Posted in Books, Gramedia Pustaka Utama, Mystery, Review 2016, Trio Detektif, William Arden

Misteri Gua Raungan Review

 photo misteri gua raungan_zpsjnwmz7tu.png

***

Dulu, waktu baca Trio Detektif pas SMP, saya kira penulis bukunya Alfred Hitchcok. Sekarang saya sudah tahu kalau nama penulisnya ternyata Robert Arthur. Jadi sempat lola ketika membaca nama penulis di buku ini adalah William Arden. Nah siapa pula beliau ini? Setelah dilihat-lihat lagi, saya baru lihat tulisan “Based on Characters by Robert Arthur”. Oh jadi gitu. *ngangguk-ngangguk*.

Terus di bagian terakhir, biasanya kan Trio Detektif melaporkan hasil penyelidikan mereka ke Alfred Hitchcok, nah ini mereka melaporkannya ke Alfred Hitfield. Oke, saya anggap saja ini karena penulisnya adalah William Arden. #selfkeplak.

Terus saya sama sekali lupa bagaimana ceritanya Misteri Gua Raungan. Yang saya ingat waktu itu cuma El Diablo. Jadi lumayan seru waktu membaca petualangan Jupiter dan kawan-kawan saat memasuki gua. Sempat tertipu juga dengan pria seram dengan bekas luka di pipi. Kaget waktu tahu siapa sosok hitam yang dilihat oleh Pete di telaga. Walaupun saya sudah bisa menebak siapa sebenarnya El Diablo.

So, asik sekali bernostalgia dengan cerita petualangan Trio Detektif. Semoga semua serinya dicetak ulang lagi ūüėČ

***

Judul: Trio Detektif: Misteri Gua Raungan | Pengarang: William Arden | Penerbit: Gramedia Pustaka Utama | Edisi: Bahasa Indonesia, Jakarta 2015, 200 halaman | Status: Pinjam di iJak | Rating saya: 4 dari 5 bintang

Advertisements
Posted in Books, Gramedia Pustaka Utama, Mystery, Review 2016, Robert Arthur, Trio Detektif

Misteri Jeritan Jam Review

 photo Screenshot_2016-03-08-18-59-15_zpsr9cd1ton.png

***

Saya masih ingaaat…sudah lebih dari 1 dekade dan saya masih ingat.

Terakhir saya membabat habis koleksi Trio Detektif di perpustakaan sekolah waktu SMP kelas 1. Saya masih ingat bagaimana misteri ini terkuak. Waktu itu saya menganggap cerita misteri jeritan jam ini keren sekali.

Jadi ceritanya adalah Jupiter dan kawan-kawan menemukan jam beker bekas. Saat dibunyikan, jam nya menjerit nyaring menyeramkan. Jupiter penasaran, kenapa ada orang yang mau-maunya membuat jam yang bisa menjerit seperti itu.

Siapa sangka, kasus yang awalnya dianggap sepele oleh Pete ini berkembang menjadi kasus besar. Melibatkan beberapa aksi kekerasan dan penculikan oleh penjahat-penjahat profesional, serta barang berharga bernilai jutaan dolar.

Dulu saya punya impian untuk mengoleksi serial detektif ini sampai komplit. Tapi sayang waktu itu bukunya sudah sulit didapat dan toko buku sangat jauh. Untung sekarang sudah dicetak ulang lagi, tapi toko bukunya tetap jauh sih XD. Semoga segera kesampaian aja deh.

***

Judul: Trio Detektif: Misteri Jeritan Jam | Pengarang: Robert Arthur | Penerbit: Gramedia Pustaka Utama | Edisi: Bahasa Indonesia, Jakarta 2015, 200 halaman | Status: Pinjam di iJak | Rating saya: 5 dari 5 bintang

Posted in Books, Fakhrisina Amalia, Gramedia Pustaka Utama, Review 2016, Romance, Young Adult, Young Adult GPU

All You Need is Love Review

 photo all_you_need_is_love_zpsmncqcf9y.jpg

***

Setelah 3 hari membaca buku-buku di luar zona nyaman untuk tantangan #GPU42, akhirnya saya keteteran juga, tidak sempat menyelesaikan buku Young Adult-nya GPU.

Secara acak, saya memilih untuk membaca All You Need is Love sebagai novel Young Adult GPU pertama saya. Dan kejutan, diucapan terima kasih, saya baru tahu kalau penulisnya adalah anak psikologi Universitas Lambung Mangkurat. Kereeeeen. Saya baru tahu kalau ada penulis dari Kalimantan yang bukunya diterbitkan oleh GPU. *dasartidakgaul*.

Oke saya suka dengan setting Skotlandia-nya. Saya suka dengan gaya penulisannya. Mengalir gitu. Jadi enak bacanya.

Tapi…maaf ada tapinya…saya kurang suka dengan tokoh utama ceweknya. Sebenarnya tokoh utama cowoknya juga, tapi mereka dimaafkan karena ganteng. *plaaak*.*alasanapaitu*. Saya rasa mereka semua plinplan. Udah itu aja.

Tapi lagi, kisahnya unik, ada unsur fantasinya. Tidak mengherankan mungkin ya karena settingnya di Skotlandia. Saya juga kalau mau cari ibu peri kalau ga ke Inggris atau ke Skotlandia, atau ke Irlandia gitu. Kayaknya dibalik hutan-hutannya, keajaiban fantasi itu sepertinya masih ada. *ngayal*.

Tapi (lagi), saya sepertinya lebih suka kalau tempat mistis itu tetap dijadikan misteri. Kalau diungkapkan, kesannya jadi seperti dipaksakan gimana gitu.

Tapi (sudah berapa kali saya menyebutkan tapi yak), saya suka dengan pesan yang disampaikan novel ini, terutama yang dihalaman persembahannya “untuk cinta, dan mereka yang bertahan karenanya”. Somehow terasa menohok banget, setidaknya bagi saya sih. *eh*.

So, saya ngasih 3 dari 5 bintang untuk buku All You Need is Love. Untuk cover-nya yang cool dan kutipan “untuk cinta, dan mereka yang bertahan karenanya”. I liked it ūüėČ

***

Judul: All You Need is Love | Pengarang: Fakhrisina Amalia | Penerbit: Gramedia Pustaka Utama | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan Pertama: Jakarta 2015, 240 halaman | Status: Pinjam di iJak | Rating saya: 3 dari 5 bintang

Posted in Books, Gramedia Pustaka Utama, Review 2016, Romance, Teenlit, Teenlit GPU, Windhy Puspitadewi

sHe Review

 photo sHe_zpssjyrkyos.png

***

Life is a book.

Everyday has a new page.

With adventures to tell,

things to learn

and tales to remember.

(sHe, hlm. 11)

Kejar tayang baca buku di iJak (lagi) buat tantangan #GPU42. Sebenarnya sudah sering lihat novel GPU berlabel teenlit, tapi ntah kenapa, untuk saya yang bukan pembaca teenlit, kalau melihat label teenlit di sampul novel,  bawaannya jadi malas banget buat baca XD

Dari sekian banyak novel teenlit GPU, saya akhirnya memutuskan untuk membaca sHe. Walaupun temanya sudah umum, tapi sepertinya asik. Dan syukurlah saya tidak menyesal memilih sHe. Ceritanya, membuat saya tergelak. Apalagi drama saat Dhinar memperkenalkan namanya. Ahahaha, mirip seperti saya memperkenalkan diri. Kalau Dhinar kesulitan menjelaskan huruf “H” yang nyempil di namanya, saya kesulitan menyebutkan huruf “R” yang ada ditengah-tengah nama saya karena penyebutan huruf “R” saya kurang sempurna. Kalau bahasa Banjar-nya sih huruf “R” saya batagar. Lucunya, reaksi orang-orang selalu hampir sama. Benar-benar perjuangan.

Ceritanya sendiri terasa begitu dekat. Persaingan dan dendam kesumat antara Dhinar dan Sapu dalam perebutan NEM tertinggi membuat saya tersenyum-senyum sendiri. Senang mengetahui ternyata bukan hanya saya yang dulu menganggap hal itu sangat penting.

Kalau kata saya sih, sHe ini ceritanya seger, walaupun saya rasa anak-anak muda ini terlalu bebas dan berani.

Sepertinya saya lupa menandai halaman tempat kutipan tentang sesuatu yang benar atau salah itu sangat relatif. Atau cuma saya saja yang membayangkannya yak, ahaha. OOT, inilah salah satu alasan saya tidak suka baca ebook, kalau mau bolak-balik halaman buat mencari kutipan rada susah, capek nge-scroll melulu.

Saya iri dengan kemampuan dan keberanian anak-anak ini untuk menyadarkan para orang tua keras kepala yang selalu memaksa anaknya untuk melakukan ini itu. IMO, itu yang paling berat. Kadang, di kota kecil seperti kota saya, bukan hanya orang tua yang perlu disadarkan, seperti Flemming yang cukup menyadarkan ayahnya Dhinar, tapi semua orang. Kadang setelah capek-capek memberikan penjelasan kepada orang tua, eh besoknya saat mereka ngobrol sama tetangga dan teman-teman mereka, pikiran mereka berubah lagi. Bahkan saat ada bukti nyata pun kalau apa yang mereka yakini itu belum tentu benar, mereka tetap ngotot. Capek deh.

At last, 4 dari 5 bintang untuk buku ini. Untuk suntikan keberaniannya, walaupun kurang ampuh untuk saya, tapi cukup membuat saya kagum. I really liked it ^_^

***s

Judul: sHe | Pengarang: Windhy Puspitadewi | Penerbit: Gramedia Pustaka Utama | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan Ketiga: Jakarta, Juli 2015, 248 halaman | Status: Pinjam di iJak | Rating saya: 4 dari 5 bintang

Posted in Amore, Books, Gramedia Pustaka Utama, Review 2016, Romance, Vira Safitri

New York After The Rain Review

 photo Screenshot_2016-02-18-22-18-20_zpskoeo4gqg.png

***

“Setelah hujan reda, keadaan memang selalu terasa lebih baik”

(New York After The Rain, hlm. 261)

Satu lagi lini novel Gramedia yang baru saya tahu setelah ada tantangan¬†dari #GPU42. Berbeda dengan novel metropop kemarin, saya sama sekali belum pernah membaca novel Amore. Dari Page FB Gramedia, saya baru tahu kalau novel Amore novel dewasa yang menampilkan kisah roman dalam negeri, ditulis oleh pengarang Indonesia, dan menampilkan kisah cinta yang menggugah hati. Oke, saya garis bawahi kata-kata “menggugah hati”-nya.

Nah, setelah pencarian singkat di Goodreads lagi, saya memutuskan untuk membaca novel dengan label Amore yang berjudul New York After The Rain. Alasannya simpel, saya penasaran ada apa setelah hujan XD

Dan saya kembali membaca buku ini lewat iJakarta, dengan alasan yang sama seperti saya membaca novel metropop kemarin *selfkeplak*.

Lalu… menggugah hatikah kisah cinta yang ada di novel Amore ini? Errr…maaf…kalau saya bilang sih tidak terlalu, *sungkem*. Tapi saya setuju dengan kutipan berikut:

“Kau tahu ada dua hal yang membuat cerita berkesan di mata pembaca,” katanya melamun.

“Yang pertama karena si penulis pandai mengemas ceritanya dengan baik sehingga membuat pembaca merasa hanyut, dan yang kedua karena cerita di novel itu pernah terjadi atau dialami si pembaca sehingga merasa begitu dekat dengan ceritanya.”

(New York After The Rain, hlm. 92)

Yep, saya mengalami salah satu dari dua hal di atas. Halaman-halaman awal dari kisah ini menurut saya sangat bagus. Saya jadi ingin terus membaca lanjutannya. Saya penasaran, apa yang terjadi dengan Julia Milano dan juga Jane Martin. Saya penasaran tentang bagaimana kisah cinta Julia, dan dengan siapa Julia nantinya, dengan Jacob atau Ethan. Ah kalau saya yang jadi Julia sih saya bingung, *sayangnyasayabukanJulia*, *nangisdipojokan*.

Saya rasa, saya juga perlu mengacungi jempol untuk peristiwa “setelah hujan”-nya. Bagus sekali, terutama untuk Julia, peristiwa-peristiwa itu membuatnya merasa lebih baik, sebagaimana¬†perasaan Julia selalu setelah hujan reda.

Ada beberapa hal yang membuat saya merasa kurang sreg dengan novel ini, tapi begitu ingin menuliskannya, kok tiba-tiba terasa tidak penting ya?, hahhha, *kenatabok*. Jadi ya sudahlah, biarlah mereka reda seiring hujan, *halah*.

Walaupun tidak terlalu, tapi ada beberapa momen dari novel ini yang cukup menggugah hati saya, *ehem*. Saya rasa novel ini bagus bagi yang masih bingung menentukan apakah perasaan suka kita terhadap seseorang perlu disampaikan atau tidak. Kalau kata Ethan sih gini:

“Ketahuilah, seseorang akan melakukan apa pun untuk orang yang dicintainya. Apa pun…

(New York After The Rain, hlm. 281)

Whoaaah Ethan manis sekali. Walaupun kata-kata ini ditujukan untuk Julia, tapi saya juga ikutan klepek-klepek, ahahaha, *selfkeplak*.

At last, novel ini sukses membuat saya penasaran untuk membaca novel-novel berlabel Amore lainnya. Saya masih penasaran untuk mencari, seberapa menggugah sih kisah cinta novel-novel Amore itu. So untuk itu. 3 dari 5 bintang untuk New York After Rain, I liked it ūüėČ

***

Judul: New York After The Rain | Pengarang: Vira Safitri | Penerbit: Gramedia Pustaka Utama | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan Pertama: Jakarta 2015, 288 halaman | Status: Pinjam di iJak | Rating saya: 3 dari 5 bintang