Posted in Adventure, Bentang Pustaka, Biography, Books, Islamic, Tasaro G.K.

Muhammad: Lelaki Penggenggam Hujan Review

***

Bisa dibeli di belbuk.com dan BukaBuku.com

***

Blurb:

Kashva pergi dari Suriah, meninggalkan Khosrou, sang penguasa Persia tempatnya mengabdikan hidup demi menemukan lelaki itu: Muhammad. Al-Amin yang kelahirannya akan membawa rahmat bagi semesta alam, pembela kaum papa, penguasa yang adil kepada rakyatnya.

Kehidupan Kashva setelah itu berubah menjadi pelarian penuh kesakitan dan pencarian yang tiada henti terhadap sosok yang dijanjikan. Seorang Pangeran Kedamaian yang dijanjikan oleh semua kitab suci yang dia cari dari setiap ungkapan ayat-ayat Zardusht sampai puncak-puncak salju di perbatasan India, Pegunungan Tibet, biara di Suriah, Istana Heraklius, dan berakhir di Yatsrib, sang Kota Cahaya.

Hasrat dalam diri Kashva sudah tak terbendung lagi. Keinginannya untuk bisa bertemu dengan Muhammad demikian besar hingga tak ada sesuatu pun yang membuatnya jerih. Bahkan maut yang mengintai dari ujung pedang tentara Khosrou tak juga menyurutkan kerinduannya bertemu Muhammad.

Kisah pencarian Kashva yang syahdu dalam novel ini akan membawa kita menelusur Jazirah Arab, India, Barrus, hingga Tibet.

My Review

Akhirnya rasa penasaran saya tentang kenapa judul buku ini adalah Muhammad: Lelaki Penggenggam Hujan terpuaskan. Meskipun sepertinya saya rasa saya salah memahami blurb-nya. Setelah membaca blurb tersebut, saya mengiranya Kashva benar-benar akan melakukan apapun untuk bertemu Nabi Muhammad SAW. Tapi kesan yang saya dapat setelah membaca bukunya tidak seperti itu. Menurut saya Kashva justru lebih tertarik untuk berburu pengetahuan-pengetahuan kuno dari berbagai agama yang akan meyakinkannya tentang kenabian Rasulullah ketimbang ingin bertemu langsung dengan beliau. Yah tapi itu menurut saya saja sih, huehehe.

Sama seperti buku The Great Episodes of Muhammad Saw,  saya juga membaca buku Muhammad: Lelaki Penggenggam Hujan ini dalam rangka  memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Meskipun seperti biasa, momennya sudah lewat saat saya berhasil menamatkan buku tebal ini. Kemampuan membaca saya sepertinya menurun. Dan ditambah berbagai faktor luar seperti banyaknya kerjaan yang harus diselesaikan di momen-momen akhir dan awal tahun. Libur akhir tahun yang panjang itu seakan tidak berlaku bagi saya, hahhah.

Jadi buku ini menceritakan tentang seorang pemuda Persia bernama Kashva. Kashva ini adalah seorang cendekiawan tipe jaman dulu yang sangat tertarik dengan ilmu pengetahuan dan pandai berkata-kata. Kashva dijuluki sebagai sang Pemindai Surga dan dia menjadi kesayangan penguasa Persia saat itu, Khosrou.

Namun, Kashva memberikan sebuah “hadiah” yang membuat Khosrou murka, dan ini ada hubungannya dengan munculnya agama baru yang menurut kabar dibawa oleh seorang lelaki Arab yang mengaku sebagai nabi.

Biasanya murkanya penguasa jaman dulu ini berarti kematian kan ya, nah, Kashva pun terpaksa lari. Bersama gulungan-gulungan perkamennya yang berharga, Kashva melakukan pencarian pengetahuan tentang Lelaki Penggenggam Hujan yang diramalkan akan hadir oleh berbagai agama di seluruh dunia.

Selain kisah Kashva, kisah perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW dan para keluarga beserta sahabat beliau juga ada di buku ini. Jadi chapter-chapternya terbagi dua. Ada kisah Kashva dan juga kisah Rasullullah.

Ngomong-ngomong, saya salut tentang bagaimana penulis bisa mengisahkan kisah hidup Rasulullah dalam bentuk novel biografi yang ringan dibaca. Saya rasa menulis novel biografi Nabi Muhammad SAW itu sulit. Soalnya setiap perkataan dan perbuatan beliau adalah sunnah. Tidak bisa dituliskan sembarangan dan harus ada referensi yang kuat.

Berhubung saya sebelumnya baru saja membaca buku sirah nabi, sedikit banyak saya bisa membandingkan kisah hidup Rasullullah yang ada di buku ini, dengan yang ada di buku The Great Episodes of Muhammad Saw. Seingat saya cocok sih, kecuali bagian dimana perempuan ikut berperang. Tapi saya tidak berani ngomong banyak-banyak. Ilmu saya jelas belum cukup dan saya jelas bukan ahli sirah,  plus bisa saja saya yang salah baca atau kurang paham. Mengingat kalau ada adegan menegangkan seperti adegan perang, saya bawaannya selalu pengen cepat-cepat membaca saking serunya:D

Btw, buku ini ternyata sudah terbit lama ya? Ya ampun kemana saja sih saya, hahhah. Meskipun bagi saya, butuh perjuangan untuk membaca buku ini di chapter-chapter awal, tapi endingnya begitu berkesan. Membaca kisah hidup Nabi Muhammaad SAW memang selalu memberikan efek seperti itu, selalu membuat rindu. Ditambah lagi dengan cerita Kashva yang melakukan pencarian pengetahuan yang sangat ilmuwan banget. Oh I love it. Yes! XD Pencariannya itu cocok dengan buku The Great Episodes of Muhammad Saw. Tentang bahwa sebenarnya semua agama yang dibawa oleh para nabi, sejak Nabi Adam,  memerintahkan hal yang sama. Bahwa hanya ada satu Tuhan untuk disembah dan nanti akan ada nabi akhir jaman yang akan lahir.

Saya penasaran sekali ingin membaca buku-buku selanjutnya. Tapi setelah diusut, well, bukunya ternyata ada 4 dan tebal-tebal pula, hiks. Ga kebayang berapa total harga + ongkirnya, wkwkwk. Terpaksa belinya pelan-pelan, hohoho. Sayang sekali akhir-akhir ini tidak ada lagi bazar Mizan di kota saya. Kira-kira kenapa ya?

At last, saya suka sekali dengan buku ini. 4 dari 5 bintang tentunya. Semoga nanti saya berjodoh dengan keempat bukunya. Amiiin.

NB:

Kutipan-kutipan favorit:

Rahasiakanlah ini sampai waktunya tiba. Engkau akan menjadi saksi yang menguatkan dan aku sungguh iri kepadamu. Nabi ini, seperti para nabi Tuhan sebelumnya, akan dimusuhi oleh orang-orangnya sendiri. Alangkah bahagianya jika aku bersamanya tatkala dia terusir dari kaumnya. (hlm. 15)

Dibantu oleh beberapa orang, ‘Aisyah lalu meninggalkan biliknya untuk mendatangi rumah ayah-ibunya. Tampaknya dia sangat ingin dirawat oleh ibunya saat ini. Pada saat-saat tertentu seorang anak akan selalu merindukan tangan ibunya. Perawat terbaik di dunia. (hlm. 90)

Tidak semua hal boleh kau lakukan hanya karena kau bisa melakukannya, berkuasa untuk melakukannya. (hlm. 158)

Bagiku lebih meyakinkan kesungguhan seseorang dalam perbuatan dibanding kata-kata yang sejuta. (hlm. 222)

Di dalam dada Kashva merekah energi pengetahuan yaang memang selama ini, menjadi sumber kekuatannya menempuhi hari-hari. (hlm. 433)

Di tanah kelahirannya, agama pun telah menjadi alat kekuasaan. Tinggal remah-remahnya saja. Unsur-unsur yang digunakan Khosrou untuk mengendalikan kepala-kepala rakyatnya. Agama yang hanya ritual semata. Tak jelas lagi apa inti dan tujuannya. (hlm. 435)

***

Judul: Muhammad: Lelaki Penggenggam Hujan | Pengarang: Tasaro GK | Penerbit: Bentang, Edisi II, Cetakan V, Yogyakarta, September 2016, 640 halaman | Rating saya: 4 dari 5 bintang

***

NB part 2:

Setelah membaca buku ini jadi rindu dengan Nabi Muhammad SAW. Ayo bershalawat ^^

Advertisements
Posted in Biography, Books, Fahrurraji Asmuni, Hemat, Non Fiction, Review 2014

Syekh Abdul Hamid Abulung: Korban Politik Penguasa Review

syekh_abdul_hamid_abulung_korban_politik_penguasa_by_fahrurraji_asmuni

Title: Syekh Abdul Hamid Abulung: Korban Politik Penguasa | Author: Fahrurraji Asmuni, S. Pd, MM.| Edition language: Indonesian | Publisher: Hemat| Edition: 2nd Edition, April 2014 | Page: 80 pages | Status: Owned Book (given by the author) | Date received: 6 September 2013 |  My rating: 3 of 5 stars

***

Sinopsis:

Di hadapan raja, Datu Abulung mengatakan bahwa beliau tidak dapat dibinasakan dengan alat apapun dan jika raja membinasakannya haruslah dengan senjata yang berada di dinding rumah beliau dan menancapkan ke dalam daerah lingkaran yang beliau tunjkkan yaitu di belikat beliau. Beliau berpesan, “jika darah yang keluar dari tubuhku berwarna merah, maka aku dan ajaranku yang salah, tetapi jika darah yang keluar dari tubuhku nanti berwarna putih, maka aku berada dalam kebenaran. Setelah berkata demikian, Datu Abulung shalat dua raka’at, ketika beliau shalat itulah senjata tersebut ditusukkan di tempat yang sudah beliau tunjukkan, maka memancarlah darah segar berwarna putih. Namun yang sangat aneh dan mengagumkan adalah bahwa dari ceceran darah segar Datu Abulung tertulis kalimat “Laa Ilaaha Ilallah Muhammadur Rasulullah”. Suasana jadi hening, hadirin bungkam menyaksikan kepergian Datu Abulung ke alam sejati.

Buku kedua hasil dapat gratisan dari guru saya. Cerita lengkap gratisan-nya bisa dilihat di review buku pertama di sini 😀

Setelah membaca sinopsis di atas, tidak heran mengapa diantara 36 Datu yang ada di buku Datu-datu Terkenal Kalimantan Selatan, Syekh Abdul Hamid Abulung atau Datu Abulung, “dituliskan” bukunya tersendiri.

Datu Abulung yang bernama asli Haji Abdul Hamid hidup dari tahun 1148 – 1203 H. Di buku ini dijelaskan bagaimana beliau mendapat gelar Syekh dan Datu, tapi tidak disebutkan kenapa beliau dikenal dengan nama Datu Abulung.

Membaca buku ini, membuat saya menyadari bahwa bahkan di Kalimantan Selatan pun, yang sebelumnya saya kenal sebagai daerah yang aman dan minim konflik, ternyata pernah terjadi peristiwa yang …. errr…. sangat sulit saya percayai pernah terjadi. Datu Abulung ternyata pernah membuat kesal Sultan jaman dahulu sehingga sang Sultan berusaha menyingkirkan beliau dengan berbagai cara.

Apa yang dilakukan oleh Datu Abulung sehingga membuat Sultan Banjar marah? Well, silakan baca sendiri ceritanya karena menurut saya topik ini sedikit sensitif 🙂

Buku ini memberikan kesan sebagai pembersihan nama baik bagi Syekh Abdul Hamid dan juga Syekh Muhammad Arsyad. Di buku Datu-datu Terkenal Kalimantan Selatan, disebutkan bahwa Syekh Muhammad Arsyad ikut berperan dalam keputusan hukuman mati bagi Datu Abulung. Di buku ini dijelaskan bukti-bukti bahwa hal tersebut tidak benar.

Typo atau kesalahan ketik di buku ini masih banyak. Tapi, somehow, tidak terlalu mengganggu seperti di buku Datu-datu Terkenal Kalimantan Selatan.  Oh ya, ada satu kata dalam bahasa daerah Kalimantan Selatan (bahasa banjar) yang nyelip di buku ini. Tepatnya ada di halaman 24 di kalimat berikut:

…., apabila salah daripada mereka meninggal dunia, maka yang satu kena memandikannya.

Kata kena dalam kalimat di atas bisa diartikan sebagai nanti dalam bahasa Indonesia. Ngomong-ngomong membaca kalimat di atas langsung mengingatkan saya dengan gaya bicara guru saya yang juga sekaligus si pengarang buku ini. Persis sekali 🙂

Buku ini tidak hanya menceritakan kisah hidup Datu Abulung, tapi juga hubungan beliau dengan Syekh Muhammad Aryad, ajaran-ajaran beliau, dan keturunan serta pengikut beliau yang masih hidup sampai sekarang. Khusus bagian tentang ajaran-ajaran beliau, membuat saya, untuk sekali lagi menyadari, bahwa tingkat spiritual saya masih sangat jauh.

Overall, buku ini membuat saya menyadari bahwa masih banyak yang tidak saya ketahui tentang daerah dan agama saya sendiri. Kisah yang diceritakan dalam buku ini sangat dekat tapi sekaligus terasa sangat jauh. Membaca kisah hiduh Datu Abulung seperti membaca kisah hidup seorang wali yang nun jauh di seberang pulau. Padahal beliau adalah seorang Syekh yang berperan besar menyebarkan agama Islam di daerah saya sendiri.

Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada guru saya yang memberikan buku beliau ini dengan cuma-cuma. Jujur kalau tidak diberi gratis saya mungkin tidak akan membaca buku ini *ditimpuk pakai sendal*.

Buku dengan genre seperti ini bukan my cup of tea. Tapi saya rasa buku ini wajib dibaca oleh orang-orang yang hidupnya jauh dari “dunia pesantren” seperti saya. Terutama untuk orang-orang Kalimantan Selatan. Bangga rasanya mengetahui daerah sendiri ternyata juga pernah mempunyai ulama hebat.

Kalau boleh request, saya harap nanti juga ada buku tentang ulama-ulama dibalik Pesantren Rakha yang ada di daerah Amuntai. Jujur saya tidak tahu apa-apa tentang pesantren tersebut. Padahal pesantrennya dekat sekali dengan rumah saya. *ngesot minder*.

Sama seperti kisah nya yang terasa dekat tapi jauh sekaligus, gaya penulisan buku ini, somehow, terasa lancar dan tidak lancar sekaligus. Saya cukup nyaman dengan gaya penulisannya, tapi typo dan kalimatnya yang terlalu panjang, serta informasi yang kurang lengkap membuat nya terasa tidak nyaman.

Contoh informasi yang kurang lengkap misalnya seperti yang sudah saya jelaskan di atas. Tidak dijelaskan kenapa Syekh Abdul Hamid lebih dikenal dengan nama Datu Abulung, meskipun kenapa beliau mendapat gelar Syekh dan Datu sudah ada.

Kemudian ada juga tentang shalat daim. Memang dijelaskan apa itu shalat daim tapi jujur saya masih bingung tentang shalat daim karena saya rasa ada yang missing dalam penuturannya. Apakah shalat daim itu shalat lima waktu seperti yang disebutkan di awal sub bab ataukah shalat yang setidak-tidaknya dilaksanakan sekali seumur hidup seperti yang disebutkan di akhir sub bab atau dua-duanya benar tergantung pendapat ulama mana yang kita ikuti.

Dan ngomong-ngomong tentang bagaimana keramatnya Datu Abulung yang kebal terhadap berbagai usaha pembunuhan, saya jadi teringat legenda Achilles dari Yunani dan juga cerita fantasi Percy Jackson by Rick Riordan. Mereka hanya sama-sama bisa dibunuh jika dilukai pada titik tertentu di tubuh.

Selain itu juga pembuktian kata-kata Datu Abulung dengan darah merah dan darah putih beliau. Mirip legenda Banyuwangi ya. Sebagai pembuktian apakah si korban bersalah atau tidak. Kalau tidak bersalah maka air sungai akan beraroma wangi.

Mengingat kemiripan-kemiripan ini membuat saya iseng berpikir bagaimana sebuah kejadian bisa memiliki kesamaan seperti itu. Dengan pengecualian kisah Datu Abulung yang saya rasa memang benar-benar terjadi, saya jadi berpikir dari mana ide dari peristiwa yang ada di dalam cerita Achilles atau Banyuwangi itu berasal, apakah memang benar-benar terjadi, hanya khayalan yang tiba-tiba muncul dari kepala pengarang, atau dari cerita mulut ke mulut yang awalnya hanya bersumber dari suatu peristiwa yang benar-benar terjadi tapi karena telah tersebar terciptalah versi masing-masing daerah. Wallahu a’lam.

At last,  3 dari 5 bintang untuk kisah hidup Datu Abulung. Terutama untuk keberhasilannya yang membuat saya ingin lebih banyak lagi membaca buku-buku sejenis ini.

So, I liked it 😀

Posted in Al-Ihsan, Biography, Books, Jusuf Khalidi, Non Fiction

ULAMA BESAR KALIMANTAN: SYEKH MUHAMMAD ARSYAD AL-BANJARI REVIEW

syekh_muhammad_arsyad_al_banjariTitle: Ulama Besar Kalimantan: Syekh Muhammad Arsyad al Banjari | Author: Jusuf Khalidi| Edition language: Indonesian | Publisher: Al-Ihsan| Edition: 3rd edition, 31 Agustus 1972|Status: Owned Book | Date purchased: 9 March 1973 |  My rating: 2 of 5 stars

***

Beliau lahir dari pasangan Abdullah dan Siti Aminah. Umur 6 bulan di dalam kandungan,  Abdullah dan Siti Aminah mendapatkan malam Lailatul Qadar. Pasangan yang sederhana ini tidak meminta harta dan pangkat. Tapi mereka berdoa dengan sepenuh hati di malam yang mulia itu agar bayi di dalam kandungan Siti Aminah dikarunia petunjuk dan bimbinganNya, agar menjadi seorang anak yang soleh dan alim Zuhud serta selalu menyiarkan agama dan hidup penuh berjasa.

Muhammad Arsyad dilahirkan tahun 1710 Masehi. Sejak berumur 8 tahun, Muhammad Arsyad sudah mempunyai ciri-ciri khas yang berbeda dengan kawan sebayanya.

Sultan Banjar yang berkuasa saat itu, Sultan Tahlillillah, sangat tertarik dengan sifat-sifat dan kemampuan-kemampuan yang dimiliki Muhammad Arsyad. Sultan meminta agar Muhammad Arsyad tinggal di lingkungan keluarga kerajaan agar dia dapat diberi pendidikan dan penyaluran bakat. Sultan pun akhirnya membiayai Muhammad Arsyad untuk menimba ilmu di Mekah.

Itulah sepenggal cerita mengenai kehidupan Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari. Seorang Syekh yang berjasa besar mengajarkan Islam di daerah Kesultanan Banjar.

Buku ini memuat secara ringkas biografi Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari dari lahir sampai wafatnya beliau. Buku ini disusun pada peringatan Haul yang ke-160 dari wafatnya Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari. Buku ini juga dilengkapi dengan petunjuk ziarah berdasarkan wasiat beliau.

***

Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari. Nama Syekh besar ini tentu saja familiar bagi saya yang asli orang Kalimantan Selatan. Tapi familiar sepertinya belum cukup. Hanya sekedar tahu nama tapi tidak mengenal siapa sebenarnya beliau.

Waktu kecil, saya beberapa kali pernah di bawa ziarah ke daerah Kalampayan di Kabupaten Banjar Kalimantan Selatan. Waktu itu saya tidak tahu makam besar siapa yang banyak di ziarahi orang itu. Saya bahkan tidak tahu kalau makam itu adalah makam Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari. Saya hanya tahu kalau itu adalah makam Datu Kalampayan, titik.

Untunglah saya akhirnya menemukan buku ini. Tidak sengaja saya temukan waktu mengubek-ngubek lemari buku untuk mencari buku biografi. Saya cukup yakin kalau koleksi lama papa ada buku biografinya.

Akhirnya, ketemu buku tua ini. Buku ini diterbitkan tahun 1972. Sudah lama sekali. Saya bahkan belum lahir.

Setelah membaca biografi beliau, tahu kehebatan-kehebatan beliau sebagai seorang Syekh, saya jadi bangga karena Kalimantan mempunyai seorang Syekh hebat yang ikut berjasa besar dalam penyebaran agama Islam khususnya di daerah Kalimantan Selatan. Jasa dan kehebatan beliau masih dikenang. Sampai sekarang makam beliau selalu dikunjungi para peziarah.

Diantara tanda-tanda beliau sebagai seorang ulama besar adalah pernah waktu beliau tinggal di lingkungan istana kesultanan Banjar, seorang mentri pernah melihat tubuh Muhammad Arsyad terangkat naik waktu tidur. Mentri yang kaget itu dengan cepat menangkap tubuh Muhammad Arsyad. Lalu terbangunlah beliau dan menangis. Ketika ditanya, ternyata beliau saat itu sedang bermimpi diajak seseorang naik ke atas langit, ketika sedang bersama-sama naik, terbangunlah beliau karena tubuhnya ditangkap tadi.

Pernah juga sekembalinya dari Mekah, Muhammad Arsyad singgah ke Jakarta. Di sana beliau sempat membetulkan arah kiblat sebuah mesjid. Dengan tegas Muhammad Arsyad menunjuk arah kiblat dengan tangannya. Konon, ketika dilihat dari celah lobang lengan bajunya, nampak dengan jelas kelihatan Baitullah.

Karena ini buku terbitan lama, maka gaya bahasanya terkesan jadul dan kaku. Tapi saya suka dua bait permintaan maaf dari penulis di akhir buku. Bunyinya seperti ini:

Pada akhirnya hasrat hati ingin hendak mempersembahkan sumbangan yang agak nilai, tapi kecakapan dan kemampuan hanya sekian. Jika sekiranya saya seorang seniman, akan saya tarikan penaku seiring nafas seni sastera dan akan saya suntingkan karya bakti syekh Muhammad Arsyad dengan tinta emas didalam prasasti sejarah Pejuang2 Pahlawan Islam.

Tetapi sayang ujung pena saya sangat tumpul, tidak cukup tajam sedang tangan yang mengendalikannya tidak cukup lemas untuk mengikuti alunan getaran jiwa seni sastera, untuk merangkum suatu untaian kata2 yang segar menyedapkan bagi rasa nestheotioa.

Kesimpulannya, meskipun buku ini memiliki tampilan jadul, tulisan kecil-kecil, dan gaya bahasa yang rada sedikit sulit dimengerti (nestheotioa itu apa ya?), tapi buku ini merupakan buku pertama yang mengenalkan saya kepada salah Syekh Besar Kalimantan, so, 2 dari 5 bintang untuk buku ini. It was OK.

Note: Review ini untuk Baca Bareng BBI bulan September 2013 untuk tema Biografi.

Posted in Biography, Books, Comic

SERI TOKOH DUNIA 44: BILL GATES REVIEW

Bill_GatesTitle: Bill Gates: Pembangun Kerajaan Microsoft | Series: Seri Tokoh Dunia 44 | Story & Ilustrator: Bijou | Edition language: Indonesian | Publisher: Elex Media Komputindo | Edition: 1st edition, 2008 | Status: Pinjem dari perpus | My rating: 3 of 5 stars

***

SATU KOMPUTER DI SETIAP MEJA DAN SOFTWARE MICRO-SOFT DI SETIAP KOMPUTER…

Bill Gates dilahirkan dalam keluarga yang mapan dan terpandang. Ayahnya seorang pengacara, kakeknya banker, dan ibunya seorang guru sebelum menikah.

Bill semasa sekolah sangat pintar. Saking pintarnya Bill jadi tidak punya teman. Bill pun pindah sekolah ke Lakeside School. Sekolah unggulan yang dipenuhi dengan murid-murid yang pintar.

Continue reading “SERI TOKOH DUNIA 44: BILL GATES REVIEW”