak menuntut Mevally untuk menceritakan apa yang telah membuatnya depresi sehingga menyakiti tubuhnya sendiri. Hal ini membuat Mevally mau memulai persahabatan dengan mereka berdua. Terlebih kepada Ari yang kamarnya persis berada di depan kamarnya.

Dan cinta pun tumbuh seiring waktu. Saking easy going-nya Ari bahkan tidak menyadari kalau dia sudah jatuh cinta sama Meva. Saking easy going-nya pula, ketika Ari mulai menyadarinya, dia tetap memutuskan untuk mencintai Meva dalam diam sebagai sahabat.

Tapi Ari bukan pengecut kok. Ari akhirnya menyatakan cintanya kepada Meva, tapi ada … errr … suatu kejadian yang mengakibatkan acara penembakan Ari dianggap gagal. Dan meskipun penembakan pertama gagal, Ari tidak mengulanginya lagi sampai akhirnya Meva pergi. Dan sekali lagi bukan karena Ari pengecut, tapi lebih karena Ari dan Meva berbeda. Perbedaan yang sudah lama disadari oleh Ari. Perbedaan yang membuatnya hanya bisa mengagumi Meva seperti para pendaki yang mengagumi bunga Edelweiss.

Meskipun hanya bisa mengagumi Meva, Ari tetap memilih menjadi jomblo padahal ada rekan sekantornya yang jelas-jelas naksir Ari. Namanya Lisa. Si Lisa ini pokoknya perfect banget lah sebagai cewek. Cantik, pintar dan punya interpersonal skill yang mengagumkan. Beda sama Meva yang meskipun cantik, tapi  nyolot dan rese abis. Tapi toh Ari tetap mencintai Meva. Komplit dengan masa lalu Meva yang kelam dan kebiasaan self injury-nya.

Dan ada scene dengan filosofi keren yang paling berkesan bagi saya saat Ari … errr… menolak cinta Lisa. Sebuah cerita tentang seorang pelukis dan asistennya. Suatu hari mereka berdua telah membuat lukisan pemandangan kota dari atap gedung. Lukisan tersebut dilukis dengan sangat indah. Si pelukis saking bahagianya mulai melihat hasil lukisannya dari berbagai sisi hingga tidak sadar kalau sedikit lagi melangkah maka dia akan terjatuh dari atap gedung yang tinggi itu.

Si asisten sadar kalau dia berteriak memperingatkan kemungkinan si pelukis akan kaget dan terjatuh. Jadi si asisten mengambil pisau kemudian merobek lukisan mahakarya tersebut. Si pelukis langsung marah dan mendekati asistennya. Si asisten pun menjelaskan alasan kenapa dia merobek lukisan tersebut. Si pelukis pun menyadari kalau nyawanya telah diselamatkan dan memberikan pelukan terima kasih kepada asistennya. Mereka berdua pun kembali membuat lukisan baru sebagai pengganti lukisan yang robek.

Sekarang coba kita posisikan diri kita sebagai si pelukis yang hampir kehilangan nyawanya, dan Tuhan sebagai asistennya. Kadang kita ngerasa kita sudah membuat sebuah lukisan yang indah, tapi kemudian Tuhan merobeknya. Kita kecewa. Kita marah. Tanpa kita sadari, bahwa Tuhan merobek lukisan kita karena Dia tahu ada lukisan lain yang lebih indah yang bisa kita buat.

Sama halnya dengan doa. Tuhan nggak serta merta mengabulkan semua doa kita, karena Tuhan yang paling mengerti apa yang terbaik buat kita. Dia nggak mengabulkan karena Dia ingin kita mendapatkannya di saat yang tepat, atau menggantinya dengan yang lebih baik.

Hehehe…bisa banget ya si Ari ini😀

Selain filosofi ini, ada banyak lagi filosofi keren yang terselip di buku ini. Dan ini yang membuat saya suka. Saya juga suka dengan sifat easy going-nya si Ari serta keputusan berat yang harus dia ambil diakhir kisah.  Dan terlebih lagi, kisah ini adalah tentang sebuah kenangan.  Entah kenapa, bagi saya, cerita tentang sebuah kenangan selalu bisa meninggalkan kesan yang mendalam *eaaaaa*.

At last,  meskipun menurut saya cerita ini perlu banyak “sentuhan editor”, tapi banyak pelajaran yang bisa dipetik dari kisah cinta Ari dan Meva. 4 dari 5 bintang deh. I really liked it.

Author:

Love book and wanna study abroad to Holland

6 thoughts on “SEPASANG KAOS KAKI HITAM REVIEW

  1. Ahaha, asik juga nih membaca review dari ka Ira.
    Katanya sih ceritanya berdasarkan kisah nyata. Tapi yaa mungkin dibumbu2in dikit laah biar “rasanya sedap”.
    Endingnya yg sad tapi gak sad-sad amat bikin ‘dongkol’ pas udah selesai bacanya. Hha.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s