Posted in Non Review

Liburan Tibaa! Baca Buku Apa? #BBIHoliday

Ini adalah Master Post untuk Posting Bareng BBI Bulan Juli 2016 dengan tema #BBIHoliday.

Jadi para BBI-ers diminta membuat daftar buku apa saja yang pengin dibaca di bulan Juli. Untuk saya, terutama pas lagi liburan panjang lebaran ini. Soalnya sehabis  liburan, kantor sudah menyiapkan agenda yang sibuk buat saya, hiks.

Karena itu, saya bertekad memanfaatkan waktu libur sebaik-baiknya untuk membaca buku. Saya sudah mencomot buku pertama sejak pulang dari kantor di hari terakhir kerja sebelum liburan minggu lalu. Lagian, karena saya sudah tinggal di “kampung”, maka saya tidak bisa “pulang” kemana-mana lagi. Jadi sambil menunggu sodara-sodara dari luar kota berdatangan, saya bisa membaca buku sepuasnya. Hahaha, it was the best day ever. Dan syukurlah menyenangkan juga satu minggu kedepannya.

Ngomong-ngomong, sebelum post ini dibuat, saya sudah membaca tiga buku di bulan Juli. Silakan klik judul bukunya untuk meluncur ke review-nya.

Terus, ini dia reading list saya untuk Posbar ini:

  Continue reading “Liburan Tibaa! Baca Buku Apa? #BBIHoliday”

Posted in Non Review

Posting Bareng BBI Juni 2016: #BBIBookishConfession

Halo…., ketemu lagi di Posting Bareng BBI 2016.

Bulan ini temanya adalah #BBIBookishConfession. So, para BBI-ers ditantang untuk membuat pengakuan sehubungan dengan aktivitasnya sebagai bookish. Whuah, pas sekali membuat pengakuan di bulan yang penuh ampunan ini, #edisiramadhan.

Ngomong-ngomong sebenarnya, saya punya banyak hal untuk diakui. Secara saya sudah gemar “megang-megang” buku sejak kecil. Dari doyan kasih nama dan tanggal beli di halaman pertama buku dengan tulisan yang aduhai jeleknya, ngasih selotip norak untuk melekatkan sampul plastik, sampai numpahin kopi ke buku yang lagi di baca, *selfkeplak*.

Tapi dari semuanya, ada 3 hal yang menurut saya paling membuat saya, errr…, merasa sedikit berdosa, XD. 3 hal itu adalah:

Saya mengaku kalau saya pelit meminjamkan buku ke orang lain

Yah, ini tidak lepas dari pengalaman buruk di masa lalu, *lebay*. Pertama kalinya saya meminjamkan buku koleksi pribadi ke teman-teman, sampulnya sobek. Buku kedua, punggung bukunya koyak. Bahkan ada beberapa buku yang tidak kembali.

Seharusnya itu bukan masalah sih, toh itu cuma buku kan?, hahhah.  Tapi di kota terpencil seperti kota saya, buku termasuk barang yang susah didapat dan harganya mahal.  Saya mengharapkan para peminjam bisa menjaga buku yang mereka pinjam dengan sebaik-baiknya. Meskipun sudah hukum alam juga sih, kalau buku sudah sering dipinjamkan ke sana-sini, kondisinya pastilah berbeda dengan kalau cuma kita sendiri yang baca.

Tapi sekarang saya sudah insaf kok. Yang mau pinjam buku-buku saya silakan. Kecuali buku-buku tersebut sudah sangat langka, maka saya akan sangat selektif untuk memilih si peminjam, *pelitnya masih tersisa*. 😄

Cuma saya orangnya ga enakan buat menagih buku yang dipinjam. Jadi kalau ga dikembalikan, serius, saya bakalan kasihkan saja bukunya. Tapi jujur, saya bakalan dongkol dan bakalan ingat untuk tidak meminjamkan buku lagi ke orang tersebut, *edisidendamnyipelet*.

Saya mengaku kalau saya pernah kalap akut saat membeli buku

Pertama kalinya tinggal di kota besar untuk kuliah, dengan jarak Toko Gramedia yang cuma sejam, membuat saya kalap.

Timbunan saya memenuhi rak meja belajar, sampai buku-buku kuliah mengungsi ke kotak bekas air mineral. Bahkan baju di lemari pun harus berbagi tempat dengan buku.

Uang beasiswa yang didapatkan dengan susah payah juga berakhir menjadi novel-novel tebal. Ayah sampai marah. Awalnya beliau bangga karena anaknya doyan baca buku, sekarang beliau sepertinya berpikir ulang.

Untuk mengerem kekalapan saya, dulu ortu sampai mengancam untuk tidak membelikan baju lebaran. Saya sih enjoy saja, bukannya tidak ada baju buat lebaran tidak apa-apa, huehehe. Lagian saya tidak percaya, masa sih, ortu tega tidak membelikan saya baju baru. Eh tapi ternyata ancamannya serius, saya benar-benar tidak dibelikan baju baru buat lebaran. Sedih juga ternyata, secara ortu, kakak adek, kakek nenek, paman bibi, dan tetangga-tetangga pada pakai baju baru, cuma saya yang pakai baju tahun lalu.

Terus apakah sekarang saya insaf? Ya karena sekarang saya sudah balik lagi ke kota kecil yang tidak ada toko bukunya, saya insaf. Tapi tak tau deh kalau nasib kembali membawa saya untuk berdomisili di tempat yang ada toko buku se-level Gramedia, dan karena sekarang saya sudah punya gaji sendiri,  mungkin tidak, *eh*.

Saya mengaku kalau saya tidak enak memberi rating rendah terhadap buku sejelek apapun buku itu

Sebelum kuliah, buku bacaan saya terbatas. Kalau pergi liburan ke Banjarmasin, buku-buku yang saya beli pastilah buku sejuta umat. Hasilnya, sudah terlalu melekat di pikiran saya, kalau semua buku itu bagus.

Tapi setelah saya kuliah di kota besar, saya mulai berani membeli buku-buku yang baru terbit atau yang belum populer.

Dan akhirnya, saya menyadari kalau tidak semua buku ditulis dengan bagus. Saya juga baru menyadari ada banyak genre buku, yang mana meskipun ditulis dengan bagus, belum tentu cocok dengan selera seseorang. Saya juga baru menyadari, meskipun sebuah buku ditulis dengan baik, ada hal-hal tertentu—seperti tokoh utama yang menyebalkan—yang dapat memberikan efek karena nila setitik rusak susu sebelanga terhadap buku.

Awalnya, saya merasa yakin untuk memberikan bintang 1 atau bintang 2 terhadap buku yang tidak saya suka. Tapi selalu saja, setelah saya pikir-pikir kembali, kok rasanya saya kejam sekali ya, hahhah. Saya jadinya selalu mencari -cari alasan untuk memberikan buku tersebut setidaknya 3 bintang.

Penilaian saya jadi bias. Rasanya saya tidak tega mengatakan kalau sebuah buku itu jelek. Meskipun jeleknya itu cuma pendapat saya.

Gara-gara sifat ga enakan ini, saya jadi kesal sendiri. Soalnya saya pernah jadi “korban rating bagus”, tapi ketika membaca bukunya, saya … eh … kurang suka. Tapi, seperti yang sudah saya bilang sebelumnya, saya tidak tega memberi rating jelek, alhasil, buku tersebut juga saya kasih rating yang bagus, *kenakeplak*.

Jadi pesan moralnya, kepada kalian yang sering melihat rating-rating saya untuk sebuah buku, tolong jangan terlalu dipercaya ya. Terutama untuk buku-buku yang saya beri rating 3, huehehe, *kabur*.

***

Oke deh, itulah pengakuan-pengakuan saya. Yuk intip pengakuan para BBI-ers lain di sini. Kocak-kocak dan ajaib-ajaib loh. Saya bahkan masih terheran-heran karena ada beberapa hal tertentu tentang buku yang saya anggap sah-sah saja, tapi ternyata merupakan hal yang “tidak sah” bagi para bookish lain. Jadi dapat pesan moral baru, tentang sesuatu yang sederhana buat kita, belum tentu sederhana buat orang lain, *tsaaah*.

At last, sampai jumpa lagi di posting bareng bulan Juli yaaaaa. Daaaah.

 

Posted in Non Review

Di Sini Sepi

Haiiii….

Menyambut Hari Buku Nasional yang jatuh pada tanggal 17 Mei, maka Posting Bareng BBI bulan ini  temanya adalah #BBIHariBukuNasional.  Ngomong-ngomong, “bulan ini” itu maksudnya bulan Mei. Maaf, saya postingnya telat, huehehe.

Untuk posting bareng ini, saya ingin curhat tentang bagaimana kondisi “dunia buku” di kota kecil saya tercinta. Oh ya, sebelumnya, bagi yang belum tahu, saya tinggal di sebuah kota yang bernama Amuntai di Kalimantan Selatan. Silakan tanyakan di mana letaknya sama Google, ^^.

Oke, akhir-akhir ini, saya sering melihat sambil lalu kabar-kabar tentang buku dan hari buku nasional di media sosial. Mulai dari rendahnya minat baca di Indonesia sampai rencana akan dibangunnya perpustakaan terkece entah se-apa.

Nah, kami-kami di sini, adem ayem aja. Tidak ada kegiatan apapun untuk menyambut hari buku nasional. Boro-boro ada kegiatan, obrolannya saja tidak terdengar. Di sini sepi.

Kalau kota-kota lain sering heboh dengan acara book fair dan sejenisnya, di sini tidak terusik. Jangankan book fair, toko buku besar saja tidak ada. Perpustakaan umum juga cuma ada satu. Di sini sepi.

Kalau teman-teman di kota tetangga excited dengan bakal terbitnya buku favorit terbaru. Di sini tidak ada yang tahu. Karena tahu ataupun tidak, buku itu “susah” didapatkan di sini. Di sini sepi.

Haloooo, para pecinta buku di Amuntai, kalian ada di mana? Tidakkah kalian merasa, kalau di sini, sudah terlalu sepi? Haruskah saya pecahin dulu gelasnya biar ramai?, *dilemparpakaisandal*.

Main yuk. Kita bikin kegiatan-kegiatan asyik seputar buku. Kita bisa saling share buku-buku seru, bikin tantangan baca, mengunjungi perpustakaan daerah bareng-bareng, membuka taman bacaaan sendiri, buka lapak buku kolpri di siring  sungai, whatever lah, gosipin buku-buku yang pengen dibanting juga boleh, *dikeplakbareng*.

At last, ini undangan pertemanan terbuka saya untuk teman-teman pecinta buku di Amuntai. Hope that I’ll find you and you’ll find me, *tsaaahhapacoba*.

Selamat Hari Buku Nasional 😉

 

Posted in Non Review

Buku Langkah Pertamaku Menggapai Cita-Cita

Rada telat nah buat Posting Bareng BBI untuk Bulan April 2016. Pas lagi sakit, terus disuruh tugas kantor ke Jakarta. Jauuuuuh banget dan membuat sakit saya tambah parah. Pas balik ke kampung halaman, tanggal 29 April udah lewat aja. Untunglah linky-nya masih dibuka sampai tanggal 5 Mei 2016 😄

Posting Bareng bulan April temanya Children Books. Nah, untuk itu,  saya mengajak keponakan saya ke perpustakaan daerah. Tepatnya ke Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten Hulu Sungai Utara.

Kali aja nanti teman-teman berkunjung ke kota Amuntai di Kalimantan Selatan ya, perpustakaan ini berada di pusat kota, gampang banget ditemukan. Letaknya di samping Taman Puteri Junjung Buih. Jaraknya cuma beberapa ratus meter dari Kantor Bupati Hulu Sungai Utara ke arah timur.

Oke, balik ke cerita saya dan keponakan nih. Karena baik tante maupun keponakannya sama-sama pemalu. Kami sengaja datang pagi-pagi ke perpustakaan supaya puas foto-foto tanpa merasa malu sama pengunjung lain. Etapi, pengunjung di sini ternyata rajin-rajin. Ga sampai puas foto-foto, sudah ada pengunjung yang juga datang pagi-pagi sekali XD. Untung masih sempat ngambil beberapa foto, walaupun saya lupa ngambil foto keponakan saya bareng sama buku favoritnya. Wuaaaduhhh *tante-tante-telmi*.

Oke deh, sekarang silakan simak foto-foto keponakan saya yang menjadi model dadakan di perpustakaan XD. Oh ya lupa, keponakan saya ini baru kelas 3 SD loh 😉

DSC00311

  1. Perpustakaannya ada di lantai atas yak. Sebelum naek, jangan lupa letakkan dulu alas kakinya di tempat yang sudah disediakan.

DSC00310

2. Jangan lupa juga untuk menitipkan tas dan jaket di loker ^^

DSC00314

3. Kakak ada di ruang baca anak nih.  Tapi kakak katanya ntar mau ikut tante ke ruang baca dewasa. Idih….,memang kakak mau baca buku apa sih?

DSC00317

4. Kakak numpang eksis sama buku di ruang baca dewasa

DSC00329

5. Owh, kakak sukanya baca ensiklopedia tentang mobil, terutama mobil gede kayak truck, mobil derek dan sebangsanya. Berat ih bacaannya 😄

DSC00334

6. Kakak katanya pengen jadi teknisi alat berat. Wuiiih. Jadi mulai sekarang baca buku-buku alat berat dulu yak. Seperti kata kata-kata mutiaranya tuh, Buku Langkah Pertamaku Menggapai Cita-Cita. *sengajagantibajumerahbiarlebihmiripansamaAndyFNoya*. 😄

Posted in Bentang Pustaka, Books, Dewi Lestari, Review 2016, Romance

Majalah Pecinta Buku No. 2 dan #BacaBukuPerpus Giveaway Winners

Majalah Pecinta Buku No. 2

EDITORIAL

 photo 05865-banner2bposbar2b2016_zpswx291h9a.jpg

Halllooooo..masih dalam rangka Posting Bareng Blogger Buku Indonesia 2016, kami memutuskan untuk ikut muncul kembali di blog saudari kami tercinta.

Di edisi sebelumnya, kami … katakanlah … terlalu banyak bereksperimen dengan tampilan yang membuat kami akhirnya capek sendiri. Di edisi ini kami akan menampilkan Majalah Pecinta Buku dengan format yang lebih sederhana namun tetap penuh warna.

Di edisi kedua ini, Majalah Pecinta Buku akan menampilkan sajian utama dari Posting Bareng BBI bulan Maret. Mengusung tagar #BBILagiBaca, dari tanggal 14 – 30 Maret 2016, Ira sudah meluncurkan tweet-tweet di akun twitter-nya sehubungan dengan buku yang sedang dia baca. Dan yang mendapat tugas untuk mengumpulkan tweet-tweet tersebut adalah saudari Bungsu dan Cili. Sepertinya akan mudah, sebab Ira tidak sempat nge-tweet terlalu banyak.

Review dari buku tersebut, tentu saja akan ditulis oleh Ira. Kami rasa dia tidak bisa melemparkan tugas ini kesiapa-siapa 😄

Karena buku yang dia baca untuk Posting Bareng ini adalah buku perpustakaan, tanggal 14 Maret kemarin Ira mengadakan giveaway untuk para peserta Proyek Baca Buku Perpustakaan. Pengumuman pemenangnya akan diumumkan di post ini. Selamat buat yang beruntung. Bagi yang belum menang, mari kita doakan bersama-sama agar Ira lebih sering mengadakan giveaway.

Terakhir, mungkin ada yang bertanya-tanya siapa itu Komandan Mama. Saya adalah editor untuk majalah ini. Saya adalah saudari tertua. Adik-adik saya bilang saya orangnya galak plus ngebos, dan itulah asal-muasal julukan Komandan Mama. Padahal saya aslinya adalah kakak yang baik hati dan tidak sombong.

SALAM EDITOR,

KOMANDAN MAMA

(IRA, BINGUNG: “Siapa yang menyuruh Komandan Mama memperkenalkan diri?”

(CILI, BUNGSU, SEREMPAK: “Kami lebih setuju dengan kakak yang galak dan ngebos daripada yang baik hati dan tidak sombong”)

 

KLIPING TWEETS

 photo bbilagibaca_zpsrmgc65lg.png

DISUSUN OLEH:

CILI DAN BUNGSU

 

PERAHU KERTAS REVIEW

Dulu sekali, saat masih SMA, saya mempunyai sedikit drama saat membaca Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh. Apa dramanya? Nanti deh saya ceritakan setelah saya baca ulang Supernova. Yang pasti, drama tersebut membuat saya selalu menunda-nunda untuk membaca karya Dee lagi. *sungkem*.

Tapi, buku Perahu Kertas ini, seperti memanggil-manggil dari rak perpustakaan. Apalagi bukunya sebentar saja sudah kucel, tanda banyak yang pinjam.

So, akhirnya bukunya saya pinjam, dan setelah membaca beberapa halaman-halaman awal, bukunya langsung saya tutup lagi. Bukan karena tidak bagus, tapi karena saya merasa ceritanya bikin nagih. Saya punya feeling kalau saya sudah mulai baca, saya tidak akan bisa meletakkannya lagi. Jadi, mengingat bukunya lumayan tebal, saya rasa, saya perlu menyiapkan waktu khusus untuk membaca Perahu Kertas.

Dan benar seperti dugaan saya, Perahu Kertas benar-benar susah buat dilepaskan sebelum selesai dibaca. Belum lagi isu yang diangkat terasa dekat. Tentang impian dan cita-cita yang bertentangan dengan realita. Belum lagi kalau keingat lagunya, wuiiih, saya rasa saya kena demam Perahu Kertas walaupun sepertinya sudah telat sekali.

Sayang saya belum menonton filmnya. Meskipun begitu, kisah Kugy dan Keenan terus terngiang-ngiang di kepala dalam wujud Adipati Dolken dan Maudy Ayunda XD.

Ide tentang melarutkan Perahu Kertas untuk curhat dengan Neptunus saya rasa keren sekali. Kalau saja tetangga-tetangga saya tidak terlalu kepo, saya mungkin akan menghayutkan Perahu Kertas juga di sungai dekat rumah. *dikeplaktetangga*. Jadi agen Neptunus sepertinya asik juga, siapa tahu bisa ketemu Percy, *salahcerita*.

Selain Neptunus, hal yang paling berkesan bagi saya dari buku Perahu Kertas ini ada di adegan berikut:

Sepeninggal istrinya, Adri kembali menatap teve dengan pandangan kosong, seperti yang ia lakukan sedari berjam-jam yang lalu. Di dalam kepalanya ada program yang berjalan sendiri. Kenangan, pertanyaan, lamunan tentang satu orang. Keenan.

Keenan … di mana kamu sekarang, Nak? Bertahun baru di mana? Apakah kamu kesepian? Kelaparan? Kedinginan? Dan ia hanya bisa menyapa dan menanyakan itu semua dalam hati. Dalam kesunyian. Dalam ketidadaan.

Setengah mati, Adri berusaha menahan. Hingga pada satu titik rasanya tidak lagi tertahankan. Dan sebutir air mata pun bergulir di pipinya.

(Perahu Kertas, hlm. 215)

Nah, ini nih, entah kenapa saya merasa adegan ini sedih sekali. Mungkin karena terasa familiar. Kita sebagai anak biasanya tidak menyadari betapa orang tua sangat menyayangi kita. Apalagi kalau sikap orang tuanya dingin dan tidak mau mengalah seperti Papa-nya Keenan ini. Sama sekali tidak menunjukkan kalau sebenarnya beliau sangat sayang dan peduli kepada Keenan.

Errr…tidak tahu ini termasuk spoiler atau tidak, tapi bagi yang sudah membaca Perahu Kertas, pasti sudah tahu kalau akhirnya, gara-gara mikirin Keenan, Adri jadi kena stroke.

Biasanya, kalau ada masalah orang tua – anak seperti ini, saya bakalan mendukung si anak. Tapi kali ini, sepertinya saya mendukung Papa-nya Keenan deh. Benar sih, apa yang diharapkan Adri ke Keenan salah, tapi bukan berarti salah sama sekali kan? Adri hanya berharap yang terbaik bagi Keenan. Meskipun yang terbaik itu menurut versi si Bapak.

Saya lebih setuju dengan sikapnya Kugy, ambil jalan memutar dulu, setelah mapan, baru TERSERAH. Jadi tidak ada drama kabur dari rumah atau stroke segala. Ngomong-ngomong kok saya yang sewot ya? Ini kan cuma cerita, *garuk-garuk gingsul*.

At last, kalau menurut saya sih ya, buku Perahu Kertas ini bisa membuat kita “terhanyut” dan kena “mabuk laut” setelahnya :D. Keren deh, saya suka.

Judul buku: Perahu Kertas | Pengarang: Dewi “Dee” Lestari | Penerbit: Bentang Pustaka | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan XVIII, September 2012, 444 hlm. | Rating saya: 4 dari 5 bintang

IRA

 

PENGUMUMAN PEMENANG #BACABUKUPERPUS GIVEAWAY

Saatnya mengumumkan pemenang #BacaBukuPerpus Giveaway. Terima kasih untuk semua peserta yang telah berpartisipasi.

Sudah banyak buku-buku perpustakaan yang kalian baca ya. Hebaaaaat. Saya malah baru nambah satu o(≧∇≦o)

Oke langsung saja. Berikut adalah link yang masuk berdasarkan rekapan saya. Satu orang pemenang akan dipilih secara acak dari sini.

  1. Ring Ding Dong – Alexandra (FBTwitter – IG)
  2. Ring Ding Dong – Cewephobia (FBTwitter – IG)
  3. @IpinKaramel – Reputation (FB – Twitter – IG)
  4. @IpinKaramel – Travel Writer Diaries (FB – Twitter – IG)
  5. Pelahap Kata – Jack and Jill Go Skating (FBTwitterIG)
  6. Ring Ding Dong – Count to Ten (FBTwitterIG)
  7. Ajeng Bercerita – Memilikimu (FB – Twitter – IG)
  8. Panda Kapiler – Hablu Minannas (FB – Twitter – IG)
  9. Ring Ding Dong – Sulaiman Sang Penakluk Hati (FBTwitter – IG)
  10. Pelahap Kata – How Do Dinosaurs Love Their DOGS? | How Do Dinosaurs Love Their CATS? (FBTwitter IG)
  11. The Bookish Fever – Please Look After Mom (FB – Twitter – IG)
  12. The Bookish Fever – Looking for Alaska (FB – Twitter – IG)
  13. Ring Ding Dong – Selamat Malam Kabutku Sayang (FB Twitter – IG)
  14. Ring Ding Dong – Hannah, Misteri Gadis Terpasung (FB Twitter – IG)
  15. Mysterious Mistery – Pusaran Energi Ka’bah (FB – Twitter – IG)
  16. The Bookish Fever – Rumah Lebah (FB – Twitter – IG)
  17. Ring Ding Dong – In Paris Where I Meet You (FB Twitter IG)
  18. Pelahap Kata – The Little White Owl (FBTwitterIG)
  19. Resensi Buku Nisa – Ziarah (FB – Twitter – IG)
  20. The Bookish Fever – If I Stay (FB – Twitter – IG)

Dan yang beruntung dipilih oleh Mr. Random adalah nomer: photo bacabukuperpusgarandom1_zpsyerjsenp.png@IpinKaramel – Reputation (FB – Twitter – IG)

Satu orang pemenang lagi diambil dari link-link di bawah.

 photo bacabukuperpusga_zpsetk7bntx.png

Dan yang beruntung adalah nomor:
 photo bacabukuperpusgarandom2_zpsacyooo8q.png
@ntarienovrizal – Galau Putri Calon Arang

Selamat buat  @ipinkaramel dan @ntarienovrizal  \^_^/. Hadiahnya adalah buku pilihan kalian sendiri seharga maksimal Rp80.000,-. Silakan pilih bukunya di BukaBuku.com atau BukuKita.com saja ya, saya familiarnya cuma sama yang dua itu 😀 . Silakan DM NAMA, ALAMAT LENGKAP, NO TELPON dan LINK BUKU YANG KALIAN INGINKAN ke akun Facebook atau Twitter saya. Ongkos kirim saya yang tanggung ^_^

Sekali lagi terima kasih buat peserta Proyek Baca Buku Perpustakaan yang sudah berpartisipasi. Yang belum beruntung jangan berkecil hati, semoga nanti kalian beruntung di akhir periode proyek atau mungkin … di giveaway berikutnya, semoga 😉

IRA

 

NB

—Proyek Buku Jalan-Jalan saya bersama Zelie @ Book-admirer dimundurkan ke bulan depan. Neptunus mengabarkan bahwa perahu kertas yang saya layarkan kepada Zelie menghadapi cuaca buruk di perjalanan. Tapi dia baik-baik saja, dan masih mampu melaksanakan misi “jalan-jalan” kami. Nantikan kabar yang dibawa oleh perahu kertas bulan depan ya 😉

IRA

 

***

Submitted for Proyek Baca Buku Perpustakaan

 photo proyek_baca_buku_perpustakaan_zpsbae5o9ei.png