Posted in Books, Cynthia Febrina, Indonesian Literature, PlotPoint, Romance

Stasiun Review

***

Blurb

Dinda putus dengan pacarnya. Kini tak ada lagi Rangga yang biasa mengantar jemput. Tiap pagi Adinda harus naik kereta dari Bogor ke kantornya di Jakarta. Harinya berawal dengan teriakan pedagang asongan, sampah yang bertebaran di peron, para penumpang yang berkeringat dan tergesa, bahkan aksi copet. Masa lalu pun kerap memberatkan langkah.

Ryan “anak kereta” sejati, bersahabat dengan para pedagang kios di sepanjang peron. Bertahun-tahun dia pulang-pergi Bogor-Jakarta naik kereta. Di balik beban kerja yang menyibukkan, ada kesepian yang sulit terobati, apalagi ketika seorang sahabat meninggal.

Tiap pagi mereka menunggu kereta di peron yang kadang berbeda. Tapi jalur yang sama memungkinkan langkah dan hati mereka bertautan. Stasiun jadi saksinya.

My Review

“Bersedia berangkat bersama, Adinda?”

(Stasiun, hlm. 151)

Oke, itu kalimat pamungkas dari buku ini yang berhasil membuat saya klepek-klepek sendiri. Ga tahu ya, kok berasa romantis aja gitu, haha.

Akhir-akhir ini saya jarang baca buku. Sampai hampir lupa rasanya kalau kegiatan itu bisa semenyenangkan ini, *lebay mode on*.

Melihat sampul buku ini menimbulkan rasa “gatal pengen segera baca” kepada saya.

Sampulnya cakep. Dan unik juga. Semacam dua kover dengan gambar yang berbeda, tapi bila disatukan jadi nyambung.

Ceritanya juga begitu. Seperti caption yang tertulis di sampul buku, “dua kisah satu jalur”. Ada cerita Adinda, dan juga cerita Ryan.

Adinda yang baru saja ditinggal putus pacarnya. Yang artinya juga dia kehilangan “tukang antar jemput” hariannya. Membuatnya terpaksa menggunakan kereta api untuk pulang pergi ke tempat kerjanya.

Ryan yang dari dulu memang sudah sering menjadi pelanggan setia kereta api. Yang masih jomblo setelah sekian lama. Karena memang belum ada yang bisa membuatnya jatuh cinta melebihi rasa cintanya kepada kegiatan melukisnya.

Tidak menyangka, ternyata menarik juga mengikuti bagaimana akhirnya kisah dua orang ini disatukan. Mengetahui bagaimana seseorang bisa jatuh cinta dengan orang lain. Dengan suasana stasiun kereta api yang menjadi latar belakangnya.

Kisahnya bitter sweet lah. Soalnya Ada beberapa bagian yang cukup membuat saya pengen nangis juga.

Selain kutipan di atas, sebenarnya ada banyak sekali kutipan lain yang saya dari buku ini. Tapi yang cukup berkesan adalah yang satu ini:

“Ya Tuhan, apakah hidup memang seberat ini bagi sebagian orang?”

(Stasiun, hlm. 102)

Membaca kutipan di atas, dan juga sebagian besar penggalan-penggalan kisah dari buku ini, membuat saya menjadi lebih bisa mensyukuri apa-apa yang sudah saya miliki saat ini.

Buku yang bagus, kisah yang manis, banyak mengandung pelajaran tentang kehidupan, dan 4 dari 5 bintang untuk Stasiun. Ya, saya suka sekali.  (‘▽’ʃƪ) ♥

***

Judul: Stasiun | Pengarang: Cynthia Febrina | Penerbit: plotpoint| Edisi: Bahasa IndonesiaCetakan pertama, Jakarta, Mei 2013, 167 halaman| Status: Owned Book | Rating saya: 4 dari 5 bintang

Posted in Books, Clara Ng, Family, Icha Rahmanti, PlotPoint

Pintu Harmonika Review

pintu_harmonika_uploadedby_irabooklover

***

Covernya cantiiiik!!!

Ceritanya bikin senyum-senyum sendiri di awal, terus nangis bombay di akhir. Untuk bagian nangisnya abaikan saja, saya memang cengeng dari sononya soalnya. 😀

Jadi buku ini menceritakan tentang petualangan 3 orang sahabat yang berbeda usia. Ada Rizal yang kira-kira seusia anak SMA, ada Juni yang masih SMP, dan David yang masih TK atau SD (saya kurang ngeh untuk bagian ini).

Mereka tetanggan, sama-sama tinggal di ruko yang gambarnya nongol di cover depan itu. Kalau kita amati, dari gambar cover itu, kita bakalan menemukan alasan kenapa judul novel ini adalah Pintu Harmonika.

Di belakang ruko mereka ini, ada sebuah tanah kosong yang mereka sebut Surga. Tanah ini terkesan terlantar, banyak ditumbuhi ilalang, dan ada juga coretan grafiti. Meskipun penampakannya mengerikan, tanah ini bagaikan surga bagi anak-anak tersebut. Tempat mereka bisa bermain dan menenangkan diri kalau ada masalah di rumah. Belum lagi di waktu yang tepat, saat sinar matahari sore menyinari ilalang, pemandangannya jadi cantik sekali.

Masalah terjadi saat si empunya tanah memutuskan untuk menjual tanah tersebut. Anak-anak tentu saja tidak rela. Mereka mulai melakukan beberapa aksi untuk mencegah penjualan tanah tersebut.

Ngomong-ngomong, membaca buku ini, membuat saya teringat bagaimana rasanya, saat hal-hal yang menurut saya indah (dalam kasus saya ada satu pohon cokelat, dua pohon kelapa, dan sepetak tanah kosong), hilang tak berbekas, hanya karena saya masih kecil dan tidak punya cukup uang untuk mempertahankan mereka.

Terus apakah surga anak-anak ini akan bernasib sama dengan surga saya? Silakan baca sendiri kisahnya 😀

Yang pasti, ini bukan sekedar cerita bagaimana cara anak-anak tersebut mempertahankan surga mereka, tapi juga kisah tentang keluarga. Diceritakan dalam 4 sudut pandang yang berbeda, yang sebenarnya membuat saya jadi bingung dengan alur waktunya. Tapi karena saya malas mikir, *plaak*, saya telan bulat saja deh.

Banyak pesan moral dan juga kata-kata indah di buku ini. Tapi saya tak sempat ngasih post it. Soalnya saya penasaran ini cerita ujungnya bagaimana ya? Dan saat sudah sampai di bagian akhir, saya malah baper.

At last, buku ini cukup menghibur. Terutama di bagian cerita Rizal yang narsis. Terus saya juga terkesan dengan keberanian Juni untuk meminta maaf, kalau jadi dia, saya gak bakalan berani XD

***

Judul: Pintu Harmonika | Pengarang: Clara Ng dan Icha Rahmanti | Penerbit: PlotPoint | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan Pertama, Januari 2013 | Rating saya: 3 dari 5 bintang

 

Posted in Author, Books, Genre, PlotPoint, Publisher, Romance, Sheva Thalia

BLUE ROMANCE REVIEW

Blue Romance by Sheva

Title: Blue Romance | Author: Sheva | Edition language: Indonesian | Publisher: Plot Point | Edition: 2nd edition, November 2012 | Page: 214 pages | Status: Owned book | Purchase location: Mizan Book Fair @ Rakha Amuntai | Price: Rp38.00,- (Disc 20%) | My rating: 4 of 5 stars

***

My coffe gets increasingly better the more I drink and the closer I come to the bottom of the cup, where all the sugar is. I wonder if life is the same way as we approach the end — Jarod Kintz, This Book Has No Title

Blue Romance — page 214

***

Blue Romance, sebuah coffe shop yang punya banyak kisah.

Ada kisah dibalik setiap kopi yang dipesan setiap pelanggan. Ada kisah dibalik kopi yang disajikan oleh barista.

Ada kisah jatuh cinta. Ada kisah patah hati. Ada kisah sepasang kekasih. Ada kisah tentang sahabat. Ada kisah orang tua dengan anaknya.

Setiap kisah punya kopinya sendiri. Ada affogato, mochaccino, caffѐ latte,  americano, caffѐ macchiato, coffe and cream dan espresso.

Dan semuanya ada di Blue Romance.

***

I really liked this book. Selain covernya yang cute, ceritanya juga bagus dan bernuansa kopi.

Saya sebetulnya bukan penggemar romance. Lebih karena romance sering membuat saya jadi cengeng. Tapi saya betul-betul tidak suka romance yang gaya bahasanya tipe semi pujangga yang lebay abis.

Saya sering was-was kalau mau baca buku romance. Siap-siap tisu dulu paling tidak. Dan siap-siap mental buat bahasa semi pujangganya yang membuat saya sering bilang “haduh, please deh”.

Tapi romance yang ini…wow…I really liked it. Bikin saya nangis sih tetep. Tapi setidaknya ga bikin stress lah bagi saya yang ga sregg dengan bahasa semi pujangga. Cerita di buku ini ditulis dengan cantik dan pas.

Seperti yang tertulis di sinopsis di belakang bukunya, ada banyak kisah di omnibook ini, ada kisah tentang jatuh cinta dan patah hati, juga ada kisah tentang perpisahan dan pertemuan kembali. Dan semuanya dikaitkan oleh benang merah berupa sebuah coffe shop yang bernama Blue Romance.

Favorit saya adalah cerita Rainy Saturday. Pengen deh ketemu orang yang bisa bikin kita nyaman saat pertama kali bertemu seperti itu. Trus cerita yang paling bikin saya ketar-ketir adalah Happy Days dan A Farewell to A Dream. Dua-duanya kisah patah hati. Yang membuat saya nangis adalah Blue Moon dan The Coffe and Cream Book Club. Ceritanya tentang kerinduan anak kepada orang tuanya.

Dan gara-gara buku ini, saya jadi pengen dengerin lagu-lagu lama lagi. Diantaranya adalah Blue Moon nya Ella Fitzgerald dan You Could Be Happy nya Snow Patrol.

Kesimpulannya, 4 dari 5 bintang. Satu dari sedikit romance yang bisa membuat saya mengatakan I really liked it.

Note: Review ini diikutkan untuk event New Authors RC 2013

New Authors RC 2013