Posted in Books, Bukune, Feba Sukmana, Review 2014, Romance

Holland: One Fine Day in Leiden Review

 photo holland_zps71ae61de.jpg

 

Title: Holland: One Fine Day in Leiden | Author: Feba Sukmana | Publisher: Bukune | Edition language: Indonesian | Page: 292 pages | Edition: 1st Edition, Jakarta, November 2013 | Status: Owned book | Purchase location: TB Salemba Banjarbaru | Price: Rp54.000,- | My rating: 4 of 5 stars

Sinopsis:

Sejak menjejakkan kaki di Bandara Schiphol, Belanda, dan udara dingin menyambutnya. Kara tak lagi merasa asing. Mungkin, karena ia pun telah lama lupa dengan hangat.

Belasan ribu kilometer dari orang-orang tercinta, ia berharap bisa bersembunyi. Dari masa lalu, luka, dan cinta. Nyatanya, semua itu harus ia temkan lagi dalam kotak tua yang teronggok di sudut kamarnya. Kini, Kara tahu: Ibu yang pergi, Kara yang mencari. Tak ada waktu untuk cinta.

Namun, kala senja membingkai Leiden dengan jingga yang memerah, Kara masih ingat bisik manis laki-laki bermata pirus itu, “Ik vind je leuk” — aku suka kamu. Juga kecup hangatnya. Rasa takut mengepung Kara, takut jatuh cinta kepada seseorang yang akhirnya akan pergi begitu saja. Dan, meninggalkan perih yang tak tersembuhkan waktu. Seperti ibu.

Aku tidak berada di sini untuk jatuh cinta, ulangnya dalam hati, mengingatkan diri sendiri.

Di sudut-sudut Leiden, Den Haag, Rotterdam, dan Amsterdam yang menyuguhkan banyak cerita, Kara mempertanyakan masa lalu, harapan, masa depan, juga cinta. Ke manakah ia melangkah, sementara rintik hujan merinai di kanal-kanal dan menghunjam di jantung kota-kota Negeri Kincir Angin yang memesona?

Alles komt goed — Semua akan baik-baik saja, Kara,

Feba Sukmana

 

Saya takut baca buku ini. Takut lihat judulnya, takut lihat kartu yang terselip di buku. Kartu yang bertuliskan “Orang bilang harapan itu seperti awan. Beberapa berlalu begitu saja, tetapi sisanya membawa hujan. Kau, harapan yang manakah yang kau simpan di hatimu?” 

Leiden dan harapan *sigh*. Betul-betul merasa tertohok.

Buku ini nangkring di rak currently reading selama 2 minggu karena seperti yang saya katakan sebelumnya, saya takut membacanya. Tapi setelah memberanikan diri untuk memulai, ternyata hanya butuh waktu sekali duduk untuk menyelesaikan Holland.

Yaaah, mungkin seperti kata penulis di bagian awal buku. Jatuhnya buku ini ke tangan saya, adalah cara semesta untuk mengingatkan, bahwa mimpi  hanya bisa menjelma nyata jika kita tetap terjaga.

Mimpi konyol saya untuk bisa melanjutkan pendidikan ke Leiden. Mimpi yang semakin lama semakin mirip mimpi si Cebol yang merindukan bulan. Gara-gara itu, banyak sekali bookmark yang saya tempel di buku ini. Untuk adegan-adegan yang saya harap bisa membantu saya untuk tetap terjaga.

Karena cerita Kara, somehow, sama seperti cerita saya, meskipun masalahnya berbeda, tapi kami sama-sama penakut dan peragu.  Sama-sama berusaha melarikan diri alih-alih mencari. Sama-sama memendam amarah dan berpikir yang tidak-tidak. Tanpa sadar kalau sebenarnya kami berjalan di tempat. Takut menerima karena takut kehilangan.

Cerita Kara sendiri mengisahkan tentang pencariannya akan sosok seorang ibu. Kara yang dibesarkan oleh kakek dan neneknya sama sekali tidak tahu siapa orang tuanya. Kakek dan neneknya terkesan merahasiakan hal itu. Sampai Kara memutuskan untuk pergi dan mencari sendiri. Dan Leiden adalah tujuannya.

Tapi saat kakeknya memutuskan untuk memberi tahu, giliran Kara yang takut. Takut akan kebenaran apa yang mewujud dari jika kepingan puzzle yang kosong dihatinya mulai lengkap. Dan Kara memutuskan untuk menunda. Membiarkan kesedihan tentang pertanyaan mengapa orang tuanya seakan tidak menginginkannya tetap ada lebih lama.

Dan sekarang ada Rein. Pria bermata pirus yang mampu membuat jantung Kara berdebar. Namun, sama seperti kebenaran tentang orang tuanya, Kara menghalau rasa itu. Karena menurut Kara, hidupnya sudah rumit, dan dia tidak butuh kerumitan lain. Terutama karena sikap Rein yang sering menghilang tanpa alasan dan muncul kembali dengan tiba-tiba. Kara takut Rein akan meninggalkannya seperti orang tuanya dan menimbulkan luka. Aku tidak berada di sini untuk jatuh cinta, ulang Kara dalam hati.

Cerita yang membuat saya galau karena setting dan dilema yang dihadapi sang tokoh utama pas sekali dengan harapan dan ketakutan saya.

Cerita tentang keberanian untuk menghadapi rasa takut, keberanian untuk menerima dan keberanian untuk memaafkan. Buku ini membuat saya menyadari kalau selama ini saya sama pengecutnya dengan Kara. Kami memilih berada di zona nyaman, selalu menunda dan membiarkan amarah dan kekosongan tetap berada di hati.

Namun saya harap, saya juga akhirnya bisa seperti Kara. Yang akhirnya bisa berani dan tidak membiarkan kekhawatiran tentang masa depan mengambil alih. Cukup ucapkan saja mantranya “Alles komt goed” dan semoga semuanya benar-benar akan baik-baik saja ^^

Okay cukup tentang kegalauan saya😀

Beberapa hal lagi yang saya suka di buku ini adalah deskripsi Leiden-nya yang terasa nyata. Ditambah ilustrasi keren-nya yang membuat saya berharap menemukan lampu Aladin dan meminta jin memindahkan saya ke Leiden sekarang juga.

Juga ada fakta-fakta menarik tentang hubungan Indonesia dengan Belanda. Salah satunya yang berkesan adalah fakta tentang susu bendera😀

Dan sekarang saya ingin memamerkan quote-quote yang sukses membuat saya merasa tertohok ^^

“Mungkin benar, ketidakjelasan harus diteliti. Dan, ketakutan harus dihadapi. Kara merasa seperti anak kecil yang baru saja melongok ke kolong tempat tidur untuk membuktikan bahwa hantu yang ditakutkannya sama sekali tidak nyata.”

hal. 224

“Hanya saja, Kara, jika kau merawat amarah dalam dirimu, waktu akan membuatmu lupa. Kau tak akan ingat lagi penyebab awal yang membuatmu marah. Yang tersisa hanya gumpalan emosi yang tak terjelaskan dan kekakuan untuk memulai kembali. 

Jangan ulangi kesalahanku, Kara. Jangan simpan kemarahan terlalu lama.”

hal. 260

Dan quote ini untuk keluarga dan tetangga-tetangga saya *me-efek ne kesahnya*😀

“Pergilah. Neneknya itu meanatap mata Kara dalam-dalam. “Temukan dirimu. Sudah terlalu lama aku merantaimu atas nama cinta.”

hal. 261

Dan scene terakhir ini rasanya pengen saya bawa kemana-mana. IMO, berasa so sweet banget  ^^

Weet je,” kata Rein menengadah, memandangi awan bergumpal yang berarakan di atas kepala mereka. “Orang bilang, harapan itu seperti awan. Beberapa berlalu begitu saja, tetapi sisanya membawa hujan.”

Kara tersenyum, ikut mendongak. Ah, hujan. Hujan yang sempat diharapkannya mampu menghapus separuh ingatan. “Kalau begitu, semoga saja awan yang memayungi kita akan membawa hujan dan mengabulkan harap” jawab Kara.

At last, selamat berjalan-jalan di Negera Kincir Angin. Selamat menemukan keberanian untuk menghadapi ketakutanmu sendiri. And, 4 dari 5 bintang untuk Holland: One Fine Day in Leiden. I really liked it.

Author:

Love book and wanna study abroad to Holland

One thought on “Holland: One Fine Day in Leiden Review

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s