Proyek Cinta Perpustakaan

proyek-cinta-perpustakaan Hai guys \^_^/

Hari ini saya mau cerita nih. Tadi kan saya ke perpustakaan. Lebih tepatnya ke Perpustakaan Daerah Kota Banjarbaru Kalimantan Selatan. Terus…terus…perpustakaan Banjarbaru ternyata dapat tambahan rak baru lengkap dengan beberapa buku baru juga. Duh….senangnyaaaaaa.

Ini nih penampakan rak barunya. Maaf ya fotonya seadanya, soalnya tadi saya sambil malu-malu ngambilnya gara-gara ada beberapa anak SMA yang mungkin ilfil lihat tante-tante alay jeprat-jepret rak perpustakaan :D

rak_baru_perpus_bjb

Lalu, perasaan senang saya tadi, sayangnya cuma sesaat. Tiba-tiba saya ingat kalau saya bakalan tidak bisa rutin lagi berkunjung ke perpustakaan ini. Ya saya bakalan balik ke kampung halaman saya di kota Amuntai (kurang lebih 4 jam perjalanan dari kota Banjarbaru) karena dapat pekerjaan tetap di sana. Paling maksimal saya masih di kota Banjarbaru sampai bulan Juni.

Dan saya jadi galau mendadak. Ini berarti adalah bulan-bulan terakhir saya mengunjungi Perpustakaan Daerah Kota Banjarbaru. Saya lalu bertekad untuk rutin mengunjungi perpustakaan ini setidaknya satu minggu sekali sejak hari ini plus meminjam dan membaca buku-bukunya sebanyak yang saya bisa. *ah masa*.

Maka ide untuk mengadakan Proyek Cinta Perpustakaan ini pun tercetus. *halah*. Proyeknya sederhana saja kok, yaitu membaca buku-buku dari perpustakaan dan menyingkirkan untuk sementara timbunan saya sendiri yang sudah menggunung. :D Meskipun ini proyek pribadi sebagai ungkapan cinta saya kepada perpustakaan *lebay*, tapi teman-teman yang pengen ikut boleh saja kok. Syaratnya mudah saja:

  1. Cukup pinjam dan atau baca buku dari perpustakaan di kota kalian.
  2. Share foto bukunya. Pastikan label buatan perpustakaannya terlihat sebagai bukti kalau buku tersebut memang dipinjam dari perpustakaan  :D
  3. Jangan lupa mention saya dengan hashtag #ProyekCintaPerpustakaan di akun FB: Ira Mustika, atau Twitter: @irabooklover.
  4. Yang mau sekalian me-review bukunya juga boleh. Silakan tinggalkan link review kalian di kolom komentar di post review buku perpustakaan saya yang mana saja selama tahun 2015. Reviewnya boleh di akun media sosial mana saja selama memungkinkan. Ga harus di blog kok.
  5. Proyek ini berlangsung dari tanggal 19 Januari – 31 Desember 2015. Diakhir periode saya akan membuat Wrap Up Post sekalian menghitung seberapa banyak buku yang sudah saya pinjam dari perpustakaan. Silakan laporkan hasil kalian juga di kolom komentar Wrap Up post saya nanti.
  6. Oh ya jangan lupa pasang button Proyek Cinta Perpustakaan di bawah di sidebar blog dan di setiap post review kalian bagi yang membuat review-nya di blog.

proyek-cinta-perpustakaanNah teman-teman ayo ikut ramaikan proyek ini dan tunjukkan cintamu kepada perpustakaan dengan membaca buku-bukunya \^_^/

The Son of Neptune (Reread) Review

 photo the_son_of_neptune_by_rick_riordan_uploaded_by_irabooklover_zpsdhgkvrqu.jpg

***

Setelah diajak kembali ke Perkemahan Blasteran lewat The Lost Hero, mengira bakalan ketemu pahlawan favorit tapi ternyata malah ketemu pahlawan baru bernama Jason alih-alih Percy, well, sebenarnya tidak apa-apa sih mengingat Jason juga cakep, *eh*.  Tapi tetap saja, Percy dan Jason kan beda. Jason terkesan lebih serius dan Percy itu … errr … apa adanya dan lucu. Setiap nama Percy disebut di The Lost Hero, saya jadi kangen sama Percy, *halah*. Hei tapi rasa kangen saya terbayar tuntas dengan buku kedua ini. Tuh, judulnya aja The Son of Neptune. Jadi kita bakalan ketemu Percy lagi nih. Ahahaha.

Sama seperti Jason, Percy juga dibuat amnesia. Eh tapi selain namanya sendiri, Percy hanya ingat satu nama lain, yaitu Annabeth. Huaaahhh… menurut saya ini manis sekali.

Sama seperti Jason juga, Percy harus berjuang melawan para monster sebelum menemukan perkemahan yang membuatnya aman. Tapi karena Percy tersesat di sebuah area yang katakanlah lebih kejam sedikit dibandingkan Perkemahan Blasteran, Percy harus pontang-panting dulu seperti gembel yang dikejar-kejar monster.

Di sini, Percy menemukan keluarga baru meskipun pada awalnya mereka sama sekali tidak ramah. Dan memang sifat pahlawannya Percy itu selalu melindungi yang lemah kali yak sehingga dia lagi-lagi ditempatkan di sebuah kelompok yang dianggap pecundang dan mendapatkan dua teman baru bernama Hazel dan Frank yang juga dianggap payah.

Eh tapi lagi-lagi Percy mengajarkan kalau meremehkan orang itu bukan sifat yang baik. Percy percaya kalau Hazel dan Frank itu hebat. Mereka tergabung dalam sebuah misi dan Frank-lah yang jadi pemimpin. Satu lagi sifat baik Percy, walaupun dia kelihatannya adalah seorang demigod yang hebat dan berpengalaman, tapi dia sama sekali tidak mengklaim tampuk kepemimpinan dan tetap rendah diri. Bravo Percy.

Ngomong-ngomong ada yang membuat saya sedikit bingung di sini. Bukannya Raksasa itu hanya bisa dibunuh oleh Dewa dan demigod bersama-sama? Tapi kok Raksasa yang di Alaska bisa dibunuh tanpa bantuan Dewa? Atau Dewa yang terantai itu sebenarnya sudah membantu yak?

Whatever deh. At last, saking serunya saya sampai sengaja melambat-lambatkan membaca. Rasanya pengen lama-lama gimana gitu dalam petualangan Frank, Percy dan Hazel. So, tetap 5 dari 5 bintang lagi untuk The Son of Neptune. Love it.

NB:  Quote Favorit — Tanggung jawab. Pengorbanan. Itulah hal-hal yang sungguh bermakna. —hal 471

***

Judul: The Son of Neptune | Seri: The Heroes of Olympus #2 | Pengarang: Rick Riordan | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan II, Agustus 2012 | Penerbit: Mizan Fantasi | Penerjemah: Reni Indardini | Jumlah halaman: 547 halaman | Status: Owned book (Mizan Online Agustus 2012) | Rating saya: 5 dari 5 bintang

***

Review ini diikutkan dalam event Lucky No. 15 RC Category Dream Destination

lucky-no15

The Lost Hero (Reread) Review

 photo the_lost_hero_by_rick_riordan_uploaded_by_irabooklover_zpsto3zadj3.jpg

***

Oh sudahlah. Saya sudah terlanjur suka dengan Percy. Jadi abaikan saja kalau saya lagi-lagi bilang “hei buku ini seru banget lo” entah untuk yang keberapa kalinya. Eh apa saya tadi bilang Percy? Oh ya maaf, saya sedikit … eh … keseleo. Sekarang saya sedang membaca buku pertama dari seri The Heroes of Olympus. Dengan ramalan mematikan yang baru, pahlawan baru, dan juga satir baru :D

Oh ya tapi jangan khawatir, kita bakalan masih berada di Perkemahan Blasteran. Senang rasanya bisa kembali ke sana. Dan tentu saja banyak terima kasih kepada Oracle baru kita, yang pada buku The Last Olympian kemarin merapalkan ramalan pertamanya yang cukup mengerikan. Yeah, itu berarti ada misi baru lagi untuk para demigod. Walaupun Apollo bilang ramalan itu bisa terjadi bertahun-tahun lagi, tapi toh Apollo juga bisa salah.

Petualangan demigod baru ini dimulai dengan sedikit mengkhawatirkan. Pahlawan kita, Jason, terbangun di sebuah bis tanpa bisa mengingat apa-apa. Anehnya, teman-temannya, Piper dan Leo, merasa kalau mereka sudah lama mengenal Jason. Di tengah perjalanan mereka diserang roh badai. Dan setelah dijemput dan sampai ke perkemahan, mereka langsung diberikan misi untuk menyelamatkan Dewi Hera yang diculik.

Kejutan yang sangat menyenangkan ya untuk ketiga demigod baru ini. Bagaimana caranya mereka menghadapi seseorang atau sesuatu yang dapat mengurung Dewi sehebat Hera. Mereka benar-benar bingung dan sempat merasakan kepercayaan diri mereka menurun drastis. Tapi seiring waktu, mereka menemukan kalau mereka tidaklah sepayah kelihatannya. Mereka ternyata adalah 3 dari 7 demigod terhebat yang terpilih dalam ramalan Oracle walaupun nasib mereka sepertinya sedang dipermainkan oleh para Dewa-Dewi. Oowh … dan yang saya rasa paling menarik di sini adalah munculnya kebudayaan Romawi secara sepotong-potong yang keluar dari ingatan Jason. Cukup sukses membuat saya enggan menutup buku ini sebelum selesai.

Ngomong-ngomong, saya ingat dulu waktu pertama kali membaca The Last Hero. Setelah galau karena seri PJO sudah tamat, tiba-tiba kita diajak kembali ke perkemahan blasteran, atau yang lebih tepatnya ke perkemahan blasteran yang tanpa Percy. Hahhah, membuat tambah galau saja. Dan ending-nya waktu itu “omaigad” banget dah. Bahkan saat sudah saya reread pun cliff-hanger-nya masih terasa. Belum lagi diakhir halaman ada bocoran judul buku seri keduanya. Haduh, bikin frustasi saja. Saya sarankan sih bagi yang belum pernah membaca seri The Heroes of Olympus dan masih suci dari spoiler, sebaiknya sediakan buku keduanya langsung disamping Anda sebelum selesai membaca buku pertama :D

At last, dulu saya merasa sedikit tidak nyaman dengan pembagian sudut pandang antara Jason, Piper, dan Leo. Eh apa ya kalau istilah saya sih kekerenan mereka jadi kurang terasa karena terbagi-bagi :D. Tapi sekarang rasanya sama sekali tidak masalah. So, tetap 5 dari 5 bintang untuk The Lost Hero. Kalau bisa saya kasih sepuluh mah saya kasih sepuluh aj nih buku. Salah satu buku favorit saya sepanjang masa lah pokoknya. Love it.

***

Judul: The Lost Hero | Seri: The Heroes of Olympus #1 | Pengarang: Rick Riordan | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan I, Januari 2012 | Penerbit: Mizan Fantasi | Penerjemah: Reni Indardini | Jumlah halaman: 586 halaman | Status: Owned book (Mizan Book Fair Banjarbaru 2012) | Rating saya: 5 dari 5 bintang

***

Review ini diikutkan dalam event Lucky No. 15 RC Category Dream Destination

lucky-no15

The Last Olympian (Reread) Review

 photo the_last_olympian_by_rick_riordan_uploaded_by_irabooklover_zpsxfoguuty.jpg

***

Sudah dibaca ulang dan Percy tetap saja bisa membuat saya … kasmaran … *heyaaaaahh*.

Yah, tidak mengherankan sih, soalnya PJO kan ceritanya memang bagus banget dan lagipula saya sudah membaca lima buku PJO secara berturut-turut, enam deh kalau dihitung sama companion-nya. Wajar lah kalau buku kelima ini membuat saya galau tingkat dewa. *lebay*.

Eh tapi mungkin saya seharusnya tidak memuji PJO secara berlebihan seperti ini yak, soalnya saya kenal beberapa orang yang malah tidak mau baca buku bagus karena buku tersebut dipuji secara berlebihan. Mereka takut kalau mereka membaca, bukunya ternyata dibawah ekspetasi mereka atau semacam itu lah.

Tapi maaf sekali saya tidak bisa tidak memuji PJO secara berlebihan. *sungkem*. Yah mau bagaimana lagi ceritanya memang bagus dan berhasil membuat saya galau. Saya dulu bahkan tidak berani membaca dua buku terakhir dari seri The Heros of Olympus saat sedang hangat-hangatnya karena takut berpisah dengan Percy. *heyaaah, lebay lagi*.

Oke kembali ke The Last Olympian. Haduh gimana menceritakannya ya? Pokoknya seru sekali. Pertempuran yang diramalkan dalam ramalan besar mulai terjadi. Diawal-awal kita bahkan sudah kehilangan seorang pahlawan hebat yang membuat nelangsa.

Pertempuran demi pertempuran terus terjadi. Cara Percy memimpin pertarungan melawan prajurit Titan itu loh, haduh, membuat jantung berdebar-debar. Dan ditengah itu semua, kisah Percy dan Annabeth … errr … terasa manis … *wink*.

Ngomong-ngomong, saya sangat suka dengan kesan yang saya anggap … eh … pesan yang saya dapat dari buku ini. Tepatnya seperti yang dikatakan oleh Dewi Hestia berikut:

“Tidak semua kekuatan spektakuler.” Hestia memandangku. “Terkadang kekuatan yang paling sulit dikuasai adalah kekuatan untuk menyerah. Apa kau percaya padaku?”

—hal 119 

Setelah membaca kisah Percy, yah saya tentu saja percaya. Tapi untuk diri saya sendiri, nah, sepertinya banyak yang perlu saya renungkan dari kata-kata Sang Dewi tersebut. Saking banyaknya, saya bingung mau menuliskan apa. Jadi saya simpan untuk diri saya sendiri saja deh, hahhahh. *ga penting*.

Ngomong-ngomong lagi, saat sedang asik-asiknya membaca, saya baru ingat kalau ada beberapa halaman di buku ini yang urutannya terbalik. Sedikit mengganggu sih. Tapi ya sudahlah.

Somehow, membaca buku kelima ini membuat saya ingin jadi demigod lebih dari sebelumnya. Dan entahlah, mungkin Mr. Riordan juga tahu kalau bukunya menimbulkan efek seperti itu sehingga di ucapan terima kasih, dia mengatakan seperti ini

… dan tentu saja para pembacaku—tidak ada penulis yang bisa meminta sekelompok penggemar yang lebih berdedikasi dan lebih antusias dibanding kalian. Kalian semua mendapat tempat di Perkemahan Blasteran!

Nah, tuh, pas sekali. Saya speechless deh. Whoooaa…banyak terima kasih Mr. Riordan. *sungkem cium tangan nangis sesenggukan*.

At last, sampai setelah saya selesai membaca The Last Olympian (btw, saya rela bergadang untuk menamatkannya) saya masih membolak-balik bukunya, rasanya sayang sekali mengembalikan buku ini ke rak. Pokoknya seru sekali deh. 5 dari 5 bintang untuk The Last Olympian, ya, saya lebih dari sekedar sangat suka dengan buku terakhir dari seri PJO ini. Full rated.

***

Judul: The Last Olympian – Dewi Olympia Terakhir | Seri: Percy Jackson and The Olympians #5 | Pengarang: Rick Riordan | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan III, Juli 2010 | Penerbit: Mizan Fantasi | Penerjemah: Reni Indardini | Jumlah halaman: 452 halaman | Status: Owned book (Mizan Book Fair 2011) | Rating saya: 5 dari 5 bintang

***

Review ini diikutkan dalam event Lucky No. 15 RC Category Dream Destination

lucky-no15

The Demigod Files Review

 photo the_demigod_files_zpsb97nryzf.jpg

***

Di Indonesia, The Demigod Files terbit lebih telat daripada The Demigod Diaries. Yah, just FYI, buku dengan cover unik ini ternyata versi aslinya terbit lebih dulu daripada sesama companion book-nya tersebut. The Demigod Files adalah companion book dari seri Percy Jakcson and The Olympians, sedangkan The Demigod Diaries adalah companion book dari seri The Heroes of Olympus.

Untunglah setelah membaca buku keempat PJO, saya berkunjung sebentar ke websitenya Rick Riordan dan menemukan info lengkap mengenai klasifikasi buku-buku Percy dan menemukan kalau The Demigod Files sepertinya ber-setting di antara buku ke-empat dan ke-lima seri PJO. Sebelumnya saya berencana membaca The Demigod Files setelah The House of Hades gara-gara The Staff of Serapis yang seingat saya terbit sebelum The Blood of Olympus.

The Demigod Files sendiri berisi sebuah surat dari perkemahan blasteran, 3 cerita petualangan Percy, 5 wawancara dengan penghuni perkemahan blasteran dan bonus cerita Tongkat Serapis yang merupakan kisah persilangan antara Sadie Kane dan Annabeth.

Salah satu cerita petualangan Percy adalah tentang Naga Perunggu. Nah, saya pernah menyinggung-nyinggung soal siapa yang menjaga batas perkemahan sebelum ada pohon Thalia. Meskipun sekilas saya berhasil menemukan jawabannya di buku The Titan’s Curse, tapi ternyata jawabannya lebih jelas ada di cerita ini.

At last, saya tidak tahu mau menulis apa lagi tentang companion book ini. Lumayan seru. Asalkan ada Percy sih saya pasti bakalan bilang suka :D.  So, 4 dari 5 bintang deh. I really liked it.

***

Judul: The Demigod Files | Seri: Percy Jackson and The Olympians Companion Book | Pengarang: Rick Riordan | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan II, Juli 2014 | Penerjemah: Nur Cholis | Jumlah halaman: 272 halaman | Status: Owned book (Banjarbaru Book Fair 2015) | Rating saya: 4 dari 5 bintang

The Battle of The Labyrinth (Reread) Review

 photo the_battle_of_the_labyrinth_by_rick_riordan_uploaded_by_irabooklover_zpsacviaz2s.jpg

***

Annabeth memimpin misi untuk memasuki labirin penuh monster. Bersama Percy, Grover dan Tyson, Annabeth harus menemukan si pembuat labirin, seorang demigod bernama Daedalus putra Athena. Mereka harus berlomba dengan Luke karena Luke juga mengincar Daedalus untuk kepentingan para Titan.

Annabeth yakin dia bisa memecahkan kerumitan labirin buatan Daedalus. Tapi seperti yang sudah disebutkan dalam The Sea of Monster, itulah kelemahan terbesar Annabeth. Dan kali ini, Annabeth lagi-lagi harus menekan egonya untuk meminta bantuan dari seseorang yang bisa disebut sebagai saingan Annabeth dalam masalah cewek.

Percy, seperti biasa, tetap keren dan lagi-lagi berusaha menyelamatkan orang-orang yang disayanginya tanpa memperdulikan nyawanya sendiri. Dan disini, Grover tiba-tiba pingsan karena merasakan kehadiran Dewa yang selama ini dicari-cari para Satyr. Sementara Tyson juga menemukan saudara lama yang menjadi idola para Cyclops.

Tapi keberadaan labirin benar-benar membuat perkemahan blasteran terancam. Para pekemah harus bertarung habis-habisan untuk mempertahankan rumah mereka. Dan pertarungan berakhir dengan … eh … sangat mengesankan dan tidak terduga.

***

Haduh ae serunya. Percy keren sekali di sini. Nico juga.

Pilihan yang diambil para pahlawan-pahlawan kita di sini sangat keren. Saya sangat terkesan. Kelihatannya sulit untuk bisa menekan ego seperti Annabeth, memaafkan seperti Nico, melepaskan karya berharga seperti Daedalus, menekan ketakutan seperti Briares, menerima yang tak terelakkan seperti Grover dan … eh …  menerima perlakuan buruk dengan tabah seperti Hephaestus.

At last, saya rasa buku ini jauh lebih seru daripada tiga buku sebelumnya. Dan yang paling saya suka dari The Battle of The Labyrinth adalah sifat-sifat pahlawan yang ditunjukkan dengan keren oleh tokoh-tokoh keren kita di dalam buku ini. Karena terlalu banyak kerennya, jadi yah seperti biasa. 5 dari 5 bintang untuk The Battle of The Labyrinth. Lagi.

***

Judul: The Battle of The Labyrinth – Pertempuran Labirin | Seri: Percy Jackson and The Olympians #4 | Pengarang: Rick Riordan | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan I, September 2009 | Penerbit: Mizan Fantasi | Penerjemah: Nuraini Mastura | Jumlah halaman: 445 halaman | Status: Owned book (Gramedia Veteran Banjarmasin 2011) | Rating saya: 5 dari 5 bintang

***

Review ini diikutkan dalam event Lucky No. 15 RC Category Dream Destination

lucky-no15

The Titan’s Curse (Reread) Review

 photo the_titans_curse_zps7teafe5n.jpg

***

Tahun ini, Percy mendapat teman blasteran baru. Selain Thalia, ada, Bianca dan Nico di Angelo. Dua bersaudara ini ditemukan oleh Grover di sebuah sekolah militer. Sayangnya, misi penjemputan dua blasteran baru ini harus terhalang oleh sesosok monster tangguh. Si monster memang berhasil dikalahkan, tapi harganya sangat mahal.

Tahun ini, perkemahan blasteran juga mendapat tamu, para gadis-gadis tangguh disebut sebagai pemburu Artemis. Bianca, bergabung dengan kelompok pemburu yang sementara ini dipimpin oleh Zoe karena Artemis sedang melacak jejak monster tua yang katanya dapat menggulingkan kekuasaan Olympus. Zoe sendiri adalah gadis angkuh dengan gaya bicara yang kuno dan selalu perang mulut dengan Thalia.

Tahun ini, misi Percy sepertinya semakin berbahaya. Setelah tahun lalu mempertaruhkan nyawa di Laut Monster, Percy sekarang harus menjalankan misi untuk menyelamatkan Dewi Artemis yang diculik. Yah Sang Dewi diculik dalam perjalanannya mencari si monster. Nah lo, bagaimana caranya mengalahkan seseorang atau sesuatu yang dapat menculik seorang Dewi.

Tahun ini, pemburu dan blasteran pun bersatu untuk mencari Sang Dewi. Tapi ramalan Oracle yang disampaikan dengan cara tidak biasa terdengar mengerikan. Oracle bilang dari lima yang berangkat, satu akan menghilang di dataran tanpa hujan dan seorang lagi akan binasa di tangan salah satu orang tuanya.

Berita buruknya tidak hanya sampai disitu, tapi para pengemban misi kali ini harus menyelamatkan Artemis sebelum titik balik musim dingin. Itu artinya waktu mereka hanya tinggal beberapa hari lagi. Kalau tidak, ada sesuatu yang buruk yang akan terjadi di Olympus.

***

Kemarin setelah membaca The Sea of Monster, saya masih bingung tentang siapa yang menjaga perbatasan perkemahan sebelum ada pohon Thalia. Ternyata jawabannya ada di buku ini. Saya hampir lupa kalau diperkemahan ada Pak D. Ternyata tidak seorang pun yang bisa masuk atau keluar perkemahan tanpa izin dari Pak D.

Yah satu pertanyaan terjawab tapi ada pertanyaan lain yang muncul. Ini soal codet di muka Luke. Di halaman 103, Percy mengatakan kalau codet itu gara-gara cakaran beruang. Sedangkan di halaman 169, codet Luke dibilang gara-gara cakaran naga. Nah, Luke, sebenarnya siapa sih yang membuat wajah gantengmu itu jadi bercodet? *pertanyaan yang ga penting*

Kemarin, setelah membaca The Sea of Monster, saya juga bertanya-tanya apa kekurangan yang dimiliki oleh Percy. Nah, jawabannya ada di sini ternyata. Ingatan saya ternyata sudah mulai berkurang. Saya bahkan lupa apa kutukan yang dimiliki bangsa Titan. Padahal si orang Titan yang menanggung kutukan ini lumayan terkenal.

Ngomong-ngomong, ending The Titan’s Curse ini membuat saya cukup bersimpati dengan apa yang terjadi dengan Thalia, Zoe dan Nico. Kalau dari review pendek penuh spoiler yang saya tulis waktu pertama kali membaca buku ini, saya menuliskan sesuatu tentang hubungan keluarga dan sahabat yang rapuh. Juga tentang sesuatu yang sepertinya dianggap remeh tapi ternyata bisa menjadi sumber malapetaka yang besar.

At last, 5 dari 5 bintang lagi untuk The Titan’s Curse. Sekarang lanjut mau baca The Battle of The Labyrinth dulu. See yaa \^_^/

***

Judul: The Titan’s Curse – Kutukan Bangsa Titan | Seri: Percy Jackson and The Olympians #3 | Pengarang: Rick Riordan | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan V, Juli 2010 | Penerjemah: Nuraini Mastura | Jumlah halaman: 398 halaman | Status: Owned book (Mizan Book Fair Banjarbaru 2011) | Rating saya: 5 dari 5 bintang

***

Review ini diikutkan dalam event Lucky No. 15 RC Category Dream Destination

lucky-no15

Sang Nyai 1 Review

 photo sang_nyai_1_by_budi_sardjono_uploaded_by_irabooklover_zpsrddnluti.jpg

***

Sam, seorang wartawan majalah dari Jakarta, mendapat tugas untuk membuat tulisan tentang Nyai Roro Kidul. Jadilah Sam pergi ke Yogyakarta dan mengunjungi tempat-tempat —yang menurut cerita, sering dikunjungi oleh Sang Nyai. Salah satunya adalah Pantai Parangkusumo di malam jumat kliwon.

Di sana, Sam tiba-tiba bertemu dengan seorang gadis cantik bernama Kesi. Bukan hanya di sana, sepertinya Sam selalu bertemu Kesi di tempat-tempat yang konon katanya adalah tempat-tempat yang diperuntukkan khusus untuk Nyai Roro Kidul.

Sam bisa dikatakan sangat beruntung, petualangan Sam untuk menguak sosok Nyai Roro Kidul memberikan sebuah petualangan mistis yang dibumbui dengan hal-hal yang membuat banyak para lelaki iri. Sam tiba-tiba bisa “kencan” dengan gadis secantik Kesi. Sam tiba-tiba bisa “menginap” 7 hari 7 malam dengan seorang janda cantik bernama Nyai Mundingsari yang mempunyai banyak informasi mengenai sosok Nyai Roro Kidul.

Di rumah Nyai Mundingsari inilah Sam menemukan 7 buah lukisan Nyai Roro Kidul. Ketujuh lukisan itu sangat berbeda dengan lukisan-lukisan yang menggambarkan Nyai Roro Kidul pada umumnya. Konon lukisan-lukisan tersebut datang sendiri ke rumah Nyai Mundingsari. Kalau terjadi sesuatu yang buruk pada lukisan tersebut, Nyai Mundingsari yakin kalau itu adalah pertanda kalau Nyai Roro Kidul sedang marah.

Di bawah lukisan-lukisan itu pulalah Sam melakukan meditasi dan berhasil mendapatkan daya gaib. Tapi, alih-alih berhasil menguak sosok Sang Nyai, pengalaman-pengalaman gaib yang dialami oleh Sam malah membuatnya semakin bingung. Tampaknya Sang Nyai menginginkan sosoknya tetap menjadi misteri.

***

Saya tinggal jauh dari pulau Jawa, oleh karenanya pengetahuan saya tentang Nyai Roro Kidul hanyalah sebatas kalau dia adalah Ratu cantik penguasa laut selatan. Di tempat saya Nyai Roro Kidul lebih sering dikenal dengan Ratu Laut Selatan. Dan kalau pergi ke pantai laut selatan jangan berani-berani pakai baju hijau, nanti kita bisa hilang di laut, diculik sama Ratu Laut Selatan. Yah cuma itu >.<

So, hampir semua isi buku ini merupakan pengetahuan baru bagi saya. Entah yang mana yang fakta dan yang mana cuma imajinasi pengarang saya tidak tahu dan itu cukup membuat saya penasaran.

Saya baru tahu kalau Laut Selatan, Keraton Yogyakarta, dan Gunung Merapi saling berhubungan. Saya juga baru tahu kalau Petruk yang saya kenal dari wayang itu adalah penjaga kawah Merapi. Menurut buku ini, Kang Petruk bersahabat dengan Nyai Roro Kidul. Yah jadi di buku ini selain kisah tentang laut selatan, juga diceritakan tentang Gunung Merapi.

Ngomong-ngomong soal Merapi, saya juga baru tahu kalau ternyata ada penduduk biasa disekitar Merapi yang menolak untuk mengungsi saat Merapi meletus. Kepercayaan mereka kalau mereka terlindungi padahal daerah yang mereka tinggali kemungkinan besar terkena dampak terburuk letusan benar-benar membuat saya heran. Apakah ini fakta atau cuma cerita dibuku saya tidak tahu juga. Tapi saya jadi teringat dulu waktu Merapi meletus, teman saya yang waktu itu kuliah di Yogya langsung disuruh pulang. Saya masih ingat betapa takutnya dia padahal dia bilang kampusnya hanya kena dampak hujan abu saja dari letusan Merapi.

Meskipun ini kisah mistis tentang Nyai Roro Kidul, tapi saya rasa buku ini lebih banyak menceritakan tentang problem sosial sebagai dampak dari misteriusnya keberadaan Sang Nyai. Salah satunya adalah tentang menjamurnya tempat-tempat lokalisasi murah disekitar tempat ziarah. Juga kepercayaan mutlak para peziarah akan betapa hebatnya benda-benda yang ada hubungannya dengan Sang Nyai sehingga rela memperebutkannya tanpa menghiraukan keselamatan diri sendiri. Nah kan kalau terjadi bencana jadinya Sang Nyai yang disalahkan. Kalau saya yang jadi Nyai sih saya akan tersinggung. *sotoy mode on*

Oh ya selain ada yang percaya mutlak, ada juga salah satu tokoh di buku ini yang sama sekali tidak percaya dengan keberadaan Sang Nyai. Well, saya suka bagian ini. Tapi yang jadi bagian favorit saya adalah saat Sam dan temannya, Sugeng, menciptakan tokoh sakti bernama Syekh Tunggul Wulung. Tokoh ini benar-benar ciptaan mereka berdua tapi mereka bisa membuat masyarakat percaya kalau tokoh sakti itu memang benar ada. Tentang kenapa Sam dan Sugeng menciptakan tokoh ini silakan baca sendiri bukunya :D . Keberadaan tokoh Syekh Tunggul Wulung ini saya rasa merupakan contoh yang bagus untuk mendukung teori orang-orang yang tidak percaya tentang keberadaan Nyai Roro Kidul. *sotoy part 2*.

Eh tapi ada beberapa hal yang sedikit mengganggu saya. Saya heran ini Sam istimewanya apa yak sampai Kesi dan Nyai Mundingsari yang terkenal susah didekati para pria itu jadi sampai “takluk”. Hal ini sedikit … eh maaf … menurunkan rasa hormat saya kepada “sosok yang dicurigai sebagai” Kesi ini. *sungkem*.  Dan kenapa Sam bisa memperoleh hak istimewa untuk mengunjungi tempat-tempat dan tokoh-tokoh mistis yang bahkan kadang seorang juru kunci pun tidak bisa mendapatkannya. Hmm, saya rasa Sam harus lebih banyak menonjolkan keistimewaannya.

Saya sepertinya juga kena … errr … plot holes waktu Sam bertamu ke rumah Kang Petruk. Kalau tidak salah Sam bertamu kesana karena ingin bertanya tentang sosok Nyai Roro Kidul. Tapi alih-alih mendapatkan informasi tentang Sang Nyai, Sam malah mendapatkan informasi mengenai “pekerjaan” Kang Petruk.

Ngomong-ngomong “pekerjaan” Kang Petruk ini adalah salah satu hal yang masih menempel di otak saya setelah selesai membaca buku ini. Manusia-manusia yang menurut Sam dijadikan “bahan baku” itu membuat saya merinding. Mirip dengan kisah lokal di daerah saya sini. Tentang makhluk gaib yang bisa menculik manusia untuk dijadikan budak dan selamanya tidak bisa kembali ke dunia nyata.

At last, saya cukup menikmati buku ini dan banyak pengetahuan baru yang saya dapat. Saya jadi ingin mengunjungi Pantai Laut Selatan, Keraton, dan … eh … mungkin juga Gunung Merapi kalau saya sudah tidak terlalu takut lagi dengan Kang Petruk. Oh ya, saya jadi ingin membaca Sang Nyai 2. Menurut sinopsis yang saya baca di Goodreads, ceritanya tentang Nyai Roro Jonggrang ya. Saya harap ada Nyai-Nyai lain lagi yang diceritakan supaya saya lebih mengenal Nyai-Nyai hebat yang ada di pulau Jawa.

So, 3 dari 5 bintang untuk Sang Nyai 1. I liked it.

***

Judul: Sang Nyai 1: Malam-Malam Mistis dan Kisah 7 Lukisan | Seri: Sang Nyai #1 | Pengarang: Budi Sardjono | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan I, Mei 2015 | Penerbit: Diva Press | Tebal: 324 halaman | Status: Owned Book (Buntelan BBI) | Rating saya: 3 dari 5 bintang

***

Review ini diikutkan dalam event New Authors RC 2015, dan Lucky No. 15 RC Category Dream Destination

narc2015

lucky-no15