Posted in Bentang Pustaka, Books, Islamic, Motivation, Self Help, Spirituality, Tasaro G.K.

Keajaiban Rezeki Review

***

Bisa dibeli di belbuk.com dan BukaBuku.com

***

Blurb:

Cerita ini asalnya dari otak kanan.

Sepertimu, aku juga pernah mengalami masa-masa ketika engkau merasa semesta begitu mendukung. Mendukung untuk bersama-sama menjungkalkanmu. Memberimu kesialan-kesialan. Dari bangun tidur sampai tidur lagi.

Bas, Habbar, Ats, Gangsa, dan Adon adalah lima sahabat yang hidup di bawah satu atap: Vila Kayu di dataran tinggi Lembang. Lima bujangan, lima kehidupan, satu rahasia yang mereka jaga bersama-sama. Sampai suatu hari, perubahan besar terjadi dalam kehidupan tenang mereka: serentak dan penuh misteri.

Gadis misterius yang selalu duduk di bangku 13 pada setiap penampilan stand up comedy Bas, pengirim e-mail tanpa nama yang meneror Habbar, tamu tengah malam yang mengunjungi toko buku Ats, eksekutif eksentrik yang menemani perjalanan kereta Gangsa, dan Pakar Otak Kanan yang memukau Adon.

Rangkaian kejadian itu mengantarkan mereka pada perburuan harta yang ribuan tahun sudah usianya. Pusaka yang memudahkan hidup, memak­murkan orang-orang yang mengetahui kunci-kuncinya.

Sepertiku, engkau akan sangat ingin tahu hal apakah itu? Mereka menyebutnya Warisan Nabi. Sesuatu yang akan merombak cara berpikirmu. Engkau lalu memutuskan untuk (tidak) berhenti mengikuti kisahku ini.

Cerita ini asalnya dari otak kanan.

My Review

Jika kita mampu menyeleraskan mimpi kita dengan mimpi orang tua, doa kita menembus langit. Sebaliknya, jika mimpi kita tidak selaras bahkan bertentangan dengan doa orang tua, itu menjadi penghalang turunnya rezeki yang baik. (Keajaiban Rezeki, hlm. 252)

Yeap, saya setuju sekali dengan kutipan di atas. Berdasarkan pengalaman pribadi tentunya, hahhah. Kalau apa yang kita inginkan sesuai dengan keinginan orang tua, selama itu tidak melanggar perintah Tuhan, realisasinya cepat dan lancar.

Jadi, saya lupa sama sekali kenapa saya kemarin membeli buku ini. Secara saya tidak terlalu suka buku motivasi tipe begini. Begini di sini maksudnya adalah tipe motivasi yang megkotak-kotakkan kelompok. Satu kelompok merasa lebih baik dari kelompok lain. Mungkin maksudnya tidak seperti itu, bisa saja saya yang salah paham. Tapi sejak pertama kali mendengarnya waktu kuliah dulu, saya merasa kuranag nyaman. Bukan berarti saya tidak setuju loh ya, saya hanya merasa … yah … kurang nyaman XD

Saya berharapnya mereka tidak merasa lebih baik dari kelompok lain. Iya sih apa yang mereka katakan benar. Orang-orang dari kelompok otak kanan memang cenderung lebih sukses. Yang membuat saya kurang nyaman adalah mereka yang menganggap diri mereka sendiri sukses ini selalu men-judge kelompok yang lain adalah kelompok yang tidak sukses dan hanya pantas menjadi bawahan. Mungkin ini hanya masalah kata-kata ala-ala motivasi, supaya kelompok yang tidak sukses ini merasaa terpacu untuk menjadi sukses. Tapi tetap saja saya merasa kalau itu terlalu … errrr … jahat, *eaaaa*.

Oke, saya rasa cukup curcolnya. Jadi novel ini menceritakan tentang lima sahabat dengan profesi berbeda yang tinggal bersama di satu vila kontrakan. Ada Bas si komedian, Habbar si kolumnis, Atsala si penjual buku, Gangsa si pengusaha dan Adon si penyulih suara.

Suatu ketika, sesuatu yang misterius serempak mulai mengusik kehidupan mereka yang awalnya tenang-tenang saja. Namun tidak ada satu pun yang menyadarinya. Sampai akhirnya secara serempak pula, mereka mulai menyadari ada sesuatu atau seseorang yang sepertinya mencampuri urusan pribadi mereka masing-masing. Baik atau burukkah itu? Yah, silakan baca sendiri bukunya. Yang pasti, setelah kejadian itu, kehidupan monoton mereka berubah menjadi …. errrr …. sangat menarik dan penuh tantangan XD

Awalnya saya sedikit kurang paham dengan gaya penceritaan buku ini. Siapa itu si komedian, siapa itu si penyulih suara. Kemudian siapa yang sedang bicara terus siapa yang menjadi kata rujukan “-nya”. Tapi lama kelamaan, saya bisa masuk ke dalam ceritanya. Dan terus mengalir seperti itu sampai habis, *apa coba*.

Tapi jujur, tanpa bermaksud menyinggung siapa pun, buku ini tidak terlalu meninggalkan kesan yang mendalam bagi saya, *eaaa*. Kemungkinan ini terjadi gara-gara saya membacanya di tengah malam buta saat saya sedang tidak bisa tidur, huehehehe.

Namun, setidaknya, ada banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari novel ini.  At last, saya beri 3 dari 5 bintang deh. I liked it.

NB:

Kutipan-kutipan favorit:

Kadang di pikiran banyak orang, inginnya seperti itu. Kepala tenggelam di lekukan kapuk, sedangkan masalah hidup selesai dengan sendirinya. Tidak mungkin. (hlm. 28)

Dia termasuk orang yang pusing luar biasa jika mesti terjepit dalam hiruk pikuk manusia. Anti keramaian, tidak juga. Ada waktunya dia suka. Tapi lebih sering dia betul-betul ingin lepas dari situasi itu. (hlm. 53)

Begitulah otak seorang penulis bekerja. Menemukan segala yang tidak terungkap oleh mata-mata orang kebanyakan. (hlm. 54)

Tapi, ada waktunya, membaca jadi satu urusan, sedangkan menulis menjadi urusan lain.

Maksudnya dua hal ini meski menurut banyak orang berkaitan, tak selalu praktis saling mendukung.(hlm. 65)

“Jangan berharap menjadi sosok lain selain diri kita sendiri, dan berusahalah agar sosok itu menjadi sempurna. St Francis de Sales. (hlm. 84)

Saya pikir, ini sebuah pembuktian bahwa apa-apa yang dibekalkan Tuhan saat setiap manusia lahir adalah yang terbaik. Memang, tidak selalu baik di mata saya. Sebab Tuhan yang paling tahu, mana yang paling membawa kebaikan buat saya. Meski itu kadang tak kasatmata. (hlm. 131)

Pacaran atau tidak, itu pilihan. Saya memilih untuk tidaak pacaran. (hlm. 182)

Bagi orang yang cintanya terhalang, hidup jadi begitu menakutkan. Mati jadi jalan keluar. Jadi, lebih mudah mati dibandingkan hidup. Mereka tak melakukan sesuatu yang spektakuler. Sebab, berani hidup jauh lebih kesatria dibandingkan sekedar nekat bunuh diri. (hlm. 184)

Jika kita mampu menyeleraskan mimpi kita dengan mimpi orang tua, doa kita menembus langit. Sebaliknya, jika mimpi kita tidak selaras bahkan bertentangan dengan doa orang tua, itu menjadi penghalang turunnya rezeki yang baik. (hlm. 252)

Mau melangkah satu kaki saja, perhitungannya macam-macam. Sampai-sampai tidak melangkah sama sekali. (hlm. 282)

Kitab suci banyak berisi cerita untuk memberi teladan, Bas. (hlm. 309)

***

Judul: Keajaiban Rezeki | Pengarang: Tasaro GK | Penerbit: Mizania, Cetakan I, Bandung, Februari 2013, 640 halaman | Rating saya: 3 dari 5 bintang

***

Advertisements

Author:

Love book and wanna study abroad to Holland

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s