Posted in Books, Children, Fantasy, Grace Lin

Tempat Gunung Berjumpa Rembulan Review

***

Blurb

Di sebuah gubuk reyot di kaki Gunung Nirbuah, Minli tinggal bersama kedua orangtuanya. Mereka bekerja keras setiap hari di sawah, menanam padi yang hanya cukup untuk dimakan mereka bertiga. Setiap malam, ayah Minli menuturkan dongeng-dongeng tua tentang Naga Giok, Hakim Harimau yang jahat dan serakah, serta Kakek Rembulan yang menentukan nasib setiap orang.

Minli ingin sekali mengubah nasib keluarganya. Dia memutuskan untuk berkelana menemui Kakek Rembulan. Di sepanjang jalan dia bertemu dengan teman-teman baru, termasuk naga yang tak bisa terbang dan seorang anak yatim piatu. Pencarian Minli merupakan jalinan dari dongeng-dongeng yang diceritakan ayahnya dan dari orang-orang yang ditemuinya di jalan.
Meskipun ini adalah karya asli Grace Lin, banyak tokoh, latar, dan tema-tema yang diambil dari cerita rakyat tradisional Cina. Tekad Minli untuk membantu keluarganya dan kesedihan orang tuanya karena kepergian Minli sangat menyentuh dan menginspirasi.

My Review

Baca ulang kisah Minli. Dulu saya membaca versi bahasa Inggrisnya. Reviewnya bisa di cek di sini.

Kesannya sedikit berbeda, yang pertama terasa jauh lebih bagus, tapi secara keseluruhan, ceritanya tetap indah dan penuh pesan bijak tentang kehidupan.

Efek kejutannya tetap terasa karena saya lupa sama sekali kata apa yang berhasil dilihat Minli sehingga peruntungannya berubah. Padahal itu yang paling penting, kenapa saya bisa lupa ya, hahhah.

Ngomong-ngomong, setelah membaca ulang, saya baru sadar kalau gaya penceritaan buku ini, seingat saya, kurang lebih sama dengan gaya penceritaan buku The Alchemist and The Angel. Ada cerita-cerita rakyat yang diselipkan di sana.

At last, buku ini mengembalikan mood membaca saya, setelah sebelumnya membaca buku yang entah kenapa mengingatnya pun membuat saya eneg, *maaf*. Rupanya saya memang lebih suka membaca dongeng ketimbang cerita lain, ^^.

***
Judul: Where Mountain Meets The Moon: Tempat Gunung Berjumpa Rembulan | Pengarang:  Grace Lin | Penghargaan Newbery: Newbery Honor 2010 |  Edisi bahasa: Bahasa Indonesia,  | Penerbit: Atria | Jumlah halaman: 260 halaman |   My rating: 5 of 5 stars

***

Review ini diikutkan dalam challenge:

Advertisements
Posted in Books, Cornelia Funke, Fantasy, Gramedia Pustaka Utama, Inkworld

Inkheart Review

***

“Apakah ada sesuatu di dunia ini yang bisa lebih indah daripada huruf-huruf di atas kertas? Lambang keajaiban, suara mereka yang bungkam, dunia yang tak terbayangkan, dan lebih hebat lagi dari itu, merekalah pengusir kesedihan, teman dalam setiap kesepian. Pelindung rahasia, pengungkap kebenaran…”

(Inkheart, hlm. 510)

Blurb

Mo—ayah Meggie—memiliki kemampuan ajaib: ia bisa mengeluarkan tokoh-tokoh dari buku yang dibacanya. Sayangnya, kehadiran mereka ternyata harus ditukar dengan manusia-manusia di dunia nyata.

Sembilan tahun yang lalu, Mo membaca Tintenherz. Tanpa sengaja ia memunculkan berbagai tokoh jahat buku itu, dan membuat ibu Meggie lenyap karena masuk ke buku. Capricorn dan Basta, dua tokoh jahat dari buku tersebut, lantas menculik Mo, karena ingin Mo memunculkan lebih banyak lagi tokoh jahat dari Tintenherz. Termasuk sang Bayangan, monster menakutkan yang akan bisa membunuh semua musuh Capricorn. Capricorn juga menyuruh Mo mengeluarkan harta dari berbagai buku untuk membiayai kejahatannya di dunia ini.

Maka bermunculanlah tokoh dari berbagai buku, termasuk Tinker Bell dari buku Peter Pan, Farid dari Kisah Seribu Satu Malam, troll, goblin, bahkan si prajurit timah.

Situasi makin rumit karena Meggie ternyata memiliki kemampuan yang sama dengan ayahnya!

My Review

Pernah berharap seandainya tokoh-tokoh dari buku yang kita baca bisa mewujud? Well, hati-hati dengan harapan itu. Karena Mo, seorang dokter buku, ternyata mempunyai kemampuan untuk mengeluarkan sesuatu dari buku yang dibacanya. Sayangnya, Mo tidak tahu kalau dia mempunyai kemampuan tersebut. Dan ketika dia menyadarinya, semua sudah terlambat.

Mo tidak sengaja mengeluarkan Capricorn dan Basta, dua tokoh jahat dari buku berjudul Tintenherz. saat dia membacakan buku tersebut untuk istrinya. Bersama mereka, Mo juga mengeluarkan Staubfinger, si penakluk api. Kehadiran mereka harus dibayar mahal. Istri Mo jadi masuk ke dalam buku. Untunglah anak mereka yang bernama Meggie, yang saat itu baru berumur 3 tahun, tidak ikut menghilang bersama ibunya.

Sampai Meggie berumur 12 tahun, Mo masih belum menemukan bagaimana caranya mengembalikan kekacauan yang telah dibuatnya. Mo juga harus terus bersembunyi karena baik Capricorn maupun Staubfinger sama-sama mengejar Mo, namun dengan maksud yang berbeda. Staubfinger ingin kembali ke dalam buku, sedangkan Capricorn tidak. Capricorn malah menginginkan agar Mo mengeluarkan lebih banyak makhluk jahat dan kekayaan untuknya.

Sampai akhirnya Mo berhasil ditangkap oleh Capricorn dan Meggie berusaha menyelamatkan ayahnya. Bersama bibinya yang galak dan juga Staubfinger, Meggie nekat mendatangi markas angker milik Capricorn. Bisakah Meggie menyelamatkan ayahnya?

Atau mungkin malah sebaliknya. Mungkin Mo yang harus menyelamatkan Meggie, karena tiba-tiba Tinker Bell muncul, saat Meggie membaca Peter Pan.

***

Wow…buku ini saya rasa cocok sekali untuk para pecinta buku. Covernya bernuansa buku. Judulnya bertema buku. Tokoh-tokohnya pecinta buku akut. Dan penjahat-penjahatnya keluar dari buku XD

Saya kenalan sama Inkheart gara-gara filmnya. Sejak menonton filmnya, saya selalu memasukkan Inkheart ke dalam daftar belanja kalau nanti pergi ke toko buku. Tapi, kalau kesempatan langka itu datang, saya selalu saja mundur teratur. Pasalnya, Inkheart ternyata adalah buku pertama dari sebuah trilogi, yang artinya, mau tidak mau, saya harus membeli ketiga bukunya, yang harganya waktu itu sangat memberatkan kantong mahasiswa.

Dan seperti biasa, kalau saya menunda-nunda membeli sebuah buku, apalagi buku tersebut berseri, saya ujung-ujungnya pasti menyesal. Saya menyesal kenapa tidak dari dulu saja saya membeli bukunya. Soalnya sekarang, seri lengkapnya susah didapatkan di toko buku. Buku pertama ini pun saya dapatkan dalam keadaan tidak bersegel dan hanya tinggal tiga eksemplar yang tersisa.

Uppss, maaf atas curcolnya 😀

Kembali ke Inkheart. Jadi seperti yang sudah saya bilang sebelumnya. Saya duluan melihat filmnya daripada membaca bukunya. Ternyata ceritanya cukup banyak yang berbeda. Sehingga kalau ditanya seruan mana antara buku atau film, saya akan jawab keduanya berbeda, kesan yang ditimbulkan juga berbeda. Cuma intinya tetap sama, yaitu tentang bagaimana jadinya kalau ada orang yang memiliki kemampuan untuk mewujudkan sesuatu yang dia baca.

Ngomong-ngomong, menurut saya, karakter Staubfinger benar-benar pas antara buku dan filmnya. Dia pemberani sekaligus pengecut. Pengkhianat sekaligus setia kawan. Bisa dibilang si Staubfinger ini kena penyakit galau permanen.

Terus, apa lagi ya. Saya speechless sebetulnya. Buku ini meskipun kelam, tapi terasa indah. Apalagi tokoh-tokohnya ternyata sangat menyukai buku. Banyak kutipan-kutipan indah tentang kecintaan mereka terhadap buku. Salah satunya sudah saya pajang di atas.

Saya juga terkesan dengan Meggie yang sanggup membawa-bawa banyak buku saat bepergian. Saya membawa diri aja repot, apalagi membawa buku-buku yang berat. XD

Terus, buku ini idenya asik. Saya baru nyadar kalau saya sepertinya belum pernah membaca buku keras-keras. Layak dicoba. Siapa tahu ada karakter yang keluar beneran dari buku. Walaupun saya sangsi saya bisa membaca sebagus Mo. XD

At last, ini adalah tipe buku yang bisa meningkatkan mood baca saya. Bukunya cantik luar dalam kayak Cinderella *ganyambung*. 4 dari 5 bintang untuk Inkheart. I really liked it  (‘▽’ʃƪ) ♥

***

Judul: Inkheart | Seri: Inkworld #1 | Pengarang: Cornelia Funke |Penerbit: Gramedia Pustaka Utama | Jumlah halaman: 536 halaman | Edisi: Cetakan pertama, Januari 2009 |Status: Owned Book | Rating saya: 4 dari 5 bintang

Posted in Angie Sage, Araminta Spook, Books, Children, Noura Books, Review 2016

Frognapped Review

 photo frognapped_zpsefzmvnoa.jpg

***

Buku yang sangat menyenangkan untuk dibaca XD

Kodok Barry hilang. Araminta yang disalahkan. Well, padahal Araminta sama sekali tidak tahu kemana perginya kodok-kodok tersebut.

Paman Drac juga tersiksa karena ada perawat galak yang menyuruhnya belajar berjalan pasca kecelakaan yang mengakibatkan kedua kaki Paman Drac patah. Padahal Paman Drac cuma ingin istirahat dan membuat rajutan.

Sebuah kecelakaan kecil menyebabkan Wanda yakin kalau kodok-kodok tersebut diculik. Araminta akhirnya memutuskan untuk menjadi detektif dengan Wanda sebagai asisten. Tapi Araminta sama sekali tidak menyangka kalau untuk mengerjakan urusan detektif, dia harus menyingkirkan ibu asistennya dan juga bibinya sendiri yang selalu ingin tahu dan ikut campur.

Sementara itu, si Tua Morris tiba-tiba tidak lagi menjual jamur dan membuka usaha pertunjukan Dunia Air Ajaib.

Dibuku ketiga ini, saya rasa saya kembali merasakan aura dunia Septimus. Bukan sihirnya, tapi lebih ke … errr … lingkungannya yang suram tapi menarik.

***

Judul: Frognapped – Penculikan Katak | Seri: Araminta Spook #3 | Pengarang: Angie Sage | Penerbit: Noura Books| Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan Pertama, Oktober 2014, 194 halaman | Status: Owned book | Rating saya: 4 dari 5 bintang

***