Posted in Non Review

Indonesian Romance Reading Challenge 2015: Wrap Up Post

irrc2015

Oke, saatnya untuk membuat wrap up post untuk Indonesian Romance Reading Challenge \^_^/

Awalnya saya ingin membuat wrap up post ini di post yang sama dengan master post awal tahun lalu. Tapi setelah dipikir-pikir ga jadi deh, ahahaha, *selfkeplak.

Baiklah mari kita lihat sampai level mana hubungan kami tahun ini:

  1. Everybody’s Man by Arie Fajar Rofian
  2. The Mocha Eyes by Aida M.A.
  3. The Strawberry Surprise by Desi Puspitasari
  4. The Coffee Memory by Riawani Elyta
  5. Circle of Love by Monica Petra
  6. Spring in London by Ilana Tan
  7. Cerita Buat Para Kekasih by Agus Noor

Well, cuma 7 ternyata. Kalau 7 berarti hubungan kami baru sampai level First Date ya, hiks.

Tapi tak apa lah. Saya memang jarang baca romance Indonesia. Kalau tidak ada RC ini, timbunan buku romance saya bakalan selalu ada di tumpukan terbawah. So, banyak terima kasih buat Syifa @ A Greedy Bipliophile yang sudah jadi host untuk IRRC 2015. Tetap semangat untuk membaca Indonesian Romance yaaa. Cheers ^_^

Posted in Aida M.A., Bentang Pustaka, Books, Love Flavour, Review 2015, Romance, Series

The Mocha Eyes Review

wpid-img_20150508_142611.jpg

***

Seri Love Flavour. Setelah membaca The Mint HeartThe Vanilla Heart, The Coffe Memory, dan The Strawberry Surprise, sekarang giliran The Mocha Eyes. Dan tetap, favorit saya adalah The Mint Heart (‘▽’ʃƪ) ♥. Eh tapi saya suka semua seri Love flavour kok. Yah setidaknya yang sudah saya baca karena saya belum punya The Chocolate Chance.

Hmmm, The Mocha Eyes. Dilihat dari judulnya, berarti rasa cinta kali ini adalah rasa mocha yang ada hubungannya dengan mata. Menurut saya, si mata mocha ini cukup kena, tapi tidak kena-kena amat, hahhahh, *ngomong apa sih kamu Ra*.

Maksudnya mocha-nya ada, mata mochanya juga ada, tapi saya tidak bisa merasakan rasa mocha tersebut, baik dari si mata ataupun dari kisah cintanya. Tapi bisa juga sih karena saya membacanya terlalu cepat sehingga tidak fokus. Atau bisa juga karena seperti coffee, saya terlalu sering minum mocha sehingga rasanya sudah kebas, *apa coba*.

Ehm, oke, itu cuma pendapat saya. The Mocha Eyes sendiri ceritanya menarik kok. Pesan moralnya juga bagus. Tentang bagaimana caranya berdamai dengan masa lalu yang tidak menyenangkan. Daaaan, cover-nya kereeeeen. Saya suka sekali. Jadi ingin minum mocha.

Kisah The Mocha Eyes adalah tentang seorang gadis yang enerjik dan ramah yang bernama Muara. Tapi itu dulu, sebelum Muara mengalami sebuah musibah menyakitkan dan membuatnya trauma. Muara sekarang menjadi dingin, antisosial, dan jarang tersenyum.

Sampai dia bertemu dengan cowok keren bernama Fariz di sebuah acara training motivasi yang diadakan oleh tempat Muara bekerja. Sebagai seorang trainer motivasi, tentu saja Fariz ini tipe cowok yang berkebalikan dengan Muara. Tampan, sangat menarik, hangat dan selalu tersenyum. Pokoknya dia cowok yang selalu baik kepada semua orang. Tipe cowok yang kadang sifat baiknya ini sering disalahartikan oleh para wanita sebagai rasa cinta.

Sebagai cowok keren, Fariz ditaksir banyak cewek, tapi cuma Muara yang tidak peduli dengan Fariz. Disaat cewek lain berebut perhatian Fariz, Muara malah menjauh kalau Fariz mengajaknya mengobrol. Sebagai seorang profesional, Fariz langsung tahu kalau Muara mempunyai masalah. Dan dia bertekad untuk membantu Muara. Sementara itu Muara menganggap Fariz sebagai hantu. Entah kenapa, kemanapun dia pergi, dia selalu bertemu dengan Fariz.

Lalu apa peran mocha disini? Selain warna mata yang membuat salah satu tokoh utama kita ini jatuh cinta, mocha juga dijadikan filosofi kalau hidup itu seperti rasa mocha yang mengandung rasa manis cokelat dan pahitnya kopi. Terima saja keduanya maka kita akan menemukan rasa mocha yang enak.

Nah, siapa yang memiliki mata mocha dan siapa yang perlu memahami filosofi mocha dalam hidupnya?

Membaca The Mocha Eyes mengingatkan saya kepada alasan mengapa saya tidak terlalu suka membaca kisah romance. Ya, ada beberapa adegan di The Mocha Eyes yang membuat saya menitikkan air mata. Ada beberapa adegan juga yang menurut saya kata-katanya terlalu puitis.

At last, 3 dari 5 bintang untuk The Mocha Eyes. I liked it.

***

Judul: The Mocha Eyes| Pengarang: Aida M.A. | Penerbit: Bentang Pustaka | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan I, Mei 2013 |  Jumlah halaman: 250 halaman | Status: Owned book (Banjarbaru Book Fair 2015) | Rating saya: 3 dari 5 bintang

***

Submitted for Indonesian Romance RC 2015New Authors RC 2015Lucky No. 15 RC Category Cover Lust

irrc2015

narc2015

lucky-no15

Posted in Bentang Pustaka, Books, Desi Puspitasari, Love Flavour, Review 2015, Romance, Series

The Strawberry Surprise Review

wpid-img_20150507_220857.jpg

***

The Strawberry Surprise. Love Flavour keeempat yang sudah saya baca. Setelah The Mint HeartThe Vanilla Heart, dan The Coffe Memory. Sejauh ini yang jadi favorit saya tetap The Mint Heart.

Untuk love flavour-nya, The Strawberry Surprise juga terasa rasa strawberry-nya. Surprisenya juga kena. Terutama di kisah cinta Aggi dan Timur yang unik dan penuh kejutan. Dan untuk cover, tetep bagus banget. Gambar strawberry-nya itu loh, membuat saya pengen mencomot satu (‘▽’ʃƪ) ♥

The Strawberry Surprise menceritakan tentang kisah cinta lama yang bersemi kembali. Sebelumnya, Aggi dan Timur sudah pernah pacaran. Aggi punya pekerjaan di Yogyakarta sedangkan Timur di Bandung. Kesibukan masing-masing membuat mereka jarang bertemu dan membuat Aggi takut sehingga dia memutuskan untuk memberikan jeda pada hubungan mereka.

Tidak tanggung-tanggung, Aggi memberi jeda selama 5 tahun. Selama itu Timur dilarang menemui dan menjalin kontak dengan Aggi. Sampai Timur mendengar suara tawa Aggi, saat itulah Timur boleh menemui Aggi lagi. Asalkan keduanya belum terikat hubungan dengan siapapun.

Eaaaaaa, lucu sekali. Bagaimana bisa Timur yang ada di Bandung mendengar tawa Aggi yang ada di Yogyakarta? Tapi meskipun kedengarannya mustahil, Timur sih oke oke saja. Dan apa mau dibilang, setelah 5 tahun berlalu, Timur memang benar-benar mendengar tawa Aggi. Oke, itu adalah pertanda jelas bahwa Aggi memang patut diperjuangkan.

Tapi apakah semudah itu? Tentu saja tidak. Aggi tetap seperti dulu. Mandiri, keras kepala, dan galak. Suka sekali dengan strawberry dan juga filosofinya. Bahwa rasa strawberry itu penuh kejutan. Kadang kita bisa memakan strawberry berpenampilan menarik tapi asam bukan main. Kadang bisa juga memakan strawberry yang penampilannya menyedihkan tapi ternyata sangat manis. Yah seperti itulah kehidupan menurut Aggi.

Benarkah? Well, sepertinya Aggi harus berusaha sedikit mengenali dirinya lagi. Meskipun Aggi tahu hidup penuh kejutan seperti rasa strawberry, tapi Aggi sebenarnya takut.

Lalu bagaimana dengan Timur? Yah, Timur masih berusaha untuk meyakinkan Aggi kalau dia benar-benar cinta dengannya. Timur bahkan tidak peduli seberapa konyolnya dirinya karena ngotot mengejar Aggi yang galak dan berpenampilan kumal dibandingkan dengan mantan pacarnya yang cantik dan kinclong yang sama gigihnya mengejar Timur seperti Timur mengejar Aggi. Timur sepertinya juga sudah termakan dengan filosofi strawberry, yang kadang berpenampilan tidak menarik, tapi sebenarnya sangat manis di dalam. Oh ya, saking gigihnya Timur ini, dia mau saja bolak-balik Bandung – Yogyakarta naik kereta api setiap akhir pekan hanya untuk menemui Aggi.

Membaca kisah cinta Aggi dan Timur ini memang penuh dengan kejutan. Ceritanya unik. Sayang waktu membaca novel ini suasana rumah sedang ribut-ributnya karena keponakan-keponakan kecil saya lagi pada ngumpul. Jadi ada beberapa hal yang tidak sempurna masuk ke otak, halah. Misalnya pekerjaan Aggi itu apa ya. Saya nangkapnya Aggi kerjaannya mengurus pelaksanaan pameran dan pergelaran-pergelaran seni gitu, hahhah. Tapi yang pasti Aggi juga seorang fotografer meskipun kamera yang sering dipakainya sudah termasuk kedalam kategori kamera antik. Kamera ini berperan besar merekam kisah cinta Aggi dan Timur. Saya juga lost dengan pekerjaan Timur. Yang saya tangkap cuma pekerjaan Timur ada hubungannya dengan editing iklan gitu. Oh ya, Timur juga jago main saksofon.

Nah, karena pekerjaan Aggi dan Timur erat kaitannya dengan seni dan budaya dengan setting tempat di Yogyakarta, saya jadi merasa suasana seninya berasa sekali dan saya suka. Seperti membaca kisah cinta dua seniman dengan kepribadian yang unik dan kisah cinta yang penuh kejutan. Kejutannya lagi saya baru tahu kalau buku ini sudah difilmkan saat saya tidak sengaja melihat trailernya di YouTube. Keren.

At last, benar-benar seperti strawberry. Kadang manis, kadang asam, penuh kejutan. 3 dari 5 bintang untuk The Strawberry Surprise. I liked it.

***

Judul: The Strawberry Surprise| Pengarang: Desi Puspitasari | Penerbit: Bentang Pustaka | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan I, Mei 2013 |  Jumlah halaman: 270 halaman | Status: Owned book (Menang GA New Authors RC 2014 by Ren’s Little Corner) | Rating saya: 3 dari 5 bintang

***

Submitted for Indonesian Romance RC 2015New Authors RC 2015Lucky No. 15 RC FCategory Frebies Time

irrc2015

narc2015

lucky-no15

Posted in Bentang Pustaka, Books, Love Flavour, Review 2015, Riawani Elyta, Romance

The Coffee Memory Review

Banner_BacaBareng2015-300x187

Baca Bareng BBI 2015 Bulan Februari Tema Profesi

wpid-img_20150202_173758.jpg

***

Cover luarnya lucu, kayak bungkus kopi. Eh pas dibuka cover dalamnya beneran gambar biji kopi. Hwahhh…saya sukaaaa (‘▽’ʃƪ) ♥

The Coffee Memory adalah buku ketiga dari seri Love Flavour yang saya baca. Pertama saya baca The Mint Heart yang sukses membuat saya jatuh cinta dengan seri ini. Kedua saya baca The Vanilla Heart.

Nah, baik mint maupun vanilla berhasil menimbulkan rasa saat membacanya. Tapi sayangnya tidak dengan coffee ini. Memorinya saya dapat, tapi sayang “rasa kopi”-nya tidak. Mungkin karena memorinya terlalu dominan. Jujur saja saya menghabiskan banyak tisu setiap ada adegan Dania teringat Andro. Bisa juga karena saya juga sudah kebanyakan minum kopi, jadi rasa kopinya jadi mental kecuali yang benar-benar pekat 😀

Kisahnya sendiri menceritakan tentang Dania yang ditinggal pergi suaminya, Andro, untuk selamanya. Andro ini pecinta kopi akut. Kecintaannya terhadap kopi membawanya untuk membuka kafe coffee yang diberi nama Katjoe Manis.

Sepeninggal Andro, Dania berjuang menjadi single parent sekaligus mengurus kafe Katjoe Manis peninggalan Andro. Sayangnya, segala hal yang ada di kafe itu selalu mengingatkan Dania kepada Andro. Dania juga teringat Andro kalau melihat atau mencium aroma kopi.

Tapi demi Sutan, anak semata wayangnya, Dania harus kuat. Dia pun mulai berbenah dan berusaha optimis untuk tetap menjalankan usaha kafe coffee tersebut. Salah satu langkah pertama yang dilakukan adalah mencari barista pengganti Andro.

Tidak perlu waktu lama, seorang barista tampan bernama Barry diterima bekerja di sana. Barista yang sepertinya memiliki passion terhadap kopi yang tidak kalah besar dengan yang dimilik Andro. Barista baru ini sepertinya juga sangat care dengan keadaan kafe. Sesuatu yang pantas disyukuri memang, tapi hal ini mau tak mau juga membuat Dania sedikit heran.

Tapi masalah mulai muncul, sebuah kafe kopi baru mulai dibuka dan tampaknya akan menjadi saingan berat. Kejutannya lagi, pemiliknya ternyata adalah Pram, teman SMA Dania yang dulu pernah menembaknya. Dan Pram mengaku sampai sekarang pun dia belum bisa menemukan pengganti Dania.

Nah, bagaimana kelanjutan kisah cinta Dania? Silakan dibaca sendiri bukunya 😀

Yang pasti saya suka dengan pengetahuan-pengetahuan tentang kopi yang bertebaran di buku ini. Juga pengetahuan tentang profesi-profesi yang berhubungan dengan kafe coffe yang  membuat saya memilih buku ini untuk  Baca Bareng Tema Profesi.

Dan ngomong-ngomong tentang Katjoe Manis, ini tulisan di bukunya memang beneran Katjoe kok, typo dari sananya kali ya 😀

At last, 3 dari 5 bintang deh. I liked it.

***

Judul: The Coffee Memory | Pengarang: Riawani Elyta| Penerbit: Bentang Pustaka | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan I, Maret 2013 |  Jumlah halaman: 226 halaman | Rating saya: 3 dari 5 bintang

***

Submitted for Indonesian Romance RC 2015New Authors RC 2015Lucky No. 15 RC Category Who Are You Again?

irrc2015

narc2015

lucky-no15

Posted in Books, Gramedia Pustaka Utama, Monica Petra, Review 2015, Romance

Circle of Love Review

wpid-photogrid_1423963555695.jpg

***

Blurb:

Patricia Sarah mahasiswi semester akhir yang tengah sibuk menyusun skripsi. Sebagai novelis muda berbakat, karier dan kesibukan membuatnya belum memiliki pacar.

Rupanya perjalanan cintanya tak semulus perjalanan karier dan studinya. Beberapa pemuda membuat Patricia tertarik, di antaranya Clyde—pemuda warga negara Thailand yang ia temui di Bali, Andhika—aktor terkenal, dan Bryan—teman di dunia maya. Belum lagi ada Adrian dan Felix yang juga memberi warna dalam hidup Patricia.

Tetapi, siapakah yang benar-benar mampu memenangkan hati seorang Patricia Sarah?

Novel ini wajib dibaca oleh semua wanita single yang masih menunggu cinta sejatinya. Pahit manis cinta akan selalu ada, tetapi kehidupan tidak akan pernah berhenti berjalan.

 

You’re precious,
you deserve the best man
at the right time.

If today is not your time,
tomorrow will be yours

(Gouw Ivan Siswanto)

Hmmm…

Suka dengan pesan yang disampaikan. Tidak yakin suka atau tidak dengan ceritanya. Kemungkinan karena tidak sreg sama tokoh utamanya.

Bingung mau nulis apa lagi. Review terpendek yang saya tulis setelah sekian lama 😀

At last, 3 dari 5 bintang deh. Untuk pesannya. I liked it ❤ ❤ ❤

***

Judul: Circle of Love | Pengarang: Monica Petra | Penerbit: Gramedia Pustaka Utama | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan II, Desember 2011 | Status: Pinjem dari Perpustakaan Daerah Banjarbaru | Jumlah halaman: 208 halaman | Rating saya: 3 dari 5 bintang

***

Submitted for #ProyekCintaPerpustakaanIndonesian Romance RC 2015, New Authors RC 2015 and Lucky No. 15 RC Category Something Borrowed

proyek-cinta-perpustakaan

irrc2015

narc2015

lucky-no15