Featured
Posted in Non Review

Proyek Baca Buku Perpustakaan 2017: Master Post

 

logo_bacabukuperpus

Whoaaa, maaf, master post Proyek Baca Perpustakaan 2017 baru bisa dipublish hari ini. Sudah lewat dari waktu “besok atau lusa” seperti yang saya janjikan di post pengumuman kemarin ya, hahhah.

Oke, mari kita lanjutkan Proyek Baca Buku Perpustakaannya. Masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya, proyek ini diadakan karena perpustakaan-lah pusat buku terbesar di kota kecil saya. Tahun ini kami masih belum punya toko buku besar. Kalau ingin membaca buku novel yang update-an dikit, masih harus pergi ke Banjarmasin atau beli di toko buku online.

Continue reading “Proyek Baca Buku Perpustakaan 2017: Master Post”

Posted in Family, Noura Books, Rizka Amalia, Romance

Mooncake Review

***

Hmmm…kisah tentang seorang anak yang merasa tidak disayang oleh orang tuanya. Oke lah, sebelum saya cuap-cuap panjang lebar, sila dibaca dulu blurbnya.

Blurb:

“Tidak semua orang mampu menyatakan cinta dengan perhatian, An.”

An selalu terganggu dengan sikap ayahnya yang seolah membencinya. Apa gara-gara An disleksia? Sampai kapan kebencian itu akan bertahan?

Padahal sebentar lagi adalah hari ulang tahunnya. An berencana merayakannya di Kuala Lumpur, saat festival kue bulan berlangsung. Rasanya itu adalah waktu yang sempurna untuk memohon keajaiban, mendapatkan keutuhan. Utuh seperti kue bulan yang bulat. Seperti rasanya yang manis. Meskipun An tahu dia hanya punya sedikit waktu … ¬†sebelum Putri Bulan dan bulan purnama tak terlihat lagi, selama lampion harapan masih melayang di langit berbintang.

My Review:

Saya setuju sekali dengan kutipan yang ada di blurb di atas. Tidak semua orang mampu menyatakan cinta dengan perhatian. Setelah membaca bukunya, saya berhasil menemukan kutipan ini di halaman 215. Kalimat lengkapnya ternyata seperti ini:

“Enggak semua orang bisa menyatakan cinta dengan perhatian dan memanjakan kita, An.”

(Mooncake, hlm. 215)

Sekali lagi saya setuju. Lebih karena saya juga bukan orang yang bisa menyatakan cinta dengan perhatian dan memanjakan orang yang saya sayangi, huehehehe.

Tapi meskipun saya tidak bisa, apakah itu berarti saya tidak menyanyangi mereka? Tidak. Saya amat sangat menyayangi mereka. I love you full lah bahasa kerennya. Dan untunglah kami semua sekeluarga sepemikiran (kecuali satu orang sebetulnya, ehm). Menurut kami, perhatian dan dimanja itu menjadikan cinta itu menjadi terkesan dibuat-dibuat. Kami masih punya cara lain untuk menyatakan cinta.

Tapi itu menurut kami lo yah, satu orang pengecualian yang saya sebut tadi jelas tidak berpikiran seperti itu. Begitu juga dengan jutaan orang lainnya yang ada di luar sana. Jadi intinya, yaaa, bisa-bisa kita saja lah memahaminya. Kita tidak bisa mengharuskan seseorang untuk menyatakan cinta sesuai dengan aturan yang kita buat kan? Meskipun orang itu adalah keluarga kita sendiri.

So, ide cerita Mooncake ini keren kalau menurut saya. Apalagi ditambah dengan latar belakang festival kue bulannya. Bisa menambah pengetahuan. Hanya saja saya … errr … merasa kurang seru membacanya. Karena alasan apa saya juga kurang tahu. Pokoknya kurang seru aja gitu, hahhah, *kena keplak*.

Lucunya, saya jadi mengkhayal bagaimana kalau orang tua saya menyatakan cinta menurut apa yang An tuntut kepada ayahnya. Saya pasti bakalan bengong dan berkata, “Kalian siapa? Tolong kembalikan orang tua saya yang asli”, wkwkwk.

Sikap kedua orang tua saya dalam menyatakan kasih sayang kepada anak-anaknya sangat berbeda dengan definisi An. Saya rasa kalau An yang jadi anak mereka, An juga akan merasa tidak disayang. Tapi saya dan saudara-saudara saya tahu kalau orang tua kami sangat menyayangi kami. Kami tidak butuh orang tua kami membangga-banggakan kami di depan orang lain. Kalau ortu kami melakukan itu, kami malah menganggap ortu kami sombong dan tidak memikirkan perasaan ortu orang lain. Kami juga tidak marah kalau ortu kami membanding-bandingkan kami dengan anak orang lain, kami malah menganggap itu sebagai tantangan untuk bisa meraih prestasi yang setara atau malah lebih daripada anak tetangga supaya ortu senang dan kehabisan bahan perbandingan, huehehehe.

Saya juga teringat saat saya nge-kost di luar kota waktu kuliah dulu. Ibu teman kamar sebelah selalu datang mengunjungi anaknya setidaknya satu bulan sekali. Dan setiap kami bertegur sapa, si ibu selalu mencari ibu saya dan menanyakan kapan ibu saya juga menjenguk saya. Saya cuma bisa jawab, mungkin sebentar lagi, hahhah. Padahal sebenarnya, ibu saya tidak pernah menjenguk saya.

Nah, kalau saya jadi An, saya pasti bakalan ngambek sama ibu saya, minta dijenguk juga. Tapi saya berpikirnya kasihan ibu capek harus bolak-balik naik angkutan umum selama kurang lebih 4 jam. Saya baik-baik saja di sana dan tidak menuntut perhatian berlebih dari ibu dalam bentuk kunjungan rutin. Saya bahkan bangga, kalau ibu jarang datang menjenguk, itu artinya ibu percaya kalau saya bisa menjaga diri dengan baik di kota orang.

Tapi ya kembali lagi sih, setiap orang beda-beda. Nggak ada yang salah. Meskipun saya kuatir kalau ibu capek, saya juga pasti bakalan senang kalau misalnya ibu rutin datang menjenguk.

Dan kenapa saya malah jadi curcol yak, hohoho.

Oh ya, ilustasinya keren. Dan di bab-bab terakhir, ilustrasinya berwarna. Cantik sekali.

Ngomong-ngomong, Mooncake adalah salah satu buku dari seri Festival. Buku-buku yang tergabung di dalam Festival series juga diperkenalkan di halaman-halaman terakhir dari buku ini. Jadi penasaran pengen baca mereka semua.

At last, meskipun tadi saya merasanya kisah An kurang seru. Tapi saya suka dengan efek merenung yang berhasil ditimbulkan oleh kisah ini kepada saya. So, 3 dari 5 bintang ya, I liked it.

***

Judul: Mooncake | Seri: Festival | Pengarang: Rizka Amalia | Penerbit: Noura Books | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan I, September 2014, 243 halaman | Rating saya: 3 dari 5 bintang

Posted in Hartoyo Andangjaya, Narasi, Puisi

Kasidah Cinta Review

***

Blurb:

Keharuan yang mendalam karena pengalaman bergaul dengan si darwis pengembara Syam al Din mengubah Rumi dari awalnya seorang alim yang tenang menjadi penuh haru gembira, yang sama sekali tak dapat menahan arus puisi yang berlimpahan mengalir darinya. Untuk melambangkan pencarian Kekasih yang hilang, yang kini diidentifikasikan dengan Syams al Din yang telah pergi itu, konon Rumi menciptakan suatu tarian suci dengan berpusar-pusar melingkar, yang dilakukan oleh para darwis, diiringi bunyi seruling yang meratap dan tingkahan genderang yang berderam. Maka malam pun berganti pagi dalam orgia mistik yang berlangsung lama, sementara Rumi, di bawah pengaruh suasana yang penuh gairah dari saat ke saat, tak henti-hentinya mengucapkan sajak-sajaknya secara spontan, sedang murid-muridnya mencatat sajak-sajak itu untuk kemudian dihafalkan.

My Review:

Hmm…sejak jaman sekolah dulu, saya lebih senang mengerjakan soal matematika daripada menguraikan makna sebuah puisi. Saya tidak bisa memahami makna yang tersirat dibalik kata-kata indah yang menyusun puisi tersebut. Paling jauh saya hanya bisa suka dengan kata-kata indahnya, itupun cuma yang maknanya bisa saya mengerti (atau yang saya kira… bisa saya mengerti), *nangis*.

Sama seperti buku kumpulan puisi ini, saya tidak dapat “feel-nya”. Untungnya ada beberapa baris puisi yang saya kasih post it karena saya suka bunyinya.

Dan diantara baris-baris itu, saya paling suka yang ini:

Diam! Karena ucapanmu buah kurma yang matang, hanya, tidak setiap burung angkasa cocok dengan buah kurma

—Kasidah Cinta, hlm. 140

Baris puisi ini mengingatkan saya untuk berhati-hati dalam bicara. Benar seperti itu kan ya maknanya?, *sigh*.

Oke, itu saja. Tidak bisa “ngomong” banyak-banyak karena saya benar-benar tidak paham. Daripada ntar dibilang sotoy ,*hahhah*.

At last, saya beri 3 dari 5 bintang untuk buku ini, untuk baris-baris puisinya yang saya kasih post it. Yaaa, I liked it.

 

Judul: Kasidah Cinta Jalalu’ddin Rumi | Penerjemah: Hartoyo Andangjaya | Penerbit: Narasi | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan I, 2017, 218 halaman | Status: Owned book | Rating saya: 3 dari 5 bintang

Posted in Uncategorized

Marginalia Review

***

Blurb

Aku Yudhistira, aku Arjuna, aku Bima, aku Nakula Sadewa. Berapa Bharatayudha harus kujalani. Demi kamu, Drupadiku?

ARUNA
Cengeng! Tulisan singkat dan rapi di kumpulan puisi Rumi kesayangan almarhum Padma membuatku terbakar. Kurang ajar! Berani-beraninya cewek dingin berhati belatung itu menodai kenangan Padma. Belum tahu dia berhadapan dengan siapa. Aruna, vokalis Lescar, band rock yang paling diidolakan. Tunggu pembalasanku.

DRUPADI
Aku tak punya waktu untuk cinta. Meski tiap hari aku berhubungan dengan yang namanya pernikahan, ini hanya urusan bisnis semata. Aku tak percaya romantisme, apalagi puisi menye-menye. Hidup ini terlalu singkat untuk jadi melankolis. Namaku memang Drupadi, tapi hatiku sudah tertutup untuk laki-laki.

“Kekasih tak begitu saja bertemu di suatu tempat, mereka sudah saling mengenal sejak lama.” – Rumi

My Review

Mengapa ketiadaan seseorang justru meningkatkan kerinduan

—hlm.221

Cerita tentang Drupadi, gadis realistis+dingin yang “kena batunya” karena sembarangan menulis marginalia disebuah buku.

Memang masalah apa sih yang bisa disebabkan oleh sebuah marginalia ?

Oh banyak. Setidaknya bagi Drupadi. Karena marginalianya tersebut ternyata membuat Aruna, seorang vokalis rock ngetop, jadi pengen mencekik si penulis marginalia.

Maka terjadilah perang marginalia….

Tapi itu dulu, sebelum Aruna bertemu langsung dengan Drupadi. Dan ketika melihat si pembuat onar itu untuk pertama kalinya, Aruna tiba-tiba tidak ingin marah-marah lagi. Wah wah… kenapa ya? ūüėČ

Hmmm…saya kurang bisa…errrr… terkoneksi dengan tokoh-tokohnya. Ga tau ya, kok berasa kurang pas aj gitu. Baik Aruna maupun Drupadi terkesan plin-plan bagi saya (catat, bagi saya loh ya ^^)

Terus saya kurang setuju juga dengan pendapat Padma tentang marginalia.

Tapi lumayan penasaran+tegang pas adegan konflik antara Aruna, Drupadi dan Inez.

At last, saya beri 3 bintang untuk buku ini. Terutama untuk kovernya yang cakep dan konsep pertemuan sepasang kekasih melalui marginalia-nya ^^

Oh ya, buku ini juga membuat saya ingat kalau saya punya buku puisi Rumi yang masih nongkrong manis ditimbunan. Jadi pengen segera baca, penasaran XD

***

Judul: Marginalia | Pengarang: Dyah Rini   | Penerbit: Qanita| Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan I, Februari, 2013, Bandung, 304 halaman, 18 cm | Rating saya: 3 dari 5 bintang

Posted in Books, Cynthia Febrina, Indonesian Literature, PlotPoint, Romance

Stasiun Review

***

Blurb

Dinda putus dengan pacarnya. Kini tak ada lagi Rangga yang biasa mengantar jemput. Tiap pagi Adinda harus naik kereta dari Bogor ke kantornya di Jakarta. Harinya berawal dengan teriakan pedagang asongan, sampah yang bertebaran di peron, para penumpang yang berkeringat dan tergesa, bahkan aksi copet. Masa lalu pun kerap memberatkan langkah.

Ryan “anak kereta” sejati, bersahabat dengan para pedagang kios di sepanjang peron. Bertahun-tahun dia pulang-pergi Bogor-Jakarta naik kereta. Di balik beban kerja yang menyibukkan, ada kesepian yang sulit terobati, apalagi ketika seorang sahabat meninggal.

Tiap pagi mereka menunggu kereta di peron yang kadang berbeda. Tapi jalur yang sama memungkinkan langkah dan hati mereka bertautan. Stasiun jadi saksinya.

My Review

“Bersedia berangkat bersama, Adinda?”

(Stasiun, hlm. 151)

Oke, itu kalimat pamungkas dari buku ini yang berhasil membuat saya klepek-klepek sendiri. Ga tahu ya, kok berasa romantis aja gitu, haha.

Akhir-akhir ini saya jarang baca buku. Sampai hampir lupa rasanya kalau kegiatan itu bisa semenyenangkan ini, *lebay mode on*.

Melihat sampul buku ini menimbulkan rasa “gatal pengen segera baca” kepada saya.

Sampulnya cakep. Dan unik juga. Semacam dua kover dengan gambar yang berbeda, tapi bila disatukan jadi nyambung.

Ceritanya juga begitu. Seperti caption yang tertulis di sampul buku, “dua kisah satu jalur”. Ada cerita Adinda, dan juga cerita Ryan.

Adinda yang baru saja ditinggal putus pacarnya. Yang artinya juga dia kehilangan “tukang antar jemput” hariannya. Membuatnya terpaksa menggunakan kereta api untuk pulang pergi ke tempat kerjanya.

Ryan yang dari dulu memang sudah sering menjadi pelanggan setia kereta api. Yang masih jomblo setelah sekian lama. Karena memang belum ada yang bisa membuatnya jatuh cinta melebihi rasa cintanya kepada kegiatan melukisnya.

Tidak menyangka, ternyata menarik juga mengikuti bagaimana akhirnya kisah dua orang ini disatukan. Mengetahui bagaimana seseorang bisa jatuh cinta dengan orang lain. Dengan suasana stasiun kereta api yang menjadi latar belakangnya.

Kisahnya bitter sweet lah. Soalnya Ada beberapa bagian yang cukup membuat saya pengen nangis juga.

Selain kutipan di atas, sebenarnya ada banyak sekali kutipan lain yang saya dari buku ini. Tapi yang cukup berkesan adalah yang satu ini:

“Ya Tuhan, apakah hidup memang seberat ini bagi sebagian orang?”

(Stasiun, hlm. 102)

Membaca kutipan di atas, dan juga sebagian besar penggalan-penggalan kisah dari buku ini, membuat saya menjadi lebih bisa mensyukuri apa-apa yang sudah saya miliki saat ini.

Buku yang bagus, kisah yang manis, banyak mengandung pelajaran tentang kehidupan, dan 4 dari 5 bintang untuk Stasiun. Ya, saya suka sekali. ¬†(‘‚ĖĹ’ É∆™) ‚ô•

***

Judul: Stasiun | Pengarang: Cynthia Febrina | Penerbit: plotpoint| Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan pertama, Jakarta, Mei 2013, 167 halaman| Status: Owned Book | Rating saya: 4 dari 5 bintang

Posted in Books, Children, Fifa Dila, Indonesian Literature, Islamic, Noura Books

Mahkota Cahaya untuk Ayah Bunda Review

***

Blurb

“Kamu tidak usah sekolah, toh mengaji sama saja dengan belajar. Semua pelajaran dunia dan akhirat sudah ada dalam Al-Quran.”

Hafiz tak bisa terima Kakek melarangnya sekolah. Kakeknya, Guru Alimuddin, yang mengasuh Hafiz setelah orangtua anak itu meninggal, ingin cucunya fokus menghafal Al-Quran. Padahal Hafiz ingin bersekolah seperti Jidan, Nur, Mahmud, dan Riski, yang bahkan bisa jalan-jalan ke kota bersama sekolah mereka. Ia juga ingin menjadi dokter seperti Pak Dokter yang di Puskesmas.

Nekad, diam-diam Hafiz ikut teman-temannya bersekolah. Namun tak lama kegembiraan “anak sekolahan” itu dirasakan Hafiz, Guru Alimuddin meninggal. Hafoz kecil pun harus bergulat dengan berbagai pertanyaan dan penyesalan. Seandainya aku hafal Al-Quran, benarkah Allah takkan membiarkanku sebatang kara? Benarkah itu berarti Kakek takkan meninggal dunia? Benarkah dengan menghafal Al-Quran, aku mempersembahkan mahkota cahaya untuk ayah dan bunda di surga?

My Review

“Anak-anak memang belum bisa bersyukur. Yang belajar banyak dari sekolah, mau libur. Sebelumnya, dia yang tidak pernah sekolah, malah nantang ingin sekolah sambil hafalan.”

(Mahkota Cahaya untuk Ayah Bunda, hlm. 226)

Sepertinya bukan cuma anak-anak yang belum bisa bersyukur, kebanyakan orang tua juga ^^

Buku yang cukup lama nangkring di rak currently reading. Ternyata tidak butuh waktu lama untuk menyelesaikannya. Sepertinya saya-nya saja yang akhir-akhir ini lagi malas membaca, hahhah.

Ceritanya tentang Hafiz, anak kecil yatim piatu yang dibesarkan oleh kakeknya untuk menjadi penghapal Al Quran. Tidak tanggung-tanggung, keseharian Hafiz diisi dengan program menghapal Al Quran. Sampai-sampai Hafiz tidak punya waktu untuk bersekolah.

Tapi Hafiz bukannya tidak dibolehkan bersekolah sih. Kata Kakek, Hafiz diijinkan bersekolah asalkan dia sudah khatam menghapal Al Quran. Nah bisakah Hafiz menjadi penghapal Al Quran untuk memenuhi impian kakeknya?

Kisahnya lumayan mengharukan dan cukup menginspirasi saya untuk ikutan menjadi hafizah juga, *ehm*.

Meskipun saya kurang sreg dengan pengalaman Hafiz dengan Pino di kota besar. Tapi itu bukan masalah besar kok, saya-nya saja yang merasa kurang pas gimana gitu, heheh.

Terus sepertinya ada beberapa kata yang hilang diantara halaman 131 dan 132. Jadi kalimatnya rada tidak nyambung.

Kemudian saya juga serius nanya tentang Al-Naba yang disebut-sebut dalam buku ini. Itu surat An-Naba kan ya? Saya jadi keseleo membacanya kalau tidak ingat itu adalah salah satu hukum tajwid. Kok tidak ditulis An-Naba saja ya?

Dan ngomong-ngomong tentang keseleo, kutipan-kutipan surah Al-Quran yang diselipkan di beberapa halaman di buku ini dicetak dengan font yang hurug “Q”-nya mirip huruf “Z”.

Okeh itu saja, at last, 3 dari 5 bintang untuk buku ini. Yaaa, saya suka¬†(‘‚ĖĹ’ É∆™) ‚ô•

***

Judul: Mahkota Cahaya untuk Ayah Bunda | Pengarang: Fifa Dila | Penerbit: Noura Books | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan pertama, Jakarta, Juni 2015, 256 halaman| Status: Owned Book | Rating saya: 3 dari 5 bintang