Posted in Bentang Pustaka, Books, Dan Brown, Mystery, Thriller

Angels & Demons Review

***

Ngeri. Pembunuhannya termasuk ke dalam standar ngeri menurut saya. Tapi kisahnya keren. Luar biasa keren. *nangisterharu*.

Banyak pengetahuan baru yang saya dapatkan di sini. Saking penasarannya saya sampai googling. Pengen liat karya seni yang ini dan yang itu, meskipun cuma lewat dunia maya. *kasian*.

Belum nonton filmnya. Pengen nonton tapi rada ragu. Saya mengkhawatirkan kondisi korban pembunuhannya, bagaimana kalau pas dengan bayangan saya? Saya jadi ngeri sendiri, hahhah.

Kisah tentang pertarungan antara ilmu pengetahuan dan agama. Padahal mereka berdua kan seharusnya hidup bersama, jangan dibikin berantem.

Menurut saya masalah yang terjadi di buku ini terjadi karena kesalahpahaman. Si pembunuh terlalu fanatik dan informasi yang diterimanya setengah-setengah. Coba aja sedikit lebih open-minded dan jangan nge-judge orang duluan sebelum dengar penjelasannya, *jadisewotsendiri*.

At last, saya jadi speechless. 4 dari 5 bintang deh untuk Angels dan Demons. I really liked it.

***

Judul: Angels & Demons | Pengarang: Dan Brown | Penerbit: Bentang | Edisi: Bahasa Indonesia, Yogyakarta, 2014, 738 halaman | Penerjemah: Ingrid Dwijani Nimpoeno | My Rating: 4 dari 5 bintang

Posted in Books, Gramedia Pustaka Utama, J. K. Rowling, Mystery, Review 2016, Robert Galbraith

The Silkworm Review

***

Blurb

Seorang novelis bernama Owen Quine menghilang. Sang istri mengira suaminya hanya pergi tanpa pamit selama beberapa hari—seperti yang sering dia lakukan sebelumnya—lalu meminta Cormoran Strike untuk menemukan dan membawanya pulang.

Namun, ketika Strike memulai penyelidikan, dia mendapati bahwa perihal menghilangnya Quine tidak sesederhana yang disangka istrinya. Novelis itu baru saja menyelesaikan naskah yang menghujat orang banyak—yang berarti ada banyak orang yang ingin Quine dilenyapkan.

Kemudian mayat Quine ditemukan dalam kondisi ganjil dengan bukti-bukti telah dibunuh secara brutal. Kali ini Strike berhadapan dengan pembunuh keji, yang mendedikasikan waktu dan pikiran untuk merancang pembunuhan yang biadab tak terkira.

My Review

Gara-gara The Cuckoo’s Calling (kasus kematian super model yang diduga bunuh diri), dan gara-gara judulnya “The Silkworm”, saya menduga pembunuhannya tidak sesadis ini. Memang sekeji apa sih kisah pembunuhan yang diberi judul “Ulat Sutra”?

Oke, ternyata saya salah. Dan sayangnya, saat membaca deskripsi kondisi mayat, konsentrasi saya terpecah. Saya jadi sedikit kebingungan karena baik Cormoran maupun Robin, tampak terguncang sekali kalau mengingat kondisi korban. Jadi, saya baca ulang deh deskripsi mayatnya, dengan konsentrasi penuh…dan sepertinya itu bukan tindakan yang bijaksana.*hueeek*.

Tapi ya sudahlah. Kembali ke “Ulat Sutra”. Jadi kali ini Cormoran menyelidiki kasus suami hilang. Asiknya, meskipun kliennya (si istri yang kehilangan suaminya) tampaknya tidak punya uang, Cormoran tetap menerima kasus itu karena alasan-alasan simpel, salah satunya cuma karena penasaran.

Dan dengan cepat kasus suami hilang berubah nama menjadi kasus suami yang dibunuh. Insting detektif Cormoran memang hebat. Kasus ini menjadi besar, dan terancam akan kembali sangat mempermalukan pihak kepolisian, tergantung apakah polisi penyidiknya, yang kebetulan adalah “teman akrab” Cormoran, mau mendengarkan Cormoran atau tidak.

Jadi seperti yang ada di blurb, korban kita kali ini adalah penulis. Jadi settingnya adalah dunia penulis dan penerbit. Dan sama seperti dunia super model di The Cuckoo’s Calling, setelah membaca kisah pembunuhan ini, tiba-tiba dunia penulis dan penerbit terlihat lumayan menakutkan bagi saya, hahhah.

Ngomong-ngomong, saking senangnya dengan buku fantasi, saya sampai lupa kalau saya juga menyukai cerita detektif macam Cormoran ini. Karena saya payah sekali kalau main detektif-detektifan, jadi saya telan bulat-bulat saja semua petunjuk yang ada tanpa harus capek-capek menebak kira-kira siapa pembunuhnya. Saya menikmati ketidaktahuan tersebut sampai pelan-pelan kasusnya terungkap sendiri. Asik. Seru. Dan sedikit dongkol juga karena buku ini terlalu tebal. Saya jadi harus begadang untuk menyelesaikannya. Soalnya saya tidak sanggup menunggu esok pagi untuk mengetahui siapa pembunuhnya XD

Oh ya, ada pengetahuan baru. Rupanya, di buku ini, nama Cormoran lebih identik dengan nama raksasa dibandingkan dengan nama burung.

Terus ada kutipan favorit dari tokoh favorit saya, Robin:

Robin kesulitan menelan makanan dengan gumpalan besar di tenggorokannya. Dia merasa terguncang tapi bahagia. Dia tidak salah: Strike melihat dalam dirinya sesuatu yang juga dia miliki. Mereka bukan orang yang sekadar bekerja demi gaji…

(The Silkworm, hlm. 318)

Iri? Tentu saja. Semoga suatu saat saya juga seperti Cormoran Strike dan Robin. Bisa bekerja karena kita suka pekerjaan tersebut.

So, 4 dari 5 bintang lagi untuk detektif Cormoran Strike. Belum bisa 5 bintang Cormoran, maaf. saya tetap lebih lebih suka dengan Holmes. Soalnya Holmes cuma butuh waktu singkat untuk memecahkan kasus rumit. Beda denganmu yang perlu…berapa halaman? 536? dan saya masih dongkol karena itu membuat saya begadang semalaman 😉

***

Judul: The Silkworm – Ulat Sutra | Pengarang: Robert Galbraith | Penerbit: Gramedia Pustaka Utama | Edisi: Bahasa Indonesia, 2014, 536 halaman | Status: Owned book | Harga: Rp137.000,- (Gramedia Duta Mall Banjarmasin) | Rating saya: 4 dari 5 bintang

***

Posted in Books, Gramedia Pustaka Utama, Mystery, Review 2016, Trio Detektif, William Arden

Misteri Gua Raungan Review

 photo misteri gua raungan_zpsjnwmz7tu.png

***

Dulu, waktu baca Trio Detektif pas SMP, saya kira penulis bukunya Alfred Hitchcok. Sekarang saya sudah tahu kalau nama penulisnya ternyata Robert Arthur. Jadi sempat lola ketika membaca nama penulis di buku ini adalah William Arden. Nah siapa pula beliau ini? Setelah dilihat-lihat lagi, saya baru lihat tulisan “Based on Characters by Robert Arthur”. Oh jadi gitu. *ngangguk-ngangguk*.

Terus di bagian terakhir, biasanya kan Trio Detektif melaporkan hasil penyelidikan mereka ke Alfred Hitchcok, nah ini mereka melaporkannya ke Alfred Hitfield. Oke, saya anggap saja ini karena penulisnya adalah William Arden. #selfkeplak.

Terus saya sama sekali lupa bagaimana ceritanya Misteri Gua Raungan. Yang saya ingat waktu itu cuma El Diablo. Jadi lumayan seru waktu membaca petualangan Jupiter dan kawan-kawan saat memasuki gua. Sempat tertipu juga dengan pria seram dengan bekas luka di pipi. Kaget waktu tahu siapa sosok hitam yang dilihat oleh Pete di telaga. Walaupun saya sudah bisa menebak siapa sebenarnya El Diablo.

So, asik sekali bernostalgia dengan cerita petualangan Trio Detektif. Semoga semua serinya dicetak ulang lagi 😉

***

Judul: Trio Detektif: Misteri Gua Raungan | Pengarang: William Arden | Penerbit: Gramedia Pustaka Utama | Edisi: Bahasa Indonesia, Jakarta 2015, 200 halaman | Status: Pinjam di iJak | Rating saya: 4 dari 5 bintang

Posted in A Series of Unfortunate Events, Books, Children, Gramedia Pustaka Utama, Lemony Snicket, Mystery, Review 2016

The Bad Beginning Review

 photo DSC_0076_zpsmbxlwnf6.jpg

***

Akhirnya setelah sekian tahun menunggu, dapat juga buku pertama dari seri Unfortunate Events. Berarti koleksi saya tinggal kurang yang no 2, 3, 4, 6, dan 8. *masih banyak*.

Dulu saya masih ingat, saya ingin sekali membeli buku ini karena covernya yang cakep dan sinopsisnya yang beda. Tapi selalu saya tunda-tunda sampai akhirnya bukunya sudah susah di dapat. *nyesel*.

Ternyata awal ceritanya begini ya. Asik juga, mencocokkan hasil tebakan saya dengan yang aslinya. Saya sudah nonton filmnya dan sudah membaca buku-buku akhirnya. Jadi sedikit banyak, secara tidak langsung, saya sudah tahu bagaimana awal masalah yang menimpa anak-anak Baudelaire.

Kisah petualangan anak-anak ini unik. Satu-satunya kisah yang pernah saya baca, dimana kemalangan-kemalangan terus menimpa tokoh-tokoh utamanya.

Violet, Klaus dan Sunny Baudelaire. Tiga anak malang yang secara tiba-tiba kehilangan orang tua dan rumah mereka dalam sebuah kebakaran hebat. Malangnya, sepeninggal orang tua mereka, ketiga anak yatim piatu ini harus tinggal dengan Count Olaf, seseorang yang katanya adalah kerabat mereka.

Tinggal bersama Count Olaf ternyata tidak menyenangkan. Count Olaf jahat. Selain jahat, Count Olaf juga pintar. Misi Count Olaf ternyata adalah mendapatkan harta warisan anak-anak Baudelaire.

Tapi meskipun Count Olaf jahat dan pintar, anak-anak Baudelaire juga tidak kalah pintarnya. Ada Violet si penemu, Klaus yang gemar membaca, dan Sunny yang suka menggigit. Kekurangan mereka cuma satu, yaitu selalu tertimpa kemalangan.

Kalau di buku satu ini anak-anak sudah ditimpa kemalangan yang bertubi-tubi, masih ada 12 buku lagi yang merekam kemalangan-kemalangan tersebut. Membuat hati miris saja, tapi justru disitulah menariknya.

Cara penceritaannya juga unik. Saya terutama suka dengan definisi dari kata-kata yang sengaja diselipkan di dalam cerita.

Saya juga suka dengan judul-judul dari seri ini. Huruf dari setiap katanya selalu sama. The Bad Beginning, The Reptile Room, The Wide Window, The Miserable Mill, dll. Kerennya lagi, terjemahan Bahasa Indonesianya juga bisa menemukan padanan yang tepat. Mula Malapetaka, Ruang Reptile, Jendela Janggal, Gelondongan Gila, dsb. Hebaaat 😉

***

Judul: The Bad Beginning – Mula Malapetaka | Pengarang: Lemony Snicket | Penerbit: Gramedia Pustaka Utama | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan Pertama: Jakarta Mei 2003, 156 halaman | Status: Owned book | Rating saya: 4 dari 5 bintang

Posted in Books, Gramedia Pustaka Utama, Mystery, Review 2016, Robert Arthur, Trio Detektif

Misteri Jeritan Jam Review

 photo Screenshot_2016-03-08-18-59-15_zpsr9cd1ton.png

***

Saya masih ingaaat…sudah lebih dari 1 dekade dan saya masih ingat.

Terakhir saya membabat habis koleksi Trio Detektif di perpustakaan sekolah waktu SMP kelas 1. Saya masih ingat bagaimana misteri ini terkuak. Waktu itu saya menganggap cerita misteri jeritan jam ini keren sekali.

Jadi ceritanya adalah Jupiter dan kawan-kawan menemukan jam beker bekas. Saat dibunyikan, jam nya menjerit nyaring menyeramkan. Jupiter penasaran, kenapa ada orang yang mau-maunya membuat jam yang bisa menjerit seperti itu.

Siapa sangka, kasus yang awalnya dianggap sepele oleh Pete ini berkembang menjadi kasus besar. Melibatkan beberapa aksi kekerasan dan penculikan oleh penjahat-penjahat profesional, serta barang berharga bernilai jutaan dolar.

Dulu saya punya impian untuk mengoleksi serial detektif ini sampai komplit. Tapi sayang waktu itu bukunya sudah sulit didapat dan toko buku sangat jauh. Untung sekarang sudah dicetak ulang lagi, tapi toko bukunya tetap jauh sih XD. Semoga segera kesampaian aja deh.

***

Judul: Trio Detektif: Misteri Jeritan Jam | Pengarang: Robert Arthur | Penerbit: Gramedia Pustaka Utama | Edisi: Bahasa Indonesia, Jakarta 2015, 200 halaman | Status: Pinjam di iJak | Rating saya: 5 dari 5 bintang