Posted in Books, Gramedia Pustaka Utama, Rhonda Byrne, Self Help

The Secret (Reread) Review

***

Kapan ya pertama kali saya baca buku ini? Sepertinya sudah lama sekali. Jauh sebelum saya gabung di Goodreads dan blogger buku.

Dulu, saya sempat mencoba salah satu cara yang diajarkan oleh buku ini untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Pakai yang visualisasi. Waktu itu pengen diterima kuliah di universitas. Saya bikin pengumuman kelulusan sendiri dimana nama saya tercantum di sana. Saya pandang setiap hari. Sambil mengucap syukur dan bersikap seakan-akan saya memang sudah diterima di universitas itu.

Dan alhamdulillah berhasil, dengan format pengumuman yang sama seperti yang saya buat sendiri. Walaupun setelahnya saya tidak yakin-yakin amat kalau diterimanya saya di universitas karena metode itu bekerja, *eh* *kenakeplak*.  Alhasil, saya jadi lupa dengan buku ini.

Sekarang tetiba jadi pengen baca buku ini lagi. Gara-garanya sekarang saya lagi ketiban beban kerja yang berat dari kantor. Salah satu rekan kerja saya di mutasi ke kantor lain tanpa ada penggantinya. Situasi yang bikin “hayati lelah” itu biasanya bisa diredam kalau saya kerja sambil main sosmed, *eh*.

Etapi sekarang membuka sosmed malah bikin tambah stress, wkwkwk. Saking sebelnya saya, saya bahkan sempat menghapus aplikasi sosmed saya. Dan untuk beberapa hari, hidup saya terasa tenang. Walaupun godaan untuk main sosmed akhirnya datang kembali. Sepi juga ya kalau tidak ada sosmed, heheh, *plaakpart2*.

So, karena itulah, saya jadi ingat dengan buku ini. Karena seingat saya, buku ini pernah menyebut-nyebut sesuatu tentang bagaimana cara menyikapi informasi atau berita negatif yang tidak kita suka.

Jadi saya baca…baca…baca… sampai selesai. Dan saya tersegarkan kembali, haha. Meskipun ada beberapa hal dari buku ini yang tidak sejalan dengan hati nurani saya (yaelah hati nurani). Tapi buku ini ampuh untuk saya. Terutama bagian hukum tarik menarik dan bagian berpikir positifnya.

Sejauh yang bisa saya tangkap, intinya, buku ini bilang, kalau kita tidak suka dengan sesuatu, ya sudah, jangan nyemplung disitu. Beres.

Jadi kalau tidak suka dengan isu yang dibawa oleh sebuah berita, ya jangan didenger atau jangan dibaca. Etapi nanti kita kudet dong. Nah, salah tokoh di buku ini bilang, boleh-boleh saja kalau mau tahu sesuatu, tapi cukup sampai tahu saja, jangan sampai berkutat di sana. Ngomongin ituuuu aja, ga di dumay ga di kehidupan sehari-hari, apalagi sampai lupa makan lupa tidur misalnya karena kepikiran terus, hohoho. Karena kata buku ini, semakin besar kita memikirkan sesuatu yang tidak kita suka, maka sesuatu itu bakalan doyan mendatangi kita, bahkan bisa mewujud. Hiii…seram.

Tapi lagi, kalau cuma sekedar tahu doang, kita jadi terkesan tidak peduli dengan isu yang berhubungan dengan hajat hidup orang banyak dong? Yah, tokoh lain di buku ini juga bilang, kalau pengen membawa perubahan, maka pikirkan hal positif yang kita inginkan dari permasalahan tersebut. Contohnya seperti yang saya kutip berikut:

Ibu Teresa sangat luar biasa. Ia berkata, “Saya tidak akan pernah menghadiri demonstrasi anti perang. Jika Anda mengadakan demonstrasi damai, undanglah saya.” Ia tahu. Ia memahami Rahasia. Lihatlah apa yang telah ia wujudkan di dunia.

—hlm 169-170

Awalnya, waktu membaca pertama kali, saya tidak mengerti dengan konsep kata “tidak ingin hal negatif” yang disampaikan oleh buku ini. Buku ini sepertinya sama sekali tidak mau menerima keberadaan hal negatif. Meskipun kita menambahkan kata “tidak ingin” di depannya. Waktu itu saya sampai harus membaca berkali-kali baru bisa mengerti, *telmimodeon*.

Misalnya, seperti yang dicontohkan oleh buku ini, kalau kita ingin diet, maka lebih baik mengatakan “saya ingin mempunyai tubuh yang ideal” ketimbang mengatakan “saya tidak ingin gemuk”. Kalau kita tidak ingin terlambat ke kantor, maka katakan “saya ingin tepat waktu” alih-alih saya “saya tidak ingin terlambat”. Meskipun maksudnya sama.

Karena kata buku ini, “Semesta” tidak mengenal kata “tidak”. So, meskipun kita mengatakan “saya tidak ingin terlambat”, maka kemungkinan kita tetap akan terlambat, karena fokus kita ada pada pikiran-pikiran tentang bayangan “terlambat ke kantor”.

Setelah dipikir-pikir, memang beda ya. Saya tes dengan sepenuh hati (ciee…sepenuh hati) untuk mengucapkan “saya tidak ingin terlambat ke kantor”, maka pikiran saya jadi kebayang-kebayang situasi “terlambat” terus. Saya jadi merasa rusuh sendiri, wkwkwk. Beda kalau saya mengucapkan “saya ingin berada di kantor tepat 15 menit sebelum bel masuk berbunyi”. Saya jadi terbayang situasi di mana saya bisa merasa santai dan tidak tergesa-gesa.

Terlepas dari beberapa kontroversi pribadi saya dengan si buku, *apacoba*, secara garis besar, saya setuju dengan buku ini. Dan yang dapat saya simpulkan setelah membacanya adalah, “coba saja, tidak ada salahnya untuk selalu berpikir positif”. Syukur-syukur kalau bisa diikuti dengan lisan dan tindakan yang positif juga kan, haseek, *tetibajadisokbijak*.

***

Judul: The Secret | Pengarang: Rhonda Byrne | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan V, Jakarta, Februari 2008 | Penerjemah: Susi Purwoko | Penerbit: Gramedia Pustaka Utama | Status: Owned book | Rating saya: 5 dari 5 bintang

Advertisements

Author:

Love book and wanna study abroad to Holland

One thought on “The Secret (Reread) Review

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s