Posted in Non Review

Receh Untuk Buku 2015

reecehuntukbuku2015

Rangkuman hasil Receh untuk Buku Tahun 2014.

Sebelumnya, saya sudah berjanji untuk melaporkan buku apa yang saya beli untuk Receh for Books Tahun 2013. Iya, tahun 2013 :D.

Tahun 2013 kemarin saat membuat wrap up, saya belum membelikan receh saya untuk buku. Nah, sekarang saya ingin melaporkan kalau receh tersebut, sebesar 89.000 rupiah, sudah saya belikan ke buku Daun yang Jatuh Tidak Pernah Membenci Angin by Tere Liye, Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah by Tere Liye, dan Autumn in Paris by Ilana Tan.

Dan untuk tahun 2014, saya memutuskan untuk tidak menghitung receh saya. Alasannya bisa dilihat lewat gambar di bawah:

recehuntukbuku2014

Hiks, receh saya untuk tahun 2014 sedikit sekali ya :'(. Nah, karena itu saya putuskan untuk melanjutkan tabungan ini ke tahun 2015 saja, huehehehe. *seenaknya*.

Oke deh, bagi yang ingin mengumpulkan recehnya untuk membeli buku, silakan kunjungi blog tuan rumah dengan mengklik gambar paling atas ya. Selamat menabung 😀

Advertisements
Posted in Non Review

Buku Dalam Hidupku #7, Ring by Koji Suzuki

Berawal dari keberadaan sumur tua di belakang tempat tinggal saya yang baru di kota orang, saya jadi teringat buku horor yang ceritanya sudah sangat populer sampai dijadikan film, Ring by Koji Suzuki.

Melihat sumur itu sontak saya langsung ngebayangin jangan-jangan di dalamnya ada tulang belulang Sadako *berasahorror*.

Saya sudah lama sekali membaca buku ini, waktu saya masih kelas dua SMA, dan  sampai sekarang belum berani nge-reread ataupun membaca sekuelnya. Tapi saya masih ingat salah satu adegan di bagian terakhir ceritanya.

Adegan ketika si tokoh utama (lupa namanya) menyadari bahwa dia telah terjebak di dalam sebuah lingkaran. Lingkaran cincin yang di dalamnya ada impian Sadako yang harus terus disambung karena siapapun yang berani memutusnya akan mendapat amarah Sadako.

Waktu itu, dengan entengnya saya mengatakan kalau si tokoh utama ingin bebas dari lingkaran itu, dia hanya harus mencari orang yang mau berkorban. Orang yang mau berkorban untuk memutus kutukan itu dengan konsekuensi meninggal secara mengerikan karena kutukan Sadako. Haduh, memangnya siapa yang mau yah? *selfkeplak*

Mengingat adegan tersebut, saya jadi memikirkan lingkaran ini. Persis sepeti cincin kutukan Sadako, saya baru menyadari kalau saya juga terjebak di dalam sebuah lingkaran jahat. Dan, IMO, ini berhubungan dengan kebudayaan yang sudah mendarah daging di kota kecil saya.

Sama seperti ketika saya baru menyadari bahwa dialek kota kecil saya ternyata berbeda dengan dialek kota Banjarmasin ketika saya pergi merantau ke luar kota, saya juga baru menyadari salah satu kebiasaan orang-orang (gak semua loh ya) di kota kecil saya yang cenderung melontarkan “kutukan” kepada orang yang telah mereka anggap membuat mereka sakit hati, saat saya sedang berada di kota lain.

Karena menurut saya walaupun kami masih sepulau, orang-orang di tempat tinggal saya sekarang ini jarang ada yang kutuk-mengutuk, setidaknya tidak secara terang-terangan 😀

Contoh kutuk-mengutuk di kota kecil saya misalnya begini, ibu saya pernah kecewa dengan seorang tukang bangunan yang membuat ruang makannya tampak dibuat sembarangan alih-alih cantik. Saking marahnya ibu “mengutuk” agar tukang itu tidak mendapat orderan lagi dari orang lain.

Saya juga pernah mendengar seorang atasan yang tersinggung karena bawahannya tidak mentaati perintahnya, dan atasan itu “mengutuk” agar bawahannya itu selamanya jadi bawahan.

Ga usah jauh-jauh deh, saya juga pernah dikutuk secara terang-terangan oleh dua orang cowok yang saya tolak cintanya *preeeet….sok populer deh lo Ra*. Secara halus mereka kira-kira bilang begini:  “tunggu aja karmanya”. Grrrrrr, ampun deh, awas loh ya gue kutuk balik *eh*.

Saya juga pernah mengutuk orang yang seenaknya membentak saya di depan umum dan mengatakan saya buta warna karena pas foto yang saya serahkan background merahnya terlalu terang sehingga warnanya cenderung jadi merah oranye. Orang itu bilang “heh kamu ini buta warna ya, ini foto backgroundnya bukan merah, tapi cokelat!!!”.

Nah lo, reaksi pertama saya adalah saya langsung mengutuk orang itu di dalam hati semoga dia selamanya ga bisa bedain warna cokelat sama warna merah oranye. Kakak yang saat itu menemani saya ternyata juga langsung mengutuk semoga anak orang itu nantinya juga buta warna.

Bahkan saat saya di kota lain dan bertemu dengan teman sekampung, saya juga pernah mendengar dia mengutuk seseorang. Haduh, sepertinya kutuk-mengutuk ini sudah jadi budaya di kota kecil kami. Dan ini bukan pengaruh dari serial Mahabrata yang sekarang lagi populer 😀

Untuk orang-orang di kota kecilku, manusiawi memang, kalau kita merasa disakiti, kita akan marah dan mengutuk orang yang kita anggap sudah berbuat jahat pada kita. Berharap karma yang sama berlaku untuk orang itu supaya kita puas dan sakit hati kita terbalaskan. Dan kita anggap itu sah-sah aja. Toh dia yang salah duluan.

Tapiiiiii coba deh bro buka pikiran dan coba tarik diri  untuk melihat dari sudut pandang orang luar, saya rasa apa yang kita lakukan itu jahat ya, jahat sekali.

Dan alih-alih percaya dengan karma, saya lebih percaya dengan firman Tuhan di surah Az-Zalzalah ayat ke 7-8 berikut: *edisiramadhan*:

7. Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.

8. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.

IMO, bro, itu artinya kalau kita balas sakit hati kita dengan mengutuk orang yang bersangkutan supaya dia menderita, maka kita sama saja berbuat jahat dengan orang itu, dan itu artinya kita membiarkan diri kita untuk mendapatkan balasan kejahatan lagi. Dan kalau kita dijahati lagi (biasanya lewat orang yang berbeda), dan kita kutuk dia lagi, maka kita akan dapat balasan kejahatan lagi. Begitu seterusnya gak putus-putus. Kayak lingkaran kutukannya Sadako.

Dan saya rasa itu menjawab pertanyaan atas kesialan-kesialan yang selama ini terjadi di hidup saya. Gak terhitung deh sudah berapa kali saya mengutuk orang kalau saya merasa sakit hati. Dan kutukan itu jelas merupakan undangan bagi kesialan-kesialan yang datang menghampiri saya, termasuk mau pipis saat sudah duduk manis saat tarawih di mesjid mau dimulai *abaikan*.

Terlebih karena kebiasaan yang manusiawi tanpa sadar saya terjebak di lingkaran itu. Dan sama seperti pendapat saya sebelumnya tentang lingkaran Sadako, saya rasa lingkaran itu juga bisa diputus kalau ada yang mau berkorban.

Untungnya berkorbannya ga perlu mati secara mengerikan versi kutukan Sadako. Berkorbannya cuma perlu maaf. Yaaa, maaf. Kalau kita bisa memaafkan orang yang menyakiti kita alih-alih ngasih dia kutukan, maka kita akan mendapatkan kebaikan alih-alih kejahatan yang terus bersambung.

Tapiiiiiiii….susah memang. Reaksi pertama memang harus marah kayaknya. Tapi tahan deh jangan sampai ngutuk orang. Maafkan Ra … maafkan *jedotinkepalakedinding*.

Mungkin begini saja ya, saat ada orang yang menyakiti kita, reaksi pertama kita setelah marah adalah, tarik napas. Terus buka pikiran deh, tuh orang jadi nyebelin ke kita jangan-jangan kita duluan yang bikin dia sebal. Gak ada asap tanpa api kan. Terus saya juga pernah baca di sebuah buku (lupa judulnya) kalau dalam perang itu, kedua belah pihak pasti sama-sama merasa benar. So, jangan boro-boro merasa kita yang teraniaya dulu ya, coz siapa tahu ternyata kita yang menganiaya duluan.

Nah, gara-gara sumur ini, yang mengingatkan saya sama lingkaran cincinnya kutukan Sadako, saya harap saya bisa keluar dari lingkaran jahat yang ini. Saya harap saya bisa mencabut setiap kutukan yang sudah terlanjur saya lemparkan ke orang-orang.

Untung waktu ngutuk saya ga seperti Maleficent yang bilang “tidak ada kekuatan di dunia yang bisa menangkal kutukan ini” :D. Saya percaya Tuhan yang Maha Kuasa bisa menghapus kutukan itu. Saya maafkan kalian semua. Maaf saya sudah pernah merasa dongkol dengan kalian, siapa pun itu. Maaf reaksi pertama saya saat itu adalah mengutuk kalian dengan hal-hal yang jelek. Sungguh saya minta maaf.

Saya betul-betul berdoa mohon bantuan kepada Tuhan semoga Dia menghapus dendam yang ada di hati saya. Karena jujur bro, ada beberapa dari kelakuan kalian yang bikin saya masih sedikit jengkel *eh*.

Dan saya harap semua orang yang sudah pernah mengutuk saya juga bisa memaafkan saya. Saya betul-betul minta maaf. Salah saya pernah berkata kasar kepada kalian dan membuat kalian tersinggung. Salah saya kalau background foto itu berwarna merah oranye. Dan masih banyak salah saya yang lain. Ya betul itu semua salah saya dan saya tidak berhak mengutuk kalian. Maaf sekali lagi.

Dan terima kasih tak terhingga kepada Tuhanku yang Maha Pengasih dan Penyayang. Yang membuat saya membaca buku Sadako, yang membuat orang tua saya tidak menutup sumur di belakang rumah itu. Saya percaya tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Semuanya sudah Kau atur. Terima kasih sudah menunjukkan cahaya-Mu kepadaku.

Dan ngomong-ngomong tentang cahaya, tetiba saya jadi keingat Jamie yang diperankan oleh Mandy Moore, menyanyikan lagu Lighthouse di film A Walk to Remember sebagai permintaan kepada Tuhannya untuk selalu membimbingnya. Dengan sedikit penyesuaian lirik, saya rasa saya juga bisa meminta hal yang sama kepada Tuhan saya ^^

Here is my thought, this is my plea.

God let Your holy light, shine on me.

I believe in You, hear my prayer.

I know I am not worthy but I need your help.

God shine Your light, shine it this way.

Shine it so I can see which way to take.

My faith is in you, to bring me through.

I have one question.

Lirik yang indah ya ^^

Dan ngomong-ngomong tentang cahaya lagi, saya jadi teringat juga sama bagian penutup The Tale of Despereaux by Kate diCamillo,

Aku akan senang sekali kalau kau menganggap aku sebagai tikus yang bercerita kepadamu, menceritakan kisah ini dengan segenap hatiku, membisikkannya ditelingamu untuk menyelamatkan diriku dari kegelapan, dan untuk menyelamatkanmu dari kegelapan juga.

“Cerita seperti cahaya,” kata Gregory si sipir pada Despereaux.

Anak-anak, kuharap kau menemukan cahaya di sini. 

Ya benar sekali Kate diCamillo, aku menemukan cahaya di ceritamu. Disetiap tokohnya, yang menyelamatkan hati mereka masing-masing dari kegelapan dengan memaafkan. Memaafkan dengan tulus, meskipun yang telah dilakukan oleh musuh mereka sangat menyakitkan. Terima kasih ^^

Ngomong-ngomong, mungkin ada yang bertanya-tanya tentang judul artikel ini kok sudah langsung Buku dalam Hidupku #7. No. 1-5 nya sudah dipost duluan untuk event #5BukudalamHidupku yang diadakan oleh Mas Irwan Bajang. Terus saya memutuskan untuk melanjutkan “hashtag” ini. Yang ke-6 saya post untuk event BBI Anniversary.

At last, mumpung masih dalam suasanan Ramadhan, saya mau mengucapkan Selamat Menunaikan Ibadah Puasa ya ^^. Dan karena sebentar lagi lebaran, saya juga mau mengucapkan Selamat Idul Fitri 1435 H. Semoga kita berhasil meraih fitrah di tahun ini. Mohon maaf lahir dan batin semuanya.

See yaaa 😀

Posted in Non Review

LIEBSTER AWARD

Hurray, I’ve nominated for Liebster Award again. Thank you so much to Zelie @ Me: Book-admirer.

The Rules:

  • Thank the blogger that nominated you and link back to their blog.
  • Display the award somewhere on your blog.
  • List 11 facts about yourself.
  • Answer 11 questions chosen by the blogger who nominated you.
  • Come up with 11 new questions to ask your nominees.
  • Nominate 5-11 blogs that you think deserve the award and who have less than 1,000 followers. You may nominate blogs that have already received the award, but you cannot re-nominate the blog that nominated you.
  • Go to their blog and inform them that they’ve been nominated

And here we go, here are 11 Facts about me:

  1. I always want to be a student.
  2. I love read but my writing skill is never good enough.
  3. I often speak too fast and hyperbola.
  4. I often get nervous if I am in public places.
  5. Psstt…I am 25 years old now but I still read Majalah Bobo ^^
  6. My most read authors are Jacqueline Wilson and Jostein Gaarder.
  7. I read Indonesian classic books most when I was teenager but now I love to read children books.
  8. I love traditional dance and I love Karate too. So, am I feminine or tomboy?
  9. I believe in love at first sight.
  10. I believe in magic.
  11. So, I crazy in love with fantasy? Absolutely 😀

And here are Zelie’s questions:

What is your best companion while reading?

A big…big…big…cup of coffe.

Do you participate any reading challenge? Why you join that challenge, or why not join any of it

Yes, I participate in 5 reading challenges just because of their giveaways. No more no less 😀

How many books that you’ve read for a month?

Depend. Mostly 3-5 books for a month.

Who is your bookish boy/girlfriend?

Percy Jackson of course ^^

If you can go to any fictional place on book, where would you go?

Hogwarts

How many of your friends (beside BBI or any other book club) friends that love books? Is it more than 10?

No, it isn’t. Unfortunately, It’s less than 10.

Do you read e-book? If yes, how many e-books that you have piled? 😛 

Errr….uncountable 😀

What is your favorite genre?

Fantasy

What is your less-favorite genre?

Horror

When is the perfect time to read? Example: in the morning, before bed time, or else.

Spare time 

Why do you create a book blog? 

Because I love books and I want to improve my poor writing skill.

***

That’s it. And just like my another Liebster Award post, I do not nominate anyone. It’s clear that my English isn’t good enough.

At last, hope you enjoy it. See yaa 😀

Posted in Non Review

BYE BYE BOOK HANGOVER

Beberapa minggu yang lalu saya kena book hangover. Bukan book hangover yang menyenangkan sayangnya, tapi book hangover akibat kecewa dengan sebuah buku.

Ini ‘musim paceklik’ terpanjang yang saya alami. Baru kali ini saya tidak ingin membaca buku selama kurang lebih dua minggu berturut-turut.

Saya masih senang melihat timbunan buku yang menumpuk, tapi begitu ingin mulai membaca, rasanya malas sekali. Takut kecewa. Sampai akhirnya saya dapat saran dari Bzee bagaimana caranya untuk menghilangkan book hangover. Dan sarannya adalah dengan membaca buku dari pengarang favorit.

Masalahnya adalah sekarang saya sedang berada di luar kota untuk waktu yang cukup lama. Dan semua koleksi buku dari pengarang favorit saya ada di kampung halaman.

Tapi tiba-tiba sebuah ide muncul. Kenapa saya tidak membaca majalah favorit saja. Majalah yang berperan besar membuat saya jadi hobi membaca. Dan majalah tersebut adalah Majalah Boboooooo \^_^/

Yaaahhh saya memang masih membaca majalah Bobo di usia setua ini 😀 tapi tidak rutin sih *ngeles*. Jadilah saya berburu majalah bobo yang masih bisa saya temukan di toko-toko buku dan kios majalah, dan juga mungkin ada yang terjepit di bawah tumpukan buku saya sendiri. Akhirnya saya berhasil mengumpulkan 5 buah majalah bobo. 1 berupa bonus saat saya membeli majalah tersebut di sebuah toko buku. Untung edisi majalah gratisnya bisa milih, jadinya ga kedobel. Beruntungnya ^^

Dan ini dia kelima majalah tersebut.  Kalau diperhatikan sepertinya meloncat 1 satu edisi ya? Itu karena keponakan saya di kampung halaman sudah duluan membeli edisi tersebut gara-gara ada bonusnya 😀

 photo bobo_50_zpseb8494f8.jpg photo bobo_51_zps9c2d97ba.jpg photo bobo_52_zps4d52c07e.jpg photo bobo_02_zps8f4bdf02.jpg
 photo bobo_03_zps99f37843.jpg

Daannnnnn, setelah membaca kelima majalah ini minat baca saya kembali. Senang sekali rasanya. Setelah itu saya bisa menyelesaikan membaca buku setebal 357 halaman sekali duduk. Kebetulan juga sih bukunya seru 😀

At last, book hangover saya sudah pergi. Sekarang saya tahu apa yang harus dibaca kalau nanti kena book hangover yang kurang menyenangkan lagi. Terima kasih Bobo (‘▽’ʃƪ) ♥

Posted in Non Review

LIEBSTER AWARD – 11 FACTS ABOUT ME

Yeay, another Liebster Award with quite different rules. And the person who nominated me was Listra @ Half-filled Attic.

Thanks for nominating me, Listra. I’m sorry I didn’t write mine soon. It is because I haven’t practiced my English for quite some time. But, yeah, I still try. And please feel free to tell me if you find any incorrect grammar on my post 😀

And here we go, here are 11 Facts about Me:

  1. I love books very much.
  2. I love school and I always want to be a student.
  3. I love read but my writing skill is never good enough.
  4. Actually, I am shy kind of person, but people often get me wrong. They think I am cocky 😦
  5. I often speak too fast and hyperbola.
  6. I often feel like a clumsy person if I am in public places.
  7. Psstt…I am almost 25 years old now but I still read Majalah Bobo ^.^
  8. I am always be treated as the youngest person among people of my hometown but I am always be treated as the oldest person outside it.
  9. I love fantasy but my most read authors are Jacqueline Wilson and Jostein Gaarder.
  10. One of my wish if I meet genie is I wish I have at least one of art skills.

And here are Listra’s questions:

  1. What is your favourite quote from your favourite author?
    “You are protected, in short, by your ability to love!” 
    ― J.K. RowlingHarry Potter and the Half-Blood Prince
  2. What genre do you mostly read?
    Fantasy
  3. What is the best book ever written in mankind’s history?
    Every book that have been written 🙂
  4. What is the oldest book that you’ve read?
    Hmmm…as far as I can remember…maybe The Prince and The Pauper by Mark Twain
  5. What turns you on, or off, when reading?
    The book itself.
  6. Have you challenged yourself to read something really hard and completed the challenge?
    Yes, I have challenged myself to read at least 30 books for Indonesian romance genre but it still in progress.
  7. People can read and read for themselves. Why do you blog about it?
    I am just wanna improve my writing skill and I start it with blog about something that I love most.
  8. What kind of author do you hate the most?
    Nothing. I appreciate someone named authors. It’s because of them I have something to read. Even if their works didn’t good enough.
  9. What kind of reader do you hate the most?
    Errrr…maybe the reader who judge another readers are bad only because they do not have the same ways about what a good readers have to do. 
  10. What is the literary dream of your life?
    Have a book cafe/book store/ library which can invite at least one author every month.
  11. When you read something, do you research about the particulars? For example when you read Historical Fiction, do you check history, or when you read science-fiction do you check the science stuff?
    Yes, I do it, sometimes ^.^

That’s it. And just like my another Liebster Award post, I do not nominate anyone. Hey, I am shy kind of person, right?  😀