Posted in Books, Family, Han Nolan, Psychology, Review 2016, Serambi, Spirituality, Young Adult

Dancing on The Edge Review

 photo dance_in_the_edge_by_han_nolan_zpslhwfjpab.jpg

***

“Aku bukan siapa-siapa! Siapakah kamu?” —-hlm. 9

Kebenaran harus menarik orang sedikit demi sedikit. Kalau tidak, semua orang akan menjadi buta.” —-hlm. 211

***

Kebohongan itu, apapun alasan dibaliknya, tidak pernah berakhir bagus. Miracle McCloy, dibesarkan dengan keyakinan bahwa dirinya istimewa. Neneknya, yang biasa dipanggil Gigi, menceritakan bahwa Miracle dilahirkan dari rahim ibunya yang tewas karena kecelakaan. Gigi juga mengatakan kalau itu adalah sebuah keajaiban, pertanda kalau Miracle akan menjadi orang yang genius seperti ayahnya.

Miracle bingung, kalau memang benar dia istimewa, kenapa teman-temannya menjauhinya. Kalau dia jenius, kenapa guru-gurunya tidak menyukainya. Namun Miracle memilih untuk tetap percaya. Karena dia punya Gigi, ayahnya, juga bibi Casey dan suaminya yang selalu mengingatkannya kalau dia adalah anak yang istimewa.

Sampai suatu hari, Dane, ayah Miracle menghilang. Gigi yang adalah seorang “medium”, mengatakan kalau Dane meleleh karena itulah yang tampaknya terjadi. Dane benar-benar seperti meleleh di tengah cahaya lilin yang bertebaran di kamarnya, dimana yang tertinggal hanyalah seonggok jubah mandi yang selalu dipakai Dane.

Miracle berusaha menjalin hubungan spiritual dengan Dane. Menanti pertanda bahwa ayahnya akan kembali. Miracle berusaha mempercayai bahwa Dane hanya pergi sebentar untuk menjemput Mama. Miracle hanya harus menunggu dan mendengarkan pertanda dari Dane. Dane akan kembali bersama Mama. Dan setelah itu mereka bertiga akan tinggal di rumah di tepi pantai.

Dengan keyakinan itu, Miracle membangun dunianya sendiri. Dimana dia bisa bersembunyi di dalam keheningan, agar dia bisa mendengar pertanda dari Dane dengan baik. Miracle membangun dunia yang penuh kebohongan. Hingga akhirnya Miracle tidak tahu lagi yang mana yang nyata dan yang mana yang tidak. Miracle bahkan mulai meragukan apakah dirinya nyata. Dan hanya ada satu cara untuk mengetahuinya. Miracle memakai jubah mandi Dane dan menarikan tarian di tengah lilin yang sama seperti lilin-lilin Dane.

Saya pernah membaca ungkapan yang kira-kira bunyinya seperti ini, “Aku lebih memilih disakiti oleh kebenaran, daripada dibuat nyaman dengan kebohongan”. Nah, menurut saya itu benar sekali. Terutama untuk kisah Miracle ini. Lagian siapa sih yang suka dibohongi. Kalau dari kisah Miracle, kebohongan yang diceritakan keluarganya membuat Miracle menjadi membohongi dirinya sendiri dan itu berakibat fatal.

Ngomong-ngomong, disini ada banyak kutipan yang diambil dari puisi Emily Dickinson. Setelah googling sebentar, saya baru tahu kalau Emily Dickinson banyak menghasilkan karya-karya berupa puisi. Puisinya yang ada di buku ini indah-indah. Dan seperti kata teman Miracle, puisi itu menyampaikan hal-hal yang benar, dan merupakan hal paling nyata yang pernah dia kenal. Dan puisi itu cocok untuk Miracle, karena Miracle membutuhkan kebenaran. Lewat puisi itu, Miracle akhirnya menemukan bahwa orang-orang yang berani berkata jujur kepadanyalah yang ternyata paling mencintainya.

Dia tersenyum dan aku membalas senyumannya sambil memikirkan kebaikan hatinya, lalu kebaikan Bibi Casey dan Kakek Opal. Aku kemudian berpikir mungkin saja cinta adalah hal paling benar dan yang paling nyata yang pernah aku kenal. —hlm. 332

At last, menurut saya buku ini sukses menceritakan bagaimana akibatnya kalau kita berbohong. Apapun alasannya, berbohong tidak pernah berakhir bagus, apalagi untuk memulai suatu hubungan. Memangnya apa yang kau harapkan dari orang yang kau bohongi? Rasa percaya? Nah, itu baru yang namanya “lucu”.

***

NB: Kutipan-kutipan favorit di Dancing on the Edge:

…aku pernah membayangkan suatu hari kelak, aku dapat melangkah keluar dari warna ungu yang melingkupiku dan menari sehingga orang-orang dapat melihatku, dan mereka akan mengerti diriku. Menurutku, kalau saja mereka dapat menontonku, mereka akan memahami semua perasaanku dan aku tidak harus mengatakan apa-apa. Kalau saja mereka melihatku menari. Namun tidak ada seorang pun yang melihatku. —hlm 281

Seandainya saja Miracle. Tapi mereka tidak akan mau melihat. Mereka hanya melihat apa yang ingin mereka lihat.

…aku akan bilang kalau dia meninggalkan kami. Dia melarikan diri. Dan kalau Dr DeAngelis bertanya bagaimana perasaanku ketika mengetahui hal tersebut, aku akan bilang … aku tidak bisa berpikir lagi. Tidak, itu bukan hanya perasaan paling menyedihkan di dunia. Tapi juga kehampaan seperti yang selama ini aku rasakan. —hlm 318

Hampa. Tepat sekali Miracle. Seperti itulah rasanya. Hampa.

***

Judul: Dancing on the Edge – Menari di Tepian | Pengarang: Han Nolan | Penerbit: Serambi | Edisi: Bahasa Indonesia, Edisi Revis I, April 2007, 332 halaman | Status: Pinjam di Perpustakaan Daerah Kab. Hulu Sungai Utara | Rating saya: 4 dari 5 bintang

***

Submitted for

Author:

Love book and wanna study abroad to Holland

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s