Scene on Three #37 | The Screaming Staircase

Scene on Three hosted by Bacaan Bzee

“Tidak, hantu itu sama sekali tidak bicara. Aku hanya merasakannya. Bisa saja aku salah. Sulit untuk dipastikan kapan harus mempercayai perasaan-perasaan ini, dan kapan untuk tidak mempercayainya.” Aku mengambil truffle cokelat, memainkannya di tangan, meletakkannya kembali. Mendadak aku membuat keputusan. “Masalahnya Lockwood,” kataku, “aku tidak selalu benar. Sebelum ini aku pernah berbuat kesalahan fatal.

(hal 399-400)

Continue reading

Shadow and Bone Review

shadow_and_bone_uploaded_by_irabooklover

Sinopsis:

Terkepung musuh, Negara Ravka yang pernah berjaya, saat ini terbagi dua oleh wilayah terselubung kabut kegelapan penuh monster pemburu daging manusia. Nasib Ravka berada di pundak seorang pengungsi kesepian, Alina Starkov.

Yatim piatu, kesepian, dan merasa tidak istimewa, hidup Alina bernar-benar suram jika saja tak ada Mal, satu-satunya sahabat Alina yang tersisa. Ketika resimennya diserang di Shadow Fold, sahabatnya terluka parah. Semua yang ia miliki nyaris terenggut darinya.

Alina dibawa ke istana untuk dilatih sebagai anggota Grisha, pasukan sihir pimpinan Sang Kelam yang misterius. Sang Kelam percaya bahwa di balik masa lalunya yang mencekam, Alina memegang kunci yang bisa membebaskan negaranya dari peperangan. Namun, itu berarti Alina harus berpisah dengan Mal.

Dengan kegelapan yang terus membayangi dan seluruh kerajaan bergantung pada kekuatannya, Alina harus berhadapan dengan rahasia Grisha … dan rahasia hatinya.

Dan rahasia hatinya …. hmmm …. ntah kenapa saya tidak suka bunyinya  .*abaikan*. :D

Shadow and Bone…cover-nya keren, setting-nya keren, tapiiii, ceritanya mengingatkan saya dengan The Magician’s Guild by Trudi Canavan.

Ga tahu juga kenapa ini jadi sangat mengganggu saya. Kisahnya mirip. Tentang seorang gadis yang pada awalnya bukan siapa-siapa, tapi ternyata memiliki kekuatan sihir yang luar biasa, yang akhirnya terlibat asmara dengan pemimpin tertinggi kelompok penyihir. Kebetulan si pemimpin ini juga berpakaian hitam-hitam. Dan setiap penyihir atau istilahnya Grisha di sini punya identitas warna masing-masing.

Tapi … untunglah ending-nya beda :D

Alina Starkov, gadis yatim piatu yang biasa-biasa saja, tiba-tiba menemukan kekuatannya ketika sahabatnya sejak kecil, Malyen ‘Mal’ Oretsev, hampir tewas karena serangan makhluk pemakan manusia bernama Volcra yang menyerang mereka ketika mereka mendapat perintah untuk menyeberangi Shadow Fold, sebuah wilayah gelap berbahaya yang memisahkan negara Ravka menjadi dua.

Alina pun segera dibawa menghadap Sang Kelam, Grisha terkuat Raja yang bisa mengendalikan kegelapan. Alina akhirnya mengetahui kalau dia adalah seorang Grisha yang dapat mengendalikan Cahaya. Alina segera dibawa ke kediaman para Grisha untuk dilatih dan ini artinya dia harus berpisah dengan Mal.

Alina pun terlibat masalah politik istana. Bingung siapa yang mengatakan kebenaran dan siapa yang berbohong. Belum lagi Sang Kelam yang tampaknya tertarik dengannya. Sang Kelam juga meminta Alina untuk memakai penguat gelombang terkuat yang pernah ada untuk meningkatkan kekuatannya agar bisa digunakan untuk menghancurkan kegelapan di Fold. Sayangnya, penguat gelombang ini sangat sulit didapatkan.

Dan masalah adalah tanpa penguat gelombang pun sudah banyak pihak yang ingin memanfaatkan Alina, bahkan ada yang ingin membunuhnya karena kekuatan cahayanya lah satu-satunya cara untuk menghancurkan kegelapan di Fold.

So, bagaimana nasib Alina selanjutnya? Siapa yang harus dia percayai? Dan bisakah dia bertemu dengan Mal lagi?

At last, yang pasti walaupun setting Rusianya keren dan ceritanya diceritakan dengan menarik, tapi gara-gara keingat sama penyihir-penyihir Imardin di The Magician’s Guild, saya jadi rada gimana gitu membaca kisah petualangan Alina.

Tapi, ini cerita bikin penasaran deh. Gimana akhirnya ya? Tampaknya Alina dan Mal harus menghadapi masalah super berat kali ini. Ah, tapi dengan kemurahan hati yang diajarkan oleh kisah ini, sepertinya mereka berdua akan baik-baik saja. Semoga :3

And, 3 dari 5 bintang untuk Shadow and Bone. I liked it ^_^

***

Judul: Shadow and Bone | Pengarang:  Leigh Bardugo | Edisi bahasa: Indonesia | Penerbit: Mizan Fantasi (Cetakan Pertama, Juni 2013) | 1st Published: 2012 | Jumlah halaman: 352 halaman | Status: Pinjam di Perpustakaan Daerah Banjarbaru| My rating: 3 of 5 stars

The Tar Man Review

the_tar_man_uploaded_by_irabookloverLanjutan petualangan Peter dan Kate di abad ke-18….

Di buku sebelumnya, Kate dan ayahnya berhasil pulang ke abad 21 sedangkan tempat Peter diambil olih oleh Tar Man. Kate yang sudah berjanji pada Peter untuk tidak pernah meninggalkannya segera kembali ke abad 18 dengan membawa serta ayah Peter.

Malangnya, mereka berdua terdampar di tahun yang salah. Bukan hanya itu, mesin anti-gravitasi yang membawa Kate dan ayah Peter rusak sehingga mereka terancam terjebak selamanya di abad ke-18. Satu-satunya ilmuwan masa lampau yang diharapkan dapat memperbaiki mesin itu tinggal di Perancis, dimana saat itu revolusi sedang berlangsung.

Sementara itu, Tar Man mulai membuat ulah di abad 21. Bersama Anjali, gadis pencopet cerdas yang tidak sengaja ditemuinya dan juga Tom, anak miskin malang yang juga berasal dari abad 18, Tar Man membangun kerajaannya sendiri. Tar Man bahkan dengan berani mengancam inspektur Wheeler setelah Lord Luxon yang licik menjejali kepalanya dengan ide mengerikan tentang bagaimana seharusnya seorang penjahat memanfaatkan mesin waktu.

Segalanya jadi kacau balau. Ayah Kate, Dr. Dryer, harus kembali menjemput anak-anak dengan mesin cadangan. Namun, saat kekacauan tampaknya sudah berakhir, Tar Man dan Lord Luxon kembali membuat kekacauan baru.

Hmmm…ceritanya datar-datar saja di awal. Tapi untunglah saya sudah cukup berpengalaman dalam membaca novel tebal sehingga masih punya kekuatan *halah* untuk membaca lembar demi lembar halaman-halaman awal dari buku ini sampai akhirnya saya mencapai bagian dimana saya tidak bisa berhenti membaca.

Dan kesan saya setelah selesai membaca buku ini adalah: astagaaaa!!! Perasaan saya teraduk-aduk, terpelintir seperti spiral waktu yang membuka saat Kate dan Peter melakukan perjalanan menembus waktu. Konsep perjalanan menembus waktu memang menarik tapi konsekuensinya…terlalu mengerikan. Adaaaa saja orang jahat yang ingin memanfaatkan pengetahuan luar biasa itu untuk kepentingan pribadi.

Ngomong-ngomong saya suka sekali dengan konsep deja vu yang dijelaskan oleh Dr. Pirretti. Sungguh masuk akal. Mungkinkah peristiwa deja vu itu adalah diri kita di dunia paralel lain yang berusaha memberitahu kita untuk melakukan sesuatu? Well, tiba-tiba saja saya ingin jadi ilmuwan fisika :D

Ah dan disini juga ada tokoh yang menarik perhatian saya. Setelah di buku sebelumnya tokoh favorit saya adalah Gideon yang tampan. Sekarang ada Louis-Philippe, anak bangsawan Prancis yang digambarkan sebagai pemuda yang luar biasa tampan. Meskipun begitu, katanya, ketampanannya tidak ada apa-apanya kalau dibandingkan dengan sepupu-sepupunya. Betul-betul keluarga yang luar biasa :D

Ayahnya Louis-Philippe inilah ilmuwan hebat yang dicari-cari oleh Kate dan Mr. Schock untuk bisa memperbaiki mesin anti-gravitasi milik mereka yang rusak.

Nah, berhasilkan mereka pulang dan memulangkan orang-orang yang tidak seharusnya berada di tahun yang salah? Well, 3 dari 5 bintang untuk buku kedua dari The Gideon Trilogy ini karena halaman-halaman awalnya yang terlalu datar. Tapi, untuk ending-nya, sama seperti buku pertama, membuat perasaan saya terpelintir tentang bagaimana waktu menyimpan rahasianya. I liked it ^_^

***

Title: The Tar Man – Penjahat dari Masa Silam | Author: Linda Buckely – Archer | Genre: Fantasy – Time Travel | Edition language: Indonesian | Translator: Berliani M. Nugrahani  | Publisher: Mizan Fantasi | Edition: First edition, April 2009 | Page: 612 pages Status: Pinjam di Perpustakaan Daerah Kota Banjarbaru | My rating: 3 of 5 stars

Buku Jalan-jalan #6 – The Scarecrow and His Servant Song

 photo bukujalanjalan_zpsf2569632.jpg

Weekend pertama di bulan Desembeeerrrrr  \^_^/

Waktunya untuk mengumumkan (halah mengumumkan) lagu dari buku yang saya baca untuk proyek Buku Jalan-Jalan bersama Zelie @ Book-admirer  :D

Bulan November tadi, saya meminjam buku The Scarecrow and His Servant by Philip Pullman.

IMG_20141115_0001

Kebetulan saya menemukan  lagu yang saya rasa cocok dengan buku ini.  Ayo silakan didengarkan dulu lagu Mean by Taylor Swift  berikut:

Pas banget di videonya ada setting pedesaan lengkap dengan tumpukan jerami, hehehe, *apa coba*

Mendengarkan lagu ini mengingatkan saya saat  Si Boneka Jerami dan Jack berjalan-jalan (atau dikejar-kejar) dalam petualangan mereka. Apalagi setelah adegan Si Boneka Jerami dan Jack bertemu dengan si peramal yang memanfaatkan keluguan Si Boneka Jerami. Juga adegan ketika mereka berlari dari rumah suami istri petani yang terganggu dengan suara sumbang Si Boneka Jerami. Dan juga adegan waktu si Boneka Jerami tidak disukai para aktor di pementasan. Nah, kalo saya yang jadi boneka jerami saya akan menyanyi “why you  gotta be so mean?” :D

Oke, ini lagu pilihan saya untuk Buku Jalan-jalan bulan ini. Klik di gambar Buku Jalan-jalan di atas untuk berkunjung ke blog Zelie yaaa ^_^

Sampai jumpa di weekend pertama bulan depaaaaan \^_^/

Buku Jalan-jalan #6 – The Scarecrow and His Servant Review

 photo bukujalanjalan_zpsf2569632.jpg

Buku Jalan-jalan Bulan November: The Scarecrow and His Servant by Philip Pullman

IMG_20141115_0001

***

Sinopsis:

Suatu malam, hujan badai menerpa. Petir menyambar sebuah boneka jerami, dan tahu-tahu boneka itu hidup!

Maka dimulailah kisah si boneka jerami, yang meski berotak kacang poling, namun punya ide-ide cemerlang. Ia bertemu Jack, anak laki-laki yang setia menemaninya. Berbagai petualangan seru mereka alami: bertemu gerombolan perampok, terombang-ambing di laut, menghindari akal-akalan keluarga Buffaloni. Tujuan mereka adalah Spring Valley, tempat menakjubkan yang tertulis di hati si boneka jerami.

Buku keenam untuk proyek Buku Jalan-Jalan bersama Zelie @ Book-admirer \^_^/

Sukaaaaaa…pakai banget sama buku ini :D

Ini si boneka jerami lucu banget sih, penuh pikiran positif tapi konyol. Polos banget nih si boneka. Saking polosnya dia jadi menyebabkan banyak masalah. Kalau begini sih kasihan Jack, si pelayannya. Tapi setidaknya Jack mempunyai tuan yang sangat percaya dan menyayanginya. Dan juga masalah itu ternyata membawa si boneka jerami dan Jack ke petualangan-petualangan seru.

Ngomong-ngomong kalau saya jadi Jack, saya akan pingsan melihat boneka jerami yang tiba-tiba hidup. Bonekanya bertampang seram lagi.

Tapi satu lagi contoh kalau kita tidak boleh menilai orang (atau benda) dari cover-nya saja. Si boneka jerami ternyata luar biasa baik hati. Meskipun dengan seenaknya dia meminta Jack menjadi pelayannya :D

Jack dan si boneka sama-sama beruntung karena sudah bertemu. Perjalanan mereka untuk mencari sebuah tempat yang telah tertulis di hati si boneka jerami. Sebuah tempat bernama Spring Valley.

Di tengah perjalanan mereka bertemu perampok, menjadi aktor, dan bergabung dalam resimen tentara. Semua karena si boneka jerami yang memandang segala hal dengan positif, tidak peduli seberapa konyolnya hal tersebut.

Ketika perjalanan membuat mereka terdampar di sebuah pulau dan Jack hampir sekarat, Jack dan tuannya akhirnya memang menemukan sebuah tulisan di hati si boneka, yang membawa mereka melawan keluarga licik yang ingin menguasai Spring Valley dan merusak keseimbangan alamnya.

Nah, berhasilkan si boneka jerami dan pelayannya mengalahkan mereka? Dengan bantuan seluruh kerajaan burung dan nenek gagak yang bijaksana, segalanya mungkin saja :D

Cerita anak-anak seperti ini memang selalu menghangatkan hati. Dimana kebaikan selalu menang melawan kejahatan. Dimana ada petualangan yang patut dikenang. Dimana ada keindahan alam yang patut dipertahankan. Dimana kepercayaan dan kasih sayang yang sejati masih bisa ditemukan.

Suka sekali deh pokoknya. Membacanya membuat hati senang karena semuanya berakhir baik bagi semua orang (dan benda dan burung juga). 4 dari 5 bintang, untuk Si Boneka Jerami dan Pelayannya, I really liked it ^_^

***

Title: The Scarecrow and His Servant – Si Boneka Jerami dan Pelayannya |  Author: Philip Pullman | Edition language: Indonesian | Publisher: Gramedia Pustaka Utama | Edition: 1st Edition, Jakarta, Desember 2009 |  Page: 200 pages | Status: Pinjem dari Zelie @ Book-admirer |  My rating: 5 of 5 stars

Fahrenheit 451 Review

Baca Bareng November Tema Buku yang Ada Unsur Angka

Hmmm…ceritanya di luar dugaan. Jujur setelah membaca sinopsisnya, saya kira ceritanya semacam cerita detektif yang mengejar si pemadam kebakaran yang mulai sinting karena doyan membakar buku. Ternyata ceritanya bukan seperti itu. Hahhahh, jadi malu. *tutup muka pakai boneka kura-kura*.

Oke, sebelumnya, mari kita cek dulu sinopsis di cover belakang buku :D

Sinopsis:

451o Fahrenheit — temperatur yang mampu membakar kertas buku dan menghanguskannya…

Guy Montag adalah seorang pemadam kebakaran. Ironisnya, yang dilakukannya bukan memadamkan api melainkan menyulut api dan membakar rumah yang berisi buku-buku. Ia menikmati pekerjaannya. Sepuluh tahun menjadi seorang pemadam kebakaran, ia tidak pernah bisa menjelaskan betapa dirinya merasa bergairah setiap kali menyaksikan api melahap lembaran-lembaran buku.

Suatu malam, Guy Montag bertemu dengan seorang gadis yang menceritakan padanya tentang orang-orang di masa lalu, begitu berbeda dengan orang-orang pada masanya.

Dan seorang profesor mengatakan padanya bahwa semua orang seharusnya menggunakan lebih banyak waktu mereka untuk berpikir, dan menghayati hidup. Sejak saat itu Guy Montag sadar bahwa dirinya harus melakukan sesuatu.

Untuk menyelamatkan dunia….

Well..well…well…ceritanya ternyata tentang dunia distopia. Ya Tuhan….saya baru ingat kalau cerita ini cerita distopia. Tahun lalu waktu Baca Bareng BBI, buku ini disebut2 sebagai salah satu buku distopia non YA. Ngomong-ngomong, judulnya unik. Pas sekali dengan cerita di buku ini.

Ceritanya sendiri berkisah tentang dunia Guy Montag, si pemadam kebakaran, dimana di dunia tersebut tidak boleh ada buku. Kalau buku ditemukan ada di rumahmu, maka buku tersebut akan dibakar oleh para pemadam kebakaran, komplit dengan rumahnya, dan kalau perlu dengan orang-orangnya sekalian.

Seram banget ya. Situasi apa yang membuat buku jadi terlarang di dunia ini? Hmmm…silakan baca sendiri bukunya :D. Yang pasti di dunia ini dikuasai oleh hiburan audio dan visual tanpa media cetak sama sekali.

Awalnya, Guy Montag menikmati pekerjaannya. Dia merasa bahagia sekali saat melihat buku-buku itu terbakar. Dia merasa bahagia dengan kehidupannya yang “dia pikir dan orang-orang disekitarnya pikir” selalu bahagia.

Namun, sejak pertemuannya dengan seorang gadis remaja bernama Clarisse, seorang pria tua bernama Faber, dan seorang wanita yang rela mati terbakar bersama buku-bukunya, well, Guy Montag pun berubah.

Montag sekarang mempertanyakan banyak hal. Terutama tentang apa yang membuat begitu spesial sehingga ada orang yang rela mati untuknya.

Saat membaca halaman-halaman pertama buku ini, saya awalnya merasa bingung dengan kalimat-kalimatnya yang aneh. Tapi yang anehnya lagi, susah sekali untuk berhenti membacanya.

IMO, kalimat-kalimat dalam buku ini, menggambarkan dengan tepat bagaimana kegalauan Guy Montag. Keinginannya untuk menyelamatkan buku-buku berarti harus bertentangan dengan dunianya yang artinya sama saja dengan menghancurkan dirinya sendiri bahkan bisa dibilang bunuh diri. Nah, berhasilkah Guy Montag menyelamatkan nasib para buku ini?

Btw, menurut saya, buku ini diakhiri dengan gantung, tapi pas. Justru gantungnya itu yang membuat saya suka dengan ending-nya. Lagipula, diakhir buku, ada bagian wawancara dengan si penulis, yang syukurlah, menjelaskan kenapa akhirnya gantung seperti itu :D

At last, buku ini membuat saya sedikit merasa kena book hangover. Tapi tidak parah sih :D

So, 4 dari 5 bintang deh. I really liked it.

***

Judul: Fahrenheit 451 | Pengarang:  Ray Bradbury| Edisi bahasa: Indonesia | Penerbit: Elex Media Komputindo (June, 12th 2013) | 1st Published: 1953 | Jumlah halaman: 248 halaman | Status: Owned book  | Purchase location: Gramedia Duta Mall Banjarmasin | Date purchased: September, 4th 2014 | Price: Rp46.000,- My rating: 4 of 5 stars

Where The Mountain Meets The Moon Review

Baca Bareng November Tema Newbery Book List

Cerita yang sangat indah ^_^

IMO, yang menarik dari sebuah dongeng adalah seberapa mustahil pun ceritanya, dongeng tetap memiliki keajaiban untuk dapat menghangatkan hati orang dewasa yang mungkin telah membeku sehingga melupakan hal-hal sederhana yang sebenarnya merupakan sumber kebahagiaan. Melalui kisah-kisah ajaib dalam petualangan Minli, Where the Mountain Meets the Moon menyampaikan banyak sekali pesan bijak tentang kehidupan.

Sebelumnya, mari kita tengok dulu sinopsisnya yang saya comot dari Goodreads.

Sinopsis Goodreads:

In the valley of Fruitless mountain, a young girl named Minli lives in a ramshackle hut with her parents. In the evenings, her father regales her with old folktales of the Jade Dragon and the Old Man on the Moon, who knows the answers to all of life’s questions. Inspired by these stories, Minli sets off on an extraordinary journey to find the Old Man on the Moon to ask him how she can change her family’s fortune. She encounters an assorted cast of characters and magical creatures along the way, including a dragon who accompanies her on her quest for the ultimate answer.

Grace Lin, author of the beloved Year of the Dog and Year of the Rat, returns with a wondrous story of adventure, faith, and friendship. A fantasy crossed with Chinese folklore, Where the Mountain Meets the Moon is a timeless story reminiscent of The Wizard of Oz. Her beautiful illustrations, printed in full-color, accompany the text throughout. Once again, she has created a charming, engaging book for young readers.

Minli, adalah seorang gadis kecil miskin yang tinggal di kaki gunung yang dikenal dengan nama Fruitless Mountain. Bersama ayah (Ba) dan ibunya (Ma), Minli harus bekerja keras di desanya yang miskin. Meskipun sudah bekerja keras, untuk makan pun mereka masih pas-pasan.

Ma selalu mengeluh akan peruntungan mereka. Namun Ba selalu punya dongeng untuk diceritakan kepada Minli. Dongeng yang menumbuhkan harapan di hati Minli bahwa suatu hari, dia akan menemukan cara untuk merubah peruntungan mereka. Salah satunya adalah dongeng tentang The Old Man of The Moon yang bisa menjawab pertanyaan apa saja.

Dari seekor ikan mas, Minli menemukan bahwa The Old Man of The Moon memang benar-benar ada. The Old Man of The Moon ternyata tinggal di Never-Ending Mountain.

Minli pun nekat pergi untuk menemui The Old Man of The Moon. Di perjalanannya Minli bertemu dengan banyak hal ajaib. Mulai dari seekor naga yang akhirnya menemaninya selama perjalanan, monyet serakah, anak penggembala kerbau beserta temannya yang ajaib, Raja dari City of Bright Moonlight dan si kembar periang beserta keluarganya dari Moon Rain Village. Namun, berhasilkah Minli bertemu dengan The Old Man of The Moon?

Haaahhh, sekali lagi, cerita yang sangat bagus menurut saya. Pesan bijak apa yang ingin kau hidupkan? Tentang merubah peruntungan agar menjadi lebih baik, tentang persahabatan, kepercayaan, kedermawanan, kebaikan hati, saling menolong, proses lebih penting dari hasil, well, apa saja, hampir semua ada di cerita petualangan Minli.

Syukurlah petualangan Minli akhirnya dijadikan salah satu dongeng-dongeng yang diceritakan oleh Ba untuk anak-anak desa sehingga kita tidak perlu mencari The Old Man of The Moon untuk menanyakan bagaimana caranya merubah peruntungan :D

Ngomong-ngomong, saya baru tahu kalau saya sejauh ini sudah membaca tiga buku Newbery. Buku-buku tersebut adalah The Evolution of Calpurnia Tate, The Tale of Despereaux dan Where The Mountain Meets The Moon. Tiga-tiganya saya sangat suka. Sepertinya saya nyambung dengan buku-buku Newberry, so, masukin ke wishlist semuanya :D

At last, Kisah Min Li, untuk yang kesekian kalinya, sangat indah. Berisi keajaiban yang bisa menghangatkan hati. 5 dari 5 bintang tentu saja. It was amazing.

***

 Judul: Where Mountain Meets The Moon | Pengarang:  Grace Lin | Penghargaan Newbery: Newbery Honor 2010 |  Edisi bahasa: Inggris | Penerbit: Little, Brown Books for Young Readers  (June, 2009) | 1st Published: 2009 | Format: Ebook | Jumlah halaman: 260 halaman |   My rating: 5 of 5 stars