Featured
Posted in Non Review

Proyek Baca Buku Perpustakaan 2017: Master Post

 

logo_bacabukuperpus

Whoaaa, maaf, master post Proyek Baca Perpustakaan 2017 baru bisa dipublish hari ini. Sudah lewat dari waktu “besok atau lusa” seperti yang saya janjikan di post pengumuman kemarin ya, hahhah.

Oke, mari kita lanjutkan Proyek Baca Buku Perpustakaannya. Masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya, proyek ini diadakan karena perpustakaan-lah pusat buku terbesar di kota kecil saya. Tahun ini kami masih belum punya toko buku besar. Kalau ingin membaca buku novel yang update-an dikit, masih harus pergi ke Banjarmasin atau beli di toko buku online.

Continue reading “Proyek Baca Buku Perpustakaan 2017: Master Post”

Advertisements
Posted in Andrea Hirata, Bentang Pustaka, Books, Family, Indonesian Literature, Romance

Sirkus Pohon Review

***

“Fiksi, cara terbaik menceritakan fakta.”

—Andrea Hirata

***

Bukunya lumayan mahal kalau menurut standar saya sekarang. Sempat nyesal kenapa tidak nunggu diskonan saja baru beli, wkwkwk. Untunglah penyesalan saya tidak bercokol lama. Bukunya bagus banget. Saking bagusnya membacanya jadi tidak terasa, tahu-tahu sudah mau chapter akhir aja.

Entah kenapa kalau saya membaca buku karangan Andrea Hirata, saya selalu beranggapan bawah tokoh “aku” itu adalah Ikal. Alhasil sampai menjelang chapter akhir, saya belum hapal siapa nama lengkap tokoh utamanya. Yang saya ingat cuma nama panggilannya, Hob.

Seperti biasa, buku karangan Andrea Hirata mampu membuat saya tertawa dan menangis sendiri. Kisah tentang orang-orang kecil di tempat terpencil yang katanya tidak masuk di dalam peta. Meskipun begitu, banyak kebijaksanaan yang bisa kita ambil dari kisah mereka.

Melihat judulnya, saya tidak menyangka kalau kisahnya bakalan seperti ini. Meskipun judulnya memuat kata-kata sirkus, saya tetap kaget kalau ternyata kisah sirkus memang ada di dalam buku ini.

Jadi, novel Sirkus Pohon menceritakan tentang kisah hidup plus kisah cinta seorang laki-laki bernama Hob (nama lengkapnya masih susah saya ingat, wkwkwk) dengan seorang gadis bernama Dinda. Dan ditambah bonus kisah cinta antara dua orang anak bernama Tara dan Tegar. Menurut saya, kisah cinta kedua pasangan ini manis sekali. Tipe cinta pandangan pertama yang you’re the one and the only gitu. Oh, saya suka saya suka ♥~(‘▽^人)

Terus juga ada cerita mengenai pohon dan sirkus. Si pohon yang dimaksud di sini adalah pohon delima. Dan sirkus yang dimaksud adalah sirkus milik keluarga Tara. Bagaimana sirkus dan pohon delima bisa bersatu silakan baca sendiri kisahnya :D. Gara-gara buku ini, saya baru ngeh kalau ternyata pohon delima bisa tumbuh besar ya (ya iyalah). Coz selama ini saya hanya tahu bentuk pohon delima dari tanaman tetangga saya. Pohon delimanya kecil dengan tipe batang kurus yang menjulur-julur gitu.

At last, 4 dari 5 bintang deh untuk novel Sirkus Pohon. Buku ini mengembalikan mood membaca saya yang sempat seret.

Oh ya hampir lupa, berikut adalah beberapa kutipan di buku ini yang jadi favorit saya:

…dan aku gembira karena ternyata ada kebaikan dan harapan dalam diriku meski hal itu hanya dilihat oleh seorang anak kecil. (Sirkus Pohon, hlm. 64)

Dan tak ada yang lebih menyenangkan daripada berdekatan dengan orang-orang yang punya mimpi besar. (Sirkus Pohon, hlm. 71)

Mereka adalah para penakluk rasa sakit yang selalu dicekam hukum pertama bumi: gravitasi, selalu menjatuhkan! Namun, mereka memegang teguh hukum pertama manusia: elevasi, selalu bangkit kembali! (Sirkus Pohon, hlm. 72)

Puluhan tahun telah berlalu sejak aku terperangah melihat aksi raja-raja muda angin itu, kini mereka turun dari langit dan dapat kujangkau. (Sirkus Pohon, hlm. 79)

Ternyata hari menjadi megah jika dimulai dengan gembira,…. (Sirkus Pohon, hlm. 85)

Karena orang sekarang tak bisa lagi disindir-sindir. Orang sekarang buta membaca tanda-tanda, bebal kiasan! (Sirkus Pohon, hlm. 208)

…., mengapa susah sekali menulis: Aku rindu. (Sirkus Pohon, hlm. 320)

NB: Credit. Bunga handmade yang nangkring di foto itu adalah bros pinjaman dari jualan kakak saya, ahaha. Untuk wilayah Amuntai dan sekitarnya bisa didapatkan di Toko Al-Himmah ya 😉

***

Judul: Sirkus Pohon | Pengarang: Andrea Hirata | Penerbit: Bentang Pustaka | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan Kedua, September 2017, 410 halaman, 20,5 cm | Status kepemilikan: Owned book | Rating saya: 4 dari 5 bintang

Posted in Books, Fantasy, Gramedia Pustaka Utama, Jonathan Stroud

The Leap Review

Blurb:

Festival Raya. Semua permainan dan hiburan berlangsung: Juggler, akrobat, pertunjukan burlesque, karnaval, egrang, dan banyak lagi. Tapi bukan itu yang dicari Charlie di sana.

Max akan ada di sana. Ia akan bergabung dengan Dansa Besar, dan begitu melakukannya Max takkan bisa kembali. Ia akan menjadi penghuni abadi tempat itu. Charlie harus menghentikannya dan membawa sahabatnya kembali. Ia ingin membuktikan pada ibunya, para dokter, dan orangtua Max bahwa Max belum meninggal. Sahabatnya itu pasti kembali.

Hanya pada malam harilah Charlie bisa mengejar Max, mengikuti jejaknya. Ia takkan pernah menyerah, meski harus melompati batasan dunia sekalipun, dan tak peduli berapapun harga yang harus ia bayar.

Karena Charlie tahu hal yang mustahil itu benar-benar terjadi.

My Review:

Dulu sekali, saya pernah membaca The Last Siege yang juga merupakan buku karya Jonathan Stroud. Gaya penceritaannya yang sangat berbeda sekali dengan Bartimaeus Trilogy membuat saya waktu itu hanya memberikan dua bintang untuk The Last Siege. Bartimaus kocak, The Last Siege suram.

The Leap sebenarnya juga suram, dan saya sudah curiga kalau endingnya bakalan seperti itu berdasarkan pengalaman saya ketika membaca The Last Siege. Tapi karena saya sudah siap (apa coba), The Leap akhirnya berhasil membuat saya tegang di chapter-chapter akhir meskipun awalnya menurut saya cukup membosankan.

Jadi ceritanya tentang dua orang sahabat, Max dan Charlie, yang mengalami kecelakaan saat bermain-main di sekitar kolam. Max meninggal, atau menurut orang Max meninggal, padahal menurut Charlie tidak. Max masih hidup. Dia dibawa oleh wanita-wanita berwajah aneh di dalam kolam dan Charlie bertekad mengejarnya.

Namun waktu Charlie terbatas. Dia harus berhasil mengejar Max sebelum Dansa Besar dimulai. Sayangnya Max berlari begitu cepat dan orang-orang disekitar Charlie berusaha menghalangi Charlie agar dia melupakan Max. Padahal kunci untuk bisa mengejar Max tepat waktu adalah, Charlie harus selalu mengingat Max. Mengingat sedemikian rupa sehingga Charlie bisa merasakan kehadiran Max disampingnya.

Berhasilkah Charlie mengejar Max? Yah silakan baca sendiri bukunya. Yang pasti kalau membaca The Leap, pastikan kalian tidak mengingat bagaimana gaya penceritaan Bartimeaus Trilogy ataupun The Lockwood Series karena mereka sangat berbeda. Tidak ada unsur suram-seram kocak di The Leap. Yang ada hanya suram dan seram 😀

At last, 3 dari 5 bintang untuk The Leap. Yeap, I liked it.

NB: Thanks to Radovan Zweihander yang sudah capek-capek datang ke Kalimantan Selatan Book Fair demi mendapatkan buku ini. Ngirimin via pos pula. Mom loves you ❤ XD

***

Judul: The Leap – Lompatan | Pengarang: Jonathan Stroud | Penerbit: Gramedia Pustaka Utama | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan I, Jakarta, Oktober 2011, 240 halaman | Alih bahasa: Jonathan Aditya Lesmana

Posted in Aoyama Gosho, Books, Comic, Elex Media Komputindo

Detektif Conan Vol. 91 Review

***

Blurb:

Conan dan Heiji memusnahkan Nue. Akhirnya Kid berhadapan dengan Okiya! Ada gadis Kyoto mencolok yang terlihat mengincar Heiji dan guru ceroboh yang seperti menyembunyikan sesuatu. Kali ini mulai bermunculan banyak perempuan yang mencurigakan!

My Review

Betul, banyak perempuan yang mencurigakan >.<

Lanjutan kasus Nue. Sudah curiga kalau ternyata binatang imut itu ikut andil dalam kasus, *tumben*.

Lagi, pelajaran tentang betapa sayangnya seorang ibu kepada anaknya. Sampai-sampai si ibu rela melakukan apapun.

Terus ada kasus Kid di sini. Kok saya nangkapnya kali ini Kid gagal ya? Cuma datang doang untuk menjawab tantangan, tapi tidak berhasil membuka kotak. Atau bisa juga sih saya-nya saja yang tidak ngeh, huehehe. Yang pasti kasus ini lumayan romantis kalau menurut saya. Rada bitter sweet sih. Tapi romantis ❤

Continue reading “Detektif Conan Vol. 91 Review”

Posted in Books, Fantasy, Gramedia Pustaka Utama, Horror, Jonathan Stroud

The Creeping Shadow Review

*spoiler alert*

***

Blurb:

Kota dikepung arwah? Kanibal bangkit dari kematian? Hanya ada satu tim pemburu hantu yang kau butuhkan… Namun Lockwood & Co. kekurangan satu agen—Lucy Carlyle sekarang jadi operatif lepas. Dan mereka kewalahan menangani pekerjaan: tapak-tapak tangan raksasa di jendela, bunyi pisau memotong-motong di dapur berhantu… Belum lagi Bayangan Mengendap—ancaman raksasa yang mengintai pekarangan gereja desa, membangkitkan para hantu dari kubur. Lockwood & Co. sangat membutuhkan bantuan Lucy. Kalau saja mereka mampu membujuknya untuk kembali…

Continue reading “The Creeping Shadow Review”

Posted in Alex Scarrow, Books, Elex Media Komputindo, Fantasy, Science Fiction, TimeRiders

The Mayan Prophecy Review

**spoiler alert**

Blurb:

LIAM O`CONNOR seharusnya meninggal di lautan tahun 1912
MADDY CARTER seharusnya meninggal di pesawat tahun 2010
SAL VIKRAM seharusnya meninggal dalam kebakaran tahun 2026


Tapi mereka bertiga diberi kesempatan kedua—untuk bekerja pada sebuah agensi yang keberadaannya tidak diketahui siapa pun. Tujuannya: mencegah perjalanan waktu menghancurkan sejarah….

Ketika Maddy akhirnya membuka fragmen rahasia yang dimiliki Becks, para TimeRiders mulai mengumpulkan tujuan mereka yang sebenarnya. Mereka berjuang sepanjang waktu untuk menghubungkan tiap petunjuk, lalu mereka menemukan penemuan purbakala dari suku Maya yang memiliki hubungan penting dengan masa lalu dan masa depan.

Namun tidak semua anggota TimeRiders dapat mengatasi penemuan ini. Salah satu dari mereka yang merasa kecewa akan timnya memutuskan untuk meninggalkan tim.

My Review

Jauh lebih seru dari buku ke-7. Menurut saya sih, hahaha. Buku ke-8 ini, awalnya sedih, endingnya nyesak.

Jadi The Mayan Prophecy diawali dengan kisah Waldstein—yang—kalau saya boleh sotoy, inilah alasan kenapa Waldstein kepengin membuat mesin waktu.

Terus, yah, endingnya bikin nyesak. Benar-benar tidak menyangka kalau akhirnya harus seperti itu. *nangis*.

So, daripada jalan-jalan tidak jelas yang berujung bencana seperti yang terjadi di buku sebelumnya, tim kali ini memutuskan untuk melakukan sesuatu yang lebih berguna. Maddy dan Liam berencana untuk memecahkan misteri kenapa Waldstein menyuruh mereka menjaga alur waktu yang jelas-jelas berjalan menuju kehancuran dunia. Tapi, Sal tidak setuju. Sal yakin mereka harus tetap mempercayai Waldstein apapun alasannya.

Tapi pemimpin tim tetap Maddy, lagipula Sal kalah suara. Maka Maddy pun meminta Beck membuka partisi terkunci di otaknya yang kemungkinan berisi petunjuk, tapi sayangnya, Beck tidak bisa. Beck hanya bisa memberi clue samar yang menuntun Maddy untuk kembali meminta bantuan Adam. FYI, Adam ini pernah muncul di buku ke-3, The Doomsday Code. Dia memilik peran penting dalam pemecahan pesan berkode yang sekarang ada di kepala Becks.

Maddy meminta Adam untuk membawa mereka ke gua tempat dimana Adam menemukan simbol kuno yang membuatnya jadi bisa memecahkan pesan berkode itu. Perjalanan itu ternyata tidak mulus. Mereka harus pergi ke Nikaragua ditahun 1994 yang saat itu masih berstatus sebagai daerah konflik. Banyak tragedi yang terjadi sebelum mereka berhasil menemukan gua tersebut.

Namun, pencarian penuh usaha tersebut tidak sepenuhnya penuh derita, *apacoba*, mereka bukan hanya menemukan gua, tapi juga menemukan reruntuhan situs kuno. Sebagai bonus, mereka bahkan menemukan ruangan  yang sepertinya tidak pantas berada di situs kuno tersebut.

Sayangnya, Maddy dan kawan-kawan benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukan. Mungkin hanya Sal, si pengenal pola yang bisa menebak-nebak bagaimana cara mengaktifkan apapun yang ada di dalam ruangan penuh simbol tersebut. Sayangnya, perhatian Sal sepertinya teralihkan oleh sesuatu yang lain.

Nah lo, apa yang harus mereka lakukan? Mereka tidak bisa seenaknya memakai teknik trial dan error karena ini bisa saja mempertaruhkan nyawa mereka sendiri dan juga nyawa orang banyak.

Haduh, membaca buku ini membuat saya gregetan sendiri. Arrrghhhh, kenapa kalian tidak begini saja? Atau kenapa kalian tidak begitu saya? Tuh kan jadinya seperti ini? dst…dst…dst. Tapi yah disitulah serunya, hahhah.

At last, menurut saya, di The Mayan Prophecy, ketegangan ala buku-buku pertama dari seri ini memang masih kurang terasa. Tapi ending nyesek-nya itu mendapat 5 dari 5 bintang dari saya. It was amazing.

***

Judul: The Mayan Prophecy | Pengarang: Alex Scarrow | Series: TimeRiders #8 | Penerbit: Elex Media Komputindo | Edisi: Bahasa Indonesia, 2017, 356 halaman | Penerjemah: Desi Natalia | Status: Koleksi pribadi | Rating saya: 5 dari 5 bintang

***

Review ini diikutkan dalam challenge: