Posted in Adventure, Review 2015, Trenton Lee Stewart

Persekutuan Misterius Benedict dan Dilema Sang Tawanan Review

persekutuan_misterius_benedict_dan_dilema_sang_tawanan

***

“Kau benar, Mr. Benedict,” Kate berkata dari kursi belakang mobil station wagon. “Segalanya akan lebih menyenangkan jika kita tidak lagi marah. …”

(Persekutuan Misterius Benedict dan Dilema Sang Tawanan, hlm 424)


Benar sekali Kate. Hanya saja kita terkadang lupa untuk tidak marah 😦

Kadang rasanya mungkin lebih baik terkena penyakit narcolepsy seperti Mr. Benedict. Saat emosi yang berlebihan melanda, maka Mr. Benedict akan tertidur. Berbahaya secara fisik memang, tapi emosi menjadi lebih terkendali. Atau lebih baik lagi kalau kita bisa mengendalikan emosi tanpa harus tertidur mendadak 😉

Buku ketiga dari seri Persekutuan Misterius Benedict. Di petualangan ini, anak-anak jenius kita merasa diperlakukan seperti tawanan. Pasca dua petualangan sebelumnya, mereka membuat diri mereka sendiri menjadi sasaran kemarahan Mr. Curtain. Demi keamanan anak-anak, Mr. Benedict memberlakukan aturan perlindungan yang ketat terhadap Reynie, Sticky, Kate, dan Constance.

Sayangnya, usaha Mr. Benedict untuk melindungi mereka gagal. Mr. Curtain menemukan celah untuk menculik anak-anak dan dia berhasil. Sekali lagi, anak-anak harus mengerahkan seluruh bakat mereka untuk menyelamatkan diri. Kalau tidak, mereka akan dijadikan alat Mr. Curtain untuk mengancam Mr. Benedict.

Adu kecerdasan antara Mr. Benedict dan Mr. Curtain juga semakin menegangkan. Masing-masing sama-sama pernah menipu dan tertipu. Well, siapa yang akhirnya menang ya? Mr. Benedict dan Mr. Curtain sama-sama cerdas. Alasan Mr. Curtain sepertinya bisa dimengerti, tapi yah itu tetap tidak bisa dibenarkan untuk berbuat jahat terhadap orang lain.

Ngomong-ngomong tokoh favorit saya adalah Milligan. Pantas saja agen-agen jahat Mr. Curtain tidak pernah bisa mengalahkan dia. Milligan cerdas, cekatan, dan nekat. Sama seperti anak-anak, saya bisa bernapas lega kalau Milligan akhirnya muncul. Walaupun ujung-ujungnya, Milligan harus menerima akibat dari kenekatannya yang berlebihan.

At last, saya cukup suka dengan seri ini. Saya terkesan dengan kecerdasan masing-masing anak. Meskipun cerdas, tidak ada dari mereka yang sempurna. Mereka saling percaya dan bekerja sama untuk menyelesaikan misi. Oke itu pelajaran yang saya tangkap dari anak-anak. Kalau dari Mr. Benedict dan kembarannya, saya terkesan sekali dengan kemampuan mereka dalam mengendalikan emosi. Meskipun sudah terlatih, mereka masih sering lepas kendali dan jatuh tertidur mendadak. Well, saya rasa mengendalikan emosi memang menjadi tantangan tersulit bagi setiap orang.

So, 4 dari 5 bintang untuk Persekutuan Misterius Benedict. I really liked it 🙂

***

Title: Persekutuan Misterius Benedict dan Dilema Sang Tawanan | Series: The Mysterious Benedict Society #3 | Author: Trenton Lee Stewart | Publisher: Matahati | Edition: Indonesian language, May 2011, 466 pages | Translator: Maria M. Lubis | My rating: 4 of 5 stars | Submitted for: Lucky No. 15 RC Category Dream Destination

Advertisements
Posted in Adventure, Review 2015, Trenton Lee Stewart

The Mysterious Benedict Society and The Perilous Journey Review

2159225

***

Diakhir buku 1 kemarin, Mr. Benedict menantang pembaca untuk menebak nama depan beliau. Saking lamanya, saya lupa kemarin saya nebak apa XD. Nah, dibuku kedua ini sudah ada jawabannya.

Petualangan 4 anak jenius berlanjut. Awalnya sih petualangan mereka cuma buat senang-senang. Mr. Benedict sudah menyiapkan kejutan. Tidak tanggung-tanggung, kejutannya ada hubungannya dengan jalan-jalan ala Amazing Race.

Tapi acara senang-senang berubah menjadi membahayakan karena campur tangan Mr. Curtain, tokoh antagonis kita di cerita ini. Mr. Benedict dan Number Two diculik oleh Mr. Curtain. Reynie, Sticky, Kate dan Constance nekat menyelamatkan Mr. Benedict sendirian.

Di petualangan kali ini, bakat masing-masing anak benar-benar diuji. Reynie harus berpikir lebih keras, Sticky harus mengingat lebih baik, kemampuan fisik Kate benar-benar diuji, dan Constance pun menunjukkan bakat luar biasa yang sangat diminati oleh Mr. Curtain.

Di petualangan ini, mereka harus menghadapi Ten Men. Anak buah Mr. Curtain yang secara penampilan luar tampak terhormat, namun ternyata mempunyai sepuluh cara yang menyakitkan untuk menyiksamu.

Kabar baiknya, anak-anak tetap bisa melakukan acara jalan-jalan yang dirancang oleh Mr. Benedict sebelumnya. Hanya saja misi akhirnya sedikit berbeda. Mereka harus berpacu dengan waktu. Kalau tidak, sesuatu yang buruk akan menimpa Mr. Benedict dan Number Two.

Nah, kalau dilihat dari sisi jalan-jalannya. Petualangan anak-anak ini seru sekali. Mereka naik kapal menyeberangi samudera, mereka mengunjungi kastil untuk mencari petunjuk, keliling Eropa naik kereta, sampai ke sebuah pulau terpencil dimana kabarnya ada tanaman misterius yang diincar baik oleh Mr. Benedict maupun Mr. Curtain.

***

Title: The Mysterious Benedict Society and The Perilous Journey | Series: The Mysterious Benedict Society #2 | Author: Trenton Lee Stewart | My rating: 4 0f 5 stars | Submitted for: Lucky No. 15 RC Category Dream Destination

Posted in Children, Classic, Johanna Spyri, Review 2015

Heidi Review

***

Kisah yang indah. Banyak pesan moral yang menghangatkan hati. Deskripsi pegunungan tempat tinggal Heidi sangat luar biasa. Saya jadi pengen kesana juga. Kata Uncle Alm, udara gunung mempunyai efek yang bagus buat siapa saja.

Heidi ini, anak kecil yang polos sekali. Berapa ya umurnya? Delapan tahun kalau saya tidak salah ingat. Kehadirannya bisa membuat senang banyak orang. Sebut saja Uncle Alm yang biasanya dingin terhadap orang-orang. Grandma yang selalu sedih karena kesepian dan Clara yang selalu sedih karena sendirian.

Sebenarnya buku ini sudah selesai saya baca beberapa minggu yang lalu. Tapi karena sok sibuk, saya baru sempat menuliskan kesannya hari ini. Saya lupa mau menulis apa lagi.

Yang pasti yang paling saya suka dari kisah Heidi adalah deskripsi rumah dan lingkungan tempat tinggal Heidi dan kakeknya di pegunungan. Saya juga suka membaca bagaimana Heidi dengan mudahnya bisa berinteraksi dengan alam. Saya harap suatu hari nanti saya bisa mengunjungi pegunungan di Swiss yang menjadi latar cerita Heidi 😉

***

Title: Heidi | Author: Johanna Spyri | Format: Ebook + Audio Book | My rating: 5 of 5 stars | Submitted for: Children’s Literature RP 2014-2017New Author RC 2015 Category Ebook Lover and Lucky No. 15 RC Category Dream Destination

Posted in Gramedia Pustaka Utama, J. K. Rowling, Mystery, Review 2015, Robert Galbraith

The Cuckoo’s Calling Review

***

Waktu buku ini sedang booming, saya setengah mati ingin membelinya. Tapi ketika melihat harganya di toko buku online, saya sudah bisa menebak berapa harga buku tersebut saat tiba di Banjarmasin.

Harganya itu … membuat saya ingin menangis 😥

Jadi, saat saya ke Gramedia Veteran di Banjarmasin dengan niat untuk membeli TimeRiders-nya Alex Scarrow, seperti yang juga sudah saya duga sebelumnya, buku ini berjajar dengan begitu menggoda di rak buku baru. Saya sampai harus menguatkan hati agar bisa melengos saja melewati mereka, sambil komat-kamit di dalam hati. Bilang ke diri sendiri “nanti saja beli The Cucckoo’s Calling. Nanti nunggu diskon aj. Tadi kan niatnya kesini cuma mau beli TimeRiders.”

Sayangnya, ada sedikit drama saat saya mencari TimeRiders di rak. Mesin pencarian sudah dengan jelas menunjukkan nomor raknya, tapi saya tidak bisa menemukan buku tersebut. Perlu waktu yang cukup lama plus bantuan tiga orang mas dan mbak Gramedia sebelum kami akhirnya bisa menemukan si buku.

Setelah membayar di kasir, saya langsung berjalan menuju pintu keluar. Tapi entah karena mas dan mbak Gramedia tadi illfil karena saya sudah membuat mereka ikut riweuh mencari TimeRiders, atau entah karena mereka menganggap saya sebagai pembeli potensial untuk novel terjemahan tebal, atau mereka memang cuma mau berniat baik, salah satu dari mbak tadi tergopoh-gopoh mendatangi saya. Memberitahu saya kalau si Dekut Burung Kukuk sedang ada diskon 20%.

Dan runtuhlah sudah pertahanan saya. Saya nyaris ingin memeluk si mbak saking senangnya. Dan akhirnya saya membeli The Cuckoo’s Calling, meskipun setelah sampai di kost, bahu saya nyeri. Soalnya setelah ke toko buku, saya harus ke kampus dengan membawa-bawa 2 novel terjemahan tebal di tas.

Setelah mendekam lama di timbunan, akhirnya saya selesai membaca The Cuckoo’s Calling sekali duduk. Kalau tahu bukunya seseru ini, dari dulu deh saya baca.

Karena saya termasuk telat membaca novel ini, jadi saya rasa saya tidak perlu panjang lebar lagi menuliskan sinopsisnya atau serba-serbi dibalik nama pengarangnya, kan? (padahal cuma malas saja sih, ahahaha)

Yah intinya ada seorang detektif swasta bernama Cormoran Strike yang diminta untuk menyelidiki kasus bunuh diri seorang supermodel bernama Lula Landry. Meskipun polisi sudah menyatakan kalau si korban bunuh diri, tapi kakak Lula yakin kalau adiknya sebenarnya dibunuh.

Kalau dibandingkan, saya tetap lebih menyukai gaya pemecahan misteri ala Sherlock Holmes daripada Cormoran Strike. Saya rasa gaya Cormoran lebih mirip dengan Poirot. Tidak meyakinkan pada awalnya, tapi luar biasa pada akhirnya. Beda dengan Sherlock yang menurut saya sudah luar biasa dari awal. *kena tabok penggemar Poirot*

Tapi menurut saya buku ini asik sekali. Saya tidak bisa berhenti mengikuti perkembangan kasusnya. Saya sama sekali tidak punya bayangan tentang siapa pembunuhnya, ataupun tentang akhir kasusnya. Apakah Lula Landry memang bunuh diri atau dibunuh.

Belum lagi kehidupan ala supermodel yang menjadi latar belakang kisah ini. Menarik sekali mengetahui perbedaan gaya hidup dan perbedaan kelas sosial yang terasa sangat jauh dan tidak terjangkau.

Ngomong-ngomong, tokoh favorit saya adalah Robin, sekretarisnya Cormoran. Ehm, asik juga ya, nama mereka berdua diambil dari nama burung :D. Nah, somehow, Robin ini memotivasi saya untuk lebih merapikan meja kerja saya sendiri. Robin juga memotivasi saya untuk terus menyimpan harapan kalau suatu saat nanti impian yang kita cita-citakan bisa terkabul meskipun orang-orang terdekat kita tidak mendukung 😉

So, 4 dari 5 bintang untuk Cormoran. Minus satu bintang karena Cormoran belum bisa menggeser posisi Sherlock dari hati saya. *eaaaa, alasan apa itu*.

***

Judul: The Cuckoo’s Calling – Dekut Burung Kukuk | Pengarang: Robert Galbraith | Penerbit: Gramedia Pustaka Utama | Edisi: Bahasa Indonesia, 2014, 517 halaman | Rating saya: 4 dari 5 bintang

***

Submitted for #PostBar Misteri,  New Authors RC 2015Lucky No. 15 RC

Banner_BacaBareng2015-300x187

narc2015

lucky-no15

Posted in Arie Fajar Rofian, Elex Media Komputindo, Review 2015, Romance

Everybody’s Man Review

***

Saya anak MIPA, bukan anak sastra, jadi ketertarikan saya untuk mengupas “kata” tidak sebesar ketertarikan saya untuk mengupas “angka” (berasa kayak bawang dikupas-kupas XD). Saya tidak tahu apa nama gaya penulisan novel ini, pokoknya saya yang membacanya merasa seperti mengumpulkan kepingan demi kepingan puzzle, dan saya suka sekali.

Sama seperti buku “Berikutnya Kau yang Mati” dari pengarang yang sama, buku ini juga sempat membuat saya terkecoh. Pada awalnya saya kira novel ini satu cerita utuh, tapi begitu selesai membaca chapter pertama, saya berubah pikiran, oh oke ternyata ini kumpulan cerpen. Tapi setelah membaca chapter-chapter berikutnya, oh ya bener ternyata ini memang satu cerita XD

Dari satu sisi, saya rasa novel ini ga ada cacatnya. Tidak ada typo, ceritanya sangat menarik untuk diikuti, saya dengan mudahnya tenggelam dalam ceritanya, dan seperti yang saya bilang sebelumnya, saya semangat sekali mengumpulkan kepingan-kepingan puzzle untuk membuat ceritanya utuh.

Tapi dari sisi lainnya, saya seball sekali sama tokoh Rian (sebalnya pakai dobel L).

Dan sebenarnya saya ingin ngasih 4 bintang untuk buku ini. Tapi ini cuma masalah selera sebenarnya. Saya cenderung lebih suka sama cerita cinta tipe putri-putri Disney. Tahulah tipe-tipe seperti love at the first sight, you’re the one and the only, happily ever after, dsb. Bukan kisah cinta ala Rian yang sepertinya gampang sekali jatuh hati sama cewek, meskipun ngakunya masih keingat-ingat sama kenangan lagu dari cinta pertama dsb. Somehow, itu membuat saya ingin berkata “hellowwwww, please deh”.

Karena, meskipun pada kenyataannya kisah cinta ala putri Disney susah sekali ditemukan di dunia nyata, namun kadang, bagi saya sih sebetulnya, justru itulah salah satu manfaat membaca cerita cinta dalam novel. Untuk setidaknya sejenak kabur dari dunia nyata dan menemukan harapan bahwa cerita cinta yang manis seperti itu memang ada. Yah setidaknya ada di dalam novel lah.

Tapi lagi, seperti yang sudah saya bilang di awal, saya suka sekali dengan gaya penceritaan (errrr…atau apapun istilah sastranya) dari novel ini. Saya juga suka dengan judul-judul chapternya. Judulnya asik, semuanya mengandung kata “love”, seolah-olah memberitahu saya “ini loh dek contohnya Fool Love, ini loh contohnya True Love, ini loh yang disebut Just Love”, dsb.

So, 3 dari 5 bintang untuk Everybody’s Man. Dan kalau misalnya penulis ini menulis buku baru, saya pasti tertarik untuk membacanya lagi. Menurut saya, gaya penceritaannya keren sekali. I liked it.

***

Title: Everybody’s Man | Author: Arie Fajar Rofian | Edition: Indonesian language, 2015, 195 pages | Publisher: Elex Media Komputindo Status: Owned Book  |  My rating: 3 of 5 stars