Posted in Books, Gramedia Pustaka Utama, Ilana Tan, Review 2014, Romance

AUTUMN IN PARIS REVIEW

autumn_in_paris

Judul: Autumn in Paris | Pengarang: Ilana Tan | Penerbit: Gramedia Pustaka Utama | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan kesembilan belas: Maret 2012, 264 halaman | Status: Owned book | Rating saya: 3 dari 5 bintang

***

Peringatan: Tulisan ini kemungkinan mengandung spoiler🙂

***

Suatu kali hidup melambungkanmu setinggi langit, kali lainnya hidup mengempaskanmu begitu keras ke bumi.

(hal 234)

Benar sekali kan? Kadang-kadang hidup memang bisa melambungkan kita setinggi langit, dan kadang-kadang hidup mengempaskan kita begitu keras ke bumi.

Tepat seperti itulah kesan saya setelah membaca buku ini. Bukan hanya karena penggalan kalimat di atas tepat sekali menggambarkan apa yang terjadi dengan tokoh utama di dalam buku ini. Tapi juga karena saya pernah mengalami hal seperti itu.

Tapi bukan. Yang saya alami bukan kisah cinta seperti di buku ini. Sumpah pramuka saya selalu berdoa kepada Tuhan agar kisah cinta saya seperti kisah cinta fairy tale saja. Kalian tahulah, seperti kisah cinta yang love at first sight, you’re the one and the only, happily ever after dan sejenisnya.

Membaca buku ini, terutama membaca kalimat di atas, dan melihat apa yang terjadi dengan Tara dan Tatsuya, mengingatkan saya akan kehilangan yang pernah saya rasakan ketika keponakan saya yang masih berusia 11 bulan meninggal dunia.

Kelahirannya disambut gembira keluarga kami. Kehadirannya menggantikan kakaknya yang telah lebih dulu menghadap Tuhan.  Hampir setiap hari mama dan saya yang menjaganya saat ibunya, yang adalah kakak saya, bekerja.

Dia lucu, tampan, menggemaskan, dan terlihat sangat sehat. Kami semua sangat menyayanginya. Tidak ada seorang pun yang menduga dia akan berpulang secepat itu.

Langkah Tara terasa berat ketika ia menghampiri sisi ranjang. Wajah Tatsuya nyaris tidak terlihat jelas dibalik semua perban dan masker oksigen. Mata Tatsuya terpejam. Terlihat tenang sekali. Seolah tidur.

Bolehkah ia bersikap egois sekarang? Bolehkah ia meminta Tatsuya agar tetap bersamanya?Ia menatap Tatsuya dan matanya melebar. Apakah ia salah lihat? Tidak… Sebelah mata Tatsuya yang tidak tertutup perban sepertinya basah.Tatsuya menangis…! Tatsuya bisa mendengarnya…!Air mata Tara semakin deras. Ia mencondongkan tubuhnya dan menyentuh lengan Tatsuya dengan perlahan.

(hal 256, 258)

Whoaaaaaa….persis seperti itu ketika keponakan saya terbaring koma di rumah sakit. Ketika ayah dan ibunya bicara kepadanya, air matanya juga berlinang dari matanya yang terpejam.

Saya juga egois. Terus berharap ada keajaiban ntah  bagaimana agar dia bisa sembuh kembali. Meskipun dokter bilang sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Meskipun dokter juga meminta kami untuk bersiap-siap.

Tara datang ke tempat itu untuk menenangkan diri dan berpikir, tetapi setelah begitu lama berdiri di sana, ia tetap belum memutuskan apa pun. Ia masih tidak tahu apa yang harus dilakukannya, masih belum bisa menerima kenyataan, masih berharap semua ini mimpi buruk dan ia akan segera terbangun.

(hal 190)

Sepanjang perjalanan dari rumah sakit di Banjarmasin ke rumah duka yang jaraknya kurang lebih 4 jam, saya cuma duduk bengong di ambulans.  Rasanya memang berharap kalau itu cuma mimpi buruk. Saat melihat para pelayat yang menunggu di depan rumah, rasanya betul-betul seperti terhempas ke bumi. Mau tidak mau akhirnya saya menerima apa yang telah  terjadi.

Ngomong-ngomong, besok adalah peringatan 100 hari meninggalnya. Keponakanku, semoga kau tenang di sisi-Nya. We love you. Always.

Ini review atau curhat ya? Maaf ya, soalnya buku ini sungguh membangkitkan kenangan.

Kalau soal bukunya sendiri menurut saya bagus banget. Saya tidak menduga ending-nya bakalan berkembang seperti itu. Awalnya romantis dan kocak. Akhirnya bikin mewek.

Sudah berapa kali ya saya bilang kalau saya jarang baca romance bukan karena saya tidak suka, tapi karena cerita romance selalu bikin saya nangis, ga peduli happy or sad ending.

Somehow, saya rasa suasana autumn-nya kurang terasa. Tapi abaikan saja, kemungkinan besar itu karena saya tidak pernah merasakan yang namanya autumn di Paris😀

Saya suka Tara yang ceria dan kocak. Dan Tatsuya, ga ada kata lain deh selain cooollll. Kisah cinta mereka indah dan romantis. Saya paling suka deh kalau ada kisah cinta pada pandangan pertama. Tapi rasanya saya masih ga rela dengan ending-nya (╥﹏╥)

Saya jadi penasaran sama buku Ilana Tan yang lain. Terutama yang seri four season ini.

At last, 3 dari 5 bintang untuk buku ini. I liked it.

Author:

Love book and wanna study abroad to Holland

5 thoughts on “AUTUMN IN PARIS REVIEW

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s