Alien Itu Memilihku Review

 alien_itu_memilihku_by_feby_indirani

Title: Alien Itu Memilihku | Author: Feby Indirani | Edition language: Indonesian | Publisher: Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 2014 | Page: 301 pages |  Status: Owned book (bingkisan dari @bone_cancer) September,6th 2014 | My rating: 5 of 5 stars

Hari itu, tanggal 30 September 2014, saya membuka twitter dan dapat kabar gembira kalau review saya untuk buku Hero by Rhonda Bryne terpilih sebagai #ResensiPIlihan dari @Gramedia. Tidak lama kemudian, saya juga mendapat bingkisan dari @bone_cancer yang isinya buku Alien itu Memilihku. Belakangan baru saya ketahui kalau @bone_cancer adalah Mbak Indah Melati Setiawan yang kisahnya dituliskan di buku tersebut.

Thank God, saya dapat dua buku gratis dalam satu hari. Dan itu cukup membuat saya bawaannya pengen meloncat-loncat sepanjang minggu. *halah*.

Ehm, kembali ke Alien Itu Membunuhku. Sebelumnya, silakan dibaca dulu sinopsisnya yang saya ambil dari cover belakang buku:

Sinopsis:

“Pahaku yang sebesar pepaya mengkal terasa berdenyut-denyut. Aku membayangkan jari-jari alien itu tumbuh semakin besar dan bergerak aktif mencengkeram tulang. Makhluk asing yang menjadi kian kuat dari waktu ke waktu.

Aku bergidik ngeri membayangkan alien itu menelusup di balik kulit —  dalam diam namun sangat gesit — melancarkan peperangan dan upaya merebut kekuasaan atas tubuhku.”

Kehidupan Indah — seorang wanita profesional Jakarta yang aktif dan dinamis — tiba-tiba berubah 180 derajat. Paha kirinya membengkak dan semakin besar dari waktu ke waktu, seolah ada “alien” yang tumbuh dan bersarang di dalamnya. Kaki kirinya terancam diamputasi dari pangkal paha. Lebih dari itu, ancaman maut pun hadir persis di depan matanya.

Suram. Itulah kesan pertama saya setelah membaca buku ini. Bahkan sejak halaman pertama saya sudah punya firasat kalau buku ini bakalan membuat saya menangis. Yah, saya memang cengeng dan gampang sekali menitikkan air mata. Dan benar saja. Saya menangis hampir disepanjang buku. Bahkan saat menulis review ini mata saya masih bengkak. *sedot ingus*.

Buku ini ditulis oleh Feby Indirani, tapi dituliskan dengan cara seolah-olah Mbak Indah-lah yang menuliskan kisahnya sendiri.

Dan kutipan pertama yang saya tempeli bookmark adalah kutipan berikut:

Bhiksu Garbha menyarankanku mendengarkan sutra demi menenangkan pikiran. Karena penyakit bisa bersumber dari pikiran, maka dengan pikiran yang tenang dan terpusat dapat membantu penyembuhannya.

(hal 87)

Nah, pas sekali dengan masalah saya saat ini yang kalang kabut karena ada jerawat yang tumbuh tiba-tiba di saat ada acara penting. *apa coba*. Kutipan di atas, selaras dengan buku Hero yang baru-baru ini saya baca, bahwa dengan pikiran yang positif, kita dapat menyingkirkan hal negatif seperti penyakit. Thank God, jerawat itu akhirnya sembuh dengan cepat :D

Tapi kawan, masalah yang diceritakan dalam buku ini bukanlah penyakit sesepele jerawat yang tumbuh di saat yang tidak tepat. Ini adalah kisah nyata tentang penderita kanker tulang ganas yang berhasil bertahan hidup.

Kali ini, kanker yang harus dilawan oleh tokoh utama kita adalah kanker Ewing Sarcoma. Kanker yang belum pernah saya dengar sebelumnya. Sama seperti semua kanker ganas lainnya, kanker ini juga menyerang orang-orang yang dipilihnya dan perlahan mengambil alih segalanya dari orang-orang tersebut. Kesehatan, kemandirian, kecantikan, harapan, bahkan kehidupan.

Ini bukan kisah nyata pertama yang saya baca. Tapi kisah ini, bagi saya, punya poinnya sendiri. Sebelumnya, setiap saya membaca buku tentang perjuangan seseorang melawan penyakit, yang jelas selalu membuat saya menangis, saya selalu bertanya kenapa sih harus dia, kenapa harus orang itu. Dan buku ini akhirnya memberikan jawabannya melalui kata-kata suster Ong berikut:

“Tapi sesungguhnya kamu harus bersyukur mengalami kanker. Tuhan bekerja dengan cara misterius….”

(hal 180)

Nah, reaksi pertama saya setelah membaca ini persis seperti reaksi Mbak Indah:

“Saya tahu Anda berniat baik, tapi saya rasa Anda belum pernah mengalami kanker. Jadi, tolong jangan mengatakan saya beruntung harus mengidap penyakit seperti ini.”

(hal 180)

Untungnya Suster Ong punya penjelasan yang bagus:

“Tidak, kamu tidak mengerti,” ia memotong kalimatku dengan cepat. “Saya bukan meremehkan penderitaanmu, tapi kadang kita tidak bisa mengerti cara-cara Tuhan mengangkat derajat seseorang.

(hal 180)

“Kamu tidak pernah tahu, mungkin Tuhan sedang menempamu untuk menjadi orang yang luar biasa dengan memberimu penyakit kanker ini… Jadi percayalah, kanker ini mesti kamu syukuri…”

(hal 183)

Nah, itu dia. Saya sebenarnya sudah sering membaca kalimat-kalimat seperti itu. Sebelumnya, saya rasa kalimat-kalimat penyemangat seperti yang diucapkan oleh Suster Ong ini sama sekali nonsense. Sebagus apapun maksudnya, helloooo, penderita kanker tetap menderita.

Tapi, somehow, lewat buku ini, kalimat itu terasa benar dan dapat saya terima. Terutama di bagian “kadang kita tidak mengerti cara-cara Tuhan mengangkat derajat seseorang”. Strike pertama yang langsung kena ke hati saya. *tsaaah*.

Saya jadi mengerti, kalau kita melihatnya dari sudut pandang yang berbeda, memang, hanya orang-orang hebatlah yang terpilih untuk mengalami ujian seberat menderita penyakit kanker ganas. Kalau dia berhasil untuk bertahan dan sabar, well, tidak diragukan lagi, Tuhan memang punya cara sendiri untuk mengangkat derajat seseorang.

Tapi kisah ini tidak melulu suram kok. Ada juga beberapa bagian yang membuat saya tersenyum. Salah satunya adalah saat Mbak Indah mempertanyakan kenapa James Ewing mau-maunya memberikan namanya untuk dijadikan nama penyakit. Mbak Indah juga membandingkannya dengan Mbah Moedjair. Wow, saya baru tahu kalau Mbah Moedjair ini ternyata penemu spesies ikan mujair :D

Drama yang terjadi diantara Mbak Indah dengan pihak rumah sakit pra dan pasca operasi mirip seperti saya. Yeah, saya juga pernah dioperasi karena patah tulang paha akibat kecelakaan. Pengalaman dibius dan sebagainya memang seperti itu. Waktu itu saya sudah merasa malu sekali karena sempat bertingkah tidak mau minum obat yang diberikan oleh dokter. Tapi ternyata ada yang lebih bertingkah daripada saya ya, ahahaha. *dikeplak Mbak Indah*. Kasian para perawat yang harus menghadapi pasien-pasien seperti kami :D

Sedikit banyak, membaca chapter tersebut, membawa ingatan saya kembali kepada saat-saat saya juga harus terbaring di rumah sakit. Tidak bisa berjalan, tidak boleh makan sebelum operasi, tidak boleh minum, bagaimana rasanya dibawah pengaruh obat bius. Dan saat itu juga hanya ada mama yang selalu ada disamping saya. Huaaaah. Saya jadi pengen nangis lagi. *peluk mama*.

Waktu itu, saya merasa seperti orang yang paling menderita di seluruh dunia. Tapi setelah membaca kisah Mbak Indah, saya rasa penderitaan saya waktu itu sama sekali tidak ada apa-apanya. Haduh, jadi malu. *tutup muka pakai bantal*.

Saya suka ilustrasi-ilustrasi yang ada di buku ini. Somehow, ilustrasi-ilustrasi itu dapat mencerahkan suasana suram dari kisah ini. Tapi, saya sedikit tidak suka dengan kutipan-kutipan yang sengaja diperbesar dibeberapa halaman. Kutipan itu diambil dari halaman yang bersangkutan. Membacanya jadi berasa terulang-ulang. Tapi ini masalah selera saja sih sebenarnya.

Dibagian akhir juga ada gambar-gambar yang disisipkan. Termasuk gambar paha Mbak Indah yang membengkak karena kanker. Ya Tuhaaaan, ternyata memang benar seperti pepaya. Ada juga gambar tumornya setelah diangkat. Mengingatkan saya pada tumor tante saya yang tidak sengaja saya lihat waktu saya kecil. Padahal itu sudah lama sekali. Tapi bayangan alien itu memang tidak mudah dilupakan.

Saya sangat menyukai bagian ending buku ini. Strike terakhir. IMO, ditulis dengan bagus sehingga terasa sangat personal, seakan ditujukan langsung kepada saya. Bahkan saat saya membaca ulang halaman itu, air mata saya kembali mau menetes. Dan kalimat favorit saya adalah yang ini:

Buku ini dipersembahkan untukmu, sebagai tanda cinta. Karena kita tak bisa menjumpai pelangi, sebelum siap menyeberangi hujan.

(hal 283)

Sebenarnya masih banyak strike-strike dari buku ini yang ngena di hati. Tapi kalau dituliskan semuanya bakalan panjang sekali. So, silakan baca sendiri bukunya dan lihat apakah kalimat-kalimat tersebut juga berefek sama terhadapmu ;-)

At last, ini adalah buku tentang bagaimana bertahan melewati cobaan hidup. Ini adalah buku yang mengajarkan kita untuk bersyukur atas segala hal kecil yang mungkin kita lewatkan. Ini adalah buku yang mengingatkan kita, tidak perlu menunggu menjadi sempurna untuk membantu orang lain. Lakukan kewajiban kita sekarang. Dan seperti kata Mbak Indah:

Memberikan apa yang kita punya dengan cara apa pun yang kita bisa

(hal 280)

So, 5 dari 5 bintang untuk buku ini. Yeap, full rated. Terutama untuk strike-strike-nya yang tepat mengenai saya. Sangat menginspirasi. And it was amazing to me.

Wishful Wednesday #39, Silo Series

Wishful Wednesday

Rabu tibaaaa. Saatnya untuk Wishful Wednesdaaaay ^^

 Wool by Hugh Howey 

Kemarin dapat info dari grup Mizan Fantasi di Facebook kalau seri Silo by Hugh Howey bakalan diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh Penerbit NouraBooks :D

Jadi ingat dulu saya pernah menang di GA nya Wishful Wednesday dan waktu itu nge-request buku Silo #2, Shift edisi bahasa Inggris sebagai hadiah dari Mbak Astrid (‘▽’ʃƪ) ♥

Berdasarkan comment-comment di Facebook, katanya seri ini bakalan diterbitkan dalam bentuk seri Silo, bukan dalam bentuk seri Wool. Sebenarnya sama saja sih. Cuma seri Silo ini bentuk gabungan dari beberapa seri Wool.

Seri Wool sendiri ada 9, yaitu:

#1, Wool

#2, Proper Gauge

#3, Casting Off

#4, The Unraveling

#5, The Stranded

#6, Legacy

#7, Order

#8, Pact

#9, Dust

Sedangkan seri Silo ada 3, yang terdiri dari:

Silo, #1 Wool –>  Wool 1 – 5

Silo, #2 Shift –>  Wool 6 – 8

Silo, #3 Dust –>  Wool 9

IMO, cover edisi bahasa Indonesia ini lebih keren. Dan karena saya belum menemukan sinopsis dalam bahasa Indonesia, jadi sinopsis nya saya comot dari edisi aslinya di Goodreads saja yaaa :D

An epic story of survival at all odds and one of the most anticipated books of the year.

In a ruined and hostile landscape, in a future few have been unlucky enough to survive, a community exists in a giant underground silo.

Inside, men and women live an enclosed life full of rules and regulations, of secrets and lies.

To live, you must follow the rules. But some don’t. These are the dangerous ones; these are the people who dare to hope and dream, and who infect others with their optimism.

Their punishment is simple and deadly. They are allowed outside.

Jules is one of these people. She may well be the last.

 

OK, that is my wish today. What’s yours? Click the picture above for more information about this weekly meme.

Have a nice Wednesday for you   ^_^

Battle Royale (Reread) Review

Baca Bareng September Tema Buku dengan Rating Rendah di Goodreads (di bawah 3 Bintang)

Battle Royal 

Judul: Battle Royale: The Last Stand | Pengarang:  Stella Furuya | Edisi bahasa: Indonesia | Penerbit: Zettu (Cetakan I, Jakarta, 2013) | Jumlah halaman: 228 halaman | Status: Owned book | Date purchased: October, 27th 2013 | Purchase location: Toko Valentine Plaza Amuntai | Price: Rp22.500,- | My rating: 3 of 5 stars

Sebetulnya buku ini sudah ada diantrian baca bulan September. Tapi setelah ada sedikit drama dengan buku silat untuk tema baca bareng BBI yang satunya (baca curhatannya di sini), buku ini jadi telat dibacanya :D

Saat tahu kalau salah satu tema baca bareng bulan September adalah buku dengan rating di bawah 3 bintang di Goodreads, saya langsung bingung menentukan mau baca apa. Setelah mempelototi rak Goodreads saya dalam waktu lama, akhirnya ada buku di daftar owned books saya yang ratingnya di bawah 3 bintang.

Well, well, well, ternyata bukunya adalah Battle Royale. Padahal buku ini baru tahun lalu saya baca. Ga apa-apa deh, yang penting ada bacaan untuk tema baca bareng :D

Sebelumnya mari kita simak dulu sinopsis yang saya contek dari cover belakang buku ^^

Sinopsis:

Dunia memang penuh keserakahan. Keserakahan muncul karena manusia. Keserakahan membuat dunia menjadi tidak seimbang. Untuk itulah, permainan ini diadakan. Battle Royale adalah sebuah permainan bertahan hidup. Membunuh atau dibunuh, hanya itulah pilihannya. Kau tidak bisa lari lagi jika telah masuk ke dalam permainan ini. Hanya ada satu orang yang sanggup bertahan hingga akhir dan menjadi pemenangnya. Sang pemenang berhak mendapatkan sepertiga kekuasaan dari seorang penguasa negara, Yamamoto Ryosuke.

Mizu, salah satu peserta yang terpaksa ikut dalam permainan itu hanya untuk bertemu dengan adiknya yang bernama Takuya, karena menurut informasi yang didapatkannya dari Joker bahwa adiknya masih hidup dan juga menjadi salah satu peserta dalam permainan itu. Namun, dibalik permainan itu, ternyata Yamamoto Ryosuke mempunyai rencana tersembunyi. Dia memasukkan ketiga kaki tangannya, yaitu Thunder, Lie dan Judas ke dalam permainan tersebut. Sebenarnya, rencana apa yang sedang dijalankan olehnya? Benarkah sepertiga kekuasaannya akan jatuh kepada Sang Pemenang? Ataukah…

Sinopsisnya menarik ya? Terus kenapa ratingnya di bawah 3?

Dari statistik di Goodreads saat saya menulis review ini, buku Battle Royale ditambahkan ke rak oleh 15 orang user, 12 diantaranya sudah memberi rating dengan rata-rata 2,42. Dua diantara user-user tersebut sudah ngasih review, salah satunya saya :D

Saya sebetulnya sudah membuat review saat pertama kali membaca buku ini. Reviewnya bisa dilihat di sini.

Setelah di reread, pendapat saya tidak jauh beda, cenderung lebih baik karena saya sudah bisa mengikuti bagaimana gaya bahasanya. Saya bisa mengerti ceritanya terlepas dari kekurangan-kekurangan yang ada di buku ini. Sayangnya saya tidak paham masalah-masalah teknis yang ada di dalam sebuah novel. Yang pasti ada yang kurang gitu. *selfkeplak*. Setelah membaca review-nya Biondy, saya baru tahu kalau kurangnya itu ada hubungannya dengan kelemahan karakter dan latar cerita.

Dari komennya Indah Tri Lestari di review saya sebelumnya, saya baru tahu kalau ada buku populer karangan Koushun Takami dengan judul yang sama. Sepertinya inti ceritanya juga mirip. Tentang permainan saling bunuh hingga hanya ada satu yang tersisa.

Ya, seperti yang dituliskan oleh sinopsis di atas, Battle Royale adalah cerita tentang sebuah permainan berhadiah. Permainan ini dilaksanakan di sebuah casttle. Para peserta yang sudah mengikuti permainan ini tidak bisa mundur. Mereka mau tidak mau harus saling bunuh untuk tetap hidup dan menjadi pemenang. Sayangnya ada orang serakah yang berencana mengacaukan permainan dan berniat menguasai bukan hanya sepertiga kekuasaan Yamamoto Ryosuke, tapi semuanya.

Hmmmm…ceritanya seru sebenarnya kalau bisa dieksekusi dengan lebih baik lagi.  At last, meskipun ceritanya sedikit berasa incomplete, rating saya untuk novel ini tetap 3 dari 5 bintang. Adegan pertarungannya sanggup membuat saya meringis ngeri. Pesan yang disampaikannya juga bagus. Tentang bagaimana kekuasaan dan kekayaan bukanlah segalanya. Hanya hati yang penuh cinta tanpa dendam yang bisa menemukan kebahagiaan di cerita ini.

Sooooo…, I liked it. ^^

Buku Jalan-jalan #4: The Feature | Frankenstein Song

 photo bukujalanjalan_zpsf2569632.jpg

Hai…hai  Buku Jalan-Jalan bersama Zelie @ Book-admirer kembali hadir \^_^/

Kali ini Buku Jalan-jalan ada tambahan fitur nya lo. Selain me-review buku yang kami pinjem-pinjeman, eh, betul gak kalimatnya, kami juga membuat post tentang lagu yang cocok dengan buku.

Nah … untuk buku Frankenstein yang bulan September tadi saya pinjem dari Zelie, saya memutuskan untuk memilih lagunya Linkin Park yang berjudul Easier To Run.

Saya rasa lagu ini pas sekali untuk mewakili perasaan Dokter Victor Frankenstein  yang galau setelah kesuksesan (atau kegagalannya) dalam menciptakan si makhluk.

It’s easier to run
Replacing this pain with something numb
It’s so much easier to go
Than face all this pain here all alone

Something has been taken from deep inside of me
The secret I’ve kept locked away no one can ever see
Wounds so deep they never show they never go away
Like moving pictures in my head for years and years they’ve played

Tuh, cocok yah sama Dokter Frankenstein yang kabur dari masalahnya dengan si makhluk, didera perasaan bersalah, dan memendam semuanya sendiri sebelum dia curhat sama Walton :D

Terus ada satu lagi nih lagu yang pas untuk si makhluk. Terutama untuk adegan puncak si makhluk bersama keluarga de Lacey.

Ta…tapi rada lucu juga sih kalau membayangkan si makhluk ini berlari kecewa dengan diiringi background musik mellow dari Westlife. Mbuahahahahaha. *ditendang*.

Ehm…oke deh ini lagu pilihan saya untuk buku Frankenstein by Marry Shelley. Yuk kita intip buku dan lagu apa yang dipilih oleh Zelie. Silakan klik gambar Buku Jalan-jalan di atas untuk meluncur ke blog nya Zelie yaaaa ;)

Sampai jumpa di weekend pertama bulan depaaaaan \^_^/

Scene on Three #36 | Kupu-kupu Fort de Kock

“Apa yang kau ketahui tentang firasat?” tanya Limpapeh. Ia seperti bermain saja dengan pikirannya sendiri.

“Kau yang lebih tahu.”

“Apa yang kau ketahui tentangnya?”

Harimau Pasisie memandang Limpapeh agak lama.

“Pertanda, datang dari hati kecil, insting, atau apapun itu, aku tak bisa menjabarkannya. Hanya saja, ketika aku memikirkan sesuatu, pikiran dan hatiku akan berusaha sebisa mungkin untuk meraba sesuatu itu.”

“Pernahkah kau menutup firasatmu?”

“Aku?” Harimau Pasisie mengernyitkan keningnya, “aku bahkan tidak tahu apakah itu perlu.”

(hal 361-362)

Continue reading

Kupu-kupu Fort de Kock Review

Baca Bareng September Tema Buku Silat

kupu-kupu_fort_de_kock_by_maya_lestari_gf_uploaded_by_irabooklover 

Judul: Kupu-kupu Fort de Kock | Pengarang:  Maya Lestari GF| Edisi bahasa: Indonesia | Penerbit: Koekoesan (Cetakan I, Depok, Juli 2013) | Jumlah halaman: 405 halaman | Status: Owned book | Date purchased: September, 14th 2014 | Purchase location: Toko Buku Kharisma Banjarbaru | Price: Rp72.200,- | My rating: 4 of 5 stars

Telat lagi……

Telat lagi buat posting bareng September tema Buku Silat. Seharusnya review ini di post tanggal 29 September. Tapi saya baru saja selesai membaca bukunya :D

Butuh waktu lama bagi saya untuk menamatkan buku ini. Bukan karena ceritanya kurang menarik, tapi karena sinopsis di cover belakangnya. Yuk disimak dulu sinopsis yang jadi biang kerok ini ^^

Sinopsis:

Dapatkah kau membayangkan sebuah pertempuran maut yang terjadi pada malam gelap bulan, antara seorang pendekar golongan hitam yang hendak menunaikan dendam pada pendekar selendang putih, yang dikejarnya selama berbulan-bulan. Semua jurus dan ajian telah dikerahkan, segala senjata rahasia telah digunakan, dan akhirnya ia berhasil melunaskan balasan atas kematian ayahnya. Selendang putih terhempas-terpelanting dengan mulut dan telinga berlumur darah. Namun, alih-alih pendekar bermata belang itu bersuka cita, ia justru mengaum sekeras-kerasnya, menyesali setiap jurus maut yang telah menghabisi musuhnya. Begitu selendang putih tersingkap, tampaklah wajah yang bercahaya, bagai bulan empat belas. Gadis bermata ranum yang meregang tak bernyawa tiada lain adalah kekasih yang dicintainya, melebihi cintanya pada setiap pertarungan yang mematikan.

Awalnya biasa saja sih membaca sinopsis ini. Tapi setelah saya sampai ke chapter delapan dari buku ini. Saya merasa kalau sinopsis tersebut spoiler sekali. Di chapter itu saya bisa menebak siapa pendekar selendang putih dan siapa pendekar golongan hitam.

Saya langsung was-was. Kalau benar dugaan saya, si tokoh yang saya duga sebagai pendekar selendang putih ini nasibnya akan berakhir seperti yang dituliskan di sinopsis. Haduh. Rasanya seperti menunggu bom meledak. Kecepatan membaca saya langsung melambat. Rasanya saya tidak ingin tiba di chapter seperti yang dituliskan di sinopsis.

Padahal menurut saya ide ceritanya bagus sekali. Tentang pertarungan dua kelompok silat yang bersetting di Minangkabau dalam masa moderen, satu golongan putih, yang satunya golongan hitam. Identitas para pendekar silat ini tersamarkan. Mereka layaknya orang biasa di mata orang awam, tapi sebenarnya para pendekar ini merupakan para pesilat tangguh yang mempunyai jurus-jurus mematikan.

Kupu-kupu Fort de Kock sendiri adalah kupu-kupu besar berwarna cokelat yang sering disebut rama-rama. Bila beruntung, kita bisa melihatnya saat berkunjung di benteng Fort de Kock. Di Minang, rama-rama ini disebut Limpapeh. Dan Limpapeh inilah gelar yang berikan untuk murid tersakti pesilat golongan putih, yang kisahnya diceritakan dalam buku ini.

Pesilat golongan putih, terdiri dari tiga perguruan rahasia. Perguruan Mato Alang yang didirikan oleh Jari Empat dan Lawa-lawa Sirah; Perguruan Tiga Tapak Melati yang didirikan oleh Gunung Batu; dan Perguruan Api Lintau yang didirikan oleh Bulan Kamba dan Tongkat Patah. Limpapeh sendiri adalah murid dari perguruan Tiga Tapak Melati.

Golongan pesilat hitam dipimpin oleh Singo Balang. Singo Balang, dengan dibantu kekuatan hitamnya, menjalankan bisnis haram seperti narkoba dan perjudian. Ilmu hitam Singo Balang sangat hebat. Konon dia mendapatkannya dengan mengambil inti kehidupan para pengikutnya.

Tiga perguruan sebenarnya sudah berhasil menghabisi Singo Balang. Sebuah misi yang dipimpin oleh Limpapeh. Mereka lega karena mengira kekuatan hitam sudah musnah dengan kematian sang pemimpin. Namun yang tidak mereka duga adalah Singo Balang ternyata memiliki seorang anak. Anak yang berbalik mengejar tiga perguruan karena ingin membalas dendam atas kematian ayahnya.

Uniknya, anak Singo Balang ini kehadirannya tidak terdeteksi. Padahal sebelumnya, kalau Singo Balang maupun anak buahnya berada di sekitar pesilat-pesilat tiga perguruan, maka rajah yang ada di tangan para pesilat putih itu bersinar. Tiga perguruan pun kesulitan melacak anak Singo Balang. Sementara itu secara perlahan, kekuatan para pengikut Singo Balang bangkit kembali.

Kisah ini diceritakan dari sudut pandang “aku”, yang mengaku mengetahui riwayat kisah Limpapeh dan pertarungan antara tiga perguruan dengan kelompok Singo Balang. Sebuah ide yang sangat bagus saya rasa. Saya suka tipe penceritaan model begini. Apalagi kalau ending-nya menyinggung-nyinggung tentang kenangan seperti yang ada di buku ini. Sangat menyentuh …. dan sedih.

Nuansa silatnya terasa sekali. Banyak pengetahuan yang tidak saya ketahui sebelumnya mengenai dunia persilatan. Bahwa silat, ternyata, lebih dari sekedar ilmu beladiri biasa. Somehow, tampak tidak terjangkau bagi saya, tapi,  well, membuat saya pengen menjadi pendekar silat juga :D

Gaya penceritaannya sendiri … errr … saya rasa masih ada yang kurang, tapi saya tidak tahu kurangnya dimana. Hahhah. *selfkeplak*. Kadang ada yang aneh dari kata-katanya, terasa kurang cocok, tapi tidak terlalu mengganggu juga sih *hahhah dasar plin plan*.

Ada beberapa kata Minang yang terselip di buku ini. Salah satunya adalah “kalera”. Kedengaran keren ya, tapi setelah saya googling artinya ternyata kurang ajar. *eh* :D

Setiap kisah dalam chapter-chapter di buku ini, kadang tampak tidak berhubungan. Padahal sebetulnya berhubungan. Setidaknya itulah yang berulang kali di tegaskan oleh si “aku” dalam kisah ini. Tapi saya rasa kurang berhasil. Identitas kedua pendekar yang ada di sinopsis juga terkesan dirahasiakan. Namun, dilain pihak saya rasa petunjuknya terlalu jelas . Kedua hal inilah yang paling mengganggu saya dari novel ini.

IMO, idenya sudah bagus sekali, kalau dieksekusi dengan lebih baik, saya rasa novel ini bakalan menyuguhkan sebuah kejutan yang luar biasa dibagian akhir untuk saya, alih-alih membuat saya galau di sepanjang kisah dengan nasib pendekar selendang putih.

Oh ya, satu hal lagi tentang cover-nya, cover-nya sebenarnya sudah bagus sih, tapi itu pendekar silatnya kok kayak power rangers ya? *ditendang*.

At last, meskipun ceritanya sedikit berasa incomplete, rating saya untuk novel ini adalah 4 dari 5 bintang. Terutama untuk pengetahuan tentang silat dan nuansa silatnya yang sangat berasa. Pendekar silat yang ada di buku ini sangat keren dan dekripsi adegan pertarungan mereka sanggup membuat saya tenggelam sampai tidak ngeh saat ada yang memanggil….padahal yang memanggil adalah atasan saya di kantor. Haduh. :D

Sooooo…, I really liked it. ^^

Scene on Three #35 | Kupu-kupu Fort de Kock

Namun, alih-alih pendekar bermata belang itu bersuka cita, ia justru mengaum sekeras-kerasnya, menyesali setiap jurus maut yang telah menghabisi musuhnya. Begitu selendang putih tersingkap, tampaklah wajah yang bercahaya, bagai bulan empat belas. Gadis bermata ranum yang meregang tak bernyawa tiada lain adalah kekasih yang dicintainya, melebihi cintanya pada setiap pertarungan yang mematikan.

Continue reading