Posted in Books, Buah Hati, Momlit, Review 2014, Sitta Karina

RUMAH COKELAT REVIEW

Baca dan Posting Bareng BBI 2014

Baca Bareng BBI April Tema Perempuan

 photo rumah_cokelat_zpse8cde826.jpg

Judul: Rumah Cokelat | Pengarang: Sitta Karina | Penerbit: Buah Hati | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan II, Februari 2012 |  Jumlah halaman: 226 halaman | Status: Pinjem di Perpustakaan Daerah Kota Banjarbaru | Rating saya: 3 dari 5 bintang

***

“Ringan, lucu, bikin haru di sana-sini. Menjadi ibu bekerja memang tidak pernah mudah, Rumah Cokelat adalah potret yang jujur.”

— Petty S. Fatimah, Editor in Chief Femina Magazine

Rumah Cokelat. Membaca judulnya saya kira ceritanya model-model kaya Blue Romance-nya Sheva Thalia. Tapi testimonial di atas memberitahu saya kalau ceritanya ternyata tentang momlit. Setelah itu baru ngeh kalau gambar di cover-nya ternyata truk mainan ^_^

Dan saya kurang lebih setuju dengan pendapat di atas. Ceritanya ringan, betul. Tapi, IMO, ceritanya tidak lucu dan tidak bikin haru *dikeplak*

Ceritanya tentang Hannah Andhito, ibu satu anak merangkap wanita karir. Kehidupan Hannah sudah tampak sempurna. Punya suami tampan dan baik seperti Wigra, punya putra kecil menggemaskan yang umurnya baru jalan 2 tahun bernama Razsya, punya karir yang sedang bagus-bagusnya, punya passion melukis yang menjanjikan, dan masih sering ngumpul-ngumpul dengan sahabat-sahabatnya waktu SMA.

Masalah muncul saat Razsya bergumam dalam tidurnya bahwa dia sangat menyayangi Upik, babysitter-nya. Hannah langsung kalang kabut. Merasa cemburu dengan Upik dan mulai mempertanyakan seberapa besar perannya sebagai ibu. Belum lagi perbedaan pendapatnya dengan Eyang Ti, ibunya Hannah sendiri, tentang bagaimana caranya mengasuh anak. Ditambah dengan masalah-masalah klise antara suami dan isteri yang sering menyulut pertengkaran-pertengkaran kecil.  Untungnya tipikal pria seperti Wigra yang kalem dan tenang mampu menenangkan keluh kesah dan amarah Hannah yang sering meledak-ledak.

Akhirnya, Hannah harus memilih apakah tetap menjadi ibu sekaligus wanita karir atau jadi fulltime mommy. Dan yang manapun yang Hannah pilih, dua-duanya punya konsekuensi masing-masing.

Hmmm…buku yang mengisahkan tentang kegalauan seorang ibu. IMO, Hannah terlalu sering mengeluh dan marah-marah. Dibandingkan dengan Wigra yang tampak selalu tenang, jadinya kejutekan Hannah jadi berasa sekali. Ternyata jadi orang kalem itu memang lebih baik ya daripada orang yang suka meledak-ledak. Masalah lebih mudah terselesaikan dan tidak menyulut masalah baru.

Tapi susah memang. Apalagi kalau berada dalam posisi Hannah. Hannah juga tidak bisa disalahkan sepenuhnya kalau dia sering marah-marah dan mengeluh.

Dan karena saya belum merasakan bagaimana jadi ibu plus wanita karir, so yang paling berkesan dari buku ini justru cara menghadapi menghadapi masalah ala Wigra. Bagaimana memandang segala sesuatu dari kacamata positif tapi tidak postif-positif amat *apacoba*.

Ehm, intinya terangkum dalam quote Wigra yang jadi favorit saya berikut:

“Funny things do happen in life. So let’s dance in the rain too. Instead of just surviving the storm.”

At last, selamat menikmati galaunya jadi ibu dengan membaca buku ini. Dan karena pesan yang disampaikan cerita ini cukup bagus, maka saya memberi 3 dari 5 bintang untuk Rumah Cokelat. I liked it  (‘▽’ʃƪ) ♥

Author:

Love book and wanna study abroad to Holland

10 thoughts on “RUMAH COKELAT REVIEW

  1. Ahhhhh aku banyak liat kegalauan kayak gini disekitarku hehehe…banyak juga temen2 kantor yang resign setelah punya anak karna pengen fokus ke anak, tp ada juga yang beberapa tahun kemudian balik lagi jd wanita karir…sampai dekat giliranku sendiri kayaknya aku blm bisa ngebayangin peran mana yang bisa kuambil hahaha

    Like

    1. Disekitarku malah ga ada yang seperti itu, yang galau memang ada tapi gak pernah sampai resign. Ada untungnya juga tinggal di kota kecil ^^

      Like

  2. wah, quote-nya menarik banget!😄
    ya, masalah seperti ini emang sangat sering terjadi. aku sendiri gak bisa bayangin nanti mau jadi gimana kalau udah married.
    let it go~ let it go~ *sambil bergaya kayak Elsa😄

    Like

  3. hmmmm…kalo masalah anak sayang sama babysitter sih menurutku wajar ya..soalnya kan mereka berinteraksi setiap hari.. yg ga wajar itu kalau ibunya jadi dilupakan sama si anak😄 kadang aku suka males juga sama ibu2 yg terlalu drama hahaha… been there done that sih😀

    Like

    1. Haha, iya sy juga sudah lama pengen pinjem buku ini dr perpus. Tapi sengaja disimpan buat tema baca bareng. Sempat kelabakan juga pas ga nemuin buku ini di rak rahasia *eh*. Untung akhirnya nemu😀

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s