Featured
Posted in Non Review

Proyek Baca Buku Perpustakaan 2018

Selamat berjumpa kembali di Proyek Baca Buku Perpustakaan 2018 \^_^/

Masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya, proyek ini saya buat karena perpustakaan-lah pusat buku terbesar di kota kecil saya. Sampai tahun ini, si kota tercinta masih belum punya toko buku besar. Kalau ingin membaca buku novel yang update-an dikit, masih harus pergi jauh ke Banjarmasin atau beli di toko buku online yang ongkirnya bikin gigit jari.

Continue reading “Proyek Baca Buku Perpustakaan 2018”

Advertisements
Posted in Non Review

I am Book Blogger #FBBKolaborasi

***

Tidak terasa ya, sekarang sudah waktunya untuk post FBB Kolaborasi lagi. Rasa-rasanya baru kemarin saya memposting FBB Kolaborasi untuk bulan September.

FBB Kolaborasi sendiri adalah post kolaborasi bulanan yang diadakan khusus untuk anggota FBB dengan tema yang berbeda tiap bulannya. Ini adalah post FBB Kolaborasi kedua saya. Syukurlah bulan ini bisa kembali ikutan.

Bulan ini FBB Kolaborasi mengambil tema Hari Blogger Nasional. Sebetulnya saya sudah gatal pengin menulis sejak tema ini terpilih. Tapi sayangnya, bulan ini kerjaan di kantor sedang sibuk-sibuknya. Kita-kita sampai lembur. Alhasil kalau sudah pulang ke rumah, saya bawaannya jadi langsung kepingin tidur. Perjuangan banget untuk bisa nyempil waktu sedikit-sedikit buat bikin post, fiuh, *lap keringat*. Jadi, harap maklum kalau tulisan saya kali ini rada-rada hancur, haha.

So, untuk memperingati Hari Blogger Nasional yang jatuh pada tanggal 27 Oktober nanti, saya…eh…jadi bingung mau menulis apa, huehehe, *kena keplak*.

Karena waktu setor link sudah dekat, akhirnya saya putuskan secara kilat kalau saya ingin menulis hal-hal seru apa saja yang biasanya saya posting, sebagai seseorang yang mengaku sebagai blogger buku, ehm.

Review buku…

Review atau resensi sepertinya merupakan hal wajib yang harus ada dalam sebuah blog buku. Ada beberapa blogger buku yang kelas menulis review-nya sudah tingkat tinggi. Beberapa dari mereka bahkan ada yang resensinya sudah langganan dimuat di koran atau majalah.

Tapi ada juga yang menulis review seenak udel sepertinya saya,  *tutup muka pakai bantal*. Sok nge-English pula pakai kata “review”. Sepertinya review-review buku saya lebih tepat disebut kesan-kesan saya setelah membaca buku ketimbang review. But, saya tetap memakai kata “review” sebagai motivasi. Berharap suatu saat saya bisa menulis timbangan buku yang bisa dikasih nilai 100 seandainya ada guru Bahasa Indonesia yang menilai resensi saya. Tapi sepertinya gak bakalan deh, dari judulnya saja sudah salah, huehehehe.

Review menurut saya lebih seru kalau di post bareng-bareng dengan teman-teman satu komunitas. Kita bisa membaca buku yang persis sama, atau membaca buku dengan tema yang sama, baru setelah itu di post bareng-bareng di blog. Duh, jadi kangen masa-masa ini.

Selain itu, post review bareng juga bisa dalam bentuk buntelan dan blogtour. Saya pernah beberapa kali mendapatkan buntelan dari penulis atau penerbit. Yah waktu itu saya masih jadi jomblo pengangguran yang punya banyak waktu luang. Buku buntelan yang “not my cup of tea” pun saya bantas habis.

Sayangnya, saya belum pernah ikut blogtour. Lebih karena ketika waktu itu saya pengin ikut, ada isu hangat yang terjadi. Ada beberapa penulis Indonesia yang tersinggung dengan para reviewer karena bukunya dikritik terlalu pedas. Salah satu penulis terkenal bahkan memajang tulisan di profil Goodreads-nya yang bunyinya kurang lebih seperti ini: “jangan menjadi kritikus buku kalau belum pernah menulis buku”. Hahhah. Tetiba semangat saya untuk berburu buku lewat jalur buntelan dan blogtour jadi hilang sampai sekarang.

Saya yang tidak pernah tega ngasih review jelek terhadap sebuah buku pun, somehow, ngerasa gimana gitu kalau ada penulis yang tidak mau menerima kritik pedas terhadap bukunya. Tapi kalau dilihat dari sudut pandang penulis, ilfil juga sih ya kalau karya hasil kerja kerasnya dibilang jelek, huehehehe. Jadi ya sudahlah. Kalau ingat itu saya jadi kepingin ngomel sendiri.

Meme…

Meme adalah tulisan bertema yang dipost secara teratur. Saya sendiri masih bingung kenapa namanya meme, hahhah. Kalau saya salah, tolong dikoreksi ya, *uhuk.

Dulu ada banyak meme yang dihost oleh para blogger buku. Saya punya sebuah meme bernama Link of The Week yang bertujuan untuk men-share link-link penting tentang buku setiap minggunya. Terutama link yang menyediakan ebook gratisan, *eh. Tapi tenang saja, ebook gratisannya legal kok, hihihi.

Selain Link of The Week, saya sering mem-post Scene on Three. Meme ini dihost oleh Bzee, pemilik blog Bacaan B.Zee. Meme ini bertujuan untuk menandai scene-scene menarik dari sebuah buku yang kita baca beserta alasan kenapa scene itu menarik. Meme ini dipost pada tanggal-tanggal yang mengandung angka 3.

Satu lagi meme yang sering saya ikuti adalah Wishful Wednesday. Meme ini dihost oleh Mbak Astrid dari blog Books to Share. Meme ini gampang sekali, kita hanya diharuskan untuk membuat post tentang buku yang ingin kita baca atau punya dan alasan kenapa kita ingin buku tersebut. Meme ini di post setiap hari rabu.

Sayangnya, kedua meme ini sudah jarang dipost. Meme Wishful Wednesday malah dihiatuskan untuk sementara oleh host-nya. Tapi bagi yang pengin ikutan masih bisa kok. Ayo hidupkan lagi Wishful Wednesday!

I am a book blogger. What about you?…

Blogger apapun kamu, semoga bisa memberikan manfaat untuk bangsa dan negara *apa coba*.

Dan untuk para blogger buku, tetap semangat  (*•̀ᴗ•́*)و ̑̑.  Meskipun sekarang lagi musim-musimnya bookstagram, tapi book blogging is never die, *mulai ngawur*.

So, selamat Hari Blogger Nasional ya. Semoga kita bisa bertemu kembali di post FBB Kolaborasi bulan depan. See you next month \^_^/

Posted in Bhuana Ilmu Populer, Books, Children, Ernita Dietjeria

Kumpulan Dongeng Terlezat Sedunia Review

***

bisa dibeli di bukabuku.com

***

Blurb:

Ingin membaca dongeng seru sambil menikmati aneka makanan?
Yuk, bukalah buku ini dan rasakan kelezatannya.

Saksikan bola-bola daging mengguyur sebuah desa di Italia. Cicipi istana onde-onde buatan Penyihir Tinuk. Sedapkah? Rasakan kelezatan donat bunuelos dari Spanyol bersama bajak laut kembar. Bisakah kau membuat gelato seratus rasa di bawah Payung Melayang?

Nyam…nyam…nyam ada makaron Prancis jatuh dari langit! Suka mochi dan piza? Jangan khawatir, ada mochi buatan Kelinci Bulan dan piza bertabur keju mozzarella.

Jangan lupa menikmati dongeng cokelat karamel, kaviar, kimchi, dan santapan lainnya dari berbagai negara. Dijamin hatimu senang, perutmu kenyang!

My Review

Jujur, rajin dan rendah hati akan membuat hidup berarti —hlm. 33

Buku kedua yang saya baca via iKalsel.

Saya suka… saya suka… dongeng-dongengnya memang lezat seperti judulnya. Suasana lezatnya dapet.

Dongeng-dongengnya indah dan pesan moralnya bagus Ada cerita yang lucu, ada cerita yang menghangatkan hati, ada cerita yang mengajarkan kita untuk berpikir kreatif, dan sebagainya.

Saya paling suka dengan dongeng Menanti Makaron Jatuh. Ceritanya sangat menghangatkan hati kalo menurut saya. Membaca cerita ini membuat saya pengen makan makaron juga, hahhah. Kutipan yang paling saya suka dari cerita ini adalah kutipan berikut:

Keinginan yang kuat pasti akan terkabul —hlm. 159

Dia tahu, tak ada penantian yang sia-sia, termasuk menunggu makaron jatuh dari langit. —hlm. 165

Kutipan yang sangat memotivasi agar saya selalu berani bermimpi, huahahaha.

Btw, saya harus punya buku ini. Segera masukkan ke wishlist. Buku yang indah yang saya harap dapat membuat anak saya gemar membaca. Aamiin.

***

Judul: Kumpulan Dongeng Terlezat Sedunia | Pengarang: Ernita Dietjeria | Penerbit: Bhuana Ilmu Populer | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan Pertama, Jakarta, 2015 | Status: Pinjam di iKalsel | Rating saya: 5 dari 5 bintang 

Posted in Books, Children, Dian K., Islamic, Qibla, Wylvera W.

Ke Tanah Suci, Yuk! Review

***

bisa dibeli di bukabuku.com

***

Blurb:

Mengunjungi tanah suci, siapa yang tak mau? Semua umat Islam pasti mengidamkan bisa menginjakkan kaki di tanah suci.

Apalagi, sudah merupakan kewajiban bagi semua umat Islam untuk berhaji bila mampu.

Di mana sih tanah suci itu? Apa saja yang harus kita persiapkan sebelum berhaji? Apa saja tahapan berhaji? Apa itu umrah?

Semuanya bisa kamu baca di buku ini. Dilengkapi dengan foto-foto yang indah, niscaya keinginanmu untuk ke tanah suci semakin kuat.

Ayo, persiapkan dirimu untuk mengunjungi rumah Allah.

My Review

Buku pertama yang saya baca via iJogja. Ilustrasinya seru, bagus dan berwarna-warni. Jadi semangat membacanya, haha.

Sayang untuk foto-foto tempat di tanah suci, tidak semuanya diberi keterangan nama, padahal letak fotonya berdekatan. Jadi saya yang belum pernah sama sekali ke tanah suci, atau belum pernah tahu bagaimana penampilan tempat ini atau itu, jadi sedikit kebingungan.

Seperti kata blurb-nya, setelah membaca buku ini, keinginan saya untuk pergi ke tanah suci memang jadi semakin kuat, hohoho. Tapi somehow, yang paling berasa buat saya setelah membaca buku ini adalah, kecemasan saya berkurang. Jujur yang saya khawatirkan kalau pergi ke tanah suci adalah saya bakalan merasa cemas di negeri asing. Tidak tahu mau kemana meskipun ada pemandunya, takut kena shock culture, dsb.

So, sedikit banyak, buku ini memberikan pengetahuan lebih bagi saya tentang Saudi Arabia. 3 dari 5 bintang untuk buku ini. I liked it.

***

Judul: Ke Tanah Suci, Yuk! | Pengarang: Dian K. dan Wylvera W. | Penerbit: Qibla (Imprint Bhuana Ilmu Populer) | Edisi: Bahasa Indonesia, Jakarta, 2014 | Status: Pinjam di iJogja | Rating saya: 3 dari 5 bintang

Posted in Bhuana Ilmu Populer, Books, Children, Ernita Dietjeria

Kumpulan Dongeng 4 Musim Review

***

bisa dibeli di bukabuku.com

***

Blurb:

Mari merasakan keunikan empat musim lewat dongeng-dongeng menarik!

Nikmati putihnya salju, warna-warni bunga musim semi, hangatnya matahari musim panas, dan indahnya daun-daun musim gugur.

Oh, lihatlah! Ada raksasa yang lari terbirit-birit saat salju turun di MUSIM DINGIN!
Wah, wah, bunga-bunga MUSIM SEMI telah mekar, namun ada pencuri berkeliaran.
Astaga, ada kelinci jadi-jadian muncul di MUSIM PANAS.
Wow, bidadari turun dari langit. Saatnya memanen getah pohon mapel di MUSIM GUGUR.

Masih banyak dongeng seru lainnya.
Selamat menikmati empat musim yang luar biasa!

My Review

Buku pertama yang saya baca via iKalsel. Bukunya indaaaaah. Saya suka. Ceritanya juga. Kalau saya membacanya waktu kecil, buku ini pasti akan saya sayang-sayang.

Awalnya saya yakin sekali kalau saya bakalan suka kisah-kisah dari musim gugur. Yaaah, walaupun saya tidak pernah mengalami bagaimana rasanya musim gugur, saya selalu terpesona dengan warna-warna musim gugur yang hanya bisa saya lihat di TV atau buku-buku cerita.

Etapi ternyata saya salah. Saya suka cerita di keempat musim. Semua musim terasa indah. Meskipun begitu, cerita favorit saya adalah cerita Lampu Kunang-Kunang di kumpulan cerita musim panas. Somehow, saya juga merindukan bisa melihat kunang-kunang di malam hari. Saya hanya pernah melihat kunang-kunang sekali seumur hidup, hahhah. Itu pun juga cuma sebentar. Si kunang-kunang keburu pergi, hiks.

Terus, sedikit ngomong-ngomong tentang iKalsel. Keren ternyata Kalsel juga sudah punya aplikasi perpustakaan digital. Saya suka warna temanya, merah syantik, hehehe. Namun, sayang, fitur penanda halamannya tidak ada. Ketika saya tutup bukunya terus saya buka lagi, halamannya kembali ke halaman pertama. Lumayan capek jadinya nge-scroll lagi. Untung saya membaca buku anak-anak yang tidak tebal-tebal amat.

Dan setelah menemukan iKalsel, saya juga menemukan iHSS dan iMartapura. Wow…keren. Semoga iHSU juga cepat menyusul. FYI, HSS, HSU dan Martapura adalah nama-nama kabupaten/ibukota kabupaten di Provinsi Kalimantan Selatan.

At last, setelah saya membaca buku ini di perpustakaan digital, saya jadi kepingin beli buku fisiknya, indah sekali buat dikoleksi dan semoga nanti bisa membuat anak saya jadi gemar membaca. Aamiin.

***

Judul: Kumpulan Dongeng 4 Musim | Pengarang: Ernita Dietjeria | Penerbit: Bhuana Ilmu Populer | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan Pertama, Jakarta, 2014 | Status: Pinjam di iKalsel | Rating saya: 4 dari 5 bintang 

Posted in Alex Scarrow, Books, Elex Media Komputindo, Fantasy, Science Fiction, TimeRiders

The Infinity Cage Review

***

**spoiler alert**

Blurb:

LIAM O`CONNOR seharusnya meninggal di lautan tahun 1912
MADDY CARTER seharusnya meninggal di pesawat tahun 2010


Tapi mereka berdua diberi kesempatan kedua—untuk bekerja pada sebuah agensi yang keberadaannya tidak diketahui siapa pun. Tujuannya: mencegah perjalanan waktu menghancurkan sejarah….

Akhir para Timerider mendekat. Dalam sebuah usaha terakhir untuk mencegah kehancuran sejarah, Liam dan Maddy melompat maju ke tahun 2070 untuk menghadapi Waldstein, pria yang penuh teka-teki, dan membuktikan apakah dia teman atau musuh.

Apa yang mereka temukan lebih mengejutkan dari apa yang dapat dibayangkan oleh siapa pun, dan para Timerider segera menjalani satu misi terakhir mereka — kembali ke era Alkitab untuk menyelamatkan seluruh umat manusia….

My Review

Membaca blurb-nya, haduh, saya jadi teringat ending menyesakkan di buku sebelumnya.

Terus pas membaca halaman persembahan penulis, saya kaget ternyata buku ini adalah buku terakhir dari seri Timerider. Whuaaaah, saya jadi deg-degan bacanya. Galau endingnya bakalan kayak gimana.

So, setelah kejadian tragis di petualangan mereka sebelumnya, Liam dan Rashim memaksa Maddy untuk berjalan-jalan keliling dunia. Sedikit bisa mengobati kesedihan untungnya. Namun, setelah kembali ke markas mereka di London, Maddy dan Liam kembali berselisih paham mengenai apa yang harus mereka lakukan selanjutnya.

Maddy yakin mereka harus ke masa depan dan menemui Waldstein, sedangkan Liam yakin mereka harus mencari transmiter satunya di Yerusalem abad pertama. Dan karena Liam bukan Sal, Liam terus mengotot meskipun keputusan seharusnya ada di tangan Maddy sebagai pemimpin tim.

Akhirnya misi pun dibagi 2, Maddy, Rashim, dan Becks pergi masa depan sedangkan Liam dan Bob pergi ke masa lalu. Kedua misi memilih waktu yang berbahaya. Maddy dan kawan-kawan terancam bertemu virus Kosong-ni sedangkan Liam harus menghadapi peristiwa sejarah besar yang berkaitan dengan seorang nabi di abad pertama.

Apakah resiko yang harus mereka hadapi layak dengan jawaban yang ingin mereka cari? Berhasilkah Timerider menemukan alasan kenapa mereka harus menjaga sejarah yang berakhir dengan kehancuran? Siapa sebenarnya yang membangun transmiter? Well, semua jawabannya ada di buku ini.

At last, menurut saya, ending-nya…errrr…lumayan lah. Tidak sampai membuat saya baper tapinya. Tidak juga membuat saya kangen dengan Liam dan kawan-kawan. Untuk ketegangan oke lah. Terutama di bagian petualangan Liam yang sepertinya terus menemui masalah yang tidak terduga, bikin gregetan. Petualangan Maddy dan kawan-kawan bersama virus Kosong-ni juga sanggup membuat saya menahan napas. So, 4 dari 5 bintang deh untuk akhir dari seri TimeRiders ini. I really liked it.

***

Judul: The Infinity Cage – Penjara Tak Berujung | Pengarang: Alex Scarrow | Series: TimeRiders #9 | Penerbit: Elex Media Komputindo | Edisi: Bahasa Indonesia, 2017, 362 halaman | Penerjemah: Desy Natalia | Status: Koleksi pribadi | Beli di: Hobby Buku Shop | Rating saya: 4 dari 5 bintang

***