Posted in Books, Fantasy, Mizan Fantasi, Noura Books, Rick Riordan, The Trials of Apollo

BBI Share the Love 2017: The Gift! (+The Hidden Oracle Review)

bbi-share-the-love

Hari ini tanggal dua puluh tigaaaaa \^_^/

Saatnya untuk pamer hadiah International Book Giving Day tahun ini. Haduh, sebenarnya dari tadi pagi gatal banget pengen pamer, tapi apa daya, ada begitu banyak yang harus dikerjakan. Tapi untung masih sempat bikin postingan hadiah hari ini, meskipun publish-nya baru bisa malem-malem XD

Okeh, langsung saja, ini dia buku yang saya terima dari partner saya, Ima @ Pink’s Review

Iyaaap, hadiahnya adalah The Hidden Oracle by Rick Riordan…horeeeeeee…makasih ya Imaaaa, *peluuuk* \^_^/

Ahhh…sepertinya saya sudah ditakdirkan untuk membaca kisah si Dewa Ramalan, aseek.

So, bersama seri The Trials of Apollo, kita akan kembali masuk ke dunia mitos Yunani yang kekinian. Tapi kali ini tokoh utamanya bukan lagi demigod, tapi etapi salah satu dari 12 belas Dewa-Dewi Olympia sendiri. Dari judulnya juga sudah ketauan Dewa mana yang dimaksud 😉

Apollo ternyata dikutuk menjadi manusia. Apa sebabnya? Hoho…ternyata ada hubungannya dengan seri The Heroes of Olympus kemarin. Terus, untuk mengembalikan statusnya sebagai Dewa yang ter-hot, Apollo harus menjalankan misi. Misinya secara umum adalah harus “melayani” satu demigod. Misi khususnya? Biar takdir yang menjawab, wkwkwk.

Eh, tadi ada demigod ya? Iya ada. Terus apakah perkemahan Blasteran dan perkemahan Jupiter juga ada? Apa demigod-demigod favorit kita dari seri sebelumnya ada? Siapa demigod yang harus dilayani oleh Apollo? Yah, silakan baca sendiri bukunya, hahaha.

Yang pasti, Apollo disini narsis dan kocak. Tapi somehow kok jadi berasa mirip Percy ya? Ah, mungkin karena mereka masih ada hubungan keluarga.

Menurut saya adegan yang paling lucu adalah saat Apollo menghadapi Ratu Semut. LOL. Pengen banget nyantumin kata pamungkasnya. Tapi sayang, ntar kalian yang belum baca jadi ga merasa keseruannya, hohoho.

Terus, saya bingung mau ngomong apa lagi. Kalau cuap-cuap kebanyakan takutnya jadi spoiler. Intinya saya suka…saya suka…. Rasa kangen dengan serunya petualangan para pahlawan Yunani modern jadi terobati. Lucu pula. Saya benar-benar merasa terhibur ditengah beban kerja kantor yang berat.

Oh ya, saya belum sempat mencari info. Kira-kira seri The Trials of Apollo ini rencananya ada berapa buku ya? Moga jangan banyak-banyak. Dan semoga tidak ada yang bikin hangover kebangetan seperti buku kelima seri The Heroes of Olympus kemarin, *masihberasasebelnya*.

At last, 4 dari 5 bintang untuk The Hidden Oracle. Terima kasih banyak buat Ima yang sudah memilihkan buku ini untuk saya. Sekali lagi saya suka…saya suka… 😀

NB:

Kutipan favorit:

Tidak semua monster berwujud reptil seberat tiga ton bernapas beracun. Banyak monster yang berwajah manusia.

—hlm. 223

Advertisements
Posted in Books, Fantasy, Noura Books, Review 2016, Rick Riordan

Percy Jackson’s Greek Heroes Review

***

Saya suka sekali dengan seri Percy Jackson and The Olympians dan juga seri The Heroes of Olympus, tapi … sepertinya orang-orang disekitar saya tidak begitu. Alasan mereka rata-rata sama. Pertama, mereka tidak suka terjemahannya (sungkem sama penerjemah). Kedua, karena buku-buku Percy Jackson terlalu populer, mereka takut dibilang ikut-ikutan dan takut kecewa kalau-kalau kepopulerannya ternyata tidak sesuai dengan apa yang mereka baca nantinya.

Hal ini jadi masalah buat saya. Soalnya, saya jadi tidak punya teman untuk bergosip. Misalnya tentang siapa demigod favoritmu? Atau kalau kamu jadi demigod, kamu ingin punya ayah atau ibu Dewata yang mana?, Atau menurutmu, cakepan siapa, Percy atau Jason? huehehe.

Sebenarnya banyak sih teman-teman di Goodreads atau BBI yang juga suka Percy Jackson, tapi saya telat membaca seri ini, sehingga sepertinya obrolannya sudah “dingin”.

Jadi, saya mohon sekali lagi, kalaupun kalian masih keki ketika mau baca seri Percy Jackson and The Olympians, setidaknya bacalah buku companion yang ini. Terjemahannya bagus, ceritanya kocak abis, ilustrasinya keren, pengetahuan mitologinya dapat, dan dalamnya berwarna. Nah, apalagi coba.

Dan oh ya, ini 100% bukan iklan. Percaya deh, penerbit waras mana yang mau ngasih buku gratis segede ini ke pembaca di kota antah berantah di Kalimantan sementara banyak reviewer-reviewer keren yang jauh lebih berbakat di luar sana.

Baiklah, kembali ke Percy Jackson’s Greek Heroes. Saya masih ingat betapa lucu dan menghiburnya kisah Dewa Dewi Olympia. Percy menceritakannya seolah-olah mereka hidup di masa lampau dan modern. Kuno sekaligus kekinian. Dan tentu saja, konyol ala Percy.

Nah sekarang giliran para pahlawan Yunani yang juga dibuat gaul dan kekinian. Ajaib sekali Percy bisa menceritakan tentang nasib tragis para pahlawan Yunani dengan asik. Seandainya saja semua buku mitologi ditulis semenghibur ini, saya yakin saya tidak bakalan mengantuk di kelas saat pelajaran sejarah dulu, *eh*.

Buku ini besar dan cukup tebal. Tapi membacanya enteng sekali. Ada 12 Pahlawan Yunani yang dikisahkan di buku ini. Setiap kisah menyampaikan pesan moralnya masing-masing. Saya baru tahu kalau kisah Hercules ternyata seperti itu. Saya juga baru tahu kalau ternyata ujung-ujungnya nasib Jason (yang asli) seperti itu. Saya juga baru tahu kalau ternyata Eros sang Dewa Cinta ternyata juga bisa jatuh cinta (ya iyalah).

Sebenarnya saya ingin menuliskan kutipan-kutipan favorit sehubungan dengan pesan moral dan scene-scene yang bikin ngakak. Tapi karena jumlahnya kebanyakan, ga jadi deh, haha.

Ngomong-ngomong sama seperti buku sebelumnya, saya masih sedikit tidak rela dengan ilustrasi para Pahlawan di buku ini. Bukan karena tidak bagus, tapi rasanya sayang saja kalau ilustrasinya tidak secakep penggambaran Percy. Tahulah, setiap Pahlawan selalu saja digambarkan memiliki wajah yang rupawan, namun lagi-lagi gambarnya seperti paman-paman jenggotan, *plaakpart2*.

At last, saya rasa buku ini pantas mendapatkan 5 dari 5 bintang. It was amazing deh menurut saya 😀

***

Judul: Percy Jackson’s Greek Heroes | Pengarang: Rick Riordan | Penerbit: Noura Books | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan I, Februari 2016 | Tebal: 490 halaman | Status: Koleksi pribadi | Rating saya: 5 dari 5 bintang 

Posted in Author, Books, Fantasy, Genre, Mizan Fantasi, Publisher, Review 2015, Rick Riordan

The Serpent’s Shadow Review

***

Aku tidak yakin bagaimana dia tahu mengenai pidatoku, tetapi sebuah gumpalan terbentuk di tenggorokanku. Ayahku tidak gampang memberikan pujian. Bersamanya lagi membuatku teringat betapa hidup dulu begitu mudah, saat berpetualang bersamanya. Dia selalu tahu apa yang harus dilakukan. Aku senantiasa dapat mengandalkan kehadirannya yang menentramkan. Hingga Malam Natal itu di London ketika dia menghilang, aku belum menghargai betapa aku sangat bergantung padanya.

—hal 378

Kapan ya saya terakhir kali membaca seri The Kane Chronicles? Tahun 2013 kalau tidak salah. Sudah dua tahun berarti. Saya hampir lupa dengan petualangan Kane Bersaudara. Saya lupa siapa musuh mereka. Saya bahkan lupa dengan Walt dan Anubis. Well, kalau sampai saya lupa dengan dua cowok keren berarti ini sudah terlalu lama 😀

Yah jujur saja, petualangan para penyihir Mesir ini tidak terlalu membuat penasaran. Saya selalu menunda, baik untuk membeli ataupun membaca bukunya sampai akhirnya saya hanya ingat detail samar dari petualangan mereka.

Di The Serpent’s Shadow, Carter, Sadie dan kawan-kawan penyihir mereka harus mencari cara untuk mengalahkan Apophis, Dewa Kekacauan yang berwujud ular hitam super besar. Si Apophis ini berniat menghancurkan dunia dan mengubahnya menjadi lautan kekacauan tak berbatas.

Si ular juga mengadu domba sesama penyihir agar saling bentrok. Taktik perang lama yang ampuh. So, mereka jadi punya dua musuh alih-alih satu. Seakan menghadapi satu ular kekacauan masih tidak cukup saja.

Para penyihir muda kita benar-benar dibuat sibuk kali ini. Tenggat waktunya sempit dan rencana-rencana yang mereka buat tampaknya mustahil untuk dilaksanakan. Apa yang mereka pertaruhkan sangat besar, berhubungan dengan orang licik yang haus akan pengetahuan. Dan yang paling parah adalah keluarga Kane tampaknya harus bersiap-siap untuk merasakan kehilangan orang-orang yang mereka sayangi sekali lagi.

By the way, menurut saya, buku ini, luar biasa. Rasanya saya baru membaca sebentar, tapi tahu-tahunya saya sudah membaca setengah buku. Bahasanya lancar sekali. Tokoh-tokohnya kocak. Aksinya cukup seru. Dan bonus kisahnya keren.

Di kisah itu, kita bakalan ketemu Percy lagi, yang digambarkan dalam sudut pandang Carter. Yang membuat Percy tampak semakin keren. Ahahaha.

Ngomong-ngomong lagi, soal quote yang saya pajang di atas, itu dari Carter, saat dia diserahi tanggung jawab untuk  menjadi penguasa tertinggi Mesir. Carter yang sebelumnya hanyalah anak culun yang selalu bergantung kepada ayahnya, sekarang harus mengemban tanggung jawab yang tampak mustahil. Saat bertemu ayahnya kembali, Carter merindukan momen ketika dia mempunyai seseorang yang dapat dijadikan tempat bergantung. Sepertinya saya tahu bagaimana rasanya. *miss you so much, Dad*. 😦

At last, buku terakhir dari seri The Kane Chronicles ini lumayan menghibur lah.  So, 4 dari 5 bintang deh untuk The Serpent’s Shadow. I really liked it.

***

Title: The Serpent’s Shadow  | Series: Kane Chronicles #3 | Author: Rick Riordan | Genre: Fantasy – Mythology |  Page: 468 pages | Publisher: Mizan Fantasi (Indonesian, 2nd edition, September 2013 | Status: Owned book  | Price: Rp67.000,- | Purchase location: Pameran Buku Pintar Mizan @ Toko Buku Riyadh Banjarbaru | Date purchased: December, 6th 2014 | My rating: 4 of 5 stars

Posted in Books, Fantasy, Noura Books, Review 2015, Rick Riordan

Percy Jackson’s Greek Gods Review

 photo percy_jackson_greek_gods_by_riordan_uploadedby_irabooklover_zpszc91fuxg.jpg

***

Saya pernah berjanji, nanti, kalau ada buku tentang Percy lagi, saya bakalan PO saja biar ga ketinggalan. And, thank goodness, saya bisa PO buku Percy Jackson’s Greek Gods. Well, ternyata bukunya gedeee dan full color. Saya bolak-balik sekilas, wah…wah…sepertinya perlu waktu lama untuk membacanya.

Eh tapi ternyata bukunya seru sekali. Tidak butuh waktu lama untuk menyelesaikannya. Bagaimana tidak, membaca buku ini terasa seperti didongengi oleh Percy. Lancar banget, mengalir saja, plus konyol ala Percy. Banyak sekali scene yang membuat saya tertawa. Seandainya saja buku pelajaran sejarah ditulis seperti ini.

Seperti judulnya, di buku ini, Percy menceritakan tentang Dewa-Dewi Olympus, komplit dari awal nenek moyang mereka tercipta, sampai kisah dari masing-masing Dewa-Dewi tersebut.

Cuma saya bertanya-tanya, kenapa ya ilustrasi dari Dewa-Dewi ini…errr…tidak cakep. Ehm, saya tidak bilang gambarnya jelek sih, gambarnya bagus kok, hanya saja saya dalam bayangan saya, saat Percy bilang Zeus itu tampan, well, saya membayangkan gambar … yah … Dewa tampan, bukan gambar paman-paman jenggotan, *plaak*.

At last, saya suka sekali dengan Percy Jackson’s Greek Gods. Jadi penasaran sama buku satunya, kalau tidak salah judulnya Percy Jackson’s Greeks Heroes ya? Semoga nanti tidak kalah seru sama yang ini. So, 5 dari 5 bintang deh. It was amazing lah menurut saya 😀

***

Judul: Percy Jackson’s Greek Gods | Pengarang: Rick Riordan | Penerbit: Noura Books | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan I, Juli 2015 | Tebal: 396 halaman | Status: Koleksi pribadi | Rating saya: 5 dari 5 bintang 

Posted in Books, Fantasy, Noura Books, Review 2015, Rick Riordan, Series, The Heroes of Olympus

The Blood of Olympus Review

 photo the_blood_of_olympus_by_rick_riordan_uploaded_by_irabooklover_zpsl8zrjpx6.jpg

***

“…. Kata Leo, karena Hazel dan aku orang Romawi, kami tentu paham bahwa pengorbanan itu perlu.””

—Frank, hal 483

Buku terakhir dari seri The Heroes of Olympus. Seru sekali. Tidak membutuhkan waktu lama untuk membacanya.

Menurut saya, The Blood of Olympus ditutup dengan ending yang aman. Setidaknya aman bagi saya karena tidak membuat saya galau gara-gara harus berpisah sekali lagi dengan Percy.

Di The Blood of Olympus, ketujuh demigod kita berjuang untuk mencegah bangkitnya Gaea di Yunani. Sementara teman-teman mereka di Perkemahan Blasteran dan Jupiter juga dilanda ketegangan akan perang saudara yang sebentar lagi meletus. Dan sebentar lagi, Ramalan Tujuh akan sampai ke bait terakhir. Nah, siapa yang berhasil membuat dunia terjungkal? Badai atau api?

Ngomong-ngomong, lagi-lagi saya speechless sama buku ini. Bingung mau komentar apa lagi. Pokoknya seri The Heroes of Olympus seru banget deh.

At last,  5 dari 5 bintang untuk The Blood of Olympus. Karena tidak tahu mau menulis apa lagi, jadi review ini saya tutup dengan kutipan-kutipan yang membuat saya terkesan.

Saya harap Apollo segera melarikkan barisan ramalan baru biar Percy dan kawan-kawan bisa berpetualang lagi. Semoga kita bisa berjumpa lagi di Perkemahan Blasteran ❤ ❤ ❤

“Annabeth tersenyum tipis. “Aku tidak pernah bertemu mereka. Ayah dan pamanku tidak akur. Saingan sejak dulu. Aku tidak tahu pasti. Orang-orang menjaga jarak satu sama lain karena alasan bodoh.”

—Annabeth, hal. 402

…. Nico teringat kali pertama kedatangannya di Perkemahan Blasteran, menumpang mobil matahari Apollo yang telah diubah menjadi bus sekolah nan menyala-nyala.

Nico teringat akan Apollo, yang tersenyum, berkulit kecokelatan, berkacamata hitam, dan berpenampilan keren.

Thalia sempat berkata, Dia benar-benar hot.

Dia ‘kan Dewa Matahari, Percy menimpali.

Bukan itu maksudku.

Kenapa Nico malah memikirkan itu sekarang? Kenangan yang muncul sembarangan itu membuat Nico jengkel dan resah.

—hal. 428

“Jadi, terima kasih,” pungkas Reyna. “Kepada kalian semua. Kita bisa saja memilih kebencian dan peperangan. Akan tetapi, kita justru menemukan penerimaan dan persahabatan.”

—Reyna, hal. 487

***

Judul: The Blood of Olympus | Pengarang: Rick Riordan | Penerbit: Noura Books | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan V, Februari 2015 | Tebal: 528 halaman | Status: Koleksi pribadi | Rating saya: 5 dari 5 bintang