Posted in Books, Fantasy, LInda Buckley - Archer, Mizan Fantasi, Review 2014, Time Travel

Gideon The Cutpurse Review

 photo gideonthecutpurse_uploadedbyirabooklover_zps3490003f.jpg

Title: Gideon The Cutpurse – Para Penjelajah Waktu | Author: Linda Buckely – Archer | Genre: Fantasy – Time Travel | Edition language: Indonesian | Translator: Berliani M. Nugrahani  | Publisher: Mizan Fantasi | Edition: First edition, Februari 2009 | Page: 511 pages Status: Pinjam di Perpustakaan Daerah Kota Banjarbaru | My rating: 4 of 5 stars

“Dari sudut pandang yang luas, pikirnya, kehidupan kita berakhir dalam satu kedipan mata dan  ada kalanya setiap waktu seolah-olah berakhir selamanya”—-hal 41

Kalimat yang paling berkesan bagi saya dari buku ini. Memang, kadang-kadang, ada sebuah peristiwa yang membuat seakan-akan rutinitas kehidupan kita berakhir dalam satu kedipan mata.

Seperti yang terjadi pada Peter. Di hari ulang tahunnya yang kedua belas, yang perayaannya diundur kurang lebih 3 bulan karena ayahnya sibuk, Peter kembali harus kecewa karena lagi-lagi ayahnya membatalkan janji untuk merayakan ulang tahunnya.

Peter sangat kecewa. Rencana perayaan ulang tahun yang seharusnya dihabiskan seharian bersama ayahnya harus digantikan dengan bepergian ke rumah keluarga Dyer, keluarga kenalan pengurus rumah tangga mereka,  Margrit, di sebuah peternakan di Derbyshire.

Peter meneriakkan kata “Aku benci Dad!” sebagai kata terakhir yang terucap diantara dia dan ayahnya. Dan baik Peter maupun ayahnya sama-sama menyesal kemudian.

Karena di Derbyshire, di laboratorium milik Dr. Dyer, Peter dan anak perempuan Dr. Dyer, Kate, mengejar anjing Kate yang tidak sengaja lari menuju sebuah mesin anti-gravitasi. Siapa sangka mesin itu ternyata membawa mereka ke Inggirs di tahun 1763.

Di tahun tersebut, Peter dan Kate bertemu dengan seorang seseorang yang kabur sambil membawa mesin anti-gravitasi. Mereka juga bertemu dengan seorang pengelana tampan bernama Gideon. Gideon berjanji untuk membantu mereka pulang dan menjelaskan bahwa orang yang membawa mesin mereka adalah penjahat terkenal yang bernama Tar Man. Dan mereka harus pergi ke London untuk bisa menemukannya.

Gideon membawa Peter dan Kate ke rumah majikan barunya, Keluarga Byng. Kepada keluarga itu, Gideon mengarang cerita kalau Peter dan Kate adalah sepasang sepupu yang terpisah dari paman mereka karena dirampok di tengah jalan. Mrs. Byng yang baik hati menawarkan tumpangan ke London karena dua anak laki-laki nya Sydney dan Jack, diundang ke London oleh saudara laki-lakinya, Sir Richard Picard.

Bersama sepupu Mrs. Byng, Parson Ledbury, Sydney, Jack dan pengurus rumah tangga, Hannah, Peter dan Kate berangkat ke London. Gideon yang juga ada urusan ke London sebenarnya ingin berangkat bersama mereka. Namun pertengkaran kecilnya dengan Parson membuat Gideon memutuskan untuk berangkat sendiri saja.

Ditengah perjalanan, rombongan Peter dan Kate diserang perampok. Untunglah Gideon lewat tepat waktu dan menyelamatkan mereka. Parson pun akhirnya berbaikan dengan Gideon. Tapi Parson masih tetap curiga kepada Gideon.

Kecurigaan Parson terhadap Gideon membuat Peter penasaran. Akhirnya Gideon mengakui kalau dirinya adalah seorang mantan pencuri. Meskipun kecewa, Peter tetap harus mengandalkan Gideon karena hanya Gideon yang percaya bahwa mereka berasal dari abad ke-21.

Singkatnya, kisah ini menceritakan petualangan Peter dan Kate di tahun 1763 untuk merebut kembali mesin anti-gravitasi mereka yang telah dicuri oleh Tar Man. Untunglah Gideon, Sir Richard, Parson dan Byng bersaudara mau membantu mereka.

Banyak kejadian mendebarkan di dalam petualangan mereka. Diserang perampok dua kali, penculikan terhadap Gideon yang masa lalunya ternyata tidak semudah itu ditinggalkannya sampai dengan perlombaan antara Gideon dan Tar Man untuk memperebutkan mesin anti-gravitasi itu yang berujung kepada terancamnya nyawa Gideon.

Siapa sebenarnya Gideon ini dan berhasilkan Peter dan Kate kembali ke abad 21?

Hmmmm….lagi…buku yang membuat saya tidak tahu mau menulis apa. Seru dan lucu dengan nuansa abad ke-18 yang digabungkan dengan teknologi abad ke-21. Bagaimana rasanya melihat daerah yang kita kenal selama ini tiba-tiba berubah penampilan seperti penampilannya berabad-abad lalu. Bagaimana rasanya berada di jaman yang sangat berbeda dan bertemu dengan orang-orang hebat yang di masa depan namanya tercetak dalam sejarah. Petualangan Peter dan Kate diakhiri dengan ending yang tidak terduga. Siapa sangka apa yang akan terjadi dengan kita di detik berikutnya. Kadang-kadang kehidupan kita yang seakan terus berlanjut dan mengalir memang bisa berakhir dalam satu kedipan mata. Ngomong-ngomong, saya sudah lama ingin membaca seri ini. Tapi setiap pengen beli atau pinjam di perpustakaan, saya selalu menemukan bahwa seri ini tidak lengkap. Akhirnya, perpustakaan memiliki seri lengkapnya. Buku ketiga, Time Quake,  sudah nangkring di rak dengan kondisi nya yang masih baru dan mulus. Saya harap toko buku pun demikian. Supaya saya tidak galau melihat seri yang tidak lengkap nangkring di rak buku saya. Tapi mengingat buku ini diterbitkan tahun 2009, mungkin sekarang sudah agak susah ya mencarinya. Ngomong-ngomong lagi,  ketika membaca buku ini, saya menemukan selembar uang lima ribu rupiah yang terselip di halaman 51. Nah lo, bagi para pengunjung perpustakaan daerah kota Banjarbaru yang pernah merasa meminjam Gideon the Cutpurse sebelum tanggal 28 Juni 2014 mungkin bisa mengingat-ngingat apakah kalian menggunakan uang lima ribu kalian untuk dijadikan pembatas buku😀 Oh ya, saya punya beberapa kutipan favorit yang harus saya abadikan di dalam blog sebelum buku ini saya kembalikan ke perpustakaan. Yang pertama dari Gideon:

“Jalanilah kehidupan dengan harapan bahwa kebaikan akan menanti kalian dan bahwa meskipun orang jahat selalu ada, tetapi jantung negeri kita tetap sehat dan kita harus menciptakan surga kita sendiri di muka bumi ini.”— hal 488

Dan yang ini ada di bagian akhir buku:

“Ini bukanlah kisah tentang awal penuh harapan yang berakhir mulus; ini adalah kisah tentang tokoh-tokoh yang mendapati diri mereka berada di tempat yang tidak semestinya, tanpa mengetahui — sama seperti kita semua — bagaimana kisah mereka akan berakhir. Dan mereka selalu menyadari bahwa hanya harapan dan tekadlah yang menjadi pemisah antara diri mereka dan bencana.”

Dan ada satu kutipan indah, yang menurut penulisnya, diminta oleh Kate untuk menyalinnya di buku ini:

“Waktu bukanlah majikan kita meskipun pendulum senantiasa berayun, Melalui kekuatan Memori dan Imajinasi, tidakkah kita bisa dengan sekehendak hati berenang mengarungi sungai Waktu, menyelami Masa Lalu sekaligus Masa Depan kita? Dipandang dari sudut yang sama, maka pendapat bahwa Waktu adalah hal yang konstan menjadii ilusi semata. Jalan Waktu yang tidak berkaitan dalam mimpi-mimpi kita, menjadi terabaikan dalam aktivitas dan hanya benar-benar dapat diselami dalam kebosanan yang akut. Oleh karena itu, jangan biarkan Waktu menjadi majikanmu, namun jadilah majikan bagi Waktu.” Citizen Montfaron, mantan Marquis de Montfaron — hal 511

At last, saya speechless setelah membaca buku ini. 4 dari 5 bintang untuk Gideon the Cutpurse terutama untuk pelajaran mengenai harapan, waktu dan Gideon yang baik dan tampan *eh*. I really liked it 😀

Author:

Love book and wanna study abroad to Holland

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s