Posted in Aoyama Gosho, Books, Comic, Elex Media Komputindo

Detektif Conan Vol. 91 Review

***

Blurb:

Conan dan Heiji memusnahkan Nue. Akhirnya Kid berhadapan dengan Okiya! Ada gadis Kyoto mencolok yang terlihat mengincar Heiji dan guru ceroboh yang seperti menyembunyikan sesuatu. Kali ini mulai bermunculan banyak perempuan yang mencurigakan!

My Review

Betul, banyak perempuan yang mencurigakan >.<

Lanjutan kasus Nue. Sudah curiga kalau ternyata binatang imut itu ikut andil dalam kasus, *tumben*.

Lagi, pelajaran tentang betapa sayangnya seorang ibu kepada anaknya. Sampai-sampai si ibu rela melakukan apapun.

Terus ada kasus Kid di sini. Kok saya nangkapnya kali ini Kid gagal ya? Cuma datang doang untuk menjawab tantangan, tapi tidak berhasil membuka kotak. Atau bisa juga sih saya-nya saja yang tidak ngeh, huehehe. Yang pasti kasus ini lumayan romantis kalau menurut saya. Rada bitter sweet sih. Tapi romantis ❤

Continue reading “Detektif Conan Vol. 91 Review”

Advertisements
Posted in Books, Fantasy, Gramedia Pustaka Utama, Horror, Jonathan Stroud

The Creeping Shadow Review

*spoiler alert*

***

Blurb:

Kota dikepung arwah? Kanibal bangkit dari kematian? Hanya ada satu tim pemburu hantu yang kau butuhkan… Namun Lockwood & Co. kekurangan satu agen—Lucy Carlyle sekarang jadi operatif lepas. Dan mereka kewalahan menangani pekerjaan: tapak-tapak tangan raksasa di jendela, bunyi pisau memotong-motong di dapur berhantu… Belum lagi Bayangan Mengendap—ancaman raksasa yang mengintai pekarangan gereja desa, membangkitkan para hantu dari kubur. Lockwood & Co. sangat membutuhkan bantuan Lucy. Kalau saja mereka mampu membujuknya untuk kembali…

Continue reading “The Creeping Shadow Review”

Posted in Alex Scarrow, Books, Elex Media Komputindo, Fantasy, Science Fiction, TimeRiders

The Mayan Prophecy Review

**spoiler alert**

Blurb:

LIAM O`CONNOR seharusnya meninggal di lautan tahun 1912
MADDY CARTER seharusnya meninggal di pesawat tahun 2010
SAL VIKRAM seharusnya meninggal dalam kebakaran tahun 2026


Tapi mereka bertiga diberi kesempatan kedua—untuk bekerja pada sebuah agensi yang keberadaannya tidak diketahui siapa pun. Tujuannya: mencegah perjalanan waktu menghancurkan sejarah….

Ketika Maddy akhirnya membuka fragmen rahasia yang dimiliki Becks, para TimeRiders mulai mengumpulkan tujuan mereka yang sebenarnya. Mereka berjuang sepanjang waktu untuk menghubungkan tiap petunjuk, lalu mereka menemukan penemuan purbakala dari suku Maya yang memiliki hubungan penting dengan masa lalu dan masa depan.

Namun tidak semua anggota TimeRiders dapat mengatasi penemuan ini. Salah satu dari mereka yang merasa kecewa akan timnya memutuskan untuk meninggalkan tim.

My Review

Jauh lebih seru dari buku ke-7. Menurut saya sih, hahaha. Buku ke-8 ini, awalnya sedih, endingnya nyesak.

Jadi The Mayan Prophecy diawali dengan kisah Waldstein—yang—kalau saya boleh sotoy, inilah alasan kenapa Waldstein kepengin membuat mesin waktu.

Terus, yah, endingnya bikin nyesak. Benar-benar tidak menyangka kalau akhirnya harus seperti itu. *nangis*.

So, daripada jalan-jalan tidak jelas yang berujung bencana seperti yang terjadi di buku sebelumnya, tim kali ini memutuskan untuk melakukan sesuatu yang lebih berguna. Maddy dan Liam berencana untuk memecahkan misteri kenapa Waldstein menyuruh mereka menjaga alur waktu yang jelas-jelas berjalan menuju kehancuran dunia. Tapi, Sal tidak setuju. Sal yakin mereka harus tetap mempercayai Waldstein apapun alasannya.

Tapi pemimpin tim tetap Maddy, lagipula Sal kalah suara. Maka Maddy pun meminta Beck membuka partisi terkunci di otaknya yang kemungkinan berisi petunjuk, tapi sayangnya, Beck tidak bisa. Beck hanya bisa memberi clue samar yang menuntun Maddy untuk kembali meminta bantuan Adam. FYI, Adam ini pernah muncul di buku ke-3, The Doomsday Code. Dia memilik peran penting dalam pemecahan pesan berkode yang sekarang ada di kepala Becks.

Maddy meminta Adam untuk membawa mereka ke gua tempat dimana Adam menemukan simbol kuno yang membuatnya jadi bisa memecahkan pesan berkode itu. Perjalanan itu ternyata tidak mulus. Mereka harus pergi ke Nikaragua ditahun 1994 yang saat itu masih berstatus sebagai daerah konflik. Banyak tragedi yang terjadi sebelum mereka berhasil menemukan gua tersebut.

Namun, pencarian penuh usaha tersebut tidak sepenuhnya penuh derita, *apacoba*, mereka bukan hanya menemukan gua, tapi juga menemukan reruntuhan situs kuno. Sebagai bonus, mereka bahkan menemukan ruangan  yang sepertinya tidak pantas berada di situs kuno tersebut.

Sayangnya, Maddy dan kawan-kawan benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukan. Mungkin hanya Sal, si pengenal pola yang bisa menebak-nebak bagaimana cara mengaktifkan apapun yang ada di dalam ruangan penuh simbol tersebut. Sayangnya, perhatian Sal sepertinya teralihkan oleh sesuatu yang lain.

Nah lo, apa yang harus mereka lakukan? Mereka tidak bisa seenaknya memakai teknik trial dan error karena ini bisa saja mempertaruhkan nyawa mereka sendiri dan juga nyawa orang banyak.

Haduh, membaca buku ini membuat saya gregetan sendiri. Arrrghhhh, kenapa kalian tidak begini saja? Atau kenapa kalian tidak begitu saya? Tuh kan jadinya seperti ini? dst…dst…dst. Tapi yah disitulah serunya, hahhah.

At last, menurut saya, di The Mayan Prophecy, ketegangan ala buku-buku pertama dari seri ini memang masih kurang terasa. Tapi ending nyesek-nya itu mendapat 5 dari 5 bintang dari saya. It was amazing.

***

Judul: The Mayan Prophecy | Pengarang: Alex Scarrow | Series: TimeRiders #8 | Penerbit: Elex Media Komputindo | Edisi: Bahasa Indonesia, 2017, 356 halaman | Penerjemah: Desi Natalia | Status: Koleksi pribadi | Rating saya: 5 dari 5 bintang

***

Review ini diikutkan dalam challenge:

Posted in Books, Children, Fantasy, Grace Lin

Tempat Gunung Berjumpa Rembulan Review

***

Blurb

Di sebuah gubuk reyot di kaki Gunung Nirbuah, Minli tinggal bersama kedua orangtuanya. Mereka bekerja keras setiap hari di sawah, menanam padi yang hanya cukup untuk dimakan mereka bertiga. Setiap malam, ayah Minli menuturkan dongeng-dongeng tua tentang Naga Giok, Hakim Harimau yang jahat dan serakah, serta Kakek Rembulan yang menentukan nasib setiap orang.

Minli ingin sekali mengubah nasib keluarganya. Dia memutuskan untuk berkelana menemui Kakek Rembulan. Di sepanjang jalan dia bertemu dengan teman-teman baru, termasuk naga yang tak bisa terbang dan seorang anak yatim piatu. Pencarian Minli merupakan jalinan dari dongeng-dongeng yang diceritakan ayahnya dan dari orang-orang yang ditemuinya di jalan.
Meskipun ini adalah karya asli Grace Lin, banyak tokoh, latar, dan tema-tema yang diambil dari cerita rakyat tradisional Cina. Tekad Minli untuk membantu keluarganya dan kesedihan orang tuanya karena kepergian Minli sangat menyentuh dan menginspirasi.

My Review

Baca ulang kisah Minli. Dulu saya membaca versi bahasa Inggrisnya. Reviewnya bisa di cek di sini.

Kesannya sedikit berbeda, yang pertama terasa jauh lebih bagus, tapi secara keseluruhan, ceritanya tetap indah dan penuh pesan bijak tentang kehidupan.

Efek kejutannya tetap terasa karena saya lupa sama sekali kata apa yang berhasil dilihat Minli sehingga peruntungannya berubah. Padahal itu yang paling penting, kenapa saya bisa lupa ya, hahhah.

Ngomong-ngomong, setelah membaca ulang, saya baru sadar kalau gaya penceritaan buku ini, seingat saya, kurang lebih sama dengan gaya penceritaan buku The Alchemist and The Angel. Ada cerita-cerita rakyat yang diselipkan di sana.

At last, buku ini mengembalikan mood membaca saya, setelah sebelumnya membaca buku yang entah kenapa mengingatnya pun membuat saya eneg, *maaf*. Rupanya saya memang lebih suka membaca dongeng ketimbang cerita lain, ^^.

***
Judul: Where Mountain Meets The Moon: Tempat Gunung Berjumpa Rembulan | Pengarang:  Grace Lin | Penghargaan Newbery: Newbery Honor 2010 |  Edisi bahasa: Bahasa Indonesia,  | Penerbit: Atria | Jumlah halaman: 260 halaman |   My rating: 5 of 5 stars

***

Review ini diikutkan dalam challenge:

Posted in Adventure, Books, Luis Sepulveda, Marjin Kiri

Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta Review

***

Blurb:

Di desa kecil di tengah rimba raya Ekuador, seorang kakek tua menyepi mencari kedamaian ditemani novel-novel cinta picisan yang didapatnya dari rumah bordir hilir sungai. Tapi kedamaian rupanya mustahil saat “peradaban” terus merangsek masuk menembus hutan. Ladang minyak. Demam emas. Perburuan. Alam pun membalas dendam lewat seekor macam kumbang. Seisi desa terancam dan si kakek tua tahu tak ada yang sanggup menghadapi hewan itu selain dirinya.

Kisah memukau tentang belantara Amazon dari seorang penulis Cile yang diasingkan oleh rezim militer Pinochet. Telah diterjemahkan ke lebih dari 30 bahasa dan difilmkan ke layar lebar.

My Review

Jadi setelah membaca Rumah Kertas, saya membaca buku ini, masih dalam “suasana morning sickness” dan sepertinya membaca buku ini dalam keadaan badan sedang tidak fit bukanlah ide yang bagus. Ada beberapa adegan di bukunya yang membuat saya eneg. Padahal adegan tersebut tidak ngeri-ngeri amat.

Saya tertarik membaca buku ini karena blurb-nya. Namun setelah selesai membacanya, saya merasa buku ini tidak seseru yang dijanjikan. Tetapi, mungkin kalau saya membacanya dalam keadaan sehat, kesan saya akan berbeda. Atau bisa juga ini karena saya memang kurang suka membaca kisah petualangan di belantara hutan ala ala Amazon seperti ini. Ntah kenapa kalau setting ceritanya semacam ini, saya jadi teringat film Anakonda, hohoho.

Jadi, yaaa, seperti yang blurb-nya bilang, ini cerita tentang Pak Tua yang mempunyai segudang pengalaman tentang bagaimana caranya hidup di belantara hutan hujan yang penuh dengan binatang liar yang ganas. Pak Tua belajar langsung dari suku asli yang tinggal di hutan tersebut. Tapi seperti biasa, para orang asing perlahan-lahan merangsek masuk dan mengambil alih hutan untuk kepentingan pribadi tanpa peduli dengan alam. Sampai akhirnya, hanya gara-gara kesalahan satu orang pemburu, nyawa banyak orang jadi terancam karena ada seekor macan pintar yang ingin membalas dendam.

Nah, sepertinya hanya Pak Tua yang bisa mengalahkan si macan. Padahal Pak Tua hanya ingin hidup tenang dengan membaca novel-novel cinta. Belum lagi penguasa daerah itu, yang meminta Pak Tua untuk menangani si macan sepertinya punya maksud tersembunyi karena Pak Tua sering membuatnya sebal.

At last, saya rasa sudah berulang kali diceritakan (plus dirasakan akibatnya juga), bagaimana alam bisa membalas dendam kalau manusia merusak alam seenaknya. Tapi manusia memang bandel sih. Dan buku ini bisa jadi pengingat untuk kita agar tidak seenaknya merusak alam. Kalau alam sudah balas dendam, baru tahu rasa deh. *sotoy mode on*. So, 3 dari 5 bintang untuk buku ini. Lumayan.

***

Judul: Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta | Pengarang: Luis Sepulveda | Penerbit: Marjin Kiri | Penerjemah: Ronny Agustinus | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan II, Agustus 2017, 133 halaman | Status: My Owned Book | Rating saya: 3 dari 5 bintang