Posted in Books, Gramedia Pustaka Utama, Rhonda Byrne, Self Help

The Magic (Reread II) Review

***

Bisa dibeli di Belbuk.com dan BukaBuku.com

***

Membaca ulang The Magic untuk yang kedua kalinya. Review pertama saya bisa dilihat di sini, dan yang kedua bisa di lihat di sini.

Sudah tiga kali membacanya tapi saya belum berhasil mengikuti langkah-langkahnya. The Magic menuntun kita para pembaca untuk mempraktikan “hal ajaib” ini selama 28 hari berturut-turut dengan harapan, keajaiban tersebut bisa menjadi gaya hidup kita sehari-hari.

Hal tersulit bagi saya masih tentang bagaimana caranya agar saya betul-betul bisa merasakan “The Magic” dari hati yang paling dalam, *tsaaah*. Seperti buku-buku dari seri The Secret sebelumnya, ampuhnya tidaknya keajaiban ini tergantung dari seberapa besar kita bisa merasakannya, bahkan jika keajaiban itu belum kita terima. Haduh, saya jadi frustasi sendiri, hahhah.

Untunglah buku ini bilang (saya lupa halaman berapa), meskipun kita belum bisa merasakannya dalam-dalam, memikirkan atau mengucapkannya saja sudah bisa menjadi langkah awal yang bagus. Oke deh kalau begitu. Semoga besok pagi saya sudah bisa memulai langkah pertama dari 28 langkah ajaib yang ada di buku The Magic. Semangat!!!

At last,¬† tetap 5 dari 5 bintang untuk The Magic. Oke, it’s Magic ūüėČ

***

Judul: The Magic| Pengarang: Rhonda Byrne | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan I, Jakarta, 2012 | Penerjemah: Susi Purwoko | Penerbit: Gramedia Pustaka Utama | Status: Owned book | Rating saya: 5 dari 5 bintang

Advertisements
Posted in Books, Gramedia Pustaka Utama, Rhonda Byrne, Self Help

The Power (Reread II) Review

***

Bisa dibeli di Belbuk.com dan BukaBuku.com

***

Selesai membaca The Power. Masih menginspirasi. Tapi tetap lebih banyak mengkhayalnya daripada berhasilnya, wkwkwk.

Direread sebelumnya, The Power berhasil membuat saya sedikit insyaf. Kali ini The Power berhasil memberikan efek yang sama seperti saya membaca The Secret, yaitu keinginan untuk secara langsung mempraktikkan bagaimana caranya menata perasaan (yaelah perasaan) agar bisa selalu merasa bahaaaaagia.

Masih belum dapat sih, hahhah. Tapi bukunya tetap menginspirasi. Tinggal sayanya aja lagi yang belum menemukan cara yang cocok agar bisa selalu bahagia.

Btw, yang paling jadi sorotan saya saat reread kali ini adalah masalah soal remeh temeh seperti yang saya kutip berikut:

Seberapa Besar Pengaruhnya?

“Dalam situasi yang berantakan, temukan kesederhanaan. Dalam pertikaian, temukan keselarasan. Dalam kesulitan terdapat peluang.”

Albert Einstein (1879-1955)

FISIKAWAN PERAIH HADIAH NOBEL

Bila pikiran Anda dipenuhi oleh terlalu banyak detail, soal kecil-kecil saja sudah bisa mengganggu pikiran Anda dan membuat Anda merasa kesal. Anda tidak bisa kaku dalam merasakan kesenangan bila Anda berputar-putar dalam soal-soal yang sepele. Apa pengaruhnya bila Anda membawa pakaian Anda ke binatu pas sebelum mereka tutup? Apa pengaruhnya bagi hidup Anda bila tim olahraga Anda tidak menang pekan ini? Kan masih selalu ada minggu depan. Seberapa pengaruhnya bila Anda ketinggalan bus? Apa pengaruhnya bila di pasar tidak jeruk yang Anda cari? Seberapa pengaruhnya bila Anda harus berdiri antre selama beberapa menit? Di atas segalanya, apa yang diakibatkan oleh hal-hal kecil itu?

Soal remeh-temeh membuat Anda merasa terganggu, dan yang kecil-kecil ini dapat memorak-porandakan hidup Anda. Bila Anda terlalu mempersoalkan hal-hal kecil, Anda tidak akan merasa nyaman. Tak satu pun dari soal remeh ini yang penting dalam keseluruhan hidup Anda. Sederhanakan demi melindungi kenyamanan perasaan Anda. Sederhanakanlah, karena bila Anda melepaskan diri dari soal tetek bengek, Anda dapat memberi ruang bagi segala sesuatu yang Anda inginkan untuk memasuki kehidupan Anda.

Bener banget kan ya? ūüėÄ

Sekarang kalau ada hal remeh yang membuat saya kesal, kata-kata di atas selalu terngiang-ngiang di telinga saya. Seberapa berpengaruhnya sih masalah itu? Cukup pantaskah masalah itu untuk membuat hati saya tidak nyaman? Saya sudah kesulitan untuk membuat hati saya luar biasa bahagia tanpa perlu ditambah lagi oleh hal remeh yang membuat hati saya malah menjadi tidak nyaman. Tapi ngomong lebih gampang sih daripada praktiknya, wkwkwk. Yang ada, hal-hal kecil yang mengesalkan itu tetap saja membuat saya kesal ;(

Selain masalah hal kecil, ada satu lagi hal yang paling berkesan direread kali ini, yaitu tentang PEP atau Pelatih Emosi Pribadi. PEP ini disamarkan dalam bentuk orang sehari-hari yang melatih kita untuk tetap memilih cinta disetiap situasi atau tidak. Dengan kata lain, PEP ini adalah orang-orang menyebalkan disekitar kita yang berpotensi untuk membuat kita kesal atau sedih, wkwkwk.

Kebetulan bulan ini, saya banyak berhadapan dengan PEP. Beberapa ada yang membuat saya kesal luar biasa. Ada yang membuat saya sampai menangis dan sebagainya. Susah memang untuk mengabaikan mereka, untuk tetap merasa bahagia. Jangankan merasa bahagia, merasa biasa-biasa saja jadi susah kalau PEP ini beraksi. Tapi benar, dengan menganggap mereka sebagai Pelatih Emosi Pribadi, kita jadi lebih mudah mengabaikan mereka. Mengabaikan dalam artian jangan sampai perilaku mereka membuat suasana hati kita jadi sedih berkepanjangan. Ingat, hukum tarik menarik yang positif hanya berlaku jika kita merasa bahagia luar biasa.

So, selalu ada hal baru yang bisa saya dapatkan dari me-reread sebuah buku. Next, saya pengen baca The Magic. Semoga aura positifnya selalu nempel. Saya benar-benar ingin selalu merasa bahagia. Semangaaat!!!

***

Judul: The Power | Pengarang: Rhonda Byrne | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan I, Jakarta, 2010 | Penerjemah: Rani Moediarta | Penerbit: Gramedia Pustaka Utama | Status: Owned book,  24 Januari 2011 | Rating saya: 5 dari 5 bintang

Posted in Books, Gramedia Pustaka Utama, Rhonda Byrne, Self Help

The Secret (Reread II) Review

***

Bisa dibeli di Belbuk.com dan BukaBuku.com

***

Di reread lagi XD. Lagi butuh bacaan yang bisa ngasih aura positif.

Tapi kali ini bacanya banyak melamunnya. Pengennya langsung mempraktikkan. Kata buku ini, kalau hukum tarik menarik pengen ampuh, kita harus merasa bahagia luar biasa. Bukan merasa biasa-biasa saja. Apalagi merasa sedih.

Nah, merasa bahagia luar biasa itu yang susah, hahhah. Saya sudah mencoba membayangkan ini itu yang kira-kira bisa membuat saya bahagia luar biasa. Tapi ga ngefek. Yang ada saya malah ketiduran karena kebanyakan mengkhayal, wkwkwk.

Lucunya, kalau ada kejadian yang tidak menyenangkan hati, perasaan saya langsung down tanpa perlu berusaha keras. Kadang bisa berlangsung sangat lama. Tapi kalau ada kejadian bahagia, efeknya cuma sebentar. Sepertinya saya kurang banyak bersyukur ya, huehehe.

Saya jadi penasaran. Pokoknya harus bisa menemukan cara apa yang ampuh agar saya bisa tiba-tiba merasa bahagia luar biasa. Satu cara yang sedikit berefek adalah dengan tersenyum sendiri. Senyum saja tanpa ada apa-apa. Lumayan bisa memperbaiki mood sedikit. Walaupun masih tidak bisa membuat saya merasa bahagia luar biasa.

Next, saya pengen baca The Power. Semoga bisa selalu merasa sangaaaat bahagia. Aamiin.

***

Judul: The Secret | Pengarang: Rhonda Byrne | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan V, Jakarta, Februari 2008 | Penerjemah: Susi Purwoko | Penerbit: Gramedia Pustaka Utama | Status: Owned book | Rating saya: 5 dari 5 bintang

Posted in Bentang Pustaka, Books, Islamic, Motivation, Self Help, Spirituality, Tasaro G.K.

Keajaiban Rezeki Review

***

Bisa dibeli di belbuk.com dan BukaBuku.com

***

Blurb:

Cerita ini asalnya dari otak kanan.

Sepertimu, aku juga pernah mengalami masa-masa ketika engkau merasa semesta begitu mendukung. Mendukung untuk bersama-sama menjungkalkanmu. Memberimu kesialan-kesialan. Dari bangun tidur sampai tidur lagi.

Bas, Habbar, Ats, Gangsa, dan Adon adalah lima sahabat yang hidup di bawah satu atap: Vila Kayu di dataran tinggi Lembang. Lima bujangan, lima kehidupan, satu rahasia yang mereka jaga bersama-sama. Sampai suatu hari, perubahan besar terjadi dalam kehidupan tenang mereka: serentak dan penuh misteri.

Gadis misterius yang selalu duduk di bangku 13 pada setiap penampilan stand up comedy Bas, pengirim e-mail tanpa nama yang meneror Habbar, tamu tengah malam yang mengunjungi toko buku Ats, eksekutif eksentrik yang menemani perjalanan kereta Gangsa, dan Pakar Otak Kanan yang memukau Adon.

Rangkaian kejadian itu mengantarkan mereka pada perburuan harta yang ribuan tahun sudah usianya. Pusaka yang memudahkan hidup, memak­murkan orang-orang yang mengetahui kunci-kuncinya.

Sepertiku, engkau akan sangat ingin tahu hal apakah itu? Mereka menyebutnya Warisan Nabi. Sesuatu yang akan merombak cara berpikirmu. Engkau lalu memutuskan untuk (tidak) berhenti mengikuti kisahku ini.

Cerita ini asalnya dari otak kanan.

My Review

Jika kita mampu menyeleraskan mimpi kita dengan mimpi orang tua, doa kita menembus langit. Sebaliknya, jika mimpi kita tidak selaras bahkan bertentangan dengan doa orang tua, itu menjadi penghalang turunnya rezeki yang baik. (Keajaiban Rezeki, hlm. 252)

Yeap, saya setuju sekali dengan kutipan di atas. Berdasarkan pengalaman pribadi tentunya, hahhah. Kalau apa yang kita inginkan sesuai dengan keinginan orang tua, selama itu tidak melanggar perintah Tuhan, realisasinya cepat dan lancar.

Jadi, saya lupa sama sekali kenapa saya kemarin membeli buku ini. Secara saya tidak terlalu suka buku motivasi tipe begini. Begini di sini maksudnya adalah tipe motivasi yang megkotak-kotakkan kelompok. Satu kelompok merasa lebih baik dari kelompok lain. Mungkin maksudnya tidak seperti itu, bisa saja saya yang salah paham. Tapi sejak pertama kali mendengarnya waktu kuliah dulu, saya merasa kuranag nyaman. Bukan berarti saya tidak setuju loh ya, saya hanya merasa … yah … kurang nyaman XD

Saya berharapnya mereka tidak merasa lebih baik dari kelompok lain. Iya sih apa yang mereka katakan benar. Orang-orang dari kelompok otak kanan memang cenderung lebih sukses. Yang membuat saya kurang nyaman adalah mereka yang menganggap diri mereka sendiri sukses ini selalu men-judge kelompok yang lain adalah kelompok yang tidak sukses dan hanya pantas menjadi bawahan. Mungkin ini hanya masalah kata-kata ala-ala motivasi, supaya kelompok yang tidak sukses ini merasaa terpacu untuk menjadi sukses. Tapi tetap saja saya merasa kalau itu terlalu … errrr … jahat, *eaaaa*.

Oke, saya rasa cukup curcolnya. Jadi novel ini menceritakan tentang lima sahabat dengan profesi berbeda yang tinggal bersama di satu vila kontrakan. Ada Bas si komedian, Habbar si kolumnis, Atsala si penjual buku, Gangsa si pengusaha dan Adon si penyulih suara.

Suatu ketika, sesuatu yang misterius serempak mulai mengusik kehidupan mereka yang awalnya tenang-tenang saja. Namun tidak ada satu pun yang menyadarinya. Sampai akhirnya secara serempak pula, mereka mulai menyadari ada sesuatu atau seseorang yang sepertinya mencampuri urusan pribadi mereka masing-masing. Baik atau burukkah itu? Yah, silakan baca sendiri bukunya. Yang pasti, setelah kejadian itu, kehidupan monoton mereka berubah menjadi …. errrr …. sangat menarik dan penuh tantangan XD

Awalnya saya sedikit kurang paham dengan gaya penceritaan buku ini. Siapa itu si komedian, siapa itu si penyulih suara. Kemudian siapa yang sedang¬†bicara terus siapa yang menjadi kata rujukan “-nya”. Tapi lama kelamaan, saya bisa masuk ke dalam ceritanya. Dan terus mengalir seperti itu sampai habis, *apa coba*.

Tapi jujur, tanpa bermaksud menyinggung siapa pun, buku ini tidak terlalu meninggalkan kesan yang mendalam bagi saya, *eaaa*. Kemungkinan ini terjadi gara-gara saya membacanya di tengah malam buta saat saya sedang tidak bisa tidur, huehehehe.

Namun, setidaknya, ada banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari novel ini.  At last, saya beri 3 dari 5 bintang deh. I liked it.

NB:

Kutipan-kutipan favorit:

Kadang di pikiran banyak orang, inginnya seperti itu. Kepala tenggelam di lekukan kapuk, sedangkan masalah hidup selesai dengan sendirinya. Tidak mungkin. (hlm. 28)

Dia termasuk orang yang pusing luar biasa jika mesti terjepit dalam hiruk pikuk manusia. Anti keramaian, tidak juga. Ada waktunya dia suka. Tapi lebih sering dia betul-betul ingin lepas dari situasi itu. (hlm. 53)

Begitulah otak seorang penulis bekerja. Menemukan segala yang tidak terungkap oleh mata-mata orang kebanyakan. (hlm. 54)

Tapi, ada waktunya, membaca jadi satu urusan, sedangkan menulis menjadi urusan lain.

Maksudnya dua hal ini meski menurut banyak orang berkaitan, tak selalu praktis saling mendukung.(hlm. 65)

“Jangan berharap menjadi sosok lain selain diri kita sendiri, dan berusahalah agar sosok itu menjadi sempurna. St Francis de Sales. (hlm. 84)

Saya pikir, ini sebuah pembuktian bahwa apa-apa yang dibekalkan Tuhan saat setiap manusia lahir adalah yang terbaik. Memang, tidak selalu baik di mata saya. Sebab Tuhan yang paling tahu, mana yang paling membawa kebaikan buat saya. Meski itu kadang tak kasatmata. (hlm. 131)

Pacaran atau tidak, itu pilihan. Saya memilih untuk tidaak pacaran. (hlm. 182)

Bagi orang yang cintanya terhalang, hidup jadi begitu menakutkan. Mati jadi jalan keluar. Jadi, lebih mudah mati dibandingkan hidup. Mereka tak melakukan sesuatu yang spektakuler. Sebab, berani hidup jauh lebih kesatria dibandingkan sekedar nekat bunuh diri. (hlm. 184)

Jika kita mampu menyeleraskan mimpi kita dengan mimpi orang tua, doa kita menembus langit. Sebaliknya, jika mimpi kita tidak selaras bahkan bertentangan dengan doa orang tua, itu menjadi penghalang turunnya rezeki yang baik. (hlm. 252)

Mau melangkah satu kaki saja, perhitungannya macam-macam. Sampai-sampai tidak melangkah sama sekali. (hlm. 282)

Kitab suci banyak berisi cerita untuk memberi teladan, Bas. (hlm. 309)

***

Judul: Keajaiban Rezeki | Pengarang: Tasaro GK | Penerbit: Mizania, Cetakan I, Bandung, Februari 2013, 640 halaman | Rating saya: 3 dari 5 bintang

***

Posted in Books, Gramedia Pustaka Utama, Rhonda Byrne, Self Help

How The Secret Changed My Life: Kisah Nyata, Orang-Orang Nyata Review

***

bisa dibeli di belbuk.com

***

Ada dua jenis orang:

Mereka yang berkata,

“Aku akan percaya ketika melihatnya.”

Dan mereka yang berkata,

“Untuk melihatnya, aku tahu aku harus percaya.”

—The Secret Daily Teaching (How The Secret Changed My Life, hlm 4)

Nah lo, saya sama sekali tidak tahu kalau buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Pasca membaca 4 buku karangan Rhonda Byrne lainnya, saya ingat saya sempat nyeletuk seandainya saja ada 1 buku Rhonda Byrne lagi yang diterjemahkan, maka saya bisa ikut Read & Review Challenge BBI 2017  untuk kategori membaca 5 buku dari pengarang yang sama.

Dengan rajin saya stalking ke toko-toko buku online (tidak ada toko buku di kota saya) dan mengetik kata kunci Rhonda Bryrne untuk mencari tahu apakah ada karya beliau lagi yang sudah diterjemahkan atau tidak. Tapi tidak ada satu pun yang membuahkan hasil.

Berdasarkan “ajaran” buku ini, pastilah ¬†“Semesta” mendengar keinginan saya, karena akhirnya saya mendapat kesempatan jalan-jalan ke toko buku real. Kesempatan yang didatangkan Semesta melalui suami saya yang secara tidak terduga mengajak jalan-jalan ke kota besar. Kebetulan dia sedang ada tugas di sana. ¬†Saya tahu suami saya lagi sibuk dan capek dan tidak terlalu suka dengan toko buku. Tapi toh dia mau saja mengajak saya jalan-jalan ke toko buku karena dia tahu saya suka. Haduh senangnya, terima kasih cinta ‚̧ ‚̧ ‚̧

Dan disitulah saya akhirnya menemukan buku ini terpampang manis. Saya jadi pengen melompat saking senangnya. Syukurlah akhirnya ada satu buku Rhonda Byrne lagi yang bisa baca dalam bahasa Indonesia, haha.

Jadi seperti judulnya, buku dari The Secret Series kali ini berisi kumpulan kisah-kisah tentang orang-orang yang sudah berhasil melaksanakan prinsip-prinsip ¬†The Secret dari seluruh dunia. Saya penarasan apakah ada kisah dari Indonesia. Oke, saya baca baca baca, …., hmmmm, ¬†ternyata tidak ada.

Oke, kembali ke buku. Kisah-kisah di dalam buku ini dikelompokkan berdasarkan topik-topik tertentu seperti buku-buku pendahulunya. Dimulai dari kisah tentang proses kreatif, kisah tentang bagaimana mendapatkan kebahagian, kisah tentang bagaimana mendapatkan kekayaan, mengubah hubungan, mendapatkan kesehatan, dst. Setiap kisah dan atau topik dikomentari secara oleh si pengarang dan diberi kesimpulan berdasarkan prinsip-prinsip The Secret.

Sama seperti 4 buku sebelumnya, buku ini juga lumayan menginspirasi. Dan efeknya yang paling terasa bagi saya adalah ada beberapa kisah yang membuat saya meneteskan air mata. Saya begitu terharu dengan keberhasilan mereka. Sepertinya mereka menulis kisah mereka dengan sepenuh hati dan mungkin memang seperti itulah adanya.

Tidak butuh waktu lama untuk menyelesaikan buku ini walaupun penampilannya tampak seperti buku bantal, atau buku bantal yang imut lah lebih tepatnya.

Ngomong-ngomong saya sangat berharap semoga semua buku dari The Secret series ¬†maupun yang terkait diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Sepertinya yang belum diterjemahkan adalah The Secret Gratitude Book, The Secret Daily Teachings, The Secret to Teen Power dan The Power of Henry’s Imagination, *cmiiw*.

At last, buku ini berhasil membuat saya “gatal” ingin mempraktikkan cara berpikir The Secret lagi. Kebetulan saat ini ada sesuatu yang amat sangat saya inginkan. Semoga seperti kisah-kisah keberhasilan yang termuat dalam buku ini, saya akhirnya juga punya kisah keberhasilan saya sendiri.

Pasti bisa. Minta, percaya dan terima. Tetap berpikir positif dan selalu bersyukur. Semangat! *pasang senyum 5 senti*, ūüėÄ

NB: 5 dari 5 bintang untuk buku ini. Yeap, it was amazing.

***

Judul: How The Secret Changed My Life: Kisah Nyata. Orang-Orang Nyata | Pengarang: Rhonda Byrne | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan I, Jakarta, 2017, 321 halaman | Penerjemah: Susi Purwoko | Penerbit: Gramedia Pustaka Utama | Status: Owned book | Rating saya: 5 dari 5 bintang