Posted in Books, Buku Jalan-jalan, Mahaka, Review 2015, Romance, Short Stories, Tere Liye

Buku Jalan-jalan #10 – Berjuta Rasanya Review

 photo bukujalanjalan_zpsf2569632.jpg

Buku Jalan-jalan April 2015: Berjuta Rasanya by Tere Liye

berjuta_rasanya

***

Buku kesepuluh untuk proyek Buku Jalan-Jalan bersama Zelie @ Book-admirer \^_^/

Sebelumnya, yuk dibaca dulu blurb yang saya contek dari sampul belakang buku:

Untuk kita, yang terlalu malu walau sekadar menyapanya, terlanjur bersemu merah, dada berdegup lebih kencang, keringat dingin d jemari, bahkan sebelum sungguhan berpapasan.

Untuk kita, yang merasa tidak cantik, tidak tampan, selalu merasa keliru mematut warna baju dan pilihan celana, jauh dari kemungkinan menggapai cita-cita perasaan.

Untuk kita, yang hanya berani menulis kata-kata dalam buku harian, memendam perasaan lewat puisi-puisi, dan berharap esok lusa ia akan sempat membacanya.

Semoga pemahaman baik itu datang. Bahwa semua pengalaman cinta dan perasaan adalah spesial. Sama spesialnya dengan milik kita. Tidak peduli sesederhana apa pun itu, sepanjang dibungkus dengan pemahaman-pemahaman baik.

Selamat membaca cerita-cerita yang berjuta rasanya.

Hmmm, konyol, lucu, menohok, sedih, errr … berjuta rasanya deh pokoknya, hahhhaah. Saat mulai membaca cerpen pertama yang berjudul Bila Semua Wanita Cantik, komentar pertama saya adalah konyol banget nih cerita. Lucu tapi konyol. Setelah selesai membaca, haduh, saya merasa tertohok. Ngejleb pesannya, pas banget kena ke saya. Dulu sih tapinya,  waktu masih ABG, yaelah 😀

Bila Semua Wanita Cantik menceritakan tentang Vin dan Jo, dua orang gadis yang merasa dirinya jelek. Bedanya Vin sangat frustasi dengan kejelekannya sementara Jo enjoy saja.

Vin pun berdoa agar Tuhan menjadikannya cantik atau membuat wanita lain di dunia sejelek dirinya. Doanya terkabul namun sempat membuat Vin dan Jo kaget. Pasalnya, alih-alih menjadi cantik, Vin dan Jo malah menjadi  wanita jelek sementara wanita lain di seluruh dunia, sampai ke pengemis sekalipun menjadi cantik rupawan.

Etapi standar kecantikan jadi bergeser. Wanita cantik tidak lagi cantik karena semuanya cantik. Yang cantik malah Vin dan Jo karena hanya merekalah yang berbeda. Wah, Vin dan Jo jadi terkenal dan jadi rebutan. Para wanita juga berlomba agar mempunyai fisik seperti Vin dan Jo yang menurut kebanyakan orang di dunia kita yang normal termasuk dalam kategori jelek.

So, bagaimana kelanjutan kisah Vin dan Jo? Apakah pemahaman Vin tentang kecantikan benar? Apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh Tere Liye lewat cerita ini? Nah, silakan baca sendiri bukunya 😀

Cerita berikutnya yang berkesan adalah yang berjudul Hiks, Kupikir Kau Naksir Aku serta Antara Kau dan Aku. Memang benar ya, kalau kita lagi naksir seseorang, maka segala gerak-geriknya bisa kita tafsirkan secara berlebihan. Terus kalau sedang berdekatan dengan orang yang kita taksir, kita bisa melakukan hal bodoh yang malah membuat orang yang kita taksir salah paham. Ribet deh ʘ‿ʘ

Cerita Mimpi-mimpi Laila-Majnun dan Kupu-kupu Monarch membuat saya sedih. Saya pernah membaca versi lain dari cerita Laila Majnun sebelumnya. Waktu itu saja pikir cerita Laila Majnun itu konyol. Tapi setelah membaca lagi yang versi Tere Liye ini, kok jadinya mengharukan ya, hahhahh.

Terus yang judulnya Cintanometer asik juga. Yang Cinta Zooplankton lumayan membuat saya bingung. Ini cerita sebenarnya mau menyampaikan pesan yang mana. Cerpen Kotak-kotak Kehidupan Andrei malah tidak paham sama sekali *kena tabok*.

At last, 3 dari 5 bintang  deh untuk Berjuta Rasanya. I liked it.

NB: Jangan lupa berkunjung juga ke Buku Jalan-jalannya Zelie @ Book-admirer ya. Dan nantikan lagu yang kami pilih untuk buku-buku tersebut di feature Buku Jalan-jalan di weekend pertama bulan Mei.

See yaaaa \^_^\

***

Title: Berjuta Rasanya |  Author: Tere Liye | Edition language: Indonesian | Publisher: Mahaka| Edition: Cetakan VII, Desember 2012 |  Page: 205 pages | Status: Pinjem dari  Zelie @ Book-admirer |  My rating: 3 of 5 stars

***

Review ini diikutkan dalam event  Lucky No.15 RC Kategori  Something Borrowed

lucky-no15

Advertisements
Posted in Buku Jalan-jalan, Non Review

Buku Jalan-jalan #8 – The Solitaire Mystery Song

 photo bukujalanjalan_zpsf2569632.jpg

Weekend terakhir di bulan Januari mepet sama weekend pertama di bulan Februari 😀

Oke, balik lagi ke feature proyek buku jalan-jalan. Awalnya saya pikir bakalan agak susah mencari lagu untuk buku yang bertema filsafat seperti The Solitaire Mystery by Jostein Gaarder ini.

Eh tapi pas membaca bukunya, saya menemukan adegan tentang papanya Hans Thomas yang bisa-bisanya mengijinkan mamanya Hans Thomas pergi untuk mencari jati dirinya. Meskipun mamanya tidak kembali selama bertahun-tahun, papa tetap mencintai mamanya Hans Thomas.

Begitu juga dengan neneknya Hans Thomas. Nenek  tetap mencintai si kakek walaupun si kakek pergi tanpa kabar.

Papa dan nenek seakan tahu kalau kekasihnya masing-masing suatu saat akan kembali dengan cinta yang tidak lekang oleh waktu.

Haahh, manis sekali ya. Dan ini langsung mengingatkan saya sama lagu Always Be My Baby-nya David Cook.

So, silakan disimak lagunya dan jangan lupa untuk mengintip lagu apa yang dipilih Zelie @ Book-admirer untuk proyek Buku Jalan-Jalan bulan ini. See yaa  \^_^/

***

Posted in Books, Buku Jalan-jalan, Children, Family, Fantasy, Jalasutra, Jostein Gaarder, Philoshopy, Review 2015

Buku Jalan-jalan #8 – The Solitaire Mystery Review

 photo bukujalanjalan_zpsf2569632.jpg

Buku Jalan-jalan Januari 2015: The Solitaire Mystery by Jostein Gaarder

the_solitaire_mystery_by_jostein_gaarder_uploaded_by_irabooklover

***

Buku kedelapan untuk proyek Buku Jalan-Jalan bersama Zelie @ Book-admirer \^_^/

Sebelumnya, silakan dibaca dulu blurb yang saya contek dari sampul belakang buku:

Hans Thomas—seorang bocah lelaki berumur 12 tahun yang cerdas dan penuh rasa ingin tahu—melakukan perjalanan bersama ayahnya ke Yunani untuk mencari ibunya. Ayahnya pemabuk tapi jenius; dia memancing Hans Thomas dengan pertanyaan-pertanyaan kritis dan berkisah tentang hal-hal aneh.

Dalam perjalanan itu serangkaian kejadian luar biasa terjadi: seorang lelaki kerdil memberi Hans Thomas sebuah kaca pembesar; seorang tukan roti tua memberinya kue dan buku mungil yang berkisah tentang seorang pelaut yang terdampar di pulau terpencil. Di pulau antah-berantah berpenghuni seperangkat kartu remi bernyawa itu berkelindan teka-teki permainan soliter yang menjalin sejarah panjang sebuah keluarga selama tiga generasi; sebuah ‘permainan’ yang membuktikan adanya hubungan kausalitas sekaligus menohok kita dengan pertanyaan mendasar tentang causa prima: Apakah Tuhan ada?

Jostein Gaarder dalam Misteri Soliter ini kembali mempertunjukkan kejenialannya. Menurut sejumlah komentar ia mencapai tingkat puncak dengan berhasil memadukan fantasi, mitologi, filsafat, juga pendidikan. Buku ini memang sangat nikmat dibaca, bisa disarankan agar dibaca siapa pun.

Ah, saya terkesan dengan kejadian-kejadian abstrak yang dialami oleh Hans Thomas. Begitu pula dengan yang dialami oleh tokoh-tokoh yang ada di dalam buku super kecilnya. Akhirnya peristiwa-peristiwa yang terkesan abstrak itu sebenarnya adalah sebuah jalinan yang sangat rapi dan saling melengkapi.

Saya sudah pernah membaca karya-karya Jostein Gaarder sebelumnya sehingga saya sudah terbiasa dengan cerita-ceritanya yang kadang membingungkan. Bayangkan saja, di buku ini ada tukang roti bernama Ludwig yang menceritakan kisah tentang tukang roti bernama Albert yang menceritakan kisah tentang tukang roti bernama Hans yang menceritakan kisah tukang roti bernama Frode kepada Hans Thomas. Ngomong-ngomong, entah kenapa kalau ada kata Frode, saya membacanya jadi Frodo :D.

Belum lagi dalam kisahnya, tukang roti Hans bertemu dengan kartu soliter hidup yang mengatakan kata-kata aneh yang seakan tanpa makna. Tapi setelah semuanya disatukan, well, sekali lagi, semuanya jadi terjalin rapi dan saling melengkapi.

Bagaimana kejadian-kejadian atau kata-kata yang seakan tak teratur bisa menyatu menjadi sebuah jalinan rapi? Nah, inilah misterinya. Ada seseorang atau sebuah kartu yang berada dibalik semuanya. Hmmm, siapakah dia?

Ngomong-ngomong, ada banyak kata-kata filsafat yang bagus dari buku ini. Cuma karena saking banyaknya, dan saya larut dalam kisah, saya jadi malas untuk berhenti mencatat atau bahkan untuk menempelkan bookmark, jadinya saya meneruskan saja membaca tanpa menandai halamannya dan akhirnya kelabakan sendiri mencari-cari halaman yang ada kata-kata bagusnya 😀

Yah, silakan baca saja sendiri bukunya dan temukan kebijaksanaan filsafat yang disembunyikan lewat cerita Hans Thomas yang melintasi Eropa bersama ayahnya untuk mencari ibunya yang katanya pergi untuk menemukan jati diri.

Ngomong-ngomong lagi, buku ini adalah hadiah dari Zelie loh. Spesial lagi karena buku ini dibeli dengan tabungan hasil Receh untuk Buku 2014 nya Zelie. Wow keren 😀

Datangnya paket buku ini pas sekali mencerahkan hati saya yang sejak pagi sudah uring-uringan karena kerjaan di kantor. Ditambah lagi bukunya penuh dengan pesan-pesan filsafat yang baik secara eksplisit maupun implisit mengatakan kalau manusia kadang dibutakan oleh kejadian sehari-hari yang sebenarnya sepele dan tidak menyadari keajaiban rahasia kehidupan yang sebenarnya. Bukunya benar-benar datang di saat yang tepat. Terima kasih Zelie *peluk*

At last, 5 dari 5 bintang selalu untuk Jostein Gaarder. It was amazing.

***

Title: The Solitaire Mystery – Misteri Soliter |  Author: Jostein Gaarder | Edition language: Indonesian | Publisher: Jalasutra | Edition: Cetakan 2011 |  Page: 448 pages | Status: Pinjem Hadiah dari  Zelie @ Book-admirer |  My rating: 5 of 5 stars

***

Review ini diikutkan dalam even  CLRP dan  Lucky No.15 RC Kategori  Freebies Time

childlit_01

lucky-no15

Posted in Buku Jalan-jalan, Children, Family, Fantasy, Gramedia Pustaka Utama, Kate DiCamillo

Buku Jalan-jalan #7 – The Magician’s Elephant Song

 photo bukujalanjalan_zpsf2569632.jpg

Sudah weekend pertama di bulan Januari ya? Wah, momen pergantian tahun terlewat begitu saja bagi saya gara-gara dapat tugas dadakan yang lumayan bikin rusuh dari kantor.  Bahkan acara malam tahun baru yang sudah dirancang bersama teman-teman dengan menonton film bareng dan menyaksikan kembang api di loteng pun hampir saja gagal karena saya berkali-kali ketiduran.

Oke, balik lagi ke proyek jalan-jalan. Saatnya memilih lagu tema yang  cocok untuk buku yang saya baca pinjam dari Zelie @ Book-admirer untuk proyek ini. Buku The Magician’s Elephant by Kate DiCamillo.

the_magician's_elephant_uploaded_by_irabooklover

Bagi yang sudah pernah baca bukunya, pasti tahu dong dengan tiga kalimat ajaib dari polisi Leo Matienne? Kalimat-kalimat tersebut adalah: Bagaimana kalau? Kenapa tidak? Mungkinkah?

Saya rasa apa yang ingin disampaikan oleh buku ini dapat dirangkum dalam tiga kalimat tersebut. Lewat kalimat-kalimat itu, kita diajarkan untuk berani percaya pada kebenaran seberapa mustahil pun itu.

Saya langsung teringat dengan lagu How to Believe by Bridgit Mendler yang menjadi soundtrack salah satu film Tinker Bells. Meskipun setting musimnya beda, tapi dua-duanya mengajarkan hal yang sama.

Lagunya juga tepat untuk momen tahun baru. Temukan cara untuk percaya pada harapan apapun yang kita inginkan untuk mengisi lembaran-lembaran baru di tahun yang baru.

So, silakan disimak lagunya dan jangan lupa untuk mengintip lagu apa yang dipilih Zelie @ Book-admirer untuk proyek Buku Jalan-Jalan pertama di tahun yang baru. Selamat Tahun Baru 2015 \^_^/

***

Posted in Books, Buku Jalan-jalan, Children, Family, Fantasy, Gramedia Pustaka Utama, Kate DiCamillo, Review 2014

Buku Jalan-jalan #7 – The Magician’s Elephant Review

 photo bukujalanjalan_zpsf2569632.jpg

Buku Jalan-jalan Bulan Desember: The Magician’s Elephant by Kate DiCamillo

the_magician's_elephant_uploaded_by_irabooklover

***

Sinopsis:

Bagaimana kalau?

Kenapa tidak?

Mungkinkah?

Sejak orang tuanya meninggal dunia, Peter Augustus Duchene tinggal bersama seorang mantan tentara tua dan terpisah dari adik perempuannya yang masih bayi. Ketika beberapa tahun kemudian di alun-alun pasar kota Baltese ada tenda peramal. Peter langsung tahu pertanyaan-pertanyaan apa yang harus ia ajukan: apakah adik perempuannya masih hidup? Dan kalau ya, bagaimana ia bisa menemukannya?

Jawaban misterius si peramal  (Gajah! Gajah itu akan membawamu ke sana!) memicu serangkaian peristiwa yang begitu menakjubkan, begitu mustahil, sehigga Peter hampir tidak berani memercayainya.

Buku ketujuh untuk proyek Buku Jalan-Jalan bersama Zelie @ Book-admirer \^_^/

Baru membaca 2 buku Kate DiCamillo, dua-duanya tentang “cahaya”, dan saya sangat sukaaa ❤

Sekarang kisahnya tentang seorang anak laki-laki bernama Peter yang bertanya kepada peramal bagaimana cara menemukan adik perempuannya yang terpisah dengannya. Dan sang peramal bilang kalau dia harus mengikuti gajahnya. Peter bingung, bagaimana caranya menemukan gajah. Namun si peramal bilang, kebenaran selalu berubah, tunggulah sebentar dan kau akan lihat.

Tanpa Peter ketahui, ada sebuah sebuah pertunjukan sihir dimana si penyihir pada awalnya ingin memunculkan sebuket bunga lili, tapi alih-alih bunga, dia malah memunculkan gajah. Iya, gajah. Bayangkan ada gajah yang tiba-tiba muncul saat kita menonton pertunjukan sulap. Oh ya ngomong-ngomong saya bingung, kenapa di buku ini istilah penyihir yang dipakai, kenapa bukan pesulap? Whatever-lah, yang pasti si gajah muncul dan mematahkan kaki seorang wanita bangsawan bernama Madam LaVaughn. Atas perintah Madam LaVaughn, si penyihir dan gajahnya dipenjarakan.

Peter yang mendengar hal ini langsung berpikir bagaimana caranya bisa bertemu dengan sang gajah. Untunglah ada seorang polisi berjiwa penyair yang bernama Leo Matienne yang mau menolongnya. Berhasilkan Peter menemukan adiknya? Dan bagaimana dengan nasib si penyihir dan gajahnya? Dan bagaimana pula dengan Madam LaVaughn yang kakinya dipatahkan oleh si gajah (atau si penyihir)?

Cerita tentang mimpi, harapan, kemauan untuk menolong, dan kemauan untuk meminta maaf dan memaafkan. Indah sekali. Setiap orang dituntun oleh cahayanya masing-masing. Entah oleh bintang di langit maupun binar harapan di wajah seorang anak. Dan semuanya pasti berakhir dengan baik kalau kita bisa tetap memelihara cahaya itu.

Oh ya,, kata polisi Leo Matienne, kita juga harus selalu mempertanyakan tiga pertanyaan di atas agar kita bisa merubah dunia. Bagaimana kalau? Kenapa tidak? Mungkinkah?

Speechless deh. Saya cuma bisa bilang, ini sebuah cerita yang indah dan keren. I really liked it ❤ ❤ ❤

***

Title: The Magician’s Elephant – Gajah Sang Penyiihir |  Author: Kate DiCamillo | Edition language: Indonesian | Publisher: Gramedia Pustaka Utama | Edition: 1st Edition, Jakarta, September 2009 |  Page: 152 pages | Status: Pinjem dari Zelie @ Book-admirer |  My rating: 4 of 5 stars