Scene on Three #35 | Kupu-kupu Fort de Kock

Namun, alih-alih pendekar bermata belang itu bersuka cita, ia justru mengaum sekeras-kerasnya, menyesali setiap jurus maut yang telah menghabisi musuhnya. Begitu selendang putih tersingkap, tampaklah wajah yang bercahaya, bagai bulan empat belas. Gadis bermata ranum yang meregang tak bernyawa tiada lain adalah kekasih yang dicintainya, melebihi cintanya pada setiap pertarungan yang mematikan.

Continue reading

Hero Review

hero_by_rhonda_byrne_uploaded_by_irabooklover

Title: Hero | Author: Rhonda Byrne | Edition language: Indonesian | Publisher: Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 2014 | Page: 253 pages |  Purchase location: gramediaonline.com | Date purchased: September, 20th 2014 | Price: Rp103.600 + ongkir Rp30.000 | My rating: 5 of 5 stars

And baby

It’s amazing I’m in this maze with you

I just can’t crack your code

One day you screaming you love me loud 

The next day you’re so cold

Yeap itu potongan lagu Holy Grail by Jay – Z feat  Justin Timberlake. Terus apa hubungannya sama buku Hero by Rhonda Byrne? Tidak ada sih, hehehe, *dikeplak*.

Potongan lagu itu jadi notification tone untuk email masuk saya. Email masuk dari gramediaonline.com yang memberitahu saya kalau Hero edisi bahasa Indonesia sudah terbit.

Horeeee….Hero sudah terbit :D . Rasanya sudah lama sekali sejak saya dapat info dari Goodreads kalau Rhonda Byrne merilis buku Hero. Langsung dimasukkan ke wishlist hari itu juga dan yakin kalau Gramedia pasti bakalan menerjemahkan buku ini. Dan ini diaaaa….akhirnya penantian panjang saya terjawab ^^

Sama seperti buku ini yang langsung saya masukkan ke daftar wishlist setelah dapat info dari Goodreads, saya juga langsung memesan buku ini setelah dapat info dari gramediaonline.com. Meskipun ada sedikit drama dalam prosesnya, akhirnya saya berhasil memesan buku ini dengan baik dan benar, *apa coba*.

Sebelumnya, yuk disimak dulu sinopsis Hero yang saya contek dari cover belakang buku:

Sinopsis:

Ini adalah kisah tentang mengapa Anda ada di planet Bumi

Ada yang istimewa dari diri Anda. Anda dilahirkan dengan maksud tertentu yang tidak dimiliki oleh tujuh miliar manusia lainnya. Ada kehidupan yang dimaksudkan untuk Anda hidupi; ada perjalanan yang dimaksudkan untuk Anda jalani. Buku ini adalah tentang perjalanan itu.

Dua belas orang paling sukses yang hidup di dunia sekarang ini berbagi perjalanan mereka yang terasa mustahil, dan mengungkapkan bahwa masing-masing dari kita terlahir dengan segala sesuatu yang kita perlukan untuk menjalani impian terbesar kita — dan dengan melakukannya kita akan memenuhi misi kita, serta secara harafiah mengubah dunia.

Alkisah, ada seorang pahlawan.

Hmmm….

The Secret is the law of attraction

The Power is love

The Magic is thanks

and now…

Hero is you

Yap, pahlawan itu adalah Anda atau ….errrr….diri kita sendiri. Tergantung dari sudut pandang siapa kita menyebutkannya :D

Menurut saya ada yang berbeda dari buku Hero ini dibandingkan dengan buku-buku Rhonda Byrne sebelumnya. Seingat saya, The Secret, The Power, dan The Magic, semuanya menyebutkan kalau Semesta ini adalah Semesta yang tidak mengenal kata-kata negatif. Seakan-akan tidak ada hal negatif di dunia ini. Hal-hal  negatif itu tidak akan ada kalau kita cukup sadar untuk terus berpikir positif. Bahkan dalam berkata-kata pun, kita menghindari hal negatif.

Bagi yang sudah pernah membaca The Secret mungkin masih ingat, misalnya, kalau kita tidak ingin terlambat, kita tidak bisa mengatakan “kita tidak ingin terlambat” karena Semesta tidak mendengar kata tidak dan yang ada malah kita akan tetap terlambat. Lebih baik mengatakan “saya ingin tepat waktu”. Pokoknya selalu katakan hal-hal positif, tidak ada yang negatif.

Nah, di buku Hero ini, saya lega sekali, akhirnya, The Secret cs menerima kalau hal negatif itu memang ada. Hero bilang kalau dunia ini adalah dunia yang dualitas. Kalau ada hal positif, maka pasti ada hal negatif. Seberapa kuat pun kita berusaha, hal negatif selalu akan menemukan celah untuk mengganggu kita. Dan tergantung kita apakah akan membiarkan si negatif ini bercokol terlalu lama atau langsung menggantikan tempatnya dengan hal yang positif.

Hero mengajarkan kita bagaimana menghadapi si hal-hal negatif ini dengan gaya pahlawan. Ingat kalau dalam cerita-cerita pahlawan, selalu ada para penjahat. Ingat dalam cerita-cerita pahlawan selalu ada saat-saat dimana sang pahlawan hampir kalah. Dan sang pahlawan pada akhirnya pasti bisa memenangkan pertarungan.

Hero mengajarkan kita bagaimana membangunkan pahlawan yang ada di dalam diri kita. Bagaimana menjadi pahlawan untuk diri kita sendiri dan pada akhirnya menjadi pahlawan untuk orang-orang disekitar kita.

Satu yang paling saya suka dari Hero adalah pelajaran tentang pentingnya intuisi bagi seorang pahlawan dan bagaimana cara melatih intuisi tersebut. Intuisi pahlawan dalam diri kita akan selalu memanggil-manggil selama kita hidup. Sampai kita bisa menjawab pertanyaan di atas. Pertanyaan tentang alasan mengapa kita ada di planet bumi.

Uniknya, keesokan harinya setelah saya selesai membaca Hero, saya menemukan bukti langsung tentang bagaimana hebatnya seorang pahlawan.

Kisah berawal dari rumah saya jauh berada di dalam sebuah kompleks, *halah*. Capek sekali kalau harus berjalan kaki ke pintu gerbang kompleks. Selama ini saya adem-adem saja karena saya memiliki kendaraan untuk keluar dari kompleks. Selama itu pula saya sering bertemu adik-adik mahasiswi yang berjalan kaki untuk pergi keluar kompleks. Intuisi saya mengatakan kalau saya seharusnya menawarkan tumpangan untuk adik tersebut. Toh tujuan kami sama-sama keluar kompleks. Tapi pikiran saya mengatakan kalau saya malu memberikan tumpangan. Bagaimana kalau adiknya menolak, merasa tersinggung atau berpikiran yang macam-macam terhadap saya, *lebay mode on*.

Hari itu, hari saya diawali dengan buruk. Ada sebuah ketidaksengajaan yang mengakibatkan saya harus berjalan kaki keluar kompleks. Karena baru saja membaca Hero, saya masih punya ingat untuk mengganti pikiran dongkol dengan pikiran penuh syukur. Akhirnya, belum jauh saya berjalan, ada kakak cewek yang menawarkan tumpangan.

Waktu itu rasanya saya seperti ingin langsung berteriak kegirangan. Kakak itu baik sekali mau menawarkan saya tumpangan. Satu diantara banyak orang yang lewat di sekitar saya. Satu yang menjadi pahlawan bagi saya.

Meskipun dalam kejadian ini bukan saya yang jadi Hero, tapi saya bisa merasakan bagaimana senangnya orang-orang di sekitar kita kalau kita menjadi Hero untuk mereka. Sejak itu saya berjanji untuk tidak akan mengabaikan intuisi saya untuk menjadi Hero.

Hero, sangat menginspirasi saya untuk segera bergerak mengikuti panggilan pahlawan. Meskipun saya rasa panggilannya masih kalah kuat dibandingkan panggilan The Secret. Namun, seperti semua buku Rhonda Byrne sebelumnya, Hero juga berhasil membuat saya lebih …. errr …. bahagia :D

Dan sepanjang hari itu, meskipun diawali dengan buruk, saya bisa merasa bahagia. Hari itu, saya tiba-tiba bisa melihat para pahlawan di sekitar saya. Aksi-aksi heroik mereka memang memberikan kebahagian bukan hanya kepada orang-orang yang mereka tolong tapi juga untuk orang-orang disekitar mereka. Bahkan hanya sekedar melihat saja sudah senang.

Ada banyak kalimat menarik dan menginspirasi dari buku ini. Saking banyaknya, saya bingung mau menuliskan yang mana. Kalau dituliskan semua sepertinya akan menghabiskan seluruh buku juga kayaknya :D

Akhirnya saya pilih secara acak dan saya memutuskan untuk memajang yang ini:

Saya mengetahui potensi yang Anda miliki dalam diri Anda. Saya mengetahui keutamaan-keutamaan dan daya-daya heroik yang Anda miliki dalam diri Anda. Inilah kisah Anda, tapi hanya Anda yang bisa menghidupinya. Ini perjalanan Sang Pahlawan Anda, tapi hanya Anda yang bisa melakukannya. Sekarang Anda sudah memilki peta serta kompas, dan Anda memiliki kami semua bersama Anda, di setiap langkah perjalanan.

(hal 234)

Berbeda dengan saudara-saudaranya, Hero dicetak dengan edisi hardcover. Haduh, jujur saya kurang suka dengan buku-buku hardcover. Tapi ini bukan masalah besar sih, hehehe. Untungnya, ilustrasi Hero menurut saya keren. Model peta perang tempo dulu gitu. Sedikit mengingatkan saya dengan peta dari buku The Lord of The Ring by J.R.R Tolkien. Saya sempat membayangkan melihat tulisan Middle Earth :D

At last, selamat belajar menjadi pahlawan dengan Hero. Buku keempat dari seri The Secret ini juga berhasil meraih rating 5 dari 5 bintang dari saya.  It was amazing to me.

Dan sebagai penutup mari kita dengarkan lagu Hero-nya Mariah Carey. Cocok sekali dengan buku ini. At last, you’ll finally see the truth.
That a hero lies in you ;)

Buku Jalan-jalan #4 | Frankenstein Review

 photo bukujalanjalan_zpsf2569632.jpg

Buku Jalan-jalan Bulan September: Frankenstein by Mary Shelley

frankenstein_by_mary_shelley

Title: Frankenstein |  Author: Mary Shelley | Edition language: Indonesian | Publisher: Gramedia Pustaka Utama | Edition: 3rd Edition, Jakarta, November 2009 |  Page: 312 pages | Status: Pinjem dari Zelie @ Book-admirer |  My rating: 3 of 5 stars

***

Sinopsis:

Dokter Victor Frankenstein ingin menciptakan makhluk sempurna dengan menggabungkan ilmu pengetahuan dan ilmu gaib. Dari sisa-sisa tubuh orang mati, ia membuat makhluk raksasa dengan kekuatan luar biasa… dan menghidupkannya. Tetapi ketika makhluk itu membuka mata, Frankenstein melarikan diri dengan rasa takut yang amat sangat.

Makhluk itu pun keluar ke dunia ramai, berusaha mencari teman dan cinta, namun yang diperolehnya justru kebencian dan ketakutan, maka ia pun bersumpah akan membalas dendam pada sang pencipta yang telah memberikan napas hidup baginya. Dengan kekuatannya yang luar biasa, ia berkelana hingga ke ujung dunia…

untuk menghancurkan semua orang yang dicintai Frankenstein. 

Hai…hai bertemu kembali di proyek Buku Jalan-Jalan bersama Zelie @ Book-admirer ^^

Bukunya Zelie yang beruntung bisa jalan-jalan ke Kalimantan untuk bulan ini adalah buku klasik Frankenstein karya Mary Shelley \^_^/

Ngomong-ngomong bukunya masih super mulus. Jangan-jangan masih baru ya Zelie? Wah, maaf ya masih baru sudah aku pinjam. Pinjamnya jauh pula, hehehehe. *gak tahu diri* :D

Oke kembali ke Frankenstein. Dari sinopsis yang saya contek dari cover belakang buku di atas, saya rasa sudah mewakili keseluruhan isi buku. Tidak banyak yang bisa saya ceritakan lagi.

Dari sana sudah ketahuan toh kalau yang namanya Frankenstein itu ternyata si pencipta, bukan si makhluk. Tapi tetap saja sih, karena sudah terlalu melekat di otak, kalau dengar nama Frankenstein itu, yang muncul malah bayangan si makhluk, bukan si pencipta.

Dari sinopsis tersebut juga sudah dituliskan kalau si pencipta alih-alih bangga dengan ciptaannya, dia malah kabur ketakutan. Si makhluk jadi dendam dan membunuh orang-orang yang dicintai Frankenstein.

Menurut saya, kesalahan Dokter Frankenstein ini cuma satu. Dia menciptakan makhluk yang wajahnya luar biasa jelek dan mengerikan. Coba kalau dia rancang-rancang dulu gitu gimana caranya supaya makhluk ciptaannya bisa berwajah rupawan. Jadi kan ga takut amat-amat kalau itu makhluk tiba-tiba bangun. Yang wajahnya rupawan saja kalau tiba-tiba bangkit dari kematian serem, apalagi yang wajahnya mengerikan.  *apacoba*

Jujur saya kesal sekali sama Frankenstein dan makhluk ciptaannya ini. Dua-duanya bikin gemes. Saya tidak tahu apakah bisa menyalahkan mereka atau tidak. Jadi …. yah …. kita damai saja ya. *ngawur*

Kesalnya itu karena saya tidak bisa menyalahkan Frankenstein yang kabur ketakutan ketika melihat makhluk ciptaanya bangkit. Saat itu dia sedang kelelahan dan tegang. Wajarlah kalau tiba-tiba makhluk ciptaannya yang tampangnya seperti mayat hidup membuatnya takut setengah mati.

Saya juga tidak bisa menyalahkan si makhluk yang dendam dengan Frankenstein. Siapa sih yang tidak sakit hati kalau diperlakukan seperti monster hanya karena tampang kita mirip monster. Apalagi kalau si pencipta kita sendiri kabur karena melihat tampang kita yang mengerikan. Hiks…. sakitnya tuh di sini *nunjuk ke hati*

Tapi tetap saja, si makhluk seharusnya tidak membunuh orang-orang yang tidak bersalah hanya untuk membalaskan sakit hatinya kepada Frankenstein. Apalagi dalam pengembaraannya, dia sudah mengetahui apa itu kebaikan dan apa itu kejahatan. Tapi bahkan orang yang tumbuh dengan kasih sayang selama hidupnya pun bisa jadi jahat kalau sudah sakit hati. Nah, tuh kan, saya jadi bingung.

Ngomong-ngomong, kalau dipikir-pikir lagi, yang salah si Dokter Frankenstein sih, siapa suruh juga menciptakan makhluk bertampang zombie yang lebih kuat dari dia.  Tapi, somehow, saya juga bisa mengerti bagaimana hasrat untuk membuktikan teori ilmu pengetahuan yang diperolehnya begitu membutakan Frankenstein. Jangankan untuk penemuan yang luar biasa seperti itu, saya yang menemukan petunjuk untuk memecahkan soal kalkulus saja rasanya sudah tidak sabar untuk segera mempraktikkannya, halah jauh banget sih analoginya. Tuh kan saya jadi bingung lagi.

Cerita Frankenstein tidak selesai seperti yang saya harapkan. Kehidupan Frankenstein tetap kacau sampai akhir cerita. Makhluknya juga tidak lebih baik nasibnya. Mungkin memang ini yang ingin disampaikan oleh penulis. Bagaimanapun pintarnya para ilmuwan, bagaimanapun mereka merasa seakan-akan bisa menciptakan segalanya, tapi yah mereka tetap manusia, bukan Tuhan.

Nah, gara-gara gemas sama Frankenstein dan makhluk ciptaannya ini. Saya tidak jadi memberikan bintang 5 dari 5 bintang untuk buku ini. Padahal ceritanya dituliskan dengan indah. Filosofinya juga bagus-bagus. Saya sampai update status terus di Goodreads. Saya juga heran sendiri, kenapa kekecewaan saya terhadap Frankenstein dan makhluk ciptaannya bisa sebegitu mengganggunya.

Terus ada satu lagi yang kurang saya suka dari buku ini. Buku ini seolah-olah berulang kali menegaskan kalau sebuah masalah bisa diakhiri dengan kematian.

Yah saya tidak pernah menghadapi masalah sepelik masalah tokoh-tokoh di buku ini sih, tapi saya rasa sengaja membunuh diri sendiri juga sama tidak bagusnya. Jadi hadapi saja lah. Kematian, tanpa perlu dikejar nanti juga datang sendiri. Siapa tahu diantara waktu itu ada kejadian indah yang sayang kalau kita lewatkan hanya karena kita memilih untuk mengakhiri hidup lebih awal.

Seperti yang dituliskan dalam buku ini juga, segalanya masih bisa berubah. Kita sampai ingin mati hari karena suatu masalah tapi bisa juga esok kita ingin hidup selamanya karena suatu anugerah. Semua akan selalu berubah-ubah.

“Kita beristirahat; tapi impian mampu meracuni tidur lelap.
Kita bangun; satu pikiran akan mengeruhkan perasaan.
Kita merasakan, membayangkan, mempertimbangkan; tertawa atau menangis.
Memeluk kesedihan, atau lemparkan kemalangan.
Semua sama saja: sebab baik kegembiraan maupun kesedihan akan lenyap dengan mudah.
Kemarin takkan sama dengan esok.
Semua akan selalu berubah-ubah!”

(hal 129)

Ngomong-ngomong, soal menghadapi masalah, waktu pengen mulai membaca Frankenstein, saya takut duluan. Apalagi buku ini baru sampai ke tangan saya di malam jumat. Reputasi Frankenstein sebagai makhluk horor kan sudah terkenal sekali. Terus cover bukunya juga tidak membantu. Hitam suram dengan tulisan berwarna merah. Ditambah lagi malam itu angin bertiup menggoyangkan tirai kamar saya. Haduh, komplit deh. Saya sampai takut nengok ke jendela, jangan-jangan ada makhluknya Frankenstein menjenguk di sana. *horor*.

Tapi setelah saya baca, ternyata ceritanya tidak seram sama sekali. Ceritanya cenderung mengharukan. Setelah membaca bukunya, dalam bayangan saya, makhluk Frankenstein ini malah jadi seperti Hulk, hanya saja matanya kuning dan warna kulitnya tidak hijau. Lagian makhluk ini kan cuma mengejar orang-orang yang dicintai oleh Frankenstein. Jadi saya rasa saya aman. Hahhah. *selfkeplak*.

Soooo, kesimpulannya, 3 dari 5 bintang untuk Frankenstein. Terutama untuk gaya bahasa dan filosofinya yang indah.

I liked it.

Wishful Wednesday #38, Bit-Sized Magic by Kathryn Littlewood

Alhamdulilllah akhirnya bisa ikut Wishful Wednesday lagi. Langsung saja ya, rabu ini saya pengen buku ini (‘▽’ʃƪ) ♥

Title: Bite-Sized Magic | Author : Kathryn Littlewood

Kemarin nemu buku ini di toko buku. Pengen banget sih beli, ta…tapi, buku 1 dan 2 nya kan saya dapat dari GA. Yang pertama dari GA-nya Mbak Ren, yg kedua dari GA-nya Mbak Maria.

Jadi pengennya sih buku ketiga ini dapatnya gratisan juga. Biar adil gitu. Ada yang mau ngasih tidak ya? *dikeplaak* :D

Sinopsis [Goodreads]:

Dua minggu berlalu sejak Rose memenangi kompetisi Gâteaux Grands dan mendapatkan kembali buku resep rahasia keluarga Bliss. Dia pun jadi terkenal.

Sayangnya, ketenaran menjerumuskan Rose pada masalah baru. Mr Butter dari perusahaan Mostess menculiknya. Dia pun dipaksa mengembangkan resep ajaib, beberapa moony pye dari keju bulan dan seloyang sus cokelat berpendar.
Kekacauan terjadi. Resep ajaibnya menciptakan zombie.

Kini, bersama dua saudaranya yang aneh dan para koki baru yang ajaib, Rose harus mencegah rencana jahat Mr Butter menguasai dunia dengan kudapan jahat.

Wishful Wednesday

OK, that’s my wish today. What’s yours? Click the picture above for more information about this weekly meme.

Have a nice Wednesday for you  ^_^

Scene on Three #34 | Midnight for Charlie Bone

“Cepat!” Olivia mendorong kedua anak laki-laki itu keluar dari pintu yang roboh dan masuk ke sebuah lemari yang pintunya sedikit terbuka.

(hal 212)

….

Dr. Bloor menatap tumpukan berkilauan itu, menggerutu, lalu menyingkirkannya dari meja. Dia jelas sedang mencari sesuatu dan marah karena tidak menemukannya. Dia mengalihkan perhatiannya lagi ke lemari, dan berjalan dengan penuh tekad ke arah lemari itu.

Mereka nyaris tidak berani bernapas. Olivia, Charlie, dan Billy saling bergenggaman tangan. Kuku panjang Olivia menusuk telapak tangan Charlie dan dia baru akan berteriak, ketika sebuah pintu terbuka dengan bunyi berderit keras dan sebuah suara berkata,

“Sudah kuduga aku akan menemukanmu di sini.”

(hal. 213)

Continue reading

Syekh Abdul Hamid Abulung: Korban Politik Penguasa Review

syekh_abdul_hamid_abulung_korban_politik_penguasa_by_fahrurraji_asmuni

Title: Syekh Abdul Hamid Abulung: Korban Politik Penguasa | Author: Fahrurraji Asmuni, S. Pd, MM.| Edition language: Indonesian | Publisher: Hemat| Edition: 2nd Edition, April 2014 | Page: 80 pages | Status: Owned Book (given by the author) | Date received: 6 September 2013 |  My rating: 3 of 5 stars

***

Sinopsis:

Di hadapan raja, Datu Abulung mengatakan bahwa beliau tidak dapat dibinasakan dengan alat apapun dan jika raja membinasakannya haruslah dengan senjata yang berada di dinding rumah beliau dan menancapkan ke dalam daerah lingkaran yang beliau tunjkkan yaitu di belikat beliau. Beliau berpesan, “jika darah yang keluar dari tubuhku berwarna merah, maka aku dan ajaranku yang salah, tetapi jika darah yang keluar dari tubuhku nanti berwarna putih, maka aku berada dalam kebenaran. Setelah berkata demikian, Datu Abulung shalat dua raka’at, ketika beliau shalat itulah senjata tersebut ditusukkan di tempat yang sudah beliau tunjukkan, maka memancarlah darah segar berwarna putih. Namun yang sangat aneh dan mengagumkan adalah bahwa dari ceceran darah segar Datu Abulung tertulis kalimat “Laa Ilaaha Ilallah Muhammadur Rasulullah”. Suasana jadi hening, hadirin bungkam menyaksikan kepergian Datu Abulung ke alam sejati.

Buku kedua hasil dapat gratisan dari guru saya. Cerita lengkap gratisan-nya bisa dilihat di review buku pertama di sini :D

Setelah membaca sinopsis di atas, tidak heran mengapa diantara 36 Datu yang ada di buku Datu-datu Terkenal Kalimantan Selatan, Syekh Abdul Hamid Abulung atau Datu Abulung, “dituliskan” bukunya tersendiri.

Datu Abulung yang bernama asli Haji Abdul Hamid hidup dari tahun 1148 – 1203 H. Di buku ini dijelaskan bagaimana beliau mendapat gelar Syekh dan Datu, tapi tidak disebutkan kenapa beliau dikenal dengan nama Datu Abulung.

Membaca buku ini, membuat saya menyadari bahwa bahkan di Kalimantan Selatan pun, yang sebelumnya saya kenal sebagai daerah yang aman dan minim konflik, ternyata pernah terjadi peristiwa yang …. errr…. sangat sulit saya percayai pernah terjadi. Datu Abulung ternyata pernah membuat kesal Sultan jaman dahulu sehingga sang Sultan berusaha menyingkirkan beliau dengan berbagai cara.

Apa yang dilakukan oleh Datu Abulung sehingga membuat Sultan Banjar marah? Well, silakan baca sendiri ceritanya karena menurut saya topik ini sedikit sensitif :)

Buku ini memberikan kesan sebagai pembersihan nama baik bagi Syekh Abdul Hamid dan juga Syekh Muhammad Arsyad. Di buku Datu-datu Terkenal Kalimantan Selatan, disebutkan bahwa Syekh Muhammad Arsyad ikut berperan dalam keputusan hukuman mati bagi Datu Abulung. Di buku ini dijelaskan bukti-bukti bahwa hal tersebut tidak benar.

Typo atau kesalahan ketik di buku ini masih banyak. Tapi, somehow, tidak terlalu mengganggu seperti di buku Datu-datu Terkenal Kalimantan Selatan.  Oh ya, ada satu kata dalam bahasa daerah Kalimantan Selatan (bahasa banjar) yang nyelip di buku ini. Tepatnya ada di halaman 24 di kalimat berikut:

…., apabila salah daripada mereka meninggal dunia, maka yang satu kena memandikannya.

Kata kena dalam kalimat di atas bisa diartikan sebagai nanti dalam bahasa Indonesia. Ngomong-ngomong membaca kalimat di atas langsung mengingatkan saya dengan gaya bicara guru saya yang juga sekaligus si pengarang buku ini. Persis sekali :)

Buku ini tidak hanya menceritakan kisah hidup Datu Abulung, tapi juga hubungan beliau dengan Syekh Muhammad Aryad, ajaran-ajaran beliau, dan keturunan serta pengikut beliau yang masih hidup sampai sekarang. Khusus bagian tentang ajaran-ajaran beliau, membuat saya, untuk sekali lagi menyadari, bahwa tingkat spiritual saya masih sangat jauh.

Overall, buku ini membuat saya menyadari bahwa masih banyak yang tidak saya ketahui tentang daerah dan agama saya sendiri. Kisah yang diceritakan dalam buku ini sangat dekat tapi sekaligus terasa sangat jauh. Membaca kisah hiduh Datu Abulung seperti membaca kisah hidup seorang wali yang nun jauh di seberang pulau. Padahal beliau adalah seorang Syekh yang berperan besar menyebarkan agama Islam di daerah saya sendiri.

Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada guru saya yang memberikan buku beliau ini dengan cuma-cuma. Jujur kalau tidak diberi gratis saya mungkin tidak akan membaca buku ini *ditimpuk pakai sendal*.

Buku dengan genre seperti ini bukan my cup of tea. Tapi saya rasa buku ini wajib dibaca oleh orang-orang yang hidupnya jauh dari “dunia pesantren” seperti saya. Terutama untuk orang-orang Kalimantan Selatan. Bangga rasanya mengetahui daerah sendiri ternyata juga pernah mempunyai ulama hebat.

Kalau boleh request, saya harap nanti juga ada buku tentang ulama-ulama dibalik Pesantren Rakha yang ada di daerah Amuntai. Jujur saya tidak tahu apa-apa tentang pesantren tersebut. Padahal pesantrennya dekat sekali dengan rumah saya. *ngesot minder*.

Sama seperti kisah nya yang terasa dekat tapi jauh sekaligus, gaya penulisan buku ini, somehow, terasa lancar dan tidak lancar sekaligus. Saya cukup nyaman dengan gaya penulisannya, tapi typo dan kalimatnya yang terlalu panjang, serta informasi yang kurang lengkap membuat nya terasa tidak nyaman.

Contoh informasi yang kurang lengkap misalnya seperti yang sudah saya jelaskan di atas. Tidak dijelaskan kenapa Syekh Abdul Hamid lebih dikenal dengan nama Datu Abulung, meskipun kenapa beliau mendapat gelar Syekh dan Datu sudah ada.

Kemudian ada juga tentang shalat daim. Memang dijelaskan apa itu shalat daim tapi jujur saya masih bingung tentang shalat daim karena saya rasa ada yang missing dalam penuturannya. Apakah shalat daim itu shalat lima waktu seperti yang disebutkan di awal sub bab ataukah shalat yang setidak-tidaknya dilaksanakan sekali seumur hidup seperti yang disebutkan di akhir sub bab atau dua-duanya benar tergantung pendapat ulama mana yang kita ikuti.

Dan ngomong-ngomong tentang bagaimana keramatnya Datu Abulung yang kebal terhadap berbagai usaha pembunuhan, saya jadi teringat legenda Achilles dari Yunani dan juga cerita fantasi Percy Jackson by Rick Riordan. Mereka hanya sama-sama bisa dibunuh jika dilukai pada titik tertentu di tubuh.

Selain itu juga pembuktian kata-kata Datu Abulung dengan darah merah dan darah putih beliau. Mirip legenda Banyuwangi ya. Sebagai pembuktian apakah si korban bersalah atau tidak. Kalau tidak bersalah maka air sungai akan beraroma wangi.

Mengingat kemiripan-kemiripan ini membuat saya iseng berpikir bagaimana sebuah kejadian bisa memiliki kesamaan seperti itu. Dengan pengecualian kisah Datu Abulung yang saya rasa memang benar-benar terjadi, saya jadi berpikir dari mana ide dari peristiwa yang ada di dalam cerita Achilles atau Banyuwangi itu berasal, apakah memang benar-benar terjadi, hanya khayalan yang tiba-tiba muncul dari kepala pengarang, atau dari cerita mulut ke mulut yang awalnya hanya bersumber dari suatu peristiwa yang benar-benar terjadi tapi karena telah tersebar terciptalah versi masing-masing daerah. Wallahu a’lam.

At last,  3 dari 5 bintang untuk kisah hidup Datu Abulung. Terutama untuk keberhasilannya yang membuat saya ingin lebih banyak lagi membaca buku-buku sejenis ini.

So, I liked it :D