Posted in Books, Koekoesan, Review 2014, Silat

Kupu-kupu Fort de Kock Review

Baca Bareng September Tema Buku Silat

kupu-kupu_fort_de_kock_by_maya_lestari_gf_uploaded_by_irabooklover 

Judul: Kupu-kupu Fort de Kock | Pengarang:  Maya Lestari GF| Edisi bahasa: Indonesia | Penerbit: Koekoesan (Cetakan I, Depok, Juli 2013) | Jumlah halaman: 405 halaman | Status: Owned book | Date purchased: September, 14th 2014 | Purchase location: Toko Buku Kharisma Banjarbaru | Price: Rp72.200,- | My rating: 4 of 5 stars

Telat lagi……

Telat lagi buat posting bareng September tema Buku Silat. Seharusnya review ini di post tanggal 29 September. Tapi saya baru saja selesai membaca bukunya😀

Butuh waktu lama bagi saya untuk menamatkan buku ini. Bukan karena ceritanya kurang menarik, tapi karena sinopsis di cover belakangnya. Yuk disimak dulu sinopsis yang jadi biang kerok ini ^^

Sinopsis:

Dapatkah kau membayangkan sebuah pertempuran maut yang terjadi pada malam gelap bulan, antara seorang pendekar golongan hitam yang hendak menunaikan dendam pada pendekar selendang putih, yang dikejarnya selama berbulan-bulan. Semua jurus dan ajian telah dikerahkan, segala senjata rahasia telah digunakan, dan akhirnya ia berhasil melunaskan balasan atas kematian ayahnya. Selendang putih terhempas-terpelanting dengan mulut dan telinga berlumur darah. Namun, alih-alih pendekar bermata belang itu bersuka cita, ia justru mengaum sekeras-kerasnya, menyesali setiap jurus maut yang telah menghabisi musuhnya. Begitu selendang putih tersingkap, tampaklah wajah yang bercahaya, bagai bulan empat belas. Gadis bermata ranum yang meregang tak bernyawa tiada lain adalah kekasih yang dicintainya, melebihi cintanya pada setiap pertarungan yang mematikan.

Awalnya biasa saja sih membaca sinopsis ini. Tapi setelah saya sampai ke chapter delapan dari buku ini. Saya merasa kalau sinopsis tersebut spoiler sekali. Di chapter itu saya bisa menebak siapa pendekar selendang putih dan siapa pendekar golongan hitam.

Saya langsung was-was. Kalau benar dugaan saya, si tokoh yang saya duga sebagai pendekar selendang putih ini nasibnya akan berakhir seperti yang dituliskan di sinopsis. Haduh. Rasanya seperti menunggu bom meledak. Kecepatan membaca saya langsung melambat. Rasanya saya tidak ingin tiba di chapter seperti yang dituliskan di sinopsis.

Padahal menurut saya ide ceritanya bagus sekali. Tentang pertarungan dua kelompok silat yang bersetting di Minangkabau dalam masa moderen, satu golongan putih, yang satunya golongan hitam. Identitas para pendekar silat ini tersamarkan. Mereka layaknya orang biasa di mata orang awam, tapi sebenarnya para pendekar ini merupakan para pesilat tangguh yang mempunyai jurus-jurus mematikan.

Kupu-kupu Fort de Kock sendiri adalah kupu-kupu besar berwarna cokelat yang sering disebut rama-rama. Bila beruntung, kita bisa melihatnya saat berkunjung di benteng Fort de Kock. Di Minang, rama-rama ini disebut Limpapeh. Dan Limpapeh inilah gelar yang berikan untuk murid tersakti pesilat golongan putih, yang kisahnya diceritakan dalam buku ini.

Pesilat golongan putih, terdiri dari tiga perguruan rahasia. Perguruan Mato Alang yang didirikan oleh Jari Empat dan Lawa-lawa Sirah; Perguruan Tiga Tapak Melati yang didirikan oleh Gunung Batu; dan Perguruan Api Lintau yang didirikan oleh Bulan Kamba dan Tongkat Patah. Limpapeh sendiri adalah murid dari perguruan Tiga Tapak Melati.

Golongan pesilat hitam dipimpin oleh Singo Balang. Singo Balang, dengan dibantu kekuatan hitamnya, menjalankan bisnis haram seperti narkoba dan perjudian. Ilmu hitam Singo Balang sangat hebat. Konon dia mendapatkannya dengan mengambil inti kehidupan para pengikutnya.

Tiga perguruan sebenarnya sudah berhasil menghabisi Singo Balang. Sebuah misi yang dipimpin oleh Limpapeh. Mereka lega karena mengira kekuatan hitam sudah musnah dengan kematian sang pemimpin. Namun yang tidak mereka duga adalah Singo Balang ternyata memiliki seorang anak. Anak yang berbalik mengejar tiga perguruan karena ingin membalas dendam atas kematian ayahnya.

Uniknya, anak Singo Balang ini kehadirannya tidak terdeteksi. Padahal sebelumnya, kalau Singo Balang maupun anak buahnya berada di sekitar pesilat-pesilat tiga perguruan, maka rajah yang ada di tangan para pesilat putih itu bersinar. Tiga perguruan pun kesulitan melacak anak Singo Balang. Sementara itu secara perlahan, kekuatan para pengikut Singo Balang bangkit kembali.

Kisah ini diceritakan dari sudut pandang “aku”, yang mengaku mengetahui riwayat kisah Limpapeh dan pertarungan antara tiga perguruan dengan kelompok Singo Balang. Sebuah ide yang sangat bagus saya rasa. Saya suka tipe penceritaan model begini. Apalagi kalau ending-nya menyinggung-nyinggung tentang kenangan seperti yang ada di buku ini. Sangat menyentuh …. dan sedih.

Nuansa silatnya terasa sekali. Banyak pengetahuan yang tidak saya ketahui sebelumnya mengenai dunia persilatan. Bahwa silat, ternyata, lebih dari sekedar ilmu beladiri biasa. Somehow, tampak tidak terjangkau bagi saya, tapi,  well, membuat saya pengen menjadi pendekar silat juga😀

Gaya penceritaannya sendiri … errr … saya rasa masih ada yang kurang, tapi saya tidak tahu kurangnya dimana. Hahhah. *selfkeplak*. Kadang ada yang aneh dari kata-katanya, terasa kurang cocok, tapi tidak terlalu mengganggu juga sih *hahhah dasar plin plan*.

Ada beberapa kata Minang yang terselip di buku ini. Salah satunya adalah “kalera”. Kedengaran keren ya, tapi setelah saya googling artinya ternyata kurang ajar. *eh*😀

Setiap kisah dalam chapter-chapter di buku ini, kadang tampak tidak berhubungan. Padahal sebetulnya berhubungan. Setidaknya itulah yang berulang kali di tegaskan oleh si “aku” dalam kisah ini. Tapi saya rasa kurang berhasil. Identitas kedua pendekar yang ada di sinopsis juga terkesan dirahasiakan. Namun, dilain pihak saya rasa petunjuknya terlalu jelas . Kedua hal inilah yang paling mengganggu saya dari novel ini.

IMO, idenya sudah bagus sekali, kalau dieksekusi dengan lebih baik, saya rasa novel ini bakalan menyuguhkan sebuah kejutan yang luar biasa dibagian akhir untuk saya, alih-alih membuat saya galau di sepanjang kisah dengan nasib pendekar selendang putih.

Oh ya, satu hal lagi tentang cover-nya, cover-nya sebenarnya sudah bagus sih, tapi itu pendekar silatnya kok kayak power rangers ya? *ditendang*.

At last, meskipun ceritanya sedikit berasa incomplete, rating saya untuk novel ini adalah 4 dari 5 bintang. Terutama untuk pengetahuan tentang silat dan nuansa silatnya yang sangat berasa. Pendekar silat yang ada di buku ini sangat keren dan dekripsi adegan pertarungan mereka sanggup membuat saya tenggelam sampai tidak ngeh saat ada yang memanggil….padahal yang memanggil adalah atasan saya di kantor. Haduh. :D

Sooooo…, I really liked it. ^^

Author:

Love book and wanna study abroad to Holland

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s