Posted in Books, Books About Books, Carlos Maria Dominguez, Marjin Kiri

Rumah Kertas Review

***

Buku mengubah takdir hidup orang-orang.

(Rumah Kertas, hlm. 1)

Blurb:

Seorang profesor sastra di Universitas Cambridge, Inggris, tewas ditabrak mobil saat sedang membaca buku. Rekannya mendapati sebuah buku aneh dikirim ke alamatnya tanpa sempat ia terima: sebuah terjemahan berbahasa Spanyol dari karya Joseph Conrad yang dipenuhi serpihan-serpihan semen kering dan dikirim dengan cap pos Uruguay. Penyelidikan tentang asal usul buku aneh itu membawanya (dan membawa pembaca) memasuki semesta para pecinta buku, dengan berbagai ragam keunikan dan kegilaannya!

My Review

Judul yang menarik hati dan sampul yang keren. Saya suka.

Sayangnya, untuk ukuran buku setipis ini, saya merasa lama sekali baru bisa selesai membacanya. Ketika membaca buku ini, saya sedang kena morning sickness, alhasil dalam penglihatan saya, bahasanya jadi tampak berbelit-belit. Selain itu, nama-nama tokoh serta nama tempat-tempatnya yang terasa asing juga ikut jadi penyebab. Saya jadi tidak sepenuhnya paham dengan apa yang saya baca, sehingga saya memutuskan untuk membacanya sekali lagi, dan yaaa, akhirnya sepertinya saya paham.

Jadi seperti yang blurb-nya bilang, ini adalah cerita tentang para pecinta buku dengan berbagai ragam keunikan dan kegilaannya. Endingnya suram sih kalau menurut saya. Tapi setidaknya saya senang, karena sepemahaman saya, buku ini menegaskan kalau pecinta buku  itu salah duanya adalah para kolektor dan  para pembaca. Soalnya selama ini, di lingkungan tempat tinggal saya, para pecinta buku itu seolah-olah diharuskan untuk bisa menulis dan atau bisa bercerita di depan umum. Dua keterampilan yang tidak saya miliki, hahhah. Jadinya saya seperti merasa tersisih dari komunitas buku yang ada di kota saya. Saya cuma suka membaca, koleksi saya lumayan banyak, dan timbunan saya juga, #eh.

Ngomong-ngomong, kalau dibandingkan dengan kisah para pecinta buku yang ada di buku ini, saya jadi merasa tidak ada apa-apanya. Kecintaan mereka terhadap buku sudah dalam tingkatan yang bisa dibilang gila. Salah satu pecinta buku ini mempunyai buku yang memenuhi setiap sudut rumahnya, bahkan sampai ke kamar mandi. Dia juga menyusun sistem katalog sendiri untuk mengelompokkan buku-bukunya, berdasarkan hubungan “kekerabatan” antar penulis. Namun kerja kerasnya dalam menyusun sistem katalog hancur dalam sekejap karena kecerobohannya sendiri. Sampai akhirnya dia nyaris tidak bisa memaafkan dirinya sendiri dan melakukan sesuatu terhadap koleksi buku-bukunya yang berharga yang, mungkin, susah sekali dimaafkan oleh para pecinta buku manapun.

At last, membaca akhir buku ini membuat saya merasa ngeri sendiri saat membayangkan tentang bagaimana si pecinta buku akhirnya memutuskan memperlakukan buku-bukunya. Tapi kalau dipikir-pikir, yaaaa, itulah uniknya. Seperti saya mungkin, yang lebih suka memberikan buku kepada teman daripada meminjamkannya. Hanya karena saya tidak sanggup menanggung akibat dari proses meminjam itu sendiri yang kemungkinan berakhir dengan rusaknya buku-buku saya atau malah tidak kembali sama sekali. Jadi mending saya kasihkan saja sekalian, setidaknya dengan memberikannya, saya tidak perlu was-was lagi menunggu nasib buku saya, karena buku itu sudah menjadi milik mereka, hahhah.

So, 3 dari 5 bintang untuk buku ini. I liked it.

***

Judul: Rumah Kertas | Pengarang: Carlos Maria Dominguez | Penerbit: Marjin Kiri | Edisi: Bahasa Indonesia, 76 halaman | Rating saya: 3 dari 5 bintang

Advertisements
Posted in Books, Gramedia Pustaka Utama, Rhonda Byrne, Self Help

How The Secret Changed My Life: Kisah Nyata, Orang-Orang Nyata Review

***

Ada dua jenis orang:

Mereka yang berkata,

“Aku akan percaya ketika melihatnya.”

Dan mereka yang berkata,

“Untuk melihatnya, aku tahu aku harus percaya.”

—The Secret Daily Teaching (How The Secret Changed My Life, hlm 4)

Nah lo, saya sama sekali tidak tahu kalau buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Pasca membaca 4 buku karangan Rhonda Byrne lainnya, saya ingat saya sempat nyeletuk seandainya saja ada 1 buku Rhonda Byrne lagi yang diterjemahkan, maka saya bisa ikut Read & Review Challenge BBI 2017  untuk kategori membaca 5 buku dari pengarang yang sama.

Dengan rajin saya stalking ke toko-toko buku online (tidak ada toko buku di kota saya) dan mengetik kata kunci Rhonda Bryrne untuk mencari tahu apakah ada karya beliau lagi yang sudah diterjemahkan atau tidak. Tapi tidak ada satu pun yang membuahkan hasil.

Berdasarkan “ajaran” buku ini, pastilah  “Semesta” mendengar keinginan saya, karena akhirnya saya mendapat kesempatan jalan-jalan ke toko buku real. Kesempatan yang didatangkan Semesta melalui suami saya yang secara tidak terduga mengajak jalan-jalan ke kota besar. Kebetulan dia sedang ada tugas di sana.  Saya tahu suami saya lagi sibuk dan capek dan tidak terlalu suka dengan toko buku. Tapi toh dia mau saja mengajak saya jalan-jalan ke toko buku karena dia tahu saya suka. Haduh senangnya, terima kasih cinta ❤ ❤ ❤

Dan disitulah saya akhirnya menemukan buku ini terpampang manis. Saya jadi pengen melompat saking senangnya. Syukurlah akhirnya ada satu buku Rhonda Byrne lagi yang bisa baca dalam bahasa Indonesia, haha.

Jadi seperti judulnya, buku dari The Secret Series kali ini berisi kumpulan kisah-kisah tentang orang-orang yang sudah berhasil melaksanakan prinsip-prinsip  The Secret dari seluruh dunia. Saya penarasan apakah ada kisah dari Indonesia. Oke, saya baca baca baca, …., hmmmm,  ternyata tidak ada.

Oke, kembali ke buku. Kisah-kisah di dalam buku ini dikelompokkan berdasarkan topik-topik tertentu seperti buku-buku pendahulunya. Dimulai dari kisah tentang proses kreatif, kisah tentang bagaimana mendapatkan kebahagian, kisah tentang bagaimana mendapatkan kekayaan, mengubah hubungan, mendapatkan kesehatan, dst. Setiap kisah dan atau topik dikomentari secara oleh si pengarang dan diberi kesimpulan berdasarkan prinsip-prinsip The Secret.

Sama seperti 4 buku sebelumnya, buku ini juga lumayan menginspirasi. Dan efeknya yang paling terasa bagi saya adalah ada beberapa kisah yang membuat saya meneteskan air mata. Saya begitu terharu dengan keberhasilan mereka. Sepertinya mereka menulis kisah mereka dengan sepenuh hati dan mungkin memang seperti itulah adanya.

Tidak butuh waktu lama untuk menyelesaikan buku ini walaupun penampilannya tampak seperti buku bantal, atau buku bantal yang imut lah lebih tepatnya.

Ngomong-ngomong saya sangat berharap semoga semua buku dari The Secret series  maupun yang terkait diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Sepertinya yang belum diterjemahkan adalah The Secret Gratitude Book, The Secret Daily Teachings, The Secret to Teen Power dan The Power of Henry’s Imagination, *cmiiw*.

At last, buku ini berhasil membuat saya “gatal” ingin mempraktikkan cara berpikir The Secret lagi. Kebetulan saat ini ada sesuatu yang amat sangat saya inginkan. Semoga seperti kisah-kisah keberhasilan yang termuat dalam buku ini, saya akhirnya juga punya kisah keberhasilan saya sendiri.

Pasti bisa. Minta, percaya dan terima. Tetap berpikir positif dan selalu bersyukur. Semangat! *pasang senyum 5 senti*, 😀

NB: 5 dari 5 bintang untuk buku ini. Yeap, it was amazing.

***

Judul: How The Secret Changed My Life: Kisah Nyata. Orang-Orang Nyata | Pengarang: Rhonda Byrne | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan I, Jakarta, 2017, 321 halaman | Penerjemah: Susi Purwoko | Penerbit: Gramedia Pustaka Utama | Status: Owned book | Rating saya: 5 dari 5 bintang

Posted in Books, Cornelia Funke, Fantasy, Gramedia Pustaka Utama

Pangeran Pencuri Review

***

“Kadang-kadang orang dewasa bercerita, betapa indahnya ketika mereka masih anak-anak.

Mereka bahkan bermimpi menjadi anak-anak lagi.

Tetapi apa yang mereka mimpikan ketika masih anak-anak?

Tahukah kau?

Aku rasa, mereka bermimpi ingin cepat-cepat dewasa.

 

Blurb

Selamat datang di dunia ajaib kota Venesia di Italia, tempat kanal-kanal tersembunyi dan gedung-gedung tua melindungi mereka yang tidak ingin ditemukan.

Prosper dan Bo, anak yatim-piatu yang lari dari bibi dan paman mereka yang kejam. Kakak-beradik itu nekat pergi ke Venesia dan bertemu anak laki-laki misterius yang menjuluki dirinya pangeran pencuri.

Sang pangeran pencuri yang cerdas memimpin sekelompok anak jalanan yang biasa melakukan kejahatan kecil untuk menyambung hidup. Prosper dan Bo senang bergabung dengan keluarga baru yang penuh warna ini.

Petualangan mereka makin seru ketika mereka harus berhadapan dengan detektif penyanyang kura-kura, pedagang barang antik penipu, dan fotografer pemilik barang antik yang dapat membuat orang jadi jauh lebih tua atau muda dalam sekejap mata.

My Review

Waaah, saya nyaris lupa kalau ini buku fantasi. Membaca halaman-halaman awalnya terasa seperti membaca buku petualangan. Saat sampai dibagian “barang antik” itu, saya sempat bengong ala-ala “eh masa”. Disitu saya baru sadar, kalau ini adalah buku fantasi, maka “eh masa” itu seharusnya tidak menjadi masalah, hehehe.

So, seperti yang blurb-nya “bilang”, buku ini menceritakan petualangan kakak-beradik yatim-piatu yang bernama Prosper dan Bo. Mereka berdua melarikan diri dari paman dan bibinya yang bertekad ingin memisahkan kedua bersaudara ini. Alasannya hanya karena Bo masih kecil dan bertampang seperti malaikat, sedangkan Prosper sudah nyaris remaja sehingga tampangnya tidak imut-imut lagi.

Tidak tanggung-tanggung, Prosper dan Bo melarikan diri ke Venesia. Ngomong-ngomong, berasal dari manakah kakak-beradik saya tidak tahu. Saya rasa saya melewatkan informasi itu saking cepatnya saya membaca. Soalnya saya penasaran sekali bagaimana akhir kisahnya, hahaha, *kena keplak*.

Berkeliaran di kota asing bukanlah hal mudah. Terutama bagi anak-anak, seberapa besar pun anak itu berusaha keras untuk menjadi orang dewasa. Disaat hampir putus asa, Prosper dan Bo bertemu dengan komplotan anak jalanan yang menawarkan tempat yang hangat untuk mereka. Meskipun diketuai oleh seorang anak laki-laki yang menjuluki dirinya sendiri sebagai pangeran pencuri, tapi bagi Prosper dan Bo, tinggal di sana jauh lebih baik ketimbang dipisahkan oleh paman dan bibi mereka.

Menarik sekali mengikuti petualangan Prosper dan Bo bersama anak-anak jalanan ini. Dan yang menjadi sorotan saya dalam kisah ini adalah bagaimana orang dewasa ingin berubah menjadi anak-anak dan bagaimana anak-anak ingin berubah menjadi dewasa. Hingga akhirnya masing-masing menyadari bahwa menjalani prosesnya seperti apa adanya jauh lebih baik.

At last, saya ingin berterima kasih kepada Maya Floria yang sudah memberikan buku keren ini gratis kepada saya. Saya paling senang kalau membaca buku fantasi. Kisah-kisah yang mereka sampaikan selalu mengingatkan saya untuk percaya bahwa keajaiban itu memang ada, dan bahwa masih ada dan akan selalu ada orang-orang baik di sekitar kita. Meskipun kadang mereka kelelep sama orang-orang jahat. Tapi kalau kita mau berusaha, kita akan bisa menemukan mereka, *sotoy mode on*, *salam hormat untuk Victor dan Ida*.

So, 4 dari 5 bintang untuk Pangeran Pencuri. I really liked it.

***

Judul: Herr Der Diebe — Pangeran Pencuri | Pengarang: Cornelia Funke | Penerbit: Gramedia Pustaka Utama | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan II, Jakarta, Maret 2011, 420 hlm | Alih bahasa: Hendarto Setiadi | Status: Owned book (dikasih Maya) | Rating saya: 4 dari 5 bintang

Posted in Family, Noura Books, Rizka Amalia, Romance

Mooncake Review

***

Hmmm…kisah tentang seorang anak yang merasa tidak disayang oleh orang tuanya. Oke lah, sebelum saya cuap-cuap panjang lebar, sila dibaca dulu blurbnya.

Blurb:

“Tidak semua orang mampu menyatakan cinta dengan perhatian, An.”

An selalu terganggu dengan sikap ayahnya yang seolah membencinya. Apa gara-gara An disleksia? Sampai kapan kebencian itu akan bertahan?

Padahal sebentar lagi adalah hari ulang tahunnya. An berencana merayakannya di Kuala Lumpur, saat festival kue bulan berlangsung. Rasanya itu adalah waktu yang sempurna untuk memohon keajaiban, mendapatkan keutuhan. Utuh seperti kue bulan yang bulat. Seperti rasanya yang manis. Meskipun An tahu dia hanya punya sedikit waktu …  sebelum Putri Bulan dan bulan purnama tak terlihat lagi, selama lampion harapan masih melayang di langit berbintang.

My Review:

Saya setuju sekali dengan kutipan yang ada di blurb di atas. Tidak semua orang mampu menyatakan cinta dengan perhatian. Setelah membaca bukunya, saya berhasil menemukan kutipan ini di halaman 215. Kalimat lengkapnya ternyata seperti ini:

“Enggak semua orang bisa menyatakan cinta dengan perhatian dan memanjakan kita, An.”

(Mooncake, hlm. 215)

Sekali lagi saya setuju. Lebih karena saya juga bukan orang yang bisa menyatakan cinta dengan perhatian dan memanjakan orang yang saya sayangi, huehehehe.

Tapi meskipun saya tidak bisa, apakah itu berarti saya tidak menyanyangi mereka? Tidak. Saya amat sangat menyayangi mereka. I love you full lah bahasa kerennya. Dan untunglah kami semua sekeluarga sepemikiran (kecuali satu orang sebetulnya, ehm). Menurut kami, perhatian dan dimanja itu menjadikan cinta itu menjadi terkesan dibuat-dibuat. Kami masih punya cara lain untuk menyatakan cinta.

Tapi itu menurut kami lo yah, satu orang pengecualian yang saya sebut tadi jelas tidak berpikiran seperti itu. Begitu juga dengan jutaan orang lainnya yang ada di luar sana. Jadi intinya, yaaa, bisa-bisa kita saja lah memahaminya. Kita tidak bisa mengharuskan seseorang untuk menyatakan cinta sesuai dengan aturan yang kita buat kan? Meskipun orang itu adalah keluarga kita sendiri.

So, ide cerita Mooncake ini keren kalau menurut saya. Apalagi ditambah dengan latar belakang festival kue bulannya. Bisa menambah pengetahuan. Hanya saja saya … errr … merasa kurang seru membacanya. Karena alasan apa saya juga kurang tahu. Pokoknya kurang seru aja gitu, hahhah, *kena keplak*.

Lucunya, saya jadi mengkhayal bagaimana kalau orang tua saya menyatakan cinta menurut apa yang An tuntut kepada ayahnya. Saya pasti bakalan bengong dan berkata, “Kalian siapa? Tolong kembalikan orang tua saya yang asli”, wkwkwk.

Sikap kedua orang tua saya dalam menyatakan kasih sayang kepada anak-anaknya sangat berbeda dengan definisi An. Saya rasa kalau An yang jadi anak mereka, An juga akan merasa tidak disayang. Tapi saya dan saudara-saudara saya tahu kalau orang tua kami sangat menyayangi kami. Kami tidak butuh orang tua kami membangga-banggakan kami di depan orang lain. Kalau ortu kami melakukan itu, kami malah menganggap ortu kami sombong dan tidak memikirkan perasaan ortu orang lain. Kami juga tidak marah kalau ortu kami membanding-bandingkan kami dengan anak orang lain, kami malah menganggap itu sebagai tantangan untuk bisa meraih prestasi yang setara atau malah lebih daripada anak tetangga supaya ortu senang dan kehabisan bahan perbandingan, huehehehe.

Saya juga teringat saat saya nge-kost di luar kota waktu kuliah dulu. Ibu teman kamar sebelah selalu datang mengunjungi anaknya setidaknya satu bulan sekali. Dan setiap kami bertegur sapa, si ibu selalu mencari ibu saya dan menanyakan kapan ibu saya juga menjenguk saya. Saya cuma bisa jawab, mungkin sebentar lagi, hahhah. Padahal sebenarnya, ibu saya tidak pernah menjenguk saya.

Nah, kalau saya jadi An, saya pasti bakalan ngambek sama ibu saya, minta dijenguk juga. Tapi saya berpikirnya kasihan ibu capek harus bolak-balik naik angkutan umum selama kurang lebih 4 jam. Saya baik-baik saja di sana dan tidak menuntut perhatian berlebih dari ibu dalam bentuk kunjungan rutin. Saya bahkan bangga, kalau ibu jarang datang menjenguk, itu artinya ibu percaya kalau saya bisa menjaga diri dengan baik di kota orang.

Tapi ya kembali lagi sih, setiap orang beda-beda. Nggak ada yang salah. Meskipun saya kuatir kalau ibu capek, saya juga pasti bakalan senang kalau misalnya ibu rutin datang menjenguk.

Dan kenapa saya malah jadi curcol yak, hohoho.

Oh ya, ilustasinya keren. Dan di bab-bab terakhir, ilustrasinya berwarna. Cantik sekali.

Ngomong-ngomong, Mooncake adalah salah satu buku dari seri Festival. Buku-buku yang tergabung di dalam Festival series juga diperkenalkan di halaman-halaman terakhir dari buku ini. Jadi penasaran pengen baca mereka semua.

At last, meskipun tadi saya merasanya kisah An kurang seru. Tapi saya suka dengan efek merenung yang berhasil ditimbulkan oleh kisah ini kepada saya. So, 3 dari 5 bintang ya, I liked it.

***

Judul: Mooncake | Seri: Festival | Pengarang: Rizka Amalia | Penerbit: Noura Books | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan I, September 2014, 243 halaman | Rating saya: 3 dari 5 bintang

Posted in Hartoyo Andangjaya, Narasi, Puisi

Kasidah Cinta Review

***

Blurb:

Keharuan yang mendalam karena pengalaman bergaul dengan si darwis pengembara Syam al Din mengubah Rumi dari awalnya seorang alim yang tenang menjadi penuh haru gembira, yang sama sekali tak dapat menahan arus puisi yang berlimpahan mengalir darinya. Untuk melambangkan pencarian Kekasih yang hilang, yang kini diidentifikasikan dengan Syams al Din yang telah pergi itu, konon Rumi menciptakan suatu tarian suci dengan berpusar-pusar melingkar, yang dilakukan oleh para darwis, diiringi bunyi seruling yang meratap dan tingkahan genderang yang berderam. Maka malam pun berganti pagi dalam orgia mistik yang berlangsung lama, sementara Rumi, di bawah pengaruh suasana yang penuh gairah dari saat ke saat, tak henti-hentinya mengucapkan sajak-sajaknya secara spontan, sedang murid-muridnya mencatat sajak-sajak itu untuk kemudian dihafalkan.

My Review:

Hmm…sejak jaman sekolah dulu, saya lebih senang mengerjakan soal matematika daripada menguraikan makna sebuah puisi. Saya tidak bisa memahami makna yang tersirat dibalik kata-kata indah yang menyusun puisi tersebut. Paling jauh saya hanya bisa suka dengan kata-kata indahnya, itupun cuma yang maknanya bisa saya mengerti (atau yang saya kira… bisa saya mengerti), *nangis*.

Sama seperti buku kumpulan puisi ini, saya tidak dapat “feel-nya”. Untungnya ada beberapa baris puisi yang saya kasih post it karena saya suka bunyinya.

Dan diantara baris-baris itu, saya paling suka yang ini:

Diam! Karena ucapanmu buah kurma yang matang, hanya, tidak setiap burung angkasa cocok dengan buah kurma

—Kasidah Cinta, hlm. 140

Baris puisi ini mengingatkan saya untuk berhati-hati dalam bicara. Benar seperti itu kan ya maknanya?, *sigh*.

Oke, itu saja. Tidak bisa “ngomong” banyak-banyak karena saya benar-benar tidak paham. Daripada ntar dibilang sotoy ,*hahhah*.

At last, saya beri 3 dari 5 bintang untuk buku ini, untuk baris-baris puisinya yang saya kasih post it. Yaaa, I liked it.

 

Judul: Kasidah Cinta Jalalu’ddin Rumi | Penerjemah: Hartoyo Andangjaya | Penerbit: Narasi | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan I, 2017, 218 halaman | Status: Owned book | Rating saya: 3 dari 5 bintang