Posted in Alex Scarrow, Books, Elex Media Komputindo, Fantasy, Science Fiction, TimeRiders

The Mayan Prophecy Review

**spoiler alert**

Blurb:

LIAM O`CONNOR seharusnya meninggal di lautan tahun 1912
MADDY CARTER seharusnya meninggal di pesawat tahun 2010
SAL VIKRAM seharusnya meninggal dalam kebakaran tahun 2026


Tapi mereka bertiga diberi kesempatan kedua—untuk bekerja pada sebuah agensi yang keberadaannya tidak diketahui siapa pun. Tujuannya: mencegah perjalanan waktu menghancurkan sejarah….

Ketika Maddy akhirnya membuka fragmen rahasia yang dimiliki Becks, para TimeRiders mulai mengumpulkan tujuan mereka yang sebenarnya. Mereka berjuang sepanjang waktu untuk menghubungkan tiap petunjuk, lalu mereka menemukan penemuan purbakala dari suku Maya yang memiliki hubungan penting dengan masa lalu dan masa depan.

Namun tidak semua anggota TimeRiders dapat mengatasi penemuan ini. Salah satu dari mereka yang merasa kecewa akan timnya memutuskan untuk meninggalkan tim.

My Review

Jauh lebih seru dari buku ke-7. Menurut saya sih, hahaha. Buku ke-8 ini, awalnya sedih, endingnya nyesak.

Jadi The Mayan Prophecy diawali dengan kisah Waldstein—yang—kalau saya boleh sotoy, inilah alasan kenapa Waldstein kepengin membuat mesin waktu.

Terus, yah, endingnya bikin nyesak. Benar-benar tidak menyangka kalau akhirnya harus seperti itu. *nangis*.

So, daripada jalan-jalan tidak jelas yang berujung bencana seperti yang terjadi di buku sebelumnya, tim kali ini memutuskan untuk melakukan sesuatu yang lebih berguna. Maddy dan Liam berencana untuk memecahkan misteri kenapa Waldstein menyuruh mereka menjaga alur waktu yang jelas-jelas berjalan menuju kehancuran dunia. Tapi, Sal tidak setuju. Sal yakin mereka harus tetap mempercayai Waldstein apapun alasannya.

Tapi pemimpin tim tetap Maddy, lagipula Sal kalah suara. Maka Maddy pun meminta Beck membuka partisi terkunci di otaknya yang kemungkinan berisi petunjuk, tapi sayangnya, Beck tidak bisa. Beck hanya bisa memberi clue samar yang menuntun Maddy untuk kembali meminta bantuan Adam. FYI, Adam ini pernah muncul di buku ke-3, The Doomsday Code. Dia memilik peran penting dalam pemecahan pesan berkode yang sekarang ada di kepala Becks.

Maddy meminta Adam untuk membawa mereka ke gua tempat dimana Adam menemukan simbol kuno yang membuatnya jadi bisa memecahkan pesan berkode itu. Perjalanan itu ternyata tidak mulus. Mereka harus pergi ke Nikaragua ditahun 1994 yang saat itu masih berstatus sebagai daerah konflik. Banyak tragedi yang terjadi sebelum mereka berhasil menemukan gua tersebut.

Namun, pencarian penuh usaha tersebut tidak sepenuhnya penuh derita, *apacoba*, mereka bukan hanya menemukan gua, tapi juga menemukan reruntuhan situs kuno. Sebagai bonus, mereka bahkan menemukan ruangan  yang sepertinya tidak pantas berada di situs kuno tersebut.

Sayangnya, Maddy dan kawan-kawan benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukan. Mungkin hanya Sal, si pengenal pola yang bisa menebak-nebak bagaimana cara mengaktifkan apapun yang ada di dalam ruangan penuh simbol tersebut. Sayangnya, perhatian Sal sepertinya teralihkan oleh sesuatu yang lain.

Nah lo, apa yang harus mereka lakukan? Mereka tidak bisa seenaknya memakai teknik trial dan error karena ini bisa saja mempertaruhkan nyawa mereka sendiri dan juga nyawa orang banyak.

Haduh, membaca buku ini membuat saya gregetan sendiri. Arrrghhhh, kenapa kalian tidak begini saja? Atau kenapa kalian tidak begitu saya? Tuh kan jadinya seperti ini? dst…dst…dst. Tapi yah disitulah serunya, hahhah.

At last, menurut saya, di The Mayan Prophecy, ketegangan ala buku-buku pertama dari seri ini memang masih kurang terasa. Tapi ending nyesek-nya itu mendapat 5 dari 5 bintang dari saya. It was amazing.

***

Judul: The Mayan Prophecy | Pengarang: Alex Scarrow | Series: TimeRiders #8 | Penerbit: Elex Media Komputindo | Edisi: Bahasa Indonesia, 2017, 356 halaman | Penerjemah: Desi Natalia | Status: Koleksi pribadi | Rating saya: 5 dari 5 bintang

***

Review ini diikutkan dalam challenge:

Advertisements
Posted in Alex Scarrow, Books, Elex Media Komputindo, Fantasy, Science Fiction, TimeRiders

The Pirate Kings Review

**spoiler alert**

Hmmm…kenapa saya merasa TimeRiders buku ke-tujuh ini kurang seru ya? Biasanya kalau membaca TimeRiders itu, saya bawaannya selalu baca cepat-cepat dan tidak mau berhenti karena penasaran. Tapi The Pirate Kings ceritanya tidak terlalu menegangkan. Saya sempat berhenti membacanya beberapa kali dan butuh waktu yang jauh lebih lama untuk menamatkannya dibandingkan buku-buku pendahulunya dari seri ini.

Setelah berbagai misteri tentang apa itu TimeRiders di buku sebelumnya terkuak, di buku ini minim informasi. Ini adalah buku pertama di mana Maddy, Liam dan Sal bekerja independen.

Ternyata mereka masih punya pekerjaan pasca melarikan diri dari Waldstein. Pekerjaan tidak terduga gara-gara Maddy ingin melakukan rekreasi sejarah.

Entah kenapa, Maddy merasa, melihat kebakaran hebat di London pada tahun 1666 itu menarik. Dan bisa diduga, setelah mereka melihatnya secara langsung, tiba-tiba kebakaran itu tidak menarik lagi. Mereka semua terjebak. Untunglah Maddy dan Sal berhasil kembali. Namun sayangnya, Liam dan Rashid memilih jalur melarikan diri yang salah. Mereka tidak sengaja menaiki kapal bajak laut dan dipaksa menjadi awak di sana.

Sayangnya, meskipun tahu Liam dan Rashid berada di tahun berapa, namun posisi kapal yang terus bergerak mengakibatkan Maddy kesulitan melacak mereka berdua. Perlu waktu yang sangat-sangat lama bagi Maddy dan Sal untuk menemukan Liam. Bahkan mereka sempat mengalami momen salah paham segala.

Sementara Liam dan Rashid mati-matian meninggalkan pertanda agar keberadaan mereka di tahun 1666 bisa menimbulkan kontaminasi waktu di tahun 1889.

Namun, meskipun ingin pulang, Liam dan Rashid lama-kelamaan merasa betah menjadi bajak laut. Apalagi setelah mereka menjadi kapten berhasil merampok sebuah pulau penuh harta berharga.

Nah lo, bagaimana nasib Liam dan Rashid setelah sukses menjadi raja bajak laut? Apakah Maddy dan Sal berhasil membawa pulang mereka? Dan apakah mereka semua memang benar-benar terbebas dari Waldstein? Oke saya masih penasaran. Buku selanjutnya akan segera terbit dan saya sudah PO sama Mbak Maria. Semoga buku selanjutnya tidak mengecewakan ^^

***

Judul: The Pirate Kings | Pengarang: Alex Scarrow | Series: TimeRiders #7 | Penerbit: Elex Media Komputindo | Edisi: Bahasa Indonesia, 2017, 359 halaman | Penerjemah: Desi Natalia | Status: Koleksi pribadi | Rating saya: 4 dari 5 bintang | Bisa dibeli di: bukabuku.com

Posted in Alex Scarrow, Books, Elex Media Komputindo, Fantasy, Science Fiction, TimeRiders

City of Shadows Review

 

cityofshadows

** spoiler alert **

Akhirnya, siapa dan apa itu TimeRiders terungkap. Ternyata seperti itu ya? Kaget saya. Kasihan Foster ;(

Terus, apa itu Pandora juga dibeberkan di sini, cuma masih samar-samar. Ga puas kalau bukan Waldstein sendiri yang bilang langsung XD

Terus lagi, siapa yang ngirim robot pembunuh untuk membunuh TimeRiders juga ketauan di sini.

Robot pembunuh itu memaksa TimeRiders untuk memindahkan lokasi markas mereka. Tebak mereka pindahnya kemana? Mereka pindah ke London tahun 1888, pas lagi jamannya Jack The Ripper.

Kenapa mereka memilih markas di jaman sejadul itu? Well, silakan baca sendiri. Tapi kalau saya yang jadi anggota TimeRiders, saya masih belum puas dengan alasan Maddy memutuskan untuk pindah ke sana. Bagaimana caranya Sal mengamati perubahan sejarah kalau dia ada di tahun itu?

Ambil contoh kasus Hitler di buku pertama deh. Kontaminasi waktu kan terjadi di tahun 1900-an. Nah, kalau Sal ada di tahun 1800-an, Sal kan jadi tidak bisa melihat perubahan sejarah yang menurut teori seharusnya ber-efek ke tahun setelah tahun 1900-an.

Memang sih di buku kedua, ada contoh kasus kontaminasi waktu yang terjadi di masa depan. Tapi saat itu ada Waldstein yang memperingatkan para TimeRiders untuk memperbaiki keadaan.

Tapi sekarang kan Waldstein sudah mengirimkan pesan ke TimeRiders yang membuat Sal jadi terancam tidak punya pekerjaan.

Tapi lagi, it’s ok lah, mungkin misteri bagaimana cara Sal mengamati kontaminasi waktu di masa depan dijelaskan di buku berikutnya. Atau mungkin sebenarnya solusinya sudah ada di buku ini, cuma sayanya saja yang tidak ngeh. Soalnya saya kalau baca TimeRiders itu, bawaannya pengen cepet-cepet, ceritanya seru dan bikin penasaran pakai banget XD

Disini ada beberapa scene yang berkesan buat saya. Pertama saat Maddy menggunakan senjata yang bernama “penyangkalan” untuk meredam kekecawaan. Kedua saat Sal mengatakan kenapa manusia ujung-ujungnya selalu saja menghancurkan dirinya sendiri, bahkan ketika ada kesempatan untuk memperbaiki. Dan terakhir tentang kebaikan hati Liam yang membuatnya jadi banyak yang naksir. Meskipun terkadang disalahartikan sebagai b*d*h, tapi orang yang hatinya baik itu memang keren ya ^^

At last, saya makin penasaran sama petualangan TimeRiders berikutnya. Bagaimana akhirnya ya? Apakah sejarah yang berujung ke masa depan yang mengerikan memang tetap harus dijaga, bahkan ketika manusia pada akhirnya bisa menemukan cara untuk memperbaikinya?

***

Judul: City of Shadows | Pengarang: Alex Scarrow | Series: TimeRiders #6 | Penerbit: Elex Media Komputindo | Edisi: Bahasa Indonesia, 2016 | Status: Koleksi pribadi | Rating saya: 5 dari 5 bintang | Bisa dibeli di: bukabuku.com

Posted in Alex Scarrow, Books, Elex Media Komputindo, Fantasy, Review 2015, Science Fiction, TimeRiders

Gates of Rome Review

***

Dia menyadari bahwa bukan pengetahuan ataupun kebijaksanaan yang membuat seseorang menjadi pemimpin. Bukan kepintaran yang melebihi semua orang lain. Karena, demi Tuhan, dia pasti mampu melampaui kecerdasan hampir semua orang bodoh ini. Tidak, kuncinya terletak pada pembawaan suara dalam yang konstan dan cara berbicara kepada orang-orang yang berkumpul. Cara membawakan diri. Wibawa. Kewenangan. Stilson jelas memiliki semua itu, sementara Rashim tidak.

(Gates of Rome, hlm. 80)

Kutipan yang sering terdengar sejak saya kuliah sampai sekarang. Tapi yang ini disuarakan oleh si orang pintar. Dan saya setuju. Lebih terdengar masuk akal dan terdengar lebih menyenangkan bagi pihak si pintar. Walaupun dalam buku ini, saya rasa kedua pihak sama-sama kalah. Yang berotak cemerlang sok menjadi pemimpin dan yang berbakat menjadi pemimpin sok pintar.

Di buku sebelumnya, petualangan tim penjelajah waktu kita sedikit berbeda. Mereka berada di waktu yang sama, namun terpisah oleh jarak yang seandainya tidak terhantam gelombang waktu, tidak akan menjadi masalah.

Di buku ini, petualangan mereka kembali menemui masalah baru. Liam dan Bob yang sedang berada di Roma jaman dulu terkaget-kaget saat mendapati Maddy dan Liam yang melompat dari jendela waktu.

Nah lo, oke lah dengan Sal yang sudah sering ikut Liam, tapi Maddy? Kalau Maddy juga ikut ke masa lalu, siapa yang menjaga markas? Yang lebih penting lagi, siapa nanti yang akan membuka jendela waktu? Karena kalau tidak ada jendela, mereka semua tidak bisa pulang.

Oke singkirkan dulu sebentar masalah bagaimana caranya pulang. Sementara ini, para penjelajah waktu kita harus menghadapi masalah yang lebih mendesak. Mereka harus bertahan hidup di Roma, di jaman kaisar Caligula. Siapa itu kaisar Caligula saya juga tidak tahu. Yang pasti kata ahli sejarah yang ada di buku ini, kaisar Caligula itu agak sedikit…eh…gila. *sungkem sama kaisar*.

Membaca petualangan Liam dan kawan-kawan di sini, sedikit mengingatkan saya dengan petualangan Percy Jackson di The Son of Neptune karya Rick Riordan. Di cerita ini, ada prajurit-prajurit Romawi yang ada centurion-centurion nya itu.Sama kayak di Perkemahan Jupiter.

Hanya saja, kalau cerita dipetualangan Percy, prajurit-prajurit tersebut terkesan menyenangkan, sedangkan di cerita Liam, terkesan suram. Ya iyalah ya, soalnya dalam kisah Liam, para prajurit ini benar-benar ada di Roma dan sedang perang sungguhan ala Roma tempo dulu.

Kesamaannya hanya satu, mereka sama-sama dilingkupi dengan suasana pengkhianatan.

Seperti biasa, petualangan di buku ini sangat menegangkan. Saya rasa, buku ini lebih seru daripada buku yang keempat. Walaupun menurut saya masih kalah dengan buku kedua dan ketiganya yang sampai saat ini masih menjadi favorit saya.

Alurnya cepat, tapi berkebalikan dengan itu, misteri yang menyelubungi asal-usul TimeRiders sendiri berjalan dengan sangat lambat. Sampai buku kelima, saya masih hanya bisa menebak-nebak, siapa sebenarnya TimeRiders dan apa yang bakalan (atau sudah) terjadi dengan mereka.

Oke, kembali ke persoalan bagaimana cara mereka pulang. Kenapa Maddy dan Sal tiba-tiba memutuskan untuk mengikuti Liam ke Roma lama? Dan kalau kita tarik mundur, apa yang menyebabkan Maddy mengutus Liam ke sana? Jawabannya ada jauh di masa depan. Masa di mana manusia memutuskan untuk melarikan diri dari kesalahan yang mereka buat sendiri terhadap bumi.

Kita telah membuat kekacauan … dan apa yang kita lakukan? Melarikan diri darinya.

Dia punya perasaan bahwa apa yang mereka lakukan hanyalah mengulangi peradaban sehingga mereka bisa melakukan kesalahan yang sama sekali lagi. Dan lagi.

Dan lagi.

(Gates of Rome, hlm. 68)

At last, saya merasa sayang sekali saat selesai membaca buku ini, sayang karena harus keluar dari dunia para penjelajah waktu. Sayang karena untuk membaca petualangan mereka lagi, perlu menunggu entah kapan buku keenamnya nanti terbit. Semoga tidak lama.

Full rated untuk Gates of Rome. Siip banget deh pokoknya.

***

Judul: Gates of Rome | Pengarang: Alex Scarrow | Series: TimeRiders #5 | Penerbit: Elex Media Komputindo | Edisi: Bahasa Indonesia, 2015 | Tebal: 437 halaman | Status: Koleksi pribadi | Rating saya: 5 dari 5 bintang 

Posted in Alex Scarrow, Books, Elex Media Komputindo, Fantasy, Review 2015, Science Fiction, TimeRiders

The Eternal War Review

 photo the_eternal_war_by_alex_scarrow_zpsztiogugu.jpg

***

Saya kalau membaca TimeRiders itu, mau ga mau, harus terburu-buru, kayak dikejar-kejar waktu. Soalnya ceritanya sendiri seperti itu. Kalau tidak cepat-cepat, nanti gelombang waktu yang mengubah dunia akan terjadi, dan para tokoh dalam kisah ini akan melihat kilasan mengerikan di langit dimana sejarah menyusun ulang dirinya kembali. Parahnya, pasca penyusunan ulang itu bisa menyebabkan dunia yang kita kenal menjadi dunia yang tidak kenal.

Saya rasa, petualangan Maddy, Liam, dan Sal kali ini kalah menegangkan dibanding buku-buku sebelumnya. Entah karena saya sudah terbiasa dengan ketegangan seri TimeRiders, atau karena kali ini masalah besar terfokus pada markas beratap lengkung bukannya pada petualangan Liam, atau bisa juga karena ceritanya sendiri mengangkat tema perang abadi, dimana para prajuritnya sendiri sudah bosan berperang.

Tapi meskipun begitu, seperti biasa, saya tetap tidak bisa berhenti membaca TimeRiders. Saya bahkan tidak merasa sudah membaca lebih dari separuh buku saking serunya.

Ngomong-ngomong kali ini ceritanya adalah tentang perang saudara di Amerika. Ada hubungannya dengan sejarah Presiden Abraham Lincoln. Nah, saya rasa inilah asiknya TimeRiders. Saya bisa lebih mengenal sejarah yang pada awalnya hanya saya tahu sekilas.

Oke, kembali ke perang saudara di Amerika. Menurut sejarah yang sebenarnya, Perang Saudara di Amerika berakhir di tahun 1865. Masalah besar terjadi saat gelombang waktu besar-besaran menghantam dunia. Hasilnya, Amerika di tahun 2001 masil terjebak dalam perang saudara.

Well, bayangkan saja ada perang yang berlangsung selama ratusan tahun. Tidak ada pihak yang menang maupun kalah. Saking lamanya perang tersebut, kedua pihak yang saling bermusuhan pun seperti sudah saling mengenal layaknya saudara. Eh tapi kalau dipikir-pikir mereka memang saudara sih, kan namanya juga perang saudara yak.

Awalnya gelombang waktu yang terjadi kecil saja. Maddy menemukan penyebab masalah dengan cepat. Dia bahkan mengijinkan Sal ikut bersama Liam untuk kembali ke masa lalu dan memperbaiki keadaan. Sayangnya, keadaan memang selalu saja menjadi lebih buruk kalau menyangkut TimeRiders. Seseorang yang seharusnya mereka selamatkan ternyata mengikuti mereka ke tahun 2001. Sayangnya, orang ini adalah orang yang menghentikan perang saudara di Amerika. Ketidakhadirannya di tahunnya sendirilah yang mengakibatkan Amerika masih terjebak dalam perang sampai tahun 2001. Luar biasa.

Mengembalikan orang ini ternyata tidak mudah. Ada-ada saja kejadian yang mengakibatkan satu-persatu gelombang waktu datang dan mengubah sedikit demi sedikit dunia yang ada saat ini. Saat gelombang waktu yang paling besar datang, Maddy terjebak sendirian di markas yang hampir runtuh, di tengah zona perang saudara dan nyaris putus asa.

Sisi positifnya adalah Liam dkk berada di zona waktu yang sama dengan Maddy, mereka hanya berbeda tempat, yang sayangnya sangat jauh dan banyak masalah. Walaupun masalahnya tidak sebesar yang dialami Maddy sendirian bersama Becks.

Petualangan kali ini diawali dan diakhiri dengan misteri yang menyelubungi Sal. Sepertinya masing-masing anggota TimeRiders memiliki misterinya sendiri. Sayangnya, petunjuk misteri tentang Sal terlalu sedikit.

At last, susah untuk tidak suka dengan agen-agen perjalanan waktu ini setelah apa yang mereka lalui di buku-buku sebelumnya. Tapi favorit saya tetap Liam sih :D. So, 5 dari 5 bintang untuk buku keempat TimeRiders. Sudah jadi seri favorit tentu saja.

***

Judul: The Eternal War | Pengarang: Alex Scarrow | Series: TimeRiders #4 | Penerbit: Elex Media Komputindo | Edisi: Bahasa Indonesia, 2015 | Tebal: 488 halaman | Status: Koleksi pribadi | Rating saya: 5 dari 5 bintang