Posted in Non Review

Proyek Baca Buku Perpustakaan 2016: Wrap Up Post

 photo proyek_baca_buku_perpustakaan_zpsbae5o9ei.png

***

Halo peserta Proyek Baca Buku Perpustakaan 2016 \^_^/

Bagaimana? Bagaimana? Ada berapa banyak buku perpustakaan yang berhasil kalian baca sepanjang tahun 2016?

Ngomong-ngomong, maafkan saya karena baru bisa nongol sekarang. Akhir-akhir ini Hayati sangat lelah dan sangat sibuk, Bang,¬†¬†ūüėĄ

Sampai-sampai saya tidak punya waktu lagi untuk membaca buku di saat weekend. Buku perpustakaan yang saya baca pun sangat sedikit. Saya cuma membaca The Capture, And The Mountain Echoed, The Moonstone, Interlude, Perahu Kertas, The Chronicles of Audy: 4R, Dancing on The Edge, dan One Hundred Wisdom Stories from Around The World. Yah, cuma 8 buku. *nangis*.

Nah, bagaimana dengan teman-teman? Setelah mengubek-ngubek akun medsos saya, mencari-cari mention-an teman-teman berhashtag #pbbp dan #bacabukuperpus, juga mencek mention-an Wrap Up. Berikut daftar buku perpustakaan yang saya masukkan ke undian untuk hadiah utama:

Continue reading “Proyek Baca Buku Perpustakaan 2016: Wrap Up Post”

Posted in Books, Grasindo, Margaret Silf, Review 2016, Short Stories, Spirituality

One Hundred Wisdom Stories from Around The World Review

 photo one_hundred_wisdom_stories_from_around_the_world_zpsu6dyksdv.jpg

***

“Alkisah, ada sebuah desa yang sedang dirundung masalah. Desa itu terkenal dengan penduduknya yang selalu bahagia dan komunitas mereka yang ramah dan bersahabat baik kepada teman atau pendatang.

Suatu saat tiba-tiba keadaan berubah menjadi kacau. Penduduk desa itu tanpa sebab yang jelas mulai berseteru satu dengan yang lain. Permusuhan timbul dari persahabatan dan kepercayaan yang ada selama ini, …

Pendatang menjadi enggan untuk datang berkunjung ke desa itu. Penduduk pun menjadi terlalu sibuk dengan urusannya masing-masing sehingga desa itu perlahan-lahan menuju kehancuran” —-hlm. 137

***

Sebuah kondisi desa yang terasa familiar ya? Dulunya ramah dan bersahabat, sekarang berseteru satu sama lain. Silakan simak bagaimana seorang asing memberikan solusi terhadap masalah tersebut dalam cerita “Hadiah dari Orang Tak Dikenal”.

Ada banyak kisah bijak yang terasa familiar di sini. Bahkan ada lebih dari satu dengan tema Jaka Tarub yang mencuri selendang bidadari. Membuat saya jadi bertanya-tanya, kenapa cerita seperti Jaka Tarub ini banyak sekali versinya. Daerah mana ya yang pada awalnya menceritakan kisah ini? Dan apa sebenarnya pesan bijak yang terkandung di dalam kisahnya?

Ngomong-ngomong, kisah-kisah yang ada di buku ini memiliki suasana Eropa yang kental. Jadi terasa beda karena biasanya kalau saya membaca cerita-cerita bijak, pasti temanya Asia.

At last, kisah-kisah yang diceritakan memang indah dan mengandung pesan bijaknya masing-masing, tapi sayang, menurut saya kurang nyaman dibaca. Entah karena terjemahannya, atau memang sudah dari sananya, atau memang saya-nya yang lagi error. #eh.

***

Judul: One Hundred Wisdom Stories from Around The World Р100 Cerita Bijak dari Seluruh Penjuru Dunia | Pengarang: Margaret Silf | Penerbit: Grasindo | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan Kedua, April 2006, 228 halaman | Status: Pinjam di Perpustakaan Daerah Kab. Hulu Sungai Utara | Rating saya: 3 dari 5 bintang

***

Submitted for

Posted in Books, Family, Han Nolan, Psychology, Review 2016, Serambi, Spirituality, Young Adult

Dancing on The Edge Review

 photo dance_in_the_edge_by_han_nolan_zpslhwfjpab.jpg

***

“Aku bukan siapa-siapa! Siapakah kamu?” —-hlm. 9

Kebenaran harus menarik orang sedikit demi sedikit. Kalau tidak, semua orang akan menjadi buta.” —-hlm. 211

***

Kebohongan itu, apapun alasan dibaliknya, tidak pernah berakhir bagus. Miracle McCloy, dibesarkan dengan keyakinan bahwa dirinya istimewa. Neneknya, yang biasa dipanggil Gigi, menceritakan bahwa Miracle dilahirkan dari rahim ibunya yang tewas karena kecelakaan. Gigi juga mengatakan kalau itu adalah sebuah keajaiban, pertanda kalau Miracle akan menjadi orang yang genius seperti ayahnya.

Miracle bingung, kalau memang benar dia istimewa, kenapa teman-temannya menjauhinya. Kalau dia jenius, kenapa guru-gurunya tidak menyukainya. Namun Miracle memilih untuk tetap percaya. Karena dia punya Gigi, ayahnya, juga bibi Casey dan suaminya yang selalu mengingatkannya kalau dia adalah anak yang istimewa.

Sampai suatu hari, Dane, ayah Miracle menghilang. Gigi yang adalah seorang “medium”, mengatakan kalau Dane¬†meleleh karena itulah yang tampaknya terjadi. Dane benar-benar seperti meleleh di tengah cahaya lilin yang bertebaran di kamarnya, dimana yang tertinggal hanyalah seonggok jubah mandi yang selalu dipakai Dane.

Miracle berusaha menjalin hubungan spiritual dengan Dane. Menanti pertanda bahwa ayahnya akan kembali. Miracle berusaha mempercayai bahwa Dane hanya pergi sebentar untuk menjemput Mama. Miracle hanya harus menunggu dan mendengarkan pertanda dari Dane. Dane akan kembali bersama Mama. Dan setelah itu mereka bertiga akan tinggal di rumah di tepi pantai.

Dengan keyakinan itu, Miracle membangun dunianya sendiri. Dimana dia bisa bersembunyi di dalam keheningan, agar dia bisa mendengar pertanda dari Dane dengan baik. Miracle membangun dunia yang penuh kebohongan. Hingga akhirnya Miracle tidak tahu lagi yang mana yang nyata dan yang mana yang tidak. Miracle bahkan mulai meragukan apakah dirinya nyata. Dan hanya ada satu cara untuk mengetahuinya. Miracle memakai jubah mandi Dane dan menarikan tarian di tengah lilin yang sama seperti lilin-lilin Dane.

Saya pernah membaca ungkapan yang kira-kira bunyinya seperti ini, “Aku lebih memilih disakiti oleh kebenaran, daripada dibuat nyaman dengan kebohongan”. Nah, menurut saya itu benar sekali. Terutama untuk kisah Miracle ini. Lagian siapa sih yang suka dibohongi. Kalau dari kisah Miracle, kebohongan yang diceritakan keluarganya membuat Miracle menjadi membohongi dirinya sendiri dan itu berakibat fatal.

Ngomong-ngomong, disini ada banyak kutipan yang diambil dari puisi Emily Dickinson. Setelah googling sebentar, saya baru tahu kalau Emily Dickinson banyak menghasilkan karya-karya berupa puisi. Puisinya yang ada di buku ini indah-indah. Dan seperti kata teman Miracle, puisi itu menyampaikan hal-hal yang benar, dan merupakan hal paling nyata yang pernah dia kenal. Dan puisi itu cocok untuk Miracle, karena Miracle membutuhkan kebenaran. Lewat puisi itu, Miracle akhirnya menemukan bahwa orang-orang yang berani berkata jujur kepadanyalah yang ternyata paling mencintainya.

Dia tersenyum dan aku membalas senyumannya sambil memikirkan kebaikan hatinya, lalu kebaikan Bibi Casey dan Kakek Opal. Aku kemudian berpikir mungkin saja cinta adalah hal paling benar dan yang paling nyata yang pernah aku kenal. —hlm. 332

At last, menurut saya buku ini sukses menceritakan bagaimana akibatnya kalau kita berbohong. Apapun alasannya, berbohong tidak pernah berakhir bagus,¬†apalagi untuk memulai suatu hubungan. Memangnya apa yang kau harapkan dari orang yang kau bohongi? Rasa percaya? Nah, itu baru yang namanya “lucu”.

***

NB: Kutipan-kutipan favorit di Dancing on the Edge:

…aku pernah membayangkan suatu hari kelak, aku dapat melangkah keluar dari warna ungu yang melingkupiku dan menari sehingga orang-orang dapat melihatku, dan mereka akan mengerti diriku. Menurutku, kalau saja mereka dapat menontonku, mereka akan memahami semua perasaanku dan aku tidak harus mengatakan apa-apa. Kalau saja mereka melihatku menari. Namun tidak ada seorang pun yang melihatku. —hlm 281

Seandainya saja Miracle. Tapi mereka tidak akan mau melihat. Mereka hanya melihat apa yang ingin mereka lihat.

…aku akan bilang kalau dia meninggalkan kami. Dia melarikan diri. Dan kalau Dr DeAngelis bertanya bagaimana perasaanku ketika mengetahui hal tersebut, aku akan bilang … aku tidak bisa berpikir lagi. Tidak, itu bukan hanya perasaan paling menyedihkan di dunia. Tapi juga kehampaan seperti yang selama ini aku rasakan. —hlm 318

Hampa. Tepat sekali Miracle. Seperti itulah rasanya. Hampa.

***

Judul: Dancing on the Edge РMenari di Tepian | Pengarang: Han Nolan | Penerbit: Serambi | Edisi: Bahasa Indonesia, Edisi Revis I, April 2007, 332 halaman | Status: Pinjam di Perpustakaan Daerah Kab. Hulu Sungai Utara | Rating saya: 4 dari 5 bintang

***

Submitted for

Posted in Books, Family, Haru, Orizuka, Review 2016, Romance, The Chronicles of Audy

The Chronicles of Audy: 4R Review

 photo chronicleofaudybyorizuka_zpsezbf2y2g.jpg

***

“Sebenarnya, aku sadar kalau kamu…, punya perasaan sama aku,” katanya, membuatku terperanjat.

“Aku nggak bisa melarangmu, tapi…, aku juga nggak bisa membalasnya.”

(The Chronicles of Audy: 4R, hlm. 192-193)

Kutipan yang perlu disimpan. Siapa tahu suatu saat nanti diperlukan. Saya hanya bisa berharap kalau saya bisa setegar¬†Audy kalau berada di posisi dia. Dan saya juga berharap semoga pihak-pihak terkait bisa sebijak Audy kalau saya berada di posisi R1. *selfkeplak, sok populer* ūüėĄ

Saya benar-benar tidak menyangka bakalan menemukan buku ini di perpustakaan. Walaupun saya sudah sering berkunjung ke sana, tapi tetap saja selalu ada kejutan.

Ngomong-ngomong, saya sudah sering melihat buku ini berseliweran di dunia maya. Namun saya tidak menyangka kalau ceritanya bakalan seperti ini. Lucu, mengharukan, dan terasa beda.

Ini adalah kisah tentang Audy, seorang mahasiswi yang sedang menjalani semester terakhir kuliahnya, tapi terancam gagal karena masalah biaya. Malangnya lagi, masalah biaya ini terjadi karena orang tua Audy tertipu investasi bisnis gadungan.

Audy pun nekat mencari pekerjaan yang bisa menopang kebutuhan hidupnya setidaknya selama satu semester lagi. Dan dia akhirnya diterima sebagai babysitter, disebuah rumah yang tampaknya seperti rumah hantu, tapi dihuni oleh 4 bersaudara yang tampangnya seperti malaikat. *oke, ini mungkin berlebihan*.

 Nah, meskipun mereka 4 bersaudara ini cakep-cakep, tapi mereka semua membuat Audy jengkel. Regan yang paling tua, sangat perhitungan dan sukses membuat Audy menerima pekerjaan sebagai babysitter padahal yang diasuh sama sekali bukan bayi. Romeo, sebenarnya ramah, tapi jorok dan pemalas. Rex, jenius, tapi sinis bukan main. Dan terakhir, Rafael, yang awalnya dikira bayi, tapi ternyata seorang balita ber-IQ tinggi.

Awalnya Audy bisa bertahan hanya karena kegantengan Regan. Tapi lama-kelamaan, Audy mengenal mereka satu-persatu. Audy akhirnya mengetahui alasan kenapa para cowok itu tampaknya  memiliki masalah kepribadian yang menjengkelkan. Adik-adik Regan yang awalnya cuek dengan Audy pun lama-kelamaan mulai menyukai Audy.

Nah, apa yang terjadi sehingga mereka akhirnya bisa saling menerima? Well, buku ini penuh kejutan. Saya sama sekali tidak bisa menebak bagaimana akhirnya. Saya juga merasa kalau buku ini mengajarkan saya untuk tidak menghakimi seseorang sebelum tahu alasan dibalik perbuatannya, seberapa pun orang itu sudah membuat kita jengkel dan marah.

Saya salut sekali dengan Audy. Dia sama sekali tidak dendam karena perilaku sinis  yang diterimanya. Saya juga salut dengan Regan, dia bisa tetap berkepala dingin meskipun beban hidupnya banyak.

Oke, at last, saya suka sekali dengan The Chronicles of Audy. Sayangnya, belakangan saya baru tahu kalau buku ini berseri. Jadi, meskipun kemungkinannya kecil, saya akan menanyakan apakah perpustakaan juga punya buku kedua dan ketiganya.

***

NB, kutipan-kutipan favorit lainnya dari buku The Chronicles of Audy: 4R:

Apa aku harus melepaskan kuliahku dan kembali ke Serang? Cuti satu semester dan bekerja serabutan untuk mengumpulkan uang kuliah? Tapi, memikirkannya saja aku ngeri. Kalau aku melakukannya, kemungkinan besar aku akan terjebak di situasi itu dan tak akan pernah kembali lagi ke sini. Dan orang tuaku…, mereka tak akan pernah belajar. —hlm.40

Jangan Audy, saya¬†melakukannya, dan saya¬†rasa …¬†saya¬†terjebak.

Apa aku akan berakhir di kota tempat keluargaku berada, dan tua di sana tanpa bisa meraih cita-citaku? —hlm. 51

Saya harap jawabannya tidak, Audy.

… Rex tampak memunggungiku, duduk menghadap meja belajarnya yang penuh akan buku yang terbuka. Dia memang murid kelas dua belas, tapi apa harus dia melakukan semua ini sepanjang waktu? Tidak bisakah dia bersikap seperti cowok remaja kebanyakan, main game atau baca majalah pria, misalnya? —hlm. 203

Tidak bisa Audy. Saya bisa dibilang mirip dengan Rex. Lebih memilih buku ketimbang hal-hal yang dilakukan orang kebanyakan seusia kami. Tapi jangan menghakimi kami, Audy. Ada alasan bagi hal-hal yang kami pilih untuk lakukan. Dan saya senang kamu akhirnya punya cara untuk mengetahuinya.

…, aku bersyukur memiliki orangtua seperti Ayah dan Ibu. Mereka belajar dari kesalahan dan rela berubah demi anak-anaknya. Aku harap, Ayah tidak terlalu mengkhawatirkan aku lagi dan fokus dengan usaha barunya. Di sini, aku akan berusaha sama kerasnya, lulus dengan nilai baik dalam enam bulan tanpa menyusahkan mereka, lalu mencari pekerjaan yang baik untuk membantu mereka keluar dari kemiskinan. —hlm. 315

Saya berharap keluarga saya juga mau belajar dan mengerti Audy.

Teruntuk teman yang pernah menanyakan kenapa saya ingin lulus duluan?, apakah saya tidak ingin merayakan momen lulus bareng mereka?. Well, sama seperti Audy, saya tahu seberapa keras orangtua saya berusaha untuk kuliah saya. Dan saya sudah berjanji untuk bisa lulus secepatnya, dengan nilai sebaik-baiknya, untuk mereka ūüėČ

***

Title: The Chronicles of Audy: 4R  Series: The Chronicles of Audy #1 | Author: Orizuka  | Edition: Indonesian language, 3rd Edition, November 2013, 320 pages | Publisher: Haru | My rating: 4 of 5 stars | Submitted for: Proyek Baca Buku Perpustakaan