Posted in Alice Munro, Books, BukuKatta, Review 2014

The Bear Came Over The Mountain Review

Baca Bareng Desember Tema Paket Sastra Terjemahan dari Penerbit BukuKatta

Ya Tuhaaaaan ceritanya 😥

Oke, sebelum saya mewek, mari kita cek dulu sinopsis di cover belakang buku:

Sinopsis:

“Kukira itu tak perlu dikhawatirkan,” kata Fiona. “Mungkin aku hanya kehilangan ingatanku.”

Grant bertanya apakah dia telah meminum pil tidur.

“Aku tak ingat,” katanya. Lalu dia minta maaf karena terdengar begitu ceroboh. “Aku yakin tak meminum pil apapun. Mungkin aku seharusnya meminum sesuatu. Mungkin vitamin.”

Vitamin tak membantu. Dia sering berdiri di ambang pintu, bingung ke mana dia akan pergi. Dia lupa menyalakan api ketika memasak sayur atau lupa menaruh air di mesin pembuat kopi. Dia menanyakan kapan mereka pindah ke rumah ini.

“Apakah tahun lalu atau tahun sebelumnya?”

“Dua belas tahun yang lalu,” kata Grant.

Pasti sedih sekali rasanya melihat orang yang kita cintai mulai mengalami kemunduran untuk mengingat sesuatu. Lebih sedih lagi kalau saking parahnya penyakitnya, mereka bahkan tidak bisa mengingat kita lagi. Tapi yang namanya orang yang kita cintai, tidak peduli apakah mereka ingat kita atau tidak, kita akan tetap mencintai dan tidak ingin jauh dari mereka.

Jujur cuma itu sih yang bisa saya tangkap setelah membaca novelet ini. Ternyata setelah membaca bagian “Tentang Penulis” di bagian akhir buku ini, saya baru paham kalau ceritanya ternyata tidak sekedar cerita cinta seorang suami kepada isterinya sampai mereka lanjut usia, bahkan saat isterinya lupa siapa dia.

Dan ini ada hubungannya dengan lagu anak-anak yang menjadi judul cerita ini, The Bear Came Over The Mountain. Saya jadi penasaran bagaimana lagunya, dan setelah bertanya kepada “Om Google”, ternyata judul yang lebih umum untuk lagu tersebut adalah The Bear Went Over The Mountain. Nah, silakan disimak dulu bagaimana lagunya 😀

Kata terakhir di buku ini yang diucapkan oleh Grant untuk Fiona membuat saya tidak bisa melihat apa hubungan lagu dengan cerita. Yang saya tangkap dari cerita ini hanyalah meskipun Grant bukan lelaki setia, tapi dia tidak pernah ingin meninggalkan Fiona meskipun mereka berdua sudah lanjut usia dan Fiona mulai mengalami kemunduran untuk mengingat sesuatu.

Kalau dilihat dari ulasan-ulasan mengenai cerita ini, sepertinya banyak sekali pesan yang bisa diungkapkan dari kisah Fiona dan Grant. Tapi karena kemampuan sastra saya tidak terlalu bagus, saya masih tidak paham, hehehehe. Mungkin saya harus menonton filmnya juga supaya lebih mengerti.

At last, 3 dari 5 bintang untuk The Bear Came Over The Mountain. Untuk ceritanya yang bisa membuat saya merasa sedih dan untuk kata terakhir yang sangat manis dari buku ini yang diucapkan oleh Grant untuk Fiona. So, I really liked it.

***

Judul: The Bear Came Over The Mountain | Pengarang:  Alice Munro | Edisi bahasa: Indonesia | Penerbit: BukuKatta (Cetakan pertama, Solo, 2014) | 1st Published: 1999| Jumlah halaman: 64 halaman | Status: Owned book (Menang GA SoT 1st Anniversary| Rating saya: 3 of 5 stars

 

Advertisements
Posted in Books, Classic, Dystopia, Elex Media Komputindo, Fantasy, Ray Bradbury, Review 2014, Science Fiction

Fahrenheit 451 Review

Baca Bareng November Tema Buku yang Ada Unsur Angka

Hmmm…ceritanya di luar dugaan. Jujur setelah membaca sinopsisnya, saya kira ceritanya semacam cerita detektif yang mengejar si pemadam kebakaran yang mulai sinting karena doyan membakar buku. Ternyata ceritanya bukan seperti itu. Hahhahh, jadi malu. *tutup muka pakai boneka kura-kura*.

Oke, sebelumnya, mari kita cek dulu sinopsis di cover belakang buku 😀

Sinopsis:

451o Fahrenheit — temperatur yang mampu membakar kertas buku dan menghanguskannya…

Guy Montag adalah seorang pemadam kebakaran. Ironisnya, yang dilakukannya bukan memadamkan api melainkan menyulut api dan membakar rumah yang berisi buku-buku. Ia menikmati pekerjaannya. Sepuluh tahun menjadi seorang pemadam kebakaran, ia tidak pernah bisa menjelaskan betapa dirinya merasa bergairah setiap kali menyaksikan api melahap lembaran-lembaran buku.

Suatu malam, Guy Montag bertemu dengan seorang gadis yang menceritakan padanya tentang orang-orang di masa lalu, begitu berbeda dengan orang-orang pada masanya.

Dan seorang profesor mengatakan padanya bahwa semua orang seharusnya menggunakan lebih banyak waktu mereka untuk berpikir, dan menghayati hidup. Sejak saat itu Guy Montag sadar bahwa dirinya harus melakukan sesuatu.

Untuk menyelamatkan dunia….

Well..well…well…ceritanya ternyata tentang dunia distopia. Ya Tuhan….saya baru ingat kalau cerita ini cerita distopia. Tahun lalu waktu Baca Bareng BBI, buku ini disebut2 sebagai salah satu buku distopia non YA. Ngomong-ngomong, judulnya unik. Pas sekali dengan cerita di buku ini.

Ceritanya sendiri berkisah tentang dunia Guy Montag, si pemadam kebakaran, dimana di dunia tersebut tidak boleh ada buku. Kalau buku ditemukan ada di rumahmu, maka buku tersebut akan dibakar oleh para pemadam kebakaran, komplit dengan rumahnya, dan kalau perlu dengan orang-orangnya sekalian.

Seram banget ya. Situasi apa yang membuat buku jadi terlarang di dunia ini? Hmmm…silakan baca sendiri bukunya :D. Yang pasti di dunia ini dikuasai oleh hiburan audio dan visual tanpa media cetak sama sekali.

Awalnya, Guy Montag menikmati pekerjaannya. Dia merasa bahagia sekali saat melihat buku-buku itu terbakar. Dia merasa bahagia dengan kehidupannya yang “dia pikir dan orang-orang disekitarnya pikir” selalu bahagia.

Namun, sejak pertemuannya dengan seorang gadis remaja bernama Clarisse, seorang pria tua bernama Faber, dan seorang wanita yang rela mati terbakar bersama buku-bukunya, well, Guy Montag pun berubah.

Montag sekarang mempertanyakan banyak hal. Terutama tentang apa yang membuat begitu spesial sehingga ada orang yang rela mati untuknya.

Saat membaca halaman-halaman pertama buku ini, saya awalnya merasa bingung dengan kalimat-kalimatnya yang aneh. Tapi yang anehnya lagi, susah sekali untuk berhenti membacanya.

IMO, kalimat-kalimat dalam buku ini, menggambarkan dengan tepat bagaimana kegalauan Guy Montag. Keinginannya untuk menyelamatkan buku-buku berarti harus bertentangan dengan dunianya yang artinya sama saja dengan menghancurkan dirinya sendiri bahkan bisa dibilang bunuh diri. Nah, berhasilkah Guy Montag menyelamatkan nasib para buku ini?

Btw, menurut saya, buku ini diakhiri dengan gantung, tapi pas. Justru gantungnya itu yang membuat saya suka dengan ending-nya. Lagipula, diakhir buku, ada bagian wawancara dengan si penulis, yang syukurlah, menjelaskan kenapa akhirnya gantung seperti itu 😀

At last, buku ini membuat saya sedikit merasa kena book hangover. Tapi tidak parah sih 😀

So, 4 dari 5 bintang deh. I really liked it.

***

Judul: Fahrenheit 451 | Pengarang:  Ray Bradbury| Edisi bahasa: Indonesia | Penerbit: Elex Media Komputindo (June, 12th 2013) | 1st Published: 1953 | Jumlah halaman: 248 halaman | Status: Owned book  | Purchase location: Gramedia Duta Mall Banjarmasin | Date purchased: September, 4th 2014 | Price: Rp46.000,- My rating: 4 of 5 stars

Posted in Books, Children, Fantasy, Grace Lin, Review 2014

Where The Mountain Meets The Moon Review

Baca Bareng November Tema Newbery Book List

Cerita yang sangat indah ^_^

IMO, yang menarik dari sebuah dongeng adalah seberapa mustahil pun ceritanya, dongeng tetap memiliki keajaiban untuk dapat menghangatkan hati orang dewasa yang mungkin telah membeku sehingga melupakan hal-hal sederhana yang sebenarnya merupakan sumber kebahagiaan. Melalui kisah-kisah ajaib dalam petualangan Minli, Where the Mountain Meets the Moon menyampaikan banyak sekali pesan bijak tentang kehidupan.

Sebelumnya, mari kita tengok dulu sinopsisnya yang saya comot dari Goodreads.

Sinopsis Goodreads:

In the valley of Fruitless mountain, a young girl named Minli lives in a ramshackle hut with her parents. In the evenings, her father regales her with old folktales of the Jade Dragon and the Old Man on the Moon, who knows the answers to all of life’s questions. Inspired by these stories, Minli sets off on an extraordinary journey to find the Old Man on the Moon to ask him how she can change her family’s fortune. She encounters an assorted cast of characters and magical creatures along the way, including a dragon who accompanies her on her quest for the ultimate answer.

Grace Lin, author of the beloved Year of the Dog and Year of the Rat, returns with a wondrous story of adventure, faith, and friendship. A fantasy crossed with Chinese folklore, Where the Mountain Meets the Moon is a timeless story reminiscent of The Wizard of Oz. Her beautiful illustrations, printed in full-color, accompany the text throughout. Once again, she has created a charming, engaging book for young readers.

Minli, adalah seorang gadis kecil miskin yang tinggal di kaki gunung yang dikenal dengan nama Fruitless Mountain. Bersama ayah (Ba) dan ibunya (Ma), Minli harus bekerja keras di desanya yang miskin. Meskipun sudah bekerja keras, untuk makan pun mereka masih pas-pasan.

Ma selalu mengeluh akan peruntungan mereka. Namun Ba selalu punya dongeng untuk diceritakan kepada Minli. Dongeng yang menumbuhkan harapan di hati Minli bahwa suatu hari, dia akan menemukan cara untuk merubah peruntungan mereka. Salah satunya adalah dongeng tentang The Old Man of The Moon yang bisa menjawab pertanyaan apa saja.

Dari seekor ikan mas, Minli menemukan bahwa The Old Man of The Moon memang benar-benar ada. The Old Man of The Moon ternyata tinggal di Never-Ending Mountain.

Minli pun nekat pergi untuk menemui The Old Man of The Moon. Di perjalanannya Minli bertemu dengan banyak hal ajaib. Mulai dari seekor naga yang akhirnya menemaninya selama perjalanan, monyet serakah, anak penggembala kerbau beserta temannya yang ajaib, Raja dari City of Bright Moonlight dan si kembar periang beserta keluarganya dari Moon Rain Village. Namun, berhasilkah Minli bertemu dengan The Old Man of The Moon?

Haaahhh, sekali lagi, cerita yang sangat bagus menurut saya. Pesan bijak apa yang ingin kau hidupkan? Tentang merubah peruntungan agar menjadi lebih baik, tentang persahabatan, kepercayaan, kedermawanan, kebaikan hati, saling menolong, proses lebih penting dari hasil, well, apa saja, hampir semua ada di cerita petualangan Minli.

Syukurlah petualangan Minli akhirnya dijadikan salah satu dongeng-dongeng yang diceritakan oleh Ba untuk anak-anak desa sehingga kita tidak perlu mencari The Old Man of The Moon untuk menanyakan bagaimana caranya merubah peruntungan 😀

Ngomong-ngomong, saya baru tahu kalau saya sejauh ini sudah membaca tiga buku Newbery. Buku-buku tersebut adalah The Evolution of Calpurnia Tate, The Tale of Despereaux dan Where The Mountain Meets The Moon. Tiga-tiganya saya sangat suka. Sepertinya saya nyambung dengan buku-buku Newberry, so, masukin ke wishlist semuanya 😀

At last, Kisah Min Li, untuk yang kesekian kalinya, sangat indah. Berisi keajaiban yang bisa menghangatkan hati. 5 dari 5 bintang tentu saja. It was amazing.

***

 Judul: Where Mountain Meets The Moon | Pengarang:  Grace Lin | Penghargaan Newbery: Newbery Honor 2010 |  Edisi bahasa: Inggris | Penerbit: Little, Brown Books for Young Readers  (June, 2009) | 1st Published: 2009 | Format: Ebook | Jumlah halaman: 260 halaman |   My rating: 5 of 5 stars
Posted in Balai Pustaka, Books, Children, Classic, Indonesian Literature, Intisaruddin, Review 2014

Merintis Hari Esok Review

Baca Bareng Oktober Tema Buku yang Diterbitkan Bertepatan dengan Tahun Kita Lahir

merintis_hari_esok

 Judul: Merintis Hari Esok | Pengarang:  Intisaruddin | Edisi bahasa: Indonesia | Penerbit: Balai Pustaka (Cetakan III, Jakarta, 2007) | 1st Published: 1989 | Jumlah halaman: 111 halaman | Status: Pinjam di Perpustakaan Daerah Kota Banjarbaru  | My rating: 3 of 5 stars

Membaca buku ini, jadi ingat waktu kecil dulu. Saat itu, tante saya yang seorang guru di sekolah dasar sering membawakan buku-buku seperti ini. Yang menceritakan petualangan anak-anak desa dalam menggapai cita-cita. Asik ceritanya, apalagi di bagian ketika mereka bermain-main dan di bagian tentang deskripsi keindahan desa.  Juga tentang semangat mereka untuk belajar hal baru-baru.

Oke, sebelumnya, mari kita cek dulu apa kata penerbit tentang buku ini 😀

Pengantar Penerbit:

Buku ini menceritakan tentang apa dan bagaimana manfaat Kelompok Belajar Pendidikan Dasar (KBPD) bagi anak-anak yang putus sekolah dan masyarakat yang masih Buta Aksara. Diuraikan secara jelas apa yang diperoleh selama mengikuti pendidikan melalui KBPD dan bagaimana setelah selesai mengikuti pendidikan tersebut.

Merintis Hari Esok, karya Inti Saruddin ini menceritakan seorang anak yang putus sekolah karena masalah ekonomi orang tuanya. Tetapi, Hasan anak yang rajin dan pandai tidak mau menyerah kepada keadaan. Ia tetap pada pendiriannya belajar demi masa depan. Hasan mengikuti pendidikan melalui KBPD di desanya bersama-sama dengan orang-orang lain yang belum sempat melanjutkan pendidikan. Apa yang diperoleh melalui KBPD ternyata banyak sekali manfaatnya. Di samping membantu program Pemerintah mencerdaskan kehidupan bangsa KBPD juga ikut menanggulangi masalah pengangguran.

Cerita ini cukup menarik dan sangat bermanfaat bagi anak-anak yang putus sekolah dan juga bagi para orang tua yang ingin memahami pentingnya pendidikan untuk anak-anak.

Saya setuju dengan pengantar penebit di atas. Terutama untuk cerita yang menarik dan bermanfaat.

Cerita tentang Hasan yang putus sekolah karena harus membantu ibunya menopang beban ekonomi keluarga. Untungnya Hasan punya teman-teman yang sangat baik. Teman-temannya ini memberi semangat untuk Hasan agar terus belajar meskipun tidak di bangku sekolah.

Semangat yang diberikan oleh teman-teman Hasan ini bukan hanya dalam bentuk kata-kata, tapi juga perbuatan. Mereka rela menyisihkan waktu bermain mereka agar bisa membantu Hasan menyelesaikan pekerjaannya membantu ibu agar Hasan punya waktu untuk ikut KBPD.

Dan Hasan membayar semua itu dengan menjadi yang terbaik di program KBPD. Hasan yang pintar berhasil mengharumkan nama KBPD di desanya. Hasan juga terpilih untuk mengikuti program pelatihan ketrampilan dari Pemerintah.

Saya suka sekali cerita seperti ini. Penuh optimisme. Kehidupan anak-anak desa ini sangat sederhana. Deskripsi alam pedesaannya pun sangat indah. Saya seakan bisa merasakan bagaimana sejuknya udara desa dan bagaimana segarnya bermain-main di sungai.

Buku ini juga menceritakan bagaimana tingginya semangat saling tolong menolong dan gotong-royong antar masyarakat desa. Haaaaahhh…so sweeeet.

At last, cerita ini mengingatkan saya dengan buku-buku pertama yang saya baca waktu masih kecil. 3 dari 5 bintang untuk Merintis Hari Esok. Terutama untuk semangat, optimisme, dan keindahan alam desa-nya. Sooooo…, I liked it ^_^

Posted in Balai Pustaka, Books, Classic, Naning Pranoto, Review 2014

Tembang Cinta Para Dewi Review

Baca Bareng Oktober Tema Buku Balai Pustaka

tembang_cinta_para_dewi
 Judul: Tembang Cinta Para Dewi: Kumpulan Novelet Wayang | Pengarang:  Naning Pranoto | Edisi bahasa: Indonesia | Penerbit: Balai Pustaka (Cetakan IV, Jakarta, 2000) | 1st Published: 1987 | Jumlah halaman: 141 halaman | Status: Pinjam di Perpustakaan Daerah Kota Banjarbaru  | My rating: 3 of 5 stars

Keteteran terus buat posbar 😥

Well, well, langsung saja yaa, karena di cover belakang buku tidak ada sinopsis-nya, jadi sinopsis yang saya pajang berikut adalah kata pengantar penerbit. Check this out! 😀

Pengantar Penerbit:

Tembang Cinta Para Dewi menyingkapkan pertalian cinta asmara secara manis, puitis, dan indah. Cinta agung dan suci yang memerlukan pengorbanan. Persoalan cinta itu diuraikan secara halus dan terselubung, tetapi dapat ditangkap maknanya oleh hati yang mengerti.

Naning Pranoto berhasil mengupas hakekat cinta dan kehidupan bagi pembaca remaja yang sedang berkembang dewasa.

Balai Pustaka dengan bangga menyuguhkan karangan yang sangat bernilai dan bermanfaat ini.

Hmmm…pembaca remaja yang sedang berkembang dewasa. Saya masih masuk tidak ya? Huehehehe. *ga nyadar umur*

Dewi-Dewi yang cerita cintanya dikisahkan di dalam cerita ini ada empat. Mereka adalah Dewi Dewayani, Dewi Amba, Dewi Srikandi,  dan Dewi Erawati. Kenal dengan mereka semua? Hmm…saya cuma pernah mendengar nama Dewi Amba dan Dewi Srikandi.

Cerita cinta Dewi Dewayani dikisahkan dalam cerita Luka Hati Dewayani. Nah, dari judulnya saja bisa ditebak kalau ceritanya tentang patah hati. Yap, Dewi Dewayani ini kisah cintanya sangat memilukan.

Gara-garanya hanya karena ada temannya yang iri hati. Kebetulan juga temannya ini adalah Putri dari Raja Raksasa yang iri dengan kecantikan Dewayani. Parahnya lagi Putri Raksasa ini selalu ikut-ikutan naksir ksatria yang mencintai Dewayani.

Hmmm..jujur saya tidak tahu harus berpendapat bagaimana tentang Dewi ini. Menurut saya sikapnya agak berlebihan meskipun memang pantas dilakukan. Pantas memang kalau Dewayani ngambek dan ngotot menghukum si Putri Raksasa karena perbuatan si Putri memang keterlaluan. Rupanya si Putri Raksasa ini tidak kapok dihukum sehingga melakukan kesalahan kedua dan akhirnya kena kutuk.

IMO, seandainya saja Dewayani memaafkan si Putri Raksasa alih-alih menghukumnya, mungkin akhir ceritanya akan beda. Atau bisa saja tetap seperti itu. Soalnya sifat Putri Raksasa ini egoisnya juga sangat berlebihan. Entahlah.

Cerita kedua adalah cerita cinta Dewi Amba dalam Dendam Abadi Seorang Dewi. Dewi Amba bersama dua saudara kembarnya, Dewi Ambika dan Dewi Ambiki, dijadikan hadiah sayembara untuk membebaskan mereka dari cengkeraman dua raksasa. Dewi Amba yang sebenarnya sudah ditunangkan dengan Prabu Citramuka sangat khawatir. Dia berharap Prabu Citramukalah yang menjadi pemenang sayembara tersebut.

Namun, apa mau dikata, Prabu Citramuka gagal mengalahkan kedua raksasa dan harus menanggung malu. Yang jadi pemenang sayembara malah Bisma yang setahu mereka sudah bersumpah untuk tidak menikah. Ternyata Bisma mengikuti sayembara agar ketiga Putri tersebut menikah dengan adiknya. Di tengah perjalanan ke kerajaan Bisma, Prabu Citramuka berusaha merebut Dewi Amba, namun Bisma yang sakti dapat mengalahkannya.

Dewi Amba yang sudah terlanjur mencintai Prabu Citramuka memohon kepada Bisma agar diijinkan kembali kepada sang Prabu. Bisma pun akhirnya mengijinkan.  Namun tanpa disangka, Prabu Citramuka menolak Dewi Amba dengan alasan sudah terlanjur malu.

Dewi Amba pun marah dan sakit hati. Dia tidak marah kepada Prabu Citramuka tapi marah kepada Bisma yang dia anggap telah menghalangi cintanya dengan Prabu Citramuka.

Dewi Amba pun menjalani pertapaan berat. Akhirnya pertapaannya membuahkan hasil. Dewata mengijinkannya membalas dendam kepada Bisma di kehidupannya yang berikutnya. Kelak Dewi Amba akan dilahirkan kembali sebagai seorang perempuan hebat yang kita kenal sebagai orang yang menyebabkan kematian Bisma yang Agung.

Hmmm…yang membuat saya bingung di cerita Dewi Amba ini adalah kenapa sang Dewi marah kepada Bisma. Kalau saya sih bakalan marah kepada Prabu Citramuka. Alasannya menolak Dewi Amba sangat tipis. *garuk-garuk kepala*

Cerita ketiga adalah cerita Dewi Srikandi dalam Ketika Srikandi Jatuh Cinta. Di sini diceritakan kalau Srikandi jatuh cinta pada pengantin pria dalam upacara perkawinan yang dihadirinya. Dan pengantin pria tersebut adalah Arjuna. Dan upacara perkawinan yang dimaksud adalah upacara perkawinan antara Arjuna dan Subadra.

Terus apa yang terjadi ketika Srikandi jatuh cinta? Well, Srikandi malah dilamar oleh Raja lain. Raja yang kalau lamarannya ditolak akan menyerang kerajaan Srikandi. Nah, bukannya takut, Srikandi malah memanfaatkan keadaan ini untuk minta bantuan kepada Arjuna. Kalau istilah anak muda sekarang sih, Srikandi punya kesempatan untuk pdkt sama Arjuna. Berhasilkah? Silakan baca sendiri ceritanya 😀

Btw, di cerita ini, saya sedikit bingung karena ceritanya sedikit beda dengan yang saya ketahui sebelumnya tentang Arjuna dan Srikandi. Saya baru tahu kalau Srikandi ternyata naksir Arjuna. Di sini juga dikatakan kalau Srikandi adalah adiknya Drupadi, bukan kakaknya Drupadi. Mungkin ini versi cerita wayang Indonesia ya. Mungkin sih.

Oh ya, saya punya kutipan favorit di sini. Diambil dari perkataan Arjuna kepada Srikandi, yang membuat saya tiba-tiba ingin jadi Srikandi 😀

“Mulai besok, belajarlah memanah bersamaku. Aku akan mengajarimu memanah hingga kau mampu memanah seutas rambut sampai terbelah dua atau terputus.” —hal 99

Terus cerita yang terakhir adalah cerita cinta Dewi Erawati dalam Mengejar Bayang-bayang Merah. Di sini diceritakan kalau Pangeran Kartowiyoga bermimpi tentang Dewi Erawati. Mimpi itu menurut ayahandanya, Prabu Kurandageni, adalah pertanda buruk. Namun, Kartowiyoga tetap ngotot ingin memiliki Dewi Erawati. Sayangnya, Kartowiyoga ingin memiliki dengan cara menculik Dewi Erawati, karena dia yakin kalau pihaknya melamar dengan cara baik-baik, pasti akan ditolak.

Dan Kartowiyoga pun berhasil menculik Dewi Erawati. Ayahanda Dewi Erawati pun mengadakan sayembara agar putrinya yang hilang bisa ditemukan. Ksatria manakah yang berhasil menyelamatkan Dewi Erawati?

Hmmm…menurut saya Kartowiyoga ini aneh sekali. Kenapa tidak dilamar dulu coba? Kalau benar-benar ditolak baru diculik *eh*.

At last, menurut saya cerita ini khas cerita romance tempo dulu. Penuh dengan perasaan yang membuat hati gundah gulana sampai berpengaruh kepada raga. *halah*

Dan rating saya untuk kumpulan novelet ini adalah 3 dari 5 bintang. Lumayan menghibur. Terutama di cerita Srikandi dan Dewi Erawati yang ada Arjuna-nya 😀

Sooooo…, I liked it ^^