Posted in Non Review

Buku Dalam Hidupku #7, Ring by Koji Suzuki

Berawal dari keberadaan sumur tua di belakang tempat tinggal saya yang baru di kota orang, saya jadi teringat buku horor yang ceritanya sudah sangat populer sampai dijadikan film, Ring by Koji Suzuki.

Melihat sumur itu sontak saya langsung ngebayangin jangan-jangan di dalamnya ada tulang belulang Sadako *berasahorror*.

Saya sudah lama sekali membaca buku ini, waktu saya masih kelas dua SMA, dan  sampai sekarang belum berani nge-reread ataupun membaca sekuelnya. Tapi saya masih ingat salah satu adegan di bagian terakhir ceritanya.

Adegan ketika si tokoh utama (lupa namanya) menyadari bahwa dia telah terjebak di dalam sebuah lingkaran. Lingkaran cincin yang di dalamnya ada impian Sadako yang harus terus disambung karena siapapun yang berani memutusnya akan mendapat amarah Sadako.

Waktu itu, dengan entengnya saya mengatakan kalau si tokoh utama ingin bebas dari lingkaran itu, dia hanya harus mencari orang yang mau berkorban. Orang yang mau berkorban untuk memutus kutukan itu dengan konsekuensi meninggal secara mengerikan karena kutukan Sadako. Haduh, memangnya siapa yang mau yah? *selfkeplak*

Mengingat adegan tersebut, saya jadi memikirkan lingkaran ini. Persis sepeti cincin kutukan Sadako, saya baru menyadari kalau saya juga terjebak di dalam sebuah lingkaran jahat. Dan, IMO, ini berhubungan dengan kebudayaan yang sudah mendarah daging di kota kecil saya.

Sama seperti ketika saya baru menyadari bahwa dialek kota kecil saya ternyata berbeda dengan dialek kota Banjarmasin ketika saya pergi merantau ke luar kota, saya juga baru menyadari salah satu kebiasaan orang-orang (gak semua loh ya) di kota kecil saya yang cenderung melontarkan “kutukan” kepada orang yang telah mereka anggap membuat mereka sakit hati, saat saya sedang berada di kota lain.

Karena menurut saya walaupun kami masih sepulau, orang-orang di tempat tinggal saya sekarang ini jarang ada yang kutuk-mengutuk, setidaknya tidak secara terang-terangan 😀

Contoh kutuk-mengutuk di kota kecil saya misalnya begini, ibu saya pernah kecewa dengan seorang tukang bangunan yang membuat ruang makannya tampak dibuat sembarangan alih-alih cantik. Saking marahnya ibu “mengutuk” agar tukang itu tidak mendapat orderan lagi dari orang lain.

Saya juga pernah mendengar seorang atasan yang tersinggung karena bawahannya tidak mentaati perintahnya, dan atasan itu “mengutuk” agar bawahannya itu selamanya jadi bawahan.

Ga usah jauh-jauh deh, saya juga pernah dikutuk secara terang-terangan oleh dua orang cowok yang saya tolak cintanya *preeeet….sok populer deh lo Ra*. Secara halus mereka kira-kira bilang begini:  “tunggu aja karmanya”. Grrrrrr, ampun deh, awas loh ya gue kutuk balik *eh*.

Saya juga pernah mengutuk orang yang seenaknya membentak saya di depan umum dan mengatakan saya buta warna karena pas foto yang saya serahkan background merahnya terlalu terang sehingga warnanya cenderung jadi merah oranye. Orang itu bilang “heh kamu ini buta warna ya, ini foto backgroundnya bukan merah, tapi cokelat!!!”.

Nah lo, reaksi pertama saya adalah saya langsung mengutuk orang itu di dalam hati semoga dia selamanya ga bisa bedain warna cokelat sama warna merah oranye. Kakak yang saat itu menemani saya ternyata juga langsung mengutuk semoga anak orang itu nantinya juga buta warna.

Bahkan saat saya di kota lain dan bertemu dengan teman sekampung, saya juga pernah mendengar dia mengutuk seseorang. Haduh, sepertinya kutuk-mengutuk ini sudah jadi budaya di kota kecil kami. Dan ini bukan pengaruh dari serial Mahabrata yang sekarang lagi populer 😀

Untuk orang-orang di kota kecilku, manusiawi memang, kalau kita merasa disakiti, kita akan marah dan mengutuk orang yang kita anggap sudah berbuat jahat pada kita. Berharap karma yang sama berlaku untuk orang itu supaya kita puas dan sakit hati kita terbalaskan. Dan kita anggap itu sah-sah aja. Toh dia yang salah duluan.

Tapiiiiii coba deh bro buka pikiran dan coba tarik diri  untuk melihat dari sudut pandang orang luar, saya rasa apa yang kita lakukan itu jahat ya, jahat sekali.

Dan alih-alih percaya dengan karma, saya lebih percaya dengan firman Tuhan di surah Az-Zalzalah ayat ke 7-8 berikut: *edisiramadhan*:

7. Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.

8. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.

IMO, bro, itu artinya kalau kita balas sakit hati kita dengan mengutuk orang yang bersangkutan supaya dia menderita, maka kita sama saja berbuat jahat dengan orang itu, dan itu artinya kita membiarkan diri kita untuk mendapatkan balasan kejahatan lagi. Dan kalau kita dijahati lagi (biasanya lewat orang yang berbeda), dan kita kutuk dia lagi, maka kita akan dapat balasan kejahatan lagi. Begitu seterusnya gak putus-putus. Kayak lingkaran kutukannya Sadako.

Dan saya rasa itu menjawab pertanyaan atas kesialan-kesialan yang selama ini terjadi di hidup saya. Gak terhitung deh sudah berapa kali saya mengutuk orang kalau saya merasa sakit hati. Dan kutukan itu jelas merupakan undangan bagi kesialan-kesialan yang datang menghampiri saya, termasuk mau pipis saat sudah duduk manis saat tarawih di mesjid mau dimulai *abaikan*.

Terlebih karena kebiasaan yang manusiawi tanpa sadar saya terjebak di lingkaran itu. Dan sama seperti pendapat saya sebelumnya tentang lingkaran Sadako, saya rasa lingkaran itu juga bisa diputus kalau ada yang mau berkorban.

Untungnya berkorbannya ga perlu mati secara mengerikan versi kutukan Sadako. Berkorbannya cuma perlu maaf. Yaaa, maaf. Kalau kita bisa memaafkan orang yang menyakiti kita alih-alih ngasih dia kutukan, maka kita akan mendapatkan kebaikan alih-alih kejahatan yang terus bersambung.

Tapiiiiiiii….susah memang. Reaksi pertama memang harus marah kayaknya. Tapi tahan deh jangan sampai ngutuk orang. Maafkan Ra … maafkan *jedotinkepalakedinding*.

Mungkin begini saja ya, saat ada orang yang menyakiti kita, reaksi pertama kita setelah marah adalah, tarik napas. Terus buka pikiran deh, tuh orang jadi nyebelin ke kita jangan-jangan kita duluan yang bikin dia sebal. Gak ada asap tanpa api kan. Terus saya juga pernah baca di sebuah buku (lupa judulnya) kalau dalam perang itu, kedua belah pihak pasti sama-sama merasa benar. So, jangan boro-boro merasa kita yang teraniaya dulu ya, coz siapa tahu ternyata kita yang menganiaya duluan.

Nah, gara-gara sumur ini, yang mengingatkan saya sama lingkaran cincinnya kutukan Sadako, saya harap saya bisa keluar dari lingkaran jahat yang ini. Saya harap saya bisa mencabut setiap kutukan yang sudah terlanjur saya lemparkan ke orang-orang.

Untung waktu ngutuk saya ga seperti Maleficent yang bilang “tidak ada kekuatan di dunia yang bisa menangkal kutukan ini” :D. Saya percaya Tuhan yang Maha Kuasa bisa menghapus kutukan itu. Saya maafkan kalian semua. Maaf saya sudah pernah merasa dongkol dengan kalian, siapa pun itu. Maaf reaksi pertama saya saat itu adalah mengutuk kalian dengan hal-hal yang jelek. Sungguh saya minta maaf.

Saya betul-betul berdoa mohon bantuan kepada Tuhan semoga Dia menghapus dendam yang ada di hati saya. Karena jujur bro, ada beberapa dari kelakuan kalian yang bikin saya masih sedikit jengkel *eh*.

Dan saya harap semua orang yang sudah pernah mengutuk saya juga bisa memaafkan saya. Saya betul-betul minta maaf. Salah saya pernah berkata kasar kepada kalian dan membuat kalian tersinggung. Salah saya kalau background foto itu berwarna merah oranye. Dan masih banyak salah saya yang lain. Ya betul itu semua salah saya dan saya tidak berhak mengutuk kalian. Maaf sekali lagi.

Dan terima kasih tak terhingga kepada Tuhanku yang Maha Pengasih dan Penyayang. Yang membuat saya membaca buku Sadako, yang membuat orang tua saya tidak menutup sumur di belakang rumah itu. Saya percaya tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Semuanya sudah Kau atur. Terima kasih sudah menunjukkan cahaya-Mu kepadaku.

Dan ngomong-ngomong tentang cahaya, tetiba saya jadi keingat Jamie yang diperankan oleh Mandy Moore, menyanyikan lagu Lighthouse di film A Walk to Remember sebagai permintaan kepada Tuhannya untuk selalu membimbingnya. Dengan sedikit penyesuaian lirik, saya rasa saya juga bisa meminta hal yang sama kepada Tuhan saya ^^

Here is my thought, this is my plea.

God let Your holy light, shine on me.

I believe in You, hear my prayer.

I know I am not worthy but I need your help.

God shine Your light, shine it this way.

Shine it so I can see which way to take.

My faith is in you, to bring me through.

I have one question.

Lirik yang indah ya ^^

Dan ngomong-ngomong tentang cahaya lagi, saya jadi teringat juga sama bagian penutup The Tale of Despereaux by Kate diCamillo,

Aku akan senang sekali kalau kau menganggap aku sebagai tikus yang bercerita kepadamu, menceritakan kisah ini dengan segenap hatiku, membisikkannya ditelingamu untuk menyelamatkan diriku dari kegelapan, dan untuk menyelamatkanmu dari kegelapan juga.

“Cerita seperti cahaya,” kata Gregory si sipir pada Despereaux.

Anak-anak, kuharap kau menemukan cahaya di sini. 

Ya benar sekali Kate diCamillo, aku menemukan cahaya di ceritamu. Disetiap tokohnya, yang menyelamatkan hati mereka masing-masing dari kegelapan dengan memaafkan. Memaafkan dengan tulus, meskipun yang telah dilakukan oleh musuh mereka sangat menyakitkan. Terima kasih ^^

Ngomong-ngomong, mungkin ada yang bertanya-tanya tentang judul artikel ini kok sudah langsung Buku dalam Hidupku #7. No. 1-5 nya sudah dipost duluan untuk event #5BukudalamHidupku yang diadakan oleh Mas Irwan Bajang. Terus saya memutuskan untuk melanjutkan “hashtag” ini. Yang ke-6 saya post untuk event BBI Anniversary.

At last, mumpung masih dalam suasanan Ramadhan, saya mau mengucapkan Selamat Menunaikan Ibadah Puasa ya ^^. Dan karena sebentar lagi lebaran, saya juga mau mengucapkan Selamat Idul Fitri 1435 H. Semoga kita berhasil meraih fitrah di tahun ini. Mohon maaf lahir dan batin semuanya.

See yaaa 😀

Advertisements
Posted in Non Review

#5BukuDalamHidupku | FOLLOW YOUR PASSION

TheNakedTraveler4Judul: The Naked Traveler 4 | Pengarang: Trinity | Penerbit: B first | Edisi: Cetakan kedua, Oktober 2012 | Jumlah halaman: x + 262 halaman

Follow your passion adalah salah satu judul sub bab yang ada di buku The Naked Traveler 4 karya Trinity. Bagi yang sudah pernah baca bukunya, tentunya sudah tahu bagaimana cara Trinity mengajak kita untuk ber-traveling ria.

Saking hebatnya, setelah membaca buku ini, saya langsung mengiyakan ajakan senior saya untuk traveling ke kota sebelah yang jaraknya kira-kira 1 jam perjalanan.

Eh, dekat ya. Tapi tunggu dulu, untuk ukuran saya yang jarang traveling dan tinggal di kota kecil begini, jarak segitu termasuk jauh lo. Satu jam ke kota sebelah itu artinya bepergian lintas kabupaten. Jalannya sempit berliku, naik motor pula. Dan yang lebih parah lagi, saya pergi untuk mengikuti seminar kecantikan. Saya yang cupu ini ikut seminar kecantikan? Haduh, bukan saya banget itu.

Saya suka kok traveling. Tapi kalau disuruh memilih antara traveling atau  membaca buku di rumah, saya jelas memilih membaca. Apalagi kalau travelingnya untuk seminar kecantikan, ckckckck. Kebayangkan bagaimana hebatnya buku ini mempengaruhi saya untuk meninggalkan zona nyaman dan membuat badan pegal-pegal?

Oke, cukup soal traveling. Sekarang saya akan membahas satu bahasan yang diselipkan oleh Trinity di bukunya. Bagian yang waktu itu langsung membuat saya membuat satu post khusus untuk mengabadikannya. Post itu juga saya masukkan disini. Digabung dengan tulisan yang baru, agar yang lama, yang waktu itu masih fresh, tidak hilang. Yaaah, sekalian menghemat waktu juga sih 😀

Kurang lebih setahun yang lalu, mentor bahasa Inggris saya pernah mengatakan sesuatu yang sama tentang follow your passion.  “Just follow your passion and success will follow you”. Saat  itu kami sedang berdiskusi tentang pekerjaan apa yang ingin dilakukan setelah lulus kuliah nanti.

Passion bisa diartikan sebagai “gairah”. Maksudnya, kita disuruh menanyakan kepada diri sendiri hal apa yang dengan senang hati terus kita lakukan. Tanpa pernah bosan. Bahkan tanpa digaji.

Untuk saya, jawabannya mudah. Saya suka membaca dan belajar. Secara lebih spesifik — untuk membaca, saya suka membaca apa saja.  Semua bentuk dan genre bacaan. Tapi lebih favorit ke novel fiksi fantasi dan klasik. Untuk belajar, saya suka belajar ilmu matematika dan IPA ala anak sekolah atau anak kuliahan. Belajar di dalam ruangan sambil duduk manis mendengarkan penjelasan guru atau dosen. Berdiskusi dan mengerjakan tugas bila diperlukan.

Mengingat  passion saya sendiri, saya hanya bisa tersenyum miris. Alih-alih bisa menghasilkan uang, keduanya malah menghabiskan uang saya.  Saya selalu “kerampokan” setiap habis dari toko buku. Saya sering  ikut kursus ini itu hanya untuk memuaskan passion saya untuk belajar ala siswa sekolah.

Bagaimana cara menghasilkan uang dari sana coba? Mana ada orang yang mau membayar saya untuk membaca buku dan belajar?

Setelah membaca buku Trinity, saya jadi malu sendiri. Passion Trinity adalah menulis dan traveling. Ya, traveling. Dibandingkan dengan uang yang saya habiskan untuk belanja buku dan belajar di institusi tertentu, uang yang Trinity habiskan untuk traveling jelas jauh lebih banyak.

Namun yang paling penting adalah Trinity berhasil menemukan cara untuk mengubah passion travelingnya menjadi penghasilan dan membuatnya sukses. Caranya  seperti yang saya kutip dari buku The Naked Traveler 4 berikut:

“Intinya, kalau kita menginginkan sesuatu, jangan hanya di angan-angan saja. Kita harus put into action. Iya, tapi gimana? ‘Dimulai dengan menuliskannya. Lalu, menghitung segala kemungkinan’, jawabnya.
Saya disuruh bikin MRR (Management Research Report) terhadap diri sendiri. Di sekolah S-2 saya, MRR adalah thesis yang berisi business plan tentang suatu perusahaan sehingga menjadi lebih baik. Sederhananya, kita harus membuat analis SWOT (Strengths, Weaknesses, Oppurtunities, Threats), menetapkan segmen pasar, membuat produk dan pada akhirnya ada perhitungan bisnis lima tahun ke depan.” (hal. 183)

Trinity betul-betul melepas pekerjaan kantorannya yang sebetulnya sudah bergaji tinggi. Dia memilih mengikuti passionnya dan betul-betul berhasil. Trinity menjadi fulltime traveler yang sukses. Kesuksesannya  bahkan melebihi perkiraan yang telah dia buat sebelumnya.

“Akhirnya, saya telah menemukan passion saya and I think I have the best job in the world as a fulltime traveler and freelance writer. Bayangkan, saya sangat doyan jalan-jalan, memiliki pekerjaan yang memungkinkan saya jalan-jalan terus dan dapat uang pula dari jalan-jalan! Ah, benar kata Confucious, ‘Choose a job you love, and you will never have to work a day in your life.
Nah, sekarang tanyalah kepada diri sendiri: apakah passion Anda? Dan, yang lebih penting apakah Anda punya keberanian untuk mewujudkan passion Anda tersebut?” (hal.185)

Aduh, berani tidak ya? Semoga akhirnya saya bisa mendapatkan sebuah pekerjaan yang sesuai dengan passion saya. Just remember to follow your passion and success will follow you. So, let’s follow our passion  ^_^

Note: Tulisan ini dischedule untuk event #BukuDalamHidupku hari kelima.

Baca juga, hari keempat #5BukuDalamHidupku | My Golden Road, hari ketiga #5BukuDalamHidupku | SIHIR DI TAMAN RAHASIA, hari kedua #5BukuDalamHidupku | SURE LOF, IT’S EDENSOR dan hari pertama #5BukuDalamHidupku | SEBUAH SURAT CINTA KEPADA BUKU,  REVIEW saya tentang buku ini.

Posted in L. M. Montgomerry, Non Review

#5BukuDalamHidupku | MY GOLDEN ROAD

TheGoldenRoadJudul: The Golden Road | Pengarang: L. M. Montgomerry | Penerbit: Gramedia Pustaka Utama | Edisi: Cetakan I, 2010 | Jumlah halaman: 352 halaman

“Lama berselang, kita semua pernah menapakkan kaki di sebuah jalan indah keemasan. Jalanan lebar penuh kenangan, bersaput bayang-bayang dan bermandikan sinar mentari; setiap kelokan dan turunan menyajikan pesona segar dan keindahan baru bagi hati yang penuh semangat dan mata yang belum banyak melihat.

Mungkin jalan keemasan itu telah lama kita tinggalkan, akan tetapi kenang-kenangannya adalah yang paling berharga di antara harta milik kita yang abadi; …”

Bagus ya kata-katanya. Paragraf di atas saya ambil dari bagian pembuka buku ini.

Membaca buku ini membuat saya kena book hangover. Buku ini juga membuat saya mengenang masa kecil sampai sebegitunya. Sampai tersenyum bahkan tertawa sendiri 😀

Masa kanak-kanak tokoh-tokoh di buku ini yang terjadi di sebuah tempat bernama Carlisle. Di mana mereka melewatkan musim dingin dan musim-musim berikutnya dengan melakukan beragam kegiatan. Membuat majalah yang diberi nama Majalah Kita, memetik apel, membuat pai, berjalan di antara pohon willow dan yang paling penting mendengarkan cerita dari Gadis Pendongeng di segalur tanah berumput hijau di padang rumput landai yang putih oleh bunga-bunga daisy.

Ya masa kanak-kanak saya memang berbeda dengan masa kanak-kanak para tokoh di cerita ini yang terjadi di sebuah tempat bernama Carlisle di Pulau Prince Edward. Alih-alih berjalan di antara pohon willow, saya dan teman-teman masa kecil malah berjalan di sepanjang dataran di pinggir sungai dan berpura-pura kalau itu adalah pantai.

Meskipun demikian masa kanak-kanak selalu memiliki persamaan. Kita berkhayal, kita bermimpi, kita saling bertengkar dan saling memaafkan beberapa detik kemudian. Tahun-tahun yang menanti terasa panjang dan penuh dengan harapan.

Dulu kami berkhayal saat berenang di sungai. Berlomba siapa yang cepat mencapai sisi seberang. Kami pernah sengaja berjalan memutar sepulang sekolah, untuk berbasah-basahan melewati jalan-jalan yang banjir karena luapan air sungai.

Dulu kami pernah dengan senang hati membantu orang yang tinggal di sebelah sekolah untuk panen buah kalangkala (Litsea angulata).  Seru sekali rame-rame memungut buah yang dijatuhkan si empunya dari atas pohon dan menertawakan teman yang kepalanya kejatuhan buah.

Kami pernah duduk di pohon rambutan tetangga sebelah dan saling menceritakan cerita seram. Kami pernah berpetualang di bawah rumah panggung yang di bangun di atas rawa. Memanjat palang-palang di bawah rumah. Saya ingat pernah tidak sengaja mencengkram telur keong emas yang kebetulan menempel di salah satu palang. Hiiiii.

Menurut saya, buku ini menggambarkan masa kanak-kanak dengan sangat indah. Masa kanak-kanak disini bahkan disebut dengan The Golden Road.

Yang membuatnya paling berkesan adalah bagian akhir dari kisah ini. Sebuah analogi yang tepat untuk menggambarkan bahwa–meskipun indah–jalan keemasan ini pasti berlalu. Seiring berlalunya masa kanak-kanak tokoh ini dengan kepergian si Gadis Pendongeng.

Tidak ada ucapan selamat tinggal, seperti diinginkannya. Kami semua tersenyum tabah dan melambaikan tangan ketika kereta mulai bergerak di jalan setapak, menyusuri jalanan yang merah dan basah dan memasuki bayang-bayang hutan cemara di lembah. Tetapi kami masih terus berdiri di sana, sebab kami tahu aka melihat si Gadis Pendongeng sekali lagi. Di balik hutan cemara ada kelokan terbuka di jalan, dan dia sudah berjanji akan melambaikan tangan untuk terakhir kali pada saat kereta melewati kelokan itu.

Kami mengamati kelokan itu dalam diam, kelompok kecil kami berdiri sedih dalam cahaya matahari pagi musim gugur. Hari-hari bahagia pernah menjadi milik ami di masa kanak-kanak yang indah ini. Memikat kami dengan mawar-mawar. Kuncup-kuncup dan puisi siap memenuhi harapan kami. Pikiran-pikiran manis dan ceria telah menyambangi kami. Tawa gembira menjadi teman setia kami dan Harapan tak kenal takut menjadi pembimbing kami. Tetapi kini bayang-bayang perubahan telah menanti.

“Itu dia di sana,” seru Felicity.

Si Gadis Pendongeng berdiri dan melambaikan bunga-bunga krisantemumnya pada kami. Kami balas melambai-lambai penuh semangat sampai kereta itu lenyap di belokan jalan. Kemudian perlahan-lahan kami berjalan ke rumah dalam diam. Si Gadis Pendongeng sudah pergi.

(halaman 349-350)

Indah dan sedih. Saya dulu juga pernah merasakan yang seperti ini. Hampir menangis ketika melihat sepupu-sepupu saya harus kembali ke rumahnya masing-masing di kota besar setelah liburan lebaran yang menyenangkan usai.

Selain mengenang masa kecil, ada satu lagi kesan yang ditinggalkan buku ini bagi saya. Membuat saya berpikir tentang jalan mana yang akan diambil berikutnya setelah jalan keemasan berlalu.

Apakah  jalan untuk berpetualang di tempat baru seperti si Gadis Pendongeng?  Meraih mimpi yang memang tidak bisa diberikan oleh kampung halaman. Atau memilih jalan untuk tetap tinggal di kampung halaman seperti Felicity? Dengan rasa aman dan nyaman dan dikelilingi oleh keluarga yang mencintai kita.

IMO, menurut buku ini, jalan mana pun yang kita ambil, sama-sama berpeluang untuk menjadi jalan emas kita berikutnya. Keduanya sama-sama membutuhkan keberanian untuk mengambilnya dan juga membutuhkan keberanian untuk melepaskan yang satunya.

Anyway, seperti yang dituliskan kata pembuka di atas,  jalan keemasan masa kanak-kanak adalah sebuah kenangan yang berharga.

Di jalan itu kita mendengar lagu bintang-bintang pagi, dan kita hirup keharuman bulan Mei yang semanis kabut; kita menyimpan khayalan sedalam lautan dan harapan setinggi bintang; hati kita mencari dan menemukan berkah mimpi-mimpi; sungguh indah terlihat tahun-tahun yang menanti; kehidupan bagaikan teman seperjalanan berbibir merah, dan bunga-bunga ungu berjatuhan dari jemarinya.

So, ayo mengenang masa kanak-kanak dan rasakan kembali senyum dan tawa saat kita menjadi pengalana di  jalan keemasan yang telah berlalu ^_^

Note: Tulisan ini dibuat untuk event #5BukuDalamHidupku hari keempat. Baca juga, hari ketiga #5BukuDalamHidupku | SIHIR DI TAMAN RAHASIA, hari kedua #5BukuDalamHidupku | SURE LOF, IT’S EDENSOR dan hari pertama #5BukuDalamHidupku | SEBUAH SURAT CINTA KEPADA BUKU

#5BukuDalamHidupku

Posted in Non Review

#5BukuDalamHidupku | SIHIR DI TAMAN RAHASIA

TheSecretGardenJudul: The Secret Garden | Pengarang: Frances Hodgson Burnett | Penerbit: Qanita | Edisi: Cetakan II, Oktober 2009 | Jumlah halaman: 460 halaman

Ada sihir di taman rahasia. Sihir yang membuat tanaman berwarna kelabu menjadi hijau. Sihir yang membuat gadis berwajah masam menjadi manis. Sihir yang membuat anak laki-laki sekarat menjadi sembuh kembali.

Bagi yang sudah pernah membaca bukunya mungkin juga merasakan bagaimana sihir ini juga merembes keluar dari buku dan menyihir kita.

Kebetulan sekali saya memilih The Secret Garden di hari ketiga. Pagi ini hujan. Udara terasa segar sekali. Sihir itu datang kembali. Senang rasanya melihat rumput yang semakin hijau dan tanaman yang segar terguyur air hujan. Jadi pengen berkebun eh.

Yap, bagi saya, The Secret Garden sukses membangkitkan semangat berkebun. Jadi ingat dulu waktu pertama kali membaca buku ini. Waktu itu tahun 2011 saat saya masih kuliah. Saya langsung membeli mawar 3 pohon sekaligus. Menata rapi di depan kamar kos. Merawat dengan hati-hati sampai mawarnya gemuk dan berbunga besar. Indah sekali. Dua pohon dengan bunga warna kuning. Satu pohon dengan bunga warna merah muda.

Ketika saya harus Kuliah Kerja Nyata selama 1 bulan. Saya ditempatkan di desa yang cukup jauh. Selama itu mawar saya tidak ada yang mengurus. Ketika saya kembali, ketiga mawar itu mati.

Wah, sihirnya tidak lagi bekerja pada mawar, tapi bekerja pada pohon beringin yang di tanam tepat di depan kos. Pohon itu semakin rindang. Dahannya sampai menyentuh jendela kamar saya. Dalam sebulan pohon itu tumbuh pesat dan membuat kamar saya jadi lumayan gelap.

Semua jadi heran. Ibu kos bahkan berencana memotong dahannya. Takut kalau ada seseorang atau sesuatu yang duduk di sana kata beliau. Waduh.

Untung rencana itu tidak berjalan. Pohon itu membuat kamar saya sebagai satu-satunya kamar yang paling rindang dan paling sejuk. Untung juga sampai saya lulus tidak ada seseorang atau sesuatu pun yang duduk di sana 😀

Ngomong-ngomong kenapa bunga mawar? Nah, itu gara-gara bagian ini nih. Bagian dimana salah satu tokohnya, gadis kecil bernama Mary,  tidak sengaja memasuki taman rahasia.

Taman itu adalah tempat paling misterius sekaligus paling indah yang bisa dibayangkan oleh siapa pun. Dinding-dindingg tinggi yang mengurung taman itu diselimuti tangkai mawar tak berdaun yang menjalar ke atas dan sangat tebal hingga terjalin kusut.

Salah satu hal yang membuat tempat itu terlihat aneh dan cantik adalah mawar-mawar yang merambat ke mana-mana dengan sulur-sulur panjang yang menjuntai membentuk tirai tipis yang berayun. Di sana-sini atau di ujung dahan terjauh mawar-mawar itu saling terjalin dan merambat dari satu pohon ke pohon lain dan menciptakan jembatan cantik di antara mereka. (p 124)

Asiknya, jadi pengen punya kebun seperti itu juga ya (‘▽’ʃƪ) ♥.

Ketika musim semi datang di cerita ini. Taman rahasia itu hidup dan penuh dengan tanaman hijau dan bunga-bunga berwarna. Anak-anak di dalam cerita ini yakin ada sihir yang bekerja di dalam sana. Sihir yang memunculkan udara segar, daun-daun hijau dan bunga-bunga yang indah.

“Aku akan berhenti bersikap aneh,” katanya, “jika pergi setiap hari ke kebun itu. Ada Sihir di sana–Sihir baik, kau tahu, Mary. Aku yakin ada Sihir di sana.”

Mereka selalu menyebutnya Sihir, dan memang seperti itu rasanya pada bulan-bulan berikutnya–bulan-bulan menyenangkan–bulan-bulan berikutnya–bulan-bulan yang mengagumkan. Oh! lihatlah segala hal yang terjadi di taman itu! Jika kau tak pernah mempunyai kebun, kau akan tahu bahwa dibutuhkan satu buku untuk menggambarkan semua yang datang untuk melintas di sana. Awalnya semua benda hijau seperti tak pernah berhenti mendorong jalan mereka menembus tanah, di dalam rumput, di dalam petak, bahkan di dalam celah-celah dinding. Lalu, benda-benda hijau itu mulai menampakkan kuncup, dan kuncup mulai membuka dan memperlihatkan warna, setiap corak warna, setiap corak biru, setiap corak ungu, setiap semburat dan rona merah. Pada hari-hari bahagianya, bunga-bunga tersembunyi di setiap inci, lubang, dan sudut. (p 362)

Ups, panjang sekali kutipannya. Tapi saya punya satu lagi yang jadi favorit.

Dan bunga mawar–bunga mawar! Bunga mawar naik keluar dari rumput, melilit sekeliling jam matahari, melingkari batang-batang pohon dan menggelantung dari dahan mereka, naik ke atas dinding dan merayapi mereka dengan karangan bunga panjang menjuntai bertingkat-tingkat. Bunga-bunga mawar semakin hidup hari demi hari, jam demi jam. Daun segar cantik, dan kuncup–dan kuncup–kecil awalnya tapi membesar. Kemudian Sihir bekerja hingga mereka meletup dan membuka menjadi cangkir-cangkir wangi dengan lembut menumpahkan diri sampai meluap dan mengisi udara kebun. (p 363-364)

Indahnya. Buku ini menggambarkan kecintaan akan musim semi dengan sempurna.

Ngomong-ngomong saya bersyukur di Indonesia tanamannya selalu hijau dan berbunga sepanjang tahun. Apalagi di musim hujan segalanya tampak semakin hijau dan tumbuh.

So, selamat datang musim hujan. Ayo berkebun! Tanam pohon, tanam bunga, dan rasakan sihirnya menyembul dari permukaan tanah dan menghasilkan daun-daun hijau, bunga-bunga aneka warna dan buah-buah yang segar pastinya ^_^

Note: Tulisan ini dibuat untuk event #5BukuDalamHidupku hari ketiga. Baca juga, hari kedua #5BukuDalamHidupku | SURE LOF, IT’S EDENSOR dan hari pertama #5BukuDalamHidupku | SEBUAH SURAT CINTA KEPADA BUKU

#5BukuDalamHidupku

Posted in Non Review

#5BukuDalamHidupku | SURE LOF, IT’S EDENSOR

Edensor

Judul: Edensor | Pengarang: Andrea Hirata | Penerbit: Bentang | Genre: Travel | Edisi: Cetakan Kedua belas, Maret 2008 | Jumlah halaman: xii + 290 halaman 

Sure lof, it’s Edensor adalah kalimat terakhir di dalam cerita Edensor. Bagi yang sudah pernah membaca bukunya mungkin sudah tahu bagaimana Andrea Hirata membuat kita terpesona dengan gaya ceritanya yang — menurut saya — cerdas dan menggelitik.

Tapi saya tidak akan membahas tentang gaya cerita Edensor di sini. Saya hanya akan menulis salah satu bagian yang sangat berkesan bagi saya. Tentang  Sure lof, it’s Edensor.

Bulan September tahun 2007, saya berada dalam masa penyembuhan pasca operasi. Saya mengalami patah tulang karena kecelakaan lalu lintas tunggal. Selama kurang lebih 8 bulan saya hanya bisa berjalan dengan bantuan tongkat.

Saya jadi terlambat satu tahun untuk kuliah. Sementara teman-teman saya pastinya sudah menikmati masa-masa menjadi mahasiswa baru. Ya tahun itu seharusnya adalah tahun pertama saya untuk kuliah.  Tapi alih-alih cuti kuliah, kecelakaan itu membuat saya keluar dari kampus pertama yang jauh di luar kota. Sayang sekali saya hanya sempat merasakan masa orientasinya saja.

Keluarga, tetangga sampai bapak guru  sampai khawatir.  Takut musibah ini membuat saya drop. Tapi tidak. Saya baik-baik saja. Selama ada buku-buku yang menemani saya, saya baik-baik saja.

Sampai bulan Mei tahun 2008 saya tidak pernah keluar rumah. Saya jadi tampak seperti pemalas. Saya yang memang sudah pendiam jadi semakin pendiam. Saya hampir menghabiskan seluruh waktu dengan membaca buku. Saya begitu tenggelam di dalam sana. Memangnya apa lagi yang akan dilakukan pecinta buku kalau kakinya patah? Yah setidaknya itulah yang ada dipikiran saya 😀

Sampai akhirnya saya membaca Edensor. Saya sangat menikmati membaca lembar demi lembarnya. Hingga sampai di bagian di mana Ikal akhirnya menemukan Edensornya. Lucunya, Ikal yang menemukan desa impiannya, tapi malah saya yang bahagia. Rasanya seperti ada perasaan aneh yang mendorong saya untuk bangkit keluar dan ikut melihat Edensor juga.

Dan memang seperti itu. Saya betul-betul bangkit dari tempat tidur. Untuk pertama kalinya setelah 8 bulan saya keluar rumah. Tapi alih-alih menemukan pohon willow seperti yang ada di Edensor, saya malah melihat pohon rambutan yang ada di halaman rumah saya. Saat itu saya merasa malu sekali. Orang-orang memandang saya berdiri dengan memakai tongkat sambil melongo di depan rumah.

Tapi itulah momen yang membangkitkan semangat saya untuk sembuh dan mulai belajar berjalan lagi. Asyiknya, saya belajar berjalan berbarengan dengan keponakan balita saya yang juga sedang belajar jalan. Sampai saat ini ibunya masih sering tertawa kalau mengenang bagaimana kami belajar jalan bersama.

Sekarang saya bisa berjalan normal. Saya bahkan ikut karate beberapa bulan setelahnya untuk meyakinkan diri sendiri bahwa saya sudah benar-benar sembuh.

Rasanya konyol sekali kalau mengingat bagaimana dulu saya mengira tidak bisa berjalan normal lagi. Bangkit dan berjalan tanpa tongkat rasanya takut sekali. Dan yang aneh adalah kalau saya mengingat kata Sure lof, it’s Edensor, saya jadi teringat deskripsi Ikal mengenai Edensor dan tiba-tiba saya jadi ingin bisa berjalan lagi untuk melihat dunia luar dan menemukan Edensor saya sendiri.

Dan ini dia bagian paling favorit saya di Edensor. Bagian dimana Ikal akhirnya menemukan Edensornya. I love it.

Bus merayap, aku makin dekat dengan desa yang dipagari tumpukan batu bulat berwarna hitam. Aku bergetar menyaksikan nun di bawah sana, rumah-rumah penduduk berselang-seling di antara jerejak anggur yang telantar dan jalan setapak yang berkelok-kelok. Aku terpana dilanda dѐjá vu melihat hamparan desa yang menawan. Aku merasa kenal dengan gerbang desa berukir ayam jantan itu, dengan pohon-pohon willow di pekarangan itu, dengan bangku-bangku batu itu, dengan jajaran bunga daffodil dan astuaria di pagar peternakan itu. Aku seakan menembus lorong waktu dan terlempar ke sebuah negeri khayalan yang telah lama hidup dalam kalbuku.

Aku bergegas meminta sopir dan menghambur keluar. Ribuan fragmen ingatan akan keindahan tempat ini selama belasan tahun, tiba-tiba tersintesa persis di depan mataku, indah tak terperi.

Kepada seorang ibu yang lewat aku bertanya, “Ibu, dapatkah memberi tahuku nama tempat ini?”

Ia menatapku lembut, lalu menjawab.

Sure lof, it’s Edensor ….”

Note: Tulisan ini dibuat untuk event #5BukuDalamHidupku hari kedua. Baca juga hari pertama #5BukuDalamHidupku | SEBUAH SURAT CINTA KEPADA BUKU

#5BukuDalamHidupku