Posted in Books, Family, Gramedia Pustaka Utama, Jacqueline Wilson, Review 2014

Lola Rose Review

Baca Bareng Juli Tema Masalah Remaja/Keluarga

 13891_10201531226562585_4022679394337630092_n

Title: Lola Rose | Author:  Jacqueline Wilson | Edition language: Indonesian | Publisher: Gramedia Pustaka Utama (1st edition, Jakarta, April 2007) | Page: 304 pages | Status: Pinjam di Perpustakan Daerah Kota Banjarbaru | My rating: 5 of 5 stars

 

Hmmm…bulan ini tema baca barengnya adalah masalah remaja/keluarga. Dan pikiran saya langsung konek ke buku Lola Rose yang bertengger di rak perpustakaan daerah kota Banjarbaru. Untung bukunya gak ada yang pinjem. Langsung deh saya sambar dan sempat diperpanjang satu kali karena belum selesai saya baca. Sayang ya kondisi bukunya sudah cukup memprihatinkan 😦

Okeh, sebelumnya mari kita simak dulu sinopsis yang ada di cover belakang buku ^^

Karena ayahnya suka memukul, Jayni dan ibunya kabur ke London bersama adiknya, Kenny. Walaupun mereka takut tertangkap, kepergian itu terasa seperti petualangan yang mengasyikkan—-mula-mula. Mereka bahkan mengganti nama, sehingga Jayni menjadi Lola Rose! 

Tapi ternyata kehidupan baru Lola Rose tidak sebagus namanya. Ia tidak menyukai pekerjaan baru Mum, atau pacar baru Mum. Ia juga tidak cocok dengan cowok-cowok di sekolahnya.

Dan ketika Mum harus dirawat di rumah sakit. Lola terpaksa bersikap lebih dewasa daripada umurnya.

Masalah betambah ketika ayahnya kemudian berhasil menemukan tempat tinggal mereka yang baru!

Pikiran pertama saya setelah membaca buku ini adalah buku ini bukan buku anak-anak. Isinya sedikit…errr…kurang sopan untuk anak-anak. Mungkin buku ini cocok buat remaja yang tua-an dikit *halah*.

Kali ini tokoh utama kita, Lola Rose, mempunyai Mum yang sangat cantik, mantan foto model dan punya Dad luar biasa tampan, mantan penyanyi rock. Tapi Mum sangat sembrono dan Dad suka memukul. Ketika Dad mulai berani memukul Lola Rose, Mum segera membawa kabur kedua anaknya.

Berbekal uang hasil menang lotre, mereka bertiga memulai hidup baru. Tapi kesenangan mereka tidak berlangsung lama. Masalah-masalah mulai berdatangan. Kecantikan dan kesembronoan Mum mulai menimbulkan pertengkaran-pertengkaran kecil. Tapi Lola Rose, Kenny, dan Mum tetap saling menyayangi.

Saat Mum sakit, Lola Rose benar-benar bingung. Untunglah dia ingat kalau mereka tidak sendiri. Lola Rose nekat menghubungi seseorang yang dia yakin tidak akan pernah disetujui oleh Mum.

Untungnya juga Lola Rose bersikap dewasa sekaligus masih muda *eh*. Keputusan-keputusan yang diambilnya terbukti jauh lebih bijaksana dibandingkan keputusan-keputusan Mum.

Daaan bagian yang paling berkesan bagi saya dari kisah Lola Rose ini adalah saat Lola Rose berkomunikasi dengan “Suara Bencana” khayalannya. Persis seperti saya saat kecil dulu. Dan mungkin seperti kalian juga. Tahu kan saat kita khawatir akan sesuatu, sering kali ada Suara Bencana yang bicara pada kita. Membisikkan kekhawatiran kepada kita sehingga ribuan kali lebih buruk. Terus Suara Bencana itu juga menantang kita untuk melakukan hal-hal konyol. Seperti Lola Rose yang berjalan sambil menghindari retakan di jalan. Berharap kalau dia berhasil maka apa yang dia khawatirkannya tidak terjadi.

Dengan cara ini, Lola Rose berhasil menghadapi ketakutannya. Si Lola Rose ini takut sekali dengan hiu. Bahkan melihat hiu yang ada di akuarium raksasa pun dia takut. Tapi demi kesembuhan Mum, Lola Rose menantang Suara Bencana. Lola Rose memberitahukan sebuah cara kepada saya untuk menghadapi ketakutan sendiri.

“Ini aku. Aku si sini. Lola Rose,” aku berbisik. “Aku mampu melakukannya. Aku bisa membalas tatapanmu. Kau bisa berenang melintas lagi berulang kali. Kau bisa membuka mulutmu yang mengerikan dan memamerkan semua gigimu padaku, tapi aku takkan beranjak. Aku akan tetap di sini menghadapi kalian selama satu jam penuh. Aku akan membuat ibuku sembuh, kalian tahu.”

Aku memerhatikan mereka, tiap kali mereka berenang melintas, jantungku berdebar keras dan keringat menitik di dahiku. Aku merasa mual, aku perlu ke toilet, aku tak bis berhenti gemetar—-tapi aku tetap di sana.

Aku menghitung tiap detik sampai tiba pada angka 3.600. …

Lola Rose hebaaaaat. Cara ini lumayan ampuh. Saya pernah takut sama cacing, tapi setelah saya lihat saja cacing itu menggeliat-geliat di tanah selama satu jam, ternyata tidak apa-apa yah *hahhhahh*

Oh ya, saya sempat terharu saat Lola Rose dan Kenny mengunjungi ibu mereka di rumah sakit. So sweet sekaligus lucu. Saya juga suka dengan ending-nya. Dan tokoh favorit saya adalah Bibi Barbara. Keren banget deh. Bibi Barbara ini pemaaf, bijak, lucu, percaya diri dan jago bela diri. Tipe bibi yang ideal deh. Dan kemunculannya menyelesaikan hampir semua masalah Lola Rose.

At last, rating saya untuk novel ini adalah 5 dari 5 bintang. Jangan terlalu percaya. Soalnya saya selalu memberi rating full untuk buku-buku Jacqueline Wilson. Karena alasan tertentu, bisa membaca buku-buku beliau itu, seperti dream comes true bagi saya. So, it was amazing 😀

Advertisements

Author:

Love book and wanna study abroad to Holland

2 thoughts on “Lola Rose Review

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s