Posted in Agus Noor, Books, Gramedia Pustaka Utama, Review 2015, Short Stories

Cerita Buat Para Kekasih Review

DSC_0005

Cerita Buat Para Kekasih….hmmm….saya tertipu dengan judul dan cover dari buku ini. Saya kira ceritanya bakalan seperti buku-buku romance Indonesia lain yang manis dan kadang bikin galau.

Tapi setelah membaca sinopsis di cover belakangnya, saya senang sekali. Soalnya sinopsisnya menjanjikan sesuatu yang lain *halah*. Oke, sebelum saya lanjutkan mari kita lihat dulu bagaimana sinopsisnya.

Sinopsis:

“Diantara para kekasihku, hanya kamu yang suka bercerita,” katamu. “Rasanya belum tercatat di Guinness Book of World Records siapa yang paling banyak bercerita dalam satu malam. Ratu Syaharazad, hanya menceritakan satu cerita dalam satu malam…”

“Berapa records-ku?”

“Dua belas cerita dalam satu malam….”

Aku tertawa.

“Kenapa?”

“itu melampaui jumlah pacar-pacarku…”

Tapi pasti jauh lebih sedikit dibanding bualanmu!”

Seorang kekasih bercerita tentang seekor gagak yang lahir dari hati perempuan yang dibakar. Ia berkisah tentang teka-teki kematian yang tak terpecahkan. Juga tentang kota yang semua penduduknya buta! Lalu tentang ribuan ulat bulu yang muncul dari kebencian, tentang kunang-kunang kemilau, dan seorang laki-laki yang hidup dengan istri yang diawetkan dalam akuarium. Apa pun yang diceritakan itu, dongeng penuh keajaiban, gosip atau bualan, selalu membuat tertegun di akhir kisah. Bukankah semua kisah yang datang dari kekasih akan selalu terdengar indah?

Tuh, kerenkan sinopsisnya? Saya sudah tidak sabar ingin membaca cerita-cerita yang dijanjikan oleh sinopsis tersebut. Terus…terus…pas saya membuka halaman pertama buku ini, saya kaget karena disana ada tanda tangan penulisnya disertai ucapan “Sehangat Pelukan Kekasih”. Huaaahhhh….senangnya. Bagi yang pengen lihat, nih saya lampirkan fotonya, huehehehe, *norak mode on*,

DSC_0006

Okeh lanjut, dan sampailah saya pada cerita pertama yang berjudul Seorang Wanita dan Jus Mangga. Dan saya langsung speechless setelah membaca cerita ini. Saya akhirnya menyadari kalau kumpulan cerpen yang ada di tangan saya ini adalah kumpulan cerpen yang — menurut istilah saya dan kakak sih — termasuk dalam kategori “kelas berat” 😀

Namun meskipun begitu, anehnya, cerpen-cerpen yang ada di dalam buku ini bikin nagih. Saya sebetulnya sudah selesai membaca buku ini sekali duduk. Hanya saja, benar seperti kata sinopsis di atas, setiap cerita membuat saya tertegun di akhir kisah, akibatnya, saya perlu loading lama untuk menuliskan kesan-kesan saya setelah membaca buku ini.

Dan saya masih ingat, saat selesai membaca cerpen yang berjudul Memorabilia Kesedihan, meskipun halaman berikutnya bertuliskan “Exit”, dan halaman berikutnya lagi bertuliskan “Selamat tidur, duhai para kekasih”, saya sangat kecewa saat mengetahui kalau cerpen tersebut adalah cerpen terakhir di buku ini.

Yap, meskipun cerita-cerita yang ada di kumpulan cerpen ini absurd, kejam, ngeri, bikin jijik, dan kadang tidak bisa dicerna oleh otak, tapi somehow, ceritanya memang terasa indah.

Saya yang terbiasa membaca cerita fantasi dan anak-anak seakan tercerabut dari dunia saya yang aman dan tenteram ke dalam dunia nyata yang kejam.

Kritik-kritik sosial yang terkandung dalam cerita-cerita tersebut membuat hati meringis karena mungkin di suatu tempat di luar sana, hal-hal kejam tersebut memang benar-benar terjadi. Dan penulisnya berhasil membuatnya menjadi terasa lebih kejam lewat kata-kata.

Ngomong-ngomong tentang penulisnya, saat membaca “Tentang Penulis” dibagian akhir buku, saya baru tahu kalau Agus Noor ini ternyata telah meraih banyak penghargaan di bidang sastra. Hahhahh, kalau saja saya tahu sebelumnya, saya pasti tidak akan tertipu dengan tampilan awal buku ini dan sudah siap-siap membaca cerita-cerita “kelas berat”. *baru keluar dari hutan belantara*.

Oh ya, saya dan teman saya yang juga sempat membaca buku ini bertanya-tanya kenapa tema untuk cerpen-cerpen ini, selain kritik sosial, juga banyak tentang orang buta. Dan tebakan ngasal kami adalah karena penulisnya ingin menyadarkan kita agar jangan seperti orang buta dan lebih awas terhadap masalah-masalah sosial. *sotoy mode on*. Dan kami juga sepakat kalau fotografi-fotografi yang nyelip di buku ini keren tapi …errr… ada beberapa yang rada seram. 😀

At last, 3 dari 5 bintang untuk Cerita Buat Para Kekasih. Terutama untuk cerpen-cerpen “kelas berat”-nya yang sudah lama tidak saya baca. Sebuah awal yang baru untuk mengawali bacaan saya di tahun yang baru. SoI liked it.

***

Judul: Cerita Buat Para Kekasih | Pengarang:  Agus Noor | Edisi bahasa: Indonesia | Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (Cetakan pertama, November, 2014) | Jumlah halaman: 276 halaman | Status: Owned book | Tempat beli: Online @ ToKo Buku by Scoop | Tanggal terima: 24 Desember 2014 | Rating saya: 3 of 5 stars

***

NB: Review ini diikutkan untuk event New Authors RC 2015

narc2015

 

dan Indonesian Romance RC 2015

irrc2015

Advertisements

Author:

Love book and wanna study abroad to Holland

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s