Posted in Books, Cornelia Funke, Fantasy, Gramedia Pustaka Utama

Pangeran Pencuri Review

***

“Kadang-kadang orang dewasa bercerita, betapa indahnya ketika mereka masih anak-anak.

Mereka bahkan bermimpi menjadi anak-anak lagi.

Tetapi apa yang mereka mimpikan ketika masih anak-anak?

Tahukah kau?

Aku rasa, mereka bermimpi ingin cepat-cepat dewasa.

 

Blurb

Selamat datang di dunia ajaib kota Venesia di Italia, tempat kanal-kanal tersembunyi dan gedung-gedung tua melindungi mereka yang tidak ingin ditemukan.

Prosper dan Bo, anak yatim-piatu yang lari dari bibi dan paman mereka yang kejam. Kakak-beradik itu nekat pergi ke Venesia dan bertemu anak laki-laki misterius yang menjuluki dirinya pangeran pencuri.

Sang pangeran pencuri yang cerdas memimpin sekelompok anak jalanan yang biasa melakukan kejahatan kecil untuk menyambung hidup. Prosper dan Bo senang bergabung dengan keluarga baru yang penuh warna ini.

Petualangan mereka makin seru ketika mereka harus berhadapan dengan detektif penyanyang kura-kura, pedagang barang antik penipu, dan fotografer pemilik barang antik yang dapat membuat orang jadi jauh lebih tua atau muda dalam sekejap mata.

My Review

Waaah, saya nyaris lupa kalau ini buku fantasi. Membaca halaman-halaman awalnya terasa seperti membaca buku petualangan. Saat sampai dibagian “barang antik” itu, saya sempat bengong ala-ala “eh masa”. Disitu saya baru sadar, kalau ini adalah buku fantasi, maka “eh masa” itu seharusnya tidak menjadi masalah, hehehe.

So, seperti yang blurb-nya “bilang”, buku ini menceritakan petualangan kakak-beradik yatim-piatu yang bernama Prosper dan Bo. Mereka berdua melarikan diri dari paman dan bibinya yang bertekad ingin memisahkan kedua bersaudara ini. Alasannya hanya karena Bo masih kecil dan bertampang seperti malaikat, sedangkan Prosper sudah nyaris remaja sehingga tampangnya tidak imut-imut lagi.

Tidak tanggung-tanggung, Prosper dan Bo melarikan diri ke Venesia. Ngomong-ngomong, berasal dari manakah kakak-beradik saya tidak tahu. Saya rasa saya melewatkan informasi itu saking cepatnya saya membaca. Soalnya saya penasaran sekali bagaimana akhir kisahnya, hahaha, *kena keplak*.

Berkeliaran di kota asing bukanlah hal mudah. Terutama bagi anak-anak, seberapa besar pun anak itu berusaha keras untuk menjadi orang dewasa. Disaat hampir putus asa, Prosper dan Bo bertemu dengan komplotan anak jalanan yang menawarkan tempat yang hangat untuk mereka. Meskipun diketuai oleh seorang anak laki-laki yang menjuluki dirinya sendiri sebagai pangeran pencuri, tapi bagi Prosper dan Bo, tinggal di sana jauh lebih baik ketimbang dipisahkan oleh paman dan bibi mereka.

Menarik sekali mengikuti petualangan Prosper dan Bo bersama anak-anak jalanan ini. Dan yang menjadi sorotan saya dalam kisah ini adalah bagaimana orang dewasa ingin berubah menjadi anak-anak dan bagaimana anak-anak ingin berubah menjadi dewasa. Hingga akhirnya masing-masing menyadari bahwa menjalani prosesnya seperti apa adanya jauh lebih baik.

At last, saya ingin berterima kasih kepada Maya Floria yang sudah memberikan buku keren ini gratis kepada saya. Saya paling senang kalau membaca buku fantasi. Kisah-kisah yang mereka sampaikan selalu mengingatkan saya untuk percaya bahwa keajaiban itu memang ada, dan bahwa masih ada dan akan selalu ada orang-orang baik di sekitar kita. Meskipun kadang mereka kelelep sama orang-orang jahat. Tapi kalau kita mau berusaha, kita akan bisa menemukan mereka, *sotoy mode on*, *salam hormat untuk Victor dan Ida*.

So, 4 dari 5 bintang untuk Pangeran Pencuri. I really liked it.

***

Judul: Herr Der Diebe — Pangeran Pencuri | Pengarang: Cornelia Funke | Penerbit: Gramedia Pustaka Utama | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan II, Jakarta, Maret 2011, 420 hlm | Alih bahasa: Hendarto Setiadi | Status: Owned book (dikasih Maya) | Rating saya: 4 dari 5 bintang

Advertisements
Posted in Alex Scarrow, Books, Elex Media Komputindo, Fantasy, Science Fiction, TimeRiders

The Pirate Kings Review

**spoiler alert**

Hmmm…kenapa saya merasa TimeRiders buku ke-tujuh ini kurang seru ya? Biasanya kalau membaca TimeRiders itu, saya bawaannya selalu baca cepat-cepat dan tidak mau berhenti karena penasaran. Tapi The Pirate Kings ceritanya tidak terlalu menegangkan. Saya sempat berhenti membacanya beberapa kali dan butuh waktu yang jauh lebih lama untuk menamatkannya dibandingkan buku-buku pendahulunya dari seri ini.

Setelah berbagai misteri tentang apa itu TimeRiders di buku sebelumnya terkuak, di buku ini minim informasi. Ini adalah buku pertama di mana Maddy, Liam dan Sal bekerja independen.

Ternyata mereka masih punya pekerjaan pasca melarikan diri dari Waldstein. Pekerjaan tidak terduga gara-gara Maddy ingin melakukan rekreasi sejarah.

Entah kenapa, Maddy merasa, melihat kebakaran hebat di London pada tahun 1666 itu menarik. Dan bisa diduga, setelah mereka melihatnya secara langsung, tiba-tiba kebakaran itu tidak menarik lagi. Mereka semua terjebak. Untunglah Maddy dan Sal berhasil kembali. Namun sayangnya, Liam dan Rashid memilih jalur melarikan diri yang salah. Mereka tidak sengaja menaiki kapal bajak laut dan dipaksa menjadi awak di sana.

Sayangnya, meskipun tahu Liam dan Rashid berada di tahun berapa, namun posisi kapal yang terus bergerak mengakibatkan Maddy kesulitan melacak mereka berdua. Perlu waktu yang sangat-sangat lama bagi Maddy dan Sal untuk menemukan Liam. Bahkan mereka sempat mengalami momen salah paham segala.

Sementara Liam dan Rashid mati-matian meninggalkan pertanda agar keberadaan mereka di tahun 1666 bisa menimbulkan kontaminasi waktu di tahun 1889.

Namun, meskipun ingin pulang, Liam dan Rashid lama-kelamaan merasa betah menjadi bajak laut. Apalagi setelah mereka menjadi kapten berhasil merampok sebuah pulau penuh harta berharga.

Nah lo, bagaimana nasib Liam dan Rashid setelah sukses menjadi raja bajak laut? Apakah Maddy dan Sal berhasil membawa pulang mereka? Dan apakah mereka semua memang benar-benar terbebas dari Waldstein? Oke saya masih penasaran. Buku selanjutnya akan segera terbit dan saya sudah PO sama Mbak Maria. Semoga buku selanjutnya tidak mengecewakan ^^

***

Judul: The Pirate Kings | Pengarang: Alex Scarrow | Series: TimeRiders #7 | Penerbit: Elex Media Komputindo | Edisi: Bahasa Indonesia, 2017, 359 halaman | Penerjemah: Desi Natalia | Status: Koleksi pribadi | Rating saya: 4 dari 5 bintang | Bisa dibeli di: bukabuku.com

Posted in Books, Fantasy, Mizan Fantasi, Noura Books, Rick Riordan, The Trials of Apollo

BBI Share the Love 2017: The Gift! (+The Hidden Oracle Review)

bbi-share-the-love

Hari ini tanggal dua puluh tigaaaaa \^_^/

Saatnya untuk pamer hadiah International Book Giving Day tahun ini. Haduh, sebenarnya dari tadi pagi gatal banget pengen pamer, tapi apa daya, ada begitu banyak yang harus dikerjakan. Tapi untung masih sempat bikin postingan hadiah hari ini, meskipun publish-nya baru bisa malem-malem XD

Okeh, langsung saja, ini dia buku yang saya terima dari partner saya, Ima @ Pink’s Review

Iyaaap, hadiahnya adalah The Hidden Oracle by Rick Riordan…horeeeeeee…makasih ya Imaaaa, *peluuuk* \^_^/

Ahhh…sepertinya saya sudah ditakdirkan untuk membaca kisah si Dewa Ramalan, aseek.

So, bersama seri The Trials of Apollo, kita akan kembali masuk ke dunia mitos Yunani yang kekinian. Tapi kali ini tokoh utamanya bukan lagi demigod, tapi etapi salah satu dari 12 belas Dewa-Dewi Olympia sendiri. Dari judulnya juga sudah ketauan Dewa mana yang dimaksud 😉

Apollo ternyata dikutuk menjadi manusia. Apa sebabnya? Hoho…ternyata ada hubungannya dengan seri The Heroes of Olympus kemarin. Terus, untuk mengembalikan statusnya sebagai Dewa yang ter-hot, Apollo harus menjalankan misi. Misinya secara umum adalah harus “melayani” satu demigod. Misi khususnya? Biar takdir yang menjawab, wkwkwk.

Eh, tadi ada demigod ya? Iya ada. Terus apakah perkemahan Blasteran dan perkemahan Jupiter juga ada? Apa demigod-demigod favorit kita dari seri sebelumnya ada? Siapa demigod yang harus dilayani oleh Apollo? Yah, silakan baca sendiri bukunya, hahaha.

Yang pasti, Apollo disini narsis dan kocak. Tapi somehow kok jadi berasa mirip Percy ya? Ah, mungkin karena mereka masih ada hubungan keluarga.

Menurut saya adegan yang paling lucu adalah saat Apollo menghadapi Ratu Semut. LOL. Pengen banget nyantumin kata pamungkasnya. Tapi sayang, ntar kalian yang belum baca jadi ga merasa keseruannya, hohoho.

Terus, saya bingung mau ngomong apa lagi. Kalau cuap-cuap kebanyakan takutnya jadi spoiler. Intinya saya suka…saya suka…. Rasa kangen dengan serunya petualangan para pahlawan Yunani modern jadi terobati. Lucu pula. Saya benar-benar merasa terhibur ditengah beban kerja kantor yang berat.

Oh ya, saya belum sempat mencari info. Kira-kira seri The Trials of Apollo ini rencananya ada berapa buku ya? Moga jangan banyak-banyak. Dan semoga tidak ada yang bikin hangover kebangetan seperti buku kelima seri The Heroes of Olympus kemarin, *masihberasasebelnya*.

At last, 4 dari 5 bintang untuk The Hidden Oracle. Terima kasih banyak buat Ima yang sudah memilihkan buku ini untuk saya. Sekali lagi saya suka…saya suka… 😀

NB:

Kutipan favorit:

Tidak semua monster berwujud reptil seberat tiga ton bernapas beracun. Banyak monster yang berwajah manusia.

—hlm. 223

Posted in Books, Fairytale Retellings, Fantasy, Marissa Meyer, Spring, The Lunar Chronicles, Young Adult

Winter Review

***

“Putri muda itu secantik sinar mentari. Dia bahkan lebih cantik dibandingkan sang Ratu sendiri.”

Winter, hlm. 5

Tamaaaatt…, tapi saya belum mau berpisah dengan para pangeran dan putri ini, *pegang Pangeran Kaisar Kai erat-erat*, #eh.

Jadi, sampul buku keempat dari Seri The Lunar Chronicles ini ada gambar apel merahnya. Pasti kisahnya tentang Putri Salju. Whoaah, suka suka suka,  seri ini diawali dan diakhiri oleh dua dongeng pangeran putri favorit saya.

Seperti di tiga buku sebelumnya, hal yang paling menarik bagi saya saat membaca novel retelling adalah ada atau tidaknya identitas dongeng asli (menurut saya) yang diceritakan kembali di dalam buku ini dan bagaimana identitas tersebut diadaptasi. Ngomong-ngomong, dongeng asli yang saya maksud di sini adalah film animasi Putri Salju versi Disney, bukan kisah asli Putri Salju sendiri, *plaak*.

Oke, mari kita checklist satu-satu. Seorang ibu tiri yang iri dengan kecantikan putri tirinya? Ada. Pemburu yang ditugaskan untuk menyingkirkan sang putri, namun justru menyuruhnya lari alih-alih membunuhnya? Ada. Si putri yang tertidur karena memakan apel beracun? Ada. Ciuman pangeran yang membangunkan sang putri? Ada. Bahkan cermin yang jadi sumber masalah juga ada, walaupun cerminnya tidak bisa berbicara seperti yang ada di dongeng. Bagaimana dengan para kurcaci? Oke, tidak ada kurcaci, tapi peran kurcaci diganti dengan para penambang, dan saya rasa itu cukup bagus.

Ngomong-ngomong, keberadaan si pemburu ini membuat saya penasaran, seperti apa sih sebenarnya cerita asli dari dongeng Putri Salju? Apakah si pemburu dan si pengeran memang diperankan oleh tokoh yang sama? Kalau di film animasi Disney kan beda. Si pemburu digambarkan sebagai paman-paman jenggotan sedangkan pangeran digambarkan sebagai, errrr…, pangeran muda yang kebetulan lewat. Gambaran ini sudah terlalu melekat di kepala saya, sehingga kalau ada adaptasi kisah Putri Salju yang menceritakan kalau si pemburu dan pangeran adalah orang yang sama, maka otak saya sedikit kesulitan menerimanya, wkwkwk.

Oke, kembali ke petualangan Cinder dan kawan-kawan. Jadi, Cinder – Cinderella, Scarlet – Si Tudung Merah, dan Cress – Rapunzel sekarang bertemu dengan Putri Salju. Di novel ini, Putri Salju namanya Putri Winter. Winter ini dinobatkan sebagai gadis paling cantik di Bulan. Saking cantiknya, sampai-sampai Ratu Levana yang juga adalah ibu tirinya, iri. Ditambah lagi, Winter adalah gadis yang baik hati, sehingga kecantikannya bisa dikatakan lengkap.  Saking baiknya pula, Winter memutuskan untuk tidak menggunakan anugerah Bulan-nya, dan lebih memilih menjadi kurang waras daripada memanipulasi pikiran orang.

Nah, walaupun judulnya Winter, saya tidak merasa kalau Winter-lah tokoh utama di buku ini. Menurut saya tokoh utamanya tetap Cinder. Seakan-akan kaitan antara judul buku keempat ini dengan Winter hanyalah untuk memperkenalkan sekutu baru Cinder untuk melawan Levana.

Blurb:

Putri Winter dikagumi oleh penduduk Bulan karena kebaikan hatinya. Meskipun ada luka di wajahnya, banyak orang Bulan yang mengatakan bahwa Sang Putri lebih cantik daripada Ratu Levana.

Iri dengan Sang Putri yang dianggapnya lemah dan gila, Levana memerintahkan Jacin Clay, pengawalnya, untuk mengawasi Winter agar tidak mempermalukan sang Ratu dan kerajaannya. Namun Winter menyukai Jacin, hal itu justru membuatnya semakin terlihat lemah.

Hanya saja, Winter tidak selemah yang Levana kira. Bersama dengan Cinder, Sang Mekanik, dan para sekutunya, mereka bahkan mungkin bisa membangkitkan sebuah revolusi dan memenangkan perang yang sudah berkecamuk terlalu lama.

Dapatkah Cinder, Scarlet, Cress, dan Winter mengalahkan Levana dan mendapatkan kebahagiaan mereka selamanya?

Ngomong-ngomong, selain pasangan Cinder dan Kai, sepertinya saya juga memfavoritkan pasangan Winter-Jacin. Terutama pas di bagian akhir yang menggambarkan Jacin tampak mirip seorang pangeran saat berada di samping Winter, *tetibanaksirJacin* ❤

Finally, sepertinya saya bakalan kangen sama Cinder dan kawan-kawan. Ceritanya indah seperti dongeng. Penampilan luar bukunya juga cantik. Berat rasanya meletakkan buku ini kembali ke dalam rak. Ditimang-timang lagi deh sebentar, hahaha. I really liked it.

***

Judul: Winter| Series: The Lunar Chronicles #4 | Pengarang: Marissa Meyer | Penerbit: Spring | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan I, Agustus 2016, 900 halaman, 20 cm | Penerjemah: Yudith Listiandri | Status: Owned book | Beli di: Online @shansterID | Rating saya: 4 dari 5 bintang

Posted in Books, Fairytale Retellings, Fantasy, Marissa Meyer, Review 2016, Spring, The Lunar Chronicles, Young Adult

Cress Review

***

“Tatkala gadis itu masih kecil, sang penyihir mengurungnya di menara yang tidak memiliki pintu dan tangga.”

(Cress, hlm. 6)

Gambar gadis yang memiliki rambut emas yang sangat panjang….pasti buku ketiga dari seri The Lunar Chronicles ini menceritakan tentang Rapunzel. ^^

Untuk pertama kalinya, saya tidak merasa kalau Cress merupakan versi retelling yang sempurna dari dongeng yang menjadi asal-usulnya. Itu sebelum saya menyadari, kalau kutipan-kutipan dongeng asli yang nyempil di buku ini sepertinya asing bagi saya. Kecuali kutipan yang saya pajang di atas.

Kalau dipikir-pikir, sepertinya ini karena saya belum pernah membaca dongeng asli Rapunzel. Saya kenal Rapunzel hanya dari film animasi Barbie dan Disney. Jadi kalau buku ini dibandingkan dengan kedua film animasi itu, sensasinya sepertinya tidak memberikan efek yang sama bagi saya. Terutama di bagian rambut, *eh*.

Tapi ceritanya sendiri tetap seru. Apa yang bisa ditemukan di dongeng Rapunzel, bisa ditemukan di Cress. Menyenangkan sekali saat saya menemukan bagaimana menara tinggi Rapunzel diganti dengan “menara lain” yang juga sangat tinggi dan tidak memiliki tangga. Siapa yang berperan sebagai penyihir yang menyekap Rapunzel di menara. Bagaimana ketika Rapunzel bertemu dengan pangerannya (si pangeran jelas lebih mirip Flynn Rider di film Rapunzel versi Disney daripada Pangeran Stefan di film Rapunzel versi Barbie). Bagaimana saat Rapunzel mengetahui siapa orang tua kandungnya (di bagian ini saya juga ikut tertipu mentah-mentah seperti Rapunzel). Dan terakhir, bagaimana Rapunzel mengalahkan si penyihir  (kalau di bagian ini saya kurang setuju dengan versi retelling-nya).

Oke, saya rasa cukup dengan serba-serbi retelling-nya dan sekarang kita kembali ke cerita petualangan Cinder dan kawan-kawan. Saya rasa blurb di belakang bukunya sudah cukup untuk memberi tahu kita tentang apa usaha Cinder berikutnya untuk menyelamatkan Bumi dan Bulan dari kekuasaan Levana,

Blurb:

Cinder dan Kapten Thorne masih buron. Scarlet dan Wolf bergabung dalam rombongan kecil mereka., berencana menggulingkan Levana dari takhtanya.

Mereka mengharapkan bantuan dari seorang gadis bernama Cress. Gadis itu dipenjara di sebuah satelit sejak kecil, hanya ditemani oleh beberapa netscreen yang menjadikannya peretas andal. Namun kenyataannya, Cress menerima perintah dari Levana untuk melacak Cinder, dan Cress bisa menemukan mereka dengan mudah.

Sementara itu di Bumi, Levana tidak akan membiarkan siapa pun mengganggu pernikahannya dengan Kaisar Kai.

Jadi setelah bertemu dengan si Tudung Merah dan “serigala”-nya, Cinderella modern kita sekarang bertemu dengan Rapunzel. Dalam petualangannya, Cinder membutuhkan bantuan Cress untuk menjalankan rencananya yang kedengarannya mustahil untuk dilaksanakan. Tapi dengan kemampuan yang dimiliki Cress, Cinder sepertinya masih punya harapan. Asalkan setelahnya dia bisa selamat menghadapi penyihir jahat yang jelas tidak mau tawanan berharganya diambil begitu saja oleh Cinder.

Finally, saya senang sekali dengan peran yang dimainkan oleh Cress dalam petualangan Cinder, terutama di bagian dia yang paling tidak pandai beinteraksi sosial tapi punya otak yang paling brilian. Setiap anggota tim Cinder memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Dan mereka saling melengkapi satu sama lain. Termasuk Pangeran Kai yang sepertinya tidak bisa melakukan apa-apa kecuali pandai berbicara. Dan memang itulah yang diperlukan dari seorang Pangeran yang menghadapi masalah seperti Kai.

Sejauh ini, seri The Lunar Chronicles favorit saya tetap Cinder. Pasangan Pangeran dan Putri favorit saya tetap Cinder dan Pangeran Kai. Dan  4 dari 5 bintang untuk Cress (ga nyambung). Yeap, I really liked it.

***

Judul: Cress| Series: The Lunar Chronicles #3 | Pengarang: Marissa Meyer | Penerbit: Spring | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan I, Mei 2016, 576 halaman, 20 cm | Penerjemah: Jia Effendie | Status: Owned book | Beli di: Online @shansterID | Rating saya: 4 dari 5 bintang