Proyek Cinta Perpustakaan

proyek-cinta-perpustakaan Hai guys \^_^/

Hari ini saya mau cerita nih. Tadi kan saya ke perpustakaan. Lebih tepatnya ke Perpustakaan Daerah Kota Banjarbaru Kalimantan Selatan. Terus…terus…perpustakaan Banjarbaru ternyata dapat tambahan rak baru lengkap dengan beberapa buku baru juga. Duh….senangnyaaaaaa.

Ini nih penampakan rak barunya. Maaf ya fotonya seadanya, soalnya tadi saya sambil malu-malu ngambilnya gara-gara ada beberapa anak SMA yang mungkin ilfil lihat tante-tante alay jeprat-jepret rak perpustakaan :D

rak_baru_perpus_bjb

Lalu, perasaan senang saya tadi, sayangnya cuma sesaat. Tiba-tiba saya ingat kalau saya bakalan tidak bisa rutin lagi berkunjung ke perpustakaan ini. Ya saya bakalan balik ke kampung halaman saya di kota Amuntai (kurang lebih 4 jam perjalanan dari kota Banjarbaru) karena dapat pekerjaan tetap di sana. Paling maksimal saya masih di kota Banjarbaru sampai bulan Juni.

Dan saya jadi galau mendadak. Ini berarti adalah bulan-bulan terakhir saya mengunjungi Perpustakaan Daerah Kota Banjarbaru. Saya lalu bertekad untuk rutin mengunjungi perpustakaan ini setidaknya satu minggu sekali sejak hari ini plus meminjam dan membaca buku-bukunya sebanyak yang saya bisa. *ah masa*.

Maka ide untuk mengadakan Proyek Cinta Perpustakaan ini pun tercetus. *halah*. Proyeknya sederhana saja kok, yaitu membaca buku-buku dari perpustakaan dan menyingkirkan untuk sementara timbunan saya sendiri yang sudah menggunung. :D Meskipun ini proyek pribadi sebagai ungkapan cinta saya kepada perpustakaan *lebay*, tapi teman-teman yang pengen ikut boleh saja kok. Syaratnya mudah saja:

  1. Cukup pinjam dan atau baca buku dari perpustakaan di kota kalian.
  2. Share foto bukunya. Pastikan label buatan perpustakaannya terlihat sebagai bukti kalau buku tersebut memang dipinjam dari perpustakaan  :D
  3. Jangan lupa mention saya dengan hashtag #ProyekCintaPerpustakaan di akun FB: Ira Mustika, atau Twitter: @irabooklover.
  4. Yang mau sekalian me-review bukunya juga boleh. Silakan tinggalkan link review kalian di kolom komentar di post review buku perpustakaan saya yang mana saja selama tahun 2015. Reviewnya boleh di akun media sosial mana saja selama memungkinkan. Ga harus di blog kok.
  5. Proyek ini berlangsung dari tanggal 19 Januari – 31 Desember 2015. Diakhir periode saya akan membuat Wrap Up Post sekalian menghitung seberapa banyak buku yang sudah saya pinjam dari perpustakaan. Silakan laporkan hasil kalian juga di kolom komentar Wrap Up post saya nanti.
  6. Oh ya jangan lupa pasang button Proyek Cinta Perpustakaan di bawah di sidebar blog dan di setiap post review kalian bagi yang membuat review-nya di blog.

proyek-cinta-perpustakaanNah teman-teman ayo ikut ramaikan proyek ini dan tunjukkan cintamu kepada perpustakaan dengan membaca buku-bukunya \^_^/

Wonder Review

wpid-img_20150522_141826.jpg

***

“Maukah kita membuat sebuah aturan baru dalam hidup … selalu berusaha untuk lebih berbaik hati dari yang seharusnya?”

—hal 408

Hei, saya suka sekali dengan Wonder. Sebenarnya saya sudah bisa menebak dari blurb-nya kalau Wonder ini ceritanya pasti seperti ini. Tapi, somehow, Wonder tetap indah dengan kisahnya sendiri.

Wonder menceritakan tentang seorang anak laki-laki bernama August Pullman yang lahir dengan kelainan Mandibulofacial Dysostosis. Kelainan ini membuat wajah Auggie menjadi … errr … tidak biasa. Auggie sebenarnya sudah terbiasa melihat reaksi orang saat memandang wajahnya. Tapi kekuatan hati Auggie benar-benar diuji saat dia mulai sekolah di sekolah menengah. Yah bayangkan saja, bahkan anak normal pun kadang memiliki kesulitan saat sekolah di sekolah menengah dimana menjadi anak populer adalah hal yang populer, *eh*.

Tapi seperti kata papa dan mamanya Auggie, akan selalu ada orang baik dan orang jahat di dunia, dan mereka yakin jumlah orang baik akan selalu lebih banyak dari orang jahat. Jadi, sebanyak apa pun anak yang mengejek Auggie karena wajahnya yang buruk rupa, Auggie tetap punya teman-teman yang baik seperti Jack dan Summer.

Ngomong-ngomong tokoh favorit saya adalah Jack. Keberanian Jack untuk meminta maaf itu loh, membuat saya merasa malu. Dulu waktu SMP saya pernah bertengkar hebat dengan teman dan saya malu untuk meminta maaf duluan.

Saya juga suka dengan keluarga Pullman. Dad, Mom, dan kakaknya Auggie, Via, sangat menyenangkan dan baik hati. Sebuah keluarga hangat yang saling menyayangi. Auggie benar-benar jauh lebih beruntung daripada teman-temannya dalam hal ini.

So, Wonder mengajarkan banyak hal kepada saya. Keberanian untuk meminta maaf. Untuk lebih berbaik hati dari yang seharusnya. Untuk dapat melihat dengan hati. Dan masih banyak lagi. Oh ya, Wonder juga berhasil membuat saya menitikkan air mata (kalau ini saya memang cengeng jadi abaikan saja) :D. At last, 4 dari 5 bintang untuk Wonder. I really liked it.

***

Judul: Wonder | Pengarang: R.J. Palacio | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan I, September 2012 | Penerbit: Atria | Penerjemah: Harisa Permatasari | Jumlah halaman: 428 halaman | Status: Owned book (3rd Banjarbaru Book Fair 2015) | Rating saya: 4 dari 5 bintang

***

Review ini diikutkan dalam event New Authors RC 2015, dan Lucky No. 15 RC Category One Word Only

narc2015

lucky-no15

Liesl & Po Review

wpid-img_20150521_074629.jpg

***

Hal pertama yang saya suka dari buku ini adalah ilustrasinya. Indah sekali. Rasanya seperti membaca sebuah buku dongeng.

Eh tapi cerita Liesl & Po memang seperti dongeng. Hanya saja ceritanya agak suram. Ceritanya bersetting di sebuah dunia tanpa warna. Segalanya tampak abu-abu. Dan yang paling parah adalah tidak ada mentari yang bersinar di dunia Liesl.

Liesl sendiri adalah seorang gadis kecil yang dikurung oleh ibu tirinya di dalam loteng. Di loteng inilah Liesl menerima kunjungan dari Po dan Bundle. Po mengaku dirinya dan Bundle adalah hantu. Bentuk Po hanya seperti bayangan seorang anak, entah laki-laki atau perempuan, pokoknya Po adalah Po. Bundle berbentuk seperti bayangan binatang, entah anjing atau kucing, yang pasti Bundle adalah Bundle. Untunglah Po dan Bundle adalah hantu yang sangat baik. Liesl meminta Po mencari ayahnya yang baru saja meninggal. Sebagai balasan, Po hanya meminta Liesl untuk membuatkan gambar untuknya.

Po berhasil menemukan ayah Liesl. Pesan dari ayah Liesl membuat Liesl yakin untuk menguburkan abu ayahnya ke sebuah tempat kenangan di dekat pohon willow. Bersama Po dan Bundle, Liesl nekat memulai perjalanan yang jauh.

Sementara itu, sementara Liesl duduk menggambar di lotengnya, ada seorang anak bernama Will, yang terus memandang Liesl. Will adalah murid seorang alkemis yang kejam. Will sangat ingin berkenalan dengan Liesl. Tapi Will tidak mempunyai keberanian.

Suatu hari, Will tidak sengaja membuat kotak milik alkemis yang berisi sihir terkuat di dunia dengan kotak abu ayah Liesl tertukar. Kecerobohan Will membuat si alkemis, seorang Lady serakah, dan ibu tiri yang jahat mengejar kedua bocah ini.

Petualangan Liesl dan kawan-kawan pun dimulai. Diperjalanan, anak-anak dan hantu-hantu ini membuat diri mereka dikejar lebih banyak orang. Nah lo, kenapa memangnya dengan mereka? Padahal anak-anak ini cuma ingin menguburkan abu ayah Liesl di tempat yang layak. Tanpa mereka sadari, misi sederhana ini ternyata menghasilkan peristiwa-peristiwa yang menakjubkan.

Wow, saya suka sekali dengan cerita petualangan Liesl & Po. Saya suka dengan tipe cerita anak-anak yang bisa menghangatkan hati seperti ini. Tidak peduli jika kita tinggal di dunia sesuram apapun, kalau kita mempunyai hati yang luas, maka kita bisa membuat dunia tersebut kembali berwarna dan bahkan bisa membuat matahari bersinar kembali.

Ngomong-ngomong ending dan catatan penulis cerita ini sedikit mengingatkan saya dengan  The Tale of Despereaux karya Kate DiCamillo. Sesuatu seperti menemukan cahaya di dalam hati. Bedanya, ada sedikit misteri dan sihir di Liesl & Po. Dan oh ya ada hantunya juga XD

At last, saya awalnya tidak mengira kalau cerita Liesl & Po bakalan seperti ini. Saya kira ceritanya manis seperti Bliss-nya Kathryn Littlewood ketimbang seperti The Tale of Despereaux-nya Kate DiCamillo yang bisa … errr … menimbulkan cahaya :D . So, 4 dari 5 bintang untuk Liesl & Po. I really liked it.

***

Title: Liesl & Po |  Author: Lauren Oliver | Ilustrator: Kei Acedera | Edition language: Indonesian | Translator: Prisca Primasari | Publisher: Mizan Fantasy | Edition: 1st edition, April 2013 |  Status: Owned book  | My rating: 4 of 5 stars

***

Submitted for CLRP and Lucky No. 15 RC Category Cover Lust

childlit_01

and

lucky-no15

Sweetly Review

 photo sweetly_zpsamq2vxbv.jpg

***

Fairytale Retellings buku kedua. Kalau dibuku pertama kemarin saya sudah bisa menebak dongeng apa yang diceritakan ulang dari judulnya, sekarang saya tidak bisa. Setelah membaca blurb dibelakang buku, saya baru tahu kalau Sweetly berasal dari dongeng Hansel dan Gretel. Saya juga baru ngeh kalau ternyata buku ini tidak menceritakan tentang dua saudari bertudung merah lagi. Tapi saya juga keliru, saya kira Sweetly tidak ada sangkut pautnya dengan Scarlett, Rosie dan Silas. Tapi ternyata … well … silakan baca sendiri kisahnya :D

Sweetly, jauh lebih memenuhi harapan saya daripada Sisters Red. Dalam bayangan saya, seperti inilah Fairytale Retellings. Cerita Hansel dan Gretel dalam versi baru. Disini kedua saudara itu bernama Ansel dan Gretchen. Sama seperti Hansel dan Gretel, mereka juga terjebak di dalam rumah biskuit milik penyihir yang ada di dalam hutan. Namun, rumah penyihir versi Ansel dan Gretchen ini dalam bentuk toko cokelat milik seorang gadis cantik bernama Sophia yang tinggal di dekat hutan di sebuah kota kecil bernama Live Oak.

Sayangnya, Sophia sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kalau dia adalah seorang penyihir. Sophia sebaik Santa. Hanya saja ada rahasia yang sengaja dia tutup-tutupi. Namun, rahasia itu juga berhubungan dengan keluarga Sophia sehingga kedengarannya sah-sah saja kalau Sophia tidak mengungkit-ngungkit masalah pribadinya.

Ansel dan Gretchen juga mempunyai masa lalu yang buruk. Alasan kenapa mereka berdua pergi dari rumah dan tanpa sengaja terdampar di Live Oak. Untuk sementara, mereka bekerja dan tinggal di rumah Sophia untuk mengumpulkan uang. Awalnya mereka cuma berencana tinggal sehari. Namun, Sophia sepertinya selalu menemukan pekerjaan baru untuk mereka. Ansel dan Gretchen sama sekali tidak keberatan. Entah bagaimana, mereka merasa nyaman di rumah Sophia. Seakan Sophia dan cokelat-cokelatnya bisa membebaskan mereka dari masa lalu.

Meskipun Sophia sangat baik, namun orang-orang di Live Oak sangat membencinya. Pasalnya, setiap tahun Sophia selalu mengadakan festival cokelat. Dan setelah festival itu, selalu saja ada gadis yang menghilang. Selain itu ada seorang pemuda bernama Samuel Reynolds yang memperingatkan Gretchen untuk menjauhi Sophia. Namun Sam juga dianggap gila oleh orang-orang di Live Oak.

Sophia meminta Ansel dan Gretchen tinggal setidaknya sampai festival cokelat. Dan selama itu, rahasia Sophia sedikit demi sedikit mulai terkuak. Dengan bantuan dari Sam, Gretchen menemukan banyak hal tentang masa lalu Sophia. Rahasia dibalik festival cokelat dan alasan kenapa para gadis menghilang. Jadi, benarkah Sophia seorang penyihir?

Wow, manis dan mencekam. Saya jauh lebih suka Sweetly. Suasana Hansel dan Gretel-nya berasa sekali. Meskipun saya rasa alurnya sangat lambat sehingga kadang-kadang saya merasa bosan.

Saya juga lebih suka dengan Ansel dan Gretchen daripada dengan Scarlett dan Rosie. Ansel sangat pandai melakukan pekerjaan apa saja dan Gretchen sangat tangguh. Keduanya juga sangat pemberani. Saya juga suka dengan Sam. Tapi kalau dibandingkan dengan Silas sepertinya mereka sebanding.

At last, 4 dari 5 bintang untuk Sweetly. I really liked it.

***

Judul: Sweetly | Seri: Fairytale Retellings #2 | Pengarang: Jackson Pearce | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan I, November 2011 | Penerjemah: Ferry Halim | Jumlah halaman: 401 halaman | Status: Owned book (Pesta Buku Murah Perpustakaan Banjarbaru 2015) | Rating saya: 4 dari 5 bintang

***

Review ini diikutkan dalam event Lucky No. 15 RC Category One Word Only

lucky-no15

Selamat Hari Buku Nasional 17 Mei 2015

wpid-img_10895691591359.jpeg

 

Selamat hari buku nasional \^_^/

Untuk memeriahkan hari buku ini, Divisi Event Blogger Buku Indonesia menantang para BBI-ers untuk ngefoto koleksi buku asli Indonesia milik masing-masing. Nah, saya dari tadi pagi sudah membongkar rak buku saya untuk mencari buku karangan penulis Indonesia. Saya sempat khawatir karena buku asli Indonesia saya tidak banyak.

Eh tapi setelah dikumpulkan ternyata lumayan banyak juga meskipun tidak banyak-banyak amat dan maksa dibanyak-banyakin dengan menambahkan koleksi Pustaka Ola saya ke dalam tumpukan :D

Oke ini dia penampakan koleksi buku asli Indonesia saya.

wpid-photogrid_1431836508462.png

Dari tumpukan di atas tinggal 3 buku yang belum saya baca. Yaitu  Who Am I? 2, Who Am I? 3 karya @PsikologID dan Miracle Journey karya Yudhi Herwibowo.

Ngomong-ngomong setelah melihat tumpukan buku ini, saya baru ingat kalau dulu saya ingin mengoleksi semua buku Pustaka Ola, buku-buku karangan Andrea Hirata, Habiburrahman El-Shirazy, dan A. Fuadi. Saya juga ingin mengoleksi buku-buku klasik Balai Pustaka dan ingin membeli semua seri Supernova.  Tapi semuanya baru sekedar wishlist. Sekarang, wishlist-nya nambah. Saya ingin mengoleksi seri Love Flavour dan juga buku karangan Tere Liye :D

Diantara semua koleksi di atas, saya paling suka dengan buku karangan Andrea Hirata yang menurut saya Indonesia banget. Saya juga suka buku karangan Tere Liye yang mengambil tema serupa seperti Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah. Oh ya ada juga buku Anak Rembulan karya Djokolelono. Saya harap, ada banyak buku-buku seperti itu lagi.

Terus kalau saya lihat di toko buku, sekarang buku-buku karya asli Indonesia cover-nya kece-kece. Saya sampai bingung mau membeli yang mana. Saya harap semoga isinya juga sebagus sampulnya.

Dari tadi sepertinya saya berharap-berharap terus ya, hahaha. Oke deh harapan terakhir saya di hari buku nasional ini adalah semoga kami-kami yang tinggal di kota kecil bisa mendapatkan akses mudah ke buku-buku baik buku nasional maupun terjemahan. Untunglah sekarang ada satu penerbit yang rutin mengadakan pesta buku di kota kecil  saya. Ada juga program pesta buku murah yang di adakan perpustakaan daerah setiap tahunnya. Dan nanti, saya harap, juga ada toko buku besar di sini.

At last, selalu berharap yang terbaik deh untuk dunia literatur Indonesia. Selamat Hari Buku Nasional \^_^/

Sisters Red Review

 photo sisters_red_by_jakcson_pearce_uploadedby_irabooklover_zpsqxvwua4j.jpg

***

Fairytale Retellings. Saya biasanya suka dengan tipe cerita seperti ini. Dilihat dari judulnya sudah bisa ditebak kalau dongeng yang diceritakan kembali ini berasal dari cerita si tudung merah. Selain itu, covernya keren dan blurb di cover belakangnya juga menarik.

Sisters Red menceritakan tentang dua saudara perempuan, Scarlett dan Rosie March yang diserang serigala jadi-jadian (Fenris) di pondok kayu nenek mereka di hutan sewaktu mereka masih kecil. Serangan itu menewaskan si nenek dan membuat Scarlett kehilangan sebelah matanya dalam usahanya untuk melindungi sang adik.

Scarlett jadi terobsesi untuk memburu Fenris. Bersama Rosie, Scarlett sengaja memancing para Fenris yang gemar menyantap para gadis dengan tudung merah mereka karena Fenris lebih tertarik dengan warna merah. Saat Fenris yang mereka incar terpikat dan mulai berubah menjadi serigala, kedua bersaudari ini tidak akan pernah membiarkan si Fenris lolos.

Bersama mereka, juga ada Silas, seorang pemuda anak tukang kayu yang tinggal di dekat pondok nenek mereka. Silas beberapa tahun lebih tua dari Scarlett. Silas juga seorang pemburu Fenris walaupun dia sempat “cuti” selama setahun dan membuat Scarlett marah.

Karena bagi Scarlett, tidak ada yang lebih penting daripada memburu Fenris. Dan meskipun sempat marah kepada Silas, Scarlett tetap menganggap kelompok mereka sempurna. Apalagi dia dan Rosie seperti memiliki sebuah jantung yang sama. Pokoknya bagi Scarlett, hidup adalah untuk berburu Fenris. Untuk melindungi gadis-gadis lugu yang tidak tahu apa-apa tentang bahaya yang mengintai mereka. Sudah menjadi tugas mereka bertiga untuk membunuh para Fenris karena hanya merekalah yang tahu kalau para Fenris bukan hanya sekedar dongeng.

Rosie, sebagai seorang adik yang merasa berhutang nyawa kepada Scarlett, bersedia ikut memburu Fenris. Rosie memang tidak terlalu kuat bertarung tapi sangat cantik dan cerdik. Dengan tudung merahnya, dia selalu berhasil menarik perhatian para Fenris untuk mendekat. Rosie juga sangat jago menggunakan pisau. Bahkan lebih jago daripada Scarlett yang lebih memilih bertarung dengan menggunakan kapak.

Tapi berbeda dengan Scarlett, Rosie menganggap hidup bukan hanya untuk berburu Fenris. Rosie ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi gadis normal. Rosie ingin belajar hal-hal lain selain menjadi pemburu. Rosie bahkan sudah jatuh cinta kepada seorang pemuda. Hal ini membuat Rosie dihantui perasaan bersalah karena dia tahu Scarlett pasti marah besar kalau tahu Rosie mulai memikirkan hal-hal lain diluar berburu.

Sementara Silas lebih mendukung Rosie. Tapi Silas juga tidak melarang Scarlett untuk melanjutkan obsesinya kepada para Fenris. Hanya saja menurut Silas, jika Scarlett memang ingin menjadi pemburu, dia tidak perlu memaksanya dan Rosie untuk ikut serta.

Nah, konflik ketiga tokoh inilah yang saya rasa sangat mendominasi dalam cerita ini. Cerita tentang perburuan Fenris sendiri seakan-akan hanya sebagai pelengkap. Benar memang kalau petualangan Scarlett, Rosie dan Silas selalu diwarnai dengan pertarungan mereka dengan para Fenris. Aksi Scarlett dan Rosie juga keren. Tapi tetap saja saya rasa perburuan mereka terkesan acak dan tidak terencana. Mereka hanya keluar dan membuat para Fenris yang kebetulan lewat termakan umpan tudung merah mereka. Setelah Fenris tersebut mati, mereka akan berburu lagi entah sampai kapan. Sementara jumlah Fenris sangat banyak dan tersebar di mana-mana.

Saya sempat bernapas lega saat sampai pada bagian dimana petualangan ketiga pemburu ini sepertinya akan membawa mereka pada sebuah kesempatan untuk menghancurkan para Fenris selamanya. Namun, bahkan aksi ini pun saya rasa masih kurang greget karena konflik antara ketiganya juga semakin memanas.

So, saya rasa, Sisters Red, sedikit berada di bawah ekspektasi saya. Tapi diluar itu, saya suka dengan aksi-aksi heroik dua saudari bertudung merah ini. Scarlett sangat tangguh dan Rosie sangat pintar. Mereka berani sendirian melawan para monster yang pernah menanamkan mimpi buruk kepada mereka. Mereka bahkan sengaja menjadikan diri mereka umpan agar monster itu dapat dimusnahkan. CoolAt last, 3 dari 5 bintang deh untuk Sisters Red. I liked it.

***

Judul: Sisters Red – Dua Saudari Bertudung Merah | Seri: Fairytale Retellings #1 | Pengarang: Jackson Pearce | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan I, Februari 2011 | Penerjemah: Ferry Halim | Jumlah halaman: 432 halaman | Status: Owned book (3rd Banjarbaru Book Fair 2015) | Rating saya: 3 dari 5 bintang

***

Review ini diikutkan dalam event New Authors RC 2015, dan Lucky No. 15 RC Category Bargain All The Way

narc2015

lucky-no15

Dunia Anna Review

 photo dunia_anna_by_jostein_gaarder_zpspsnhi57a.png

***

Salah satu hasil tangkapan dari stand Mizan di pameran hari jadi kota tercinta :D

Dunia Anna. Satu buku lagi dari salah satu pengarang favorit saya. Setelah membaca blurb di belakang buku, saya kira Dunia Anna ceritanya tidak bakalan jauh berbeda dengan karya-karya Jostein Gaarder sebelumnya. Surat dari nenek ke cucu mengingatkan saya dengan Gadis Jeruk. Kemampuan nenek menebak kalau nama cucunya nanti adalah Nova mengingatkan saya dengan Misteri Soliter. Judul “Dunia Anna” beserta sub judul “Sebuah Novel Filsafat Semesta” mengingatkan saya dengan Dunia Sophie.

Eh tapi setelah selesai membaca, ceritanya ternyata sangat berbeda. Dunia Anna mengangkat tema lingkungan. Dan sama seperti Dunia Sophie yang mampu menggerakkan saya untuk merapikan benda-benda ala Aristoteles, sama seperti Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken yang mendorong saya untuk memiliki perpustakaan sendiri, Dunia Anna juga mampu membuat saya tersadar untuk melakukan aksi penyelamatan lingkungan sekarang juga.

Gaya penceritaan Dunia Anna juga berbeda. Bukan ala buku surat seperti Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken. Bukan pula surat seperti Gadis Jeruk. Bukan pula gaya ceramah seorang asing ala Dunia Sophie. Dunia Anna diceritakan lewat mimpi-mimpi dan artikel-artikel random yang dikumpulkan Anna lewat berbagai sumber.

Dunia Anna. Dari judulnya sendiri sudah bisa ditebak kalau ceritanya tentang dunianya Anna. Entah dunia ini cuma rekaan Anna atau memang benar-benar terjadi saya juga tidak tahu. Tapi di dunia ini, Anna seakan-akan bisa menjadi orang atau sesuatu yang lain lewat mimpinya.

Di dalam dunia Anna, kita bisa membaca tentang filsafat, isu lingkungan, dan dongeng sekaligus. Dongeng tersebut adalah dongeng Aladin dari kisah 1001 malam. Apa hubungannya filsafat, isu lingkungan dan dongeng Aladin? Banyak sekali ternyata. Kalau kita bisa menghubungkan ketiganya, maka kita masih mempunyai harapan untuk menyelamatkan lingkungan yang terancam pemanasan global ini dengan hati gembira *lebay*.

At last, saya suka sekali dengan Dunia Anna, dan 5 dari 5 bintang selalu untuk Jostein Gaarder. It was amazing.

***

Title: Dunia Anna  |  Author: Jostein Gaarder | Edition language: Indonesian | Publisher: Mizan | Penerjemah: Irwan Syahrir | Edition: Cetakan IV, Februari 2015 |  Page: 244 pages | Status: Owned Book (Stand Mizan, Pameran Hari Jadi Kabupaten Hulu Sungai Utara Ke-63, 4 Mei 2015)  |  My rating: 5 of 5 stars

***

Review ini diikutkan dalam even  Lucky No.15 RC Category Something New

lucky-no15

Alice’s Adventures in Wonderland Review

***

Sama seperti cerita The Wonderful Wizard of Oz yang saya baca beberapa waktu yang lalu,  saya juga sudah sering mendengar atau melihat tentang Alice, tapi belum pernah membaca cerita aslinya. Saya sudah pernah menonton salah satu film Alice yang ada Johnny Depp-nya itu (lupa tahun berapa dan versi dari siapa) dan kesan pertama saya setelah menonton film tersebut adalah seram.

Setelah membaca versi ebook-nya, kesan saya tetap seram. Entah karena ilustrasi yang ada di ebook ini atau karena saya sudah terlanjur membayangkan kalau makhluk-makhluk yang hidup di wonderland itu seseram yang ada di versi filmnya.

Ternyata ebook yang saya baca dengan versi film yang saya tonton berbeda (ya iya lah, hahhah). Oh ya, saya mendownload ebook sekalian dengan audio booknya, dan ternyata berbeda juga. Saya jadi berburu ebook Alice untuk mencari versi yang sama dengan yang ada di audio book. Akhirnya ketemu ebook versi di atas lengkap dengan ilustrasi dari Arthur Rackham.

Saya merasa jadi anak-anak setelah membaca petualangan Alice. Saya betul-betul percaya kalau Alice memang terjatuh kedalam lubang kelinci dan berpetualang di Wonderland. Tapi setelah membaca keseluruhan ceritanya, sama seperti saat saya membaca The Wonderful Wizard of Oz, saya kaget sekali kalau ternyata cerita aslinya seperti ini. Mungkin ini sebabnya ya kenapa cerita Alice sangat terkenal dan sudah berkali-kali diadaptasi ke dalam film.

Saya rasa cerita petualangan Alice mengandung pesan bahwa sebagai anak-anak, kita bisa membuat situasi yang membosankan menjadi seru hanya dengan hal-hal yang sederhana. Kesederhanaan untuk bahagia ala anak kecil.

Tapi tetap saja, menurut saya cerita Alice sedikit seram. At last, 3 dari 5 bintang Alice. I liked it.

***

Judul: Alice’s Adventure in Wonderland | Pengarang: Lewis Caroll | Edisi: Bahasa Inggris, Project Gutenberg Ebook, 19 Mei 2009 | Jumlah halaman: 175 halaman | Status: Download dari Loyal Books | Rating saya: 3 dari 5 bintang

***

Review ini diikutkan dalam event CLRP, New Authors RC 2015, dan Lucky No. 15 RC Kategori It’s Been There Forever

childlit_01

narc2015

lucky-no15