Posted in Books, Buku Jalan-jalan, Children, Gramedia Pustaka Utama, Jacqueline Wilson, Review 2014

Buku Jalan-jalan #2 | Double Act Review

 photo bukujalanjalan_zpsf2569632.jpg

Buku Jalan-jalan Bulan Juni: Double Act by Jacqueline Wilson

 photo double-act-uploaded-by-irabooklover_zpsaab68a3b.jpg

Title: Double Act – Si Kembar Berulah |  Author: Jacqueline Wilson | Edition language: Indonesian | Publisher: Gramedia Pustaka Utama | Edition: Second edition, May 2010 |  Page: 207 pages | Status: Pinjem dari Zelie @ Book-admirer |  My rating: 5 of 5 stars

***

Sinopsis:

Tak ada yang bisa menggantikan Mum. Tidak ada. Tidak ada siapa pun. Apalagi si Rosy rombeng.

Ruby dan Garnet adalah kembar identik berusia sepuluh tahun. Mereka melakukan apa-apa bersama-sama–pakaian sama, mengganggu guru dan teman bersama, kabur ke London untuk ikut audisi bersama–apalagi setelah ibu mereka meninggal tiga tahun yang lalu. Tapi bisakah mereka bersama terus, ketika kehidupan berkembang dan berubah?

Semua yang mereka lakukan dan rasakan, mereka tulis dalam buku ini. Bergantian mereka menulisnya. Ada tulisan Ruby, yang bandel, nekat, dan percaya diri. Ada tulisan kembarannya, Garnet, yang lembut, pengalah, penolong, tapi tidak percaya diri. Asyiiik banget!!!! Konyoooollll banget!!!!

Buku kedua untuk proyek Buku Jalan-Jalan bersama Zelie @ Book-admirer \^_^/

Buku jalan-jalan sendiri adalah proyek *yaelahproyek* saya bersama Zelie hasil dari comment iseng saya waktu event Guest Post untuk BBI Anniversary 2014.

Proyeknya sederhana aja kok, kita cuma pinjem-pinjemin buku. Trus bukunya dibaca dan direview bareng. Tapi karena Zelie ada di Jakarta dan saya ada di Banjarbaru (KalSel) jadilah pinjem-pinjemin kami jadi ajang jalan-jalan. Jalan-jalan bagi si buku tapinya, bukan orangnya. Jadi ngiri deh sama buku-buku saya yang rutin terbang ke Jakarta tiap bulan😀

Okeh, kembali ke Double Act. Saya suka sekali sama buku-buku Jacqueline Wilson. Somehow, membacanya itu seperti dream comes true. Dulu waktu kecil saya ngiler kuadrat kalau melihat buku-buku Jacqueline Wison nongol di Majalah Bobo. Buku-buku seperti ini dulu betul-betul tidak terjangkau. Baik karena waktu, biaya dan juga jarak yang memisahkan kami *halah*

Ehm…Doubel Act sendiri menceritakan tentang anak kembar berusia 10 tahun yang bernama Ruby dan Garnet. Ngomong-ngomong, nama mereka bagus ya ^^

Nah, Ruby dan Garnet ini tidak terpisahkan. Mereka selalu melakukan kegiatan mereka bersama-sama. Mereka bahkan bisa secara serempak melakukan sebuah act seakan-akan mereka bisa membaca pikiran satu sama lain.

Suatu hari, Ruby menemukan sebuah buku cantik tebal berwarna merah. Di buku itulah mereka berdua menulis kisah mereka. Tulisan Ruby bisa dikenali dari caranya mengungkapkan kepercayaan dirinya. Dan tulisan Garnet bisa dikenali karena tulisannya bagus dan cenderung lebih pemalu.

Singkatnya, mereka bergantian menuliskan kisah mereka di buku itu. Mulai dari kisah pertemuan ayah dan ibu mereka. Kisah kesedihan mereka ketika ibu mereka meninggal. Kisah nenek. Kisah kekesalan mereka terhadap Rose yang jadi ibu titi mereka. Kisah mereka harus pindah dari kota ke desa. Sampai kisah-kisah pertengkaran-pertengkaran mereka.

Ngomong-ngomong lucu juga ya kalau membayangkan mereka bertengkar dengan cara menuliskannya di buku. Bagaimana caranya coba. Soalnya pertengkaran langsung saling balas gitu.

Tapi setelah dipikir-pikir bisa juga sih *halah*. Rasa-rasanya dulu saya pernah memainkan permainan seperti itu bersama saudara-saudara saya. Tapi tidak bertengkar sih, cuma saling meledek *sama aja kali*.

Dimulai dari kakak saya yang iseng menuliskan nama adik saya dengan nama panggilan lucu di buku catatan sekolahnya *iseng banget ya*. Kemudian adik saya yang kesal menunjukkan catatan itu kepada saya. Bukannya membantu saya malah menambahkan komentar saya di bawahnya *ga kalah iseng*. Dan adik saya akhirnya juga ikut-ikutan menulis komentar di buku catatannya sendiri. Dan jadilah kami akhirnya saling ledek di buku catatan. Kita cuma saling baca, tersenyum jail sebentar, merebut pena, dan menuliskan komentar balasan. Sementara yang tidak dapat pena dengan tidak sabar pengen melihat apa yang baru saja ditulis oleh si pemegang pena. Kalau disederhanakan mungkin mirip seperti kita saling memberi komentar di Facebook ya😀

Errrr…kembali ke Ruby dan Garnet. Saking kompaknya, kembar identik  ini merasa kalau mereka tidak akan pernah terpisahkan. Tapi betulkah itu? Karena ada sebuah peristiwa yang membuat baik Ruby maupun Garnet untuk pertama kalinya merasa mereka berbeda.  Untuk pertama kalinya pula mereka bertengkar dalam waktu yang cukup lama. Namun, akhirnya baik Ruby maupun Garnet menyadari kalau mereka memang berbeda dan tidak bisa selalu bersama selamanya. Tapi walaupun begitu, saudara tetaplah saudara. Sebaik apapun sahabat yang kita punya, saudara kita tetap sahabat yang terbaik. Seperti kata Garnet dalam suratnya:

Dia kepingin jadi teman akrabku dan aku bilang ya tapi kaulah teman akrab terbaikku, Ruby.

Dengan banyak dan banyak cinta dari Garnet.

At last, saya suka sekali dengan kisah Ruby dan Garnet. Lucu dan menyenangkan. Membuat saya jadi kangen saudara-saudara saya juga *eiiitsss bakalan ada yang ge-er nih*😀

Daaan akan selalu ada 5 dari 5 bintang untuk buku Jacqueline Wilson. It was amazing.

Author:

Love book and wanna study abroad to Holland

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s