Posted in Books, Family, Haru, Orizuka, Review 2016, Romance, The Chronicles of Audy

The Chronicles of Audy: 4R Review

 photo chronicleofaudybyorizuka_zpsezbf2y2g.jpg

***

“Sebenarnya, aku sadar kalau kamu…, punya perasaan sama aku,” katanya, membuatku terperanjat.

“Aku nggak bisa melarangmu, tapi…, aku juga nggak bisa membalasnya.”

(The Chronicles of Audy: 4R, hlm. 192-193)

Kutipan yang perlu disimpan. Siapa tahu suatu saat nanti diperlukan. Saya hanya bisa berharap kalau saya bisa setegar Audy kalau berada di posisi dia. Dan saya juga berharap semoga pihak-pihak terkait bisa sebijak Audy kalau saya berada di posisi R1. *selfkeplak, sok populer*😄

Saya benar-benar tidak menyangka bakalan menemukan buku ini di perpustakaan. Walaupun saya sudah sering berkunjung ke sana, tapi tetap saja selalu ada kejutan.

Ngomong-ngomong, saya sudah sering melihat buku ini berseliweran di dunia maya. Namun saya tidak menyangka kalau ceritanya bakalan seperti ini. Lucu, mengharukan, dan terasa beda.

Ini adalah kisah tentang Audy, seorang mahasiswi yang sedang menjalani semester terakhir kuliahnya, tapi terancam gagal karena masalah biaya. Malangnya lagi, masalah biaya ini terjadi karena orang tua Audy tertipu investasi bisnis gadungan.

Audy pun nekat mencari pekerjaan yang bisa menopang kebutuhan hidupnya setidaknya selama satu semester lagi. Dan dia akhirnya diterima sebagai babysitter, disebuah rumah yang tampaknya seperti rumah hantu, tapi dihuni oleh 4 bersaudara yang tampangnya seperti malaikat. *oke, ini mungkin berlebihan*.

 Nah, meskipun mereka 4 bersaudara ini cakep-cakep, tapi mereka semua membuat Audy jengkel. Regan yang paling tua, sangat perhitungan dan sukses membuat Audy menerima pekerjaan sebagai babysitter padahal yang diasuh sama sekali bukan bayi. Romeo, sebenarnya ramah, tapi jorok dan pemalas. Rex, jenius, tapi sinis bukan main. Dan terakhir, Rafael, yang awalnya dikira bayi, tapi ternyata seorang balita ber-IQ tinggi.

Awalnya Audy bisa bertahan hanya karena kegantengan Regan. Tapi lama-kelamaan, Audy mengenal mereka satu-persatu. Audy akhirnya mengetahui alasan kenapa para cowok itu tampaknya  memiliki masalah kepribadian yang menjengkelkan. Adik-adik Regan yang awalnya cuek dengan Audy pun lama-kelamaan mulai menyukai Audy.

Nah, apa yang terjadi sehingga mereka akhirnya bisa saling menerima? Well, buku ini penuh kejutan. Saya sama sekali tidak bisa menebak bagaimana akhirnya. Saya juga merasa kalau buku ini mengajarkan saya untuk tidak menghakimi seseorang sebelum tahu alasan dibalik perbuatannya, seberapa pun orang itu sudah membuat kita jengkel dan marah.

Saya salut sekali dengan Audy. Dia sama sekali tidak dendam karena perilaku sinis  yang diterimanya. Saya juga salut dengan Regan, dia bisa tetap berkepala dingin meskipun beban hidupnya banyak.

Oke, at last, saya suka sekali dengan The Chronicles of Audy. Sayangnya, belakangan saya baru tahu kalau buku ini berseri. Jadi, meskipun kemungkinannya kecil, saya akan menanyakan apakah perpustakaan juga punya buku kedua dan ketiganya.

***

NB, kutipan-kutipan favorit lainnya dari buku The Chronicles of Audy: 4R:

Apa aku harus melepaskan kuliahku dan kembali ke Serang? Cuti satu semester dan bekerja serabutan untuk mengumpulkan uang kuliah? Tapi, memikirkannya saja aku ngeri. Kalau aku melakukannya, kemungkinan besar aku akan terjebak di situasi itu dan tak akan pernah kembali lagi ke sini. Dan orang tuaku…, mereka tak akan pernah belajar. —hlm.40

Jangan Audy, saya melakukannya, dan saya rasa … saya terjebak.

Apa aku akan berakhir di kota tempat keluargaku berada, dan tua di sana tanpa bisa meraih cita-citaku? —hlm. 51

Saya harap jawabannya tidak, Audy.

… Rex tampak memunggungiku, duduk menghadap meja belajarnya yang penuh akan buku yang terbuka. Dia memang murid kelas dua belas, tapi apa harus dia melakukan semua ini sepanjang waktu? Tidak bisakah dia bersikap seperti cowok remaja kebanyakan, main game atau baca majalah pria, misalnya? —hlm. 203

Tidak bisa Audy. Saya bisa dibilang mirip dengan Rex. Lebih memilih buku ketimbang hal-hal yang dilakukan orang kebanyakan seusia kami. Tapi jangan menghakimi kami, Audy. Ada alasan bagi hal-hal yang kami pilih untuk lakukan. Dan saya senang kamu akhirnya punya cara untuk mengetahuinya.

…, aku bersyukur memiliki orangtua seperti Ayah dan Ibu. Mereka belajar dari kesalahan dan rela berubah demi anak-anaknya. Aku harap, Ayah tidak terlalu mengkhawatirkan aku lagi dan fokus dengan usaha barunya. Di sini, aku akan berusaha sama kerasnya, lulus dengan nilai baik dalam enam bulan tanpa menyusahkan mereka, lalu mencari pekerjaan yang baik untuk membantu mereka keluar dari kemiskinan. —hlm. 315

Saya berharap keluarga saya juga mau belajar dan mengerti Audy.

Teruntuk teman yang pernah menanyakan kenapa saya ingin lulus duluan?, apakah saya tidak ingin merayakan momen lulus bareng mereka?. Well, sama seperti Audy, saya tahu seberapa keras orangtua saya berusaha untuk kuliah saya. Dan saya sudah berjanji untuk bisa lulus secepatnya, dengan nilai sebaik-baiknya, untuk mereka😉

***

Title: The Chronicles of Audy: 4R  Series: The Chronicles of Audy #1 | Author: Orizuka  | Edition: Indonesian language, 3rd Edition, November 2013, 320 pages | Publisher: Haru | My rating: 4 of 5 stars | Submitted for: Proyek Baca Buku Perpustakaan

Author:

Love book and wanna study abroad to Holland

One thought on “The Chronicles of Audy: 4R Review

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s