Posted in Non Review

Scene on Three #55: A Clash of Kings

Scene on Three hosted by Bacaan Bzee

“Kesatria disumpah untuk membela yang lemah, melindungi perempuan, dan memperjuangkan kebenaran, tapi tak seorang pun dari mereka melakukan hal itu.

Mereka bukan kesatria sejati, mereka semua.”

(A Clash of Kings, hlm. 464)

Continue reading “Scene on Three #55: A Clash of Kings”

Advertisements
Posted in Non Review

Scene on Three #54: Abarat

Scene on Three hosted by Bacaan Bzee

Dulu Pyon pulau yang tenang, tapi sekarang tidak lagi. Sentuhan tangan seorang wiraswasta bernama Rojo Pixler telah mengubah keseluruhan pulau ini sepenuhnya. Pixler memimpikan (ada juga yang menyebut ini sebagai kebodohannya) membangun kota paling besar di Kepulauan Abarat ini di Pyon.

Pixler bukan hanya mentransformasi Pyon, tapi lambat laun (dan menurut pendapat saya, si penulis, ini patut disesali) dia mungkin akan mentransformasi keseluruhan kepulauan ini. Tidak ada yang bisa menghindari Panacea-nya, atau maskotnya yang periang, si Commexo Kid.

Tapi barangkali tidak salah kalau saya katakan bahwa orang seperti Rojo Pixler sama sekali tidak menaruh minat pada masa lampau. Pandangannya hanyar terarah ke masa depan. Hidup yang dijalani dalam pengharapan tanpa henti mungkin ada bagusnya juga, untuk sementara. Tapi ini hanya cocok untuk orang muda. Kelihatannya Mr. Pixler belum menyadari kefanaannya. Kalau dia sudah menyadarinya, saya rasa dia akan bisa lebih menghormati segala sesuatu yang terkubur tenang di dalam tanah, sebab suatu hari nanti dia pun akan menjadi bagian dari mereka.

(Cupilkan dari Almenak Klepp, hlm. xvi-xvii)

Continue reading “Scene on Three #54: Abarat”

Posted in Non Review

Scene on Three #52: Interworld

Scene on Three hosted by Bacaan Bzee

“—tetapi sebelum aku sempat mengatakan apa-apa lagi, ruangan itu mulai menggelap. Bukan gelap seperti: gelap karena matahari menghilang di balik awan; atau gelap seperti: hei, itu awan badai yang dahsyat, jadi gelap deh; tidak juga gelap seperti: berani taruhan, seperti inilah rupanya gerhana matahari total. Gelap ini seperti sesuatu yang bisa disentuh, sesuatu yang padat dan berbentuk dan dingin.”

(Interworld, hlm. 40)

Continue reading “Scene on Three #52: Interworld”

Posted in Non Review

Scene on Three #51: Interworld

Scene on Three hosted by Bacaan Bzee

Entah apakah aku sudah pernah menyebutkan bahwa Melintas ini sama seperti kecakapan apa pun yang kau miliki, yaitu bahwa aku menikmatinya. Rasanya menyenangkan, rasanya benar, menggunakan pikiranku untuk membuka Medan-Antara, untuk melintas dari dunia ke dunia ke dunia. Para jago catur bermain bukan demi uang, atau bahkan demi kompetisi — mereka bermain karena mereka mencintai permainan itu. Para genius matematika mendapatkan kepuasan bukan dari berkebun — mereka memainkan dan mengolah teori-teori yang sudah ada di dalam kepala mereka, atau mengkhayalkan bahwa Pi setara dengan bilangan yang tak terhitung banyaknya. Seperti pesenam yang sudah terlatih, kini setelah aku ingat akan kecakapanku, aku gatal ingin menggunakannya.

Aku tidak bisa membayangkan tidak pernah Melintas lagi seumur hidupku.

(Interworld, hlm. 181)

Continue reading “Scene on Three #51: Interworld”