Posted in Books, Gramedia Pustaka Utama, Rhonda Byrne, Self Help

How The Secret Changed My Life: Kisah Nyata, Orang-Orang Nyata Review

***

Ada dua jenis orang:

Mereka yang berkata,

“Aku akan percaya ketika melihatnya.”

Dan mereka yang berkata,

“Untuk melihatnya, aku tahu aku harus percaya.”

—The Secret Daily Teaching (How The Secret Changed My Life, hlm 4)

Nah lo, saya sama sekali tidak tahu kalau buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Pasca membaca 4 buku karangan Rhonda Byrne lainnya, saya ingat saya sempat nyeletuk seandainya saja ada 1 buku Rhonda Byrne lagi yang diterjemahkan, maka saya bisa ikut Read & Review Challenge BBI 2017  untuk kategori membaca 5 buku dari pengarang yang sama.

Dengan rajin saya stalking ke toko-toko buku online (tidak ada toko buku di kota saya) dan mengetik kata kunci Rhonda Bryrne untuk mencari tahu apakah ada karya beliau lagi yang sudah diterjemahkan atau tidak. Tapi tidak ada satu pun yang membuahkan hasil.

Berdasarkan “ajaran” buku ini, pastilah  “Semesta” mendengar keinginan saya, karena akhirnya saya mendapat kesempatan jalan-jalan ke toko buku real. Kesempatan yang didatangkan Semesta melalui suami saya yang secara tidak terduga mengajak jalan-jalan ke kota besar. Kebetulan dia sedang ada tugas di sana.  Saya tahu suami saya lagi sibuk dan capek dan tidak terlalu suka dengan toko buku. Tapi toh dia mau saja mengajak saya jalan-jalan ke toko buku karena dia tahu saya suka. Haduh senangnya, terima kasih cinta ❤ ❤ ❤

Dan disitulah saya akhirnya menemukan buku ini terpampang manis. Saya jadi pengen melompat saking senangnya. Syukurlah akhirnya ada satu buku Rhonda Byrne lagi yang bisa baca dalam bahasa Indonesia, haha.

Jadi seperti judulnya, buku dari The Secret Series kali ini berisi kumpulan kisah-kisah tentang orang-orang yang sudah berhasil melaksanakan prinsip-prinsip  The Secret dari seluruh dunia. Saya penarasan apakah ada kisah dari Indonesia. Oke, saya baca baca baca, …., hmmmm,  ternyata tidak ada.

Oke, kembali ke buku. Kisah-kisah di dalam buku ini dikelompokkan berdasarkan topik-topik tertentu seperti buku-buku pendahulunya. Dimulai dari kisah tentang proses kreatif, kisah tentang bagaimana mendapatkan kebahagian, kisah tentang bagaimana mendapatkan kekayaan, mengubah hubungan, mendapatkan kesehatan, dst. Setiap kisah dan atau topik dikomentari secara oleh si pengarang dan diberi kesimpulan berdasarkan prinsip-prinsip The Secret.

Sama seperti 4 buku sebelumnya, buku ini juga lumayan menginspirasi. Dan efeknya yang paling terasa bagi saya adalah ada beberapa kisah yang membuat saya meneteskan air mata. Saya begitu terharu dengan keberhasilan mereka. Sepertinya mereka menulis kisah mereka dengan sepenuh hati dan mungkin memang seperti itulah adanya.

Tidak butuh waktu lama untuk menyelesaikan buku ini walaupun penampilannya tampak seperti buku bantal, atau buku bantal yang imut lah lebih tepatnya.

Ngomong-ngomong saya sangat berharap semoga semua buku dari The Secret series  maupun yang terkait diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Sepertinya yang belum diterjemahkan adalah The Secret Gratitude Book, The Secret Daily Teachings, The Secret to Teen Power dan The Power of Henry’s Imagination, *cmiiw*.

At last, buku ini berhasil membuat saya “gatal” ingin mempraktikkan cara berpikir The Secret lagi. Kebetulan saat ini ada sesuatu yang amat sangat saya inginkan. Semoga seperti kisah-kisah keberhasilan yang termuat dalam buku ini, saya akhirnya juga punya kisah keberhasilan saya sendiri.

Pasti bisa. Minta, percaya dan terima. Tetap berpikir positif dan selalu bersyukur. Semangat! *pasang senyum 5 senti*, 😀

NB: 5 dari 5 bintang untuk buku ini. Yeap, it was amazing.

***

Judul: How The Secret Changed My Life: Kisah Nyata. Orang-Orang Nyata | Pengarang: Rhonda Byrne | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan I, Jakarta, 2017, 321 halaman | Penerjemah: Susi Purwoko | Penerbit: Gramedia Pustaka Utama | Status: Owned book | Rating saya: 5 dari 5 bintang

Advertisements
Posted in Books, Gramedia Pustaka Utama, Rhonda Byrne, Self Help

Hero (Reread) Review

***

Wah..wah…, setelah ditinggal kurang lebih 3 bulan, blog saya jadi lumayan berdebu. Saya melewatkan event ulang tahun BBI. Saya juga melupakan event Hari Buku Nasional yang sebetulnya bertepatan dengan tanggal lahir saya, *uhuk*. Terus ada juga beberapa komentar yang baru sempat saya balas sekarang, maaaf, *pasang tampang memelas*.

Continue reading “Hero (Reread) Review”

Posted in Books, Gramedia Pustaka Utama, Rhonda Byrne, Self Help

The Magic (Reread) Review

***

Jadi ya, kita sudah tahu apa itu Rahasia dari buku The Secret, dan apa itu Daya dari buku The Power. Kata kedua buku itu, kalau kita bisa memakai Rahasia dan Daya di dalam hidup, maka kehidupan kita akan berubah menjadi menakjubkan, #eaaaa.

Tapi masalahnya klise, bicara itu lebih gampang daripada mempraktikkannya, hahhah. Nah, saya rasa untuk itulah kenapa buku selanjutnya, The Magic, formatnya sedikit berbeda dengan dua buku pendahulunya.

The Magic ditulis dengan gaya step by step to do something (bener gak ya bahasa Inggrisnya, wkwkwk). Dan apa itu The Magic? The Magic adalah syukur.

Saya sudah pernah mereview The Magic sebelumnya di sini. Dan setelah membacanya untuk keduakalinya, saya merasa daya dorong untuk mempraktikkannya jadi lebih besar. Meskipun saya masih gagal untuk mengikuti langkah-langkahnya selama 28 hari berturut-turut.

Yeah, buku ini menyajikan bagaimana cara mempraktikkan syukur selama 28 hari. Setiap hari memecahkan masalah yang berbeda-beda. Oleh karenanya, buku ini juga membebaskan kita untuk tidak mengikuti ke 28 stepnya semuanya. Tapi bisa fokus ke step yang masalahnya mungkin sedang kita hadapi.

Diantara konsep The Secret, The Power, dan The Magic, The Magic-lah yang paling mudah saya terima. Saya sudah tidak asing lagi dengan konsep syukur yang bisa mendatangkan lebih banyak nikmat ke kehidupan. Bagi yang muslim, tentu sudah sering mendengarnya dari Al-Quran dan hadis.

Diantara kedua puluh delapan step itu, ada dua yang paling saya suka. Yang pertama adalah latihan mengucapkan syukur di setiap kegiatan harian yang kita lakukan. Yang kedua adalah mencari 10 hal yang harus kita syukuri untuk satu hal negatif yang sedang terjadi pada kita.

Yang pertama asik. Saya tahu kalau  ada banyaaaaak sekali hal yang bisa kita syukuri. Tapi saya tidak pernah benar-benar mensyukurinya.

Contohnya dalam kasus saya ya, saat bercermin, ketika saya ingat dulu bagaimana rasanya saat melihat satu jerawat saja nongol di jidat. Haduh, rasanya, langsung bad mood, hahha. Terus bagaimana kalau saya melihat wajah mulus tanpa jerawat? Biasa aja tuh, wkwkwk. *kenakeplak*.

Nah itu dia. Saya baru sadar kalau saya kurang bersyukur. Banget kurangnya. Jadi sekarang, kalau bercermin, saya selalu bersyukur untuk setiap senti wajah mulus yang dianugerahkan Tuhan untuk saya.

Buku ini mengajarkan untuk merasakan rasa syukur itu sedalam-dalamnya. Saya belum bisa sih, masih dangkal, hahhah. Tapi perbedaannya sudah mulai terasa. Tetiba pikiran-pikiran lain tentang hal-hal yang seharusnya saya syukuri jadi bermunculan sendiri.

Seperti misalnya ketika membuka keran untuk menggosok gigi di pagi hari, ketika melihat airnya keluar dengan lancar. Coba ingat saat keran dibuka terus airnya tidak keluar, hedeeeuh.

Atau lebih awal lagi,  saat saya menghirup udara segar di pagi hari. Saya yang tinggal di Kalimantan, yang pertama kena langganan kabut asap setiap tahunnya, masih ingat bagaimana rasanya ketika suatu pagi tiba-tiba udara yang saya hirup berbau asap pekat. Dan rasanya keterlaluan sekali kalau udara segar yang saya hirup di pagi hari ini tidak saya syukuri. Terima kasih Tuhan, untuk udara segarnya. Tolong jagakan udaranya supaya tetap segar sepanjang tahun ini, disetiap hari, dan disetiap detiknya. Amiin.

Terus yang kedua, baru pernah saya praktikkan sekali. Mau mempratikkan banyak-banyak saya masih tidak sanggup, hahhah. Hari itu kebetulan acara senam pagi rutin yang diadakan oleh pemerintah kabupaten lagi ada undian berhadiahnya. Nah saya berharap banget tuh dapat hadiah utama. Etapi ternyata tidak dapat, bahkan hadiah hiburan juga tidak. Kecewa dong. Kecewa dan iri sama yang dapat hadiahnya, hahaha. Padahal saya rajin ikut senam, belum pernah absen, huhu.

Saking kecewanya, saya sampai lupa kalau untuk pertama kalinya, panitia senam pagi berhadiah yang saya ikuti membagikan botol minum gratis untuk setiap peserta. Padahal saya selalu pegang botol minum itu, tapi karena fokus saya ada pada hadiah utama, saya tentu saja masih merasa kecewa. Baru setelah sampai kantor saya baru ingat The Magic dan pesannya untuk latihan mencari 10 hal positif dari satu hal negatif yang terjadi.

Tidak perlu sampai 10, saya cuma melihat 1 hal positif yang bisa disyukuri, yaitu botol minum gratis tadi. Dan itu sudah cukup merubah suasana hati saya. Hahaha. Ternyata kalau disyukuri, sesuatu sesederhana itu bisa dengan cepat merubah bad mood menjadi good mood.

Dan kejutannya, mungkin karena disyukuri dengan sebenar-benarnya, beberapa minggu kemudian, senamnya ada undian lagi. Meskipun gagal lagi dapat hadiah utama, kali ini saya dapat tempat makan gratis. Ah, syukur memang menambah nikmat, tak diragukan lagi.

Tapi etapi, meskipun begitu, saya kemarin lupa mensyukuri tempat makan itu dengan sepenuh hati, cuma senang sebentar, setelah itu lupa,  *kenakeplaak*.

Oke ini asik sekali. Meskipun menyenangkan, tapi cukup susah untuk dilakukan secara rutin. Pikiran saya masih sering teralihkan untuk bisa tetap konsisten mensyukuri hal-hal kecil maupun yang besar dari kegiatan sehari-hari. Dan saat saya mengalami hal yang tidak saya inginkan, pikiran negatif jauh lebih mudah dicari ketimbang pikiran positif, hahhah.

At last, saya setuju dengan buku ini. Syukur itu memang ajaib. Ada masih banyak lagi step yang belum saya coba. Pelan-pelan deh. 5 dari 5 bintang untuk The Magic. Oke, it’s Magic 😉

***

Judul: The Magic| Pengarang: Rhonda Byrne | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan I, Jakarta, 2012 | Penerjemah: Susi Purwoko | Penerbit: Gramedia Pustaka Utama | Status: Owned book | Rating saya: 5 dari 5 bintang

Posted in Books, Gramedia Pustaka Utama, Rhonda Byrne, Self Help

The Power (Reread) Review

***

Lagi demen baca ulang buku-buku The Secret ^_^

Saya cukup heran saat melihat rating yang dulu saya berikan saat membaca buku The Power untuk pertama kalinya. Ratingnya tidak sebagus buku The Secret. Waktu itu saya rasa buku The Power hanyalah versi The Secret yang sengaja dipanjang-panjangkan, hahhah, *sungkemsamasipengarang*.

Tapi setelah membaca untuk yang kedua kalinya. Justru sekarang The Power-lah yang sanggup membuat saya termenung, *halah*. The Power membahas tentang apa sih sebenarnya daya terbesar yang bisa menggerakkan Rahasia?

Apa itu Rahasia sudah dijelaskan di buku The Secret. Rahasia adalah (semoga ini tidak termasuk spoiler) hukum tarik menarik. Menurut #TimTheSecret, hukum tarik-menarik-lah kunci dari semua yang terjadi dihidup kita. Kalau kita menarik yang baik-baik, maka hal yang baik-baik pula yang datang kepada kita, begitu juga sebaliknya. Dan alat yang digunakan untuk menarik hal-hal tersebut adalah pikiran. Kata pamungkasnya adalah “pikiran menjadi sesuatu”.

Nah coba tebak, apa Daya yang bisa kita gunakan, untuk dapat menarik sesuatu yang kita inginkan dengan begitu kuat? Jawabannya adalah Cinta (tsaaah). Bisa diterima kan ya? Iyakan saja deh, hahhah.

Jadi The Secret (Rahasia) adalah hukum tarik-menarik, dan The Power (Daya) adalah Cinta.

Sama seperti The Secret, The Power juga dipenuhi dengan kutipan-kutipan dari orang-orang besar, baik dari masa sekarang, maupun masa lampau, dari berbagai agama dan kepercayaan, dari berbagai belahan dunia. Semuanya menyampaikan pesan yang sama tentang kekuatan Cinta.

Cinta dapat melakukan apa saja untuk Anda! Yang harus Anda lakukan adalah mengungkapkan rasa cinta dengan merasa senang, hal negatif apa pun dalam hubungan Anda akan lenyap. Setiap kali Anda dihadapkan pada situasi negatif dalam hubungan, solusinya selalu cinta! Anda tidak akan tahu cara penyelesaiannya, namun bila Anda terus saja merasa senang dan mengungkapkan rasa cinta, penyelesaian akan muncul.

Pesan dari Muhammad, Lao Tzu, Buddha, Yesus, dan semua orang besar sudah cukup lantang dan jernih — Cinta!

hlm. 222

Intinya, yang bisa saya tangkap dari The Power adalah, saya harus mencari Sumber Daya, yang karena kecintaan kita terhadapnya, bisa memberikan daya dorong yang kuat untuk menggerakkan hukum tarik-menarik. Buku ini juga mengajarkan trik-trik yang bisa kita lakukan untuk bisa selalu menggunakan Cinta. Karena buku ini mengutip semua tokoh besar dari berbagai kepercayaan, dari berbagai waktu dan belahan dunia, maka saya merasa seperti diberi pilihan untuk bebas memilih metode mana yang sesuai dengan “keadaan” saya.

Inilah yang membuat saya merenung. Saya jadi bertanya-tanya. trik mana yang cocok, yang bisa saya gunakan? Apa atau siapa yang dapat menjadi Sumber Daya saya, agar saya selalu bisa “merasa senang dan mengungkapkan rasa cinta” kepada sesama, kepada kehidupan? Jawabannya mudah ternyata. Saya sudah lama tahu. Tapi lebih sering terabaikan daripada diingat 😉

The Power membuat saya menyadari kenapa selama ini Sumber Daya itu terabaikan oleh saya. Saya tidak pernah berusaha untuk mengenal Sumber Daya itu lebih dekat. Bukankah ada pepatah yang mengatakan tak kenal maka tak sayang? Bagaimana bisa saya menjadikannya Sumber Daya kalau saya sendiri tidak pernah berusaha untuk itu?

Tidak terhitung berapa buku yang sudah saya baca. Banyaknya diantaranya tebalnya seperti bantal. Tapi tidak ada satu pun buku tentang Sumber Cinta itu yang benar-benar serius saya baca, dengan senang hati dan ikhlas sebagaimana saya membaca buku-buku cerita. Selama ini saya membacanya hanya sebagai kewajiban dari sekolah, hanya untuk mematuhi perintah guru. Hanya agar orang tua tidak marah di rumah.

At last, karena kali ini The Power membuat saya…errr…jadi sedikit lebih insaf, maka saya akan memberi 5 dari 5 bintang. Yeah, it’s amazing.

***

Judul: The Power | Pengarang: Rhonda Byrne | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan I, Jakarta, 2010 | Penerjemah: Rani Moediarta | Penerbit: Gramedia Pustaka Utama | Status: Owned book,  24 Januari 2011 | Rating saya: 5 dari 5 bintang

Posted in Books, Gramedia Pustaka Utama, Rhonda Byrne, Self Help

The Secret (Reread) Review

***

Kapan ya pertama kali saya baca buku ini? Sepertinya sudah lama sekali. Jauh sebelum saya gabung di Goodreads dan blogger buku.

Dulu, saya sempat mencoba salah satu cara yang diajarkan oleh buku ini untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Pakai yang visualisasi. Waktu itu pengen diterima kuliah di universitas. Saya bikin pengumuman kelulusan sendiri dimana nama saya tercantum di sana. Saya pandang setiap hari. Sambil mengucap syukur dan bersikap seakan-akan saya memang sudah diterima di universitas itu.

Dan alhamdulillah berhasil, dengan format pengumuman yang sama seperti yang saya buat sendiri. Walaupun setelahnya saya tidak yakin-yakin amat kalau diterimanya saya di universitas karena metode itu bekerja, *eh* *kenakeplak*.  Alhasil, saya jadi lupa dengan buku ini.

Sekarang tetiba jadi pengen baca buku ini lagi. Gara-garanya sekarang saya lagi ketiban beban kerja yang berat dari kantor. Salah satu rekan kerja saya di mutasi ke kantor lain tanpa ada penggantinya. Situasi yang bikin “hayati lelah” itu biasanya bisa diredam kalau saya kerja sambil main sosmed, *eh*.

Etapi sekarang membuka sosmed malah bikin tambah stress, wkwkwk. Saking sebelnya saya, saya bahkan sempat menghapus aplikasi sosmed saya. Dan untuk beberapa hari, hidup saya terasa tenang. Walaupun godaan untuk main sosmed akhirnya datang kembali. Sepi juga ya kalau tidak ada sosmed, heheh, *plaakpart2*.

So, karena itulah, saya jadi ingat dengan buku ini. Karena seingat saya, buku ini pernah menyebut-nyebut sesuatu tentang bagaimana cara menyikapi informasi atau berita negatif yang tidak kita suka.

Jadi saya baca…baca…baca… sampai selesai. Dan saya tersegarkan kembali, haha. Meskipun ada beberapa hal dari buku ini yang tidak sejalan dengan hati nurani saya (yaelah hati nurani). Tapi buku ini ampuh untuk saya. Terutama bagian hukum tarik menarik dan bagian berpikir positifnya.

Sejauh yang bisa saya tangkap, intinya, buku ini bilang, kalau kita tidak suka dengan sesuatu, ya sudah, jangan nyemplung disitu. Beres.

Jadi kalau tidak suka dengan isu yang dibawa oleh sebuah berita, ya jangan didenger atau jangan dibaca. Etapi nanti kita kudet dong. Nah, salah tokoh di buku ini bilang, boleh-boleh saja kalau mau tahu sesuatu, tapi cukup sampai tahu saja, jangan sampai berkutat di sana. Ngomongin ituuuu aja, ga di dumay ga di kehidupan sehari-hari, apalagi sampai lupa makan lupa tidur misalnya karena kepikiran terus, hohoho. Karena kata buku ini, semakin besar kita memikirkan sesuatu yang tidak kita suka, maka sesuatu itu bakalan doyan mendatangi kita, bahkan bisa mewujud. Hiii…seram.

Tapi lagi, kalau cuma sekedar tahu doang, kita jadi terkesan tidak peduli dengan isu yang berhubungan dengan hajat hidup orang banyak dong? Yah, tokoh lain di buku ini juga bilang, kalau pengen membawa perubahan, maka pikirkan hal positif yang kita inginkan dari permasalahan tersebut. Contohnya seperti yang saya kutip berikut:

Ibu Teresa sangat luar biasa. Ia berkata, “Saya tidak akan pernah menghadiri demonstrasi anti perang. Jika Anda mengadakan demonstrasi damai, undanglah saya.” Ia tahu. Ia memahami Rahasia. Lihatlah apa yang telah ia wujudkan di dunia.

—hlm 169-170

Awalnya, waktu membaca pertama kali, saya tidak mengerti dengan konsep kata “tidak ingin hal negatif” yang disampaikan oleh buku ini. Buku ini sepertinya sama sekali tidak mau menerima keberadaan hal negatif. Meskipun kita menambahkan kata “tidak ingin” di depannya. Waktu itu saya sampai harus membaca berkali-kali baru bisa mengerti, *telmimodeon*.

Misalnya, seperti yang dicontohkan oleh buku ini, kalau kita ingin diet, maka lebih baik mengatakan “saya ingin mempunyai tubuh yang ideal” ketimbang mengatakan “saya tidak ingin gemuk”. Kalau kita tidak ingin terlambat ke kantor, maka katakan “saya ingin tepat waktu” alih-alih saya “saya tidak ingin terlambat”. Meskipun maksudnya sama.

Karena kata buku ini, “Semesta” tidak mengenal kata “tidak”. So, meskipun kita mengatakan “saya tidak ingin terlambat”, maka kemungkinan kita tetap akan terlambat, karena fokus kita ada pada pikiran-pikiran tentang bayangan “terlambat ke kantor”.

Setelah dipikir-pikir, memang beda ya. Saya tes dengan sepenuh hati (ciee…sepenuh hati) untuk mengucapkan “saya tidak ingin terlambat ke kantor”, maka pikiran saya jadi kebayang-kebayang situasi “terlambat” terus. Saya jadi merasa rusuh sendiri, wkwkwk. Beda kalau saya mengucapkan “saya ingin berada di kantor tepat 15 menit sebelum bel masuk berbunyi”. Saya jadi terbayang situasi di mana saya bisa merasa santai dan tidak tergesa-gesa.

Terlepas dari beberapa kontroversi pribadi saya dengan si buku, *apacoba*, secara garis besar, saya setuju dengan buku ini. Dan yang dapat saya simpulkan setelah membacanya adalah, “coba saja, tidak ada salahnya untuk selalu berpikir positif”. Syukur-syukur kalau bisa diikuti dengan lisan dan tindakan yang positif juga kan, haseek, *tetibajadisokbijak*.

***

Judul: The Secret | Pengarang: Rhonda Byrne | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan V, Jakarta, Februari 2008 | Penerjemah: Susi Purwoko | Penerbit: Gramedia Pustaka Utama | Status: Owned book | Rating saya: 5 dari 5 bintang