Featured
Posted in Non Review

Proyek Baca Buku Perpustakaan 2016: Master Post

 photo proyek_baca_buku_perpustakaan_zpsbae5o9ei.png

Ini proyek kok kesannya seperti cari mati ya, ahaha. Kayak timbunan buku kolpri kurang tinggi aja gitu, eh malah ditambah dengan timbunan¬†buku perpustakaan pulaūüėĄ .

Baiklah, melanjutkan proyek saya tahun lalu, saya kembali mengadakan proyek untuk membaca buku-buku yang ada di perpustakaan.

Continue reading “Proyek Baca Buku Perpustakaan 2016: Master Post”

Posted in Non Review

Liburan Tibaa! Baca Buku Apa? #BBIHoliday

Ini adalah Master Post untuk Posting Bareng BBI Bulan Juli 2016 dengan tema #BBIHoliday.

Jadi para BBI-ers diminta membuat daftar buku apa saja yang pengin dibaca di bulan Juli. Untuk saya, terutama pas lagi liburan panjang lebaran ini. Soalnya sehabis  liburan, kantor sudah menyiapkan agenda yang sibuk buat saya, hiks.

Karena itu, saya bertekad memanfaatkan waktu libur sebaik-baiknya untuk membaca buku. Saya sudah mencomot buku pertama sejak pulang dari kantor di hari terakhir kerja sebelum liburan minggu lalu. Lagian, karena saya sudah tinggal di “kampung”, maka saya tidak bisa “pulang” kemana-mana lagi. Jadi sambil menunggu sodara-sodara dari luar kota berdatangan, saya bisa membaca buku sepuasnya. Hahaha, it was the best¬†day¬†ever. Dan syukurlah¬†menyenangkan juga satu minggu kedepannya.

Ngomong-ngomong, sebelum post ini dibuat, saya sudah membaca tiga buku di bulan Juli. Silakan klik judul bukunya untuk meluncur ke review-nya.

Terus, ini dia reading list saya untuk Posbar ini:

1. Percy Jackson’s Greek Heroes by Rick Riordan

Maaf latar fotonya cuma laptop, huehehe. Bukan ruang tamu atau sofa atau yang lain-lain seperti ketentuan posbar. Semoga ini cukup ya.

Jadi ini buku pertama yang selesai saya baca di bulan Juli. Sebenarnya sudah pengin baca ini langsung setelah buku yang terakhir saya baca, Allegiant. Tapi tahulah, Allegiant cukup membuat saya baper. Untunglah kisah konyol Percy tentang Pahlawan Yunani sukses mengusir pergi ending Allegiant yang menyesakkan itu. *halah*.

2. Inkheart by Cornelia Funke

Buku yang sudah lama jadi wishlist. Waktu nodong minta belikan buku ini sebagai hadiah ultah tahun ini, saya sedikit menyesal kenapa tidak beli buku ini sejak dulu.

Waktu saya beli ini, box set-nya sudah tidak ada lagi. Yang ada cuma buku pertama dan kedua. Keduanya sudah tidak bersegel. Semoga nanti saya masih bisa menemukan box set-nya.

Saya suka covernya. Saya juga suka kisahnya, kental dengan “suasana” buku. Harus dikoleksi. Harus.

3. The Silkworm by Roberth Galbraith

Yap, akhirnya bisa mengambil foto buku dengan latar yang agak beda-an dikitūüėÄ

Jadi buku berikutnya yang saya baca untuk liburan adalah The Silkworm. Telat ya bacanya. Secara Career of Evil sudah terbit, saya pengin lanjut baca, tapi saya belum punya bukunya.

Tapi tak apalah. Sepertinya saya perlu menghibur diri dengan bacaan ringan dulu setelah membaca kasus pembunuhan sadis.

4. A Clash of Kings by George R. R. Martin

Yah, ini dia buku ringan yang saya maksud, ahaha.

Liburan tinggal dua hari lagi. Saya manfaatkan untuk membabat buku bantal yang ini saja deh. Meskipun kalau ga salah dengar info, sepertinya ada kesalahan yang cukup fatal dalam pencetakan buku ini.

***

Oke, itu daftar buku yang sudah dan akan saya baca di bulan Juli. Saya hanya punya kemungkinan kecil untuk bisa membaca buku di bulan Juli setelah liburan panjang ini. Tapi entahlah, lihat nanti saja deh. Apakah saya bisa mencuri waktu untuk menambah panjang daftar buku yang sudah saya baca nanti. Yang pasti, untuk sekarang, saya mengira-mengira hanya bisa membaca satu buku lagi.

Nah, bagaimana dengan kalian? Buku apa yang sudah atau akan kalian baca selama liburan? Yuk di share.

Jangan lupa update di posbar akhir bulan nanti, apakah daftar buku yang sudah kita rencanakan bisa dibaca semua. Semoga sukses dengan reading listnya ya. Sampai jumpaūüėČ

Posted in Books, Gramedia Pustaka Utama, J. K. Rowling, Mystery, Review 2016, Robert Galbraith

The Silkworm Review

***

Blurb

Seorang novelis bernama Owen Quine menghilang. Sang istri mengira suaminya hanya pergi tanpa pamit selama beberapa hari—seperti yang sering dia lakukan sebelumnya—lalu meminta Cormoran Strike untuk menemukan dan membawanya pulang.

Namun, ketika Strike memulai penyelidikan, dia mendapati bahwa perihal menghilangnya Quine tidak sesederhana yang disangka istrinya. Novelis itu baru saja menyelesaikan naskah yang menghujat orang banyak—yang berarti ada banyak orang yang ingin Quine dilenyapkan.

Kemudian mayat Quine ditemukan dalam kondisi ganjil dengan bukti-bukti telah dibunuh secara brutal. Kali ini Strike berhadapan dengan pembunuh keji, yang mendedikasikan waktu dan pikiran untuk merancang pembunuhan yang biadab tak terkira.

My Review

Gara-gara The Cuckoo’s Calling (kasus kematian super model yang diduga bunuh diri), dan gara-gara judulnya “The Silkworm”, saya menduga pembunuhannya tidak sesadis ini. Memang sekeji apa sih kisah pembunuhan yang diberi judul¬†“Ulat Sutra”?

Oke, ternyata saya salah. Dan sayangnya, saat membaca deskripsi kondisi mayat, konsentrasi saya terpecah. Saya jadi sedikit kebingungan karena baik Cormoran maupun Robin, tampak terguncang sekali kalau mengingat kondisi korban. Jadi, saya baca ulang deh deskripsi mayatnya, dengan konsentrasi penuh…dan sepertinya itu bukan tindakan yang bijaksana.*hueeek*.

Tapi ya sudahlah. Kembali ke “Ulat Sutra”. Jadi kali ini Cormoran menyelidiki kasus suami hilang. Asiknya, meskipun kliennya (si istri yang kehilangan suaminya) tampaknya tidak punya uang, Cormoran tetap menerima kasus itu karena alasan-alasan simpel, salah satunya cuma karena penasaran.

Dan¬†dengan cepat kasus suami hilang berubah nama menjadi kasus suami yang dibunuh. Insting detektif Cormoran memang hebat. Kasus ini menjadi besar, dan terancam akan kembali sangat mempermalukan pihak kepolisian, tergantung apakah polisi penyidiknya, yang kebetulan adalah “teman akrab” Cormoran, mau mendengarkan Cormoran atau tidak.

Jadi seperti yang ada di blurb, korban kita kali ini adalah penulis. Jadi settingnya adalah dunia penulis dan penerbit. Dan sama seperti dunia super model di The Cuckoo’s Calling, setelah membaca kisah pembunuhan ini, tiba-tiba dunia penulis dan penerbit terlihat lumayan menakutkan bagi saya, hahhah.

Ngomong-ngomong, saking senangnya dengan buku fantasi, saya sampai lupa kalau saya juga menyukai cerita detektif macam Cormoran ini. Karena saya payah sekali kalau main detektif-detektifan, jadi saya telan bulat-bulat saja semua petunjuk yang ada tanpa harus capek-capek menebak kira-kira siapa pembunuhnya. Saya menikmati ketidaktahuan tersebut sampai pelan-pelan kasusnya terungkap sendiri. Asik. Seru. Dan sedikit dongkol juga karena buku ini terlalu tebal. Saya jadi harus begadang untuk menyelesaikannya.¬†Soalnya saya tidak sanggup menunggu esok pagi untuk mengetahui siapa pembunuhnyaūüėĄ

Oh ya, ada pengetahuan baru. Rupanya, di buku ini, nama Cormoran lebih identik dengan nama raksasa dibandingkan dengan nama burung.

Terus ada kutipan favorit dari tokoh favorit saya, Robin:

Robin kesulitan menelan makanan dengan gumpalan besar di tenggorokannya. Dia merasa terguncang tapi bahagia. Dia tidak salah: Strike melihat dalam dirinya sesuatu yang juga dia miliki. Mereka bukan orang yang sekadar bekerja demi gaji…

(The Silkworm, hlm. 318)

Iri? Tentu saja. Semoga suatu saat saya juga seperti Cormoran Strike dan Robin. Bisa bekerja karena kita suka pekerjaan tersebut.

So, 4 dari 5 bintang lagi untuk detektif Cormoran Strike. Belum bisa 5 bintang Cormoran, maaf. saya tetap lebih lebih suka dengan Holmes. Soalnya Holmes cuma butuh waktu singkat untuk memecahkan kasus rumit. Beda denganmu yang perlu…berapa halaman? 536? dan saya masih dongkol karena itu membuat saya begadang semalamanūüėČ

***

Judul: The Silkworm РUlat Sutra | Pengarang: Robert Galbraith | Penerbit: Gramedia Pustaka Utama | Edisi: Bahasa Indonesia, 2014, 536 halaman | Status: Owned book | Harga: Rp137.000,- (Gramedia Duta Mall Banjarmasin) | Rating saya: 4 dari 5 bintang

***

Posted in Books, Cornelia Funke, Fantasy, Gramedia Pustaka Utama, Inkworld

Inkheart Review

***

“Apakah ada sesuatu di dunia ini yang bisa lebih indah daripada huruf-huruf di atas kertas? Lambang keajaiban, suara mereka yang bungkam, dunia yang tak terbayangkan, dan lebih hebat lagi dari itu, merekalah pengusir kesedihan, teman dalam setiap kesepian. Pelindung rahasia, pengungkap kebenaran…”

(Inkheart, hlm. 510)

Blurb

Mo—ayah Meggie—memiliki kemampuan ajaib: ia bisa mengeluarkan tokoh-tokoh dari buku yang dibacanya. Sayangnya, kehadiran mereka ternyata harus ditukar dengan manusia-manusia di dunia nyata.

Sembilan tahun yang lalu, Mo membaca Tintenherz. Tanpa sengaja ia memunculkan berbagai tokoh jahat buku itu, dan membuat ibu Meggie lenyap karena masuk ke buku. Capricorn dan Basta, dua tokoh jahat dari buku tersebut, lantas menculik Mo, karena ingin Mo memunculkan lebih banyak lagi tokoh jahat dari Tintenherz. Termasuk sang Bayangan, monster menakutkan yang akan bisa membunuh semua musuh Capricorn. Capricorn juga menyuruh Mo mengeluarkan harta dari berbagai buku untuk membiayai kejahatannya di dunia ini.

Maka bermunculanlah tokoh dari berbagai buku, termasuk Tinker Bell dari buku Peter Pan, Farid dari Kisah Seribu Satu Malam, troll, goblin, bahkan si prajurit timah.

Situasi makin rumit karena Meggie ternyata memiliki kemampuan yang sama dengan ayahnya!

My Review

Pernah berharap seandainya tokoh-tokoh dari buku yang kita baca bisa mewujud? Well, hati-hati dengan harapan itu. Karena Mo, seorang dokter buku, ternyata mempunyai kemampuan untuk mengeluarkan sesuatu dari buku yang dibacanya. Sayangnya, Mo tidak tahu kalau dia mempunyai kemampuan tersebut. Dan ketika dia menyadarinya, semua sudah terlambat.

Mo tidak sengaja mengeluarkan Capricorn dan Basta, dua tokoh jahat dari buku berjudul Tintenherz. saat dia membacakan buku tersebut untuk istrinya. Bersama mereka, Mo juga mengeluarkan Staubfinger, si penakluk api. Kehadiran mereka harus dibayar mahal. Istri Mo jadi masuk ke dalam buku. Untunglah anak mereka yang bernama Meggie, yang saat itu baru berumur 3 tahun, tidak ikut menghilang bersama ibunya.

Sampai Meggie berumur 12 tahun, Mo masih belum menemukan bagaimana caranya mengembalikan kekacauan yang telah dibuatnya. Mo juga harus terus bersembunyi karena baik Capricorn maupun Staubfinger sama-sama mengejar Mo, namun dengan maksud yang berbeda. Staubfinger ingin kembali ke dalam buku, sedangkan Capricorn tidak. Capricorn malah menginginkan agar Mo mengeluarkan lebih banyak makhluk jahat dan kekayaan untuknya.

Sampai akhirnya Mo berhasil ditangkap oleh Capricorn dan Meggie berusaha menyelamatkan ayahnya. Bersama bibinya yang galak dan juga Staubfinger, Meggie nekat mendatangi markas angker milik Capricorn. Bisakah Meggie menyelamatkan ayahnya?

Atau mungkin malah sebaliknya. Mungkin Mo yang harus menyelamatkan Meggie, karena tiba-tiba Tinker Bell muncul, saat Meggie membaca Peter Pan.

***

Wow…buku ini saya rasa cocok sekali untuk para pecinta buku. Covernya bernuansa buku. Judulnya bertema¬†buku. Tokoh-tokohnya pecinta buku akut. Dan penjahat-penjahatnya keluar dari bukuūüėĄ

Saya kenalan sama Inkheart gara-gara filmnya. Sejak menonton filmnya, saya selalu memasukkan Inkheart ke dalam daftar belanja kalau nanti pergi ke toko buku. Tapi, kalau kesempatan langka itu datang, saya selalu saja mundur teratur. Pasalnya, Inkheart ternyata adalah buku pertama dari sebuah trilogi, yang artinya, mau tidak mau, saya harus membeli ketiga bukunya, yang harganya waktu itu sangat memberatkan kantong mahasiswa.

Dan seperti biasa, kalau saya menunda-nunda membeli sebuah buku, apalagi buku tersebut berseri, saya ujung-ujungnya pasti menyesal. Saya menyesal kenapa tidak dari dulu saja saya membeli bukunya. Soalnya sekarang, seri lengkapnya susah didapatkan di toko buku. Buku pertama ini pun saya dapatkan dalam keadaan tidak bersegel dan hanya tinggal tiga eksemplar yang tersisa.

Uppss, maaf atas curcolnyaūüėÄ

Kembali ke Inkheart. Jadi seperti yang sudah saya bilang sebelumnya. Saya duluan melihat filmnya daripada membaca bukunya. Ternyata ceritanya cukup banyak yang berbeda. Sehingga kalau ditanya seruan mana antara buku atau film, saya akan jawab keduanya berbeda, kesan yang ditimbulkan juga berbeda. Cuma intinya tetap sama, yaitu tentang bagaimana jadinya kalau ada orang yang memiliki kemampuan untuk mewujudkan sesuatu yang dia baca.

Ngomong-ngomong, menurut saya, karakter Staubfinger benar-benar pas antara buku dan filmnya. Dia pemberani sekaligus pengecut. Pengkhianat sekaligus setia kawan. Bisa dibilang si Staubfinger ini kena penyakit galau permanen.

Terus, apa lagi ya. Saya speechless sebetulnya. Buku ini meskipun kelam, tapi terasa indah. Apalagi tokoh-tokohnya ternyata sangat menyukai buku. Banyak kutipan-kutipan indah tentang kecintaan mereka terhadap buku. Salah satunya sudah saya pajang di atas.

Saya juga terkesan dengan Meggie yang sanggup membawa-bawa banyak buku saat bepergian. Saya membawa diri aja repot, apalagi membawa buku-buku yang berat.ūüėĄ

Terus, buku ini idenya asik. Saya baru nyadar kalau saya sepertinya belum pernah membaca buku keras-keras. Layak dicoba. Siapa tahu ada karakter yang keluar beneran dari buku. Walaupun saya sangsi saya bisa membaca sebagus Mo.ūüėĄ

At last, ini adalah tipe buku yang bisa meningkatkan mood baca saya. Bukunya cantik luar dalam kayak Cinderella *ganyambung*. 4 dari 5 bintang untuk Inkheart. I really liked it ¬†(‘‚ĖĹ’ É∆™) ‚ô•

***

Judul: Inkheart | Seri: Inkworld #1 | Pengarang: Cornelia Funke |Penerbit: Gramedia Pustaka Utama | Jumlah halaman: 536 halaman | Edisi: Cetakan pertama, Januari 2009 |Status: Owned Book | Rating saya: 4 dari 5 bintang

Posted in Books, Fantasy, Noura Books, Review 2016, Rick Riordan

Percy Jackson’s Greek Heroes Review

***

Saya suka sekali dengan seri Percy Jackson and The Olympians dan juga seri The Heroes of Olympus, tapi … sepertinya orang-orang disekitar saya tidak begitu.¬†Alasan mereka rata-rata sama. Pertama, mereka tidak suka terjemahannya (sungkem sama penerjemah). Kedua, karena buku-buku Percy Jackson terlalu populer, mereka takut dibilang ikut-ikutan dan takut kecewa kalau-kalau kepopulerannya ternyata tidak sesuai dengan apa yang mereka baca nantinya.

Hal ini jadi masalah buat saya. Soalnya, saya jadi tidak punya teman untuk bergosip. Misalnya tentang siapa demigod favoritmu? Atau kalau kamu jadi demigod, kamu ingin punya ayah atau ibu Dewata yang mana?, Atau menurutmu, cakepan siapa, Percy atau Jason? huehehe.

Sebenarnya banyak sih teman-teman di Goodreads atau BBI yang juga suka Percy Jackson, tapi saya telat membaca seri ini, sehingga sepertinya obrolannya sudah “dingin”.

Jadi, saya mohon sekali lagi, kalaupun kalian masih keki ketika mau baca seri Percy Jackson and The Olympians, setidaknya bacalah buku companion yang ini. Terjemahannya bagus, ceritanya kocak abis, ilustrasinya keren, pengetahuan mitologinya dapat, dan dalamnya berwarna. Nah, apalagi coba.

Dan oh ya, ini 100% bukan iklan. Percaya deh, penerbit waras mana yang mau ngasih buku gratis segede ini ke pembaca di kota antah berantah di Kalimantan sementara banyak reviewer-reviewer keren yang jauh lebih berbakat di luar sana.

Baiklah, kembali ke Percy Jackson’s Greek Heroes. Saya masih ingat betapa lucu dan menghiburnya kisah¬†Dewa Dewi Olympia. Percy menceritakannya seolah-olah mereka hidup di masa lampau dan modern. Kuno sekaligus kekinian. Dan tentu saja, konyol ala Percy.

Nah sekarang giliran para pahlawan Yunani yang juga dibuat gaul dan kekinian. Ajaib sekali Percy bisa menceritakan tentang nasib tragis para pahlawan Yunani dengan asik. Seandainya saja semua buku mitologi ditulis semenghibur ini, saya yakin saya tidak bakalan mengantuk di kelas saat pelajaran sejarah dulu, *eh*.

Buku ini besar dan cukup tebal. Tapi membacanya enteng sekali. Ada 12 Pahlawan Yunani yang dikisahkan di buku ini. Setiap kisah menyampaikan pesan moralnya masing-masing. Saya baru tahu kalau kisah Hercules ternyata seperti itu. Saya juga baru tahu kalau ternyata ujung-ujungnya nasib Jason (yang asli) seperti itu. Saya juga baru tahu kalau ternyata Eros sang Dewa Cinta ternyata juga bisa jatuh cinta (ya iyalah).

Sebenarnya saya ingin menuliskan kutipan-kutipan favorit sehubungan dengan pesan moral dan scene-scene yang bikin ngakak. Tapi karena jumlahnya kebanyakan, ga jadi deh, haha.

Ngomong-ngomong sama seperti buku sebelumnya, saya masih sedikit tidak rela dengan ilustrasi para Pahlawan di buku ini. Bukan karena tidak bagus, tapi rasanya sayang saja kalau ilustrasinya tidak secakep penggambaran Percy. Tahulah, setiap Pahlawan selalu saja digambarkan memiliki wajah yang rupawan, namun lagi-lagi gambarnya seperti paman-paman jenggotan, *plaakpart2*.

At last, saya rasa buku ini pantas mendapatkan¬†5 dari 5 bintang. It was amazing deh¬†menurut sayaūüėÄ

***

Judul: Percy Jackson’s Greek Heroes¬†| Pengarang: Rick Riordan | Penerbit:¬†Noura Books¬†| Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan I, Februari¬†2016¬†| Tebal: 490¬†halaman | Status:¬†Koleksi pribadi¬†| Rating saya: 5 dari 5 bintang¬†

Posted in Non Review

Posting Bareng BBI Juni 2016: #BBIBookishConfession

Halo…., ketemu lagi di Posting Bareng BBI 2016.

Bulan ini temanya adalah #BBIBookishConfession. So, para BBI-ers ditantang untuk membuat pengakuan sehubungan dengan aktivitasnya sebagai bookish. Whuah, pas sekali membuat pengakuan di bulan yang penuh ampunan ini, #edisiramadhan.

Ngomong-ngomong sebenarnya, saya punya banyak hal untuk diakui. Secara saya sudah gemar “megang-megang” buku sejak kecil. Dari doyan kasih nama dan tanggal beli di halaman pertama buku dengan tulisan yang aduhai jeleknya, ngasih selotip norak untuk melekatkan sampul plastik, sampai numpahin kopi ke buku yang lagi di baca, *selfkeplak*.

Tapi dari semuanya, ada 3 hal yang menurut saya paling membuat saya, errr…, merasa sedikit berdosa,ūüėĄ. 3 hal itu adalah:

Saya mengaku kalau saya pelit meminjamkan buku ke orang lain

Yah, ini tidak lepas dari pengalaman buruk di masa lalu, *lebay*. Pertama kalinya saya meminjamkan buku koleksi pribadi ke teman-teman, sampulnya sobek. Buku kedua, punggung bukunya koyak. Bahkan ada beberapa buku yang tidak kembali.

Seharusnya itu bukan masalah sih, toh itu cuma buku kan?, hahhah.  Tapi di kota terpencil seperti kota saya, buku termasuk barang yang susah didapat dan harganya mahal.  Saya mengharapkan para peminjam bisa menjaga buku yang mereka pinjam dengan sebaik-baiknya. Meskipun sudah hukum alam juga sih, kalau buku sudah sering dipinjamkan ke sana-sini, kondisinya pastilah berbeda dengan kalau cuma kita sendiri yang baca.

Tapi sekarang saya sudah insaf kok. Yang mau pinjam buku-buku saya silakan. Kecuali buku-buku tersebut sudah sangat langka, maka saya akan sangat selektif untuk memilih¬†si peminjam, *pelitnya masih tersisa*.ūüėĄ

Cuma saya orangnya ga enakan buat menagih buku yang dipinjam. Jadi kalau ga dikembalikan, serius, saya bakalan kasihkan saja bukunya. Tapi jujur, saya bakalan dongkol dan bakalan ingat untuk tidak meminjamkan buku lagi ke orang tersebut, *edisidendamnyipelet*.

Saya mengaku kalau saya pernah kalap akut saat membeli buku

Pertama kalinya tinggal di kota besar untuk kuliah, dengan jarak Toko Gramedia yang cuma sejam, membuat saya kalap.

Timbunan saya memenuhi rak meja belajar, sampai buku-buku kuliah mengungsi ke kotak bekas air mineral. Bahkan baju di lemari pun harus berbagi tempat dengan buku.

Uang beasiswa yang didapatkan dengan susah payah juga berakhir menjadi novel-novel tebal. Ayah sampai marah. Awalnya beliau bangga karena anaknya doyan baca buku, sekarang beliau sepertinya berpikir ulang.

Untuk mengerem kekalapan saya, dulu ortu sampai mengancam untuk tidak membelikan baju lebaran. Saya sih enjoy saja, bukannya tidak ada baju buat lebaran tidak apa-apa, huehehe. Lagian saya tidak percaya, masa sih, ortu tega tidak membelikan saya baju baru. Eh tapi ternyata ancamannya serius, saya benar-benar tidak dibelikan baju baru buat lebaran. Sedih juga ternyata, secara ortu, kakak adek, kakek nenek, paman bibi, dan tetangga-tetangga pada pakai baju baru, cuma saya yang pakai baju tahun lalu.

Terus apakah sekarang saya insaf? Ya karena sekarang saya sudah balik lagi ke kota kecil yang tidak ada toko bukunya, saya insaf. Tapi tak tau deh kalau nasib kembali membawa saya untuk berdomisili di tempat yang ada toko buku se-level Gramedia, dan karena sekarang saya sudah punya gaji sendiri,  mungkin tidak, *eh*.

Saya mengaku kalau saya tidak enak memberi rating rendah terhadap buku sejelek apapun buku itu

Sebelum kuliah, buku bacaan saya terbatas. Kalau pergi liburan ke Banjarmasin, buku-buku yang saya beli pastilah buku sejuta umat. Hasilnya, sudah terlalu melekat di pikiran saya, kalau semua buku itu bagus.

Tapi setelah saya kuliah di kota besar, saya mulai berani membeli buku-buku yang baru terbit atau yang belum populer.

Dan akhirnya, saya menyadari kalau tidak semua buku ditulis dengan bagus. Saya juga baru menyadari ada banyak genre buku, yang mana meskipun ditulis dengan bagus, belum tentu cocok dengan selera seseorang. Saya juga baru menyadari, meskipun sebuah buku ditulis dengan baik, ada hal-hal tertentu—seperti tokoh utama yang menyebalkan—yang dapat memberikan efek karena nila setitik rusak susu sebelanga terhadap buku.

Awalnya, saya merasa yakin untuk memberikan bintang 1 atau bintang 2 terhadap buku yang tidak saya suka. Tapi selalu saja, setelah saya pikir-pikir kembali, kok rasanya saya kejam sekali ya, hahhah. Saya jadinya selalu mencari -cari alasan untuk memberikan buku tersebut setidaknya 3 bintang.

Penilaian saya jadi bias. Rasanya saya tidak tega mengatakan kalau sebuah buku itu jelek. Meskipun jeleknya itu cuma pendapat saya.

Gara-gara sifat ga enakan ini, saya jadi kesal¬†sendiri. Soalnya saya pernah jadi “korban¬†rating bagus”, tapi¬†ketika membaca bukunya, saya … eh … kurang suka. Tapi, seperti yang sudah saya bilang sebelumnya, saya tidak tega memberi rating jelek, alhasil, buku tersebut juga saya kasih rating yang bagus, *kenakeplak*.

Jadi pesan moralnya, kepada kalian yang sering melihat rating-rating saya untuk sebuah buku, tolong jangan terlalu dipercaya ya. Terutama untuk buku-buku yang saya beri rating 3, huehehe, *kabur*.

***

Oke deh, itulah pengakuan-pengakuan saya. Yuk intip pengakuan para BBI-ers lain di sini. Kocak-kocak dan ajaib-ajaib loh. Saya bahkan¬†masih terheran-heran karena ada beberapa hal tertentu tentang buku yang saya anggap sah-sah saja, tapi ternyata merupakan hal yang “tidak sah” bagi para bookish lain. Jadi dapat pesan moral baru, tentang sesuatu yang sederhana buat kita, belum tentu sederhana buat orang lain, *tsaaah*.

At last, sampai jumpa lagi di posting bareng bulan Juli yaaaaa. Daaaah.

 

Posted in Books, Dystopia, Fantasy, Mizan Fantasi, Veronica Roth

Allegiant Review

Selesai bacanya  seminggu yang lalu, tapi sampai sekarang belum bisa move on dari Allegiant,*halah*.

Allegiant versi bahasa Indonesia ini terbitnya sudah lumayan lama.  Sayangnya saya baru sempat baca sekarang. Untungnya saya berhasil menghindari spoiler sampai sejauh ini.

Oke, pertama-tama, just FYI, saya tidak pernah terlalu bermasalah dengan trilogy Divergent. Menurut saya Divergent series ceritanya oke-oke saja. Paling-paling di buku pertama saya sempat merasa sedikit jengkel karena waktu itu rasanya dunia Divergent terlalu dipaksakan. Tapi kemungkinan besar itu karena sebelumnya saya membaca The Hunger Games dan Delirium secara berturut.

Dari ketiga bukunya, saya paling suka dengan Insurgent. Ironisnya, saya belum punya Insurgent. Waktu itu saya meminjam Insurgent dari perpustakaan. Jadi koleksi trilogi Divergent saya masih bolong satu. Beberapa kali ke toko buku tapi saya tidak menemukan lagi Insurgent cover lama, yang ada cuma cover film. Jadi sabar saya deh, semoga nanti berjodoh dengan Insurgent sampul lama biar matching ketiga-tiganya.

Saya masih ingat waktu itu ending Insurgent membuat saya penasaran dengan dunia di luar pagar. Nah, di Allegiant, semuanya terungkap.

Tris dan kawan-kawan menjalankan misi keluar pagar. Setiba diluar, mereka dihadapkan pada kenyataan yang menyakitkan. Salah satunya adalah bahwa mereka selama ini ternyata hanya dianggap sebagai obyek eksperimen alih-alih manusia. Selain itu, ada kesenjangan sosial antara divergent dan non divergent. Non divergent dianggap memiliki gen yang cacat. Mereka hanya dianggap sebagai pembuat masalah.

Sementara itu, di dalam pagar. Perselisihan antara factionless dan allegiant terus berlanjut. Saat perang hampir terjadi, Pemerintah di luar pagar memutuskan untuk melakukan sesuatu. Sesuatu yang dianggap keterlaluan oleh Tris. Sehingga lagi-lagi, Tris melakukan sesuatu yang sangat berbahaya.

Well, setelah membaca ending buku ini, saya merasa seperti … errr … kalau meminjam istilah TimeRiders … seperti dihantam gelombang waktu. Tiba-tiba kisah Tris di Divergent dan Insurgent terpampang kembali. Ada semacam rasa rindu dan juga penyesalan dengan apa yang terjadi di ending.

At last, saya beri 4 bintang deh untuk Allegiant karena sudah berhasil membuat saya baper berhari-hariūüėĄ

***

Title: Allegiant | Author: Veronica Roth | Genre: Dystopia | Edition language: Indonesian | Translator: Nur Aini & Indira Briantri Asni  | Publisher: Mizan Fantasi | Edition: Bahasa Indonesia, Cetakan IX, Juli 2015 | Page: 551 pages |  Status: Owned book | My rating: 4 of 5 stars

Posted in Books, Fairytale Retellings, Fantasy, Marissa Meyer, Review 2016, Spring, The Lunar Chronicles, Young Adult

Scarlet Review

 

***

“Oh Nenek, mengerikan sekali gigi nenek yang Besar-besar itu.”

“Agar aku bisa memakanmu dengan lebih baik, Sayangku.”

Kutipan yang memorable dari dongeng Si Tudung Merah ya? ^^

Buku fairy tale retelling kedua dari seri The Lunar Chronicles. Dari gambar kerudung merah dikovernya, sudah cukup jelas giliran dongeng mana yang sekarang diceritakan kembali.

Sebelumnya, saya sudah pernah membaca versi retelling dari dongeng Si Tudung Merah dalam buku Sisters Red karya Jackson Pearce. Di buku itu, nama tokohnya juga Scarlet, yang belakangan baru saya ketahui kalau scarlet itu ternyata adalah sebuah warna. Di buku itu, tokoh Scarlet diceritakan sebagai gadis berambut merah yang gampang meledak-ledak dan tidak berpikir panjang. Di Scarlet karya Marissa Meyer ini juga begitu. Scarlet juga digambarkan dengan rambut merah dan sifatnya yang gampang marah.

Dongeng Si Tudung Merah adalah salah satu dongeng yang paling melekat di otak saya karena sejak kecil saya sudah punya bukunya yang sudah saya baca berulang kali.

Saat membaca Sisters Red, sedikit sulit bagi saya untuk menerima versi retelling-nya karena ceritanya sangat berbeda dengan versi aslinya. Di dalam pikiran saya sudah terlalu melekat kalau cerita Si Tudung Merah hanyalah sebatas gadis kecil bertudung merah yang mengantar kue ke rumah neneknya di hutan. Alih-alih menemui neneknya, si gadis malah menemui serigala yang menyamar menjadi sang nenek. Si nenek yang ternyata sudah terlebih dahulu mengetahui kedatangan serigala meminta pertolongan kepada tukang kayu. Mereka datang tepat waktu untuk menyelamatkan si gadis bertudung merah. Selesai.

Sebelumnya, saya juga yakin kalau saya bakalan kesulitan menerima versi retelling Scarlet. Tapi ternyata saya salah. Menurut saya, Marissa Meyer lagi-lagi berhasil menulis retelling yang sempurna untuk dongeng Si Tudung Merah.

Apa yang identik dari¬†dongeng Si Tudung Merah bisa ditemukan di Scarlet. Gadis bertudung merah yang mencari neneknya. Serigala licik yang pandai menipu. Ditambah dengan kutipan-kutipan dari dongeng aslinya yang terselip di setiap “chapter”. Saya rasa saya bisa merasakan sensasi yang sama seperti saya membaca dongeng Si Tudung Merah yang asli. Meskipun Cinder dan Pangerannya masih jadi tokoh penting di kisah iniūüėĄ.

Ya, jadi Cinderella modern kita bertemu dengan Si Tudung Merah. Cinder yang sekarang jadi buronan mencari nenek Scarlet. Untuk apa? Silakan baca sendiri kisahnya. Yang pasti dari belahan bumi yang berbeda, mereka berdua sama-sama mencari si nenek.

Dalam petualangannya, Cinder bertemu dengan pencuri bernama Thorne yang sifatnya mengingatkan saya dengan salah satu pangeran Disney yang lainūüėČ. Sedangkan Scarlet bertemu dengan pemuda bernama Wolf yang menawarkan diri untuk membantu Scarlet menemukan sang nenek.

Sementara itu, status Cinder sebagai buronan membuat Pangeran Kai menghadapi masalah besar. Si Ratu Bulan semakin seenaknya menekan Kaisar muda tersebut demi misinya untuk menaklukkan Bumi.

At last, seri ini semakin seru. Saya suka bagaimana dongeng tradisional yang manis dipadukan dengan aksi-aksi pertempuran yang hebat dengan setting masa depan lengkap dengan teknologinya yang canggih.  4 dari 5 bintang untuk Scarlet. I really liked it.

***

Judul: Scarlet | Series: The Lunar Chronicles #2 | Pengarang: Marissa Meyer | Penerbit: Spring | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan I, Februari 2016, 444 halaman | Penerjemah: Dewi Sunarni | Status: Owned book | Beli di: Online @ bukabuku.com | Rating saya: 4 dari 5 bintang