Posted in Books, Fantasy, Gramedia Pustaka Utama, Jonathan Stroud

The Leap Review

Blurb:

Festival Raya. Semua permainan dan hiburan berlangsung: Juggler, akrobat, pertunjukan burlesque, karnaval, egrang, dan banyak lagi. Tapi bukan itu yang dicari Charlie di sana.

Max akan ada di sana. Ia akan bergabung dengan Dansa Besar, dan begitu melakukannya Max takkan bisa kembali. Ia akan menjadi penghuni abadi tempat itu. Charlie harus menghentikannya dan membawa sahabatnya kembali. Ia ingin membuktikan pada ibunya, para dokter, dan orangtua Max bahwa Max belum meninggal. Sahabatnya itu pasti kembali.

Hanya pada malam harilah Charlie bisa mengejar Max, mengikuti jejaknya. Ia takkan pernah menyerah, meski harus melompati batasan dunia sekalipun, dan tak peduli berapapun harga yang harus ia bayar.

Karena Charlie tahu hal yang mustahil itu benar-benar terjadi.

My Review:

Dulu sekali, saya pernah membaca The Last Siege yang juga merupakan buku karya Jonathan Stroud. Gaya penceritaannya yang sangat berbeda sekali dengan Bartimaeus Trilogy membuat saya waktu itu hanya memberikan dua bintang untuk The Last Siege. Bartimaus kocak, The Last Siege suram.

The Leap sebenarnya juga suram, dan saya sudah curiga kalau endingnya bakalan seperti itu berdasarkan pengalaman saya ketika membaca The Last Siege. Tapi karena saya sudah siap (apa coba), The Leap akhirnya berhasil membuat saya tegang di chapter-chapter akhir meskipun awalnya menurut saya cukup membosankan.

Jadi ceritanya tentang dua orang sahabat, Max dan Charlie, yang mengalami kecelakaan saat bermain-main di sekitar kolam. Max meninggal, atau menurut orang Max meninggal, padahal menurut Charlie tidak. Max masih hidup. Dia dibawa oleh wanita-wanita berwajah aneh di dalam kolam dan Charlie bertekad mengejarnya.

Namun waktu Charlie terbatas. Dia harus berhasil mengejar Max sebelum Dansa Besar dimulai. Sayangnya Max berlari begitu cepat dan orang-orang disekitar Charlie berusaha menghalangi Charlie agar dia melupakan Max. Padahal kunci untuk bisa mengejar Max tepat waktu adalah, Charlie harus selalu mengingat Max. Mengingat sedemikian rupa sehingga Charlie bisa merasakan kehadiran Max disampingnya.

Berhasilkah Charlie mengejar Max? Yah silakan baca sendiri bukunya. Yang pasti kalau membaca The Leap, pastikan kalian tidak mengingat bagaimana gaya penceritaan Bartimeaus Trilogy ataupun The Lockwood Series karena mereka sangat berbeda. Tidak ada unsur suram-seram kocak di The Leap. Yang ada hanya suram dan seram 😀

At last, 3 dari 5 bintang untuk The Leap. Yeap, I liked it.

NB: Thanks to Radovan Zweihander yang sudah capek-capek datang ke Kalimantan Selatan Book Fair demi mendapatkan buku ini. Ngirimin via pos pula. Mom loves you ❤ XD

***

Judul: The Leap – Lompatan | Pengarang: Jonathan Stroud | Penerbit: Gramedia Pustaka Utama | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan I, Jakarta, Oktober 2011, 240 halaman | Alih bahasa: Jonathan Aditya Lesmana

Advertisements
Posted in Books, Fantasy, Gramedia Pustaka Utama, Horror, Jonathan Stroud

The Creeping Shadow Review

***

bisa dibeli di BukaBuku.com dan belbuk.com

***

*spoiler alert*

***

Blurb:

Kota dikepung arwah? Kanibal bangkit dari kematian? Hanya ada satu tim pemburu hantu yang kau butuhkan… Namun Lockwood & Co. kekurangan satu agen—Lucy Carlyle sekarang jadi operatif lepas. Dan mereka kewalahan menangani pekerjaan: tapak-tapak tangan raksasa di jendela, bunyi pisau memotong-motong di dapur berhantu… Belum lagi Bayangan Mengendap—ancaman raksasa yang mengintai pekarangan gereja desa, membangkitkan para hantu dari kubur. Lockwood & Co. sangat membutuhkan bantuan Lucy. Kalau saja mereka mampu membujuknya untuk kembali…

Continue reading “The Creeping Shadow Review”

Posted in Books, Gramedia Pustaka Utama, Rhonda Byrne, Self Help

How The Secret Changed My Life: Kisah Nyata, Orang-Orang Nyata Review

***

bisa dibeli di belbuk.com

***

Ada dua jenis orang:

Mereka yang berkata,

“Aku akan percaya ketika melihatnya.”

Dan mereka yang berkata,

“Untuk melihatnya, aku tahu aku harus percaya.”

—The Secret Daily Teaching (How The Secret Changed My Life, hlm 4)

Nah lo, saya sama sekali tidak tahu kalau buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Pasca membaca 4 buku karangan Rhonda Byrne lainnya, saya ingat saya sempat nyeletuk seandainya saja ada 1 buku Rhonda Byrne lagi yang diterjemahkan, maka saya bisa ikut Read & Review Challenge BBI 2017  untuk kategori membaca 5 buku dari pengarang yang sama.

Dengan rajin saya stalking ke toko-toko buku online (tidak ada toko buku di kota saya) dan mengetik kata kunci Rhonda Bryrne untuk mencari tahu apakah ada karya beliau lagi yang sudah diterjemahkan atau tidak. Tapi tidak ada satu pun yang membuahkan hasil.

Berdasarkan “ajaran” buku ini, pastilah  “Semesta” mendengar keinginan saya, karena akhirnya saya mendapat kesempatan jalan-jalan ke toko buku real. Kesempatan yang didatangkan Semesta melalui suami saya yang secara tidak terduga mengajak jalan-jalan ke kota besar. Kebetulan dia sedang ada tugas di sana.  Saya tahu suami saya lagi sibuk dan capek dan tidak terlalu suka dengan toko buku. Tapi toh dia mau saja mengajak saya jalan-jalan ke toko buku karena dia tahu saya suka. Haduh senangnya, terima kasih cinta ❤ ❤ ❤

Dan disitulah saya akhirnya menemukan buku ini terpampang manis. Saya jadi pengen melompat saking senangnya. Syukurlah akhirnya ada satu buku Rhonda Byrne lagi yang bisa baca dalam bahasa Indonesia, haha.

Jadi seperti judulnya, buku dari The Secret Series kali ini berisi kumpulan kisah-kisah tentang orang-orang yang sudah berhasil melaksanakan prinsip-prinsip  The Secret dari seluruh dunia. Saya penarasan apakah ada kisah dari Indonesia. Oke, saya baca baca baca, …., hmmmm,  ternyata tidak ada.

Oke, kembali ke buku. Kisah-kisah di dalam buku ini dikelompokkan berdasarkan topik-topik tertentu seperti buku-buku pendahulunya. Dimulai dari kisah tentang proses kreatif, kisah tentang bagaimana mendapatkan kebahagian, kisah tentang bagaimana mendapatkan kekayaan, mengubah hubungan, mendapatkan kesehatan, dst. Setiap kisah dan atau topik dikomentari secara oleh si pengarang dan diberi kesimpulan berdasarkan prinsip-prinsip The Secret.

Sama seperti 4 buku sebelumnya, buku ini juga lumayan menginspirasi. Dan efeknya yang paling terasa bagi saya adalah ada beberapa kisah yang membuat saya meneteskan air mata. Saya begitu terharu dengan keberhasilan mereka. Sepertinya mereka menulis kisah mereka dengan sepenuh hati dan mungkin memang seperti itulah adanya.

Tidak butuh waktu lama untuk menyelesaikan buku ini walaupun penampilannya tampak seperti buku bantal, atau buku bantal yang imut lah lebih tepatnya.

Ngomong-ngomong saya sangat berharap semoga semua buku dari The Secret series  maupun yang terkait diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Sepertinya yang belum diterjemahkan adalah The Secret Gratitude Book, The Secret Daily Teachings, The Secret to Teen Power dan The Power of Henry’s Imagination, *cmiiw*.

At last, buku ini berhasil membuat saya “gatal” ingin mempraktikkan cara berpikir The Secret lagi. Kebetulan saat ini ada sesuatu yang amat sangat saya inginkan. Semoga seperti kisah-kisah keberhasilan yang termuat dalam buku ini, saya akhirnya juga punya kisah keberhasilan saya sendiri.

Pasti bisa. Minta, percaya dan terima. Tetap berpikir positif dan selalu bersyukur. Semangat! *pasang senyum 5 senti*, 😀

NB: 5 dari 5 bintang untuk buku ini. Yeap, it was amazing.

***

Judul: How The Secret Changed My Life: Kisah Nyata. Orang-Orang Nyata | Pengarang: Rhonda Byrne | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan I, Jakarta, 2017, 321 halaman | Penerjemah: Susi Purwoko | Penerbit: Gramedia Pustaka Utama | Status: Owned book | Rating saya: 5 dari 5 bintang

Posted in Books, Cornelia Funke, Fantasy, Gramedia Pustaka Utama

Pangeran Pencuri Review

***

bisa dibeli di BukaBuku.com

***

“Kadang-kadang orang dewasa bercerita, betapa indahnya ketika mereka masih anak-anak.

Mereka bahkan bermimpi menjadi anak-anak lagi.

Tetapi apa yang mereka mimpikan ketika masih anak-anak?

Tahukah kau?

Aku rasa, mereka bermimpi ingin cepat-cepat dewasa.

 

Blurb

Selamat datang di dunia ajaib kota Venesia di Italia, tempat kanal-kanal tersembunyi dan gedung-gedung tua melindungi mereka yang tidak ingin ditemukan.

Prosper dan Bo, anak yatim-piatu yang lari dari bibi dan paman mereka yang kejam. Kakak-beradik itu nekat pergi ke Venesia dan bertemu anak laki-laki misterius yang menjuluki dirinya pangeran pencuri.

Sang pangeran pencuri yang cerdas memimpin sekelompok anak jalanan yang biasa melakukan kejahatan kecil untuk menyambung hidup. Prosper dan Bo senang bergabung dengan keluarga baru yang penuh warna ini.

Petualangan mereka makin seru ketika mereka harus berhadapan dengan detektif penyanyang kura-kura, pedagang barang antik penipu, dan fotografer pemilik barang antik yang dapat membuat orang jadi jauh lebih tua atau muda dalam sekejap mata.

My Review

Waaah, saya nyaris lupa kalau ini buku fantasi. Membaca halaman-halaman awalnya terasa seperti membaca buku petualangan. Saat sampai dibagian “barang antik” itu, saya sempat bengong ala-ala “eh masa”. Disitu saya baru sadar, kalau ini adalah buku fantasi, maka “eh masa” itu seharusnya tidak menjadi masalah, hehehe.

So, seperti yang blurb-nya “bilang”, buku ini menceritakan petualangan kakak-beradik yatim-piatu yang bernama Prosper dan Bo. Mereka berdua melarikan diri dari paman dan bibinya yang bertekad ingin memisahkan kedua bersaudara ini. Alasannya hanya karena Bo masih kecil dan bertampang seperti malaikat, sedangkan Prosper sudah nyaris remaja sehingga tampangnya tidak imut-imut lagi.

Tidak tanggung-tanggung, Prosper dan Bo melarikan diri ke Venesia. Ngomong-ngomong, berasal dari manakah kakak-beradik saya tidak tahu. Saya rasa saya melewatkan informasi itu saking cepatnya saya membaca. Soalnya saya penasaran sekali bagaimana akhir kisahnya, hahaha, *kena keplak*.

Berkeliaran di kota asing bukanlah hal mudah. Terutama bagi anak-anak, seberapa besar pun anak itu berusaha keras untuk menjadi orang dewasa. Disaat hampir putus asa, Prosper dan Bo bertemu dengan komplotan anak jalanan yang menawarkan tempat yang hangat untuk mereka. Meskipun diketuai oleh seorang anak laki-laki yang menjuluki dirinya sendiri sebagai pangeran pencuri, tapi bagi Prosper dan Bo, tinggal di sana jauh lebih baik ketimbang dipisahkan oleh paman dan bibi mereka.

Menarik sekali mengikuti petualangan Prosper dan Bo bersama anak-anak jalanan ini. Dan yang menjadi sorotan saya dalam kisah ini adalah bagaimana orang dewasa ingin berubah menjadi anak-anak dan bagaimana anak-anak ingin berubah menjadi dewasa. Hingga akhirnya masing-masing menyadari bahwa menjalani prosesnya seperti apa adanya jauh lebih baik.

At last, saya ingin berterima kasih kepada Maya Floria yang sudah memberikan buku keren ini gratis kepada saya. Saya paling senang kalau membaca buku fantasi. Kisah-kisah yang mereka sampaikan selalu mengingatkan saya untuk percaya bahwa keajaiban itu memang ada, dan bahwa masih ada dan akan selalu ada orang-orang baik di sekitar kita. Meskipun kadang mereka kelelep sama orang-orang jahat. Tapi kalau kita mau berusaha, kita akan bisa menemukan mereka, *sotoy mode on*, *salam hormat untuk Victor dan Ida*.

So, 4 dari 5 bintang untuk Pangeran Pencuri. I really liked it.

***

Judul: Herr Der Diebe — Pangeran Pencuri | Pengarang: Cornelia Funke | Penerbit: Gramedia Pustaka Utama | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan II, Jakarta, Maret 2011, 420 hlm | Alih bahasa: Hendarto Setiadi | Status: Owned book (dikasih Maya) | Rating saya: 4 dari 5 bintang

Posted in Books, Gramedia Pustaka Utama, Rhonda Byrne, Self Help

Hero (Reread) Review

***

Wah..wah…, setelah ditinggal kurang lebih 3 bulan, blog saya jadi lumayan berdebu. Saya melewatkan event ulang tahun BBI. Saya juga melupakan event Hari Buku Nasional yang sebetulnya bertepatan dengan tanggal lahir saya, *uhuk*. Terus ada juga beberapa komentar yang baru sempat saya balas sekarang, maaaf, *pasang tampang memelas*.

Continue reading “Hero (Reread) Review”