Posted in Andrea Hirata, Bentang Pustaka, Books, Family, Indonesian Literature, Romance

Ayah Review

ayah_uploadedby_irabooklover

***

Seorang ayah, tak boleh menyerah untuk anaknya

—Ayah, hlm. 373

***

Selamat Hari Ayah Nasional! #telat

Sebenarnya saya sudah membaca buku ini sejak kemarin, tapi karena ada insiden “the moment when you read a line that is so beautiful, you just close the book and stare at the wall for a minute” yang terjadi berkali-kali selama saya membaca buku ini, ditambah dengan ceritanya yang masuk kategori “sangat mengharukan” dalam standar saya yang artinya, … errrr … (silakan disimpulkan sendiri), akhirnya saya baru selesai membacanya hari ini.

Ngomong-ngomong, novel Ayah yang saya baca ini ternyata sudah edisi cetakan kesebelas. Tjakkeb!!!

Asiknya, membaca buku ini membawa kembali “rasa” yang muncul saat saya membaca karya-karya Andrea Hirata sebelumnya. Lucu, konyol, mengharukan, dan menghangatkan hati. Walaupun yang paling memorable tetap buku Laskar Pelangi.

Awalnya saya bingung dengan banyaknya tokoh yang ada di dalam buku ini. Tapi setelah terus membaca, akhirnya saya menemukan benang merahnya. Apalagi saat momen “aha” itu terjadi, saya benar-benar tenggelam dalam ceritanya dan sedang mewek-meweknya. Keren.

Jadi, novel Ayah menceritakan tentang kisah cinta Sabari dan Marlena. Sabari jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Lena. Sayangnya, perasaan Sabari tidak berbalas. Namun, bukan Sabari namanya kalau dia tidak sabar dan menyerah begitu saja. Bertahun-tahun, Sabari berjuang untuk mendapatkan cinta Marlena. Apakah Sabari akhirnya berhasil? Hayuk, silakan dicari tahu sendiri😀.

Terus, apa hubungannya dengan kata “Ayah” yang menjadi judul dari novel ini?  Kalau menurut saya sih banyak. Dari kisah cinta Sabari ini, kita akan diajak berkenalan dengan berbagai macam tipe Ayah. Ada ayahnya si anu dan si anu dan si anu, dengan masalah “bagaimana menjadi seorang ayah” mereka masing-masing. Intinya (kalau menurut saya sih ya *pasang tampang sotoy* ), adalah, kutipan yang saya pajang di atas, “seorang ayah, tak boleh menyerah untuk anaknya”.

Di dalam kisah cinta Sabari, saya menemukan betapa besarnya cinta seorang ayah kepada anaknya. Untunglah tidak seperti kisah cinta Sabari yang tak berbalas, cinta si ayah juga dibalas oleh anaknya dengan sama besarnya. Walaupun ada juga sih beberapa anak yang membandel, tapi akhirnya mereka kena batunya dan menyesal, meskipun sepertinya sudah terlambat.

Jadi satu pelajaran lagi buat saya untuk selalu mematuhi dan menyayangi kedua orang tua saya. Ya keduanya, walaupun ayah saya sudah tiada. Saya juga merasakan penyesalan untuk setiap harapan-harapan ayah kepada saya yang tidak sempat saya wujudkan ketika beliau masih hidup. Saya hanya bisa berharap saya masih bisa memanfaatkan waktu yang diberikan Tuhan untuk menjadi anak saleh (semoga) yang doanya bisa tetap mengalir untuk beliau. *jadi mau nangis lagi*. *kangen ayah*.

At last, 4 dari 5 bintang deh untuk novel Ayah. Untuk berbagai “rasa” yang membuat saya sadar kalau saya juga pernah memiliki  ayah yang juga pantang menyerah untuk saya. And I won’t give up for you too, Dad. Saya dan harapan-harapanmu untuk saya. I never give up!

Oh ya hampir lupa, puisi-puisi yang ada di novel ini, amboi indahnya. Kisah tentang Keluarga Langit itu juga keren. Itu harapan yang sama yang saya sampaikan kalau mau hujan, agar hujan jangan turun dulu, setidaknya setelah saya sampai di rumah. Dan sekarang saya tahu kenapa hujan tetap saja turun dan membuat saya basah kuyup. Mungkin karena saya hanya tahu meminta, tetapi tidak menerbangkan layang-layang untuk awan🙂

***

Judul: Ayah | Pengarang: Andrea Hirata | Penerbit: Bentang Pustaka | Edisi: Bahasa Indonesia, Cetakan Kesebelas, Maret 2016, 412 halaman, 20,5 cm | Status: Owned book | Rating saya: 4 dari 5 bintang

Author:

Love book and wanna study abroad to Holland

3 thoughts on “Ayah Review

  1. Setiap negara pasti punya penulis macam Andrea, penulis yang siap mengangkat dinamika budaya lokal kedalam dunia sastra. Dan pada akhirnya penulis seperti inilah yang dianggap paling bisa merepresentasikan negara itu. Walaupun dalam konteks Indonesia, kita tidak pernah bisa berbicara tentang budaya tunggal – karena pada hakekatnya kita hidup dalam sebuah ke-pluralisme-an. Jadi Andrea melalui buku-bukunya (yang selalu mengangkat dinamika hidup orang melayu Bangka Belitung) telah memberi warna baru dalam dunia sastra Indonesia.

    Novel “Ayah,” secara khusus, adalah karya Andrea lainnya yang mengangkat latar di tanah Belitong. Namun, hal unik dari buku ini adalah adanya keinginan untuk mengeksplorasi teknik bernarasi. Ini terlihat jelas dari cara pemilihan bab. Selain itu juga forshadowing atau clue yang dimuat diawal bab yang mengantisipasi akan terjadi hal besar di chapter selanjutnya….

    https://adhariabroader.blogspot.com.tr/2015/11/ayah-karya-andrea-hirata-reaksi-pembaca.html

    Like

    1. Keren ya kalau misalnya disetiap budaya Indonesia yang beaneka ragam ini, ada penulis yang bisa mengangkat budaya lokalnya ke dalam dunia sastra, *ngarep*. Atau sebenarnya sudah ada, tapi akunya yang belum tau😄

      Like

  2. Ada sih, tapi belum semua etnis grup. Aku sih lebih antusias untuk melihat penulis Indonesia untuk eksis di kancah sastra internasional. Turki punya Orhan Pamuk dan Elif Shafak, Italia punya Umberto Eco, Brazil punya Paolo Coelho, Portugal punya Jose Saramago dan lain-lain. Indonesia nih yang belum terdengar. Tapi aku positif sih sama kesusastraan Indonesia, soalnya tahun lalu aja ada Eka Kurniawan yang masuk nominasi nobel prize. Ada mba Laksmi Pamuntjak juga yang dapat penghargaan di Jerman. Setelah aku perhatiin, syarat agar sastra Indonesia itu lebih dikenal memang si penulis harus aktif di seminar-seminar internasional sih. Nah, kekurangan penulis Indonesia mungkin dari segi bahasa. Dunia translasi Indonesia juga gak terlalu bagus. Yah… semoga Indonesia dalam kesemrautannya bisa bangkit. Terutama di dunia sastra!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s