Posted in Books, Gramedia Pustaka Utama, Rhonda Byrne, Self Help

Hero (Reread) Review

***

Wah..wah…, setelah ditinggal kurang lebih 3 bulan, blog saya jadi lumayan berdebu. Saya melewatkan event ulang tahun BBI. Saya juga melupakan event Hari Buku Nasional yang sebetulnya bertepatan dengan tanggal lahir saya, *uhuk*. Terus ada juga beberapa komentar yang baru sempat saya balas sekarang, maaaf, *pasang tampang memelas*.

Continue reading “Hero (Reread) Review”

Posted in Books, Gramedia Pustaka Utama, Rhonda Byrne, Self Help

The Magic (Reread) Review

***

Jadi ya, kita sudah tahu apa itu Rahasia dari buku The Secret, dan apa itu Daya dari buku The Power. Kata kedua buku itu, kalau kita bisa memakai Rahasia dan Daya di dalam hidup, maka kehidupan kita akan berubah menjadi menakjubkan, #eaaaa.

Tapi masalahnya klise, bicara itu lebih gampang daripada mempraktikkannya, hahhah. Nah, saya rasa untuk itulah kenapa buku selanjutnya, The Magic, formatnya sedikit berbeda dengan dua buku pendahulunya.

The Magic ditulis dengan gaya step by step to do something (bener gak ya bahasa Inggrisnya, wkwkwk). Dan apa itu The Magic? The Magic adalah syukur.

Saya sudah pernah mereview The Magic sebelumnya di sini. Dan setelah membacanya untuk keduakalinya, saya merasa daya dorong untuk mempraktikkannya jadi lebih besar. Meskipun saya masih gagal untuk mengikuti langkah-langkahnya selama 28 hari berturut-turut.

Yeah, buku ini menyajikan bagaimana cara mempraktikkan syukur selama 28 hari. Setiap hari memecahkan masalah yang berbeda-beda. Oleh karenanya, buku ini juga membebaskan kita untuk tidak mengikuti ke 28 stepnya semuanya. Tapi bisa fokus ke step yang masalahnya mungkin sedang kita hadapi.

Diantara konsep The Secret, The Power, dan The Magic, The Magic-lah yang paling mudah saya terima. Saya sudah tidak asing lagi dengan konsep syukur yang bisa mendatangkan lebih banyak nikmat ke kehidupan. Bagi yang muslim, tentu sudah sering mendengarnya dari Al-Quran dan hadis.

Diantara kedua puluh delapan step itu, ada dua yang paling saya suka. Yang pertama adalah latihan mengucapkan syukur di setiap kegiatan harian yang kita lakukan. Yang kedua adalah mencari 10 hal yang harus kita syukuri untuk satu hal negatif yang sedang terjadi pada kita.

Yang pertama asik. Saya tahu kalau  ada banyaaaaak sekali hal yang bisa kita syukuri. Tapi saya tidak pernah benar-benar mensyukurinya.

Contohnya dalam kasus saya ya, saat bercermin, ketika saya ingat dulu bagaimana rasanya saat melihat satu jerawat saja nongol di jidat. Haduh, rasanya, langsung bad mood, hahha. Terus bagaimana kalau saya melihat wajah mulus tanpa jerawat? Biasa aja tuh, wkwkwk. *kenakeplak*.

Nah itu dia. Saya baru sadar kalau saya kurang bersyukur. Banget kurangnya. Jadi sekarang, kalau bercermin, saya selalu bersyukur untuk setiap senti wajah mulus yang dianugerahkan Tuhan untuk saya.

Buku ini mengajarkan untuk merasakan rasa syukur itu sedalam-dalamnya. Saya belum bisa sih, masih dangkal, hahhah. Tapi perbedaannya sudah mulai terasa. Tetiba pikiran-pikiran lain tentang hal-hal yang seharusnya saya syukuri jadi bermunculan sendiri.

Seperti misalnya ketika membuka keran untuk menggosok gigi di pagi hari, ketika melihat airnya keluar dengan lancar. Coba ingat saat keran dibuka terus airnya tidak keluar, hedeeeuh.

Atau lebih awal lagi,  saat saya menghirup udara segar di pagi hari. Saya yang tinggal di Kalimantan, yang pertama kena langganan kabut asap setiap tahunnya, masih ingat bagaimana rasanya ketika suatu pagi tiba-tiba udara yang saya hirup berbau asap pekat. Dan rasanya keterlaluan sekali kalau udara segar yang saya hirup di pagi hari ini tidak saya syukuri. Terima kasih Tuhan, untuk udara segarnya. Tolong jagakan udaranya supaya tetap segar sepanjang tahun ini, disetiap hari, dan disetiap detiknya. Amiin.

Terus yang kedua, baru pernah saya praktikkan sekali. Mau mempratikkan banyak-banyak saya masih tidak sanggup, hahhah. Hari itu kebetulan acara senam pagi rutin yang diadakan oleh pemerintah kabupaten lagi ada undian berhadiahnya. Nah saya berharap banget tuh dapat hadiah utama. Etapi ternyata tidak dapat, bahkan hadiah hiburan juga tidak. Kecewa dong. Kecewa dan iri sama yang dapat hadiahnya, hahaha. Padahal saya rajin ikut senam, belum pernah absen, huhu.

Saking kecewanya, saya sampai lupa kalau untuk pertama kalinya, panitia senam pagi berhadiah yang saya ikuti membagikan botol minum gratis untuk setiap peserta. Padahal saya selalu pegang botol minum itu, tapi karena fokus saya ada pada hadiah utama, saya tentu saja masih merasa kecewa. Baru setelah sampai kantor saya baru ingat The Magic dan pesannya untuk latihan mencari 10 hal positif dari satu hal negatif yang terjadi.

Tidak perlu sampai 10, saya cuma melihat 1 hal positif yang bisa disyukuri, yaitu botol minum gratis tadi. Dan itu sudah cukup merubah suasana hati saya. Hahaha. Ternyata kalau disyukuri, sesuatu sesederhana itu bisa dengan cepat merubah bad mood menjadi good mood.

Dan kejutannya, mungkin karena disyukuri dengan sebenar-benarnya, beberapa minggu kemudian, senamnya ada undian lagi. Meskipun gagal lagi dapat hadiah utama, kali ini saya dapat tempat makan gratis. Ah, syukur memang menambah nikmat, tak diragukan lagi.

Tapi etapi, meskipun begitu, saya kemarin lupa mensyukuri tempat makan itu dengan sepenuh hati, cuma senang sebentar, setelah itu lupa,  *kenakeplaak*.

Oke ini asik sekali. Meskipun menyenangkan, tapi cukup susah untuk dilakukan secara rutin. Pikiran saya masih sering teralihkan untuk bisa tetap konsisten mensyukuri hal-hal kecil maupun yang besar dari kegiatan sehari-hari. Dan saat saya mengalami hal yang tidak saya inginkan, pikiran negatif jauh lebih mudah dicari ketimbang pikiran positif, hahhah.

At last, saya setuju dengan buku ini. Syukur itu memang ajaib. Ada masih banyak lagi step yang belum saya coba. Pelan-pelan deh. 5 dari 5 bintang untuk The Magic. Oke, it’s Magic 😉

***

Judul: The Magic| Pengarang: Rhonda Byrne | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan I, Jakarta, 2012 | Penerjemah: Susi Purwoko | Penerbit: Gramedia Pustaka Utama | Status: Owned book | Rating saya: 5 dari 5 bintang

Posted in Books, Gramedia Pustaka Utama, Rhonda Byrne, Self Help

The Power (Reread) Review

***

Lagi demen baca ulang buku-buku The Secret ^_^

Saya cukup heran saat melihat rating yang dulu saya berikan saat membaca buku The Power untuk pertama kalinya. Ratingnya tidak sebagus buku The Secret. Waktu itu saya rasa buku The Power hanyalah versi The Secret yang sengaja dipanjang-panjangkan, hahhah, *sungkemsamasipengarang*.

Tapi setelah membaca untuk yang kedua kalinya. Justru sekarang The Power-lah yang sanggup membuat saya termenung, *halah*. The Power membahas tentang apa sih sebenarnya daya terbesar yang bisa menggerakkan Rahasia?

Apa itu Rahasia sudah dijelaskan di buku The Secret. Rahasia adalah (semoga ini tidak termasuk spoiler) hukum tarik menarik. Menurut #TimTheSecret, hukum tarik-menarik-lah kunci dari semua yang terjadi dihidup kita. Kalau kita menarik yang baik-baik, maka hal yang baik-baik pula yang datang kepada kita, begitu juga sebaliknya. Dan alat yang digunakan untuk menarik hal-hal tersebut adalah pikiran. Kata pamungkasnya adalah “pikiran menjadi sesuatu”.

Nah coba tebak, apa Daya yang bisa kita gunakan, untuk dapat menarik sesuatu yang kita inginkan dengan begitu kuat? Jawabannya adalah Cinta (tsaaah). Bisa diterima kan ya? Iyakan saja deh, hahhah.

Jadi The Secret (Rahasia) adalah hukum tarik-menarik, dan The Power (Daya) adalah Cinta.

Sama seperti The Secret, The Power juga dipenuhi dengan kutipan-kutipan dari orang-orang besar, baik dari masa sekarang, maupun masa lampau, dari berbagai agama dan kepercayaan, dari berbagai belahan dunia. Semuanya menyampaikan pesan yang sama tentang kekuatan Cinta.

Cinta dapat melakukan apa saja untuk Anda! Yang harus Anda lakukan adalah mengungkapkan rasa cinta dengan merasa senang, hal negatif apa pun dalam hubungan Anda akan lenyap. Setiap kali Anda dihadapkan pada situasi negatif dalam hubungan, solusinya selalu cinta! Anda tidak akan tahu cara penyelesaiannya, namun bila Anda terus saja merasa senang dan mengungkapkan rasa cinta, penyelesaian akan muncul.

Pesan dari Muhammad, Lao Tzu, Buddha, Yesus, dan semua orang besar sudah cukup lantang dan jernih — Cinta!

hlm. 222

Intinya, yang bisa saya tangkap dari The Power adalah, saya harus mencari Sumber Daya, yang karena kecintaan kita terhadapnya, bisa memberikan daya dorong yang kuat untuk menggerakkan hukum tarik-menarik. Buku ini juga mengajarkan trik-trik yang bisa kita lakukan untuk bisa selalu menggunakan Cinta. Karena buku ini mengutip semua tokoh besar dari berbagai kepercayaan, dari berbagai waktu dan belahan dunia, maka saya merasa seperti diberi pilihan untuk bebas memilih metode mana yang sesuai dengan “keadaan” saya.

Inilah yang membuat saya merenung. Saya jadi bertanya-tanya. trik mana yang cocok, yang bisa saya gunakan? Apa atau siapa yang dapat menjadi Sumber Daya saya, agar saya selalu bisa “merasa senang dan mengungkapkan rasa cinta” kepada sesama, kepada kehidupan? Jawabannya mudah ternyata. Saya sudah lama tahu. Tapi lebih sering terabaikan daripada diingat 😉

The Power membuat saya menyadari kenapa selama ini Sumber Daya itu terabaikan oleh saya. Saya tidak pernah berusaha untuk mengenal Sumber Daya itu lebih dekat. Bukankah ada pepatah yang mengatakan tak kenal maka tak sayang? Bagaimana bisa saya menjadikannya Sumber Daya kalau saya sendiri tidak pernah berusaha untuk itu?

Tidak terhitung berapa buku yang sudah saya baca. Banyaknya diantaranya tebalnya seperti bantal. Tapi tidak ada satu pun buku tentang Sumber Cinta itu yang benar-benar serius saya baca, dengan senang hati dan ikhlas sebagaimana saya membaca buku-buku cerita. Selama ini saya membacanya hanya sebagai kewajiban dari sekolah, hanya untuk mematuhi perintah guru. Hanya agar orang tua tidak marah di rumah.

At last, karena kali ini The Power membuat saya…errr…jadi sedikit lebih insaf, maka saya akan memberi 5 dari 5 bintang. Yeah, it’s amazing.

***

Judul: The Power | Pengarang: Rhonda Byrne | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan I, Jakarta, 2010 | Penerjemah: Rani Moediarta | Penerbit: Gramedia Pustaka Utama | Status: Owned book,  24 Januari 2011 | Rating saya: 5 dari 5 bintang

Posted in Books, Gramedia Pustaka Utama, Rhonda Byrne, Self Help

The Secret (Reread) Review

***

Kapan ya pertama kali saya baca buku ini? Sepertinya sudah lama sekali. Jauh sebelum saya gabung di Goodreads dan blogger buku.

Dulu, saya sempat mencoba salah satu cara yang diajarkan oleh buku ini untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Pakai yang visualisasi. Waktu itu pengen diterima kuliah di universitas. Saya bikin pengumuman kelulusan sendiri dimana nama saya tercantum di sana. Saya pandang setiap hari. Sambil mengucap syukur dan bersikap seakan-akan saya memang sudah diterima di universitas itu.

Dan alhamdulillah berhasil, dengan format pengumuman yang sama seperti yang saya buat sendiri. Walaupun setelahnya saya tidak yakin-yakin amat kalau diterimanya saya di universitas karena metode itu bekerja, *eh* *kenakeplak*.  Alhasil, saya jadi lupa dengan buku ini.

Sekarang tetiba jadi pengen baca buku ini lagi. Gara-garanya sekarang saya lagi ketiban beban kerja yang berat dari kantor. Salah satu rekan kerja saya di mutasi ke kantor lain tanpa ada penggantinya. Situasi yang bikin “hayati lelah” itu biasanya bisa diredam kalau saya kerja sambil main sosmed, *eh*.

Etapi sekarang membuka sosmed malah bikin tambah stress, wkwkwk. Saking sebelnya saya, saya bahkan sempat menghapus aplikasi sosmed saya. Dan untuk beberapa hari, hidup saya terasa tenang. Walaupun godaan untuk main sosmed akhirnya datang kembali. Sepi juga ya kalau tidak ada sosmed, heheh, *plaakpart2*.

So, karena itulah, saya jadi ingat dengan buku ini. Karena seingat saya, buku ini pernah menyebut-nyebut sesuatu tentang bagaimana cara menyikapi informasi atau berita negatif yang tidak kita suka.

Jadi saya baca…baca…baca… sampai selesai. Dan saya tersegarkan kembali, haha. Meskipun ada beberapa hal dari buku ini yang tidak sejalan dengan hati nurani saya (yaelah hati nurani). Tapi buku ini ampuh untuk saya. Terutama bagian hukum tarik menarik dan bagian berpikir positifnya.

Sejauh yang bisa saya tangkap, intinya, buku ini bilang, kalau kita tidak suka dengan sesuatu, ya sudah, jangan nyemplung disitu. Beres.

Jadi kalau tidak suka dengan isu yang dibawa oleh sebuah berita, ya jangan didenger atau jangan dibaca. Etapi nanti kita kudet dong. Nah, salah tokoh di buku ini bilang, boleh-boleh saja kalau mau tahu sesuatu, tapi cukup sampai tahu saja, jangan sampai berkutat di sana. Ngomongin ituuuu aja, ga di dumay ga di kehidupan sehari-hari, apalagi sampai lupa makan lupa tidur misalnya karena kepikiran terus, hohoho. Karena kata buku ini, semakin besar kita memikirkan sesuatu yang tidak kita suka, maka sesuatu itu bakalan doyan mendatangi kita, bahkan bisa mewujud. Hiii…seram.

Tapi lagi, kalau cuma sekedar tahu doang, kita jadi terkesan tidak peduli dengan isu yang berhubungan dengan hajat hidup orang banyak dong? Yah, tokoh lain di buku ini juga bilang, kalau pengen membawa perubahan, maka pikirkan hal positif yang kita inginkan dari permasalahan tersebut. Contohnya seperti yang saya kutip berikut:

Ibu Teresa sangat luar biasa. Ia berkata, “Saya tidak akan pernah menghadiri demonstrasi anti perang. Jika Anda mengadakan demonstrasi damai, undanglah saya.” Ia tahu. Ia memahami Rahasia. Lihatlah apa yang telah ia wujudkan di dunia.

—hlm 169-170

Awalnya, waktu membaca pertama kali, saya tidak mengerti dengan konsep kata “tidak ingin hal negatif” yang disampaikan oleh buku ini. Buku ini sepertinya sama sekali tidak mau menerima keberadaan hal negatif. Meskipun kita menambahkan kata “tidak ingin” di depannya. Waktu itu saya sampai harus membaca berkali-kali baru bisa mengerti, *telmimodeon*.

Misalnya, seperti yang dicontohkan oleh buku ini, kalau kita ingin diet, maka lebih baik mengatakan “saya ingin mempunyai tubuh yang ideal” ketimbang mengatakan “saya tidak ingin gemuk”. Kalau kita tidak ingin terlambat ke kantor, maka katakan “saya ingin tepat waktu” alih-alih saya “saya tidak ingin terlambat”. Meskipun maksudnya sama.

Karena kata buku ini, “Semesta” tidak mengenal kata “tidak”. So, meskipun kita mengatakan “saya tidak ingin terlambat”, maka kemungkinan kita tetap akan terlambat, karena fokus kita ada pada pikiran-pikiran tentang bayangan “terlambat ke kantor”.

Setelah dipikir-pikir, memang beda ya. Saya tes dengan sepenuh hati (ciee…sepenuh hati) untuk mengucapkan “saya tidak ingin terlambat ke kantor”, maka pikiran saya jadi kebayang-kebayang situasi “terlambat” terus. Saya jadi merasa rusuh sendiri, wkwkwk. Beda kalau saya mengucapkan “saya ingin berada di kantor tepat 15 menit sebelum bel masuk berbunyi”. Saya jadi terbayang situasi di mana saya bisa merasa santai dan tidak tergesa-gesa.

Terlepas dari beberapa kontroversi pribadi saya dengan si buku, *apacoba*, secara garis besar, saya setuju dengan buku ini. Dan yang dapat saya simpulkan setelah membacanya adalah, “coba saja, tidak ada salahnya untuk selalu berpikir positif”. Syukur-syukur kalau bisa diikuti dengan lisan dan tindakan yang positif juga kan, haseek, *tetibajadisokbijak*.

***

Judul: The Secret | Pengarang: Rhonda Byrne | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan V, Jakarta, Februari 2008 | Penerjemah: Susi Purwoko | Penerbit: Gramedia Pustaka Utama | Status: Owned book | Rating saya: 5 dari 5 bintang

Posted in Books, Gramedia Pustaka Utama, Non Fiction, Publisher, Review 2014, Rhonda Byrne, Self Help

Hero Review

hero_by_rhonda_byrne_uploaded_by_irabooklover

Title: Hero | Author: Rhonda Byrne | Edition language: Indonesian | Publisher: Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 2014 | Page: 253 pages |  Purchase location: gramediaonline.com | Date purchased: September, 20th 2014 | Price: Rp103.600 + ongkir Rp30.000 | My rating: 5 of 5 stars

And baby

It’s amazing I’m in this maze with you

I just can’t crack your code

One day you screaming you love me loud 

The next day you’re so cold

Yeap itu potongan lagu Holy Grail by Jay – Z feat  Justin Timberlake. Terus apa hubungannya sama buku Hero by Rhonda Byrne? Tidak ada sih, hehehe, *dikeplak*.

Potongan lagu itu jadi notification tone untuk email masuk saya. Email masuk dari gramediaonline.com yang memberitahu saya kalau Hero edisi bahasa Indonesia sudah terbit.

Horeeee….Hero sudah terbit 😀 . Rasanya sudah lama sekali sejak saya dapat info dari Goodreads kalau Rhonda Byrne merilis buku Hero. Langsung dimasukkan ke wishlist hari itu juga dan yakin kalau Gramedia pasti bakalan menerjemahkan buku ini. Dan ini diaaaa….akhirnya penantian panjang saya terjawab ^^

Sama seperti buku ini yang langsung saya masukkan ke daftar wishlist setelah dapat info dari Goodreads, saya juga langsung memesan buku ini setelah dapat info dari gramediaonline.com. Meskipun ada sedikit drama dalam prosesnya, akhirnya saya berhasil memesan buku ini dengan baik dan benar, *apa coba*.

Sebelumnya, yuk disimak dulu sinopsis Hero yang saya contek dari cover belakang buku:

Sinopsis:

Ini adalah kisah tentang mengapa Anda ada di planet Bumi

Ada yang istimewa dari diri Anda. Anda dilahirkan dengan maksud tertentu yang tidak dimiliki oleh tujuh miliar manusia lainnya. Ada kehidupan yang dimaksudkan untuk Anda hidupi; ada perjalanan yang dimaksudkan untuk Anda jalani. Buku ini adalah tentang perjalanan itu.

Dua belas orang paling sukses yang hidup di dunia sekarang ini berbagi perjalanan mereka yang terasa mustahil, dan mengungkapkan bahwa masing-masing dari kita terlahir dengan segala sesuatu yang kita perlukan untuk menjalani impian terbesar kita — dan dengan melakukannya kita akan memenuhi misi kita, serta secara harafiah mengubah dunia.

Alkisah, ada seorang pahlawan.

Hmmm….

The Secret is the law of attraction

The Power is love

The Magic is thanks

and now…

Hero is you

Yap, pahlawan itu adalah Anda atau ….errrr….diri kita sendiri. Tergantung dari sudut pandang siapa kita menyebutkannya 😀

Menurut saya ada yang berbeda dari buku Hero ini dibandingkan dengan buku-buku Rhonda Byrne sebelumnya. Seingat saya, The Secret, The Power, dan The Magic, semuanya menyebutkan kalau Semesta ini adalah Semesta yang tidak mengenal kata-kata negatif. Seakan-akan tidak ada hal negatif di dunia ini. Hal-hal  negatif itu tidak akan ada kalau kita cukup sadar untuk terus berpikir positif. Bahkan dalam berkata-kata pun, kita menghindari hal negatif.

Bagi yang sudah pernah membaca The Secret mungkin masih ingat, misalnya, kalau kita tidak ingin terlambat, kita tidak bisa mengatakan “kita tidak ingin terlambat” karena Semesta tidak mendengar kata tidak dan yang ada malah kita akan tetap terlambat. Lebih baik mengatakan “saya ingin tepat waktu”. Pokoknya selalu katakan hal-hal positif, tidak ada yang negatif.

Nah, di buku Hero ini, saya lega sekali, akhirnya, The Secret cs menerima kalau hal negatif itu memang ada. Hero bilang kalau dunia ini adalah dunia yang dualitas. Kalau ada hal positif, maka pasti ada hal negatif. Seberapa kuat pun kita berusaha, hal negatif selalu akan menemukan celah untuk mengganggu kita. Dan tergantung kita apakah akan membiarkan si negatif ini bercokol terlalu lama atau langsung menggantikan tempatnya dengan hal yang positif.

Hero mengajarkan kita bagaimana menghadapi si hal-hal negatif ini dengan gaya pahlawan. Ingat kalau dalam cerita-cerita pahlawan, selalu ada para penjahat. Ingat dalam cerita-cerita pahlawan selalu ada saat-saat dimana sang pahlawan hampir kalah. Dan sang pahlawan pada akhirnya pasti bisa memenangkan pertarungan.

Hero mengajarkan kita bagaimana membangunkan pahlawan yang ada di dalam diri kita. Bagaimana menjadi pahlawan untuk diri kita sendiri dan pada akhirnya menjadi pahlawan untuk orang-orang disekitar kita.

Satu yang paling saya suka dari Hero adalah pelajaran tentang pentingnya intuisi bagi seorang pahlawan dan bagaimana cara melatih intuisi tersebut. Intuisi pahlawan dalam diri kita akan selalu memanggil-manggil selama kita hidup. Sampai kita bisa menjawab pertanyaan di atas. Pertanyaan tentang alasan mengapa kita ada di planet bumi.

Uniknya, keesokan harinya setelah saya selesai membaca Hero, saya menemukan bukti langsung tentang bagaimana hebatnya seorang pahlawan.

Kisah berawal dari rumah saya jauh berada di dalam sebuah kompleks, *halah*. Capek sekali kalau harus berjalan kaki ke pintu gerbang kompleks. Selama ini saya adem-adem saja karena saya memiliki kendaraan untuk keluar dari kompleks. Selama itu pula saya sering bertemu adik-adik mahasiswi yang berjalan kaki untuk pergi keluar kompleks. Intuisi saya mengatakan kalau saya seharusnya menawarkan tumpangan untuk adik tersebut. Toh tujuan kami sama-sama keluar kompleks. Tapi pikiran saya mengatakan kalau saya malu memberikan tumpangan. Bagaimana kalau adiknya menolak, merasa tersinggung atau berpikiran yang macam-macam terhadap saya, *lebay mode on*.

Hari itu, hari saya diawali dengan buruk. Ada sebuah ketidaksengajaan yang mengakibatkan saya harus berjalan kaki keluar kompleks. Karena baru saja membaca Hero, saya masih punya ingat untuk mengganti pikiran dongkol dengan pikiran penuh syukur. Akhirnya, belum jauh saya berjalan, ada kakak cewek yang menawarkan tumpangan.

Waktu itu rasanya saya seperti ingin langsung berteriak kegirangan. Kakak itu baik sekali mau menawarkan saya tumpangan. Satu diantara banyak orang yang lewat di sekitar saya. Satu yang menjadi pahlawan bagi saya.

Meskipun dalam kejadian ini bukan saya yang jadi Hero, tapi saya bisa merasakan bagaimana senangnya orang-orang di sekitar kita kalau kita menjadi Hero untuk mereka. Sejak itu saya berjanji untuk tidak akan mengabaikan intuisi saya untuk menjadi Hero.

Hero, sangat menginspirasi saya untuk segera bergerak mengikuti panggilan pahlawan. Meskipun saya rasa panggilannya masih kalah kuat dibandingkan panggilan The Secret. Namun, seperti semua buku Rhonda Byrne sebelumnya, Hero juga berhasil membuat saya lebih …. errr …. bahagia 😀

Dan sepanjang hari itu, meskipun diawali dengan buruk, saya bisa merasa bahagia. Hari itu, saya tiba-tiba bisa melihat para pahlawan di sekitar saya. Aksi-aksi heroik mereka memang memberikan kebahagian bukan hanya kepada orang-orang yang mereka tolong tapi juga untuk orang-orang disekitar mereka. Bahkan hanya sekedar melihat saja sudah senang.

Ada banyak kalimat menarik dan menginspirasi dari buku ini. Saking banyaknya, saya bingung mau menuliskan yang mana. Kalau dituliskan semua sepertinya akan menghabiskan seluruh buku juga kayaknya 😀

Akhirnya saya pilih secara acak dan saya memutuskan untuk memajang yang ini:

Saya mengetahui potensi yang Anda miliki dalam diri Anda. Saya mengetahui keutamaan-keutamaan dan daya-daya heroik yang Anda miliki dalam diri Anda. Inilah kisah Anda, tapi hanya Anda yang bisa menghidupinya. Ini perjalanan Sang Pahlawan Anda, tapi hanya Anda yang bisa melakukannya. Sekarang Anda sudah memilki peta serta kompas, dan Anda memiliki kami semua bersama Anda, di setiap langkah perjalanan.

(hal 234)

Berbeda dengan saudara-saudaranya, Hero dicetak dengan edisi hardcover. Haduh, jujur saya kurang suka dengan buku-buku hardcover. Tapi ini bukan masalah besar sih, hehehe. Untungnya, ilustrasi Hero menurut saya keren. Model peta perang tempo dulu gitu. Sedikit mengingatkan saya dengan peta dari buku The Lord of The Ring by J.R.R Tolkien. Saya sempat membayangkan melihat tulisan Middle Earth 😀

At last, selamat belajar menjadi pahlawan dengan Hero. Buku keempat dari seri The Secret ini juga berhasil meraih rating 5 dari 5 bintang dari saya.  It was amazing to me.

Dan sebagai penutup mari kita dengarkan lagu Hero-nya Mariah Carey. Cocok sekali dengan buku ini. At last, you’ll finally see the truth.
That a hero lies in you 😉