Posted in Non Review

Opini Bareng, Tema Logika dalam Cerita

Banner_OpiniBareng2015-300x187

Saatnya untuk post Opini Bareng di bulan November. Tema opini kali ini adalah logika dalam cerita. Seperti biasa, silakan disimak dulu hal-hal yang bisa kita share dari tema tersebut.

Apakah buku yang kamu baca masuk akal? Apakah kamu tidak keberatan membaca buku yang tidak masuk akal secara logikamu?

Sebenarnya saya tidak pernah menaruh perhatian kepada logika dalam cerita. Menurut saya sah-sah saja setidak masuk akal apapun logikanya, toh namanya juga cerita.

Namun argumen saya tersebut terpatahkan saat saya membaca buku 29 Juz Harga Wanita karya Ma’mun Affany. Bukunya berhasil membuat saya terharu, tapi ceritanya terkesan tidak masuk akal. Bahkan untuk ukuran saya yang tidak pernah memperhatikan logika sebuah cerita sekalipun.

Saya sudah lupa kapan tepatnya saya membaca buku ini, yang pasti sudah lama sekali, sebelum saya punya akun Goodreads dan punya blog buku. Tapi seingat saya, logika yang membuat saya sangat keberatan adalah saat istri dari tokoh utama mengalami kecelakaan dan dia beserta keluarganya merahasiakan hal tersebut dari suami sang istri dengan alasan tidak ingin membuatnya khawatir. Tidak tanggung-tanggung, sang istri beserta keluarganya menghilang bak ditelan bumi. Si suami jadi hampir gila dibuatnya.

Bayangkan saja, saat kita mengira istri yang kita cintai hanya pergi untuk pulang ke kampung halamannya untuk alasan yang logis, terus tiba-tiba, jleb, dia tidak pulang-pulang, tanpa kabar sama sekali.

Sang suami berusaha menghubungi keluarga dan teman-teman istrinya tapi tidak ada satupun yang bisa dihubungi. Sang suami menyusul sang istri ke kampung halamannya, tapi nihil. Keluarga istrinya menghilang, tidak ada yang tahu pergi kemana.

Saya betul-betul tidak mengerti. Dengan alasan tidak ingin membuat sang suami khawatir karena dia telah mengalami kecelakaan, si istri sengaja menghilang. Tapi bukankah dengan menghilang tanpa kabar selama bertahun-tahun itu malah membuat kekhawatiran sang suami malah lebih besar?

Setidaknya si suami lebih tenang kalau mengetahui istrinya masih hidup walaupun telah mengalami kecelakaan, yang seingat saya sih, tidak parah-parah amat. Tapi kalau menghilang? Si suami jadi tidak tahu apa yang terjadi dengan istrinya. Mengapa dia menghilang atau apakah dia masih hidup atau tidak. Kalau saya yang jadi si suami, saya bakalan stress berat.

Nah lo saya jadi sewot sendiri XD. Tapi diluar logika cerita yang menurut saya tidak masuk akal, saya mengakui kalau buku ini ditulis dengan sangat indah, saya begitu terharu saat membacanya. Saya masih ingat bagaimana teman saya yang dulu merekomendasikan buku ini begitu bersemangat memberitahu saya kalau buku ini bagus. Saya cuma bisa menebak kalau saking mengharukannya buku ini, teman saya luput memperhatikan logika dalam ceritanya.

Sama seperti saya yang juga sering luput memperhatikan logika dalam cerita. Sejak menjadi blogger buku, saya jadi mengetahui kalau teman-teman pembaca lain memperhatikan betul masalah logika dalam cerita. Ada beberapa buku yang logikanya menurut saya oke-oke aja tapi menurut mereka tidak. Saya rasa ini ada hubungannya dengan jam terbang kita dalam membaca sebuah buku dan menuliskan pendapat kita setelahnya, *yaelah jam terbang* 😄

Oke ini adalah opini saya untuk Opini Bareng BBI. Silakan kunjungi opini para blogger buku lain dengan mengklik gambar di atas ya. See yaa ^_^

Posted in Non Review

Opini Bareng Tema Alur Cerita: Each Chapter Ended With A Cliffhanger

Banner_OpiniBareng2015-300x187

Opini Bareng BBI Maret 2015 Tema Alur Cerita

Hai hai, berjumpa kembali di post Opini Bareng untuk bulan Maret. Tema opini kali ini adalah tentang alur cerita. Seperti biasa, silakan disimak dulu hal-hal yang bisa kita pikirkan dari tema tersebut.

Apakah kamu tipe yang ingin alur cerita maju teratur atau melompat-lompat? Buku dengan alur yang paling menyenangkan dan paling menyebalkan yang pernah kamu baca?

Saya tidak pernah jago dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Salah satu materi yang paling sering membuat saya frustasi adalah saat disuruh menentukan unsur-unsur di dalam sebuah cerita. Ya termasuk menentukan alur.

Tapi setelah belajar menuliskan kesan saya terhadap buku yang saya baca di blog, meskipun masih tidak paham-paham amat, tapi sedikit demi sedikit, saya mulai berdamai dengan pelajaran tersebut. Saya mulai menyadari kalau alur cerita itu ternyata banyak jenisnya. Memang dulunya kamu tidak sadar Ra? Iyah, dulu saya tahunya cuma baca doang, hahhahh :3

Nah, saya sadarnya saat membaca trilogi Silo by Hugh Howey. Tepatnya di omnibus kedua, Shift.

Shift

Mungkin alur seperti yang ada di trilogi Silo inilah yang disebut dengan alur melompat-lompat. Ada konflik disetiap chapter, dan saat sedang seru-serunya, jleb, kisahnya putus dan disambung dengan chapter lain dengan kisah berbeda. Bikin gregetan sekali karena setiap chapter diakhiri dengan cliffhanger. Dan ya, saya suka sekali tipe alur seperti ini. Shift merupakan buku berbahasa Inggris pertama yang bisa saya selesaikan sekali duduk.

Lalu apakah ada alur yang menyebalkan? Hmmm … sepertinya ada, tapi batas menyebalkannya mungkin tidak terlalu parah sampai saya lupa-lupa ingat 😀

Mungkin buku-buku dari seri The 13 Treasures, seri Inheritance, trilogi Shannara, dan trilogi The Lord of The Ring bisa dijadikan contoh. Benar tidak ya kalau saya katakan alur cerita ketiga seri ini sangat lambat? Soalnya awalnya bikin bosan dan rasanya sudah berlembar-lembar halaman yang saya baca tapi tidak ada kemajuan peristiwa yang berarti.

Tapi toh meskipun bosan di awal, ujung-ujungnya saya juga tidak bisa berhenti membacanya. Apalagi trilogi The Lord of The Ring dan Eragon.

Yah, mungkin bagaimana alur sebuah cerita tidak terlalu berpengaruh bagi saya. Saya hanya perlu terus membaca sampai akhirnya bisa masuk ke dalam cerita dan semuanya akan baik saja-saja. *apacoba*  😀

Okeh, ini opini saya tentang alur cerita. Silakan klik banner di atas untuk melihat opini anak-anak BBI yang lain ya. Sampai jumpa di opini bareng bulan depan \^_^/

Posted in Non Review

Opini Bareng Tema Karakter Utama: The Useless One

Banner_OpiniBareng2015-300x187

Opini Bareng BBI Februari 2015 Tema Karakter Tokoh Utama

Tema post untuk Opini Bareng bulan ini adalah Karakter Utama. Nah, silakan disimak dulu pertanyaan pancingannya.

Apakah kamu lebih menyukai karakter utama yang serba sempurna, mirip dengan kepribadianmu, atau yang hidupnya penuh dengan masalah dan ketidaksempurnaan? Apakah kamu menyukai tokoh utama yang cerewet atau pendiam?

Sejak punya blog buku, saya baru ngeh kalau ada beberapa buku bagus yang membuat saya ilfil. Saya sendiri heran kenapa saya sampai tidak suka padahal tidak ada masalah dalam ceritanya dan kadang saking serunya saya bisa menamatkannya sekali duduk.

Setelah diusut ternyata ini berhubungan dengan karakter utama. Entah kenapa, saya tidak suka dengan karakter utama yang kalau menurut istilah saya dan teman-teman sih “tidak berguna”. Sebelumnya maafkan saya kalau karakter yang termasuk kategori tidak berguna ini mungkin adalah karakter favorit teman-teman.

Kesalahan ada pada saya karena saya cenderung membutuhkan karakter utama yang bisa menjadi panutan. Karakter utama kesukaan saya tidak harus sempurna sih, tapi setidaknya pantaslah disebut pahlawan kalau ditinjau dari sudut pandang hati nurani saya. *halah*. 😀

Ehm, kembali ke karakter utama yang menurut saya tidak berguna. Karakter utama yang paling saya ingat untuk masuk kategori  ini adalah:

1. Will Burrows dari Seri Tunnels

Dari buku pertama sampai buku kelima yang sudah saya baca, kesan saya terhadap Will masih tetap sama. Saya pengen banget bilang ke Will, “Will kamu ngapain sih di buku ini? Cuma bisa berlindung di bawah ketiak Drake doang gitu? Mau terus-terusan kalah sama Si Kembar Rebecca? Bangun dong Will, bangun!”.  Haaah, singkat cerita, kalau bisa diganti, ganti aja deh karakter utamanya. Jangan Will.

2. Clary dari Seri The Mortal Instruments

Benar sih Clary punya kemampuan langka dengan rune. Tapiiii, tetap saja saya ngerasanya Clary ini bukan tokoh yang berguna di dunia Mortal Instruments.  Apalagi di buku ke-5. Hiks, saya gregetan sekali karena sebagai tokoh utama, Clary sama sekali tidak melakukan apa-apa selain sibuk meratapi hilangnya Jace. OMG!

Oke, selain Will dan Clary, masih ada Richard Mayhew dari Neverwhere, dan sikembar Newman dari seri The Secret of The Immortal Nicholas Flamel. Tapi karena saya sudah lelah dan merasa sedih :D, maka daripada terus menulis tentang karakter utama yang tidak berguna, mending sekarang saya memberi tahu kalian karakter tokoh utama yang jadi favorit saya sepanjang masa.

Mereka adalah Harry Potter dari Seri Harry Potter, Nathaniel dari Seri Bartimaeus, Percy Jackson dari Seri Percy Jakcson and The Olympians, Lockwood dari Seri Lockwood and Co., dan Artemis Fowl dari Seri Artemis Fowl. Kenapa saya suka dengan mereka? Ah, saya juga tidak tahu, sepertinya saya langsung suka begitu saja. jawaban apa itu Ra?. Hahahaha, yang pasti, kalau ditanya siapa karakter utama favorit, saya pasti akan menjawab mereka berlima, ah ya dan kebetulan mereka semua cowok 😀

Baiklah, ini opini saya. Silakan klik banner di atas untuk melihat opini anak-anak BBI tentang karakter tokoh utama ya. Sampai jumpa di opini bareng bulan depan \^_^/

Posted in Non Review

Dare to Say! #10 – Seri dan Keki

Banner_OpiniBareng2015-300x187

 

daretosay

Opini Bareng BBI Januari 2015 Tema Ekspektasi

Betul kata Zelie @ Book-admirer, tema opini bareng bulan ini senada dengan ide Dare to Say!. So, ikut-ikutan Zelie, saya juga menggabungkan post untuk Opini Bareng dan Dare to Say! sekaligus. Hohoho 😀

Pada kesempatan kali ini saya ingin menuliskan tentang ekspetasi saya terhadap sebuah seri dilihat dari buku pertamanya. Ada beberapa seri yang pada awalnya saya tidak suka, tapi karena keki, saya meneruskan membaca dan akhirnya saya suka pakai bingits.

Ngomong-ngomong soal keki, saya masih belum bisa bebas dari rasa dongkol terhadap diri sendiri kalau tidak habis membaca sebuah buku. Yah, kalau sebuah buku sih mending, tapi keki saya juga berlaku untuk sebuah seri. Kalau tidak menamatkan sebuah buku atau seri, si keki ini akan berbisik ala tengkoraknya Lockwood dan mengatakan kalau saya payaaaaahhhhhhhh 😥 . Nah, kalau teman-teman punya tips untuk membungkam si keki ini supaya diam tolong beri tahu saya ya.

Saya belum bisa memutuskan apakah rasa keki ini berkah atau musibah 😀 . Tapi untuk kasus kali ini, saya anggap itu sebagai berkah. Kalau tidak karena keki, saya akan berhenti membaca seri Septimus Heap. Buku pertama Septimus Heap ini pengen minta dibanting. Terutama gara-gara testimoni yang bilang kalau Septimus Heap adalah the next Harry Potter.

Pas selesai baca, haduh mamaaa, beda sekali sama dunia Harry. Kalau dunia sihir Harry membuat saya ingin tinggal di sana saking menariknya, dunia Septimus Heap sebaliknya. Saya malah pengen jauh-jauh. Ditambah lagi dengan ilustrasinya yang sedikit menyeramkan. Saya jadi kecewa berat sama Septimus.

So, ekspetasi saya dengan seri Septimus Heap pada awalnya ga bagus. Begitu juga dengan buku kedua. Saya jadi pengen nangis karena perjalanan masih panjang. Tapi saat membaca buku ketiga. Wow, saya mulai suka dengan Septimus. Baca buku keempat, saya jadi suka sekali. Baca buku kelima, saya lagi-lagi pengen nangis, tapi kali ini karena saking serunya. Baca buku keenam, arrrghhhhh, saya jatuh cinta setengah mati. Baca buku ketujuh, saya galau karena harus mengucapkan selamat tinggal dengan Septimus dan kawan-kawan.

Yah, jadi begitulah. Saya bahkan sempat nge-reread buku 1 sampai 5 sebelum membaca buku 6. Padahal semua bukunya tipe bantal. So, untuk kali ini, saya harus berterima kasih dengan si keki.

Jadi rating awal saya untuk seri Septimus awalnya cuma 2. Dan setelah pertengahan sampai tamat ratingnya naik jadi 5 dari 5 bintang. Cheerss.

Dan bukan hanya seri Septimus Heap, si keki juga menolong saya waktu membaca seri Divergent dan Tunnels. Ya saya tidak suka dengan buku pertama Divergent. Kemungkinan karena saya membaca The Hunger Games, Delirium, dan Divergent secara berurutan. Dan malangnya Divergent berada di urutan ketiga sehingga kesannya suasana dystopia-nya dipaksakan dan hanya ikut-ikutan. Saya juga tidak suka dengan buku pertama Tunnels. Menurut saya apa yang dilakukan oleh Dokter Burrows konyol sekali. Will Burrows juga tidak bisa diharapkan sebagai pahlawan. Tapi ya seperti Septimus Heap, setelah mengenal kedua seri ini lebih jauh, saya jadi suka.

Oke, ini post saya untuk opini bareng tema ekspetasi dan juga untuk meme Dare to Say!-nya Zelie @ Book-admirer. Silakan klik gambar-gambar di atas untuk informasi mengenai kedua events ini yaa.

Have a nice day for you \^_^/