Posted in Books, Buku Jalan-jalan, Gramedia Pustaka Utama, Horror, Mary Shelley, Review 2014

Buku Jalan-jalan #4 | Frankenstein Review

 photo bukujalanjalan_zpsf2569632.jpg

Buku Jalan-jalan Bulan September: Frankenstein by Mary Shelley

frankenstein_by_mary_shelley

Title: Frankenstein |  Author: Mary Shelley | Edition language: Indonesian | Publisher: Gramedia Pustaka Utama | Edition: 3rd Edition, Jakarta, November 2009 |  Page: 312 pages | Status: Pinjem dari Zelie @ Book-admirer |  My rating: 3 of 5 stars

***

Sinopsis:

Dokter Victor Frankenstein ingin menciptakan makhluk sempurna dengan menggabungkan ilmu pengetahuan dan ilmu gaib. Dari sisa-sisa tubuh orang mati, ia membuat makhluk raksasa dengan kekuatan luar biasa… dan menghidupkannya. Tetapi ketika makhluk itu membuka mata, Frankenstein melarikan diri dengan rasa takut yang amat sangat.

Makhluk itu pun keluar ke dunia ramai, berusaha mencari teman dan cinta, namun yang diperolehnya justru kebencian dan ketakutan, maka ia pun bersumpah akan membalas dendam pada sang pencipta yang telah memberikan napas hidup baginya. Dengan kekuatannya yang luar biasa, ia berkelana hingga ke ujung dunia…

untuk menghancurkan semua orang yang dicintai Frankenstein. 

Hai…hai bertemu kembali di proyek Buku Jalan-Jalan bersama Zelie @ Book-admirer ^^

Bukunya Zelie yang beruntung bisa jalan-jalan ke Kalimantan untuk bulan ini adalah buku klasik Frankenstein karya Mary Shelley \^_^/

Ngomong-ngomong bukunya masih super mulus. Jangan-jangan masih baru ya Zelie? Wah, maaf ya masih baru sudah aku pinjam. Pinjamnya jauh pula, hehehehe. *gak tahu diri*😀

Oke kembali ke Frankenstein. Dari sinopsis yang saya contek dari cover belakang buku di atas, saya rasa sudah mewakili keseluruhan isi buku. Tidak banyak yang bisa saya ceritakan lagi.

Dari sana sudah ketahuan toh kalau yang namanya Frankenstein itu ternyata si pencipta, bukan si makhluk. Tapi tetap saja sih, karena sudah terlalu melekat di otak, kalau dengar nama Frankenstein itu, yang muncul malah bayangan si makhluk, bukan si pencipta.

Dari sinopsis tersebut juga sudah dituliskan kalau si pencipta alih-alih bangga dengan ciptaannya, dia malah kabur ketakutan. Si makhluk jadi dendam dan membunuh orang-orang yang dicintai Frankenstein.

Menurut saya, kesalahan Dokter Frankenstein ini cuma satu. Dia menciptakan makhluk yang wajahnya luar biasa jelek dan mengerikan. Coba kalau dia rancang-rancang dulu gitu gimana caranya supaya makhluk ciptaannya bisa berwajah rupawan. Jadi kan ga takut amat-amat kalau itu makhluk tiba-tiba bangun. Yang wajahnya rupawan saja kalau tiba-tiba bangkit dari kematian serem, apalagi yang wajahnya mengerikan.  *apacoba*

Jujur saya kesal sekali sama Frankenstein dan makhluk ciptaannya ini. Dua-duanya bikin gemes. Saya tidak tahu apakah bisa menyalahkan mereka atau tidak. Jadi …. yah …. kita damai saja ya. *ngawur*

Kesalnya itu karena saya tidak bisa menyalahkan Frankenstein yang kabur ketakutan ketika melihat makhluk ciptaanya bangkit. Saat itu dia sedang kelelahan dan tegang. Wajarlah kalau tiba-tiba makhluk ciptaannya yang tampangnya seperti mayat hidup membuatnya takut setengah mati.

Saya juga tidak bisa menyalahkan si makhluk yang dendam dengan Frankenstein. Siapa sih yang tidak sakit hati kalau diperlakukan seperti monster hanya karena tampang kita mirip monster. Apalagi kalau si pencipta kita sendiri kabur karena melihat tampang kita yang mengerikan. Hiks…. sakitnya tuh di sini *nunjuk ke hati*

Tapi tetap saja, si makhluk seharusnya tidak membunuh orang-orang yang tidak bersalah hanya untuk membalaskan sakit hatinya kepada Frankenstein. Apalagi dalam pengembaraannya, dia sudah mengetahui apa itu kebaikan dan apa itu kejahatan. Tapi bahkan orang yang tumbuh dengan kasih sayang selama hidupnya pun bisa jadi jahat kalau sudah sakit hati. Nah, tuh kan, saya jadi bingung.

Ngomong-ngomong, kalau dipikir-pikir lagi, yang salah si Dokter Frankenstein sih, siapa suruh juga menciptakan makhluk bertampang zombie yang lebih kuat dari dia.  Tapi, somehow, saya juga bisa mengerti bagaimana hasrat untuk membuktikan teori ilmu pengetahuan yang diperolehnya begitu membutakan Frankenstein. Jangankan untuk penemuan yang luar biasa seperti itu, saya yang menemukan petunjuk untuk memecahkan soal kalkulus saja rasanya sudah tidak sabar untuk segera mempraktikkannya, halah jauh banget sih analoginya. Tuh kan saya jadi bingung lagi.

Cerita Frankenstein tidak selesai seperti yang saya harapkan. Kehidupan Frankenstein tetap kacau sampai akhir cerita. Makhluknya juga tidak lebih baik nasibnya. Mungkin memang ini yang ingin disampaikan oleh penulis. Bagaimanapun pintarnya para ilmuwan, bagaimanapun mereka merasa seakan-akan bisa menciptakan segalanya, tapi yah mereka tetap manusia, bukan Tuhan.

Nah, gara-gara gemas sama Frankenstein dan makhluk ciptaannya ini. Saya tidak jadi memberikan bintang 5 dari 5 bintang untuk buku ini. Padahal ceritanya dituliskan dengan indah. Filosofinya juga bagus-bagus. Saya sampai update status terus di Goodreads. Saya juga heran sendiri, kenapa kekecewaan saya terhadap Frankenstein dan makhluk ciptaannya bisa sebegitu mengganggunya.

Terus ada satu lagi yang kurang saya suka dari buku ini. Buku ini seolah-olah berulang kali menegaskan kalau sebuah masalah bisa diakhiri dengan kematian.

Yah saya tidak pernah menghadapi masalah sepelik masalah tokoh-tokoh di buku ini sih, tapi saya rasa sengaja membunuh diri sendiri juga sama tidak bagusnya. Jadi hadapi saja lah. Kematian, tanpa perlu dikejar nanti juga datang sendiri. Siapa tahu diantara waktu itu ada kejadian indah yang sayang kalau kita lewatkan hanya karena kita memilih untuk mengakhiri hidup lebih awal.

Seperti yang dituliskan dalam buku ini juga, segalanya masih bisa berubah. Kita sampai ingin mati hari karena suatu masalah tapi bisa juga esok kita ingin hidup selamanya karena suatu anugerah. Semua akan selalu berubah-ubah.

“Kita beristirahat; tapi impian mampu meracuni tidur lelap.
Kita bangun; satu pikiran akan mengeruhkan perasaan.
Kita merasakan, membayangkan, mempertimbangkan; tertawa atau menangis.
Memeluk kesedihan, atau lemparkan kemalangan.
Semua sama saja: sebab baik kegembiraan maupun kesedihan akan lenyap dengan mudah.
Kemarin takkan sama dengan esok.
Semua akan selalu berubah-ubah!”

(hal 129)

Ngomong-ngomong, soal menghadapi masalah, waktu pengen mulai membaca Frankenstein, saya takut duluan. Apalagi buku ini baru sampai ke tangan saya di malam jumat. Reputasi Frankenstein sebagai makhluk horor kan sudah terkenal sekali. Terus cover bukunya juga tidak membantu. Hitam suram dengan tulisan berwarna merah. Ditambah lagi malam itu angin bertiup menggoyangkan tirai kamar saya. Haduh, komplit deh. Saya sampai takut nengok ke jendela, jangan-jangan ada makhluknya Frankenstein menjenguk di sana. *horor*.

Tapi setelah saya baca, ternyata ceritanya tidak seram sama sekali. Ceritanya cenderung mengharukan. Setelah membaca bukunya, dalam bayangan saya, makhluk Frankenstein ini malah jadi seperti Hulk, hanya saja matanya kuning dan warna kulitnya tidak hijau. Lagian makhluk ini kan cuma mengejar orang-orang yang dicintai oleh Frankenstein. Jadi saya rasa saya aman. Hahhah. *selfkeplak*.

Soooo, kesimpulannya, 3 dari 5 bintang untuk Frankenstein. Terutama untuk gaya bahasa dan filosofinya yang indah.

I liked it.

Author:

Love book and wanna study abroad to Holland

One thought on “Buku Jalan-jalan #4 | Frankenstein Review

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s