Buku Jalan-jalan #3 | Lotte Rangkap Dua Review

 photo bukujalanjalan_zpsf2569632.jpg

Buku Jalan-jalan Bulan Agustus: Lotte Rangkap Dua by Erich Kӓstner

lotte_rangkap_dua_by_erich_kastner_uploaded_by_irabooklover

Title: Lotte Rangkap Dua |  Author: Erich Kӓstner | Edition language: Indonesian | Publisher: Gramedia Pustaka Utama | Edition: 1st edition, Jakarta, Juli 2001 |  Page: 190 pages | Status: Pinjem dari Zelie @ Book-admirer |  My rating: 4 of 5 stars

***

Sinopsis:

Aneh juga rasanya, apabila dua gadis cilik yang sebelumnya tidak saling mengenal, tiba-tiba bertatap muka dan melihat bahwa penampilan mereka sangat serupa — seperti pinang dibelah dua! Satu-satunya yang membedakan mereka adalah bahwa Luise Palfy yang dari Wina berambut ikal terurai, sedangkan Lotte Korner dari Munchen dikepang rambutnya.

Mereka memerlukan waktu beberapa hari, sebelum akhirnya bisa mengatasi rasa terkejut. Tapi mulai saat itu keduanya berusaha mencari penjelasan, apa sebabnya wajah mereka begitu mirip: Luise akan mengaku bahwa ia Lotte dan kembali ke Munchen, sementara Lotte pergi ke Wina, sebagai Luise….

Bisa dibayangkan, bagaimana kekacauan yang kemudian terjadi: di sekolah, di kalangan teman-teman, dan terutama di rumah masing-masing! 

Hai…hai bertemu kembali di proyek Buku Jalan-Jalan bersama Zelie @ Book-admirer \^_^/

Proyek buku jalan-jalan ini sederhana aja kok, kita cuma pinjem-pinjemin buku. Trus bukunya dibaca dan direview bareng. Dan bulan ini saya meminjam buku Lotte Rangkap Dua dari Zelie.

Btw, buku ini benar-benar penuh kejutan. Pertama, karena judulnya. Entah kenapa saya ingatnya judulnya adalah Lotte Dua Rasa. Jadi waktu pengen pinjem Lotte Rangkap Dua ke Zelie, saya bilangnya pengen pinjem Lotte Dua Rasa. Untung Zelie-nya paham dengan apa yang saya maksud. Jadi pas bukunya sampai, benar saja yang saya terima adalah Lotte Rangkap Dua, bukan Lotte Dua Rasa. *emang ada ya judul buku Lotte Dua Rasa* :D

Yang kedua, karena bukunya ternyata kecil dan tipis. Di dalam bayangan saya, Lotte Rangkap Dua ini tipe buku klasik yang lumayan tebal.

Yang ketiga, saya merasa familiar dengan kisahnya. Dari comment Mbak A.S Dewi di Facebook, saya baru tahu kalau ada film yang terinspirasi dari buku ini. Judulnya The Parent Trap dan dibintangi oleh Lindsay Lohan. Saya kira cerita buku ini terasa familiar karena saya sudah pernah menonton filmnya, ternyata tidak. Rasanya saya belum pernah menonton film Lindsay Lohan kembar, hehehe. Jadi yang familiar mungkin cerita anak kembar tukar perannya ya, hahhah *dasarplinplan*

Ngomong-ngomong lagi, saya heran kenapa judul terjemahan bahasa Indonesia-nya Lotte Rangkap Dua ya? Kenapa tidak Luise Rangkap Dua? :D

Nah ceritanya sendiri menurut saya sih kurang berkesan. Bukan karena kurang bagus sih, tapi karena ceritanya terlalu tipis. Rasanya masih pengen lagi mengikuti petualangan si kembar lebih lama.

At last, saya suka cerita anak-anak seperti ini. Rasanya senang gimana gitu. Jalan pikiran anak-anak yang sederhana ternyata bisa menyelesaikan masalah keluarga yang menurut saya sangat rumit. Mereka bisa menebak dan dengan mudahnya menerima kalau mereka kembar. Dengan entengnya mereka bertukar tempat untuk mempersatukan keluarga mereka kembali. Tapi apakah misi ini akan berhasil? Soalnya tanpa diduga, Lotte menemukan nona pengganggu yang mengancam akan merebut posisi ibu mereka. Nah nah nah, apa yang akan dilakukan oleh sikembar ya? Lotte yang serius dan Luise yang kekanakan membuat ceritanya lumayan lucu. So,  4 dari 5 bintang untuk Lotte Rangkap Dua. I really liked it :D

Anak-anak Merapi 2 Review

Baca Bareng Agustus Tema Lokal/Nusantara

 anak-anak merapi by bambang js uploaded by ira book lover

Judul: Anak-anak Merapi 2 | Pengarang:  Bambang Joko Susilo | Edisi bahasa: Indonesia | Penerbit: Republika (Cetakan I, Jakarta, Juli 2011) | Jumlah halaman: 227 halaman | Status: Pinjam di Perpustakan Daerah Kota Banjarbaru | My rating: 3 of 5 stars

 

Tidak terasa waktunya posting bareng bulan Agustus lagi. Perasaan baru kemarin deh bikin postingan untuk tema bulan Juli ^_^

Bulan ini sempat bingung mau membaca buku apa untuk tema lokal/nusantara. Akhirnya setelah mondar-mandir di disekitar rak fiksi Perpustakaan Daerah Kota Banjarbaru, akhirnya saya memutuskan untuk membaca buku Anak-anak Merapi 2. Kata sinopsis di belakang bukunya sih gak apa-apa kalau langsung baca buku 2 :D

Nih dia sinopsisnya:

Kehilangan orang terkasih merupakan hal yang menyedihkan bagi siapapun. Apalagi kehilangan seorang ayah –sosok panutan dan pelindung–bagi anak-anak seperti Yudhistira, Bimo, dan Juno. Mereka harus terpisah dari ayahnya saat bencana wedhus gembel Merapi melanda desa.

Simpati dan empati untuk para korban bencana di pengungsian terus berdatangan. Mulai dari Presiden, Sultan, sukarelawan, donatur, sampai siswa-siswi di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Namun, semua itu hanya mampu mengobati kesedihan sesaat. Yudhistira, Bimo, dan Juno tetap saja memikirkan keberadaan dan keselamatan ayah mereka.

Upaya para sukarelawan untuk menemukan Pak Widodo tak jua menunjukkan hasil. Kekhawatiran dan kerinduan yang mendalam mengantarkan Yudhistira dan Bimo pada petualangan mencari keberadaan ayah mereka, melewati desa dan daerah berbahaya, menyusuri hutan, sampai menghadapi ancaman serangan harimau. Lalu, apakah upaya Yudhistira dan Bimo berhasil?

Cerita lengkapnya dikisahkan oleh penulis Bambang Joko Susilo berdasarkan wawancara langsung dengan para korban dan pengungsi di Yogyakarta. Anak-anak Merapi 2 merupakan kelanjutan dari Anak-anak Merapi 1 yang dapat dibaca secara terpisah. Serial ini cocok dibaca oleh anak-anak, remaja, dan dewasa. Semoga memberi inspirasi dan manfaat.

Hmmm….setelah membaca sinopsis di atas, saya sempat ragu apakah buku ini masuk tema atau tidak. Tapi setelah dipikir-pikir sepertinya masuk saja ya, soalnya Merapi kan cuma ada di Indonesia *ngotot* :D

Dan setelah membaca beberapa halaman awal, pikiran pertama saya tentang buku ini adalah sederhana.  Membacanya berasa seperti membaca buku pelajaran Bahasa Indonesia terbitan Tiga Serangkai ketika saya masih SMP dulu. Ilustrasi dan gaya pembukaan bab-nya juga mirip.

Betul ceritanya tentang pengungsi korban letusan Merapi yang diwakili oleh keluarga Pak Widodo. Pak Widodo ini mempunyai 3 orang anak yang bernama Yudhistira, Bimo dan Juno. Waktu terjadi letusan Merapi, Pak Widodo bukannya pergi mengungsi bersama istri dan anak-anaknya, melainkan mendekati gunung Merapi untuk menyelamatkan orang tuanya. Apa yang dilakukan Pak Widodo jelas berbahaya dan akibatnya Pak Widodo pun dinyatakan hilang.

Di tempat pengungsian, Yudhistira beserta ibu dan adiknya selalu berdoa untuk keselamatan ayah mereka. Namun, tim sukarelawan tidak kunjung menemukan Pak Widodo. Berbekal petunjuk yang didapatnya dari mimpi, akhirnya Yudhistira mengajak Bimo untuk melakukan rencana penyelamatan mereka sendiri.

Selain petualangan Yudhistira dalam menemukan ayahnya, buku ini juga menceritakan kehidupan para pengungsi letusan Merapi. Disini diceritakan bahwa kehidupan para pengungsi tidak seburuk yang saya bayangkan sebelumnya. Mungkin karena ceritanya dari sudut pandang anak-anak. Mereka senang-senang saja bermain-main selama berada di pengungsian meskipun ada beberapa yang tampaknya masih syok.

Ada banyak kegiatan yang sengaja dilakukan oleh para sukarelawan untuk menghibur anak-anak ini. Salah satunya adalah pertunjukan wayang dari Mbah Surip. Cerita wayang-nya lumayan seru. Tentang manusia-manusia pertama yang hidup di Pulau Jawa akibat bersandingnya Matahari dengan Rembulan.

Oh ya, waktu membaca buku ini, saya sempat tidak ngeh kalau nama semua anak-anak Pak Widodo ini diambil dari nama Pandawa. Kalau Yudhistira sih oke. Cuma saya tidak sadar kalau Bimo itu Bima dan Juno itu Arjuna. Padahal dari awal-awal sudah disinggung-singgung kalau Juno ini adalah anak yang tampan. Pas ada adegan Bimo menendang harimau sampai terpental dan Yudhistira sampai  syok karena adiknya ternyata kuat sekali, baru deh saya nyadar kalau Bimo itu kuat seperti Bima. Ya iyalah, nama Bimo memang sama dengan Bima kan ya, hahhahh  *maklum bukan orang Jawa* :D

At last, rating saya untuk novel ini adalah 3 dari 5 bintang. Ceritanya lumayan seru. Mengingatkan saya dengan cerita-cerita pendek yang ada di buku pelajaran sekolah. Pesan-pesan yang disampaikannya juga bagus dan ending-nya sedikit mengagetkan. So, I liked it ^^

The Mint Heart Review

the_mint_heart_by_ayuwidya_uploaded_by_ira_book_lover

Title: The Mint Heart | Author: Ayuwidya | Publisher: Bentang | Edition language: Indonesian | Page: 326 pages | Edition: 1st Edition, Yogyakarta, Maret 2013 | Status: Pinjem di Perpustakaan Banjarbaru |  My rating: 4 of 5 stars

Sinopsis:

Mencintaimu seperti menikmati seporsi mint ice cream. Kebekuan hatimu, dingin menyentuhku. Tak cukup satu sendok untuk merasamu. Butir pahit yang melebur di dalamnya justru membuatku menyendok lagi, dan lagi ….

Perjalanan “Wherever You Want” itu pasti akan menyenangkan. Asalkan bersamamu memang semua akan jadi menggairahkan. Tapi, ketika sosok lain datang, aku seperti ditampar kenyataan. Mungkin akulah yang seharusnya pergi dan melupakan.

Sukasukasukasukasukasukasukasukasuka pake banget sama The Mint Heart. Nyesel dulu kenapa gak beli buku ini. Ya Tuhan, semoga bukunya masih ada di toko buku.

Ceritanya tentang Lula, seorang reporter yang naksir fotografer bernama Leon. Mereka bekerja di majalah yang sama. Si Leon ini ganteng tapi dingin.  Kata Lula, Leon ini persis kaya mint ice cream. Tipe cowok yang keren tapi nyebelin karena dinginnya. Tapi Lula naksir berat sama Leon.

Si Lula ini sudah mendeklarasikan dirinya sebagai penggemar Leon. Tapi Leon-nya tetap cuek dan bermuka jutek. Sampai ada proyek bernama Whatever You Want yang membuat Leon dan Lula jadi satu tim. Tugas mereka meliput tempat-tempat wisata hasil pilihan pembaca.

Si Lula tentu saja girang karena bakalan pergi ke tempat-tempat indah bareng Leon. Leon-nya, tetep cuek aja. Sampai akhirnya berbagai peristiwa lucu selama perjalanan berhasil mencairkan hati Leon. Tapi cuma sedikit sih, hehehe.

Namun, Lula harus menyadari kalau cowok seganteng Leon pastinya sudah punya “seseorang”. Lula sebenarnya sudah siap dan nyadar diri sih untuk menghadapi hal itu. Tidak apa-apa kata Lula. Mengagumi tanpa harap adalah jalan teraman.

Tapiiiiii….akankah semudah itu? Tentu saja tidak. Lula merasakan hatinya hancur saat melihat Leon bersama seorang gadis yang sangat sempurna untuknya. Tapi bagaimana pula dengan hati Leon yang sudah mencair itu? Akankah masih ada harapan untuk Lula ataukah dia harus mundur dan pergi? Hmmmm….ga asik dong kalau saya kasih tahu, hahaha. Silakan dibaca sendiri bukunya :D

Haahhhhh….cerita ini memang berasa mint ice cream banget. Saya sukaaaaaaaaa. Konyol, lucu, bikin gemes.  Leoooon ituuu keren banget deh pokoknya. Tipe cowok yang ganteng dan dingin. Tipe saya banget tuh, haha. Tapi biasanya sih cowok yang kayak gitu nyebelinnya setengah mati. Biasanya sih.

Dan saya kalau jadi Lula pasti naksir Leon juga #eh. Dan sama seperti Lula, saya pasti ngerasa tahu diri juga. Gak mungkin lah cowok seganteng dan sekeren itu naksir cewek “aneh” kayak kita-kita. Tapi saya salut sama Lula yang punya kepercayaan diri untuk memberitahukan rasa sukanya sama Leon. Kalau saya mah pasti bungkam, hahhhaahh. Btw, Leon, lo bakalan gw jadiin salah satu book boy friend gw tahun ini.

Satu lagi yang saya suka adalah banyak banget quote keren dari buku ini. Bukan cuma keren sih, tapi pas banget kena juga quote-nya ke saya *LOL*. Sayang buku ini bukan punya saya. Kalau punya saya sih bakalan saya tempelan bookmark. Alhasil saya jadi update status terus di Goodreads. Semoga teman-teman GR saya tidak bosan ngelihat update-an status saya di dinding updates :D

Total ada 17 quote yang saya suka. Kebanyakan kali ya kalau saya tulis di sini. Setelah pilih-pilih saya memutuskan untuk memajang quote ini saja karena rasanya memang indah *eaaaa* :

“Malaikat penjagamu tersenyum karenamu. Nah, apa lagi yang lebih indah daripada itu?”

At last, selamat merasakan mint ice cream-nya kisah cinta Lula dan Leon. Mereka berdua ini konyol dan lucu banget deh pokoknya. Saya sampai senyum-senyum sendiri pas bacanya. Padahal bacanya pas di kantor #eh. Semoga rekan-rekan kerja saya menganggap saya masih waras ^^

And, 5 dari 5 bintang untuk The Mint Heart. Yeah…full ratedIt was amazing for me 

Eh ketinggalan, cover-nya keren juga. Daun mint-nya itu loh, berasa mint-nya *apacoba*. Dan untuk kategori buku love flavour, saya rasa buku ini kena banget. Siip deh *wink*

The Fault in Our Stars Review

Baca dan Posting Bareng BBI Juli Tema Sicklit

 photo thefaultinourstars_uploadedbyirabooklover_zpse5713a9a.jpg

Title: The Fault in Our Stars – Salahkan Bintang-Bintang | Author: John Green | Genre: Sicklit – Young Adult – Romance | Edition language: Indonesian | Translator: Ingrid Dwijani Nimpoeno | Publisher: Qanita | Edition: 2nd edition, Februari 2014 | Page: 424 pages | Status: Owned book | Price: Rp49.000,- (Disc 15%) | Purchase location: Mizan Book Fair Ramadhan @ TB Riyadh Banjarbaru | Date purchased: June, 30th 2013 | My rating: 4 of 5 stars

Mengidap kanker pada umur 16 tahun pastilah terasa sebagai nasib sial, seolah bintang-bintang serta takdirlah yang patut disalahkan…

Salahkan bintang-bintang…satu lagi buku tentang karakternya yang sekarat.

Rasanya saya sudah sering sekali membaca buku dengan genre ini. Yah meskipun temanya kurang lebih sama, tapi masing-masing cerita memang punya kesannya sendiri. Dan, curcol dikit, saya menghabiskan banyak tisu ketika membaca buku ini. Meskipun The Fault in Our Stars banyakan lucu dan romantisnya. Tapi tetap saja … sedih.

Senang sekali ketika menemukan TFiOS di Mizan Book Fair Ramadhan. Secara saya dan teman saya baru beberapa hari sebelumnya muter-muter toko buku besar di Banjarmasin buat nyari n buku dan hasilnya nihil.  Ternyata kalau memang sudah berjodoh tidak akan kemana ya *hehehe*

Karena menurut saya buku ini sangat populer, jadi tidak usah ya sinopsisnya ditulis lagi. Hahhhh…rasanya saya tidak sanggup menuliskan kembali cerita Hazel dan Augustus ketika saya sudah tahu bagaimana akhirnya *halah bilang aja males* :D.

Oke… oke… secara singkat, Hazel dan Augustus, sama-sama penderita kanker,  bertemu dalam pertemuan kelompok penyemangat kanker. Mereka jatuh cinta pada pandangan pertama. Mereka sama-sama menyukai sebuah buku yang berjudul Kemalangan Luar Biasa yang ditulis oleh Peter Van Houten. Mereka pergi ke Amsterdam untuk bertemu dengan penulis favorit mereka itu, dan selebihnya adalah bagaimana mereka berjuang untuk menghadapi kanker yang mereka derita lengkap dengan kisah cinta yang manis dan humor-humor yang anehnya, seperti kata Hazel, “membuat gembira tapi secara ganjil menyakitkan”.

Sepanjang cerita, saya sudah was-was—–meminjam istilah Hazel—–menunggu “granat siapa yang akan diledakkan” oleh si penulis. Dan ketika membaca sampai di bagian itu, meskipun sudah siap-siap, tetap saja hati saya jadi mencelos. Apalagi kisah ini diceritakan dari sudut pandang orang pertama. Haduh…meminjam istilah Hazel lagi “rasanya memang tak tertahankan”.

Ngomong-ngomong, saya sedih sekali karena Hazel yang merasa dirinya adalah granat yang suatu waktu akan meledak hanya karena dia sekarat. Yah saya memang belum pernah merasakan orang yang saya sayangi divonis sekarat seperti Hazel, tapi saya pernah merasakan bagaimana orang yang saya sayangi tiba-tiba pergi untuk selamanya tanpa sakit apa-apa. Saya rasa setiap orang adalah granat, bahkan orang yang sehat pun tiba-tiba bisa “meledak”. Jadi Hazel, sayangi saja orang yang ingin kamu sayangi dan jangan menolak untuk disayangi oleh orang yang kamu sayangi *ribet mode on*

Kalau mengalami seperti yang dialami tokoh-tokoh kita di TFiOS ini,  rasanya memang lebih mudah kalau melemparkan kesalahan pada bintang-bintang. Apalagi ketika Hazel bilang kalau dia sudah dicabut dari deretan orang-orang yang terselamatkan dan Augustus bilang dunia bukanlah pabrik  perwujudan keinginan. Hiks…gak bisa komentar lagi deh.

At last,  Augutus-nya keren, Hazel-nya cantik, cerita cinta mereka manis, karakter-karakternya punya selera humor yang bagus, daaaannnnn…. yaahh, seperti cerita-cerita sicklit lain…ending-nya bikin galau, menghabiskan banyak tisu, dan membuat saya kena book hangover selama dua minggu. Selama itu saya masih belum rela mengganti Augustus dengan tokoh cowok lain *eh*.

So, 4 dari 5 bintang deh untuk The Fault in Our Stars. I really liked it :D

Lola Rose Review

Baca Bareng Juli Tema Masalah Remaja/Keluarga

 13891_10201531226562585_4022679394337630092_n

Title: Lola Rose | Author:  Jacqueline Wilson | Edition language: Indonesian | Publisher: Gramedia Pustaka Utama (1st edition, Jakarta, April 2007) | Page: 304 pages | Status: Pinjam di Perpustakan Daerah Kota Banjarbaru | My rating: 5 of 5 stars

 

Hmmm…bulan ini tema baca barengnya adalah masalah remaja/keluarga. Dan pikiran saya langsung konek ke buku Lola Rose yang bertengger di rak perpustakaan daerah kota Banjarbaru. Untung bukunya gak ada yang pinjem. Langsung deh saya sambar dan sempat diperpanjang satu kali karena belum selesai saya baca. Sayang ya kondisi bukunya sudah cukup memprihatinkan :(

Okeh, sebelumnya mari kita simak dulu sinopsis yang ada di cover belakang buku ^^

Karena ayahnya suka memukul, Jayni dan ibunya kabur ke London bersama adiknya, Kenny. Walaupun mereka takut tertangkap, kepergian itu terasa seperti petualangan yang mengasyikkan—-mula-mula. Mereka bahkan mengganti nama, sehingga Jayni menjadi Lola Rose! 

Tapi ternyata kehidupan baru Lola Rose tidak sebagus namanya. Ia tidak menyukai pekerjaan baru Mum, atau pacar baru Mum. Ia juga tidak cocok dengan cowok-cowok di sekolahnya.

Dan ketika Mum harus dirawat di rumah sakit. Lola terpaksa bersikap lebih dewasa daripada umurnya.

Masalah betambah ketika ayahnya kemudian berhasil menemukan tempat tinggal mereka yang baru!

Pikiran pertama saya setelah membaca buku ini adalah buku ini bukan buku anak-anak. Isinya sedikit…errr…kurang sopan untuk anak-anak. Mungkin buku ini cocok buat remaja yang tua-an dikit *halah*.

Kali ini tokoh utama kita, Lola Rose, mempunyai Mum yang sangat cantik, mantan foto model dan punya Dad luar biasa tampan, mantan penyanyi rock. Tapi Mum sangat sembrono dan Dad suka memukul. Ketika Dad mulai berani memukul Lola Rose, Mum segera membawa kabur kedua anaknya.

Berbekal uang hasil menang lotre, mereka bertiga memulai hidup baru. Tapi kesenangan mereka tidak berlangsung lama. Masalah-masalah mulai berdatangan. Kecantikan dan kesembronoan Mum mulai menimbulkan pertengkaran-pertengkaran kecil. Tapi Lola Rose, Kenny, dan Mum tetap saling menyayangi.

Saat Mum sakit, Lola Rose benar-benar bingung. Untunglah dia ingat kalau mereka tidak sendiri. Lola Rose nekat menghubungi seseorang yang dia yakin tidak akan pernah disetujui oleh Mum.

Untungnya juga Lola Rose bersikap dewasa sekaligus masih muda *eh*. Keputusan-keputusan yang diambilnya terbukti jauh lebih bijaksana dibandingkan keputusan-keputusan Mum.

Daaan bagian yang paling berkesan bagi saya dari kisah Lola Rose ini adalah saat Lola Rose berkomunikasi dengan “Suara Bencana” khayalannya. Persis seperti saya saat kecil dulu. Dan mungkin seperti kalian juga. Tahu kan saat kita khawatir akan sesuatu, sering kali ada Suara Bencana yang bicara pada kita. Membisikkan kekhawatiran kepada kita sehingga ribuan kali lebih buruk. Terus Suara Bencana itu juga menantang kita untuk melakukan hal-hal konyol. Seperti Lola Rose yang berjalan sambil menghindari retakan di jalan. Berharap kalau dia berhasil maka apa yang dia khawatirkannya tidak terjadi.

Dengan cara ini, Lola Rose berhasil menghadapi ketakutannya. Si Lola Rose ini takut sekali dengan hiu. Bahkan melihat hiu yang ada di akuarium raksasa pun dia takut. Tapi demi kesembuhan Mum, Lola Rose menantang Suara Bencana. Lola Rose memberitahukan sebuah cara kepada saya untuk menghadapi ketakutan sendiri.

“Ini aku. Aku si sini. Lola Rose,” aku berbisik. “Aku mampu melakukannya. Aku bisa membalas tatapanmu. Kau bisa berenang melintas lagi berulang kali. Kau bisa membuka mulutmu yang mengerikan dan memamerkan semua gigimu padaku, tapi aku takkan beranjak. Aku akan tetap di sini menghadapi kalian selama satu jam penuh. Aku akan membuat ibuku sembuh, kalian tahu.”

Aku memerhatikan mereka, tiap kali mereka berenang melintas, jantungku berdebar keras dan keringat menitik di dahiku. Aku merasa mual, aku perlu ke toilet, aku tak bis berhenti gemetar—-tapi aku tetap di sana.

Aku menghitung tiap detik sampai tiba pada angka 3.600. …

Lola Rose hebaaaaat. Cara ini lumayan ampuh. Saya pernah takut sama cacing, tapi setelah saya lihat saja cacing itu menggeliat-geliat di tanah selama satu jam, ternyata tidak apa-apa yah *hahhhahh*

Oh ya, saya sempat terharu saat Lola Rose dan Kenny mengunjungi ibu mereka di rumah sakit. So sweet sekaligus lucu. Saya juga suka dengan ending-nya. Dan tokoh favorit saya adalah Bibi Barbara. Keren banget deh. Bibi Barbara ini pemaaf, bijak, lucu, percaya diri dan jago bela diri. Tipe bibi yang ideal deh. Dan kemunculannya menyelesaikan hampir semua masalah Lola Rose.

At last, rating saya untuk novel ini adalah 5 dari 5 bintang. Jangan terlalu percaya. Soalnya saya selalu memberi rating full untuk buku-buku Jacqueline Wilson. Karena alasan tertentu, bisa membaca buku-buku beliau itu, seperti dream comes true bagi saya. So, it was amazing :D

Holland: One Fine Day in Leiden Review

 photo holland_zps71ae61de.jpg

 

Title: Holland: One Fine Day in Leiden | Author: Feba Sukmana | Publisher: Bukune | Edition language: Indonesian | Page: 292 pages | Edition: 1st Edition, Jakarta, November 2013 | Status: Owned book | Purchase location: TB Salemba Banjarbaru | Price: Rp54.000,- | My rating: 4 of 5 stars

Sinopsis:

Sejak menjejakkan kaki di Bandara Schiphol, Belanda, dan udara dingin menyambutnya. Kara tak lagi merasa asing. Mungkin, karena ia pun telah lama lupa dengan hangat.

Belasan ribu kilometer dari orang-orang tercinta, ia berharap bisa bersembunyi. Dari masa lalu, luka, dan cinta. Nyatanya, semua itu harus ia temkan lagi dalam kotak tua yang teronggok di sudut kamarnya. Kini, Kara tahu: Ibu yang pergi, Kara yang mencari. Tak ada waktu untuk cinta.

Namun, kala senja membingkai Leiden dengan jingga yang memerah, Kara masih ingat bisik manis laki-laki bermata pirus itu, “Ik vind je leuk” — aku suka kamu. Juga kecup hangatnya. Rasa takut mengepung Kara, takut jatuh cinta kepada seseorang yang akhirnya akan pergi begitu saja. Dan, meninggalkan perih yang tak tersembuhkan waktu. Seperti ibu.

Aku tidak berada di sini untuk jatuh cinta, ulangnya dalam hati, mengingatkan diri sendiri.

Di sudut-sudut Leiden, Den Haag, Rotterdam, dan Amsterdam yang menyuguhkan banyak cerita, Kara mempertanyakan masa lalu, harapan, masa depan, juga cinta. Ke manakah ia melangkah, sementara rintik hujan merinai di kanal-kanal dan menghunjam di jantung kota-kota Negeri Kincir Angin yang memesona?

Alles komt goed — Semua akan baik-baik saja, Kara,

Feba Sukmana

 

Saya takut baca buku ini. Takut lihat judulnya, takut lihat kartu yang terselip di buku. Kartu yang bertuliskan “Orang bilang harapan itu seperti awan. Beberapa berlalu begitu saja, tetapi sisanya membawa hujan. Kau, harapan yang manakah yang kau simpan di hatimu?” 

Leiden dan harapan *sigh*. Betul-betul merasa tertohok.

Buku ini nangkring di rak currently reading selama 2 minggu karena seperti yang saya katakan sebelumnya, saya takut membacanya. Tapi setelah memberanikan diri untuk memulai, ternyata hanya butuh waktu sekali duduk untuk menyelesaikan Holland.

Yaaah, mungkin seperti kata penulis di bagian awal buku. Jatuhnya buku ini ke tangan saya, adalah cara semesta untuk mengingatkan, bahwa mimpi  hanya bisa menjelma nyata jika kita tetap terjaga.

Mimpi konyol saya untuk bisa melanjutkan pendidikan ke Leiden. Mimpi yang semakin lama semakin mirip mimpi si Cebol yang merindukan bulan. Gara-gara itu, banyak sekali bookmark yang saya tempel di buku ini. Untuk adegan-adegan yang saya harap bisa membantu saya untuk tetap terjaga.

Karena cerita Kara, somehow, sama seperti cerita saya, meskipun masalahnya berbeda, tapi kami sama-sama penakut dan peragu.  Sama-sama berusaha melarikan diri alih-alih mencari. Sama-sama memendam amarah dan berpikir yang tidak-tidak. Tanpa sadar kalau sebenarnya kami berjalan di tempat. Takut menerima karena takut kehilangan.

Cerita Kara sendiri mengisahkan tentang pencariannya akan sosok seorang ibu. Kara yang dibesarkan oleh kakek dan neneknya sama sekali tidak tahu siapa orang tuanya. Kakek dan neneknya terkesan merahasiakan hal itu. Sampai Kara memutuskan untuk pergi dan mencari sendiri. Dan Leiden adalah tujuannya.

Tapi saat kakeknya memutuskan untuk memberi tahu, giliran Kara yang takut. Takut akan kebenaran apa yang mewujud dari jika kepingan puzzle yang kosong dihatinya mulai lengkap. Dan Kara memutuskan untuk menunda. Membiarkan kesedihan tentang pertanyaan mengapa orang tuanya seakan tidak menginginkannya tetap ada lebih lama.

Dan sekarang ada Rein. Pria bermata pirus yang mampu membuat jantung Kara berdebar. Namun, sama seperti kebenaran tentang orang tuanya, Kara menghalau rasa itu. Karena menurut Kara, hidupnya sudah rumit, dan dia tidak butuh kerumitan lain. Terutama karena sikap Rein yang sering menghilang tanpa alasan dan muncul kembali dengan tiba-tiba. Kara takut Rein akan meninggalkannya seperti orang tuanya dan menimbulkan luka. Aku tidak berada di sini untuk jatuh cinta, ulang Kara dalam hati.

Cerita yang membuat saya galau karena setting dan dilema yang dihadapi sang tokoh utama pas sekali dengan harapan dan ketakutan saya.

Cerita tentang keberanian untuk menghadapi rasa takut, keberanian untuk menerima dan keberanian untuk memaafkan. Buku ini membuat saya menyadari kalau selama ini saya sama pengecutnya dengan Kara. Kami memilih berada di zona nyaman, selalu menunda dan membiarkan amarah dan kekosongan tetap berada di hati.

Namun saya harap, saya juga akhirnya bisa seperti Kara. Yang akhirnya bisa berani dan tidak membiarkan kekhawatiran tentang masa depan mengambil alih. Cukup ucapkan saja mantranya “Alles komt goed” dan semoga semuanya benar-benar akan baik-baik saja ^^

Okay cukup tentang kegalauan saya :D

Beberapa hal lagi yang saya suka di buku ini adalah deskripsi Leiden-nya yang terasa nyata. Ditambah ilustrasi keren-nya yang membuat saya berharap menemukan lampu Aladin dan meminta jin memindahkan saya ke Leiden sekarang juga.

Juga ada fakta-fakta menarik tentang hubungan Indonesia dengan Belanda. Salah satunya yang berkesan adalah fakta tentang susu bendera :D

Dan sekarang saya ingin memamerkan quote-quote yang sukses membuat saya merasa tertohok ^^

“Mungkin benar, ketidakjelasan harus diteliti. Dan, ketakutan harus dihadapi. Kara merasa seperti anak kecil yang baru saja melongok ke kolong tempat tidur untuk membuktikan bahwa hantu yang ditakutkannya sama sekali tidak nyata.”

hal. 224

“Hanya saja, Kara, jika kau merawat amarah dalam dirimu, waktu akan membuatmu lupa. Kau tak akan ingat lagi penyebab awal yang membuatmu marah. Yang tersisa hanya gumpalan emosi yang tak terjelaskan dan kekakuan untuk memulai kembali. 

Jangan ulangi kesalahanku, Kara. Jangan simpan kemarahan terlalu lama.”

hal. 260

Dan quote ini untuk keluarga dan tetangga-tetangga saya *me-efek ne kesahnya* :D

“Pergilah. Neneknya itu meanatap mata Kara dalam-dalam. “Temukan dirimu. Sudah terlalu lama aku merantaimu atas nama cinta.”

hal. 261

Dan scene terakhir ini rasanya pengen saya bawa kemana-mana. IMO, berasa so sweet banget  ^^

Weet je,” kata Rein menengadah, memandangi awan bergumpal yang berarakan di atas kepala mereka. “Orang bilang, harapan itu seperti awan. Beberapa berlalu begitu saja, tetapi sisanya membawa hujan.”

Kara tersenyum, ikut mendongak. Ah, hujan. Hujan yang sempat diharapkannya mampu menghapus separuh ingatan. “Kalau begitu, semoga saja awan yang memayungi kita akan membawa hujan dan mengabulkan harap” jawab Kara.

At last, selamat berjalan-jalan di Negera Kincir Angin. Selamat menemukan keberanian untuk menghadapi ketakutanmu sendiri. And, 4 dari 5 bintang untuk Holland: One Fine Day in Leiden. I really liked it.