Posted in Books, Fantasy, Gramedia Pustaka Utama, Neil Gaiman, Review 2014

THE OCEAN AT THE END OF LANE REVIEW

 photo samudera_diujung_jalan_setapak_zps0c63780c.jpg

Title: The Ocean at The End of Lane – Samudera di Ujung Jalan Setapak | Author: Neil Gaiman | Genre:  Fantasy | Edition language: Indonesian | Page: 264 pages | Translator: Tanti Lesmana | Publisher: Gramedia Pustaka Utama | Edition: First edition, Jakarta, Juli 2013 | Status: Owned book | Price: Rp57.500,- | Purchase location: Gramedia Duta Mall Banjarmasin | Date purchased: June, 4th 2014 | My rating: 4 of 5 stars

SAMUDRA DI UJUNG JALAN SETAPAK adalah fabel yang membentuk ulang kisah fantasi modern: menggugah, menakutkan, dan puitis—semurni mimpi, segetas sayap kupu-kupu, dari pencerita genius Neil Gaiman.

Saya sudah lupa kapan dan dimana saya membaca penggalan blurb di atas. Yang pasti, sepenggal blurb itulah yang membuat saya ingin sekali membaca The Ocean at The End of Lane.

Entah kenapa, penggalan tersebut mengingatkan saya akan The Book of Lost Thing-nya John Connoly, salah satu buku favorit saya sepanjang masa. Jujur, saya berharap, membaca The Ocean at The End of Lane akan memberikan kesan yang sama.

Ternyata dugaan saya tidak meleset jauh. Betul ceritanya model-model seperti itu. Tokoh utamanya juga seorang anak laki-laki. Yang ini berusia 7 tahun. Suka membaca buku dan sibuk dalam dunianya sendiri. Dia juga tidak sengaja menemukan sebuah dunia fantasi. Tapi bukan dunia fantasi yang dipenuhi oleh peri-peri cantik baik hati, melainkan dunia fantasi tempat dimana makhluk jahat memutuskan untuk ikut campur dalam urusan manusia.

Dan yang paling saya suka adalah kisah ini tentang sebuah kenangan. Ya, si anak kecil sekarang sudah dewasa. Dia datang ke kota tempat masa kecilnya. Menyetir tak tentu arah dan akhirnya kembali ke pertanian keluarga Hempstock. Tempat dimana ada jalan setapak yang berujung pada sebuah kolam bebek. Kolam yang kata Lettie Hempstock adalah sebuah samudera. Disanalah semua ingatan tentang apa yang terjadi saat dia berusia tujuh tahun perlahan kembali.

Berawal dari peristiwa bunuh diri yang memicu lepasnya makhluk jahat dari dunia seberang. Dan sialnya, si anak kecil tidak sengaja memperburuk keadaan. Dia melepaskan tangan Lettie Hempstock dimana seharusnya dia tidak boleh melepaskannya. Lettie Hempstock sendiri adalah anak perempuan berusia 11 tahun yang entah sudah berapa lama berusia 11 tahun. Lettie mengajak si anak untuk memperbaiki kerusakan yang terjadi akibat peristiwa bunuh diri tersebut. Namun, yang terjadi malah sebaliknya.

Makhluk jahat tersebut menemukan jalannya untuk bebas lewat si anak. Makhluk itu mulai mengganggu manusia dan mengira kalau dia sebenarnya sudah membantu manusia. Parahnya lagi, si makhluk betah tinggal di rumah keluarga si anak. Menggoda si ayah dan membuat si anak dibenci oleh keluarganya.

Kata nenek Lettie, Mrs. Hempstock tua, si makhluk tidaklah berbahaya. Dia hanya kutu dan mudah disingkirkan. Namun benarkah seperti itu? Berhasilkah  Lettie dan si anak mengembalikan makhluk jahat tersebut ke tempat asalnya? Dan apa yang sebenarnya terjadi? Karena setelah semua keadaan kembali normal, Lettie tiba-tiba pergi ke Australia. Atau setidaknya itulah yang diingat (atau ditanamkan untuk dingat) oleh si anak.

Prolog dan epilog yang sangat bagus menurut saya.  Bagian awalnya dibuka dengan kenangan dan akhirnya ditutup dengan kenangan.

Sepanjang cerita saya sangat terkesan dengan bagaimana pendapat si anak dan Lettie tentang sikap orang dewasa. Salah satunya adalah seperti yang dikatakan Lettie berikut ini:

“Aku ingin bilang sesuatu yang penting padamu. Orang dewasa juga tidak kelihatan seperti orang dewasa di dalamnya. Dari luar, mereka besar, tampak masa bodoh, dan selalu yakin dengan tindakan mereka. Di dalam, mereka tampak seperti diri mereka yang dulu. Sewaktu mereka masih seumuranmu. Sesungguhnya tidak ada orang dewasa. Tidak ada satu pun, di seluruh dunia ini.”

Sesuatu yang sudah lama saya sadari namun sekarang sudah hampir terlupakan. Pertama kali pemikiran itu muncul saat saya sudah menjadi murid senior di SMA. Memandang siswa-siswi baru yang memanggil saya dengan hormat dengan sebutan kakak, padahal saya sama sekali tidak merasa senior dibanding mereka, sebelum saya ingat, dulu waktu masih jadi siswi baru saya juga memanggil kakak kelas dengan sikap yang sama.

Saking berkesannya buku ini, setelah membacanya, sebuah pikiran konyol melintas di benak saya. Jangan-jangan apa yang dialami oleh si anak juga pernah kita alami. Mungkin suatu waktu di masa kecil kita, kita pernah mengalami petualangan supranatural, tapi ingatan akan pengalaman tersebut dihapus dan digantikan dengan ingatan yang lebih realistis.

Buku ini juga membuat saya nyaris sedih karena sekarang sudah jadi orang dewasa yang tampak buta di mata anak kecil.

Ada beberapa typo di edisi ini. Tapi saya lupa menandai dimana letaknya saking asiknya membaca *ngeles*😀

Oh ya, ini adalah buku kedua dari Neil Gaiman yang saya baca. Buku pertamanya yang saya baca adalah Coraline. Dan Coraline sudah jauh saya baca sebelum punya blog buku. Hmmm…meskipun saya belum mendokumentasikan bagaimana kesan saya setelah membaca Coraline, tapi saya masih ingat kalau Coraline juga berhasil membuat saya terkesan.

At last, hati-hatilah saat membaca buku Samudera di Ujung Jalan Setapak ini. Kita akan merasa seperti ditarik kembali ke masa kecil. Dimana semua fantasi dan impian seakan nyata tapi sekaligus membuat kita menyadari bahwa bahkan dunia impian kita pun tidak selalu seperti yang kita inginkan.

IMO, pelajaran yang bisa saya tangkap dari buku dengan cerita abstrak ini adalah agar jangan terlalu buta kalau kita sudah dewasa. Karena jadinya kita hanya akan tampak konyol di mata anak-anak dan orang-orang bijak😀

So, selamat menikmati cerita abstrak yang indah dari Neil Gaiman. Dan karena saya sangat terkesan dengan prolog, epilog dan pesan yang disampaikannya, maka saya memberi 4 bintang dari 5 bintang untuk Samudera di Ujung Jalan Setapak ini. I really liked it.

Author:

Love book and wanna study abroad to Holland

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s