The Fault in Our Stars Review

Baca dan Posting Bareng BBI Juli Tema Sicklit

 photo thefaultinourstars_uploadedbyirabooklover_zpse5713a9a.jpg

Title: The Fault in Our Stars - Salahkan Bintang-Bintang | Author: John Green | Genre: Sicklit – Young Adult – Romance | Edition language: Indonesian | Translator: Ingrid Dwijani Nimpoeno | Publisher: Qanita | Edition: 2nd edition, Februari 2014 | Page: 424 pages | Status: Owned book | Price: Rp49.000,- (Disc 15%) | Purchase location: Mizan Book Fair Ramadhan @ TB Riyadh Banjarbaru | Date purchased: June, 30th 2013 | My rating: 4 of 5 stars

Mengidap kanker pada umur 16 tahun pastilah terasa sebagai nasib sial, seolah bintang-bintang serta takdirlah yang patut disalahkan…

Salahkan bintang-bintang…satu lagi buku tentang karakternya yang sekarat.

Rasanya saya sudah sering sekali membaca buku dengan genre ini. Yah meskipun temanya kurang lebih sama, tapi masing-masing cerita memang punya kesannya sendiri. Dan, curcol dikit, saya menghabiskan banyak tisu ketika membaca buku ini. Meskipun The Fault in Our Stars banyakan lucu dan romantisnya. Tapi tetap saja … sedih.

Senang sekali ketika menemukan TFiOS di Mizan Book Fair Ramadhan. Secara saya dan teman saya baru beberapa hari sebelumnya muter-muter toko buku besar di Banjarmasin buat nyari n buku dan hasilnya nihil.  Ternyata kalau memang sudah berjodoh tidak akan kemana ya *hehehe*

Karena menurut saya buku ini sangat populer, jadi tidak usah ya sinopsisnya ditulis lagi. Hahhhh…rasanya saya tidak sanggup menuliskan kembali cerita Hazel dan Augustus ketika saya sudah tahu bagaimana akhirnya *halah bilang aja males* :D.

Oke… oke… secara singkat, Hazel dan Augustus, sama-sama penderita kanker,  bertemu dalam pertemuan kelompok penyemangat kanker. Mereka jatuh cinta pada pandangan pertama. Mereka sama-sama menyukai sebuah buku yang berjudul Kemalangan Luar Biasa yang ditulis oleh Peter Van Houten. Mereka pergi ke Amsterdam untuk bertemu dengan penulis favorit mereka itu, dan selebihnya adalah bagaimana mereka berjuang untuk menghadapi kanker yang mereka derita lengkap dengan kisah cinta yang manis dan humor-humor yang anehnya, seperti kata Hazel, “membuat gembira tapi secara ganjil menyakitkan”.

Sepanjang cerita, saya sudah was-was—–meminjam istilah Hazel—–menunggu “granat siapa yang akan diledakkan” oleh si penulis. Dan ketika membaca sampai di bagian itu, meskipun sudah siap-siap, tetap saja hati saya jadi mencelos. Apalagi kisah ini diceritakan dari sudut pandang orang pertama. Haduh…meminjam istilah Hazel lagi “rasanya memang tak tertahankan”.

Ngomong-ngomong, saya sedih sekali karena Hazel yang merasa dirinya adalah granat yang suatu waktu akan meledak hanya karena dia sekarat. Yah saya memang belum pernah merasakan orang yang saya sayangi divonis sekarat seperti Hazel, tapi saya pernah merasakan bagaimana orang yang saya sayangi tiba-tiba pergi untuk selamanya tanpa sakit apa-apa. Saya rasa setiap orang adalah granat, bahkan orang yang sehat pun tiba-tiba bisa “meledak”. Jadi Hazel, sayangi saja orang yang ingin kamu sayangi dan jangan menolak untuk disayangi oleh orang yang kamu sayangi *ribet mode on*

Kalau mengalami seperti yang dialami tokoh-tokoh kita di TFiOS ini,  rasanya memang lebih mudah kalau melemparkan kesalahan pada bintang-bintang. Apalagi ketika Hazel bilang kalau dia sudah dicabut dari deretan orang-orang yang terselamatkan dan Augustus bilang dunia bukanlah pabrik  perwujudan keinginan. Hiks…gak bisa komentar lagi deh.

At last,  Augutus-nya keren, Hazel-nya cantik, cerita cinta mereka manis, karakter-karakternya punya selera humor yang bagus, daaaannnnn…. yaahh, seperti cerita-cerita sicklit lain…ending-nya bikin galau, menghabiskan banyak tisu, dan membuat saya kena book hangover selama dua minggu. Selama itu saya masih belum rela mengganti Augustus dengan tokoh cowok lain *eh*.

So, 4 dari 5 bintang deh untuk The Fault in Our Stars. I really liked it :D

Lola Rose Review

Baca Bareng Juli Tema Masalah Remaja/Keluarga

 13891_10201531226562585_4022679394337630092_n

Title: Lola Rose | Author:  Jacqueline Wilson | Edition language: Indonesian | Publisher: Gramedia Pustaka Utama (1st edition, Jakarta, April 2007) | Page: 304 pages | Status: Pinjam di Perpustakan Daerah Kota Banjarbaru | My rating: 5 of 5 stars

 

Hmmm…bulan ini tema baca barengnya adalah masalah remaja/keluarga. Dan pikiran saya langsung konek ke buku Lola Rose yang bertengger di rak perpustakaan daerah kota Banjarbaru. Untung bukunya gak ada yang pinjem. Langsung deh saya sambar dan sempat diperpanjang satu kali karena belum selesai saya baca. Sayang ya kondisi bukunya sudah cukup memprihatinkan :(

Okeh, sebelumnya mari kita simak dulu sinopsis yang ada di cover belakang buku ^^

Karena ayahnya suka memukul, Jayni dan ibunya kabur ke London bersama adiknya, Kenny. Walaupun mereka takut tertangkap, kepergian itu terasa seperti petualangan yang mengasyikkan—-mula-mula. Mereka bahkan mengganti nama, sehingga Jayni menjadi Lola Rose! 

Tapi ternyata kehidupan baru Lola Rose tidak sebagus namanya. Ia tidak menyukai pekerjaan baru Mum, atau pacar baru Mum. Ia juga tidak cocok dengan cowok-cowok di sekolahnya.

Dan ketika Mum harus dirawat di rumah sakit. Lola terpaksa bersikap lebih dewasa daripada umurnya.

Masalah betambah ketika ayahnya kemudian berhasil menemukan tempat tinggal mereka yang baru!

Pikiran pertama saya setelah membaca buku ini adalah buku ini bukan buku anak-anak. Isinya sedikit…errr…kurang sopan untuk anak-anak. Mungkin buku ini cocok buat remaja yang tua-an dikit *halah*.

Kali ini tokoh utama kita, Lola Rose, mempunyai Mum yang sangat cantik, mantan foto model dan punya Dad luar biasa tampan, mantan penyanyi rock. Tapi Mum sangat sembrono dan Dad suka memukul. Ketika Dad mulai berani memukul Lola Rose, Mum segera membawa kabur kedua anaknya.

Berbekal uang hasil menang lotre, mereka bertiga memulai hidup baru. Tapi kesenangan mereka tidak berlangsung lama. Masalah-masalah mulai berdatangan. Kecantikan dan kesembronoan Mum mulai menimbulkan pertengkaran-pertengkaran kecil. Tapi Lola Rose, Kenny, dan Mum tetap saling menyayangi.

Saat Mum sakit, Lola Rose benar-benar bingung. Untunglah dia ingat kalau mereka tidak sendiri. Lola Rose nekat menghubungi seseorang yang dia yakin tidak akan pernah disetujui oleh Mum.

Untungnya juga Lola Rose bersikap dewasa sekaligus masih muda *eh*. Keputusan-keputusan yang diambilnya terbukti jauh lebih bijaksana dibandingkan keputusan-keputusan Mum.

Daaan bagian yang paling berkesan bagi saya dari kisah Lola Rose ini adalah saat Lola Rose berkomunikasi dengan “Suara Bencana” khayalannya. Persis seperti saya saat kecil dulu. Dan mungkin seperti kalian juga. Tahu kan saat kita khawatir akan sesuatu, sering kali ada Suara Bencana yang bicara pada kita. Membisikkan kekhawatiran kepada kita sehingga ribuan kali lebih buruk. Terus Suara Bencana itu juga menantang kita untuk melakukan hal-hal konyol. Seperti Lola Rose yang berjalan sambil menghindari retakan di jalan. Berharap kalau dia berhasil maka apa yang dia khawatirkannya tidak terjadi.

Dengan cara ini, Lola Rose berhasil menghadapi ketakutannya. Si Lola Rose ini takut sekali dengan hiu. Bahkan melihat hiu yang ada di akuarium raksasa pun dia takut. Tapi demi kesembuhan Mum, Lola Rose menantang Suara Bencana. Lola Rose memberitahukan sebuah cara kepada saya untuk menghadapi ketakutan sendiri.

“Ini aku. Aku si sini. Lola Rose,” aku berbisik. “Aku mampu melakukannya. Aku bisa membalas tatapanmu. Kau bisa berenang melintas lagi berulang kali. Kau bisa membuka mulutmu yang mengerikan dan memamerkan semua gigimu padaku, tapi aku takkan beranjak. Aku akan tetap di sini menghadapi kalian selama satu jam penuh. Aku akan membuat ibuku sembuh, kalian tahu.”

Aku memerhatikan mereka, tiap kali mereka berenang melintas, jantungku berdebar keras dan keringat menitik di dahiku. Aku merasa mual, aku perlu ke toilet, aku tak bis berhenti gemetar—-tapi aku tetap di sana.

Aku menghitung tiap detik sampai tiba pada angka 3.600. …

Lola Rose hebaaaaat. Cara ini lumayan ampuh. Saya pernah takut sama cacing, tapi setelah saya lihat saja cacing itu menggeliat-geliat di tanah selama satu jam, ternyata tidak apa-apa yah *hahhhahh*

Oh ya, saya sempat terharu saat Lola Rose dan Kenny mengunjungi ibu mereka di rumah sakit. So sweet sekaligus lucu. Saya juga suka dengan ending-nya. Dan tokoh favorit saya adalah Bibi Barbara. Keren banget deh. Bibi Barbara ini pemaaf, bijak, lucu, percaya diri dan jago bela diri. Tipe bibi yang ideal deh. Dan kemunculannya menyelesaikan hampir semua masalah Lola Rose.

At last, rating saya untuk novel ini adalah 5 dari 5 bintang. Jangan terlalu percaya. Soalnya saya selalu memberi rating full untuk buku-buku Jacqueline Wilson. Karena alasan tertentu, bisa membaca buku-buku beliau itu, seperti dream comes true bagi saya. So, it was amazing :D

Holland: One Fine Day in Leiden Review

 photo holland_zps71ae61de.jpg

 

Title: Holland: One Fine Day in Leiden | Author: Feba Sukmana | Publisher: Bukune | Edition language: Indonesian | Page: 292 pages | Edition: 1st Edition, Jakarta, November 2013 | Status: Owned book | Purchase location: TB Salemba Banjarbaru | Price: Rp54.000,- | My rating: 4 of 5 stars

Sinopsis:

Sejak menjejakkan kaki di Bandara Schiphol, Belanda, dan udara dingin menyambutnya. Kara tak lagi merasa asing. Mungkin, karena ia pun telah lama lupa dengan hangat.

Belasan ribu kilometer dari orang-orang tercinta, ia berharap bisa bersembunyi. Dari masa lalu, luka, dan cinta. Nyatanya, semua itu harus ia temkan lagi dalam kotak tua yang teronggok di sudut kamarnya. Kini, Kara tahu: Ibu yang pergi, Kara yang mencari. Tak ada waktu untuk cinta.

Namun, kala senja membingkai Leiden dengan jingga yang memerah, Kara masih ingat bisik manis laki-laki bermata pirus itu, “Ik vind je leuk” — aku suka kamu. Juga kecup hangatnya. Rasa takut mengepung Kara, takut jatuh cinta kepada seseorang yang akhirnya akan pergi begitu saja. Dan, meninggalkan perih yang tak tersembuhkan waktu. Seperti ibu.

Aku tidak berada di sini untuk jatuh cinta, ulangnya dalam hati, mengingatkan diri sendiri.

Di sudut-sudut Leiden, Den Haag, Rotterdam, dan Amsterdam yang menyuguhkan banyak cerita, Kara mempertanyakan masa lalu, harapan, masa depan, juga cinta. Ke manakah ia melangkah, sementara rintik hujan merinai di kanal-kanal dan menghunjam di jantung kota-kota Negeri Kincir Angin yang memesona?

Alles komt goed — Semua akan baik-baik saja, Kara,

Feba Sukmana

 

Saya takut baca buku ini. Takut lihat judulnya, takut lihat kartu yang terselip di buku. Kartu yang bertuliskan “Orang bilang harapan itu seperti awan. Beberapa berlalu begitu saja, tetapi sisanya membawa hujan. Kau, harapan yang manakah yang kau simpan di hatimu?” 

Leiden dan harapan *sigh*. Betul-betul merasa tertohok.

Buku ini nangkring di rak currently reading selama 2 minggu karena seperti yang saya katakan sebelumnya, saya takut membacanya. Tapi setelah memberanikan diri untuk memulai, ternyata hanya butuh waktu sekali duduk untuk menyelesaikan Holland.

Yaaah, mungkin seperti kata penulis di bagian awal buku. Jatuhnya buku ini ke tangan saya, adalah cara semesta untuk mengingatkan, bahwa mimpi  hanya bisa menjelma nyata jika kita tetap terjaga.

Mimpi konyol saya untuk bisa melanjutkan pendidikan ke Leiden. Mimpi yang semakin lama semakin mirip mimpi si Cebol yang merindukan bulan. Gara-gara itu, banyak sekali bookmark yang saya tempel di buku ini. Untuk adegan-adegan yang saya harap bisa membantu saya untuk tetap terjaga.

Karena cerita Kara, somehow, sama seperti cerita saya, meskipun masalahnya berbeda, tapi kami sama-sama penakut dan peragu.  Sama-sama berusaha melarikan diri alih-alih mencari. Sama-sama memendam amarah dan berpikir yang tidak-tidak. Tanpa sadar kalau sebenarnya kami berjalan di tempat. Takut menerima karena takut kehilangan.

Cerita Kara sendiri mengisahkan tentang pencariannya akan sosok seorang ibu. Kara yang dibesarkan oleh kakek dan neneknya sama sekali tidak tahu siapa orang tuanya. Kakek dan neneknya terkesan merahasiakan hal itu. Sampai Kara memutuskan untuk pergi dan mencari sendiri. Dan Leiden adalah tujuannya.

Tapi saat kakeknya memutuskan untuk memberi tahu, giliran Kara yang takut. Takut akan kebenaran apa yang mewujud dari jika kepingan puzzle yang kosong dihatinya mulai lengkap. Dan Kara memutuskan untuk menunda. Membiarkan kesedihan tentang pertanyaan mengapa orang tuanya seakan tidak menginginkannya tetap ada lebih lama.

Dan sekarang ada Rein. Pria bermata pirus yang mampu membuat jantung Kara berdebar. Namun, sama seperti kebenaran tentang orang tuanya, Kara menghalau rasa itu. Karena menurut Kara, hidupnya sudah rumit, dan dia tidak butuh kerumitan lain. Terutama karena sikap Rein yang sering menghilang tanpa alasan dan muncul kembali dengan tiba-tiba. Kara takut Rein akan meninggalkannya seperti orang tuanya dan menimbulkan luka. Aku tidak berada di sini untuk jatuh cinta, ulang Kara dalam hati.

Cerita yang membuat saya galau karena setting dan dilema yang dihadapi sang tokoh utama pas sekali dengan harapan dan ketakutan saya.

Cerita tentang keberanian untuk menghadapi rasa takut, keberanian untuk menerima dan keberanian untuk memaafkan. Buku ini membuat saya menyadari kalau selama ini saya sama pengecutnya dengan Kara. Kami memilih berada di zona nyaman, selalu menunda dan membiarkan amarah dan kekosongan tetap berada di hati.

Namun saya harap, saya juga akhirnya bisa seperti Kara. Yang akhirnya bisa berani dan tidak membiarkan kekhawatiran tentang masa depan mengambil alih. Cukup ucapkan saja mantranya “Alles komt goed” dan semoga semuanya benar-benar akan baik-baik saja ^^

Okay cukup tentang kegalauan saya :D

Beberapa hal lagi yang saya suka di buku ini adalah deskripsi Leiden-nya yang terasa nyata. Ditambah ilustrasi keren-nya yang membuat saya berharap menemukan lampu Aladin dan meminta jin memindahkan saya ke Leiden sekarang juga.

Juga ada fakta-fakta menarik tentang hubungan Indonesia dengan Belanda. Salah satunya yang berkesan adalah fakta tentang susu bendera :D

Dan sekarang saya ingin memamerkan quote-quote yang sukses membuat saya merasa tertohok ^^

“Mungkin benar, ketidakjelasan harus diteliti. Dan, ketakutan harus dihadapi. Kara merasa seperti anak kecil yang baru saja melongok ke kolong tempat tidur untuk membuktikan bahwa hantu yang ditakutkannya sama sekali tidak nyata.”

hal. 224

“Hanya saja, Kara, jika kau merawat amarah dalam dirimu, waktu akan membuatmu lupa. Kau tak akan ingat lagi penyebab awal yang membuatmu marah. Yang tersisa hanya gumpalan emosi yang tak terjelaskan dan kekakuan untuk memulai kembali. 

Jangan ulangi kesalahanku, Kara. Jangan simpan kemarahan terlalu lama.”

hal. 260

Dan quote ini untuk keluarga dan tetangga-tetangga saya *me-efek ne kesahnya* :D

“Pergilah. Neneknya itu meanatap mata Kara dalam-dalam. “Temukan dirimu. Sudah terlalu lama aku merantaimu atas nama cinta.”

hal. 261

Dan scene terakhir ini rasanya pengen saya bawa kemana-mana. IMO, berasa so sweet banget  ^^

Weet je,” kata Rein menengadah, memandangi awan bergumpal yang berarakan di atas kepala mereka. “Orang bilang, harapan itu seperti awan. Beberapa berlalu begitu saja, tetapi sisanya membawa hujan.”

Kara tersenyum, ikut mendongak. Ah, hujan. Hujan yang sempat diharapkannya mampu menghapus separuh ingatan. “Kalau begitu, semoga saja awan yang memayungi kita akan membawa hujan dan mengabulkan harap” jawab Kara.

At last, selamat berjalan-jalan di Negera Kincir Angin. Selamat menemukan keberanian untuk menghadapi ketakutanmu sendiri. And, 4 dari 5 bintang untuk Holland: One Fine Day in Leiden. I really liked it.

Buku Dalam Hidupku #7, Ring by Koji Suzuki

Berawal dari keberadaan sumur tua di belakang tempat tinggal saya yang baru di kota orang, saya jadi teringat buku horor yang ceritanya sudah sangat populer sampai dijadikan film, Ring by Koji Suzuki.

Melihat sumur itu sontak saya langsung ngebayangin jangan-jangan di dalamnya ada tulang belulang Sadako *berasahorror*.

Saya sudah lama sekali membaca buku ini, waktu saya masih kelas dua SMA, dan  sampai sekarang belum berani nge-reread ataupun membaca sekuelnya. Tapi saya masih ingat salah satu adegan di bagian terakhir ceritanya.

Adegan ketika si tokoh utama (lupa namanya) menyadari bahwa dia telah terjebak di dalam sebuah lingkaran. Lingkaran cincin yang di dalamnya ada impian Sadako yang harus terus disambung karena siapapun yang berani memutusnya akan mendapat amarah Sadako.

Waktu itu, dengan entengnya saya mengatakan kalau si tokoh utama ingin bebas dari lingkaran itu, dia hanya harus mencari orang yang mau berkorban. Orang yang mau berkorban untuk memutus kutukan itu dengan konsekuensi meninggal secara mengerikan karena kutukan Sadako. Haduh, memangnya siapa yang mau yah? *selfkeplak*

Mengingat adegan tersebut, saya jadi memikirkan lingkaran ini. Persis sepeti cincin kutukan Sadako, saya baru menyadari kalau saya juga terjebak di dalam sebuah lingkaran jahat. Dan, IMO, ini berhubungan dengan kebudayaan yang sudah mendarah daging di kota kecil saya.

Sama seperti ketika saya baru menyadari bahwa dialek kota kecil saya ternyata berbeda dengan dialek kota Banjarmasin ketika saya pergi merantau ke luar kota, saya juga baru menyadari salah satu kebiasaan orang-orang (gak semua loh ya) di kota kecil saya yang cenderung melontarkan “kutukan” kepada orang yang telah mereka anggap membuat mereka sakit hati, saat saya sedang berada di kota lain.

Karena menurut saya walaupun kami masih sepulau, orang-orang di tempat tinggal saya sekarang ini jarang ada yang kutuk-mengutuk, setidaknya tidak secara terang-terangan :D

Contoh kutuk-mengutuk di kota kecil saya misalnya begini, ibu saya pernah kecewa dengan seorang tukang bangunan yang membuat ruang makannya tampak dibuat sembarangan alih-alih cantik. Saking marahnya ibu “mengutuk” agar tukang itu tidak mendapat orderan lagi dari orang lain.

Saya juga pernah mendengar seorang atasan yang tersinggung karena bawahannya tidak mentaati perintahnya, dan atasan itu “mengutuk” agar bawahannya itu selamanya jadi bawahan.

Ga usah jauh-jauh deh, saya juga pernah dikutuk secara terang-terangan oleh dua orang cowok yang saya tolak cintanya *preeeet….sok populer deh lo Ra*. Secara halus mereka kira-kira bilang begini:  “tunggu aja karmanya”. Grrrrrr, ampun deh, awas loh ya gue kutuk balik *eh*.

Saya juga pernah mengutuk orang yang seenaknya membentak saya di depan umum dan mengatakan saya buta warna karena pas foto yang saya serahkan background merahnya terlalu terang sehingga warnanya cenderung jadi merah oranye. Orang itu bilang “heh kamu ini buta warna ya, ini foto backgroundnya bukan merah, tapi cokelat!!!”.

Nah lo, reaksi pertama saya adalah saya langsung mengutuk orang itu di dalam hati semoga dia selamanya ga bisa bedain warna cokelat sama warna merah oranye. Kakak yang saat itu menemani saya ternyata juga langsung mengutuk semoga anak orang itu nantinya juga buta warna.

Bahkan saat saya di kota lain dan bertemu dengan teman sekampung, saya juga pernah mendengar dia mengutuk seseorang. Haduh, sepertinya kutuk-mengutuk ini sudah jadi budaya di kota kecil kami. Dan ini bukan pengaruh dari serial Mahabrata yang sekarang lagi populer :D

Untuk orang-orang di kota kecilku, manusiawi memang, kalau kita merasa disakiti, kita akan marah dan mengutuk orang yang kita anggap sudah berbuat jahat pada kita. Berharap karma yang sama berlaku untuk orang itu supaya kita puas dan sakit hati kita terbalaskan. Dan kita anggap itu sah-sah aja. Toh dia yang salah duluan.

Tapiiiiii coba deh bro buka pikiran dan coba tarik diri  untuk melihat dari sudut pandang orang luar, saya rasa apa yang kita lakukan itu jahat ya, jahat sekali.

Dan alih-alih percaya dengan karma, saya lebih percaya dengan firman Tuhan di surah Az-Zalzalah ayat ke 7-8 berikut: *edisiramadhan*:

7. Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.

8. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.

IMO, bro, itu artinya kalau kita balas sakit hati kita dengan mengutuk orang yang bersangkutan supaya dia menderita, maka kita sama saja berbuat jahat dengan orang itu, dan itu artinya kita membiarkan diri kita untuk mendapatkan balasan kejahatan lagi. Dan kalau kita dijahati lagi (biasanya lewat orang yang berbeda), dan kita kutuk dia lagi, maka kita akan dapat balasan kejahatan lagi. Begitu seterusnya gak putus-putus. Kayak lingkaran kutukannya Sadako.

Dan saya rasa itu menjawab pertanyaan atas kesialan-kesialan yang selama ini terjadi di hidup saya. Gak terhitung deh sudah berapa kali saya mengutuk orang kalau saya merasa sakit hati. Dan kutukan itu jelas merupakan undangan bagi kesialan-kesialan yang datang menghampiri saya, termasuk mau pipis saat sudah duduk manis saat tarawih di mesjid mau dimulai *abaikan*.

Terlebih karena kebiasaan yang manusiawi tanpa sadar saya terjebak di lingkaran itu. Dan sama seperti pendapat saya sebelumnya tentang lingkaran Sadako, saya rasa lingkaran itu juga bisa diputus kalau ada yang mau berkorban.

Untungnya berkorbannya ga perlu mati secara mengerikan versi kutukan Sadako. Berkorbannya cuma perlu maaf. Yaaa, maaf. Kalau kita bisa memaafkan orang yang menyakiti kita alih-alih ngasih dia kutukan, maka kita akan mendapatkan kebaikan alih-alih kejahatan yang terus bersambung.

Tapiiiiiiii….susah memang. Reaksi pertama memang harus marah kayaknya. Tapi tahan deh jangan sampai ngutuk orang. Maafkan Ra … maafkan *jedotinkepalakedinding*.

Mungkin begini saja ya, saat ada orang yang menyakiti kita, reaksi pertama kita setelah marah adalah, tarik napas. Terus buka pikiran deh, tuh orang jadi nyebelin ke kita jangan-jangan kita duluan yang bikin dia sebal. Gak ada asap tanpa api kan. Terus saya juga pernah baca di sebuah buku (lupa judulnya) kalau dalam perang itu, kedua belah pihak pasti sama-sama merasa benar. So, jangan boro-boro merasa kita yang teraniaya dulu ya, coz siapa tahu ternyata kita yang menganiaya duluan.

Nah, gara-gara sumur ini, yang mengingatkan saya sama lingkaran cincinnya kutukan Sadako, saya harap saya bisa keluar dari lingkaran jahat yang ini. Saya harap saya bisa mencabut setiap kutukan yang sudah terlanjur saya lemparkan ke orang-orang.

Untung waktu ngutuk saya ga seperti Maleficent yang bilang “tidak ada kekuatan di dunia yang bisa menangkal kutukan ini” :D. Saya percaya Tuhan yang Maha Kuasa bisa menghapus kutukan itu. Saya maafkan kalian semua. Maaf saya sudah pernah merasa dongkol dengan kalian, siapa pun itu. Maaf reaksi pertama saya saat itu adalah mengutuk kalian dengan hal-hal yang jelek. Sungguh saya minta maaf.

Saya betul-betul berdoa mohon bantuan kepada Tuhan semoga Dia menghapus dendam yang ada di hati saya. Karena jujur bro, ada beberapa dari kelakuan kalian yang bikin saya masih sedikit jengkel *eh*.

Dan saya harap semua orang yang sudah pernah mengutuk saya juga bisa memaafkan saya. Saya betul-betul minta maaf. Salah saya pernah berkata kasar kepada kalian dan membuat kalian tersinggung. Salah saya kalau background foto itu berwarna merah oranye. Dan masih banyak salah saya yang lain. Ya betul itu semua salah saya dan saya tidak berhak mengutuk kalian. Maaf sekali lagi.

Dan terima kasih tak terhingga kepada Tuhanku yang Maha Pengasih dan Penyayang. Yang membuat saya membaca buku Sadako, yang membuat orang tua saya tidak menutup sumur di belakang rumah itu. Saya percaya tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Semuanya sudah Kau atur. Terima kasih sudah menunjukkan cahaya-Mu kepadaku.

Dan ngomong-ngomong tentang cahaya, tetiba saya jadi keingat Jamie yang diperankan oleh Mandy Moore, menyanyikan lagu Lighthouse di film A Walk to Remember sebagai permintaan kepada Tuhannya untuk selalu membimbingnya. Dengan sedikit penyesuaian lirik, saya rasa saya juga bisa meminta hal yang sama kepada Tuhan saya ^^

Here is my thought, this is my plea.

God let Your holy light, shine on me.

I believe in You, hear my prayer.

I know I am not worthy but I need your help.

God shine Your light, shine it this way.

Shine it so I can see which way to take.

My faith is in you, to bring me through.

I have one question.

Lirik yang indah ya ^^

Dan ngomong-ngomong tentang cahaya lagi, saya jadi teringat juga sama bagian penutup The Tale of Despereaux by Kate diCamillo,

Aku akan senang sekali kalau kau menganggap aku sebagai tikus yang bercerita kepadamu, menceritakan kisah ini dengan segenap hatiku, membisikkannya ditelingamu untuk menyelamatkan diriku dari kegelapan, dan untuk menyelamatkanmu dari kegelapan juga.

“Cerita seperti cahaya,” kata Gregory si sipir pada Despereaux.

Anak-anak, kuharap kau menemukan cahaya di sini. 

Ya benar sekali Kate diCamillo, aku menemukan cahaya di ceritamu. Disetiap tokohnya, yang menyelamatkan hati mereka masing-masing dari kegelapan dengan memaafkan. Memaafkan dengan tulus, meskipun yang telah dilakukan oleh musuh mereka sangat menyakitkan. Terima kasih ^^

Ngomong-ngomong, mungkin ada yang bertanya-tanya tentang judul artikel ini kok sudah langsung Buku dalam Hidupku #7. No. 1-5 nya sudah dipost duluan untuk event #5BukudalamHidupku yang diadakan oleh Mas Irwan Bajang. Terus saya memutuskan untuk melanjutkan “hashtag” ini. Yang ke-6 saya post untuk event BBI Anniversary.

At last, mumpung masih dalam suasanan Ramadhan, saya mau mengucapkan Selamat Menunaikan Ibadah Puasa ya ^^. Dan karena sebentar lagi lebaran, saya juga mau mengucapkan Selamat Idul Fitri 1435 H. Semoga kita berhasil meraih fitrah di tahun ini. Mohon maaf lahir dan batin semuanya.

See yaaa :D

Gideon The Cutpurse Review

 photo gideonthecutpurse_uploadedbyirabooklover_zps3490003f.jpg

Title: Gideon The Cutpurse – Para Penjelajah Waktu | Author: Linda Buckely – Archer | Genre: Fantasy – Time Travel | Edition language: Indonesian | Translator: Berliani M. Nugrahani  | Publisher: Mizan Fantasi | Edition: First edition, Februari 2009 | Page: 511 pages Status: Pinjam di Perpustakaan Daerah Kota Banjarbaru | My rating: 4 of 5 stars

“Dari sudut pandang yang luas, pikirnya, kehidupan kita berakhir dalam satu kedipan mata dan  ada kalanya setiap waktu seolah-olah berakhir selamanya”—-hal 41

Kalimat yang paling berkesan bagi saya dari buku ini. Memang, kadang-kadang, ada sebuah peristiwa yang membuat seakan-akan rutinitas kehidupan kita berakhir dalam satu kedipan mata.

Seperti yang terjadi pada Peter. Di hari ulang tahunnya yang kedua belas, yang perayaannya diundur kurang lebih 3 bulan karena ayahnya sibuk, Peter kembali harus kecewa karena lagi-lagi ayahnya membatalkan janji untuk merayakan ulang tahunnya.

Peter sangat kecewa. Rencana perayaan ulang tahun yang seharusnya dihabiskan seharian bersama ayahnya harus digantikan dengan bepergian ke rumah keluarga Dyer, keluarga kenalan pengurus rumah tangga mereka,  Margrit, di sebuah peternakan di Derbyshire.

Peter meneriakkan kata “Aku benci Dad!” sebagai kata terakhir yang terucap diantara dia dan ayahnya. Dan baik Peter maupun ayahnya sama-sama menyesal kemudian.

Karena di Derbyshire, di laboratorium milik Dr. Dyer, Peter dan anak perempuan Dr. Dyer, Kate, mengejar anjing Kate yang tidak sengaja lari menuju sebuah mesin anti-gravitasi. Siapa sangka mesin itu ternyata membawa mereka ke Inggirs di tahun 1763.

Di tahun tersebut, Peter dan Kate bertemu dengan seorang seseorang yang kabur sambil membawa mesin anti-gravitasi. Mereka juga bertemu dengan seorang pengelana tampan bernama Gideon. Gideon berjanji untuk membantu mereka pulang dan menjelaskan bahwa orang yang membawa mesin mereka adalah penjahat terkenal yang bernama Tar Man. Dan mereka harus pergi ke London untuk bisa menemukannya.

Gideon membawa Peter dan Kate ke rumah majikan barunya, Keluarga Byng. Kepada keluarga itu, Gideon mengarang cerita kalau Peter dan Kate adalah sepasang sepupu yang terpisah dari paman mereka karena dirampok di tengah jalan. Mrs. Byng yang baik hati menawarkan tumpangan ke London karena dua anak laki-laki nya Sydney dan Jack, diundang ke London oleh saudara laki-lakinya, Sir Richard Picard.

Bersama sepupu Mrs. Byng, Parson Ledbury, Sydney, Jack dan pengurus rumah tangga, Hannah, Peter dan Kate berangkat ke London. Gideon yang juga ada urusan ke London sebenarnya ingin berangkat bersama mereka. Namun pertengkaran kecilnya dengan Parson membuat Gideon memutuskan untuk berangkat sendiri saja.

Ditengah perjalanan, rombongan Peter dan Kate diserang perampok. Untunglah Gideon lewat tepat waktu dan menyelamatkan mereka. Parson pun akhirnya berbaikan dengan Gideon. Tapi Parson masih tetap curiga kepada Gideon.

Kecurigaan Parson terhadap Gideon membuat Peter penasaran. Akhirnya Gideon mengakui kalau dirinya adalah seorang mantan pencuri. Meskipun kecewa, Peter tetap harus mengandalkan Gideon karena hanya Gideon yang percaya bahwa mereka berasal dari abad ke-21.

Singkatnya, kisah ini menceritakan petualangan Peter dan Kate di tahun 1763 untuk merebut kembali mesin anti-gravitasi mereka yang telah dicuri oleh Tar Man. Untunglah Gideon, Sir Richard, Parson dan Byng bersaudara mau membantu mereka.

Banyak kejadian mendebarkan di dalam petualangan mereka. Diserang perampok dua kali, penculikan terhadap Gideon yang masa lalunya ternyata tidak semudah itu ditinggalkannya sampai dengan perlombaan antara Gideon dan Tar Man untuk memperebutkan mesin anti-gravitasi itu yang berujung kepada terancamnya nyawa Gideon.

Siapa sebenarnya Gideon ini dan berhasilkan Peter dan Kate kembali ke abad 21?

Hmmmm….lagi…buku yang membuat saya tidak tahu mau menulis apa. Seru dan lucu dengan nuansa abad ke-18 yang digabungkan dengan teknologi abad ke-21.

Bagaimana rasanya melihat daerah yang kita kenal selama ini tiba-tiba berubah penampilan seperti penampilannya berabad-abad lalu. Bagaimana rasanya berada di jaman yang sangat berbeda dan bertemu dengan orang-orang hebat yang di masa depan namanya tercetak dalam sejarah.

Petualangan Peter dan Kate diakhiri dengan ending yang tidak terduga. Siapa sangka apa yang akan terjadi dengan kita di detik berikutnya. Kadang-kadang kehidupan kita yang seakan terus berlanjut dan mengalir memang bisa berakhir dalam satu kedipan mata.

Ngomong-ngomong, saya sudah lama ingin membaca seri ini. Tapi setiap pengen beli atau pinjam di perpustakaan, saya selalu menemukan bahwa seri ini tidak lengkap.

Akhirnya, perpustakaan memiliki seri lengkapnya. Buku ketiga, Time Quake,  sudah nangkring di rak dengan kondisi nya yang masih baru dan mulus. Saya harap toko buku pun demikian. Supaya saya tidak galau melihat seri yang tidak lengkap nangkring di rak buku saya. Tapi mengingat buku ini diterbitkan tahun 2009, mungkin sekarang sudah agak susah ya mencarinya.

Ngomong-ngomong lagi,  ketika membaca buku ini, saya menemukan selembar uang lima ribu rupiah yang terselip di halaman 51. Nah lo, bagi para pengunjung perpustakaan daerah kota Banjarbaru yang pernah merasa meminjam Gideon the Cutpurse sebelum tanggal 28 Juni 2014 mungkin bisa mengingat-ngingat apakah kalian menggunakan uang lima ribu kalian untuk dijadikan pembatas buku :D

Oh ya, saya punya beberapa kutipan favorit yang harus saya abadikan di dalam blog sebelum buku ini saya kembalikan ke perpustakaan. Yang pertama dari Gideon:

“Jalanilah kehidupan dengan harapan bahwa kebaikan akan menanti kalian dan bahwa meskipun orang jahat selalu ada, tetapi jantung negeri kita tetap sehat dan kita harus menciptakan surga kita sendiri di muka bumi ini.”— hal 488

Dan yang ini ada di bagian akhir buku:

“Ini bukanlah kisah tentang awal penuh harapan yang berakhir mulus; ini adalah kisah tentang tokoh-tokoh yang mendapati diri mereka berada di tempat yang tidak semestinya, tanpa mengetahui — sama seperti kita semua — bagaimana kisah mereka akan berakhir. Dan mereka selalu menyadari bahwa hanya harapan dan tekadlah yang menjadi pemisah antara diri mereka dan bencana.”

Dan ada satu kutipan indah, yang menurut penulisnya, diminta oleh Kate untuk menyalinnya di buku ini:

“Waktu bukanlah majikan kita meskipun pendulum senantiasa berayun, Melalui kekuatan Memori dan Imajinasi, tidakkah kita bisa dengan sekehendak hati berenang mengarungi sungai Waktu, menyelami Masa Lalu sekaligus Masa Depan kita? Dipandang dari sudut yang sama, maka pendapat bahwa Waktu adalah hal yang konstan menjadii ilusi semata. Jalan Waktu yang tidak berkaitan dalam mimpi-mimpi kita, menjadi terabaikan dalam aktivitas dan hanya benar-benar dapat diselami dalam kebosanan yang akut. Oleh karena itu, jangan biarkan Waktu menjadi majikanmu, namun jadilah majikan bagi Waktu.”

Citizen Montfaron, mantan Marquis de Montfaron — hal 511

At last, saya speechless setelah membaca buku ini. 4 dari 5 bintang untuk Gideon the Cutpurse terutama untuk pelajaran mengenai harapan, waktu dan Gideon yang baik dan tampan *eh*.

I really liked it :D

Insurgent Review

 photo insurgent_uploadedbyirabooklover_zpsd18a9055.jpg

Title: Insurgent | Author: Veronica Roth | Genre: Dystopia | Edition language: Indonesian | Translator: Nur Aini  | Publisher: Mizan Fantasi | Edition: First edition, Desember 2012 | Page: 551 pages Status: Pinjam di Perpustakaan Daerah Kota Banjarbaru | My rating: 4 of 5 stars

Terkadang saya sangat menyukai kebiasaan saya yang tidak bisa tidak menamatkan sebuah seri meskipun buku pertama dari seri tersebut, menurut saya, tidak terlalu berkesan.

Seperti seri Divergent ini. Dulu waktu membaca buku pertama, saya tidak terlalu terkesan dengan ceritanya. Menurut saya, suasana distopianya terlalu dipaksakan. Tapi sekali lagi, karena saya tidak bisa tidak menamatkan sebuah seri, saya tetap membaca Insurgent.

Ternyata Insurgent tidak mengecewakan. Sangat bagus malah. Seandainya saja minggu ini saya tidak terlalu sibuk, mungkin saya bisa menamatkannya sekali duduk.

Saya sudah hampir lupa bagaimana cerita pertualangan Tris di Divergent. Yang saya ingat hanyalah Tris tidak terpengaruh simulasi dan berhasil selamat dari penyerangan. Untunglah akhirnya saya bisa masuk ke dalam cerita Insurgent dan sedikit demi sedikit ingat apa yang terjadi dengan Tris dan kawan-kawan di Divergent.

Petualangan Tris d Insurgent dimulai dengan pelarian mereka ke faksi Amity. Faksi Amity yang cinta perdamaian menyambut mereka dengan tangan terbuka. Tapi bagaimanapun, faksi Dauntless sepertinya tidak bisa lama-lama diajak untuk bersikap seceria faksi Amity. Sampai akhirnya inspeksi mendadak dari faksi Erudite memuluskan jalan Tris dan kawan-kawan untuk kabur dan tidak sengaja bertemu dengan para factionless.

Di kediaman para factionless, Tris menemukan bahwa kehidupan para orang terbuang ini tidaklah semengerikan yang dipikirkannya. Para factionless ternyata cukup banyak dan mereka hidup berkelompok.

Dari kediaman factionless, Tris dan Tobias kemudian pergi ke faksi Candor. Disana mereka bertemu dengan teman pengungsi sesama Dauntless dan Erudite yang tidak setuju dengan apa yang telah dilakukan oleh Jeanine, si pemimpin Erudite.

Para faksi Dauntless yang masih setia tersebut berencana untuk menyerang faksi Erudite yang sepertinya terobsesi untuk mengendalikan faksi lain di bawah simulasi. Tapi faksi Amity dan faksi Candor memutuskan untuk tidak ikut campur tangan dalam masalah ini. Faksi Dauntless pun akhirnya bersekutu dengan para factionless untuk menyapu bersih faksi Erudite beserta pengetahuan-pengetahuan mereka.

Namun Tris merasa apa yang mereka lakukan tidak benar. Belum lagi dia tidak sengaja mendengar bahwa alasan faksi Erudite menyerang faksi Abnegation adalah karena sebuah informasi.

Apapun informasi itu pastilah sangat penting sehingga Jeanine tega menghabisi seluruh faksi Abnegation. Dan informasi itu sekarang pasti tersimpan dalam ruang pengetahuan Erudite sehingga Tris tidak bisa membiarkan pengetahuan tersebut dihancurkan oleh para Dauntless dan factionless.  Tapi sayangnya Tobias tidak sepakat dengan Tris.

Hmmmm…bingung mau nulis apa lagi. Yang pasti di Insurgent, para faksi pengungsi sibuk berpindah-pindah markas karena faksi Erudite mengejar-ngejar mereka dan doyan banget menembak faksi-faksi yang tersisa dengan tembakan simulasi pengendali.

Disini Tris juga masih galau berat karena merasa bersalah atas kematian orang tua dan sahabatnya dipenyerangan pertama. Sampai-sampai Tris merasa tidak sanggup lagi memegang pistol untuk selamanya.

Dan endingnya…OMG…gantung banget. Saya sudah curiga ini buku pasti selesai sampai disitu saja. Informasi penting itu akhirnya terkuak dengan cara yang sangat bikin penasaran. Informasi ini juga mengubah persepsi saya tentang dunia distopia Divergent, yang awalnya menurut saya terlalu dipaksakan, menjadi wajar-wajar saja. Saya akhirnya paham kenapa dunia Tris dibuat jadi faksi-faksi seperti itu.

At last, saya suka sekali dengan Insurgent. Alur yang cepat dan kejutan-kejutannya sepertinya bakalan membuat saya perlu bacaan ringan dulu sebelum membaca Allegiant. Disisi lain, saya penasaran sekali dengan bagaimana akhir petualangan Tris. Hedeh, galau deh jadinya.

Ngomong-ngomong, melihat apa yang terjadi di dunia Divergent, saya jadi merasa ngeri sendiri kalau memikirkan bagaimana sebuah informasi bisa membuat faksi-faksi saling bunuh.  Sebuah informasi yang diketahui sebelum waktunya ternyata tidak bagus juga. Apalagi kalau informasi tersebut diketahui oleh seseorang yang berkuasa seperti Jeanine. Reaksinya terhadap informasi tersebut akhirnya menimbulkan kekacauan.

Jadi, saya rasa sebaiknya sebuah kebenaran memang harus disampaikan, tapi kita harus bijak menentukan kapan kebenaran itu sebaiknya disampaikan.

So, selamat menikmati petualangan Tris dan Tobias di Insurgent. Seru, galau, bikin deg-degan, dan ending-nya gantung. 4 dari 5 bintang untuk Insurgent. I really liked it.