Posted in Akiyoshi Rikako, Books, Haru, Thriller

The Dead Returns

***

Dari judulnya saya sudah menduga kalau cerita di buku ini bakalan memuat unsur hantu-hantu gimana gitu. Jadi saya yang penakut ini sudah menyiapkan mental duluan. Etapi karena saking asiknya membaca, saya jadi lengah, dan saat bagian seramnya muncul, saya jadi merasa takut sendiri, *penakutakut*.

Jadi ceritanya tentang Koyama Nobuo, anak SMA yang tertukar tubuh dengan anak SMA lain setelah keduanya terjatuh dari tebing. Yang satu jatuh karena dibunuh, yang satunya jatuh karena ingin menyelamatkan.

Namun, betapa kagetnya Koyama ketika mengetahui dirinya masih hidup. Dan semakin bertambah kaget lagi ketika mengetahui bahwa dia berada di tubuh Takahashi Shinji, pemuda blasteran tampan yang berusaha menyelamatkannya kemarin.

Dengan tubuh barunya, Koyama bertekad mencari tahu siapa yang ingin membunuh dirinya. Tersangkanya adalah teman-teman sekelasnya. Karena Koyama datang ke tebing akibat pesan misterius yang diselipkan di bawah laci meja kelasnya.

Dengan memakai tubuh Takahashi Shinji yang termasuk dalam kategori anak SMA keren, Koyama yang sebelumnya adalah tipe anak yang terabaikan mulai bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi anak populer. Dengan begitu, dia jadi lebih mudah mencari informasi.

Berhasilkah Koyama Nobuo menemukan siapa pembunuhnya? Lalu bagaimana dengan nasib tubuhnya yang tertukar? Yah silakan dibaca sendiri ceritanya, hohoho.

Yang pasti, saya yang biasanya tidak suka dengan novel thriller jadi keasyikan ketika membaca novel ini. Penasaran sekali, siapa sebenarnya yang membunuh Koyama Nobuo. Secara diantara para tersangka anak SMA yang imut-imut, tampaknya tidak ada yang punya motif untuk membunuh Koyama yang keberadaannya sering terabaikan itu.

At last, 4 dari 5 bintang untuk The Dead Returns. I really liked it.

***

Judul: The Dead Returns | Pengarang: Akiyoshi Rikako | Penerbit: Haru | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan Ke-6, Februari 2017, 252 halaman | Penerjemah: Andry Setiawan | Rating saya: 4 dari 5 bintang | Bisa dibeli di: bukabuku.com

Posted in Books, Graphic Novel, Haru, Park Dong Sun

Simple Thinking about Blood Type Review

***

Akhirnya saya berjodoh juga dengan buku ini. Sudah lama sekali ingin baca, tapi baru kesampaian sekarang.

Pertama kali saya mendengar info kalau golongan darah berpengaruh terhadap kepribadian seseorang adalah waktu kuliah dulu, di mata kuliah Etika Profesi.

Dulu sering sekali melihat tokoh-tokoh golongan darah ini berseliweran di sosial media. Tapi baru ngeh kalau tokoh-tokoh ini ternyata bisa kita baca dari buku.

Continue reading “Simple Thinking about Blood Type Review”

Posted in Books, Family, Haru, Orizuka, Romance, The Chronicles of Audy

The Chronicles of Audy: O2 Review

dsc_5863

Haduh lucunyaaaaaa……

Beneran deh, saya betul-betul merasa terhibur oleh kelakuan Audy dan 4R. Selain kocak, ceritanya juga manis. Bukunya juga tidak tebal-tebal amat. Sampulnya cantik dan pinggiran halamannya pakai blink-blink (kali ini warna blink-nya hijau). Pembatas bukunya keren, dan ilustrasinya tjakkeb! 4R1A tampak ganteng-ganteng dan cantik.

So, kronik kehidupan Audy sekang menceritakan tentang perkembangan hubungan Audy dengan salah satu cowok 4R yang berkembang ke arah yang sama sekali tidak diduga oleh Audy.

Terus, Rex kan sebentar lagi mau pergi, sementara hubungannya dengan Rafael masih terkesan kaku. Jadi, Romeo dan Audy menjalankan misi untuk membuat Rex dan Rafael akrab.

Terus lagi, di O2, kita bakalan menemukan curhatan Romeo tentang … errr … silakan dibaca sendiri bukunya. XD

Lalu bagaimana dengan Regan? Regan baik-baik saja dengan Maura. Pasangan pengantin baru ini berbahagia selayaknya … emm … pengantin baru.

Lanjut, bagi saya, O2, membangkitkan kenangan tentang detik-detik sidang skripsi saya yang sudah lewat … errr … kira-kira 4 tahun yang lalu. 😀

Ngomong-ngomong, buku terakhir dari seri The Chronicles of Audy ini luar biasa (menuruth saya loh ya 😉 ). Semua “hal-hal yang harus dikhawatirkan oleh Audy” terselesaikan  dengan baik dan saya setuju (apa coba). Walaupun saya rasa mereka terlalu banyak diberi keberuntungan. Kehidupan nyata sepertinya tidak semudah itu. Tapi tidak ada salahnya berharap keberuntungan yang sama juga menghampiri kita di kehidupan yang sebenarnya kan?

Finally, maksud dari O2 yang menjadi judul buku ini benar-benar menghangatkan hati. Meskipun saya masih lebih pro dengan Rex ketimbang Romeo. Dan saya ingin memeluk Audy karena kata-kata bijaknya soal masalah ini.

Saya rasa seri ini akan saya baca ulang lagi kapan-kapan, terutama kalau saya lagi butuh banyak tertawa dan motivasi. Dan untuk buku terakhir ini, saya kasih bintang penuh deh. I’ll miss you, 4R1A. Oh ya, dan 2M juga 😉

***

Judul: The Chronicles of Audy: O2 | Seri: The Chronicles of Audy #4 | Pengarang: Orizuka | Penerbit: Haru | Edisi: Cetakan pertama, Juni 2016, 364 halaman, 19 cm | Rating saya: 5 dari 5 bintang

Posted in Books, Family, Haru, Orizuka, Romance, The Chronicles of Audy

The Chronicles of Audy: 4/4 Review

photogrid_1477814516265

Hanya dia yang mampu membuatku kembali memijak tanah, di saat aku sedang bermimpi terbang.

—The Chronicles of Audy, hlm. 221

Setelah membaca buku pertama, saya paham kenapa sepertinya saya tidak pernah mendengar ada tim Regan. Setelah membaca buku kedua, saya paham kenapa ada tim Rex. Setelah membaca buku ketiga, saya baru paham kenapa ada tim Romeo (mungkin setelah membaca buku keempat, saya baru paham kenapa tidak ada tim Rafael, *plaak*). Dan setelah membaca buku ketiga pula, sepertinya saya memutuskan untuk tidak ikut tim manapun, dengan alasan yang sama kenapa judul buku ketiga ini 4/4,  *tante-tante serakah*, *hidupptim4/4*.

So, cerita Audy dan 4R masih berlanjut. Meskipun sudah tinggal di kos-nya sendiri, Audy masih ke rumah 4R setiap hari. Perannya untuk mengantar dan menjemput Rafael masih diperlukan. Selain itu, Audy memang sudah dianggap sebagai bagian dari keluarga.

Lalu bagaimana hubungannya dengan salah satu dari cowok 4R itu? Makin ribet, kalau menurut Audy. Tapi kalau menurut si cowok, sepertinya tidak tuh XD

Ngomong-ngomong, setelah membaca 4/4, saya tiba-tiba jadi dapat semangat untuk mengerjakan pekerjaan yang sering saya tunda-tunda. Saya  juga jadi lebih semangat untuk mewujudkan kembali mimpi besar saya yang sudah hampir mati. Gara-garanya saya gemes sekali sama Audy yang selalu dapat alasan untuk menunda mengerjakan skripsi. Saya juga jadi ngeri sendiri, jangan-jangan saya ikut tertular virus Rex.

Jadi selain masalah hubungan Audy dengan salah satu cowok 4R, ada masalah lain yang lebih serius. Seperti yang tertulis di blurb, keluarga ini berada di ambang perpisahan. Yang lagi-lagi membuat saya ngeri adalah, saya kembali setuju dengan pendapat Rex. *apakah hati saya memang sedingin itu*, *mode lebay ala Audy*.

Kerennya, di buku ini, Romeo jadi pahlawan. Iya, Romeo, yang selama ini jadi orang terakhir yang akan dimintai pertolongan kalau ada masalah, tiba-tiba jadi pembawa solusi. Saya merasa di buku ketiga ini, saya diajak untuk mengenal Romeo lebih dekat, *aseek*.

So, The Chronicles of Audy buku ketiga masih kocak seperti biasa. Menyenangkan sekali membaca buku ini. Saya harap buku berikutnya tidak kalah lucu dan tidak kalah memotivasi dari buku ini. Mengingat besok adalah hari senin.

Oh ya, ngomong-ngomong (lagi), warna blink-blink di pinggiran buku 4/4 ini adalah ungu. Bukan warna favorit saya sih, tapi saya senang sekali karena pembatas bukunya adalah gambar Regan (saya masih memfavoritkan Regan meskipun saya pengen ada di tim 4/4). Dan setelah selesai membaca buku ini, saya baru tahu ungu ini warna favorit siapa. So sweet  ❤

Next, masih ada waktu untuk membaca buku keempat dari The Chronicles of Audy. Bantas habis saja mumpung masih weekend. Karena, sekali lagi, besok adalah hari senin, *sigh*. Walaupun masih merasa sedikit ngeri, tapi saya harap Rex bisa menularkan semangat belajarnya lagi (tularkan kejeniusannya juga boleh).

At last, bagi saya, seri The Chronicles Audy memang penuh kejutan. Saya tidak pernah mengira kalau bukunya bisa sekocak ini, dan juga bisa memberikan motivasi. I really liked it.

***

NB: Kutipan-kutipan favorit lainnya dari buku The Chronicles of Audy: 4/4,

“Kok nggak ngasih tahu sih, Rex?” sungutku, merasa ditikam dari belakang.

“Kenapa harus ngasih tahu?” Rex menjawab sambil mulai menumis. —hlm. 44

Satu lagi kemiripan saya dengan Rex. Saya juga pernah ngasih jawaban sinis seperti itu, dan tidak menyangka kalau jawaban itu bisa terasa sedingin ini. Pantas orang yang saya kasih jawaban seperti itu langsung “menghilang”. Maaf 😦

Kalau aku juga kutu buku (minimal suka membaca — selain komik), kencan di perpustakaan pasti akan jadi kencan impian. Maksudku, segala adegan di drama romantis itu: adegan berjalan di lorong rak sambil saling mengintip di antara buku-buku… jemari yang tidak sengaja bersentuhan saat memilih buku yang sama… kemudian menatap si dia selagi membaca buku sampai jatuh tertidur… —hlm. 73

Hayooo, para kutu buku, pernah memimpikan adegan ini? XD

Selama beberapa saat, aku mengamati sosok Rex yang selalu tampak kurus dan serius… —hlm. 154

Lagi, kemiripan saya dengan Rex. Orang-orang juga sering bilang seperti itu, kurus dan serius. Kenapa miripnya tidak dibagian jeniusnya saja sih?

***

Judul: The Chronicles of Audy: 4/4 | Seri: The Chronicles of Audy #3 | Pengarang: Orizuka | Penerbit: Haru | Edisi: Cetakan ketiga, April 2016, 314 halaman, 19 cm | Rating saya: 4 dari 5 bintang