Posted in Books, Family, Han Nolan, Psychology, Review 2016, Serambi, Spirituality, Young Adult

Dancing on The Edge Review

 photo dance_in_the_edge_by_han_nolan_zpslhwfjpab.jpg

***

“Aku bukan siapa-siapa! Siapakah kamu?” —-hlm. 9

Kebenaran harus menarik orang sedikit demi sedikit. Kalau tidak, semua orang akan menjadi buta.” —-hlm. 211

***

Kebohongan itu, apapun alasan dibaliknya, tidak pernah berakhir bagus. Miracle McCloy, dibesarkan dengan keyakinan bahwa dirinya istimewa. Neneknya, yang biasa dipanggil Gigi, menceritakan bahwa Miracle dilahirkan dari rahim ibunya yang tewas karena kecelakaan. Gigi juga mengatakan kalau itu adalah sebuah keajaiban, pertanda kalau Miracle akan menjadi orang yang genius seperti ayahnya.

Miracle bingung, kalau memang benar dia istimewa, kenapa teman-temannya menjauhinya. Kalau dia jenius, kenapa guru-gurunya tidak menyukainya. Namun Miracle memilih untuk tetap percaya. Karena dia punya Gigi, ayahnya, juga bibi Casey dan suaminya yang selalu mengingatkannya kalau dia adalah anak yang istimewa.

Sampai suatu hari, Dane, ayah Miracle menghilang. Gigi yang adalah seorang “medium”, mengatakan kalau Dane meleleh karena itulah yang tampaknya terjadi. Dane benar-benar seperti meleleh di tengah cahaya lilin yang bertebaran di kamarnya, dimana yang tertinggal hanyalah seonggok jubah mandi yang selalu dipakai Dane.

Miracle berusaha menjalin hubungan spiritual dengan Dane. Menanti pertanda bahwa ayahnya akan kembali. Miracle berusaha mempercayai bahwa Dane hanya pergi sebentar untuk menjemput Mama. Miracle hanya harus menunggu dan mendengarkan pertanda dari Dane. Dane akan kembali bersama Mama. Dan setelah itu mereka bertiga akan tinggal di rumah di tepi pantai.

Dengan keyakinan itu, Miracle membangun dunianya sendiri. Dimana dia bisa bersembunyi di dalam keheningan, agar dia bisa mendengar pertanda dari Dane dengan baik. Miracle membangun dunia yang penuh kebohongan. Hingga akhirnya Miracle tidak tahu lagi yang mana yang nyata dan yang mana yang tidak. Miracle bahkan mulai meragukan apakah dirinya nyata. Dan hanya ada satu cara untuk mengetahuinya. Miracle memakai jubah mandi Dane dan menarikan tarian di tengah lilin yang sama seperti lilin-lilin Dane.

Saya pernah membaca ungkapan yang kira-kira bunyinya seperti ini, “Aku lebih memilih disakiti oleh kebenaran, daripada dibuat nyaman dengan kebohongan”. Nah, menurut saya itu benar sekali. Terutama untuk kisah Miracle ini. Lagian siapa sih yang suka dibohongi. Kalau dari kisah Miracle, kebohongan yang diceritakan keluarganya membuat Miracle menjadi membohongi dirinya sendiri dan itu berakibat fatal.

Ngomong-ngomong, disini ada banyak kutipan yang diambil dari puisi Emily Dickinson. Setelah googling sebentar, saya baru tahu kalau Emily Dickinson banyak menghasilkan karya-karya berupa puisi. Puisinya yang ada di buku ini indah-indah. Dan seperti kata teman Miracle, puisi itu menyampaikan hal-hal yang benar, dan merupakan hal paling nyata yang pernah dia kenal. Dan puisi itu cocok untuk Miracle, karena Miracle membutuhkan kebenaran. Lewat puisi itu, Miracle akhirnya menemukan bahwa orang-orang yang berani berkata jujur kepadanyalah yang ternyata paling mencintainya.

Dia tersenyum dan aku membalas senyumannya sambil memikirkan kebaikan hatinya, lalu kebaikan Bibi Casey dan Kakek Opal. Aku kemudian berpikir mungkin saja cinta adalah hal paling benar dan yang paling nyata yang pernah aku kenal. —hlm. 332

At last, menurut saya buku ini sukses menceritakan bagaimana akibatnya kalau kita berbohong. Apapun alasannya, berbohong tidak pernah berakhir bagus, apalagi untuk memulai suatu hubungan. Memangnya apa yang kau harapkan dari orang yang kau bohongi? Rasa percaya? Nah, itu baru yang namanya “lucu”.

***

NB: Kutipan-kutipan favorit di Dancing on the Edge:

…aku pernah membayangkan suatu hari kelak, aku dapat melangkah keluar dari warna ungu yang melingkupiku dan menari sehingga orang-orang dapat melihatku, dan mereka akan mengerti diriku. Menurutku, kalau saja mereka dapat menontonku, mereka akan memahami semua perasaanku dan aku tidak harus mengatakan apa-apa. Kalau saja mereka melihatku menari. Namun tidak ada seorang pun yang melihatku. —hlm 281

Seandainya saja Miracle. Tapi mereka tidak akan mau melihat. Mereka hanya melihat apa yang ingin mereka lihat.

…aku akan bilang kalau dia meninggalkan kami. Dia melarikan diri. Dan kalau Dr DeAngelis bertanya bagaimana perasaanku ketika mengetahui hal tersebut, aku akan bilang … aku tidak bisa berpikir lagi. Tidak, itu bukan hanya perasaan paling menyedihkan di dunia. Tapi juga kehampaan seperti yang selama ini aku rasakan. —hlm 318

Hampa. Tepat sekali Miracle. Seperti itulah rasanya. Hampa.

***

Judul: Dancing on the Edge – Menari di Tepian | Pengarang: Han Nolan | Penerbit: Serambi | Edisi: Bahasa Indonesia, Edisi Revis I, April 2007, 332 halaman | Status: Pinjam di Perpustakaan Daerah Kab. Hulu Sungai Utara | Rating saya: 4 dari 5 bintang

***

Submitted for

Advertisements
Posted in Books, Family, Haru, Orizuka, Review 2016, Romance, The Chronicles of Audy

The Chronicles of Audy: 4R Review

 photo chronicleofaudybyorizuka_zpsezbf2y2g.jpg

***

“Sebenarnya, aku sadar kalau kamu…, punya perasaan sama aku,” katanya, membuatku terperanjat.

“Aku nggak bisa melarangmu, tapi…, aku juga nggak bisa membalasnya.”

(The Chronicles of Audy: 4R, hlm. 192-193)

Kutipan yang perlu disimpan. Siapa tahu suatu saat nanti diperlukan. Saya hanya bisa berharap kalau saya bisa setegar Audy kalau berada di posisi dia. Dan saya juga berharap semoga pihak-pihak terkait bisa sebijak Audy kalau saya berada di posisi R1. *selfkeplak, sok populer* XD

Saya benar-benar tidak menyangka bakalan menemukan buku ini di perpustakaan. Walaupun saya sudah sering berkunjung ke sana, tapi tetap saja selalu ada kejutan.

Ngomong-ngomong, saya sudah sering melihat buku ini berseliweran di dunia maya. Namun saya tidak menyangka kalau ceritanya bakalan seperti ini. Lucu, mengharukan, dan terasa beda.

Ini adalah kisah tentang Audy, seorang mahasiswi yang sedang menjalani semester terakhir kuliahnya, tapi terancam gagal karena masalah biaya. Malangnya lagi, masalah biaya ini terjadi karena orang tua Audy tertipu investasi bisnis gadungan.

Audy pun nekat mencari pekerjaan yang bisa menopang kebutuhan hidupnya setidaknya selama satu semester lagi. Dan dia akhirnya diterima sebagai babysitter, disebuah rumah yang tampaknya seperti rumah hantu, tapi dihuni oleh 4 bersaudara yang tampangnya seperti malaikat. *oke, ini mungkin berlebihan*.

 Nah, meskipun mereka 4 bersaudara ini cakep-cakep, tapi mereka semua membuat Audy jengkel. Regan yang paling tua, sangat perhitungan dan sukses membuat Audy menerima pekerjaan sebagai babysitter padahal yang diasuh sama sekali bukan bayi. Romeo, sebenarnya ramah, tapi jorok dan pemalas. Rex, jenius, tapi sinis bukan main. Dan terakhir, Rafael, yang awalnya dikira bayi, tapi ternyata seorang balita ber-IQ tinggi.

Awalnya Audy bisa bertahan hanya karena kegantengan Regan. Tapi lama-kelamaan, Audy mengenal mereka satu-persatu. Audy akhirnya mengetahui alasan kenapa para cowok itu tampaknya  memiliki masalah kepribadian yang menjengkelkan. Adik-adik Regan yang awalnya cuek dengan Audy pun lama-kelamaan mulai menyukai Audy.

Nah, apa yang terjadi sehingga mereka akhirnya bisa saling menerima? Well, buku ini penuh kejutan. Saya sama sekali tidak bisa menebak bagaimana akhirnya. Saya juga merasa kalau buku ini mengajarkan saya untuk tidak menghakimi seseorang sebelum tahu alasan dibalik perbuatannya, seberapa pun orang itu sudah membuat kita jengkel dan marah.

Saya salut sekali dengan Audy. Dia sama sekali tidak dendam karena perilaku sinis  yang diterimanya. Saya juga salut dengan Regan, dia bisa tetap berkepala dingin meskipun beban hidupnya banyak.

Oke, at last, saya suka sekali dengan The Chronicles of Audy. Sayangnya, belakangan saya baru tahu kalau buku ini berseri. Jadi, meskipun kemungkinannya kecil, saya akan menanyakan apakah perpustakaan juga punya buku kedua dan ketiganya.

***

NB, kutipan-kutipan favorit lainnya dari buku The Chronicles of Audy: 4R:

Apa aku harus melepaskan kuliahku dan kembali ke Serang? Cuti satu semester dan bekerja serabutan untuk mengumpulkan uang kuliah? Tapi, memikirkannya saja aku ngeri. Kalau aku melakukannya, kemungkinan besar aku akan terjebak di situasi itu dan tak akan pernah kembali lagi ke sini. Dan orang tuaku…, mereka tak akan pernah belajar. —hlm.40

Jangan Audy, saya melakukannya, dan saya rasa … saya terjebak.

Apa aku akan berakhir di kota tempat keluargaku berada, dan tua di sana tanpa bisa meraih cita-citaku? —hlm. 51

Saya harap jawabannya tidak, Audy.

… Rex tampak memunggungiku, duduk menghadap meja belajarnya yang penuh akan buku yang terbuka. Dia memang murid kelas dua belas, tapi apa harus dia melakukan semua ini sepanjang waktu? Tidak bisakah dia bersikap seperti cowok remaja kebanyakan, main game atau baca majalah pria, misalnya? —hlm. 203

Tidak bisa Audy. Saya bisa dibilang mirip dengan Rex. Lebih memilih buku ketimbang hal-hal yang dilakukan orang kebanyakan seusia kami. Tapi jangan menghakimi kami, Audy. Ada alasan bagi hal-hal yang kami pilih untuk lakukan. Dan saya senang kamu akhirnya punya cara untuk mengetahuinya.

…, aku bersyukur memiliki orangtua seperti Ayah dan Ibu. Mereka belajar dari kesalahan dan rela berubah demi anak-anaknya. Aku harap, Ayah tidak terlalu mengkhawatirkan aku lagi dan fokus dengan usaha barunya. Di sini, aku akan berusaha sama kerasnya, lulus dengan nilai baik dalam enam bulan tanpa menyusahkan mereka, lalu mencari pekerjaan yang baik untuk membantu mereka keluar dari kemiskinan. —hlm. 315

Saya berharap keluarga saya juga mau belajar dan mengerti Audy.

Teruntuk teman yang pernah menanyakan kenapa saya ingin lulus duluan?, apakah saya tidak ingin merayakan momen lulus bareng mereka?. Well, sama seperti Audy, saya tahu seberapa keras orangtua saya berusaha untuk kuliah saya. Dan saya sudah berjanji untuk bisa lulus secepatnya, dengan nilai sebaik-baiknya, untuk mereka 😉

***

Title: The Chronicles of Audy: 4R  Series: The Chronicles of Audy #1 | Author: Orizuka  | Edition: Indonesian language, 3rd Edition, November 2013, 320 pages | Publisher: Haru | My rating: 4 of 5 stars | Submitted for: Proyek Baca Buku Perpustakaan

Posted in Bentang Pustaka, Books, Dewi Lestari, Review 2016, Romance

Majalah Pecinta Buku No. 2 dan #BacaBukuPerpus Giveaway Winners

Majalah Pecinta Buku No. 2

EDITORIAL

 photo 05865-banner2bposbar2b2016_zpswx291h9a.jpg

Halllooooo..masih dalam rangka Posting Bareng Blogger Buku Indonesia 2016, kami memutuskan untuk ikut muncul kembali di blog saudari kami tercinta.

Di edisi sebelumnya, kami … katakanlah … terlalu banyak bereksperimen dengan tampilan yang membuat kami akhirnya capek sendiri. Di edisi ini kami akan menampilkan Majalah Pecinta Buku dengan format yang lebih sederhana namun tetap penuh warna.

Di edisi kedua ini, Majalah Pecinta Buku akan menampilkan sajian utama dari Posting Bareng BBI bulan Maret. Mengusung tagar #BBILagiBaca, dari tanggal 14 – 30 Maret 2016, Ira sudah meluncurkan tweet-tweet di akun twitter-nya sehubungan dengan buku yang sedang dia baca. Dan yang mendapat tugas untuk mengumpulkan tweet-tweet tersebut adalah saudari Bungsu dan Cili. Sepertinya akan mudah, sebab Ira tidak sempat nge-tweet terlalu banyak.

Review dari buku tersebut, tentu saja akan ditulis oleh Ira. Kami rasa dia tidak bisa melemparkan tugas ini kesiapa-siapa XD

Karena buku yang dia baca untuk Posting Bareng ini adalah buku perpustakaan, tanggal 14 Maret kemarin Ira mengadakan giveaway untuk para peserta Proyek Baca Buku Perpustakaan. Pengumuman pemenangnya akan diumumkan di post ini. Selamat buat yang beruntung. Bagi yang belum menang, mari kita doakan bersama-sama agar Ira lebih sering mengadakan giveaway.

Terakhir, mungkin ada yang bertanya-tanya siapa itu Komandan Mama. Saya adalah editor untuk majalah ini. Saya adalah saudari tertua. Adik-adik saya bilang saya orangnya galak plus ngebos, dan itulah asal-muasal julukan Komandan Mama. Padahal saya aslinya adalah kakak yang baik hati dan tidak sombong.

SALAM EDITOR,

KOMANDAN MAMA

(IRA, BINGUNG: “Siapa yang menyuruh Komandan Mama memperkenalkan diri?”

(CILI, BUNGSU, SEREMPAK: “Kami lebih setuju dengan kakak yang galak dan ngebos daripada yang baik hati dan tidak sombong”)

 

KLIPING TWEETS

 photo bbilagibaca_zpsrmgc65lg.png

DISUSUN OLEH:

CILI DAN BUNGSU

 

PERAHU KERTAS REVIEW

Dulu sekali, saat masih SMA, saya mempunyai sedikit drama saat membaca Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh. Apa dramanya? Nanti deh saya ceritakan setelah saya baca ulang Supernova. Yang pasti, drama tersebut membuat saya selalu menunda-nunda untuk membaca karya Dee lagi. *sungkem*.

Tapi, buku Perahu Kertas ini, seperti memanggil-manggil dari rak perpustakaan. Apalagi bukunya sebentar saja sudah kucel, tanda banyak yang pinjam.

So, akhirnya bukunya saya pinjam, dan setelah membaca beberapa halaman-halaman awal, bukunya langsung saya tutup lagi. Bukan karena tidak bagus, tapi karena saya merasa ceritanya bikin nagih. Saya punya feeling kalau saya sudah mulai baca, saya tidak akan bisa meletakkannya lagi. Jadi, mengingat bukunya lumayan tebal, saya rasa, saya perlu menyiapkan waktu khusus untuk membaca Perahu Kertas.

Dan benar seperti dugaan saya, Perahu Kertas benar-benar susah buat dilepaskan sebelum selesai dibaca. Belum lagi isu yang diangkat terasa dekat. Tentang impian dan cita-cita yang bertentangan dengan realita. Belum lagi kalau keingat lagunya, wuiiih, saya rasa saya kena demam Perahu Kertas walaupun sepertinya sudah telat sekali.

Sayang saya belum menonton filmnya. Meskipun begitu, kisah Kugy dan Keenan terus terngiang-ngiang di kepala dalam wujud Adipati Dolken dan Maudy Ayunda XD.

Ide tentang melarutkan Perahu Kertas untuk curhat dengan Neptunus saya rasa keren sekali. Kalau saja tetangga-tetangga saya tidak terlalu kepo, saya mungkin akan menghayutkan Perahu Kertas juga di sungai dekat rumah. *dikeplaktetangga*. Jadi agen Neptunus sepertinya asik juga, siapa tahu bisa ketemu Percy, *salahcerita*.

Selain Neptunus, hal yang paling berkesan bagi saya dari buku Perahu Kertas ini ada di adegan berikut:

Sepeninggal istrinya, Adri kembali menatap teve dengan pandangan kosong, seperti yang ia lakukan sedari berjam-jam yang lalu. Di dalam kepalanya ada program yang berjalan sendiri. Kenangan, pertanyaan, lamunan tentang satu orang. Keenan.

Keenan … di mana kamu sekarang, Nak? Bertahun baru di mana? Apakah kamu kesepian? Kelaparan? Kedinginan? Dan ia hanya bisa menyapa dan menanyakan itu semua dalam hati. Dalam kesunyian. Dalam ketidadaan.

Setengah mati, Adri berusaha menahan. Hingga pada satu titik rasanya tidak lagi tertahankan. Dan sebutir air mata pun bergulir di pipinya.

(Perahu Kertas, hlm. 215)

Nah, ini nih, entah kenapa saya merasa adegan ini sedih sekali. Mungkin karena terasa familiar. Kita sebagai anak biasanya tidak menyadari betapa orang tua sangat menyayangi kita. Apalagi kalau sikap orang tuanya dingin dan tidak mau mengalah seperti Papa-nya Keenan ini. Sama sekali tidak menunjukkan kalau sebenarnya beliau sangat sayang dan peduli kepada Keenan.

Errr…tidak tahu ini termasuk spoiler atau tidak, tapi bagi yang sudah membaca Perahu Kertas, pasti sudah tahu kalau akhirnya, gara-gara mikirin Keenan, Adri jadi kena stroke.

Biasanya, kalau ada masalah orang tua – anak seperti ini, saya bakalan mendukung si anak. Tapi kali ini, sepertinya saya mendukung Papa-nya Keenan deh. Benar sih, apa yang diharapkan Adri ke Keenan salah, tapi bukan berarti salah sama sekali kan? Adri hanya berharap yang terbaik bagi Keenan. Meskipun yang terbaik itu menurut versi si Bapak.

Saya lebih setuju dengan sikapnya Kugy, ambil jalan memutar dulu, setelah mapan, baru TERSERAH. Jadi tidak ada drama kabur dari rumah atau stroke segala. Ngomong-ngomong kok saya yang sewot ya? Ini kan cuma cerita, *garuk-garuk gingsul*.

At last, kalau menurut saya sih ya, buku Perahu Kertas ini bisa membuat kita “terhanyut” dan kena “mabuk laut” setelahnya :D. Keren deh, saya suka.

Judul buku: Perahu Kertas | Pengarang: Dewi “Dee” Lestari | Penerbit: Bentang Pustaka | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan XVIII, September 2012, 444 hlm. | Rating saya: 4 dari 5 bintang

IRA

 

PENGUMUMAN PEMENANG #BACABUKUPERPUS GIVEAWAY

Saatnya mengumumkan pemenang #BacaBukuPerpus Giveaway. Terima kasih untuk semua peserta yang telah berpartisipasi.

Sudah banyak buku-buku perpustakaan yang kalian baca ya. Hebaaaaat. Saya malah baru nambah satu o(≧∇≦o)

Oke langsung saja. Berikut adalah link yang masuk berdasarkan rekapan saya. Satu orang pemenang akan dipilih secara acak dari sini.

  1. Ring Ding Dong – Alexandra (FBTwitter – IG)
  2. Ring Ding Dong – Cewephobia (FBTwitter – IG)
  3. @IpinKaramel – Reputation (FB – Twitter – IG)
  4. @IpinKaramel – Travel Writer Diaries (FB – Twitter – IG)
  5. Pelahap Kata – Jack and Jill Go Skating (FBTwitterIG)
  6. Ring Ding Dong – Count to Ten (FBTwitterIG)
  7. Ajeng Bercerita – Memilikimu (FB – Twitter – IG)
  8. Panda Kapiler – Hablu Minannas (FB – Twitter – IG)
  9. Ring Ding Dong – Sulaiman Sang Penakluk Hati (FBTwitter – IG)
  10. Pelahap Kata – How Do Dinosaurs Love Their DOGS? | How Do Dinosaurs Love Their CATS? (FBTwitter IG)
  11. The Bookish Fever – Please Look After Mom (FB – Twitter – IG)
  12. The Bookish Fever – Looking for Alaska (FB – Twitter – IG)
  13. Ring Ding Dong – Selamat Malam Kabutku Sayang (FB Twitter – IG)
  14. Ring Ding Dong – Hannah, Misteri Gadis Terpasung (FB Twitter – IG)
  15. Mysterious Mistery – Pusaran Energi Ka’bah (FB – Twitter – IG)
  16. The Bookish Fever – Rumah Lebah (FB – Twitter – IG)
  17. Ring Ding Dong – In Paris Where I Meet You (FB Twitter IG)
  18. Pelahap Kata – The Little White Owl (FBTwitterIG)
  19. Resensi Buku Nisa – Ziarah (FB – Twitter – IG)
  20. The Bookish Fever – If I Stay (FB – Twitter – IG)

Dan yang beruntung dipilih oleh Mr. Random adalah nomer: photo bacabukuperpusgarandom1_zpsyerjsenp.png@IpinKaramel – Reputation (FB – Twitter – IG)

Satu orang pemenang lagi diambil dari link-link di bawah.

 photo bacabukuperpusga_zpsetk7bntx.png

Dan yang beruntung adalah nomor:
 photo bacabukuperpusgarandom2_zpsacyooo8q.png
@ntarienovrizal – Galau Putri Calon Arang

Selamat buat  @ipinkaramel dan @ntarienovrizal  \^_^/. Hadiahnya adalah buku pilihan kalian sendiri seharga maksimal Rp80.000,-. Silakan pilih bukunya di BukaBuku.com atau BukuKita.com saja ya, saya familiarnya cuma sama yang dua itu 😀 . Silakan DM NAMA, ALAMAT LENGKAP, NO TELPON dan LINK BUKU YANG KALIAN INGINKAN ke akun Facebook atau Twitter saya. Ongkos kirim saya yang tanggung ^_^

Sekali lagi terima kasih buat peserta Proyek Baca Buku Perpustakaan yang sudah berpartisipasi. Yang belum beruntung jangan berkecil hati, semoga nanti kalian beruntung di akhir periode proyek atau mungkin … di giveaway berikutnya, semoga 😉

IRA

 

NB

—Proyek Buku Jalan-Jalan saya bersama Zelie @ Book-admirer dimundurkan ke bulan depan. Neptunus mengabarkan bahwa perahu kertas yang saya layarkan kepada Zelie menghadapi cuaca buruk di perjalanan. Tapi dia baik-baik saja, dan masih mampu melaksanakan misi “jalan-jalan” kami. Nantikan kabar yang dibawa oleh perahu kertas bulan depan ya 😉

IRA

 

***

Submitted for Proyek Baca Buku Perpustakaan

 photo proyek_baca_buku_perpustakaan_zpsbae5o9ei.png

Posted in Non Review

#BacaBukuPerpus Giveaway

 photo proyek_baca_buku_perpustakaan_zpsbae5o9ei.png

Halo peserta Proyek Baca Buku Perpustakaaaaan \^_^/

Apa kabar? Sudah berapa banyak buku perpustakaan yang kalian baca? Kalau saya … errr … tunggu saya cek … ada The Capture, And The Mountain Echoed, The Moonstone, dan Interlude. Wah, baru 4 ya (๑→‿←๑)

Oke, sehubungan dengan rangkaian acara posting bareng #BBILagiBaca yang dimulai hari ini, saya membaca buku yang saya pinjam dari perpustakaan untuk kegiatan tersebut. Sekalian deh saya mengadakan giveaway dadakan untuk para peserta Proyek Baca Buku Perpustakaan yang sudah menyetor buku perpustakaannya ke akun media sosial saya. Hitung-hitung buat nambah semangat ^^

Oke berikut daftar buku perpustakaan yang sudah masuk ke akun saya:

Continue reading “#BacaBukuPerpus Giveaway”