Posted in Bentang Pustaka, Books, Islamic, Motivation, Self Help, Spirituality, Tasaro G.K.

Keajaiban Rezeki Review

***

Bisa dibeli di belbuk.com dan BukaBuku.com

***

Blurb:

Cerita ini asalnya dari otak kanan.

Sepertimu, aku juga pernah mengalami masa-masa ketika engkau merasa semesta begitu mendukung. Mendukung untuk bersama-sama menjungkalkanmu. Memberimu kesialan-kesialan. Dari bangun tidur sampai tidur lagi.

Bas, Habbar, Ats, Gangsa, dan Adon adalah lima sahabat yang hidup di bawah satu atap: Vila Kayu di dataran tinggi Lembang. Lima bujangan, lima kehidupan, satu rahasia yang mereka jaga bersama-sama. Sampai suatu hari, perubahan besar terjadi dalam kehidupan tenang mereka: serentak dan penuh misteri.

Gadis misterius yang selalu duduk di bangku 13 pada setiap penampilan stand up comedy Bas, pengirim e-mail tanpa nama yang meneror Habbar, tamu tengah malam yang mengunjungi toko buku Ats, eksekutif eksentrik yang menemani perjalanan kereta Gangsa, dan Pakar Otak Kanan yang memukau Adon.

Rangkaian kejadian itu mengantarkan mereka pada perburuan harta yang ribuan tahun sudah usianya. Pusaka yang memudahkan hidup, memak­murkan orang-orang yang mengetahui kunci-kuncinya.

Sepertiku, engkau akan sangat ingin tahu hal apakah itu? Mereka menyebutnya Warisan Nabi. Sesuatu yang akan merombak cara berpikirmu. Engkau lalu memutuskan untuk (tidak) berhenti mengikuti kisahku ini.

Cerita ini asalnya dari otak kanan.

My Review

Jika kita mampu menyeleraskan mimpi kita dengan mimpi orang tua, doa kita menembus langit. Sebaliknya, jika mimpi kita tidak selaras bahkan bertentangan dengan doa orang tua, itu menjadi penghalang turunnya rezeki yang baik. (Keajaiban Rezeki, hlm. 252)

Yeap, saya setuju sekali dengan kutipan di atas. Berdasarkan pengalaman pribadi tentunya, hahhah. Kalau apa yang kita inginkan sesuai dengan keinginan orang tua, selama itu tidak melanggar perintah Tuhan, realisasinya cepat dan lancar.

Jadi, saya lupa sama sekali kenapa saya kemarin membeli buku ini. Secara saya tidak terlalu suka buku motivasi tipe begini. Begini di sini maksudnya adalah tipe motivasi yang megkotak-kotakkan kelompok. Satu kelompok merasa lebih baik dari kelompok lain. Mungkin maksudnya tidak seperti itu, bisa saja saya yang salah paham. Tapi sejak pertama kali mendengarnya waktu kuliah dulu, saya merasa kuranag nyaman. Bukan berarti saya tidak setuju loh ya, saya hanya merasa … yah … kurang nyaman XD

Saya berharapnya mereka tidak merasa lebih baik dari kelompok lain. Iya sih apa yang mereka katakan benar. Orang-orang dari kelompok otak kanan memang cenderung lebih sukses. Yang membuat saya kurang nyaman adalah mereka yang menganggap diri mereka sendiri sukses ini selalu men-judge kelompok yang lain adalah kelompok yang tidak sukses dan hanya pantas menjadi bawahan. Mungkin ini hanya masalah kata-kata ala-ala motivasi, supaya kelompok yang tidak sukses ini merasaa terpacu untuk menjadi sukses. Tapi tetap saja saya merasa kalau itu terlalu … errrr … jahat, *eaaaa*.

Oke, saya rasa cukup curcolnya. Jadi novel ini menceritakan tentang lima sahabat dengan profesi berbeda yang tinggal bersama di satu vila kontrakan. Ada Bas si komedian, Habbar si kolumnis, Atsala si penjual buku, Gangsa si pengusaha dan Adon si penyulih suara.

Suatu ketika, sesuatu yang misterius serempak mulai mengusik kehidupan mereka yang awalnya tenang-tenang saja. Namun tidak ada satu pun yang menyadarinya. Sampai akhirnya secara serempak pula, mereka mulai menyadari ada sesuatu atau seseorang yang sepertinya mencampuri urusan pribadi mereka masing-masing. Baik atau burukkah itu? Yah, silakan baca sendiri bukunya. Yang pasti, setelah kejadian itu, kehidupan monoton mereka berubah menjadi …. errrr …. sangat menarik dan penuh tantangan XD

Awalnya saya sedikit kurang paham dengan gaya penceritaan buku ini. Siapa itu si komedian, siapa itu si penyulih suara. Kemudian siapa yang sedang bicara terus siapa yang menjadi kata rujukan “-nya”. Tapi lama kelamaan, saya bisa masuk ke dalam ceritanya. Dan terus mengalir seperti itu sampai habis, *apa coba*.

Tapi jujur, tanpa bermaksud menyinggung siapa pun, buku ini tidak terlalu meninggalkan kesan yang mendalam bagi saya, *eaaa*. Kemungkinan ini terjadi gara-gara saya membacanya di tengah malam buta saat saya sedang tidak bisa tidur, huehehehe.

Namun, setidaknya, ada banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari novel ini.  At last, saya beri 3 dari 5 bintang deh. I liked it.

NB:

Kutipan-kutipan favorit:

Kadang di pikiran banyak orang, inginnya seperti itu. Kepala tenggelam di lekukan kapuk, sedangkan masalah hidup selesai dengan sendirinya. Tidak mungkin. (hlm. 28)

Dia termasuk orang yang pusing luar biasa jika mesti terjepit dalam hiruk pikuk manusia. Anti keramaian, tidak juga. Ada waktunya dia suka. Tapi lebih sering dia betul-betul ingin lepas dari situasi itu. (hlm. 53)

Begitulah otak seorang penulis bekerja. Menemukan segala yang tidak terungkap oleh mata-mata orang kebanyakan. (hlm. 54)

Tapi, ada waktunya, membaca jadi satu urusan, sedangkan menulis menjadi urusan lain.

Maksudnya dua hal ini meski menurut banyak orang berkaitan, tak selalu praktis saling mendukung.(hlm. 65)

“Jangan berharap menjadi sosok lain selain diri kita sendiri, dan berusahalah agar sosok itu menjadi sempurna. St Francis de Sales. (hlm. 84)

Saya pikir, ini sebuah pembuktian bahwa apa-apa yang dibekalkan Tuhan saat setiap manusia lahir adalah yang terbaik. Memang, tidak selalu baik di mata saya. Sebab Tuhan yang paling tahu, mana yang paling membawa kebaikan buat saya. Meski itu kadang tak kasatmata. (hlm. 131)

Pacaran atau tidak, itu pilihan. Saya memilih untuk tidaak pacaran. (hlm. 182)

Bagi orang yang cintanya terhalang, hidup jadi begitu menakutkan. Mati jadi jalan keluar. Jadi, lebih mudah mati dibandingkan hidup. Mereka tak melakukan sesuatu yang spektakuler. Sebab, berani hidup jauh lebih kesatria dibandingkan sekedar nekat bunuh diri. (hlm. 184)

Jika kita mampu menyeleraskan mimpi kita dengan mimpi orang tua, doa kita menembus langit. Sebaliknya, jika mimpi kita tidak selaras bahkan bertentangan dengan doa orang tua, itu menjadi penghalang turunnya rezeki yang baik. (hlm. 252)

Mau melangkah satu kaki saja, perhitungannya macam-macam. Sampai-sampai tidak melangkah sama sekali. (hlm. 282)

Kitab suci banyak berisi cerita untuk memberi teladan, Bas. (hlm. 309)

***

Judul: Keajaiban Rezeki | Pengarang: Tasaro GK | Penerbit: Mizania, Cetakan I, Bandung, Februari 2013, 640 halaman | Rating saya: 3 dari 5 bintang

***

Advertisements
Posted in Adventure, Bentang Pustaka, Biography, Books, Islamic, Tasaro G.K.

Muhammad: Lelaki Penggenggam Hujan Review

***

Bisa dibeli di belbuk.com dan BukaBuku.com

***

Blurb:

Kashva pergi dari Suriah, meninggalkan Khosrou, sang penguasa Persia tempatnya mengabdikan hidup demi menemukan lelaki itu: Muhammad. Al-Amin yang kelahirannya akan membawa rahmat bagi semesta alam, pembela kaum papa, penguasa yang adil kepada rakyatnya.

Kehidupan Kashva setelah itu berubah menjadi pelarian penuh kesakitan dan pencarian yang tiada henti terhadap sosok yang dijanjikan. Seorang Pangeran Kedamaian yang dijanjikan oleh semua kitab suci yang dia cari dari setiap ungkapan ayat-ayat Zardusht sampai puncak-puncak salju di perbatasan India, Pegunungan Tibet, biara di Suriah, Istana Heraklius, dan berakhir di Yatsrib, sang Kota Cahaya.

Hasrat dalam diri Kashva sudah tak terbendung lagi. Keinginannya untuk bisa bertemu dengan Muhammad demikian besar hingga tak ada sesuatu pun yang membuatnya jerih. Bahkan maut yang mengintai dari ujung pedang tentara Khosrou tak juga menyurutkan kerinduannya bertemu Muhammad.

Kisah pencarian Kashva yang syahdu dalam novel ini akan membawa kita menelusur Jazirah Arab, India, Barrus, hingga Tibet.

My Review

Akhirnya rasa penasaran saya tentang kenapa judul buku ini adalah Muhammad: Lelaki Penggenggam Hujan terpuaskan. Meskipun sepertinya saya rasa saya salah memahami blurb-nya. Setelah membaca blurb tersebut, saya mengiranya Kashva benar-benar akan melakukan apapun untuk bertemu Nabi Muhammad SAW. Tapi kesan yang saya dapat setelah membaca bukunya tidak seperti itu. Menurut saya Kashva justru lebih tertarik untuk berburu pengetahuan-pengetahuan kuno dari berbagai agama yang akan meyakinkannya tentang kenabian Rasulullah ketimbang ingin bertemu langsung dengan beliau. Yah tapi itu menurut saya saja sih, huehehe.

Sama seperti buku The Great Episodes of Muhammad Saw,  saya juga membaca buku Muhammad: Lelaki Penggenggam Hujan ini dalam rangka  memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Meskipun seperti biasa, momennya sudah lewat saat saya berhasil menamatkan buku tebal ini. Kemampuan membaca saya sepertinya menurun. Dan ditambah berbagai faktor luar seperti banyaknya kerjaan yang harus diselesaikan di momen-momen akhir dan awal tahun. Libur akhir tahun yang panjang itu seakan tidak berlaku bagi saya, hahhah.

Jadi buku ini menceritakan tentang seorang pemuda Persia bernama Kashva. Kashva ini adalah seorang cendekiawan tipe jaman dulu yang sangat tertarik dengan ilmu pengetahuan dan pandai berkata-kata. Kashva dijuluki sebagai sang Pemindai Surga dan dia menjadi kesayangan penguasa Persia saat itu, Khosrou.

Namun, Kashva memberikan sebuah “hadiah” yang membuat Khosrou murka, dan ini ada hubungannya dengan munculnya agama baru yang menurut kabar dibawa oleh seorang lelaki Arab yang mengaku sebagai nabi.

Biasanya murkanya penguasa jaman dulu ini berarti kematian kan ya, nah, Kashva pun terpaksa lari. Bersama gulungan-gulungan perkamennya yang berharga, Kashva melakukan pencarian pengetahuan tentang Lelaki Penggenggam Hujan yang diramalkan akan hadir oleh berbagai agama di seluruh dunia.

Selain kisah Kashva, kisah perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW dan para keluarga beserta sahabat beliau juga ada di buku ini. Jadi chapter-chapternya terbagi dua. Ada kisah Kashva dan juga kisah Rasullullah.

Ngomong-ngomong, saya salut tentang bagaimana penulis bisa mengisahkan kisah hidup Rasulullah dalam bentuk novel biografi yang ringan dibaca. Saya rasa menulis novel biografi Nabi Muhammad SAW itu sulit. Soalnya setiap perkataan dan perbuatan beliau adalah sunnah. Tidak bisa dituliskan sembarangan dan harus ada referensi yang kuat.

Berhubung saya sebelumnya baru saja membaca buku sirah nabi, sedikit banyak saya bisa membandingkan kisah hidup Rasullullah yang ada di buku ini, dengan yang ada di buku The Great Episodes of Muhammad Saw. Seingat saya cocok sih, kecuali bagian dimana perempuan ikut berperang. Tapi saya tidak berani ngomong banyak-banyak. Ilmu saya jelas belum cukup dan saya jelas bukan ahli sirah,  plus bisa saja saya yang salah baca atau kurang paham. Mengingat kalau ada adegan menegangkan seperti adegan perang, saya bawaannya selalu pengen cepat-cepat membaca saking serunya:D

Btw, buku ini ternyata sudah terbit lama ya? Ya ampun kemana saja sih saya, hahhah. Meskipun bagi saya, butuh perjuangan untuk membaca buku ini di chapter-chapter awal, tapi endingnya begitu berkesan. Membaca kisah hidup Nabi Muhammaad SAW memang selalu memberikan efek seperti itu, selalu membuat rindu. Ditambah lagi dengan cerita Kashva yang melakukan pencarian pengetahuan yang sangat ilmuwan banget. Oh I love it. Yes! XD Pencariannya itu cocok dengan buku The Great Episodes of Muhammad Saw. Tentang bahwa sebenarnya semua agama yang dibawa oleh para nabi, sejak Nabi Adam,  memerintahkan hal yang sama. Bahwa hanya ada satu Tuhan untuk disembah dan nanti akan ada nabi akhir jaman yang akan lahir.

Saya penasaran sekali ingin membaca buku-buku selanjutnya. Tapi setelah diusut, well, bukunya ternyata ada 4 dan tebal-tebal pula, hiks. Ga kebayang berapa total harga + ongkirnya, wkwkwk. Terpaksa belinya pelan-pelan, hohoho. Sayang sekali akhir-akhir ini tidak ada lagi bazar Mizan di kota saya. Kira-kira kenapa ya?

At last, saya suka sekali dengan buku ini. 4 dari 5 bintang tentunya. Semoga nanti saya berjodoh dengan keempat bukunya. Amiiin.

NB:

Kutipan-kutipan favorit:

Rahasiakanlah ini sampai waktunya tiba. Engkau akan menjadi saksi yang menguatkan dan aku sungguh iri kepadamu. Nabi ini, seperti para nabi Tuhan sebelumnya, akan dimusuhi oleh orang-orangnya sendiri. Alangkah bahagianya jika aku bersamanya tatkala dia terusir dari kaumnya. (hlm. 15)

Dibantu oleh beberapa orang, ‘Aisyah lalu meninggalkan biliknya untuk mendatangi rumah ayah-ibunya. Tampaknya dia sangat ingin dirawat oleh ibunya saat ini. Pada saat-saat tertentu seorang anak akan selalu merindukan tangan ibunya. Perawat terbaik di dunia. (hlm. 90)

Tidak semua hal boleh kau lakukan hanya karena kau bisa melakukannya, berkuasa untuk melakukannya. (hlm. 158)

Bagiku lebih meyakinkan kesungguhan seseorang dalam perbuatan dibanding kata-kata yang sejuta. (hlm. 222)

Di dalam dada Kashva merekah energi pengetahuan yaang memang selama ini, menjadi sumber kekuatannya menempuhi hari-hari. (hlm. 433)

Di tanah kelahirannya, agama pun telah menjadi alat kekuasaan. Tinggal remah-remahnya saja. Unsur-unsur yang digunakan Khosrou untuk mengendalikan kepala-kepala rakyatnya. Agama yang hanya ritual semata. Tak jelas lagi apa inti dan tujuannya. (hlm. 435)

***

Judul: Muhammad: Lelaki Penggenggam Hujan | Pengarang: Tasaro GK | Penerbit: Bentang, Edisi II, Cetakan V, Yogyakarta, September 2016, 640 halaman | Rating saya: 4 dari 5 bintang

***

NB part 2:

Setelah membaca buku ini jadi rindu dengan Nabi Muhammad SAW. Ayo bershalawat ^^

Posted in Andrea Hirata, Bentang Pustaka, Books, Family, Indonesian Literature, Romance

Sirkus Pohon Review

***

bisa dibeli di belbuk.com dan BukaBuku.com

***

“Fiksi, cara terbaik menceritakan fakta.”

—Andrea Hirata

***

Bukunya lumayan mahal kalau menurut standar saya sekarang. Sempat nyesal kenapa tidak nunggu diskonan saja baru beli, wkwkwk. Untunglah penyesalan saya tidak bercokol lama. Bukunya bagus banget. Saking bagusnya membacanya jadi tidak terasa, tahu-tahu sudah mau chapter akhir aja.

Entah kenapa kalau saya membaca buku karangan Andrea Hirata, saya selalu beranggapan bawah tokoh “aku” itu adalah Ikal. Alhasil sampai menjelang chapter akhir, saya belum hapal siapa nama lengkap tokoh utamanya. Yang saya ingat cuma nama panggilannya, Hob.

Seperti biasa, buku karangan Andrea Hirata mampu membuat saya tertawa dan menangis sendiri. Kisah tentang orang-orang kecil di tempat terpencil yang katanya tidak masuk di dalam peta. Meskipun begitu, banyak kebijaksanaan yang bisa kita ambil dari kisah mereka.

Melihat judulnya, saya tidak menyangka kalau kisahnya bakalan seperti ini. Meskipun judulnya memuat kata-kata sirkus, saya tetap kaget kalau ternyata kisah sirkus memang ada di dalam buku ini.

Jadi, novel Sirkus Pohon menceritakan tentang kisah hidup plus kisah cinta seorang laki-laki bernama Hob (nama lengkapnya masih susah saya ingat, wkwkwk) dengan seorang gadis bernama Dinda. Dan ditambah bonus kisah cinta antara dua orang anak bernama Tara dan Tegar. Menurut saya, kisah cinta kedua pasangan ini manis sekali. Tipe cinta pandangan pertama yang you’re the one and the only gitu. Oh, saya suka saya suka ♥~(‘▽^人)

Terus juga ada cerita mengenai pohon dan sirkus. Si pohon yang dimaksud di sini adalah pohon delima. Dan sirkus yang dimaksud adalah sirkus milik keluarga Tara. Bagaimana sirkus dan pohon delima bisa bersatu silakan baca sendiri kisahnya :D. Gara-gara buku ini, saya baru ngeh kalau ternyata pohon delima bisa tumbuh besar ya (ya iyalah). Coz selama ini saya hanya tahu bentuk pohon delima dari tanaman tetangga saya. Pohon delimanya kecil dengan tipe batang kurus yang menjulur-julur gitu.

At last, 4 dari 5 bintang deh untuk novel Sirkus Pohon. Buku ini mengembalikan mood membaca saya yang sempat seret.

Oh ya hampir lupa, berikut adalah beberapa kutipan di buku ini yang jadi favorit saya:

…dan aku gembira karena ternyata ada kebaikan dan harapan dalam diriku meski hal itu hanya dilihat oleh seorang anak kecil. (Sirkus Pohon, hlm. 64)

Dan tak ada yang lebih menyenangkan daripada berdekatan dengan orang-orang yang punya mimpi besar. (Sirkus Pohon, hlm. 71)

Mereka adalah para penakluk rasa sakit yang selalu dicekam hukum pertama bumi: gravitasi, selalu menjatuhkan! Namun, mereka memegang teguh hukum pertama manusia: elevasi, selalu bangkit kembali! (Sirkus Pohon, hlm. 72)

Puluhan tahun telah berlalu sejak aku terperangah melihat aksi raja-raja muda angin itu, kini mereka turun dari langit dan dapat kujangkau. (Sirkus Pohon, hlm. 79)

Ternyata hari menjadi megah jika dimulai dengan gembira,…. (Sirkus Pohon, hlm. 85)

Karena orang sekarang tak bisa lagi disindir-sindir. Orang sekarang buta membaca tanda-tanda, bebal kiasan! (Sirkus Pohon, hlm. 208)

…., mengapa susah sekali menulis: Aku rindu. (Sirkus Pohon, hlm. 320)

NB: Credit. Bunga handmade yang nangkring di foto itu adalah bros pinjaman dari jualan kakak saya, ahaha. Untuk wilayah Amuntai dan sekitarnya bisa didapatkan di Toko Al-Himmah ya 😉

***

Judul: Sirkus Pohon | Pengarang: Andrea Hirata | Penerbit: Bentang Pustaka | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan Kedua, September 2017, 410 halaman, 20,5 cm | Status kepemilikan: Owned book | Rating saya: 4 dari 5 bintang

Posted in Bentang Pustaka, Books, Dan Brown, Mystery, Thriller

Angels & Demons Review

***

Ngeri. Pembunuhannya termasuk ke dalam standar ngeri menurut saya. Tapi kisahnya keren. Luar biasa keren. *nangisterharu*.

Banyak pengetahuan baru yang saya dapatkan di sini. Saking penasarannya saya sampai googling. Pengen liat karya seni yang ini dan yang itu, meskipun cuma lewat dunia maya. *kasian*.

Belum nonton filmnya. Pengen nonton tapi rada ragu. Saya mengkhawatirkan kondisi korban pembunuhannya, bagaimana kalau pas dengan bayangan saya? Saya jadi ngeri sendiri, hahhah.

Kisah tentang pertarungan antara ilmu pengetahuan dan agama. Padahal mereka berdua kan seharusnya hidup bersama, jangan dibikin berantem.

Menurut saya masalah yang terjadi di buku ini terjadi karena kesalahpahaman. Si pembunuh terlalu fanatik dan informasi yang diterimanya setengah-setengah. Coba aja sedikit lebih open-minded dan jangan nge-judge orang duluan sebelum dengar penjelasannya, *jadisewotsendiri*.

At last, saya jadi speechless. 4 dari 5 bintang deh untuk Angels dan Demons. I really liked it.

***

Judul: Angels & Demons | Pengarang: Dan Brown | Penerbit: Bentang | Edisi: Bahasa Indonesia, Yogyakarta, 2014, 738 halaman | Penerjemah: Ingrid Dwijani Nimpoeno | My Rating: 4 dari 5 bintang

Posted in Andrea Hirata, Bentang Pustaka, Books, Family, Indonesian Literature, Romance

Ayah Review

ayah_uploadedby_irabooklover

***

Seorang ayah, tak boleh menyerah untuk anaknya

—Ayah, hlm. 373

***

Selamat Hari Ayah Nasional! #telat

Sebenarnya saya sudah membaca buku ini sejak kemarin, tapi karena ada insiden “the moment when you read a line that is so beautiful, you just close the book and stare at the wall for a minute” yang terjadi berkali-kali selama saya membaca buku ini, ditambah dengan ceritanya yang masuk kategori “sangat mengharukan” dalam standar saya yang artinya, … errrr … (silakan disimpulkan sendiri), akhirnya saya baru selesai membacanya hari ini.

Ngomong-ngomong, novel Ayah yang saya baca ini ternyata sudah edisi cetakan kesebelas. Tjakkeb!!!

Asiknya, membaca buku ini membawa kembali “rasa” yang muncul saat saya membaca karya-karya Andrea Hirata sebelumnya. Lucu, konyol, mengharukan, dan menghangatkan hati. Walaupun yang paling memorable tetap buku Laskar Pelangi.

Awalnya saya bingung dengan banyaknya tokoh yang ada di dalam buku ini. Tapi setelah terus membaca, akhirnya saya menemukan benang merahnya. Apalagi saat momen “aha” itu terjadi, saya benar-benar tenggelam dalam ceritanya dan sedang mewek-meweknya. Keren.

Jadi, novel Ayah menceritakan tentang kisah cinta Sabari dan Marlena. Sabari jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Lena. Sayangnya, perasaan Sabari tidak berbalas. Namun, bukan Sabari namanya kalau dia tidak sabar dan menyerah begitu saja. Bertahun-tahun, Sabari berjuang untuk mendapatkan cinta Marlena. Apakah Sabari akhirnya berhasil? Hayuk, silakan dicari tahu sendiri :D.

Terus, apa hubungannya dengan kata “Ayah” yang menjadi judul dari novel ini?  Kalau menurut saya sih banyak. Dari kisah cinta Sabari ini, kita akan diajak berkenalan dengan berbagai macam tipe Ayah. Ada ayahnya si anu dan si anu dan si anu, dengan masalah “bagaimana menjadi seorang ayah” mereka masing-masing. Intinya (kalau menurut saya sih ya *pasang tampang sotoy* ), adalah, kutipan yang saya pajang di atas, “seorang ayah, tak boleh menyerah untuk anaknya”.

Di dalam kisah cinta Sabari, saya menemukan betapa besarnya cinta seorang ayah kepada anaknya. Untunglah tidak seperti kisah cinta Sabari yang tak berbalas, cinta si ayah juga dibalas oleh anaknya dengan sama besarnya. Walaupun ada juga sih beberapa anak yang membandel, tapi akhirnya mereka kena batunya dan menyesal, meskipun sepertinya sudah terlambat.

Jadi satu pelajaran lagi buat saya untuk selalu mematuhi dan menyayangi kedua orang tua saya. Ya keduanya, walaupun ayah saya sudah tiada. Saya juga merasakan penyesalan untuk setiap harapan-harapan ayah kepada saya yang tidak sempat saya wujudkan ketika beliau masih hidup. Saya hanya bisa berharap saya masih bisa memanfaatkan waktu yang diberikan Tuhan untuk menjadi anak saleh (semoga) yang doanya bisa tetap mengalir untuk beliau. *jadi mau nangis lagi*. *kangen ayah*.

At last, 4 dari 5 bintang deh untuk novel Ayah. Untuk berbagai “rasa” yang membuat saya sadar kalau saya juga pernah memiliki  ayah yang juga pantang menyerah untuk saya. And I won’t give up for you too, Dad. Saya dan harapan-harapanmu untuk saya. I never give up!

Oh ya hampir lupa, puisi-puisi yang ada di novel ini, amboi indahnya. Kisah tentang Keluarga Langit itu juga keren. Itu harapan yang sama yang saya sampaikan kalau mau hujan, agar hujan jangan turun dulu, setidaknya setelah saya sampai di rumah. Dan sekarang saya tahu kenapa hujan tetap saja turun dan membuat saya basah kuyup. Mungkin karena saya hanya tahu meminta, tetapi tidak menerbangkan layang-layang untuk awan 🙂

***

Judul: Ayah | Pengarang: Andrea Hirata | Penerbit: Bentang Pustaka | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan Kesebelas, Maret 2016, 412 halaman, 20,5 cm | Status: Owned book | Rating saya: 4 dari 5 bintang