Posted in Non Review

Proyek Baca Buku Perpustakaan 2018

Selamat berjumpa kembali di Proyek Baca Buku Perpustakaan 2018 \^_^/

Masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya, proyek ini saya buat karena perpustakaan-lah pusat buku terbesar di kota kecil saya. Sampai tahun ini, si kota tercinta masih belum punya toko buku besar. Kalau ingin membaca buku novel yang update-an dikit, masih harus pergi jauh ke Banjarmasin atau beli di toko buku online yang ongkirnya bikin gigit jari.

Continue reading “Proyek Baca Buku Perpustakaan 2018”

Advertisements
Posted in Non Review

Proyek Baca Buku Perpustakaan 2017: The Winners

***

Saatnya pengumuman pemenang Proyek Baca Buku Perpustakaan 2017 \^_^/ .  Ada berapa buku perpustakaan yang sudah kalian baca di tahun 2017? Banyak banget sepertinya ya, soalnya jumlah link yang masuk MisterLinky mencapai 207 entri. Horeeeee…tepuk tangan buat kalian semua, *prokprokprok*.

Oke langsung saja ya. Seperti yang sudah saya umumkan di master post tahun lalu, pemilihan pemenang saya serahkan kepada Mr. Random. So, berikut pemenang yang beruntung dipilih oleh beliau XD :

Continue reading “Proyek Baca Buku Perpustakaan 2017: The Winners”

Posted in Books, Dr. Said Ramadhan Al-Buthy, Islamic, Noura Books

The Great Episodes of Muhammad Saw. Review

***

bisa dibeli di: BukaBuku.com dan belbuk.com

***

Sebenarnya, saya sudah mulai membaca buku ini di i-Jak sejak tahun lalu. Tepatnya saat bulan Rabiul Awal untuk momen dimana umat Islam memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad Saw. Tapi karena hal ini itu, terutama karena perhatian saya selalu saja teralihkan saat membaca buku lewat perpustakaan digital, saya baru bisa menyelesaikan membaca buku ini satu tahun setelahnya. Selama itu saya bolak-balik meminjam buku ini di i-Jak. Kalau i-Jak nya bisa ngomong, entah apa yang dia bilang, wkwkwk.

Sedihnya, ada banyak kutipan yang saya beri bookmark, tapi setiap waktu pinjam habis dan saya download ulang bukunya, bookmark saya yang sebelumnya hilang :'(. Bukunya lumayan tebal sehingga saya capek nge-scroll untuk mencari halaman yang kira-kira pernah saya kasih bookmark.

Sebelumnya saya menduga kalau saya bakalan menyerah untuk menyelesaikan buku ini. Mengingat buku-buku sejenis ini biasanya ditulis dengan gaya tulisan yang…errr…maaf, membosankan. Tapi saya keliru. Buku ini ternyata sangat menarik untuk dibaca. Saya jadi ketagihan.

Sudah jadi rahasia umum bahwa ada beberapa buku tentang Nabi Muhammad Saw. yang sengaja ditulis untuk membelokkan pemahaman kita tentang kenabian beliau. Bahkan nama penulis yang “berbau” Arab pun tidak bisa menjadi jaminan. Saya jadi selektif sekali memilih buku mana yang ingin saya baca untuk memperingati momen kelahiran Rasulullah.

So, ketika saya melihat testimoni dari Dr. Lutfi Fathullah di sampul depan buku ini, oke, I choose you. Dan kejutan, dibagian pembukaannya, penulis langsung membeberkan….errr…semacam “kekesalannya” pada penulis-penulis yang menurutnya mempunyai pemahaman yang salah tentang kisah hidup Nabi Muhammad Saw. Lengkap dengan judul buku yang mereka tulis. Yah, saya rasa ini cukup untuk menjadi jaminan agar tidak ikut-ikutan salah memahami agama saya karena salah baca buku. Semoga Tuhan melindungi saya dari hal itu ^^

Jadi, setelah membaca buku ini, ada banyak sekali pengetahuan baru, atau lebih tepatnya, baru saya pahami setelah membaca penjelasan penulis mengenai setiap episode dari kisah hidup Rasulullah.

Dari buku ini, saya baru ngeh kalau ulama Islam itu punya pakar ilmunya sendiri-sendiri. Ada ulama fikih, ada ulama sirah, dsb. Saya juga baru ngeh kalau istilah untuk perjalanan hidup itu adalah sirah, *kemana aja sih saya*.

Kemudian setelah membaca buku ini, saya juga baru benar-benar mengerti bahwa pesan yang disampaikan para Nabi dan Rasul dari Nabi Adam As. sampai Nabi Muhammad Saw. adalah sama, yaitu untuk menyembah satu-satunya Tuhan dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun atau siapapun. Lalu kenapa jadi ada berbagai macam agama sehingga Tuhan seakan-akan lebih dari satu tergantung agama apa yang kita anut? Yah silakan baca sendiri bukunya.

Kalau sepemahaman saya sih, itu karena godaan setan yang membuat manusia menyekutukan Tuhan, membuat mereka lupa akan ajaran sebenarnya yang dibawa oleh para Nabi sehingga agama berubah menjadi tradisi tanpa dasar. Dan ngomong-ngomong soal tradisi, pembahasan apakah agama itu warisan atau tidak yang sempat booming di medsos ternyata ada di buku ini. Dan syukurlah saya masih ingat ada di halaman berapa pembahasan mengenai masalah itu saking semangatnya saya. Pembahasannya ada di halaman 121 dan sekitarnya. Cukup panjang sih jadi saya tidak kutipkan di sini. Silakan baca sendiri saja, hahhah, *kena keplak*.

Kemudian, saya lumayan kaget karena kasus satunya yang saat ini lumayan hangat juga ada di buku ini. Tidak spesifik membahas itu sih, tapi saya rasa erat hubungannya. Hal ini berkaitan dengan kecenderungan manusia untuk menerapkan dan patuh pada hukum yang dibuat oleh diri mereka sendiri—dengan pengetahuan mereka yang terbatas— dibandingkan patuh pada hukum yang ditetapkan oleh Tuhan yang Maha Tahu. Tuhan sudah jelas-jelas melarang, tapi ada manusia yang mengabaikannya dan mencari-cari alasan agar hal itu dibenarkan. *sotoy mode on*.

At last, yang saya suka dari buku ini adalah, adanya bagian yang khusus menjelaskan pelajaran apa yang bisa kita petik disetiap episode kisah hidup Rasulullah Saw. Kebanyakan buku-buku sejarah semacam ini hanya menuliskan kisah saja, sedangkan pelajaran apa yang bisa petik diserahkan kepada pembaca 😀 . So, saya beri 4 dari 5 bintang untuk buku ini. I really liked it.

***

Judul: The Great Episodes of Muhammad Saw.: Menghayati Islam dari Fragmen Kehidupan Rasulullah Saw. | Pengarang: Dr. Al-Buthy | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan I, September 2015 | Penerjemah: Fedrian Hasmand, MZ. Arifin, dan Fuad SN | Penerbit: Noura Books | Baca via: i-Jak | Rating saya: 4 dari 5 bintang

 

Posted in Andrea Hirata, Bentang Pustaka, Books, Family, Indonesian Literature, Romance

Sirkus Pohon Review

***

bisa dibeli di belbuk.com dan BukaBuku.com

***

“Fiksi, cara terbaik menceritakan fakta.”

—Andrea Hirata

***

Bukunya lumayan mahal kalau menurut standar saya sekarang. Sempat nyesal kenapa tidak nunggu diskonan saja baru beli, wkwkwk. Untunglah penyesalan saya tidak bercokol lama. Bukunya bagus banget. Saking bagusnya membacanya jadi tidak terasa, tahu-tahu sudah mau chapter akhir aja.

Entah kenapa kalau saya membaca buku karangan Andrea Hirata, saya selalu beranggapan bawah tokoh “aku” itu adalah Ikal. Alhasil sampai menjelang chapter akhir, saya belum hapal siapa nama lengkap tokoh utamanya. Yang saya ingat cuma nama panggilannya, Hob.

Seperti biasa, buku karangan Andrea Hirata mampu membuat saya tertawa dan menangis sendiri. Kisah tentang orang-orang kecil di tempat terpencil yang katanya tidak masuk di dalam peta. Meskipun begitu, banyak kebijaksanaan yang bisa kita ambil dari kisah mereka.

Melihat judulnya, saya tidak menyangka kalau kisahnya bakalan seperti ini. Meskipun judulnya memuat kata-kata sirkus, saya tetap kaget kalau ternyata kisah sirkus memang ada di dalam buku ini.

Jadi, novel Sirkus Pohon menceritakan tentang kisah hidup plus kisah cinta seorang laki-laki bernama Hob (nama lengkapnya masih susah saya ingat, wkwkwk) dengan seorang gadis bernama Dinda. Dan ditambah bonus kisah cinta antara dua orang anak bernama Tara dan Tegar. Menurut saya, kisah cinta kedua pasangan ini manis sekali. Tipe cinta pandangan pertama yang you’re the one and the only gitu. Oh, saya suka saya suka ♥~(‘▽^人)

Terus juga ada cerita mengenai pohon dan sirkus. Si pohon yang dimaksud di sini adalah pohon delima. Dan sirkus yang dimaksud adalah sirkus milik keluarga Tara. Bagaimana sirkus dan pohon delima bisa bersatu silakan baca sendiri kisahnya :D. Gara-gara buku ini, saya baru ngeh kalau ternyata pohon delima bisa tumbuh besar ya (ya iyalah). Coz selama ini saya hanya tahu bentuk pohon delima dari tanaman tetangga saya. Pohon delimanya kecil dengan tipe batang kurus yang menjulur-julur gitu.

At last, 4 dari 5 bintang deh untuk novel Sirkus Pohon. Buku ini mengembalikan mood membaca saya yang sempat seret.

Oh ya hampir lupa, berikut adalah beberapa kutipan di buku ini yang jadi favorit saya:

…dan aku gembira karena ternyata ada kebaikan dan harapan dalam diriku meski hal itu hanya dilihat oleh seorang anak kecil. (Sirkus Pohon, hlm. 64)

Dan tak ada yang lebih menyenangkan daripada berdekatan dengan orang-orang yang punya mimpi besar. (Sirkus Pohon, hlm. 71)

Mereka adalah para penakluk rasa sakit yang selalu dicekam hukum pertama bumi: gravitasi, selalu menjatuhkan! Namun, mereka memegang teguh hukum pertama manusia: elevasi, selalu bangkit kembali! (Sirkus Pohon, hlm. 72)

Puluhan tahun telah berlalu sejak aku terperangah melihat aksi raja-raja muda angin itu, kini mereka turun dari langit dan dapat kujangkau. (Sirkus Pohon, hlm. 79)

Ternyata hari menjadi megah jika dimulai dengan gembira,…. (Sirkus Pohon, hlm. 85)

Karena orang sekarang tak bisa lagi disindir-sindir. Orang sekarang buta membaca tanda-tanda, bebal kiasan! (Sirkus Pohon, hlm. 208)

…., mengapa susah sekali menulis: Aku rindu. (Sirkus Pohon, hlm. 320)

NB: Credit. Bunga handmade yang nangkring di foto itu adalah bros pinjaman dari jualan kakak saya, ahaha. Untuk wilayah Amuntai dan sekitarnya bisa didapatkan di Toko Al-Himmah ya 😉

***

Judul: Sirkus Pohon | Pengarang: Andrea Hirata | Penerbit: Bentang Pustaka | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan Kedua, September 2017, 410 halaman, 20,5 cm | Status kepemilikan: Owned book | Rating saya: 4 dari 5 bintang

Posted in Books, Fantasy, Gramedia Pustaka Utama, Jonathan Stroud

The Leap Review

Blurb:

Festival Raya. Semua permainan dan hiburan berlangsung: Juggler, akrobat, pertunjukan burlesque, karnaval, egrang, dan banyak lagi. Tapi bukan itu yang dicari Charlie di sana.

Max akan ada di sana. Ia akan bergabung dengan Dansa Besar, dan begitu melakukannya Max takkan bisa kembali. Ia akan menjadi penghuni abadi tempat itu. Charlie harus menghentikannya dan membawa sahabatnya kembali. Ia ingin membuktikan pada ibunya, para dokter, dan orangtua Max bahwa Max belum meninggal. Sahabatnya itu pasti kembali.

Hanya pada malam harilah Charlie bisa mengejar Max, mengikuti jejaknya. Ia takkan pernah menyerah, meski harus melompati batasan dunia sekalipun, dan tak peduli berapapun harga yang harus ia bayar.

Karena Charlie tahu hal yang mustahil itu benar-benar terjadi.

My Review:

Dulu sekali, saya pernah membaca The Last Siege yang juga merupakan buku karya Jonathan Stroud. Gaya penceritaannya yang sangat berbeda sekali dengan Bartimaeus Trilogy membuat saya waktu itu hanya memberikan dua bintang untuk The Last Siege. Bartimaus kocak, The Last Siege suram.

The Leap sebenarnya juga suram, dan saya sudah curiga kalau endingnya bakalan seperti itu berdasarkan pengalaman saya ketika membaca The Last Siege. Tapi karena saya sudah siap (apa coba), The Leap akhirnya berhasil membuat saya tegang di chapter-chapter akhir meskipun awalnya menurut saya cukup membosankan.

Jadi ceritanya tentang dua orang sahabat, Max dan Charlie, yang mengalami kecelakaan saat bermain-main di sekitar kolam. Max meninggal, atau menurut orang Max meninggal, padahal menurut Charlie tidak. Max masih hidup. Dia dibawa oleh wanita-wanita berwajah aneh di dalam kolam dan Charlie bertekad mengejarnya.

Namun waktu Charlie terbatas. Dia harus berhasil mengejar Max sebelum Dansa Besar dimulai. Sayangnya Max berlari begitu cepat dan orang-orang disekitar Charlie berusaha menghalangi Charlie agar dia melupakan Max. Padahal kunci untuk bisa mengejar Max tepat waktu adalah, Charlie harus selalu mengingat Max. Mengingat sedemikian rupa sehingga Charlie bisa merasakan kehadiran Max disampingnya.

Berhasilkah Charlie mengejar Max? Yah silakan baca sendiri bukunya. Yang pasti kalau membaca The Leap, pastikan kalian tidak mengingat bagaimana gaya penceritaan Bartimeaus Trilogy ataupun The Lockwood Series karena mereka sangat berbeda. Tidak ada unsur suram-seram kocak di The Leap. Yang ada hanya suram dan seram 😀

At last, 3 dari 5 bintang untuk The Leap. Yeap, I liked it.

NB: Thanks to Radovan Zweihander yang sudah capek-capek datang ke Kalimantan Selatan Book Fair demi mendapatkan buku ini. Ngirimin via pos pula. Mom loves you ❤ XD

***

Judul: The Leap – Lompatan | Pengarang: Jonathan Stroud | Penerbit: Gramedia Pustaka Utama | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan I, Jakarta, Oktober 2011, 240 halaman | Alih bahasa: Jonathan Aditya Lesmana