Posted in Books, Gramedia Pustaka Utama, Review 2014, Romance, Tere Liye

DAUN YANG JATUH TAK PERNAH MEMBENCI ANGIN REVIEW

daun_yang_jatuh_tak_pernah_membenci_anginJudul: Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin | Pengarang: Tere Liye | Penerbit: Gramedia Pustaka Utama | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan kedua: Oktober 2010, 256 halaman | Status: Owned book | Rating saya: 3 dari 5 bintang

***

“Daun yang jatuh tak pernah membenci angin.”

Buku Tere Liye pertama yang saya baca. Buku ini ‘nempel’ gara-gara dulu (sudah lupa kapan tepatnya) melihat salah satu resensi pilihan Gramedia. Pas nemu, langsung dibeli.

Ngomong-ngomong, minggu kedua di bulan Januari saya ternyata dibuka dengan buku-buku yang bikin mewek (╥﹏╥)

Dulu saya kira buku ini bercerita tentang kemanusiaan. Ternyata romance ya. Tapi betul ada pelajaran tentang kemanusian dan kehidupan juga.

Cerita tentang dua anak pengamen kakak beradik. Yang kakak cewek bernama Tania, yang adik cowok namanya Dede. Kehidupan mereka berubah drastis menjadi lebih baik karena bertemu dengan seorang pemuda yang…ngg…luar biasa baik hati. Menyekolahkan dan mengasuh mereka hingga dewasa. Baik banget ya. Semoga saja orang sebaik itu beneran ada.

Ceritanya Tania jatuh cinta dengan pemuda malaikat itu. Kalau saya yang jadi Tania, saya rasa saya juga akan jatuh cinta dengannya. Pertanyaannya adalah apakah pemuda itu juga mencintai Tania yang usianya terpaut lumayan jauh dengannya?

Well, orang sebaik apa pun tetap tidak sempurna. Ini antara cinta dan pilihan rasional. Antara cinta yang harus dikatakan atau tidak. Kadang cinta memang harus dikatakan. Tapi kalau waktunya tidak tepat, semuanya bisa berantakan. Rumit memang.

Dan apapun pilihan yang kita ambil, keputusan apapun yang kita buat, itu akan berlangsung selamanya. Tidak ada cara untuk kembali.

“Tak ada yang perlu disesali. Tak ada yang perlu ditakuti. Biarkan dia jatuh sebagaimana mestinya. Biarkan angin merengkuhnya, membawanya pergi entah ke mana. Dan kami akan mengerti, kami akan memahami… dan kami akan menerima.”

Perlu waktu memang. Tapi, ya, kita akhirnya harus menerima.  Tak bisa menyalahkan siapapun. Tak bisa membenci siapapun. Seperti daun yang jatuh, yang tak pernah membenci angin.

Berat. Itu yang saya rasakan setelah membaca buku ini. Menerima apa yang kita sesali itu berat. Tapi toh tidak ada yang bisa kita lakukan selain terus maju dan menerima apa yang telah terjadi.

Buku yang bagus. Membuat saya menangis (lagi), merenung, dan belajar untuk menerima. 3 dari 5 bintang unutk buku ini. I liked it.

Author:

Love book and wanna study abroad to Holland

6 thoughts on “DAUN YANG JATUH TAK PERNAH MEMBENCI ANGIN REVIEW

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s