Datu-Datu Terkenal Kalimantan Selatan Review

IMG_20140913_0004
Title: Datu-Datu Terkenal Kalimantan Selatan | Author: Fahrurraji Asmuni, S. Pd, MM.| Edition language: Indonesian | Publisher: Hemat| Edition: 2nd Edition, 2013 |Status: Owned Book (given by the author) | Date received: 6 September 2013 |  My rating: 3 of 5 stars

***

Senang itu….

Kalau kamu pulang kampung di akhir pekan setelah 5 hari bekerja di kota orang….

Saat tiba di rumah….

Adikmu yang baru pulang sekolah bilang….

Kalau kamu dapat 2 buku gratis dari gurumu di sekolah ^^

Hahaha…asiiik, dapat dua buku gratis lagi dari guru Bahasa Indonesia saya waktu SMA yang sekaligus juga si pengarang buku, Bapak Fahrurraji Asmuni. Saking senangnya, saya sampai lupa menitipkan ucapan terima kasih. Total saya sudah diberi 4 buku gratis karangan beliau. Buku-buku tersebut adalah Sastra Lisan Banjar Hulu, Sajadah Iblis, Datu-Datu Terkenal Kalimantan Selatan, dan Syekh Abdul Hamid Abulung: Korban Politik Penguasa.

Terima kasih banyak ya Bapak. Jadi malu nih dikasih buku gratis terus. *kesah* *padahal kalau ada buku baru pasti mau dikasih gratis lagi* :D

Oke, sekarang kita bahas buku nya. Salah satu buku yang diberikan ke saya itu berjudul Datu-Datu Terkenal Kalimantan Selatan. Sebetulnya, sejak jaman saya masih SMA jangan ditanya kapan karena sudah lama sekali, saya jadi berasa tua, buku ini sudah ada. Edisi yang saya punya ini, merupakan edisi cetak ulang oleh penerbit yang berbeda.

Sebetulnya, sudah sejak dulu saya ingin membaca buku ini. Tapiiiii….judulnya itu lo, bikin malas *ditimpuk Bapak Guru pakai penghapus*. Apalagi pas melihat daftar panjang para Datu yang ada di cover belakang. Dalam bayangan saya, buku ini bakalan ditulis dengan “gaya buku sejarah”. Pasti isinya berupa silsilah para Datu-Datu beserta keturunan-keturunannya, yang menurut pengalaman saya setelah membaca buku-buku seperti itu, bakalan membosankan.

Tetapi saya keliru, isinya ternyata seperti cerita rakyat. Ceritanya mengalir dan saya bisa menamatkannya sekali duduk. Rasanya seperti membaca dongeng alih-alih buku sejarah. Tapi yang bilang ini buku sejarah siapa juga ya?, hehehe.

Nah, disinilah letak kesalahpahaman saya pemirsa-pemirsa *halah*. Coba kita lihat judul di cover depannya. Judulnya “Datu-datu Terkenal di Kalimantan Selatan”. Sugesti awal saya setelah melihat judulnya adalah buku ini merupakan buku “Sejarah Datu-Datu”, bukan buku “Cerita Datu-Datu”.

Saking tersugestinya saya, saya sampai tidak ngeh kalau dibagian kata pengantar pengarang dan pengantar penerbit, sudah disebutkan kalau  buku ini isinya “Cerita Datu-Datu”. Saya tetap mengira kalau buku ini berisi fakta-fakta sejarah para Datu.

Setelah saya membaca sampai pada cerita Datu Ala, tepatnya di paragraf berikut,

“Demikian sekelumit cerita mengenai Datu Alabio, sedangkan benar atau tidaknya cerita ini penilaiannya diserahkan kepada para pembaca.”

(hal 13)

saya baru sadar kalau buku ini isinya….errrrr….cerita, tidak semuanya fakta sejarah. Apalagi kalau kita teruskan membaca sampai ke cerita Datu Haji Batu. Cerita beliau ini mirip seperti cerita Damarwulan yang mencuri selendang bidadari.

Namun, tidak semua kisah Datu-datu ini bergaya cerita rakyat. Ada yang memang fakta sejarah. Seperti Datu Kalampayan misalnya. Datu ini memang sangat terkenal. Baik makam maupun karya beliau  masih bisa kita temukan sampai sekarang.

Selain Datu Kalampayan, total ada 36 Datu yang kisahnya dimuat dalam buku ini. Mereka adalah:

  1. Datu Abdullah
  2. Datu Abulung
  3. Datu Ahmad Balimau
  4. Datu Ala
  5. Datu Aling
  6. Datu Arya Tadung Wani
  7. Datu Banua Lima
  8. Datu Bumburaya
  9. Datu Burung
  10. Datu Candi Agung
  11. Datu Daha
  12. Datu Gadung
  13. Datu Haji Batu
  14. Datu Kalampayan
  15. Datu Kandang Haji
  16. Datu Karipis
  17. Datu Kartamina
  18. Datu Kasan
  19. Datu Kurba
  20. Datu Landak
  21. Datu Magat
  22. Datu Murkat
  23. Datu Nafis
  24. Datu Niang Thalib
  25. Datu Nihing
  26. Datu Ning Mundul
  27. Datu Nuraya
  28. Datu Patih Ampat
  29. Datu Pujung
  30. Datu Sanggul
  31. Datu Suban
  32. Datu Sungsum
  33. Datu Taniran
  34. Datu Tungkaran
  35. Datu Tungku
  36. Datu Ulin

Nah, mari kita cek seberapa kenalkah saya dengan Datu-datu ini. Dari ketiga puluh enam Datu ini, saya cuma mengenal, atau lebih tepatnya, pernah mendengar nama Datu Kalampayan, Datu Nuraya, dan Datu Sanggul. 3 dari 36. Padahal yang 33 sisanya ini juga menyandang predikat terkenal. Astagaaaaa….saya ini orang Kalimantan Selatan atau bukan sih? *tutup muka pakai ember*.

Dengan penasaran,  saya pun langsung membaca kisah Datu yang pertama, Datu Abdullah. Dan kejutaaan… Datu Abdullah ini ternyata orang Amuntai. Amuntai itu nama kota kelahiran saya. Tempat tinggal beliau di daerah Sungai Malang. Sungai Malang mah dekat sekali dengan rumah saya. Namun,  saya tidak pernah mendengar nama Datu Abdullah. Haduh, saya merasa gagal jadi orang Amuntai. *nangis*

Ehm, kembali ke cerita Datu Abdullah. Datu Abdullah ini ternyata seorang pejuang. Dan lewat kisah Datu Abdullah inilah pertanyaan yang menghantui saya selama ini akhirnya terjawab. Saya selama ini bertanya-tanya kenapa penjajah Belanda sampai bisa menang melawan rakyat Kalimantan yang terkenal dengan kemampuan ilmu gaib nya yang sangat hebat dan cenderung….errr….mengerikan.

Dalam bayangan saya sih tinggal santet saja itu para penjajah beres deh. Atau keluarkan mandau terbang, sumpit beracun, menghilang, keluarkan penyakit, bersekutu dengan hantu untuk memakan para penjajah itu, dan sebagainya *ekstrim banget sih*.

Dan saya akui ternyata Belanda memang pintar. Datu Abdullah dan para pengikutnya ini mempunyai kemampuan gaib untuk menghilang. Awalnya sih Belanda kewalahan menghadapi pasukan Datu Abdullah yang tiba-tiba bisa menghilang ini. Tapi penjajah Belanda yang namanya Van der Wijck mengatakan kalau para pejuang ini harus bertarung secara ksatria, tidak boleh ada yang menghilang, bila menghilang maka Sungai Malang akan dibumihanguskan.

Nah, kisah akhirnya bisa ditebak kan? Jelas para pejuang kita kalah menghadapi persenjataan Belanda yang lengkap dan moderen. Maka perjuangan Datu Abdullah pun berakhir.

Oke, itu baru cerita Datu Abdullah, kalau saya ceritakan cerita ke 36 Datu ini satu-satu ntar bakalan kepanjangaan, spoiler dan tidak asik lagi.  Jadi, baca sendiri saja ya bukunya, kisahnya seru-seru loh. Selain itu ada banyak pengetahuan baru yang saya sebagai orang Kalimantan Selatan pun tidak tahu. Meskipun ada yang statusnya masih cerita dari mulut ke mulut.

Dari buku ini, tepatnya pada kisah Datu Banua Lima,  saya baru tahu kalau Kerajaan Negara Dipa bukanlah kerajaan pertama di Kalimantan Selatan. Sebelumnya ada Kerajaan Tanjungpuri yang berasal dari para pendatang dari Kerajaan Sriwijaya.

Yang dari Kalimantan Selatan pasti familiar dengan nama Tanjungpuri kan? Tanjungpuri kan nama daerah tempat objek wisata di Kabupaten Tabalong. Nah saya baru tahu kalau nama Tanjungpuri itu berasal dari nama kerajaan *dasar tidak gaul*.

Saya juga baru tahu kalau Puteri Junjung Buih adalah puteri dari Raja Kartapala, Raja dari Kerajaan Tanjungpuri ini. Rasanya dulu saya pernah membaca entah di buku mana kalau Puteri Junjung Buih ini lahir dari buih yang muncul dari hasil pertapaan Lambung Mangkurat.  Nah, yang benar yang mana ya?

Saya juga baru tahu kalau ada tiga nama Kabupaten di daerah Hulu Sungai yang diambil dari nama Lima Panglima Tanjung Puri.  Mereka adalah Tabalong, Balangan dan Tapin. Dua sisanya, merupakan nama daerah di Kabupaten Hulu Sungai Tengah dan Kabupaten Hulu Sungai Selatan, yaitu Alai (Batang Alai) dan Hamandit (Batang Hamandit). Kisah Datu Banua Lima ditutup dengan kisah + fakta yang bisa membuat saya yang berasal dari daerah pahuluan ini merasa bangga luar biasa ^^

Dari kisah Datu Patih Ampat, saya baru tahu kalau Datu Pambalah Batung yang —  nama beliau dijadikan nama Rumah Sakit di Amuntai sekaligus nama jalan rumah saya — beserta tiga Datu lainnya,  meskipun sudah gaib, ternyata masih bisa dipanggil. Nah, hayooo, siapa yang berani coba? :D

Sebelum membaca buku ini, saya menganggap sebutan Datu ini hanya untuk orang-orang yang memiliki keramat yang ilmu agama Islamnya tinggi semisal Datu Kalampayan. Tapi ternyata para panglima kerajaan jaman dulu pun bisa dipanggil Datu. Setelah saya cek di Kamus Besar Bahasa Indonesia. Salah satu dari arti Datu adalah orang yang keramat. Jadi asalkan punya keramat maka seseorang bisa dipanggil Datu. Nah, baru paham saya.

Dari tadi saya cuma banyak  membahas Datu-Datu yang berasal dari kerajaan lama ya? Bagaimana dengan Datu-Datu yang keramat dan ilmu agama Islamnya nya tinggi? Datu Kalampayan, Datu Nuraya, Datu Sanggul, Datu Suban dan Datu-Datu lainnya. Well, sekali lagi, silakan baca saja sendiri. Membaca kisah-kisah para Datu ini membuat saya merasa kalau ilmu agama saya masih sangat sangat sangat sangat sangat sangat jauh sekali. Ya iyalah, dibandingkan sama Pak Haji di seberang rumah saja saya masih kalah jauh ;(

Tapi kisah mereka tidak membuat saya minder dan pasrah. Biasanya sih kalau saya melihat orang yang tampaknya lebih alim daripada saya, saya akan merasa minder.  Namun, kisah-kisah para Datu ini malah membuat saya semangat untuk meningkatkan ibadah.  Mungkin gara-gara keramat beliau-beliau ini ya? Wallahu a’lam.

Oh ya, ada satu lagi informasi penting dari buku ini yang membuat saya penasaran sekali ingin mencoba. Ini ada hubungannya dengan lewat di daerah Tatakan di Kabupaten Tapin. Catat ya, cuma “lewat”. Ngomong-ngomong, apakah kalau kita ingin pergi dari Banjarmasin ke Hulu Sungai otomatis akan melewati Tatakan? Nanti saya cari tahu dulu deh. Pokoknya ada yang ingin saya coba. Penasaran? Baca saja kisahnya di cerita Datu Nuraya :D

Terus…terus…soal tampilan bukunya. Saya lebih suka cover yang ini daripada cover edisi lama. Tapi typo atau kesalahan ketik di dalamnya banyak sekali. Sebetulnya saya tidak terlalu bermasalah dengan typo sih. Asal kata-katanya masih bisa dibaca dan dimengerti maka tidak apa-apa.

Saya yang cuma mengetik tulisan di blog saja masih belum bisa bebas dari typo, apalagi mengetik untuk sebuah buku yang tebalnya ratusan halaman. Tapiiii, kalau typo-nya kebanyakan, mengganggu juga sih :D . Semoga nanti kalau di cetak ulang lagi kisah Datu-Datu ini bisa bebas dari typo. Amin. Meskipun penerbitnya cuma penerbit lokal, bukan berarti tidak bisa bebas dari typo seperti penerbit-penerbit besar di pulau Jawa kan ;)

Kemudian, soal siapa yang cocok membaca buku ini. Mmmmm….saya rasa buku ini kurang cocok untuk dibaca anak kecil meskipun kisah-kisah bergaya dongeng. Ada beberapa cerita yang cenderung ke cerita orang dewasa. Ada cerita yang menurut saya kelewat seram sampai saya tidak berani ke kamar mandi malam-malam dan merasa ada makhluk halus yang memandangi saya waktu saya tidur. *berasa seram*

Kemudian sekedar info, kalau ada yang iseng ngecek ISBN di cover belakang buku, saya rasa ISBN nya salah cetak. Soalnya ISBN itu punyanya buku Sajadah Iblis. Tapi ISBN yang di bagian identitas buku di halaman depan benar saja kok.

At last,  3 dari 5 bintang untuk Datu-Datu Terkenal Kalimantan Selatan. Terutama untuk pengetahuan-pengetahuan baru dan cerita-cerita Datu-nya yang memotivasi.

I liked it :D

NB: Antrian baca saya berikutnya adalah buku hadiah yang kedua, judulnya Syekh Abdul Hamid Abulung: Korban Politik Penguasa. Tunggu review-nya ya *wink*

The Extraordinary Adventures of Arsѐne Lupin Review

the_extraordinary_adventures_of_arsene_lupin

Title: The Extraordinary Adventures of Arsѐne Lupin | Author: Maurice LeBlanc | Publisher: Bukune | Edition language: Indonesian | Page: 248 pages | Edition: 1st Edition, Juli, 2012 | Status: Pinjam di Perpustakaan Banjarbaru |  My rating: 3 of 5 stars

Sinopsis:

Arsѐne Lupin ditangkap! Sosok pencuri itu berhasil dikenali oleh Ganimard — sang detektif terkenal yang selalu memburunya. Tersangka pelaku pencurian kalung itu akhirnya masuk sel penjara. Namun, bukan si cerdik Arsѐne Lupin jika ia tak mampu melarikan diri. Siasat pintarnya bahkan mampu mengelabui penjaga penjara, Lalu bagaimana cara Lupin bebas dari penjagaan ketat?

***

Kali ini Sherlock Holmes datang telat memenuhi undangan dari tuan rumah Monsieur Devanne. Arsѐne Lupin telah berhasil melancarkan aksi pencurian di rumah mewah tersebut. Tak ada jejak yang ditinggalkan oleh sang pencuri. Apakah Holmes berhasil mengejar Lupin?

***

The Extraordinary Adventures of Arsѐne Lupin menceritakan aksi-aksi hebat dari si pencuri cerdik asal Prancis. Kelihaian mencuri yang dilakukan Arsѐne Lupin membuatnya dijuluki Gentleman Buglar. Tanpa meninggalkan jejak dalam tiap aksinya, Arsѐne Lupin selalu lolos dari buruan polisi dan detektif.

Sinopsis di atas, saya contek dari sampul belakang buku. Selain cover depannya yang keren, sinopsis inilah yang mendorong saya untuk meminjam buku ini dari Perpustakaan Daerah Kota Banjarbaru. Terutama diparagraf yang menginformasikan kalau Holmes bakalan berhadapan dengan si pencuri.

Holmes??? Sherlock Holmes si detektif terkenal itu kan? Holmes yang itu menghadapi Arsѐne Lupin?

Whoaaaaaa……….

Eh, tapi ngomong-ngomong, Arsѐne Lupin itu siapa sih? *ditimpukpakaisandal*

Ehm, dengan semangat 45 saya langsung membaca buku ini. Tapi di chapter pertama, dengan judul Tertangkapnya Arsѐne Lupin, tidak ada Holmes-nya.

Oke lah tidak apa-apa, lanjut ke chapter kedua — Arsѐne Lupin di Dalam Penjara. Masih tidak ada juga.

Lanjut ke chapter ketiga —- Pelarian Arsѐne Lupin. Tidak ada.

Lanjut ke bab keempat —- Pelancong Misterius. FYI, disini saya baru ngeh kalau cerita disetiap chapter ternyata berdiri sendiri-sendiri alias masing-masing chapter ternyata cerita pendek. Saya kira bersambung. Soalnya chapter 1 – 3 terkesan berurutan.

Btw,  masih tidak ada Holmes-nya.

Chapter 5 — Kalung Sang Ratu, 6 — Kartu Tujuh Hati, 7 —- Lemari Penyimpanan Madame Imbert. Tidak…ada. :(

Lanjut sampai ke chapter delapan, Mutiara Hitam. Chapter terakhir. Daaaan …. masih tidak ada juga. ;(

Jujur kawan, ini membuat saya betul-betul khawatir. Setelah sebelumnya saya membaca buku Midnight for Charlie Bone, saya melewatkan sebuah informasi penting yang baru saya sadari setelah membaca kalimat terakhir dari buku tersebut. Tapi untuk buku ini, bukan hanya informasi yang saya lewatkan, tapi sebuah chapter. Chapter yang ada Holmes-nya. Bagaimana bisaaaaaa……. *panik*

Tapi setelah saya “geledah” lagi bukunya. Chapter itu memang tidak ada. Masih belum puas dan sedikit khawatir, saya googling para blogger buku yang pernah membaca buku edisi ini. Dan ketemu blognya Olive @ Hijau Balonku. Disana Olive bilang kalau chapter Holmes memang tidak ada. Fiuhhhh….saya akhirnya bisa bernapas lega. Ternyata saya masih normal dan belum pikun :D

Dari blog-nya Olive @ Hijau Balonku juga saya baru tahu kalau ternyata tokoh Arsѐne Lupin ini merupakan tokoh yang menginspirasi terciptanya tokoh Kaito Kid. Iyaaaah Kaito Kid yang itu. Kid yang ada di komiknya Detektif Conaaaan.

Wow….serius saya baru tahu. Rupanya selama ini saya cuma penggemar abal-abal-nya Kid *tutup muka pakai bantal*. Pantas tingkah laku Arsѐne Lupin ini terasa familiar. Cerdik dan selalu berhasil lolos secara ajaib tanpa meninggalkan jejak. Pandai menyamar. Entah bagaimana bisa tahu kalau benda berharga tertentu itu asli atau tidak. Kadang juga bertindak ganda sebagai detektif pembela kebenaran walaupun ujung-ujungnya mencuri juga. Pokoknya keren deh :D

Dari kedelapan chapter yang ada dibuku ini. Saya paling suka dengan Kalung Sang Ratu dan Lemari Penyimpanan Madame Imbert. Ceritanya beda dari chapter lain. Di Kalung Sang Ratu, dikisahkan masa lalu Arsѐne Lupin. Sedangkan di Lemari Penyimpanan Madame Imbet, Arsѐne Lupin kena batunya ;)

Meskipun sempat terkecoh dengan kejadian chapter dan terkecoh juga dengan gaya penceritaan yang orang pertama-nya yang beda-beda (kadang dari si penulis cerita, kadang dari Arsѐne Lupin sendiri). Tapi saya cukup suka dengan kisah Arsѐne Lupin. Padahal saya belum tahu kalau dia “adalah” Kaito Kid.

Bisa-bisanya ya para pengarang itu membuat tokoh antagonis seperti Arsѐne Lupin dan Kaito Kid menjadi idola. Para detektifnya jadi terkesan….errr…maaf….b*doh. Yaaahhh… kecuali Shinichi Kudo lah yang kalau di mata saya, bagaimanapun, akan tetap selalu pintar dan keren :D

Ngomong-ngomong, inilah yang membuat saya penasaran dengan bagaimana kisah pertemuan antara Arsѐne Lupin dengan Holmes. Mungkin tidak ya sama seperti yang terjadi antara Conan dan Kid? Haduh di buku yang mana sih yang ada kisahnya???

Oh ya, tadi saya bilang cuma “cukup suka” ya? Bukan “suka pake banget” *apacoba*. Karena, saya merasa gaya Arsѐne Lupin ini mirip Holmes. Kalau Holmes merupakan tokoh protagonis yang tidak terkalahkan maka Arsѐne Lupin adalah kebalikannya. Seakan-akan Arsѐne Lupin ini mencuri “identitas” Holmes. Supaya tidak sama, Arsѐne Lupin sengaja diciptakan sebagai tokoh antagonis. Tapi dengan kecerdikan yang serupa. Dan somehow, saya merasa tidak rela kalau posisi Holmes di hati saya mulai terbagi dengan Arsѐne Lupin *eh*

Ehm, at last, 3 dari 5 bintang deh untuk buku yang memperkenalkan saya dengan Arsѐne Lupin. Buku ini berhasil membuat saya ingin membaca lebih banyak tentang petualangan si Gentleman Burglar, terutama mencari cerita yang ada Holmes-nya :D

Siiip lah. I liked it.

Love is … Review

IMG_20140913_0005

Title: Love is … | Author: Navika Anggun| Publisher: teen@noura | Edition language: Indonesian | Page: 220 pages | Edition: 1st Edition, Jakarta, Maret 2013 | Status: Pinjem di Perpustakaan Banjarbaru |  My rating: 3 of 5 stars

Sinopsis:

Satria menerima secarik kertas yang Yuki berikan.

“Ini apa?”

Yuki berusaha mengatur napas agar bisa menjelaskan kepadanya. Namun, suara perempuan, yang memberitahukan bahwa pesawat menuju Seol akan segera berangkat kembali terdengar. Setidaknya untuk beberapa menit saja Yuki ingin menjelaskan isi surat itu pada Satria.

Sayangnya itu tidak mugkin, sehingga Yuki hanya meminta Satria untuk membacanya saja. “Kakak harus janji baru baca ini kalau sampai di pesawat nanti! Jangan sekarang!” katanya masih terengah-engah.

Satria pun pergi! Tanpa kata-kata perpisahan yang sebenarnya ingin Yuki sampaikan panjang lebar. Hanya satu benda yang menjembatani perasaannya. Sebuah arti cinta yang tertulis di atas selembar kertas.

Baca romance lagi :D

Parah deh. Indonesian Romance Reading Challenge 2014 saya progressnya ngadat. Saya betul-betul harus keluar dari zona nyaman tahun ini. Plus ditambah bonus rasa galau tiap habis baca romance. Apalagi kalau romance-nya sedih. Aduh hai.

Love is … kisahnya sederhana. Tentang cinta antara dua orang sahabat di masa kecil. Segalanya kalau dilihat dari luar sih berjalan baik. Saya iri dengan tipe cinta seperti ini. Setidaknya mereka tidak perlu lagi gugup menghadapi keluarga masing-masing karena sudah akrab duluan.

Cuma masalahnya adalah kembali pada soal menyatakan perasaan. Kalau berkaitan dengan cinta mah, biar sudah sahabatan dari dulu juga tetap aja gugup yah :D . Seakan ktia tidak mengenal sahabat kita lagi karena perasaan itu sudah berubah jadi cinta. Tapi bisa juga karena kita merasa sahabat kita sudah sangat mengenal kita sehingga kita menganggap tanpa diberitahu tahu pun dia seharusnya sudah tahu, padahal tidak. Dan ini …. gawat.

Susah memang kalau berurusan dengan masalah cinta. Kadang kita terjebak dalam sebuah kesalahan. Sama seperti kata Yuki berikut:

Kesalahannya adalah tidak mudah membaca semua sikap Satria hingga terjebak dalam semua prasangka yang dibuatnya sendiri. 

Prasangka membuat semuanya jadi rumit. Padahal kalau diucapkan semuanya bakalan jelas kan. Tapi resiko yang ditanggung besar juga sih. Hahahhh….no comment lagi deh.

Makanya saya lebih senang membaca cerita dongeng yang mengganggap cinta itu mudah dan sederhana. Coba lihat Putri Salju, Cinderella, Ariel, Aurora. Mereka semua jatuh cinta pada pandangan pertama. Saya berharap bisa seperti para putri itu juga. Saling jatuh cinta pada pandangan pertama dan untuk selamanya #tsaaah.

At last, asik juga membaca kisah cinta dua orang sahabat yang sangat akrab tapi berubah jadi kikuk saat berhadapan dengan masalah cinta ini. Oh ya, dicerita ini, tokoh cowoknya, Satria, melanjutkan pendidikannya ke Korea loh. Tapi Korea nya tidak terlalu berasa menurut saya, hehehe.

And, 3 dari 5 bintang lah untuk The Love is … . Terutama untuk kata-kata “Jika cinta, kenapa ragu?” . Eaaaaa…kenapa ya?  Prasangka teman …. prasangka. 

Sekali lagi saya merasa seperti diingatkan untuk jujur saja pada perasaan daripada nanti menyesal. Yah, meskipun rasanya saya belum sanggup untuk menanggung resikonya. Ja…jadi nanti saja deh *selfkeplak* :D

Scene on Three #32 | Fireworks for Love

“Kuatur napas agar tidak melakukan kekonyolan. Aku cukup terkenal karena kerap bertingkah konyol. Menurutku, sih, itu caraku mengekspresikan emosi.

 

(hal. 33)

….

Kalau saja saat itu mulutku bisa berucap barang dua atau tiga kata. Sayangnya, otakku saja yang terlalu mampet. Aku dengan mudah terjatuh dalam hipnotis dan hilang kesadaran, tidak sanggup mengatakan sesuatu yang bernilai. Reaksiku pun tidak mencerminkan apa pun. Ini lebih buruk dari konyol. Payah!

(hal. 43)

Continue reading

Midnight for Charlie Bone Review

midnight_for_charlie_bone_uploaded_by_irabooklover

Title: Midnight for Charlie Bone – Tengah Malam Bagi Charlie Bone | Author: Jenny Nimmo | Publisher: Ufuk | Edition language: Indonesian | Page: 407 pages | Edition: 1st Edition, Jakarta, November 2010 | Status: Owned book | Purchase location: Obral Buku Murah Perpustakaan Daerah Kota Banjarbaru 2014 | My rating: 4 of 5 stars

Sinopsis:

Charlie merasakan jemari bak cakar mencengkeram bahunya. Nenek Bone membungkuk di atasnya. “Katakan apa yang kau dengar,” desak Nenek Bone. “Suara-suara,” kata Charlie. “Rasanya seperti berasal dari foto ini.”

Akibat bakat ajaibnya, Charlie dikirim ke sekolah asrama Bloor’s Academy ketika berusia sepuluh tahun. Sekolah itu berisi ratusan murid yang sepuluh diantaranya adalah anak-anak berbakat ajaib, seperti Billy yang bisa berbicara kepada binatang dan Gabriel yang bisa mendeteksi perasaan pemilik benda yang disentuhnya.

Di Bloor’s Academy yang penuh misteri, Charlie menyelidiki hilangnya Emma, seorang anak perempuan yang diduga telah dihipnotis oleh Manfred Bloor, anak kepala sekolah. Bersama sahabat-sahabatnya, Benjamin dan Fidelio, Charlie berusaha mengungkapnya. Mampukah mereka memecahkan misteri tersebut? Selain itu, bisakah Charlie bertemu kembali dengan ayahnya, yang baru ia ketahui hilang, bukannya meninggal?”

Kehidupan Charlie Bone tiba-tiba berubah sejak dia tiba-tiba bisa mendengar suara dari sebuah foto. Ternyata Charlie termasuk anak yang diberkati. Gara-gara itu, Charlie pun dipaksa neneknya, Nenek Bone, untuk bersekolah di Bloor’s Academy, tempat dimana 10 anak-anak yang diberkati seperti dirinya berada.

Gara-gara foto itu pula, Charlie terlibat dalam misteri hilangnya seorang anak. Charlie bertekad untuk mengembalikan anak hilang tersebut ke keluarga aslinya. Dan ternyata Bloor’s Academy terlibat dalam hilangnya anak tersebut.

Bersama sahabatnya Benjamin dan juga teman barunya di sekolah, Fidelio, Charlie melakukan petualangan berbahaya untuk menyelamatkan si anak. Dalam petualangan itu, Charlie tidak sengaja mengetahui kalau ayahnya yang dikatakan sudah meninggal juga terkait dengan hilangnya anak itu, dan bahwa ayahnya ternyata hanya hilang, bukannya meninggal.

Berhasilkah Charlie, Benjamin, dan Fidelio mengembalikan si anak hilang ke keluarganya kembali? Sayangnya mereka bertiga tidak tahu kalau ada pengkhianat diantara teman-teman mereka. Dan mereka juga tidak menyadari kalau menyelamatkan anak tersebut juga berarti terlibat dalam perang keluarga yang sudah berlangsung selama ratusan tahun.

Asik, akhirnya bisa kembali membaca fantasi setelah beberapa minggu terakhir berkutat dengan romance yang bikin galau :D . Kisah petualangan Charlie Bone di kastil Bloor’s Academy lumayan seru. Membuat saya tidak sabar untuk terus membaca sampai akhir karena penasaran. Saking cepatnya saya membaca, saya jadi lupa beberapa hal penting seperti alasan kenapa judul bukunya Tengah Malam bagi Charlie Bone. Memangnya apa hubungannya tengah malam dengan Charlie? Halah. Seharusnya ini tidak jadi masalah sih, tapi kalimat diakhir buku jadi membuat saya berusaha mengingat informasi penting apa yang saya lewatkan sehubungan dengan tengah malam.

Dari awal saya sudah suka dengan cerita petualangan Charlie. Asyik, lucu, menghibur dan penuh dengan keajaiban. Belum lagi suasana kastil Bloor’s Academy yang membuat saya juga ingin sekolah di sana. Dengan mengabaikan kepala sekolah dan keluarganya serta ibu asrama tentunya.

Sayangnya bagian ending-nya, selain ujung-ujungnya membuat saya merasa pikun, saya juga merasa kurang greget. Saya berharap ada pertarungan yang seru, tapi ternyata…..aneh.

At last, selamat berpetualang di Bloor’s Academy bersama Charlie dan kawan-kawan. Ngomong-ngomong saya suka sekali sama Fidelio dan keluarganya. Hidup mereka ceria dan seperti tanpa beban. Rumah mereka senantiasa dihiasi dengan bunyi beragam alat musik. Kereeen.

And, 4 dari 5 bintang deh untuk Charlie.  I really liked it.

Fireworks for Love Review

 

Baca Bareng Agustus Tema Buku Baru Indonesia yang Terbit Tahun 2014

 firework_for_love_by_wulan_murti_uploaded_by_ira_book_lover

Judul: Fireworks for Love | Pengarang:  Wulan Murti | Edisi bahasa: Indonesia | Penerbit: De TEENS (Cetakan I, Jogjakarta, Januari 2014) | Jumlah halaman: 334 halaman | Status: Owned book | Date purchased: August, 28th 2014 | Purchase location: Toko Buku Kharisma Banjarbaru | Price: Rp48.900,- | My rating: 3 of 5 stars

 

Telaaaaaaaaaaaat……

Telat buat posting bareng Agustus tema Buku Baru Indonesia Terbitan Tahun 2014. Beli bukunya aja baru sehari sebelum posbar, hehehe. Tapi untunglah linky tool nya masih dibuka. Jadi masih bisa eksis di kumpulan link posbar bulan Agustus :D

Untuk pertama kalinya perpustakaan kota Banjarbaru tidak punya tema posbar BBI. Buku paling baru yang ada di perpustakaan tahun terbitnya 2013. Rencananya sih saya mau beli bukunya di toko buku Gramedia di kota Banjarmasin. Tapi sampai sehari sebelum posbar saya tidak punya waktu luang untuk jalan-jalan ke kota Banjarmasin. Akhirnya mepet deh beli bukunya di toko buku di kota Banjarbaru saja.

Sempat bingung karena pilihan di toko buku itu terbatas. Untung buku Fireworks for Love ini cover-nya cantik dan ada yang sampul plastiknya sudah terbuka. Jadinya saya bisa langsung tahu kalau buku ini terbitan tahun 2014. Langsung deh disambar. Langsung dibaca hari itu juga dan ternyata tidak selesai dalam satu hari karena kecepatan saya kalau membaca buku romance itu sangat lambat.

Daan sebelumnya, ayo kita intip dulu sinopsis yang nongol di cover belakang buku:

Mungkin seharusnya tidak, tapi aku mencintaimu….

Darla…, maaf jika ini mengganggumu. Tapi aku punya sesuatu yang perlu kukatakan. Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku menyukaimu. Aku tak ingin mengubah keputusanmu. Aku tahu tak akan bisa, Karena aku lelaki bodoh. Aku, hanyalah orang yang menyebalkan. Padahal aku menyukaimu. Aku menyayangimu. Kagum padamu. Bangga padamu. Semangatmu, senyum dan tawamu, motivasimu, perhatianmu pada semua orang, pengertianmu. Kau berbeda. Kau ingin kumiliki.

Sekali lagi aku yang bodoh. Saat kau sendiri, aku malah tak bergegas menemani. Aku membiarkanmu pergi. Aku melepasmu. Membuang kesempatanku.

Kau tak perlu menunggu kesempatan kedua untuk mengungkapkan cintamu.

Nah….setelah membaca sinopsisnya, semangat saya langsung turun. Lagi-lagi tentang cinta yang sudah terlambat. Berpotensi membuat saya nangis bombay lagi.

Tapi ya sudahlah. Saya teruskan membaca dan kejutaaaaaan….ini buku romance pertama yang sukses saya lahap tanpa perlu meneteskan air mata :D

Awalnya saya tidak mengerti dengan jalan ceritanya. Sempat mengira buku ini model omnibook.  Mungkin ceritanya memang terpisah-pisah tapi dikaitkan oleh satu tema Fireworks *keingat Blue Romance by Sheva Thalia*. Tapi setelah baca sinopsis-nya di Goodreads, saya baru ngeh kalau tokoh utama di buku ini ada dua orang, yaitu Darla dan Tara.

Darla adalah seorang designer interior dan Tara adalah seorang chef pastry. Dua-duanya sama-sama patah hati dan dua-duanya sama-sama “melarikan diri” ke Macau. Di Macau mereka berusaha melupakan masa lalu dan memulai hidup baru di bidang kesukaan mereka masing-masing. Pekerjaan mereka jua lah yang akhirnya mempertemukan dua gadis asal Indonesia ini.

Tara yang selama ini selalu sendiri karena pernah dikhianati temannya akhirnya memberikan kepercayaan kepada Darla untuk menjadi sahabatnya. Bisakah kedua gadis ini akhirnya melupakan masa lalu mereka masing-masing? Well…well…kita lihat saja bagaimana kisah Darla yang periang dan Tara yang pendiam untuk menemukan cinta mereka masing-masing :D

Gaya penceritaannya dibuku ini, IMO, aneh dan kadang tidak nyambung, tapi somehow, tidak terlalu mengganggu bagi saya. Saya masih bisa paham, walaupun tidak paham-paham amat, dengan apa yang terjadi pada masa lalu Darla dan Tara.

Saya suka dengan gaya Darla. Konyol seperti saya #eh.  Saya juga suka dengan Tara, kami mirip, punya impian untuk sekolah lebih tinggi tapi tidak mendapat dukungan dari orang tua. Saya harap saya akhirnya juga bisa seperti Tara, menemukan “peri penolong” yang bisa membantu mewujudkan impian saya.

At last, meskipun ceritanya sedikit berasa incomplete dan kadang berasa tidak nyambung, rating saya untuk novel ini adalah 3 dari 5 bintang. Meskipun saya tidak tahu Macau itu seperti apa, tapi saya suka dengan deskripsi suasana Macau di buku ini. Dan sekali lagi, saya suka dengan sifat Darla yang ceria sekaligus konyol. Juga dengan impian-impian Tara. Dan bagaimana kecintaan mereka terhadap design interior dan chef pastry .  Intinya ceritanya dapat menghibur saya dan saya menikmatinya *apacoba*. So, I liked it. ^^

Biru pada Januari Review

biru_pada_januari_by_aditia_yudis_uploaded_by_irabooklover

Title: Biru pada Januari | Author: Aditia Yudis | Publisher: Gagas Media | Edition language: Indonesian | Page: 360 pages | Edition: 1st Edition, Jakarta, 2012 | Status: Pinjem di Perpustakaan Banjarbaru |  My rating: 3 of 5 stars

Sinopsis:

Akan kuberitahu kau satu hal

yang paling kuinginkan saat ini….

Waktu berhenti sehingga aku dan kau

terbingkai dalam keabadian.

Aku tak ingin semua berlalu,

seringkas embun meninggalkan pagi.

Simpan saja kata-kata bersalut madumu.

Aku tak butuh rayu,

aku hanya ingin bersamamu.

Selalu.

Aku hanya ingin bersamamu. Selalu. Haduh, kalimat ini, sepertinya akan selalu terngiang-ngiang di kepala saya. Soalnya kalimat pendek ini, IMO, merangkum semua kesan saya setelah membaca cerita cinta Samudra dan Mayra. Aku hanya ingin bersamamu. Titik.

Samudra dan Mayra sudah berpacaran selama tujuh tahun. Mayra sudah dianggap anak sendiri oleh orang tua Samudra. Sebentar lagi mereka berdua akan menikah.

Tapi ada sebuah perdebatan kecil yang mengganggu hubungan mereka. Samudra ingin mengajak Mayra pindah ke Balikpapan, sedangkan Mayra enggan meninggalkan Jakarta. Hal ini membuat pernikahan mereka selalu tertunda.

Tapi bukan itu masalah utamanya. Masalahnya adalah saat ini, cinta pertama mereka masing-masing hadir kembali. Camelia untuk Samudra dan Adam untuk Mayra. Entah kenapa, dulu, saat mereka masih sendiri, jalan mereka tidak pernah bersinggungan. Satu sama lain hanya bisa mengagumi dari jauh. Tanpa ada kata cinta yang terucap.

Namun sekarang, saat Samudra dan Mayra hampir menikah, Camelia dan Adam akhirnya menyatakan perasaan mereka. Mengatakan kalau sejak dulu Camelia sudah mencintai Samudra dan Adam ternyata juga mencintai Mayra.

Bagi Samudra, Camelia dan Mayra mirip, mereka sama-sama suka biru. Sedangkan bagi Mayra, Adam adalah langit dan Samudra adalah samudra, sama-sama biru.

Nah, apa yang harus Samudra dan Mayra pilih? Akankah mereka memilih hubungan mereka yang sudah berlangsung selama tujuh tahun atau memilih impian mereka yang sekarang sudah menjadi kenyataan?

Kalau saya, bingung deh pastinya. Galau tingkat akut. Saya paham bagaimana perasaan Samudra dan Mayra (atau Mayra saja lebih tepatnya karena kita sama-sama cewek :D) ketika kita menyukai seseorang tapi seseorang itu tidak memberikan tanda apakah dia menyukai kita balik atau tidak.

Membuat kita bingung apakah sebaiknya menunjukkan perasaan kita atau tidak. Dan kita selalu gugup kalau berada didekat orang yang kita suka sehingga komunikasi jarang terjalin dengan baik. Dan ujung-ujungnya daripada galau, akhirnya kita memutuskan untuk menyukai orang lain yang jelas-jelas menunjukkan perasaannya sukanya pada kita. Tanpa mengetahui kalau orang yang kita taksir ternyata juga naksir kita. Haaah, seandainya saja kita tahu. *halah malah curcol*.

So, no comment lagi deh buat masalah Samudra sama Mayra. Kalau dari segi ceritanya sendiri, meskipun rada kurang jelas dan alurnya maju mundur, tapi somehow saya bisa menangkap apa yang dikisahkan oleh si pengarang. Saya berhasil larut dalam birunya Januari bersama Mayra dan Samudra. Saya nangis membaca surat Mayra diakhir kisah walaupun, IMO,  ending-nya juga rada kurang jelas #eh.

Ngomong-ngomong buku ini saya pinjam dari perpustakaan. Tertarik karena cover-nya cantik. Cerita awalnya yang bernuansa perselingkuhan membuat saya malas melanjutkan membacanya. Soalnya saya suka tipe cerita cinta yang you’re the only one.

Tapi setelah akhirnya punya waktu weekend yang panjang, saya tetap meneruskan membaca dan ternyata bisa selesai sekali duduk. Tahu begini dari dulu-dulu saya teruskan baca. Sekarang sudah terlanjur tiga minggu saya meminjam buku ini dari perpustakaan. Maafkan saya kakak-kakak pustakawan. Saya akan kembalikan buku ini segera. Jangan dimarahin ya *gugup*.

Sebenarnya ada beberapa quote keren dari buku ini. Tapi quote-nya bikin sakit hati. Jadi gak usah ditulis saja ya. Saat ini saya ingin bahagia bukan galau :D

At last, selamat merasakan kegalauan Samudra dan Mayra dalam kisah cinta mereka yang rumit. Berdoa saja semoga kisah cinta mereka hanya ada dalam cerita :'(

And, 3 dari 5 bintang untuk Biru pada Januari. Terutama untuk kata-kata indah Mayra tentang birunya langit dan samudra. I liked it.