Posted in Books, Dystopia, Fantasy, Mizan Fantasi, Review 2014, Veronica Roth

Insurgent Review

 photo insurgent_uploadedbyirabooklover_zpsd18a9055.jpg

Title: Insurgent | Author: Veronica Roth | Genre: Dystopia | Edition language: Indonesian | Translator: Nur Aini  | Publisher: Mizan Fantasi | Edition: First edition, Desember 2012 | Page: 551 pages Status: Pinjam di Perpustakaan Daerah Kota Banjarbaru | My rating: 4 of 5 stars

Terkadang saya sangat menyukai kebiasaan saya yang tidak bisa tidak menamatkan sebuah seri meskipun buku pertama dari seri tersebut, menurut saya, tidak terlalu berkesan.

Seperti seri Divergent ini. Dulu waktu membaca buku pertama, saya tidak terlalu terkesan dengan ceritanya. Menurut saya, suasana distopianya terlalu dipaksakan. Tapi sekali lagi, karena saya tidak bisa tidak menamatkan sebuah seri, saya tetap membaca Insurgent.

Ternyata Insurgent tidak mengecewakan. Sangat bagus malah. Seandainya saja minggu ini saya tidak terlalu sibuk, mungkin saya bisa menamatkannya sekali duduk.

Saya sudah hampir lupa bagaimana cerita pertualangan Tris di Divergent. Yang saya ingat hanyalah Tris tidak terpengaruh simulasi dan berhasil selamat dari penyerangan. Untunglah akhirnya saya bisa masuk ke dalam cerita Insurgent dan sedikit demi sedikit ingat apa yang terjadi dengan Tris dan kawan-kawan di Divergent.

Petualangan Tris d Insurgent dimulai dengan pelarian mereka ke faksi Amity. Faksi Amity yang cinta perdamaian menyambut mereka dengan tangan terbuka. Tapi bagaimanapun, faksi Dauntless sepertinya tidak bisa lama-lama diajak untuk bersikap seceria faksi Amity. Sampai akhirnya inspeksi mendadak dari faksi Erudite memuluskan jalan Tris dan kawan-kawan untuk kabur dan tidak sengaja bertemu dengan para factionless.

Di kediaman para factionless, Tris menemukan bahwa kehidupan para orang terbuang ini tidaklah semengerikan yang dipikirkannya. Para factionless ternyata cukup banyak dan mereka hidup berkelompok.

Dari kediaman factionless, Tris dan Tobias kemudian pergi ke faksi Candor. Disana mereka bertemu dengan teman pengungsi sesama Dauntless dan Erudite yang tidak setuju dengan apa yang telah dilakukan oleh Jeanine, si pemimpin Erudite.

Para faksi Dauntless yang masih setia tersebut berencana untuk menyerang faksi Erudite yang sepertinya terobsesi untuk mengendalikan faksi lain di bawah simulasi. Tapi faksi Amity dan faksi Candor memutuskan untuk tidak ikut campur tangan dalam masalah ini. Faksi Dauntless pun akhirnya bersekutu dengan para factionless untuk menyapu bersih faksi Erudite beserta pengetahuan-pengetahuan mereka.

Namun Tris merasa apa yang mereka lakukan tidak benar. Belum lagi dia tidak sengaja mendengar bahwa alasan faksi Erudite menyerang faksi Abnegation adalah karena sebuah informasi.

Apapun informasi itu pastilah sangat penting sehingga Jeanine tega menghabisi seluruh faksi Abnegation. Dan informasi itu sekarang pasti tersimpan dalam ruang pengetahuan Erudite sehingga Tris tidak bisa membiarkan pengetahuan tersebut dihancurkan oleh para Dauntless dan factionless.  Tapi sayangnya Tobias tidak sepakat dengan Tris.

Hmmmm…bingung mau nulis apa lagi. Yang pasti di Insurgent, para faksi pengungsi sibuk berpindah-pindah markas karena faksi Erudite mengejar-ngejar mereka dan doyan banget menembak faksi-faksi yang tersisa dengan tembakan simulasi pengendali.

Disini Tris juga masih galau berat karena merasa bersalah atas kematian orang tua dan sahabatnya dipenyerangan pertama. Sampai-sampai Tris merasa tidak sanggup lagi memegang pistol untuk selamanya.

Dan endingnya…OMG…gantung banget. Saya sudah curiga ini buku pasti selesai sampai disitu saja. Informasi penting itu akhirnya terkuak dengan cara yang sangat bikin penasaran. Informasi ini juga mengubah persepsi saya tentang dunia distopia Divergent, yang awalnya menurut saya terlalu dipaksakan, menjadi wajar-wajar saja. Saya akhirnya paham kenapa dunia Tris dibuat jadi faksi-faksi seperti itu.

At last, saya suka sekali dengan Insurgent. Alur yang cepat dan kejutan-kejutannya sepertinya bakalan membuat saya perlu bacaan ringan dulu sebelum membaca Allegiant. Disisi lain, saya penasaran sekali dengan bagaimana akhir petualangan Tris. Hedeh, galau deh jadinya.

Ngomong-ngomong, melihat apa yang terjadi di dunia Divergent, saya jadi merasa ngeri sendiri kalau memikirkan bagaimana sebuah informasi bisa membuat faksi-faksi saling bunuh.  Sebuah informasi yang diketahui sebelum waktunya ternyata tidak bagus juga. Apalagi kalau informasi tersebut diketahui oleh seseorang yang berkuasa seperti Jeanine. Reaksinya terhadap informasi tersebut akhirnya menimbulkan kekacauan.

Jadi, saya rasa sebaiknya sebuah kebenaran memang harus disampaikan, tapi kita harus bijak menentukan kapan kebenaran itu sebaiknya disampaikan.

So, selamat menikmati petualangan Tris dan Tobias di Insurgent. Seru, galau, bikin deg-degan, dan ending-nya gantung. 4 dari 5 bintang untuk Insurgent. I really liked it.

Author:

Love book and wanna study abroad to Holland

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s